Disclaimer: Death Note belongs to its respective owners.

Bosan memainkan boneka gorilanya, Mello mulai mengacak-acak kotak mainan Near (membiarkan Near sesenggukan tanpa sadar bahwa dialah penyebabnya), kemudian menemukan satu kotak permainan berwarna biru, dengan tutup berlubang-lubang, dan keping-keping berwarna kuning dan pink didalamnya, Mello langsung mengenalinya sebagai four-in-a-row. Perlahan dia menggeser tutupnya, menegakkannya, lalau meletakkan kotak itu di atas karpet.

"Mau main?" tanyanya dengan cengiran khasnya, menunjjuk pada mainan yang diambilnya. Near memandangnya selama beberapa saat, kemudian berdiri dan berjalan ke depan kakaknya, lalu duduk di depan kotak berwarna biru muda itu.

Near berhasil menyingkirkan ketakutannya dengan pemikiran sebagaimana berikut:

'Mengajak memainkan permainan yang membutuhkan intelejensi, berarti orang ini bisa berfikir, dengan demikian, kalau ada permasalahan, bisa diselesaikan menggunakan pikiran, orang ini tidak berbahaya seperti kelihatannya' pikirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat Mello senang karena berpikir Near mengangguk mengiyakan.

Ketika melihat warna keping miliknya, Near langsung memutar kotak itu, sehingga tempat keping berwarna kuning berada di hadapan Mello. Melihat ini, Mello hanya tersenyum, sambil berpikir, 'Oh, dia suka warna pink ya? Girly banget' pikirnya sambil cekikikan. Padahal sebenarnya, baru saja Near memainkan permainan pribadinya: mencocokkan warna.

"Nah, siapa yang mulai duluan?" tanyanya ceria, Near tidak berkata apa-apa, jadi Mello berasumsi bahwa Near ingin dia yang memulai. Diambilnya satu keping berwarna kuning dan menjatuhkannya ke suatu baris, ditunggunya Near berpikir, kemudian Near menjatuhkan satu keping berwarna pink ke barisan lain yang berlawanan, membuat keping keduanya terlihat seperti proyeksi satu sama lain. Ingin membuktikan sesuatu, Mello mengambil satu keping lagi, dan menjatuhkannya di sebelah keping miliknya yang sebelumnya, sehingga jarak kedua kepingnya dan keeping near hanya tersisa lima lubang, Near pun kembali memproyeksikan gerakannya.

Mello menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menyembunyikan senyumannya (yang saat ini tidak enak dilihat), dan gagal, tentunya.

'Yang benar saja! Dia benar-benar hanya mengikutiku! Aku memang jenius!!!' pikirnya, sambil melirik kearah mainan yang ada di hadapannya. 'Menang mudah nih!!!' pikirnya girang, Mello pun mengambil satu keping lagi, menjatuhkannya dengan cengiran lebar terpajang di wajahnya.

…………………………………………………………….

-Rumah keluarga Amane, ruang keluarga-

"Bagaimana rasa cake-nya, Kuma-san?" Tanya Linda, merujuk pada boneka beruang berwarna putih di seberangnya. "Oh, begitu? Lebih suka cake blueberry ya? Kalau begitu, lain kali Linda ganti blueberry deh." katanya sambil tersenyum, "Tidak ada yang keberatan kan? Eh, iya…Kame-san?" tanyanya menanggapi 'panggilan' dari boneka Kura-kura warna pink yang ada di sebelahnya. "Begitu, Kame-san lebih suka cheesecake? Wah, bagaimana ya?" tanyanya bingung, berusaha menyenangkan 'tamu-tamu'nya. Sementara agak jauh di belakangnya, Matt mem-pause game-nya, menyempatkan diri untuk memutar kedua bola matanya, kemudian me-resume game-nya lagi.

Pada saat itu, Linda menoleh kearahnya dengan tampang cemberut, "Matt-niichan! Jangan berlaku tidak sopan saat sedang banyak tamu!" cela Linda, merujuk pada boneka-bonekanya. Sekali lagi, Matt mem-pause game-nya, kemudian menunjuk dirinya sendiri.

"Aku? Tidak sopan bagaimana?" tanyanya bingung. Sedari tadi Linda duduk membelakanginya, jadi pasti anak perempuan itu tidak akan mengetahui apa yang dilakukan Matt di belakangnya, iya kan?

