[BTS]|| You Are Much Better Than Him||Chapter.4

Tittle : You Are Much Better Than Him

Author : Rae

Genre : Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook couple from BTS as main cast, slight : HopeV, JinV, and YoonMin. other BangTan's members

Length : Chaptered

Summary : "Apa sih lebihnya Taehyungie Hyung, Hyungie ? Apa yang Taehyungie hyung punya tetapi Jungkookie tidak punya ? Apa yang Tae Hyung bisa lakukan tetapi Jungie tidak bisa melakukannya, Hyungie ?" pertanyaan-pertanyaan itu berjubel di otak Jungkook. Pertanyaan yang sama setiap harinya. Pertanyaan tentang apa lebihnya seorang Kim Taehyung dari Jeon Jungkook.

Author's Note : Sebenarnya saya agak maksa bikin slight HopeV nya. Why ? Because I don't like HopeV. Apapun itu tentang HopeV, sekalipun hanya tulisan "HopeV" saya pasti akan nangis. Nulis partnya HopeV di ff ini pun saya betah-betahin :D. Demi terselenggaranya/? ff ini. Kkkk~ xD *author aneh*. Okay ,No bacot from author. Enjoy it and Review Please. ^^.

.

.TYPO(s). IT'S YAOI ! DON'T LIKE DON'T READ ! NO PLAGIAT ! RnR PLEASE ^^

~Rae Present~

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok mengakhiri ciumannya dengan lembut. Menyatukan keningnya dengan kening Jungkook yang tengah menunduk. Hoseok tersenyum begitu tampan. Jujur, ia menyukai saat wajahnya dengan wajah Jungkook saling berdekatan. Bahkan hembusan nafas Jungkook yang sedikit tersenggal itu pun dapat hoseok rasakan. Hoseok mengangkat tangan kirinya lalu ia letakkan di salah satu sisi pinggang ramping Jungkook. Sementara tangan kanannya naik meraih dagu Jungkook. Mengangkat wajah Jungkook yang tertunduk untuk kembali sejajar dengan wajahnya. Dan detik berikutnya, sebuah ciuman lembut kembali mendarat di bibir Jungkook. Mata Jungkook terpejam seiring dengan lumatan-lumatan kecil yang hoseok berikan. Dengan perlahan kedua lengan Jungkook mulai mengalungi leher Hoseok dan ia mulai membalas lumatan-lumatan kecil Hoseok.

"Ermmhh..." Jungkook mengerang pelan saat Hoseok semakin menempelkan tubuh mereka berdua.

Jungkook menyukainya. Menyukai saat bibir Hoseok bermain diatas bibirnya. Dan ini mengingatkannya dengan dua tahun yang lalu. Saat Hoseok memintanya menjadi kekasihnya.

Entah ini Jungkook yang tidak sadar atau apa, tapi yang jelas kini ia sudah kembali berbaring diatas ranjang rumah sakitnya.

Hoseok melepas ciumannya dan menatap hangat mata Jungkook yang menatapnya sayu.

"Beristirahatlah, oke ?" Hoseok mengusap pelan pipi Jungkook yang bersemu.

Jungkook diam memperhatikan Hoseok.

"Hyungie..."

"Eumm..wae ?"

Jungkook meraih tengkuk Hoseok dan mengecup bibirnya sekilas.

"Aku mencintaimu.."

Hoseok terkekeh mendengarnya dan ia balas mengecup singkat bibir Jungkook.

"Hyung juga mencintaimu Jungie...sekarang tidur ne ? Kau harus banyak beristirahat."

Hoseok mengecup dahi Jungkook dan Jungkook sempat memejamkan matanya sebentar untuk menikmati kecupan Hoseok di dahinya.

"Tapi Jungie baru bangun hyung~~ Jungie tidak bisa tidur lagi~~" jungkook merengek.

Huft. Jung hoseok, kekasihmu tengah merengek saat ini, jadi tolong control yourself, okay ?

"Jungie~ Kau masih sakit sayang...dan ini jam tiga pagi. Kau harus kembali tidur, ne ?" Hoseok mengusap rambut Jungkook sayang.

"Tidak mau." Jungkook menggeleng cepat dengan bibir mengerucut lucu. Pose andalannya jika tengah merajuk pada hyung tersayangnya itu.

