A/N : Maaf…!! (sujud sembah) Saya telah menyebarkan kebohongan publik! Maaf!!!! Betul-betul kebohongan publik yang tidak bisa dimaafkan! Maaf!!!

Ehm.

Sebenernya, gue salah ngasih tau julukan buat pairing SethxJou. Di chapter kemaren, gue bilangnya mereka itu Castleshipping, padahal kalo Castleshipping itu harus SethxSetoxJou. Si Jou diembat sama dua orang pervert ini (dilempar pake piramid sama Seth dan Seto). Sementara di fic ini cuma ada SethxJou yang tak lain dan tak bukan adalah Revertshipping. Yap. Julukan buat pairing SethxJou adalah Revertshipping dan bukan Castleshipping. Maaf… Pantesan pas nulis Castleshipping kok berasa kayak ada yang kurang. Soalnya jauh di dalam lubuk hatiku (hoeeekkkhh!!) gue ngerasa kalo Castleshipping tu julukan buat pairing threesome. Hehehe.

Disclaimer : Akhirnya Yugioh punya sayaaa!! Ahahahahah!! (nari-nari girang) Tapi cuma doujinshi-nya. Itupun juga buatan orang lain. TT-TT Sedih bener gue ini… Yugioh dst dst dll dkk etc masih kepunyaannya Hidekazu Himaruya. ………. Oh, maaf, itu Hetalia. Hehe. Yang bener punyanya Kazuki Takahashi. Eh, nyebut nama Kazuki jadi keinget seorang tokoh bishi di Get Backers…

Warning : Blindshipping (Pharaoh AtemxYugi), Bronzeshipping (Yami MarikxMalik), Tendershipping (Yami BakuraxRyou), dan sedikit hint Revertshipping (SethxJou)

And I watch as the cold winter melt into spring, and I'll be remembering you. Oh, and I smell the flowers and hear the birds sing, I'll be remembering you. I'll be remembering you. (Remembering You – Steven Curtis Chapman (OST The Chronicles of Narnia)) Lagu ini selalu sukses membuat gue merinding. Lagu ini super kereenn!! Dan entah kenapa, rasanya pas sama chapter ini. Eheheh.


Pharaoh Atem, Yugi, dan yang lainnya baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Seth yang semula ikut bergabung menyantap masakan lezat sang koki istana, Otogi, terpaksa absen dari perbincangan mereka karena harus kembali melaksanakan beberapa ritual malam bersama pendeta-pendeta yang lainnya. Kebetulan, karena sosok pendeta angkuh itu tidak ada, Bakura dan Marik mulai menceritakan kejadian yang mereka lihat antara sang pendeta dan pemuda asing tersebut tadi siang.

"Kau bercanda." kata Atem tidak percaya saat Bakura dan Marik selesai menceritakan kronologis kejadian tersebut lebih detail. "Mana mungkin sepupuku bersikap seperti itu? Jangan bercanda, ah." tambah sang Pharaoh sambil terkekeh pelan.

"Kami serius, Atem!!" bela Marik, diiringi dengan anggukan kepala Bakura yang mendukung pernyataan Marik. "Tadi siang, kita berdua melihat Seth masuk ke dalam kamar Jouno dan mulai.... Apa namanya, Bakura?" Sang pengawal berambut pirang itu berkerenyit sambil menoleh ke arah partnernya.

"Memperhatikan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Belum lagi pakai adegan mengelus wajah Jou segala." lanjut Bakura disertai cengiran dan anggukan antusias dari Marik.

Atem hanya bisa menatap kedua pengawal pribadinya itu dengan mulut ternganga. Sepupunya yang terkenal dingin dan anti cinta itu? Sepupunya yang selalu sukses membuat kabur semua perempuan dan laki-laki yang mencoba mendekatinya? Sepupunya yang telah dengan sangat sadisnya membuat ayahnya menangis seperti bayi karena gagal menjodohkan Seth dengan putri bangsawan dari negara tetangga? Sungguh di luar pikiran kalau Seth yang sama yang sedang Bakura dan Marik deskripsikan dengan 'memperhatikan penuh rasa cinta dan kasih sayang'…

"Mungkin ada baiknya juga Jou disini, ya." kata Yugi dengan riangnya.

"Maksudmu, Yugi?" tanya Ryou yang duduk tepat di samping pemuda bertubuh mungil tersebut.

"Yah, mungkin saja dengan keberadaan Jou, hati Seth yang telah lama beku itu bisa cair. Mungkin juga mereka bisa menjadi sepasang kekasih seperti aku dan Atem." Yugi merangkul pergelangan tangan Atem dan bersender ke dada sang Pharaoh, membuat Pharaoh tersipu malu dengan sikap Yugi yang mendadak agresif. "Betul, kan, Atem?"

