CHAPTER 3
Tubuh-penuh-luka-fisik-nan-batin-Luhan direbahkan kasar begitu saja oleh Luhan di kasur empuknya. Perasaan sakit dan lelah di hatinya mengalahkan rasa sakit pada punggung, lengan, perut, dan ya, semua bagian tubuhnya yang dilempari brutal oleh berandalan-berandalan busuk tadi.
Luhan berhasil pulang dengan setengah berakting. Sebenarnya Luhan tak merasa terlalu sakit setelah berbaring di ruang kesehatan. Tapi menngingat Ia harus bertemu dengan Sehun untuk menghabiskan jam belajarnya di sekolah membuat Ia berpikir dua kali atas tawaran Kyungsoo yang mengatakan bahwa Seonsangnim mengijinkan dirinya pulang.
Minseok khawatir betul saat mengantar Luhan ke gerbang sekolah. Wajah lucunya berubah menjadi sangat murung. Beberapa kali Luhan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi Minseok tahu apa yang baik-baik saja dari Luhan dan tidak baik-baik saja dari Luhan. Jadi Luhan hanya bisa menghela nafas kala menerima kekhawatiran sahabatnya itu.
Sebetulnya baru dua hari yang lalu Luhan membeli sebotol sabun mandi. Tapi isi botol sabun itu sudah tinggal setengah. Luhan memakai setengah dari isi sabun itu untuk menutupi bau badannya yang kelewat bau, melebihi tong sampah di dekat flatnya.
Entah mengapa sekarang dipikiran Luhan muncul banyak pertanyaan. Terutama, bagaimana Sehun tahu hari ulang tahunnya? Apa mungkin Sehun bertanya pada petugas tata usaha untuk bertanya ulang tahunnya?
Apa mungkin Sehun begitu bersungguh-sungguh untuk mem-bully Luhan hingga membuat lubang jebakan dan menyuruh seluruh berandalan untuk melemparinya?
Luhan pikir, Sehun sangatlah rumit.
Persetan dan masa bodoh dengan berandalan busuk itu! Luhan pikir, lebih baik Ia memikirkan apa yang harus Ia lakukan setelah ini.
Tidur, belajar, bermain game, bahkan untuk sekedar online di situsnya Luhan merasa tidak mood.
Tapi memikirkan situsnya membuat Ia mengingat sebuah nama. Luhan pun mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
Jemarinya sibuk menyentuh-nyentuh layar ponselnya untuk mengirim pesan ke seseorang.
To : KJDChenChen
Hei, aku bosan. Kau ada saran?
Luhan menaruh ponselnya di atas perutnya. Ia pun menunggu balasan dari seseorang di sebrang sana. Setelah dua menit, ponselnya berbunyi—menandakan sebuah pesan masuk.
From : KJDChenChen
Pergi saja ke clubku. Aku menunggumu disini.
Mata Luhan membesar membaca isi pesan dari temannya. Ia mengabaikan rasa remuk pada punggungnya dengan berdiri cepat sehingga posisinya sedang duduk di atas kasurnya.
To : KJDChenChen
Baiklah! Tunggu aku~
Setelah mengirim pesan pada temannya, mata Luhan nampak berkilat-kilat. Ia segera melepaskan kacamata tebalnya dan menaruhnya di sebuah meja di dekat kasurnya.
Kini tubuhnya beranjak pada lemari pakaiannya. Ia membuka lemari besar itu dan nampak memilih satu per satu pakaian yang pas untuk datang ke club temannya.
Setelah dirasa menemukan baju yang pas, Luhan segera mengganti bajunya dengan baju keren pilihannya. Tak lupa juga Ia segera memasang contact lense bewarna coklat pekat pada matanya untuk mengganti alat bantu penglihatannya.
Penampilan Luhan belum sepenuhnya keren nan trendi. Jadi, Ia mengoleskan gel rambut untuk menaikkan poni-poni rambutnya ke atas.
Ta-da, inilah Luhan yang sangat keren. Luhan berdecak kagum melihat penampilannya dari pantulan cermin.
Yeah.
.
.
Hiruk pikuk khas club menyambut kedatangan Luhan di club ternama di Seoul bernama Redpoint. Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Kaki Luhan segera membawa tubuh Luhan pada bar club itu untuk menghampiri seseorang yang sudah menunggunya.