"Harus Jungie." Dan inilah sisi keras kepala seorang Jung Hoseok.

"Jungie bilang tidak mau, ya tidak mau Hyungie !" Oke. Sepertinya Jungkook pun sama keras kepalanya dengan Hoseok.

"baiklah jika itu maumu. Hyung akan keluar sekarang." Hoseok berdiri dari duduknya dan mulai beranjak menjauhi ranjang Jungkook. Tetapi...

"J-jangan hyungie...tetap disini..."...ujung Hoodienya ditarik oleh jemari Jungkook. Membuatnya berhenti dan menoleh pada Jungkook.

"Hyung tidak akan pergi jika kau mau tidur. Sekarang pilih, tidur atau hyung keluar ?" Hoseok menatap malas Jungkook. Sebenarnya ia hanya berpura-pura, mana tega sih dia memarahi Jungkook ?

"B-baiklah, Jungie tidur.." jungkook melepas tarikannya pada ujung Hoodie Hoseok dan mulai menarik selimutnya sebatas dada, memejamkan matanya perlahan. Namun ia segera membuka kembali matanya yang tertutup dan menatap penuh harap pada Hoseok.

"Hyungie akan tetap disini kan ? Tidak akan ninggalin Jungie sendirian kan ?"...bertanya penuh kekhawatiran dan...ketakutan ?

"tentu. Hyung tidak akan kemana-mana." Hoseok tersenyum dan kembali mendudukan dirinya pada kursi disebelah ranjang Jungkook.

"Sekarang cepat tidur."

Jungkook mengangguk dan mulai memejamkan kedua matanya.

Sebenarnya, Jungkook itu bukannya tidak ingin tidur lagi dan beristirahat. Ia sangat ingin malahan, karena kedua matanya sudah sangat berat. Tetapi...ia sebenarnya takut. Takut jika ia tidur nanti, mimpi itu akan kembali menghampirinya. Ia takut jika saat ia bangun nanti...Hoseok tidak ada di sampingnya. Hoseok meninggalkannya dan kejadian tadi hanyalah...sebuah bunga tidur baginya. Ia takut akan hal itu. Sangat takut ! Sampai-sampai ia tidak sadar jika ia mulai kehilangan kesadarannya dan mulai sepenuhnya mengarungi alam tidurnya. Dan ia juga tidak sadar jika...setetes air mata menuruni pipinya. Membuat namja tampan disampingnya yang tengah mengusapi surai kelamnya itu terkejut dengan kening berkerut. Bingung.

.

.

.

.YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

.

.

Hoseok mengusap dengan sayang surai hitam kelam Jungkook seraya tersenyum manis. Jungkook sudah tidur sejak tiga puluh menit yang lalu, akan tetapi dirinya masih merasa enggan meninggalkan sang kekasih. Terlebih saat ia mendapati Jungkook menangis sesenggukan dalam tidurnya sepuluh menit yang lalu.

Cklek~

Tiba-tiba pintu kamar rawat Jungkook terbuka, menampakkan sosok Yoongi yang berdiri menatap Hoseok dengan datar.

"Yoongi hyung.." Hoseok berdiri dan berjalan mendekati Yoongi yang masih berdiam di ambang pintu.

"..." Hening menyelimuti keduanya. Hoseok bahkan lupa apa yang ingin dikatakannya pada Yoongi saat ia telah sampai dihadapan namja manis kekasih Park Jimin itu.

"Bisa kita bicara sebentar ?" Yoongi memecah keheningan dengan pertanyaan datar tanpa ekspresi.

"Eungg..t-tentu Hyung. Kita bisa bicara." Hoseok menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dengan canggung. Yah, semenjak pertanyaan datar itu terlontar dari bibir Yoongi, entah mengapa Hoseok merasa aura hitam seketika saja menguar menyelimuti mereka.

"Ikut aku. Kita bicara diluar."

Hoseok tersentak saat Yoongi lebih dulu berjalan meninggalkan kamar rawat Jungkook. Dan yang bisa Hoseok lakukan hanyalah mengekor dibelakang, membiarkan Yoongi membawanya ketempat yang lebih nyaman untuk mengatakan sesuatu.