Atem hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan kekasihnya.

"Tapi, kalau benar Seth menyukainya, kenapa ia selalu bersikap seolah-olah tak peduli seperti itu?" tanya Ryou kebingungan. Sementara itu kekasihnya, Bakura, sibuk memilin-milin rambut putih bersih Ryou sambil tersenyum sendiri seperti orang sinting.

"Mungkin ia masih belum bisa jujur dengan perasaannya sendiri." sahut Malik yang baru saja menyelesaikan hidangan penutupnya dan sedang mengelap sudut-sudut mulutnya dengan serbet. "Kita semua tahu Seth, kan. Dia orang yang sulit sekali menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya kepada orang lain. Yah, kecuali adiknya, Moki."

Apa yang dikatakan oleh Malik adalah benar. Seth tidak pernah menunjukkan sedikit kelembutan hati kepada orang lain, selain Moki, adiknya. Di depan, Moki pendeta berambut cokelat itu bisa menjadi dirinya yang sesungguhnya. Sementara itu, sisinya yang lain ia tunjukkan kepada orang lain untuk menjaga pandangan masyarakat mengenai istana dan juga pekerjaannya sebagai pendeta. Seth khawatir orang lain akan menggunakan kelemahannya untuk berbalik melawannya. Sayang, Moki yang telah beranjak remaja itu memutuskan untuk menimba ilmu lebih dalam lagi keluar negeri. Sudah lebih dari satu tahun pemuda berambut hitam berantakan itu memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu yang ia dapat di luar negeri.

Yugi nampak berpikir sangat keras sampai-sampai membuat Atem jadi khawatir otak belahan hatinya itu meledak. "Bagaimana kalau kita coba jodohkan saja mereka berdua? Siapa tahu mereka memang cocok." usul Yugi disertai senyuman lebar.

"Menjodohkan Seth dengan Jouno?" ulang Atem sambil mengerenyit. Dari dulu ia tidak pernah meragukan ide brilian yang diutarakan Yugi, namun untuk kasus yang ini rasanya Atem agak sedikit cemas memikirkan caranya. Ditambah lagi, tingkat keberhasilannya luar biasa rendah. "Kau tidak ingat ceritaku tentang ayah Seth yang menangis – menangis, Yugi!! – kepada ayahku gara-gara Seth yang mengusir calon pendampingnya dengan air tanaman?"

Yugi tertawa sebentar saat mengingat cerita konyol yang diceritakan Atem mengenai sepupunya tersebut. Ia kenal baik dengan Akunadin, ayah dari Seth. Benar-benar tidak bisa dibayangkan pria paruh baya yang begitu tegas dan disiplin bisa menangis sesenggukan hanya karena putra tertuanya menolak untuk dijodohkan.

"Tapi aku suka ide Yugi!" timpal Bakura. Ia sudah berhenti memainkan rambut Ryou dan malah menepuk-nepuk kepala Ryou seperti anak kecil. Entah kenapa Bakura sangat suka memainkan kepala Ryou. "Dilihat dari situasinya, Seth sudah mulai terbuka pada Jouno. Jika diberikan stimulus sedikit saja, pasti mereka berdua akan bersatu suatu hari nanti!"

"Aku tidak yakin..." gumam Atem ragu. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ayolah, Pharaoh!" desak Marik. "Ini pasti akan sangat menarik untuk ditonton!!"

"Untuk membuat ini lebih menarik, kita buat saja taruhan!" kata Bakura gembira. Ia memang paling senang masalah berjudi seperti ini. Selain ia bisa mendapatkan uang tambahan dari hasil berjudinya, ia juga mempunyai bahan untuk mengejek lawannya yang kalah. "Aku yakin Seth tidak akan mengungkapkan perasaannya pada Jouno dalam tiga bulan ini!"

"Kukira kau mendukung hubungan mereka berdua, Bakura?" tanya Ryou bingung.

"Hei, aku bilang Seth tidak akan mengungkapkan perasaannya dalam tiga bulan. Mungkin saja ia mengungkapkannya saat tiga bulan lebih sehari? Hehehe." balas Bakura sambil mengangkat bahunya dengan enteng.

"Aku ikut dengan Bakura." ucap Marik.

"Aku juga." timpal Atem diiringi cengiran puas. "Kemungkinan bahwa sepupuku memang jatuh cinta pada Jouno besar, tapi aku tidak yakin ia mau mengungkapkan perasaannya secepat itu."