"Hei,"
Luhan menepuk pundak seorang namja. Namja itu segera memutar arah kursinya untuk menghadap Luhan.
"Heei! Kau sudah datang! Oke, duduklah dulu!"
Luhan segera mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping laki-laki ini. Keduanya tersenyum sumringah.
"Hyung, cocktail untuk Luhan, okay?"
Namja itu berteriak pada bartender yang berada cukup jauh dari tempat duduknya. Luhan mengalihkan pandangan ke arah bartender itu. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Memang Luhan mengenal bartender itu.
"Jadi, apa yang membuatmu bosan? Jawab saja pertanyaan di situsmu dan kau tidak merasa bosan, benar bukan?"
"Oh Jongdae! Kau tahu aku benar-benar tidak mood untuk itu!"
Plak
Kim Jong Dae—teman Luhan itu memukul lengan Luhan keras sambil memelototi Luhan. "Jangan panggil nama tidak keren itu disini!"
Luhan terkekeh. Temannya yang satu ini memang aneh. Jongdae menolak untuk dipanggil Jongdae saat berada di club. Nama itu baginya tidak keren. Jadi Jongdae selalu memperkenalkan diri, atau menyuruh orang lain memanggilnya Chen saat berada di club.
Memang sinting.
Terlebih lagi Hyung Jongdae tidak jauh berbeda. Hyung Jongdae juga menolak dipanggil nama aslinya dan memilih dipanggil Suho karena nama itu keren dan nama aslinya, Joonmyeon sangat tidak keren—baginya.
"Baiklah, Chen." Luhan menekankan pada kata Chen.
"Bagus. Jadi apa yang membawamu kemari?"
"Aku hanya sedang stres dengan bullying di sekolahku. Anggaplah aku korban dari perilaku brengsek itu."
Jongdae membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak mungkin Luhan dengan penampilan keren macam ini di-bully bukan?—pikir Jongdae.
"Kau dengan penampilan seperti ini di-bully?"
"Tidak. Aku tidak berpenampilan seperti ini saat di sekolah. Jujur saja Chen, aku hanya memakai sebuah kacamata tebal. Gayaku dan perilakuku semuanya normal. Tapi entahlah mereka tetap mem-bullyku."
Jujur saja Jongdae cukup tercengang mendengar pernyataan Luhan. Rupanya ada rahasia di balik penampilan keren Luhan.
"Kurasa kau harus merubah penampilanmu menjadi seperti ini agar mereka berhenti mem-bullymu, Lu."
Luhan terlonjak kaget saat menyadari Joondyeon secara tiba-tiba datang dan ikut berbicara dengannya dan Jongdae. Jongdae dan Luhan memandang Joonmyeon keheranan. Sedangkan Joonmyeon hanya menyodorkan cocktail Luhan dan Jongdae sambil menggidikkan bahu.
"Err... kurasa hyung benar, Lu. Kau harus merubah penampilan... atau sikap."
"Dengan melepas kacamataku?"
Dua saudara itu berpandangan lalu mengangguk secara serempak. Melihat keduanya mengangguk, Luhan langsung menghela nafas panjang.
"Aku tidak bisa melepas kacamatku. Memakai contact lense lebih dari empat jam akan membuat mataku memerah,"
Joonmyeon tertawa—Jongdae dan Luhan berpandangan lagi melihat tingkah Hyung itu. "Hei, ini sudah jaman modern, Lu! Kau bisa operasi matamu jika perlu."
"Ah, Suho-hyung benar!"
"Hmmh, aku akan memikirkannya lain kali."
Joonmyeon mengacungkan dua ibu jarinya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, aku harus tinggal dulu. Oh ya, Luhan aku perlu bicara denganmu kalau pegawaiku sudah datang, okay?"
Luhan mengangguk mendengar penjelasan Joonmyeon. Detik berikutnya, Luhan mendapati Joonmyeon sedang berkutat dengan minuman-minuman di barnya.
"Situsmu berhasil aku kembangkan. Dengan bantuan Suho hyung tentunya,"
"Ouh ya? Well, kerja bagus."
Luhan tersenyum melihat kinerja admin situsnya, dua saudara Kim. Luhan mengenal Jongdae dari situsnya karena Jongdae adalah admin di situsnya. Luhan juga sering berkunjung ke club milik keluarga Kim ini karena pengaruh Jongdae.
