Another Story

Presented by BaeGummy

Disclaimer : Naruto Masashi Kisimoto

Rate : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, Alur berantakan , Dll

If you don't like? So, don't read! Happy Reading all

please RnR.

Catatan Author :

Wahh,, gommen ne utuk keterlambatan up fic ini u.u

Sebelumnya saya juga mau bilang ditulisnya fic ini bukan untuk membenci salah satu chara atau apapun. Jujur saya agak miris membaca review yang mengatakan hal hal buruk tentang naruto… seakan kalian ada dendam pribadi sama naruto :V sekali lagi semua character yang dibuat saya semata hanya untuk memperidah jalan cerita fic ini /plaakk bukan untuk membenci character aslinya

Well,, ada kabar buruk hehehe sepertinya fic ini akan semakin lambat /ditimpuk :V laptop saya kebetulan atau bisa dibilang kesialan rusak. Mati total dan harus diperbaiki :'(

Jadi fic ini akan semakin terlambat /sungkem mungkin setiap 10hari baru bisa saya up. Dan untuk fic lainya pasti akan saya lanjutkan kemungkinan besar setelah fic ini tamat karna anak kuliahan yang mencoba mandiri /ciiee kaya saya mati kutu kalo ga ada laptop dirumah :V

Yahh pokoknya begitu :V sekian dan terima review yang membangun dari pembaca setia Another Story :*

.

.

.

-Hinata-

Aku memasukan beberapa baju yang kupunya kedalam sebuah koper lama. Aku sudah tidak perduli lagi. Ini sudah benar benar keterlaluan. Sekilas ekor mataku melirik sosok tinggi yang masih setia berdiri di ambang pintu. Ya Uzumaki Naruto sampai kapanpun tak akan pernah perduli. Aku menggigit bibir bawahku mencoba meredam tangis yang mengancam akan keluar.

Setelah selesai aku beranjak pergi meninggalkan kamar ini. Rumah ini. Walaupun samar terbesit dalam benakku berharap tangannya akan menahanku. Berharap Naruto akan mencegahku pergi dari sini. Tapi harapan hanya selangkah lebih maju dibanding khayalan kan? Pada kenyataannya jangankan untuk menahanku bahkan mencegahku dengan kata-kata pun tidak dia lakukan.

.

.

Hinata menuruni tangga rumahnya saat ia akan membuka pintu sebuah tangan halus menahan langkahnya. Kaa-sannya. Uzumaki Kushina berdiri dibelakangnya dengan deraian air mata.

"Hinata... kaa-san mohon" uacapnya lirih.

Hati Hinata tercubit pilu. Ia membuat orang yang sangat menyayanginya menangis. Tangannya terulur untuk membawa wanita paruh baya itu kedalam pelukannya. Mereka menangis bersama. Kushina masih dengan segala bujukannya menahan Hinata untuk pergi. Seandainya Hinata tidak menahannya pasti wanita itu sudah bersujud dikakinya.

Satu alasan yang Kushina yakini Hinata adalah yang terbaik untuk putranya. Hinata adalah gadis paling tepat untuk menjadi pendamping Naruto. jika dengan Hinata ia akan dengan sangat tenang meninggalkan dunia ini.

"kaa—san" suaranya parau "kaa-san tau walaupun tidak lagi bersama Naruto-kun aku tetap akan menjadi putri kaa-san" airmata mereka kembali berderai "hubunga kita lebih kuat darid arah sekalipun"

Hinata mencoba sebisa mungkin untuk memberikan pengertian kepada wanita dihadapannya jika semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya kan pindah dari rumah ini. Buka berarti ia tak menagnggap Kushina sebagai ibunya lagi.

"kaa-san harus menjaga kesehatan... jangan tidur terlalu larut karna menunggu Naruto-kun" Hinata mengusap surai merai itu "aku akan sangat merindukan kaa-san" dan mereka berdua kembali berpelukan.

.