.

.

.

.

.

. YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi dan Hoseok kini tengah duduk berdampingan di atas kursi taman rumah sakit. Yoongi yang sedari tadi menatap datar tanpa ekspresi kedepan dan Hoseok yang bersandar tak nyaman pada sandaran kursi karena Yoongi yang tidak kunjung bicara sejak kurang lebih sepuluh menit mereka duduk diam disitu.

Hoseok yang pada dasarnya memang tidak bisa diam pun mencoba mengajak Yoongi berbicara.

"Hyung, kau mau mengatakan apa ? Kalau tidak ada, aku harus segera kembali ketempat Jungkook. Aku takut ia akan mencariku saat bangun nanti."

"..." Yoongi masih betah dalam diamnya. Ia tak memberikan tanda-tanda akan menjawab ucapan Hoseok.

"Hah...baiklah hyung kalau kau tidak jadi bicara. Aku harus kemb-"

"Tinggalkan Jungkook."

Hoseok berhenti, mengurungkan niatnya untuk melangkah meninggalkan Yoongi dan menatap Yoongi dengan terkejut saat perkataannya dipotong oleh kata-kata ambigu dari yoongi.

Yoongi mendongak menatapnya.

"Tinggalkan Jungkook, Hope-ah..." ujarnya pelan.

Hoseok masih terkejut dibuatnya. Perkataan Yoongi menari-nari di fikirannya.

Apa ? Tinggalkan Jungkook katanya ? Hoseok berani bersumpah ia akan loncat dari atas atap gedung BigHit Entertaiment jika ia salah dengar. Tapi ia tidak salah dengar ! Barusan Yoongi mengatakan...

"Bisakah kau tinggalkan dia Hope-ah ?"

DEG.

...meninggalkan Jungkook.

.

.

.

. YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

Yoongi mengusap kasar wajahnya. Sudah lebih dari satu jam lamanya ia mendiamkan Jimin yang terus saja bertanya tentang apa yang menimpa dirinya saat ini.

"Hyung ! Bisakah kau berhenti mengusapi wajah manismu itu dengan kasar ?! Kau bisa melukainya !"

Oke. Sepertinya Jimin sedang kesal sekarang. Terbukti dari gerakannya yang meraih paksa lengan Yoongi yang siap akan memukul sisi kepalanya. Membawanya kebelakang tubuh Yoongi dan mengunci pergerakannya.

Yoongi mengerjap beberapa kali sambil menatap Jimin. Ia baru menyadari kehadiran Jimin rupanya.

"Jimin..."

"Hyung ! taukah kau baru saja mengabaikanku ?" Jimin menatap tajam Yoongi.

"Jimin..."

"Apa ?"

"..." Yoongi menunduk. Bahunya tiba-tiba saja bergetar.

"Hiks...Jimin a-aku..." Yoongi terisak kecil.

Segera saja Jimin melepas kungkungannya pada kedua lengan Yoongi dan memeluknya erat. Mengusap punggung Yoongi, mencoba memeberikan ketenangan.

"Ssstt...tidak apa Hyung...aku disini..." Jimin berbisik menenangkan di telinga Yoongi. Ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh Yoongi.

"Hiks Jimin...aku...memisahkan mereka...hiks..."

Dahi Jimin sukses berkerut mendengar ucapan Yoongi. Refleks Jimin melepas pelukannya dan menatap bingung Yoongi. Yoongi hanya menunduk. Ia takut menatap manik Jimin yang mengintimidasinya.

"Hyung...jelaskan padaku." Jimin berujar dingin.

Yoongi semakin menunduk dengan bahu yang semakin bergetar hebat.

"Hiks...mereka berpisah Jimin-ah...mereka..hiks...berpisah..."

Jimin tetap tak paham.

"Hoseok...hiks...a-aku menyuruhnya...meninggalkan Jungkook...hiks..."

Tangis Yoongi pecah seketika. Dan Jimin...

Perlahan melepaskan kedua lengannya dari bahu Yoongi. Ia melebarkan matanya, tidak percaya akan ucapan sang kekasih.

"H-hyung...kau..."

Yoongi mendongak. Menggeleng panik dengan tangan menggenggam erat ujung sweater abu-abu Jimin.