Yugi cemberut saat mendengar perkataan Atem. Bibir bagian bawahnya ia majukan sedikit dan keningnya ia kerutkan. Betul-betul wajah yang sangat menggemaskan, membuat Atem nyaris hilang kendali. Beruntung insting liarnya masih bisa dikendalikan, tidak seperti dua pengawalnya yang selalu 'menyerang' kekasih mereka di saat-saat tidak terduga. "Kalian jahat!" sembur Yugi, masih merengut. "Masa' kalian mempertaruhkan seperti itu?!"

"Betul!!" Kali ini giliran Ryou yang cemberut dan protes."Sebagai teman, kalian seharusnya mendukung Seth!!"

"Sepupu." kata Atem mengoreksi perkataan Ryou.

"Apapun itu." Ryou memutar bola matanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya, kesal karena diselak oleh Atem. "Kalau begitu, aku bertaruh mereka berdua akan mengungkapkan perasaan masing-masing sebelum atau pada saat tiga bulan mulai dari sekarang!!"

"Aku ikut Ryou!!" seru Yugi gembira sambil memeluk sahabatnya itu, membuat Atem dan Bakura cemburu.

"Aku juga ikut Ryou dan Yugi." timpal Malik. Bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman kecil. "Lagipula, dari cerita yang Marik dan Bakura katakan sangat terlihat sekali kalau Seth sangat mengagumi Jouno."

Marik hanya bisa mencibir saat mendengar perkataan kekasihnya. Mata lavendernya kembali menatap penghuni-penghuni meja makan yang ada. "Sekarang, semua orang sudah menempatkan taruhannya. Lalu, imbalan apa yang akan diterima oleh pemenangnya dan apa yang harus dikerjakan oleh yang kalah?"

"Aku tahu!!" seru Bakura gembira. "Kalau aku, Atem, dan Bakura menang, Ryou dan yang lainnya harus mau melakukan apapun yang kita minta selama sebulan penuh!"

"Apa itu termasuk kegiatan di tempat tidur?" tanya Marik polos yang kemudian dijawab dengan bogem mentah dari Malik.

"Tentu saja!" balas Bakura riang. Kali ini giliran pengawal berambut putih bersih itu yang mendapat hadiah spesial dari kekasihnya berupa tendangan melingkar yang dengan sukses mendaratkan Bakura di ujung ruangan.

Yugi terbatuk sebentar sebelum berkata, "Kalau aku dan yang lainnya menang, kalian sebagai yang kalah harus mau menggantikan kami melaksanakan tugas-tugas kami sambil terus melaksanakan tugas wajib kalian masing-masing."

"Dan tidak ada jatah selama sebulan bagi yang kalah." kata Ryou. Matanya mendelik tajam ke arah Bakura yang masih terkapar.

Atem hanya bisa menghela napas saat mendengar penawaran dari Yugi. Bekerja menggantikan Yugi berarti ia harus membaca buku-buku tebal dan melakukan penelitian di lapangan di bawah terik sinar matahari Mesir. Belum lagi laporan-laporan penelitian yang setiap hari harus ia perbaharui dan tambahkan. Tak ketinggalan, logbook yang harus ia isi setiap saat dengan catatan dan berbagai sampel. Atem hanya bisa menelan ludah saat membayangkan tugas berat Yugi yang tidak sebanding dengan ukuran tubuh kekasihnya itu. Membayangkannya saja sudah membuat tubuh merinding ngeri, apalagi harus menjalaninya...

Bakura dan Marik juga sama-sama membayangkan betapa horornya pekerjaan kekasih mereka. Ryou sebagai pustakawan yang kerjanya sepanjang hari terus berada di perpustakaan jelas bukan opsi pertama pekerjaan favorit Bakura. Bahkan, pekerjaan itu tidak pernah masuk daftar pekerjaan Bakura sama sekali. Bagi sang prajurit berambut putih itu diam di dalam perpustakaan berhari-hari lebih parah dari neraka. Begitu pula dengan sahabatnya, Marik. Memang Marik kelihatan begitu perkasa dengan perlengkapan perangnya. Ia tidak gentar dengan siapapun dan sangat menggemari medan tempur. Baginya, cipratan darah, jeritan kesakitan dan minta tolong, serta potongan-potongan tubuh yang bergeletakkan dimana-mana menjadi semacam pendorong semangat sang prajurit berambut pirang untuk menang. Anehnya, ia tidak bisa tahan sedetik pun di dalam laboratorium Malik bersama dengan botol-botol kaca berisi bahan ramuan yang menjijikkan. Aneh, memang. Orang yang begitu terbiasa dengan darah dan potongan tubuh berceceran tidak sanggup melihat potongan-potongan tubuh manusia yang diawetkan untuk eksperimen.