.

Perpisahan memang pahit Hinata tau itu. Tapi tinggal dan menyadari kau tidak diinginkan itu jauh lebih pahit lagi. Maka ini adalah keputusan paling tepat. Hinata yakin.

Ia mengecek dompetnya hanya ada 7 lembar uang seribu yen. Ia mengigit bibirnya baiklah setidaknya malam ini iya punya cukup dana untuk menginap dihotel. Ia berjalan menuju halter terdekat menggeret kopernya perlahan. Kepalanya berdebyut nyeri dan udara malam ini memnag tidak bersahabat untuknya.

Setelah menunggu sekitar 15 menit Hinata melihat sebuat taxi mendekat dan memberhentiknanya. Menyebutkan tujuan kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil yang nyaman. Pengharum mobil yang digunakan si supir taxi membuatnya nyaman dan kelelahan membuatnya lebih cepat menjemput mimpinya.

.

.

Pengingat di hanphone menyala ia meliriknya dan menghela nafas. Ia harus melakukan terapi rutinya rasanya Hinata sediit jenuh dengan rangkaian obat yang harus dia minum nantinya.

Ia berajak ke kamar mandi dan membasuh tubuh seadanya. Mengambil sebuah coat tebal dari kopernya dan berjalan turun. Bodoh tapi Hinata tetap berharap Naruto akan mencarinya. Ia tersenyum singkat dan berjalan menuju lift. Bayang bayang pertekarannya kemarin terus saja membayang di benak Hinata. Bagaimanapun juga Hinata mencintai Naruto dan pergi meninggalkan pria yang dicintainya adalah hal yang sangat sulit.

Ting!

Ia telah sampai di lobby.

Hinata berjalan keluar dan mencari taksi amethisnya memandang jalanan kota yang mulai ramai hingga sebuah klaksn mobil mengangetkannya. Matanya memicing sebuah sedan berwarna silver yang berhenti di depannya tidak menunjukan gelagat akan menunjukan siapa si pengemudi. Hinata menolehkan kepalanya kekanan dan kiri mencoba memahami situasi. Mungkin saja bukan dirinya yang mobil ini tunggu.

Nihil. Tidak ada siapapun selain dirinya. Hingga kaca gelap itu diturunkan barulah hintaa menyadari siapa yang berada dibelakang kemudi.

Otsutsuki Toneri menampilkan senyuman andalannya salah satu sikunya di sampirkan pada kaca yang terbuka. Surai pirangnya melambai mengikuti hembusan angin.

"kau sedang apa Hinata?"

"aku … menunggu taxi Toneri-kun"

"maksudku apa yang kau lakukan di hotel ini?"

"….."

"… naiklah, kau akan kerumah sakit kan?"

Hinata hanya mengangguk dan memutari mobil itu lalu membuka pintu penumpang dan masuk.

.

Selama perjalanan sebisa mungkin Toneri menghindari topic tentang 'mengapa Hinata sepagi ini berada dihotel' rasanya ia dapat menebak alasan gadis itu. Mungkin ia hanya dokter pribadi tapi baginya Hinata sangat special. Adik dari Hyuuga neji gadis berambut indigo yang mencuri hatinya dengan sangat telak. Menjerumuskannya untuk hanya melihat gadis itu. Hinata bagaikan penyihir jahat yang telah menahan hatinya untuk dimiliki gadis itu tanpa pernah merasakan pembalasan dari rasa yang Toneri miliki.

"kau sudah sarapan?" Toneri melirik Hinata sekilas

"aku sudah minum teh hangat" Hinata tersenyum

"kau tau kan sarapan pagi sangat peting"

"kau juga tau aku tidak bisa melakukannya"

"kau harus memaksakan diri" tangannya terulur menyetuh surai lembut si gadis. Membelainya.