"Tidak Jimin-ah...hiks...kumohon dengarkan aku..."

Jimin menggeleng tak percaya.

"Jimin..." yoongi mendongak menatap Jimin yang berdiri dari duduknya dengan tangan berusaha melepaskan jemarinya yang menggenggam erat ujung sweater miliknya.

"Jimin kumohon..." Yoongi menggeleng panik saat genggamannya berhasil dilepas Jimin dan Jimin mulai berjalan mundur menjauhinya.

"Park Ji Min !"

Jimin tak menggubris teriakan Yoongi yang memanggil namanya disela-sela isakannya. Ia memilih berlari meninggalkan sang kekasih sendirian di taman rumah sakit. Ia hanya...tidak percaya jika kekasihnya setega itu. Memisahkan dua insan saling mencintai hanya karena suatu hal.

Bahkan Jimin tak yakin, Jungkook akan baik-baik saja setelah ini. Bahkan Yoongi pun tak Jimin pedulikan saat ini. Ia hanya terkejut akan tidakan sang kekasih.

"Maafkan aku...Yoongi hyung..."

.

.

.

.

. YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

Hoseok terbangun saat ia merasakan usapan hangat pada pipinya. Ia mendongak menatap seseorang yang tengah tersenyum manis kearahnya dengan sebelah tangan bertengger dipipinya.

"Sudah bangun Hyung ? Tidurmu nyenyak sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu.." Namja itu terkekeh, yang mau tak mau membuat Hoseok ikut terkekeh pelan.

"Apa tidurmu juga nyenyak sayang ?" Hoseok membawa telapak tangannya untuk balas mengusap pipi chubby namja manisnya.

"Kkk~ sangat nyenyak hyung~"

Hoseok tersenyum. Ia berdiri dari duduknya dan mengecup sekilas pipi Jungkook.

"Apa itu morning kiss untukku Hyung ?" Jungkook tersenyum menggoda.

"Kkkk~ kau masih dibawah umur untuk mendapatkan morning kiss yang sebenarnya." Hoseok mengasak rambut Jungkook.

-Jungkook-ah mianhae...-

"Hyung ! Bisakah Jungie jalan-jalan keluar...Jungie bosan disini..." Jungkook menunduk.

"jalan-jalan ? kemana ?"

Jungkook kembali mendongak. Menatap Hoseok dengan mata penuh binar antusias.

"Dorm ! Jungie ingin pulang !" Jungkook tersenyum lebar, menampilkan bunny teeth-nya yang menggemaskan.

"Kkkk~ baiklah...Hyugie akan membawamu pulang hari ini.." dan setelahnya Hoseok mendapat hadiah ciuman manis di pipi kirinya.

"Gomaweo hyung..."

Ugh ! Dada Hoseok serasa dihimpit sesuatu saat ia melihat senyum manis Jungkook. Seperti ada yang meremas ulu hatinya, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Perkataan Yoongi semalam masih melekat dengan sempurna di memory otaknya.

"bisakah kau meninggalkannya Hope-ah ?"

Ya. Bisakah ia meningalkan Jungkook ? bisakah ia meninggalkan namja manis nan menggemaskan yang telah menemaninya dua tahun ini ? Bisakah ia mengucapkan selamat tinggal pada sosok yang telah mengisi hari-harinya selama ini ? Bisakah ia melepas cinta namja yang senantiasa menjadi harapan pertamanya ?

Jawabannya adalah TIDAK !

Jung Hoseok tidak bisa meninggalkan Jungkook ! Jung Hoseok tidak bisa melepasnya ! Melepas Jeon Jungkook yang telah menjadi separuh hidupnya ! Yang telah menjadi hope-nya selama ini !

"Hyung ? Hoseok hyung ? Kau melamun ?"

"Eh ?" hoseok tersentak dari lamunannya saat Jungkook menepuk pelan pipinya.

"Kau melamun hyungie ?" Jungkook bertanya dengan nada cemas.

"Ani. Hanya saja aku kepikiran Namjoon. Hahahaha..." Hoseok tertawa hambar, membuat kedua alis Jungkook bertautan. Namun Jungkook hanya diam tak menyuarakan keganjilan yang dirasakannya. Ia percaya pada Hoseok.