"Hei, aku masih penasaran dengan admin ketiga."
Luhan mengernyit. "Maksudmu Jae Woon?"
Jongdae mengangguk. "Apa kau dekat dengannya?"
Luhan cukup malu untuk mengakui pada Jongdae bahwa admin ketiga di situsnya itu adalah partner phone sexnya. Dan kalau Luhan boleh jujur, Luhan sangat menyayangi Jae Woon lebih dari sekedar partner phone sex!
"A-a-aku dekat dengannya. Kami sering mengobrol." Dan Luhan memilih menyembunyikan hubungannya dengan Jae Woon dari Jongdae.
"Benarkah? Kalau begitu bisa kau ajak dia kemari?"
Ekspresi wajah Luhan berubah. Bertemu dengan Jae Woon? Pastilah sangat menyenangkan! Luhan mengangguk-ngangguk setuju. Ia segera menyambar ponselnya yang berada di saku celananya.
To : Oh Jae Woon
Sayaang, apa kau sedang sibuk?
Luhan segera mengirim pesan tersebut pada JaeWoon. JongDae cukup heran dengan perubahan perilaku Luhan saat dirinya menyinggung soal JaeWoon.
"Kau bersemangat sekali," Luhan pun hanya menyengir. Beberapa detik kemudian, ponsel Luhan berbunyi.
From : Oh Jae Woon
Tidak. Aku sedang kosong. Ada apa, Baby?
To : Oh Jae Woon
Bisakah kita bertemu? Aku ingiiin bertemu denganmu!
Luhan mengirim pesan pada Jae Woon dengan gugup. Ia pun mencoba menghilangkan kegugupannya dengan meminum cocktailnya.
From : Oh Jae Woon
Ommo, kau mau bertemu denganku? Ide bagus! Kita bertemu dimana, sayang?
Dan hati Luhan terasa begitu gembira dan senang. Ingin rasanya Ia berteriak dengan sangat kencang untuk mengungkapkan rasa senangnya. Walaupun di dalam club yang ramai seperti ini memungkinkan dirinya untuk berteriak, Luhan harus ingat masih ada JongDae di sampingnya yang belum mabuk atau masih bisa mendengar apapun perkataan Luhan.
To : Oh Jae Woon
Club Redpoint. Apa kau tahu?
Tanpa menunggu banyak waktu JaeWoon segera membalas pesan Luhan.
From : Oh Jae Woon
Yeah, aku tahu. Baiklah kita bertemu disana, sayang. Tunggu aku :*
Inilah yang Luhan suka dari JaeWoon. Fakta bahwa Jae Woon selalu manis terhadapnya membuat Luhan makin menyayangi Jae Woon. Ia pun tersenyum sendiri bak orang sinting dan mengabaikan Jongdae di sampingnya.
"Cih, apa kau berpacaran dengannya?"
"Bukan urusanmu, Kim Jong Dae."
Jongdae langsung memukul lengan Luhan dengan keras. Tapi Luhan tidak peduli. Sebentar lagi, dirinya akan bertemu dengan Jae Woon! Ini membuat dirinya merasa masa bodoh dengan hal lain di sekitarnya.
.
.
"Lu, sudah satu jam. Dimana admin itu?" Jongdae bertanya sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Luhan mendecak kesal untuk kesekian kalinya. Bagaimana tidak, ponselnya secara tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Terlebih lagi Ia belum bertemu dengan Jae Woon. Bagaimana Ia bisa tahu Jae Woon berada dimana?
"Entahlah ponselku mati,"
Ia memutar kursinya. Awalnya Ia merasa tertarik untuk melihat banyak orang meliuk-liukkan badannya di lantai dansa. Tapi sekarang Ia merasa tidak tertarik. Luhan lebih memilih meletakkan kepalanya di meja bar dan menghela nafas berkali-kali.
Meskipun kepalanya berada di atas meja bar, Luhan masih dapat melihat ke arah pintu masuk club. Dan akhirnya, Ia memutuskan untuk melihat orang yang berlalu-lalang keluar masuk club. Mungkin saja Luhan dapat menemukan Jae Woon.
Tapi, apa dirinya tahu wajah Jae Woon?
Kembali Ia merutuki dirinya. Sudah lupa mengisi penuh baterai ponselnya, sekarang Ia kebingungan bagaimana cara mengetahui dimana Jae Woon.