Sementara itu, kekasih mereka tersenyum puas saat melihat wajah horor dan pucat yang ditunjukkan oleh Atem, Marik, dan Bakura. Entah kenapa, melihat ekspresi ngeri mereka sangat menghibur bagi Yugi, Ryou, dan juga Malik. Sayang kamera belum diciptakan pada zaman itu...

"Baiklah!" kata Yugi ceria sambil menepukkan kedua tangannya di depan dada. "Kita mulai taruhannya besok pagi!"

"Tu... Tunggu sebentar." gumam Atem, agak heran dengan sikap ceria kekasihnya itu. Apa dia begitu senangnya ada 'korban' lain untuk dijodohkan selain Bakura dan Ryou? "Kita belum menentukan peraturannya."

"Semua pihak boleh melakukan apapun untuk menjadi pemenang dalam taruhan ini." kata Bakura. "Jadi, aku, Marik, ataupun Atem punya hak untuk mencegah Seth mengungkapkan perasaannya pada Jouno. Sementara itu, kalian sendiri punya hak untuk mendekatkan mereka berdua. Apa kalian setuju?" tanyanya sambil menatap berkeliling.

"Setuju!!" sahut Marik dengan segera.

"Ng... Bagiku tidak masalah." jawab Malik.

"Baiklah! Mulai besok pagi, pertandingan dimulai!!" seru Yugi gembira dan mengacungkan tangannya yang terkepal ke udara.


Pagi hari Katsuya dimulai dengan Yugi yang tiba-tiba meloncat ke atas tempat tidurnya dan melompat-lompat seperti kelinci. Tak ketinggalan pemuda berambut bintang itu juga berteriak-teriak seperti orang gila dengan tingkat suara supersonik, membuat Katsuya hampir tuli.

"Selamat pagi, Jou!!" sapa Yugi ceria begitu Katsuya membuka matanya.

"Pa... Pagi..." balas Katsuya pelan. Ia mengusap-usap matanya untuk menghilangkan kantuk akibat obat dari Malik. Matanya mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang memenuhi kamarnya.

Yugi tersenyum cerah sambil menarik Katsuya untuk berdiri dari tempat tidur dan langsung menyeret pemuda malang berambut pirang itu ke suatu tempat. "Cepat, cepat!! Pagi ini kau harus segera mandi dan sarapan. Setelah itu, kita ke perpustakaan istana!"

"Per... pustakaan?" ulang Katsuya bingung. "Untuk apa aku ke perpustakaan, Yug?"

"Tentu saja untuk mempelajari segala hal mengenai Mesir, Jou!!" jawab Yugi masih dengan nada super riangnya itu. "Kau, kan, sama sekali buta tentang negara ini dan juga bahasanya. Mengingat kemungkinan besar kau akan tinggal lama di Mesir, tidak ada salahnya untuk mempelajari budaya, kebiasaan, dan terutama bahasanya. Tidak lucu, kan, kalau kau tinggal di Mesir tapi hanya bisa berkomunikasi denganku. Lagipula, Seth sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk bisa bercakap-cakap denganmu." sambung Yugi diiringi cengiran jahil. Ia sedikit memasukkan petunjuk kepada Jou tentang Seth yang mulai menyukainya.

"He?" Katsuya hanya bisa membalas perkataan Yugi dengan raut wajah bingung. Dimiringkannya kepalanya sedikit.

Melihat perilaku Katsuya yang sangat mirip dengan anak anjing kebingungan membuat Yugi langsung melompat memeluk Katsuya sambil berseru, "Aaaah!! Kau lucu sekali, Jou!! Kau manis sekali, persis seperti anak anjing yang kehilangan tuannya! Pantas saja Seth menyukaimu!"

Rona merah mulai menjalar di pipi Katsuya saat mendapat pujian seperti itu.

"Nah, ayo kita ke kamar mandi! Mandilah yang bersih, Jou!" ucap Yugi sambil mendorong Katsuya menuju pemandian istana.

Sebenarnya ada tujuan lain kenapa Yugi memaksa Katsuya untuk mandi sepagi itu. Hal itu dikarenakan Seth yang juga akan menggunakan pemandian yang sama. Seth sendiri sebetulnya memiliki kamar mandi khusus yang berada tepat di samping kamarnya, namun ia lebih suka mandi di pemandian istana karena pemandangan pagi harinya yang begitu memukau. Berkas-berkas matahari terbit masih dapat ia saksikan dari pemandian istana. Suasana syahdu seperti itu bisa berubah romantis bila Katsuya ditambahkan ke dalam kolam yang sama. Pikiran seperti itu membuat Yugi tertawa dalam hati. "Ronde ini aku yang menang, Atem." bisik Yugi girang.