"Jungie..."

"Ya ?"

"Jika nanti hyung meninggalkanmu...a-apa...kau akan...b-baik-baik saja...?"

Punggung Jungkook menegak. Terkejut ? Tentu saja iya ! Apa maksud Hyungnya itu berkata seperti itu ?

"H-hyungie...a-apa...maksudmu ?"

Hoseok tersenyum miris dan menggeleng.

"Ani. Tidak apa-apa. Hanya ingin bertanya. Tapi...bisakah kau menjawabnya ?"

Hoseok meraih kedua bahu Jungkook untuk dipeluknya. Menyandarkan kepala Jungkook pada dadanya.

"Menjawabnya ?" Jungkook bertanya dengan ragu.

"Eummm..." dan Hoseok mengangguk.

"J-jungie...b-baik-baik saja Hyungie...asalkan Hyungie juga baik-baik saja...maka Jungie juga kan baik-baik saja..."

TES.

Setetes air mata jatuh menuruni pipi Hoseok. Kedua matanya yang terpejam kini tengah mengeluarkan cairan bening pengiring sakit hatinya.

'Tuhan...apa yang harus aku lakukan ? Mana yang terbaik untuk kami ? Aku tidak ingin meninggalkannya...dia hidupku Tuhan...nafasku...tulang rusukku...separuh hidupku adalah dirinya...Beritahu aku apa yang harus kulakukan ! jangan permainkan kami Tuhan...'

Hoseok semakin mengeratkan pelukannya pada Jungkook yang mulai dibalas oleh Jungkook.

"Tetap seperti ini Kook...jangan dilepas...sepuluh menit saja..."

.

.

.

.

. YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

.

Jungkook dengan tidak sabaran membuka pintu depan dorm Bangtan dan berlari mengelilingi ruang tengah dengan kedua lengan terentang. Ia berlari layaknya tengah di sebuah padang rumput yang luas sekali. Padahal nyatanya ini adalah Dorm Bangtan. Hoseok beserta Taehyung dan Seokjin mengekor di belakang Jungkook. Memasuki dorm dengan senyuman menghiasi bibir ketiga manusia tersebut. Jungkook begitu excited. Tiga hari berada di ruangan serba putih penuh aroma obat-obatan ternyata membuat Jungkook benar-benar seperti dipenjara. Dan baru hari ini ia diijinkan menghirup udara segar Seoul layaknya para narapidana yang telah bebas dari tahanan. Jungkook baru keluar rumah sakit jika ingin tahu.

"Jungkook, jangan berkeliling seperti itu dan lekaslah beristirahat !" Seokjin berujar dengan setengah berteriak karena ia tengah berjalan ke dapur bersama Taehyung. Dan kini tinggalah Jungkook dan Hoseok di ruang tengah.

"Hyungie !" Jungkook menghampiri Hoseok yang berdiri diambang pintu kamar dan memeluk pinggangnya dari belakang.

"Bogoshipda..." Bergumam pelan di balik punggung tegap Hoseok.

Terdengar helaan nafas berat dari Hoseok sebelum pria itu berbalik menghadap Jungkook. Memeluknya dan menenggelamkan kepala Jungkook di dadanya.

"Jungkook-ah...bolehkah hyungie minta maaf ?" Hoseok bertanya dengan mata menerawang kelangit-langit.

Jungkook mendongak menatap wajah Hoseok yang masih menatap langit-langit ruang tengah.

"Minta maaf ? Untuk apa ? Jungie sudah memaafkan hyungie kok."

Hoseok menunduk menatap doe eyes Jungkook yang memandangnya polos. Ia membawa sebelah tangannya untuk mengusap lembut pipi kiri Jungkook. Helaan nafas kembali terdengar sebelum suaranya yang tiba-tiba terasa berat dan tercekat itu terdengar.

"Hyung tidak bisa menjagamu dengan baik...untuk itu Hyung minta maaf..."

Jungkook terkejut. Ia membawa tubuhnya mundur selangkah, membuat pelukannya dengan Hoseok otomatis terlepas. Matanya menatap heran namun tajam pada manik kelam Hoseok.