"Aku kesana dulu. Ada bitchy yang menggodaku,"
Luhan memandang lurus ke arah Jongdae. Temannya yang satu ini sangat cabul. Beberapa kali Luhan kemari, Jongdae selalu meninggalkannya untuk bersenang-senang dengan wanita-wanita di clubnya. Kemudian berakhir dengan Luhan yang ditinggal sendirian.
Jongdae sudah cukup jauh menghilang diantara kerumunan orang. Luhan pikir club Jongdae adalah club top dan keren sehingga banyak orang datang kemari. Terdapat banyak wanita-wanita cantik dan tentu sajasexy yang siap memuaskan siapa saja.
Luhan pernah mendengar dari Jongdae kalau Joonmyeon sudah mencoba setiap wanita yang bekerja di clubnya.
Itu luar biasa bagi Luhan. Sedangkan dirinya masih ragu untuk mencoba satu wanita. Entahlah, ada sedikit rasa bersalah jika harus bercinta dengan wanita. Mungkin Luhan sudah seutuhnya tidak straight.
Kemudian Ia teringat pada Jae Woon. Dimana pria yang berhasil membuatnya mendesah liar hanya dengan suaranya itu?
Luhan menegakkan posisi duduknya. Matanya bergerak kesana-kemari mencari seseorang yang Ia rasa bernama Jae Woon. Konyol memang, mencari seseorang berdasarkan kekuatan perasaan.
Lama berkutat dengan pemandangan di club, mata Luhan kemudian menangkap suatu objek. Dan objek itu sukses membuat matanya membesar sempurna.
Oh Se Hun berada di Redpoint!
Luhan yakin tak salah melihat. Contact lensenya bekerja sama baiknya dengan kacamata tebalnya. Dan sangat jelas sekali bahwa namja kulit putih berambut kecokelatan yang berdiri di sekitar tiang dekat pintu masuk club itu adalah Sehun!
Ini gawat. Ya, sangat gawat! Luhan harus cepat-cepat pergi. Urusan Jae Woon, dapat Ia pikirkan di rumah—yang terpenting sekarang, dirinya harus menghindari bertemu dengan Sehun!
"Luhan, aku perlu mengobrol denganm—hmmp!"
Luhan spontan membungkam mulut Joonmyeon dengan tangannya. Gawat sekali jika Sehun yang sebenarnya tidak jauh dari Luhan mendengar namanya ( walau mustahil dengan suara musik di dalam club ).
"Sssh! Hyung, panggil aku Deer untuk saat ini! Ini darurat!"
Masih dengan mulut yang terbungkam dengan tangan Luhan, Joonmyeon mengerutkan dahinya. Luhan berdecak sebelum berdiri dan mendekatkan mulutnya ke telinga Joonmyeon untuk membisikkan sesuatu.
"Hyung, ada teman sekolahku disini. Kau harus membawaku keluar!"
Luhan menjauhkan dirinya dari Joonmyeon sambil melepas tangannya yang tadi membungkam mulut JoonMyeon.
"Lalu bagaimana dengan hal penting yang ingin kubicarakan padamu?"
Luhan menggaruk rambutnya frustasi. "Lain kali saja, hyung! Sekarang cepat tolong aku!"
Sebelum Joonmyeon mengangguk, Joonmyeon memutar bola matanya. Terkadang Luhan sangatlah menjengkelkan terutama dalam hal memaksa.
Joonmyeon memberikan Luhan sebuah kacamata hitam legam. Luhan memandang bingung pada kacamata yang kini berada di tangannya. Ia pun memandangi JoonMyeon dengan tatapan penuh tanya.
"Pakai itu untuk keluar dari sini. Tidak mungkin ada yang mengenalmu. Percayalah."
Tentu saja Luhan ragu. Bagaimana kalau Sehun sadar akan kehadirannya? Kacamata ini nampak tak meyakinkan bagi Luhan.
"Hei, cepat pakai. Hyung jamin tidak akan ketahuan."
Tapi tidak ada pilihan lain. Luhan segera memakai kacamata hitam pemberian Joonmyeon itu. Joonmyeon mengibas-ngibaskan tangannya seperti menyuruh Luhan untuk cepat pergi—atau mengusir?
Luhan mengucapkan terima kasih pada Joonmyeon. Segera setelah itu, Luhan meninggalkan bar.