Satu hal kecil yang tak pernah Hinata dapatkan dari Naruto. Hanya perlakukan kecil ini. Dan Naruto yang hidup bersamanya selama 8 bulan tidak pernah melakukannya. Ah, Naruto pernah melakukan itu saat Hinata pertama kali menyatakan cintanya. Ia menggeleng mengingat kenangan kecil itu.

"ada apa? Kau memikirkan sesuatu?"

"iia" Hinata kembali menggeleng dan tersenyum.

.

.

Kali ini Dr. Tsunade yang memeriksanya. Wanita yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang menginjak setengah abad. Tsunade meletakan kacamatanya dan menatap Hinata serius.

"ini benar-benar serius Hinata" mata madunya menatap hinta tajam "aku rasa operasi pun …." Tsunade menghentikan ucapanya ia mengenggam tangan Hinata.

"aku mengerti" Hinata berkata perlahan bibirnya menyungingkan senyuman "Tsunade-san ano …"

"ada apa?"

"bisakah kau rahasiakan ini dari Toneri-kun?"

Permintaan itu rasanya mustahil mengingat Toneri saat ini tengah berdiri di sisi pintu dengan kedua tanganya yang bersarang indah di saku jas dokternya dan tentu saja mendengarkan pembicaraan mereka sejak awal.

"rasanya itu agak mustahil nona Hyuuga" Toneri buka suara. Ia berjalan mendekati kedua wanita itu dan menarik kursi di samping Hinata.

"k-kau medengarka pembicaraan kami" Hinata menekuk wajahnya merasa jika privasinya dimasuki orang lain

"aku berhak tau kabar pasienku"

"aku pasien Tsunade-san"

"ya ya … lalu Tsunade-san" Toneri mengalihkan pandnagannya pada dokter waita dihadapannya "saranmu?"

"Hinata harus dirawat tentu saja"

Toneri menyeringai "perawatan intensif" Tsunade manambahkan

.

.

Hari-hari yang Hinata lalui terbilang cukup menyenangkan teryata berada di rumah sakit tidak terlalu buruk pikirnya. Dan tentu saja ia tidak sedirian. Sudah hampir 2 minggu Hinata berada disini. Awalnya ia kerap kali memainkan ponselnya jika sedanng bosan. Namun beberapa hari terakhir ini Toneri denngan keras melaragnya untuk meggunaka benda teknologi itu. Radiasi katanya. Hinata tidak mengerti hanya menurutinya.

Ia bukan orang bodoh ia sadar kondisinya semakin memburuk dna apa kata Tsunade-san saat itu bahkan operasipun tidak akan menjadi solusi untukya semuanya sudah terlambat. Sudah tak ada harapan. Ia memegang dadanya yang kembali berulah rasanya sesak dan sangat sakit.

.

Tulang rusknya patah… sekilas walau hanya sekilas rasanya Hinata inngat perkataan itu. Saat seorang dokter memeriksanya.

Buka itu yang menjadi masalah melainkan patahannya yang merobek paru-parunya…. Ah, apa aku akan mati batin Hinata

Juga beberapa luka dikepalanya… kita tidak bisa melakukan operasi saat ini dokter… sekilas Hinata dapat melihat mata berwarna perak yang sedikit basah saat menatap tubuh tidak berdayanya.

Yag bisa kita lakukan saat ini hanya …. Hinata tidak dapat mendengar lagi bahkan tidak dapat melihat lagi. Ia tertidur. Pingsan mungkin entah yang mana.

Yang ia sadari saat terbangun adalah kamar rawat dirumah sakit yang didominasi warna putih dan juga seorang suster yang sedang memeriksa selang infusnya.

.

Hinata ingat kenangan itu kenangan dimana ia terbangun sendiria dirumah sakit. Tanpa ada Naruto yang menjenguknya. Oh kabar itu tidak sebegitu buruknya. Karna setelahnya yang ia dapati adalah tuduhan Naruto tentangnya yang menjadi dalang dari kecelakaan yang dialaminya bersama Sakura.

.

.

.

.

TBC