"Hyungie ! Jungkook tidak mengerti ! Sejak semalam hyungie terus berucap akan hal yang sama ! Hyungie terus minta maaf sejak tadi malam ! Sebenarnya ada apa Hyungie ?! Apakah ada yang Jungie tidak tahu disini ?! Apakah terjadi sesuatu dan Jungie tidak tahu apa itu ?! Apakah ada hal yang memang sengaja Hyungie tutupi dari Jungie ? Katakan Hyungie ! Katakan ! Beritahu Jungie agar Jungie mengerti hyung !"

Oke. Jungkook kembali dalam mode emosinya. Terbukti dari nafasnya yang memburu setelah mengucapkan barisan kalimat dengan nada yang nyaris naik satu oktaf setiap kalimatnya. Bahkan...mata namja manis penyandang 'Hanggeum Magnae' itu tengah berkaca-kaca. Entah mengapa bocah 18 tahun itu merasakan perasaan kalut dalam diri sang kekasih. Sementara perasaan dipermainkan dan dikesampingkan tengah menyelimuti dirinya sendiri.

"Hyungie...hyungie yang bilang kalau kita tidak boleh saling menyembunyikan sesuatu...tapi kenapa hyungie mengingkarinya ?" Jungkook berjalan mnedekat dan menaruh tangan kanannya untuk menangkup pipi kiri Hoseok.

"Apa yang membuatmu gelisah Hyungie ? Katakan."

Hoseok menggeleng pelan.

"Eobseoyo.."

Jungkook mengernyit. Hoseok terkesan menghindar.

"Sudahlah...kajja kita kekamar. Aku akan me'nina-bobo'kan mu..." Hoseok meraih tangan Jungkook dipipinya dan menggenggamnya erat. Membawanya memasuki kamar tidur mereka.

Namun Jungkook berhenti sebelum mencapai ranjangnya.

"kau berbohong hyungie..."

Dan Hoseok juga berhenti berjalan, namun tidak berbalik menatap Jungkook di belakangnya.

"Apanya yang berbohong ?" Ia bertanya pelan. Mencoba meredam suaranya agar tidak tercekat.

"..." Hening menyelimuti. Mereka masih berada di posisi yang sama. Bahkan kedua tangan mereka masih bertautan.

"Hiks..."

Punggung Hoseok menegak. 'Itu...Jungkook menangis ?' batinnnya miris.

"Hiks...hiks..." Hoseok masih diam diposisinya.

"Hiks hiks...hiks..hiks..."

Oke. Cukup. Hoseok tidak tahan.

Ia segera berbalik menghadap Jungkook dan memeluknya erat. Meredam isakan pilu dari sang kekasih.

"Wae ?"

Bukannya mendapat jawaban dari mulut Jungkook, Hoseok malah mendapatkan remasan kuat pada bagian belakang jaketnya.

"Aku mendengar semuanya hyungie...hiks...aku mendengarnya..."

"..." Hoseok diam. Jujur, ia belum seratus persen menangkap maksud Jungkook.

"Hyungie akan meninggalkanku kan nanti ? Hyungie akan pergi dari Jungie kan ? Makanya Hyungie minta maaf pada Jungie...Iya kan hyung ?"

Oh. Jadi Jungkook sudah tahu ya...

"Mian..."

.

.

.

.

.

.

.YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

.

.

"Hyung...mereka kenapa ?" Taehyung berdiri disamping Seokjin yang masih terdiam menatap meja pantri didepannya.

"Tae...kau percaya pada mereka kan ?"

Taehyung tersentak saat Seokjin menghadap kearahnya dan menegakkan bahunya.

"Mereka siapa...hyungie ?"

Seokjin menghela nafas.

"Mereka. Hoseok dan Jungkook."

"Ya...aku percaya. Memangnya mereka kenapa hyung ?"

Seokjin kembali menghela nafas.

"Kurasa...mereka akan benar-benar berpisah. Mengingat tentang apa yang dikatakan Jimin semalam..." Seokjin menunduk. Dan Taehyung...

"Mwo ?!"

Oke. Bola mata Taehyung bahkan nyaris keluar. Ia terlalu terkejut !

"Berpisah ? Bagaimana bisa ?" Taehyung bertanya dengan suara yang nyaris mendesis. Ia takut jika sepasang sejoli yang tengah diliputi kekalutan dan kesedihan itu mendenganya.