Katsuya mencelupkan ujung kakinya, merasakan hangatnya air pemandian sambil tersenyum. Sudah beberapa hari ini ia tidak mandi dengan cara semewah ini. Kembali di istananya dulu, Katsuya selalu dimanjakan di setiap saat, bahkan saat mandi. Ia tidak perlu repot-repot melepas pakaiannya karena ada pelayan yang bertugas melakukannya. Ia juga tidak perlu repot-repot menggosok punggungnya karena ada pelayan lain lagi yang telah siap melaksanakan tugas tersebut. Sementara itu, di dalam kapal yang ia tumpangi dari Domino tidak ada pelayanan khusus seperti itu. Selain ia harus melayani dirinya sendiri, kamar mandi itu juga bukanlah kamar mandi pribadi melainkan kamar mandi bersama. Katsuya ingat betul saat ia berebut kamar mandi dengan awak kapal selama perjalanan. Betul-betul pengalaman yang tidak menyenangkan.

Sang pangeran Domino menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga batas pundak ke dalam air hangat pemandian. Matanya terpejam rapat dan seulas senyum terpasang di wajahnya. Berendam air hangat di pagi hari benar-benar menyenangkan, pikirnya gembira.

Katsuya sibuk meneruskan acara berendamnya hingga ia mendengar langkah kaki semakin mendekat ke kolam. Penasaran akan sosok misterius yang memasuki pemandian, Katsuya memalingkan kepalanya dari pemandangan kota ke pintu masuk. Saat itulah sepasang mata cokelat beradu dengan biru.

Seth tertegun sesaat saat mendapati sosok Katsuya sedang berendam di dalam kolam. Belum lagi, mata cokelatnya yang menyinarkan kepolosan terpaku pada sosoknya.

Waktu bagaikan berlalu begitu lambat hingga otak Seth berhasil mencerna siapa pemuda berambut pirang yang ada di depannya.

"A... Apa yang kau lakukan disini?!" seru Seth panik. Wajahnya memerah begitu menyadari keadaan tubuhnya yang setengah telanjang itu. Untung ia memutuskan untuk tidak melepas kain yang melingkar di sekitar pinggangnya dan menutupi area pribadinya. Kalau tidak...

Katsuya yang juga menyadari situasi tidak mengenakkan itu langsung berkata, "Ma... Maafkan aku!"

"Memangnya kau punya izin untuk masuk ke dalam pemandian ini?" tanya Seth dengan nada ketus, berbanding terbalik dengan wajahnya yang merona merah seperti kepiting rebus.

"Aku betul-betul minta maaf!" kata Katsuya dengan wajah yang tak kalah merahnya dari Seth. "Maaf kalau aku sudah lancang masuk ke pemandianmu!"

"Dimana Yugi!? Ini pasti kerjaan si cebol satu itu!" seru Seth kesal sambil melihat berkeliling, mencoba mencari sosok kecil dengan rambut tiga warna di dekat situ.

"A... Aku betul-betul minta maaf! Aku sungguh tidak tahu kalau ini tempatmu mandi. Seandainya aku tahu, aku tidak akan mau diajak Yugi kemari."

Betul-betul percakapan yang aneh. Keduanya menggunakan bahasa yang tidak dimengerti satu dengan yang lainnya dan malah menimbulkan percakapan yang membingungkan seperti itu.

Seth menghela napas panjang. Ia mulai bisa mengontrol detak jantungnya yang sempat berdetak dengan tempo sangat tidak stabil. Pendeta berambut cokelat itu masih tidak mengerti kenapa pemuda yang mengaku bernama Jouno ini bisa membuat detak jantungnya kacau, wajahnya memerah, dan kemampuan berbicara lancarnya jadi menurun. "Sudahlah." gumam Seth sambil melangkah masuk ke dalam kolam. Ia mengambil tempat tepat di samping Katsuya yang masih menjaga jarak.

Seth diam-diam memperhatikan sosok Katsuya yang berada tak jauh dari dirinya. Ia bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh Katsuya yang begitu ramping. Wajahnya yang imut itu terlihat semakin manis dengan rona merah menghiasi kedua pipinya. Belum lagi kepalanya yang tertunduk malu itu juga menambah kesan imut yang telah melekat pada diri pemuda berambut pirang itu.

Seth mendengus pelan. "Persis seperti anjing…" gumamnya.