Tapi sebelum meninggalkan club, Ia harus berdesakan dengan kerumunan orang-orang mabuk ini. Sebenarnya tidak perlu berdesakkan pun bisa. Namun dengan begitu, Luhan bisa bertemu dengan Sehun.
Setelah berhasil melewati kerumunan orang yang tengah menari bak orang gila itu, Luhan berhasil keluar dari club Redpoint. Walaupun Ia juga nyaris terjatuh beberapa kali, akhirnya Luhan dapat keluar juga.
Sekarang Luhan harus cepat-cepat sampai ke flatnya dan mengabari JaemWoon. Luhan pun pulang dengan perasaan kecewa karena gagal bertemu JaeWoon. Tapi Ia berpikir, hal itu bisa Ia lakukan lain kali.
.
.
"Hyung, dimana dia?" Jongdae menanyakan soal Luhan pada Joonmyeon yang sedang berkutat asik dengan laptopnya.
Jongdae menghampiri bar setelah bersenang-senang dengan wanita penggoda. Jongdae berhasil meninggalkan kissmark baru pada seorang wanita.
"Pulang. Katanya ada teman sekolahnya."
Jongdae mengangguk paham. Ia pikir akan sangat gawat jika ada teman sekolah Luhan yang memergoki Luhan sedang berada di club. Jongdae pun duduk di sebelah Joonmyeon. Ia pun dengan iseng meminum minuman Joonmyeon.
Jongdae memandang ke sekitar club. Kemudian Ia menemukan seorang pria dengan rambut kecokelatan sedang duduk di samping kirinya sambil membawa satu botol bir.
"Kau bisa mencoba minuman lain. Bir kurang cocok di tempat seperti ini," Sebuah senyuman mengawali sapaan Jongdae pada pria di sampingnya. Pria di samping Jongdae itu tertawa.
"Dan juga, meminum bir lebih cocok jika bersama. Kau kan sendirian,"
"Sebenarnya aku sedang menunggu seseorang." Tukas pria itu.
Kursi Jongdae berputar sehingga sekarang Ia menghadap pria ini.
"Siapa? Teman? Atau teman kencanmu?" tanya Jongdae tidak sopan.
"Teman kencan."
Mulut Jongdae membulat. Jongdae mengangguk-nganggukan kepalanya paham.
"Baiklah, selagi menunggu temanmu, aku akan menemanimu minum bir. Bagaimana?"
Pria itu berpikir sejenak. "Tidak buruk."
Jongdae tersenyum. Ia memanggil seorang bartender untuk memberinya sebotol bir.
"Oh, aku lupa menanyakan namamu. Aku Chen, dan kau...?"
Pria itu nampak berpikir lagi. Saat sudah selesai berpikir, Ia tersenyum sambil mengulurkan tangan pada Jongdae.
"Aku Oh Jae Woon. Kau bisa memanggilku, Jae Woon."
Te
Be
Ce
Haai~
Cukup lamakah menunggu? Oke maafkan lagi sibuk sih ;_; Kalau pada lumutan okelah maafkan author ini :3
Gimana ceritanya? Wohoho. Jujur aja cukup kaget liat review kalian pada kepo siapa Oh Jae Woon. Well, disini ada sedikit kode *bagi yang peka* dan... memang nama Oh Jae Woon itu susah diinget ya? -_- kenapa ada beberapa readers yang mengganti2 nama Jae Woon =_=
By the way, sedikit mau ngomong penting soal Luhan. Banyak yang bilang dia mau keluar dari exo gara-gara sering gak ikut kegiatan sama exo? Hey, sudah dibilang bukan kalo Luhan lagi sakit? Sebagai fans yang baik jangan beranggapan buruk deh sama idolnya. Luhan lagi sakit. Bukan berarti dia mau keluar dari exo. Belum ada bukti otentik atau konfirmasi resmi. Please guys, exo udah bersebelas masa mau bersepuluh? BIG NO! Be positive thinking aja lah.
Author juga meminta maaf jika ff ini gak sebagus yang kalian pikirkan dan gak sesuai dengan keinginan kalian ^^ *deep bows*
Merasa silent reader? Okelah aku harap kalian tobat! Lekaslah review~~ gak rugi juga kan review sedikit? Hahah!
Okelah sekian dari author dengan nama gila ini (?) sampai ketemu di next chapter~!
Salam,
Michyeosseo!