Ya. Suara isakan Jungkook bahkan terlalu keras untuk sampai kedalam dapur.

Seokjin mengendikkan bahunya.

"Sepertinya...aku harus membicarakannya dengan Namjoon.."

.

.

.

.

.

.

.YouAreMuchBetterThanHim#4

.

.

.

.

.

.

Ruang tengah dorm bangtan benar-benar diliputi oleh aura mencekam. Dimana ada Hoseok dan Jungkook yang duduk disofa dengan diapit Namjoon disebelah kanan Hoseok dan Seokjin disebelah kiri Jungkook. Kemudian ada Taehyung yang duduk dikarpet ditengah-tengah Jimin dan Yoongi. Dan...

"Sebenarnya ada apa ? Kenapa bisa kacau seperti ini ? Kalian lupa TRB pertama akan segera digelar ?"

...Manager hyung yang sepertinya sedang dalam mode 'not good'.

Oke. Lengkaplah ketidaknyamanan yang terasa di dorm Bangtan.

"Hoseok. Jungkook." Manager menatap tajam Hoseok dan Jungkook yang hanya menatap kosong pada lantai.

"Kalian kenapa ? Ada masalah ? Ceritalah dengan member lain. Jangan hanya dipendam. Kalian memegang bagian terpenting dalam grup. Jika kalian saja seperti ini, bagaimana jadinya konser nanti ?"

"Jwoseonghamnida.." Hoseok sedikit membungkuk menyampaikan permintaan maafnya.

"Dan kau Namjoon. Kondisikan membermu sementara aku membawa Hoseok dan Jungkook bersamaku."

Semua mendongak menatap sang manager. Kaget. Itulah hal pertama yang menjadi reaksi para member. Terlebih Hoseok dan Jungkook.

"Hoseok, Jungkook, ikut aku sekarang juga."

"Ne.." Hoseok dan Jungkook menjawab lirih.

Sebelum mereka bertiga benar-benar meniggalkan dorm Bangtan, Jungkook sempat bertanya.

"Bolehkah aku membawa Yoongi hyung, hyungnim ?"

"Tidak. Ia masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Jimin."

Dan Jungkook hanya menghela nafas pasrah.

Ia lantas mengikuti Manager hyung dan Hoseok yang tengah berjalan lebih dulu didepannya. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Manager memang sengaja berdiam diri, Jungkook yang tidak tahu harus berbicara apa, dan Hoseok yang memang dalam kondisi tidak baik untuk memulai pembicaran.

Dan jika dilihat lebih detail lagi, Jungkook terkesan menghindari untuk berjalan sejajar dengan Hoseok. Terlebih saat tatapannya tidak sengaja bertemu pandang dengan Hoseok, Jungkook akan langsung menunduk dan berpura-pura tidak melihat.

Ada apa sebenarnya ? Mengapa mereka terlihat saling menjauhkan diri ? Terlihat aneh karena sebelumnya mereka selalu menempel meskipun akan ada pengganggu, seperti Taehyung misalnya.

"kenapa kalian berjauhan seperti itu ? Hoseok-ah, pegang tangan Jungkook. Ia akan ketinggalan jika terus berjalan dibelakang."

Hoseok mendongak menatap managernya. Kemudian beralih menatap Jungkook yang menunduk.

"Maaf hyung, aku sudah tidak berhak lagi untuk menggenggam tangan Jungkook." Hoseok masih menatap Jungkook.

"Kenapa ? Kau kekasihnya kan ? Jadi apanya yang tidak berhak ?"

"Aku bukan pemiliknya lagi hyung."

DEG.

Jungkook semakin menunduk. Batinnya teriris saat kalimat itu keluar dari bibir Hoseok. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meredam isakan yang mungkin akan lolos dari bibirnya.

"Apa maksudnya hope ?" Manager hyung mengernyit bingung.

"..." hening sesaat menyelimuti koridor tempat mereka berdiri.

"Kami berpisah hyung."

Oke. Manager hyung sukses berjengit kebelakang.

Berita macam apa ini ? Ia ditelfon Namjoon hampir tengah malam untuk datang kedorm. Dan yang ia dapatkan adalah...berita buruk dari anak buah yang terlampau disayanginya. Sangat-sangat buruk.