"Eh?" Katsuya mengangkat kepalanya dan menatap Seth. Ia mengira gumaman tersebut adalah pertanyaan untuk dirinya. Sayang, ia belum begitu mengerti bahasa Mesir.

Seth hanya melirik Katsuya melalui ekor matanya. Ia sudah melihat berbagai ekspresi yang ditunjukkan wajah manis itu mulai dari sedih, ketakutan, senang, sampai malu. Semua ekspresi tersebut membuat karakter sang pemuda misterius itu semakin kuat dan entah kenapa semakin membuat Seth penasaran. Hanya ada satu ekspresi yang belum pernah Katsuya perlihatkan kepadanya, yaitu ekspresi kesal. Seth penasaran apakah ekspresi kesalnya akan menimbulkan efek yang sama seperti ekspresi-ekspresi Katsuya yang lainnya.

"Aku bilang anjing." ulang Seth, kali ini dalam bahasa Domino. Beruntung ia sempat diajarkan Yugi dan Ryou mengenai bahasa unik itu. Satu keunggulan lainnya adalah otaknya yang begitu jenius mampu menyerap kosa kata dan susunan kata bahasa Domino dengan sangat mudahnya.

Katsuya sempat terkesiap saat mendengar pemuda berkulit gelap itu berbicara menggunakan bahasa negaranya. "Siapa yang kau bilang anjing?"

Seth menatap Katsuya tepat di kedua bola mata cokelat itu, membuat Katsuya sedikit gugup. "Kau." sahut Seth disertai cibiran sinis.

Ujung mata Katsuya berkedut. Ia tidak menyangka orang ini berani mengatainya seperti anjing! Tidak ada seorang pun yang berani mengatai anggota kerajaan seperti ini! Ia bisa dihukum gantung – tunggu, bahkan lebih parah! – hukum penggal karena telah melecehkan Katsuya!

"Brengsek!" seru Katsuya kesal. "Memangnya kau pikir kau ini siapa?! Seenaknya saja mengataiku anjing!"

Seth mengangkat alis matanya, menantang Katsuya untuk berbantahan dengannya. "Aku pendeta tertinggi di Mesir ini. Aku orang yang sangat berpengaruh dan pengaruhku hampir sama dengan Pharaoh. Kau sendiri siapa?"

"Aku ini adalah pa..." Katsuya langsung mengatupkan mulutnya dan menutupnya dengan kedua tangannya. Ia hampir saja kelepasan memberitahu Seth jati dirinya yang sebenarnya.

Seth tertawa lepas saat melihat reaksi Katsuya. Ternyata reaksi marah dan kesal pemuda ini sama manisnya dengan reaksi-reaksi yang lainnya. Tapi, efek yang terjadi pada tubuhnya sedikit berbeda. Dengan melihat ekspresi kesal Katsuya, timbul perasaan senang dan gembira di dalam hati Seth, persis seperti saat ia sedang bercanda gurau dengan Moki, adiknya. "Kau benar-benar seperti anjing. Bahkan suaramu pun seperti anjing yang menyalak."

"Aku bukan anjing!!"

"Hei, anjing sepertimu tidak seharusnya menyalak kepada tuannya, kan?"

"Aku bukan anjing dan kau bukan tuanku!"

Belum sempat Seth membalas perkataan Katsuya, terdengar suara orang memasuki pemandian dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Bukan hanya sekali, tapi juga tiga kali. Sepertinya ada tiga orang baru yang memutuskan untuk berendam di pemandian istana.

"Ah! Hei, sepupuku!!"

Rupanya Atem, Bakura, dan Marik yang baru saja masuk ke dalam kolam.

Seth mengerang pelan. Waktu indahnya bersama anjing manis di sampingnya ini jadi terganggu gara-gara mereka bertiga. Yang lebih menyebalkannya lagi adalah ketiga penganggu itu bergerak ke tempatnya dan Katsuya berada dengan senyum lebar yang entah kenapa terlihat sangat memuakkan bagi Seth.

"Ah, rupanya ada kau juga, Jouno." kata Atem dalam bahasa yang dimengerti Katsuya. Lagi-lagi, berkat Yugi sang Pharaoh bisa menguasai bahasa negara asal Katsuya.

Katsuya mengangguk menghormat ke arah Atem. "Se... Selamat pagi."

"Tidak usah terlalu formal seperti itu, Katsuya." balas Atem diiringi tawa renyah. "Bagaimana tubuhmu? Sudah sehat?"

"Sudah lebih baik, Yang Mulia." sahut Katsuya dengan kosa kata dan susunan kalimat yang begitu formal.