"Usa-san bilang Niichan meremehkan mereka dengan memutar-mutar mata Niichan! Seperti ini…" katanya sambil mempraktekkan apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya (dan diberitahu oleh Usa-san nya), "Aiyaa…..pusing….." keluhnya pelan. Bulu kuduk Matt berdiri, entah karena cahaya atau tipuan mata, mata-mata kancing para boneka itu terlihat berkilatan.

…………………………………………………………

-Kembali ke kediaman Yagami, kamar Near-

Dengan keringat bercucuran dari keningnya, dan tangan gemetar menahan amarah, Mello mengambil satu keping lagi, kemudian mengangkatnya tinggi diatas lubang-lubang permainan, sementara Near asyik mengangkat boneka beruangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.

Bagaimana bisa begini? Bukankah seharusnya Near mengukuti semua langkahnya? Hoho….tentu tidak, karena buktinya sekarang ini Mello seperti menemukan buah Simalakama.

'Kalau aku isi yang ini, dia bisa ngisi di atasnya,' pikir Mello sambil memperhatikan deretan keping berwarna pink yang tersusun diagonal, 'dan dia menang, tapi kalau ngga ku isi, dia bisa isi yang ini,' pikirnya lagi sambil melirik tiga keeping warna pink yang berbaris manis 'yang manapun, dia yang menang!!!' pikirnya geram.

Lalu……apa yang akan kamu lakukan?

Suatu inspirasi masuk ke dalam otaknya, Mello pun menyeringai. Diletakkan kembali keping yang ada ditangannya, kemudian diselipkan tangan kanannya di bawah kotak itu, lalu dia membalikkan mainan itu sampai keping-keping yang ada bertebaran, diikuti dengan satu teriakan:

"SIALAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

……..yang kemudian memacu reaksi dari Near sebagai berikut:

"……………..Huaaaaaaaaaaa………..yah…yah..yah…!!! Pa…pa….pa!!!!" tangisnya kencang, semua logika hilang saat melihat Mello yang kehilangan harga dirinya sebagai kakak (dan yang paling utama, kewarasannya).

'……beres kan? Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah….. aku memang jenius!!!' pikir Mello bangga, diikuti dengan tawa yang terdengar seperti nyanyian dari neraka, secara efektif membuat Near mengencangkan pelukannya pada boneka beruangnya.

……………………………………………………….

-Sekali lagi, rumah keluarga Amane-

"Matt-chaaannn……ada telpon dari Mello-kun!!!" panggil Misa dari lantai satu, menutupi bagian receiver dengan satu tangan untuk meredam panggilannya, "Maaf, Mello-kun, tunggu sebentar ya~" katanya riang, kemudian dilihatnya Matt berjalan menurunitangga dengan malas-malasan. "Ah, itu dia datang," sahutnya kemudian, lalu menyerahkan gagang telpon itu ke anaknya, dan berjalan menjauh ke arah dapur.

"Ya?"

"…..Matt, Linda bisa main four-in-a-row?" Tanya Mello tiba-tiba, Matt hanya menjauhkan gagang telpon dari telinganya dan memandanginya seolah benda itu gila (ralat: karena dia merasa Mello gila), sadar bahwa shabatnya itu pasti akan marah-marah nantinya, dia menempelkan speaker ke telinganya sekali lagi.

"Hah…..?"

"Jangan banyak Tanya! Jawab aja!!" seru Mello geram. Matt mengernyitkan alisnya, tapi menjawab juga,

"Kamu mau nantang dia? Mending ngga usah, main sendiri aja, toh pemenangnya udah ketauan."

"….segitu hebatnya?" sahut Mello, lalu berdecak sebal.

"segitu begonya." Timpal Matt enteng, mata Matt kemudian tertuju pada salah satu boneka keramik yang ada di lemari pajangan, boneka pranciss bermata biru, berambut pirang, menggunakan gaun merah, boneka favorite Linda. Seketika itu, juga, teriakan Linda terdengar,

"Matt-niichan jahat!!!!!!"

"……Mel, aku takut…." Bisiknya pelan pada Mello yang diseberang sana, dan ditanggapi hanya dengan kesunyian, "…adikku kayaknya kerasukan……"

Kali ini, giliran Mello untuk mengatakannya, "Haaaaahhhhh………………..?"

A.N: gimana? Gimana? Review? XD