"Berpisah ?"

"Ya."

Kurasa kalian harus mengetahuinya, siang tadi...Hoseok memutuskan untuk mengakhirinya dengan Jungkook. Yah, walaupun pada awalnya Hoseok harus bertekuk lutut meyakinkan Jungkook akan suatu hal. Ia akhirnya mengakhiri sebagian hidupnya. Berat. Sangat berat. Terlebih saat Jungkook menangis hebat dihadapannya. Jungkook memang menerima keputusannya, tapi sorot matanya terdominasi oleh kesedihan dan kekecewaan.

Dan Jungkook hanya mampu meremas kuat bagian belakang jaket Hoseok saat ia menagis hebat dipelukan orang yang dicintinya. Membiarkan seluruh air matanya menjadi pelampiasan kekecewaannya. Berjanji akan suatu hal, setidaknya itu cukup meyakinkan dirinya bahwa melepas Hoseok, sebagian jiwanya, adalah keputusan yang tepat.

.

.

.

.

.

'Jadi...kita benar-benar...berpisah...ya?'

.

.

.

.

.

.TBC

.

Huwaaaaaa TT_TT maafkan saya readers-deul, saya gak jadi nge-end-nin ffnya di chapt ini, bikos terlalu nanggung endingnya kalo Cuma nyampe di chapt ini. Maafkan saya karena ingkar janji, tapi saya janji ! Chapt 5 nya beneran ENDING ! Dan apalagi ini ? TT_TT saya telat apdet lagi ! Maafkan saya readers-deul. Saya masih banyak tugas dan saya sedang dalam Ujian Tengah Semester. Apalagi saya juga harus disibukkan dengan latihan dance beserta rapat" crew majalah sekolah yang selalu dadakan...:3 dan yang lebih parah, yang membuat saya frustasi tingkat dewa adalah, saya gak bisa connect ke ffn dikarenakan wifi nya troubleshoot terus :3

Untuk itu saya minta maaf readers-deul...*bungkuk 90o*

Jeongmal jwoseonghamnida. Dan ini untuk balasan reviewnya :

Aulia Rosa : HopeKook berjaya ! *angkat barner Hopekook* xD. Iya aku ingat kamu kok beb, rani kan ? xD Ini udah lanjut, mian gak jadi end disini dan juga atas keterlambatan apdetnya. xD

Diradesfi00 : Semoga saja happy ending. ^^ Mian gak jadi end disini dan juga telat apdet ^^

Tifagyeomi97 : kkkk~ Hoseok memang ngeselin. xD Iya Hopekook udah bersatu, tapi maaf karena dichapt 4 ini mereka saya pisah egen xD tapi pecayalah, dibalik perpisahan pasti ada persatuan lagi kok (?) xD maaf telat apdet dan gak jadi end disini ^^

GitARMY : kamu yang baca aja terharu, aku aja yang ngetik sampe banjir airmata kok..xD :v Ini udah lanjut, kamu gak usah komen apa-apa juga gpp kok, asalkan muncul di kolom review walau hanya ada 'lanjutttt'nya doang xD...btw, makasih semangatnya,maaf karena tidak jadi end disiini dan telat apdet ^^

She3nn0 : mereka memang nyesekkin (?) *haduh ambigu-_-* xD gak sabar endingnya ya ? sama, saya pun juga gak sabar *plak xD tapi maaf ya, gak jadi end disini, tolong tetep tunggu endingnya ya..xD maaf juga karena telat apdet..^^

Maaf bagi yang belum terbalas reviewnya. Thanks for reviews and thanks too for silent readers *kalo ada*

Jangan lupa untuk tetap review ya ..karena itu yang menjadi semangat saya buat ngelanjutin ff ini. Btw, ini udah lebih dari 3rb word, sudah panjangkah ?

Baiklah...akhir kata...sampai jumpa dichapter 5 ! ^^ doakan saja saya gak telat apdet *lagi* tapi saya juga gak janji akan apdet cepat, tergantung jadwal latihan, rapat, dan juga konektifitas(?) wifi nya ^^ kkkk~

RnR please `~~ RAE~~