Tawa renyah kembali keluar dari mulut Atem. "Aku sudah bilang tidak usah formal seperti itu. Panggil saja aku Atem."

"Sedang apa kalian berduaan disini?" tanya Marik seraya bergerak mengambil posisi di antara Katsuya dan Seth. Mata lavendernya menatap lurus ke arah mata biru lazuli milik Seth yang berkilat bahaya, menandakan kalau pemilik mata biru itu kesal setengah mati. Marik yang cuek terus saja tersenyum pura-pura tidak tahu.

"Memangnya kami terlihat sedang apa? Makan? Tentu saja kami sedang mandi." balas Seth sinis.

"Kalau begitu, kau tidak keberatan kami ikut bergabung bersama kalian, kan?" tanya Bakura penuh harap.

"Tentu saja tidak. Seth, kan, sangat suka keramaian." potong Atem tepat sebelum sepupunya itu membalas pertanyaan retoris dari Bakura. Sang Pharaoh mengedipkan satu matanya ke arah Bakura, membuat sang prajurit berambut putih tertawa pelan.

Keempat orang Mesir itu terus bercakap-cakap dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Katsuya. Hal itu membuat pangeran berambut pirang itu seperti orang yang terkucilkan. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari pemandian dan langsung menuju kamarnya untuk ganti baju. Sebelum ia keluar dari pemandian, ia sempat melirik ke arah Seth yang masih terkepung diantara tiga orang penganggu tersebut. Katsuya tersenyum kecil saat melihat sosok Seth yang kerepotan menangani ocehan Yami dan dua orang pengawal pribadinya.


"Aaaarrrggghhh!!!"

"Yugi!" tegur Ryou. "Ini di dalam perpustakaan! Tolong tenang sedikit!"

"Bagaimana aku bisa tenang?!" kata Yugi sambil membanting kepalanya ke atas buku tebal yang sedang ia baca. Katsuya baru saja ia suruh mencari buku bacaan di perpustakaan yang begitu besar dan penuh dengan gulungan-gulungan papirus. Tidak mungkin erangan tadi atau pun percakapannya saat ini terdengar oleh Katsuya. "Atem dan dua orang itu berhasil menganggu rencana kita, Ryou!"

Ryou mengangguk-angguk mengerti. Bakura baru saja memberitahunya kalau ronde pertama telah dimenangkan oleh pihak Pharaoh dan pengawalnya. "Memang agak menyebalkan, sih..."

"Kan?! Mereka bertiga benar-benar tidak termaafkan!" geram Yugi. Hampir saja ia merobek halaman buku yang sedang ia baca kalau saja Ryou tidak memberinya tatapan ekstra tajam seperti pembunuh. "Kau tahu apa kata Atem? Rencana kita terlalu mudah ditebak! Sial!"

"Yah, itu juga yang Malik ceritakan padaku." gumam Ryou. Sebesar apapun cintanya pada Bakura, tetap saja ia benci kalau harus kalah dari kekasihnya. "Berarti, rencana kita berikutnya harus menggunakan rencana cadangan juga. Seandainya mereka bertiga memutuskan untuk menjadi nyamuk lagi, kita bisa menggunakan rencana cadangan."

"Maksudmu, rencana pengusir nyamuk?" tanya Yugi penuh harap.

"Bisa dibilang begitu." jawab Ryou sambil tersenyum.

"Aku suka idenya. Kira-kira, kapan kita punya kesempatan untuk mendekatkan mereka berdua lagi?"

"Mungkin saat festival nanti. Kalau tidak salah, festival untuk Ptah akan diadakan kurang dari lima hari lagi. Di saat itulah Seth dan Atem pasti akan melakukan duel pada pembukaan upacara. Kita buat Jou melihat kehebatan Seth dalam berduel. Ia pasti langsung jatuh cinta!" kata Ryou begitu bersemangat.

"Benar juga!" kata Yugi, langsung menyetujui rencana yang dibuat Ryou. "Dengan rencana ini, pasti Atem akan kalah! Ahahah!!'

TBC


A/N : Hyaaaa... maaf update-nya lambat sekali seperti siput. Maklum, minggu ini mendadak jadi sibuk banget. Ehehe. Dan rasanya chapter ini kurang seru, ya. Maaf... Chapter depan bakal lebih seru, deh. Ehehehe.

Mayonakano Shadow Girl : Ahahaha!! Gue setuju dengan statement : "Katsuya jadi lebih manis kalo menderita." Masalah kenapanya, gue juga gak tau. Eheheh. Tenang. Biarpun Katsuya gak bisa bahasa Mesir, Seth jago bahasa asalnya si Katsuya. Kan Seth pinter. Pinter, tapi sok jaim. Najis lo. (ngeplak Seth. Dikeplak balik) Makasih buat review-nya, ya. Jangan lupa review lagi. Ehehe.

Shigeru : Maaf…! SethxJou tu bukan Castle, tapi Revertshipping. Maafin gue yang udah menyebarkan kebohongan publik. (lebay) Ha? Wah, gue juga gak tau. Soalnya kalo gue baca cerita di ffn dengan seting ancient egypt, sosok Jou pasti diganti sama Jouno ini. Tapi, coba lo cek di daftar karakter YGO di ffn, deh. Ada Jouno, lho. Berhubung gue gak main gamenya, jadi gue gak ngerti juga. Ehehe. Pharaoh? Itu game PC. Game jadul, sebenernya. Gamenya hampir sama kayak Sim City. Intinya, kita ngebangun kota. Buat PHARAOH, kita ngebangun kota Mesir kuno. Heheh. Lanjutannya namanya CLEOPATRA. Dulu kakak gue punya, terus raib. Kalo main CLEOPATRA, harus ada cd PHARAOH juga. Agak aneh emang…

MoonZheng : Noh. Z-nya gue gedein lagi. Halah... Ahahha! Seth sama Kaiba bukannya emang udah perv dari sononya, ya? (ditimpuk sama Seth dan juga Kaiba yang muncul tiba-tiba) Dan buat nama shipping... gue juga gak tau asalnya darimana. Ehehe. Kalo Puzzleshipping kan gara-gara milenium puzzle itu yang menyatukan Yami sama Yugi. Bronzeshipping gara-gara Marik sama Malik sama-sama tan. Puppyshipping gara-gara Kaiba yang sering ngejekin Jou "ANJING LO!". Tapi yang lainnya gue gak tau. Cari sendiri, lah, di http : / / blackgargieyaoivibe . blogspot . com / 2009 / 09 / yaoi – vibe – yugioh . html (ilangin spasi). Itu daftar shippingnya LENGKAP BANGET! Dari yang popular sampe yang paling absurb sekalipun.

Shena BlitzRyuseiran : Emang! Sok jaim lo Seth! Ahahha! Apa jangan-jangan si Seth emang jantungan? Payah dia. Masa' masih muda udah jantungan. Gak asik. (ditempeleng juga pake sendal sama Seth) Makasih buat reviewnya. Jangan lupa review lagi. Ohoho.

Sora Tsubameki : Tau, tuh. Udah megang-megang tanpa ijin, pake mikir mau nge-rape anak orang segala. Inget, Seth. Elo pendeta. Harusnya gak boleh melakukan dosa. Waih. Makasih, lho, dibilang mantep. Fic Sora juga mantep. Makanya, updatenya yang cepet! Ntar keburu lumutan gue nunggu updatenya… (pout) Oiya, buat pairing SethxJou itu adalah Revertshipping. Kalo Castleshipping tu SethxSetoxJou. Si Seto jadi nyamuk, gangguin dan Seth sama Jou terpaksa harus mau threesome-an sama Seto juga. Ehehe. Makasih, lho, reviewnya.

Vi ChaN91312 : Betul! Beruntung ada Yugi yang bisa nolongin elo, Jou! Kalo nggak, lo udah bikin fim 'Lost in Translation 2' aja sono. Ahahaha! Orang iseng yang merhatiin si Seth itu Marik sama Bakura. Biasa, orang gila suka nguntit orang kemana aja. (kena lempar panah dari Marik sama Bakura) Makasih buat reviewnya! Oiya, ceritamu nanti aku review. Hehehe.

Messiah Hikari : Waduuuh… Kemaren blindshippingnya kurang, sekarang malah gue bikin Yugi ngelawan Atem buat ngejodohin Seth sama Jou… Hehehe. Tenang! Blindshippingnya bakal gue tambahin! Gue janji! (cross my fingers) Hehehe. Hmm… Kalo ditanya mana yang lebih perv, mungkin gue jawab… dua-duanya. (kena tempeleng Yami dan juga Atem) Ehehe. Lagian, mereka berdua, kan, roh yang sama. Pasti masih sama, dong, 'spirit' ke-pervert-an mereka. Apa, sih, yang gue omongin... Anyway, makasih reviewnya. Jangan lupa review lagi!

Hyah. Mari kembali ke PHARAOH. Terakhir gue mainin, terakhir gue mainin, duit gue lagi amblas gara-gara impor clay mulu. Kampr*t… Duh, belom buat kapal perang pula. Sial…

Coolkid, pamit.