Chapter 4 update !

Hari ini Author sengaja update 2 chapter. Mungkin minggu depan sudah sampai chapter 8. Tapi untuk chapter 9 akan makan waktu yang lama.

Balasan review :

Stida Otoejinsei : (^o^) Terima kasih. Iya, Len memang di benci sama Lenka. Dari dulu Lenka sayang sama Rinto. Sudah bisa ditebak ? well, ini baru permulaan. Nanti ketika chapter 8, ceritanya mulai kelihatan.

Minna, happy reading~

Fandom :

Vocaloid

Author :

MC Shirayuki

Genre :

Romance / Hurt / Comfort

Rating :

T

Pairing :

Kagamine Len and Hatsune Miku

Warning :

AU, Typo, OOC, Gaje

DON'T LIKE ? DON'T READ !

Kagamine Len : 15 tahun

Haine Rin : 15 tahun

Kagamine Lenka : 37 tahun

Hiyama Kiyoteru : 26 tahun

SeeU : 25 tahun

Chapter 4 : The Light

Hari-hari berlalu begitu cepat, sekarang sudah masuk semester 2 di Vocaloid International High School. Saat Len masuk kelas, Rin menyapanya.

"Pagi, Len." Rin menyapa dengan senyuman.

"Ehm… Pagi."

Lalu pelajaran hari itu pun dimulai, guru yang mengajar pun telah masuk kelas.

"Selamat pagi murid–murid."

"Pagi, Bu." Jawab para murid serempak.

"Hari ini kita akan berlatih diruang musik, untuk pengambilan nilai 2 bulan lagi yaitu bermain alat musik. Pengambilan nilai dilakukan perindividu. Mari sekarang kita keruang musik untuk menguji kemampuan kalian terlebih dahulu sebelum pengambilan nilai."

Guru yang bernama SeeU bergegas menuju ruang musik terlebih dahulu, dan diikuti oleh para murid.

"Rin…" Len memanggil dengan berbisik.

"Ya, Len."

"Kamu bisa bermain alat musik ?"

"Bisa dong" Rin berbangga diri dengan mengangkat tinggi kerah seragamnya.

"Hm… alat musik apa saja ?" Len sedikit jengkel melihat sikap Rin.

"Hanya gitar."

"Ha ?! Hanya gitar ?! HAHAHAHAHAHA. Aku pikir kamu bisa beberapa alat musik, sampai bangga begitu."

"Hump, Apa kau bilang ?!" Rin menjadi jengkel dan menunjuk Len dengan jari telunjuknya.

"Bercanda, bercanda. Aku hanya bercanda. Kamu mau kan mengajariku ? karena aku dulu cuma belajar biola sebulan, sebelum…" ekspresi Len perlahan berubah.

"Ta-tapi aku tak bisa bermain biola."

"Dasar bodoh ! yang kamu ajarkan kepadaku bukan biola, tapi gitar."

"Ih… udah minta bantuan, eh malah menghina. Ya sudah, karena aku adalah cewek yang baik hati, tidak sombong dan sangat imut, aku akan membantu kamu belajar gitar."

"Bodoh…" Len bergumam.

"Hehehehe…. Oh iya… tadi kamu bilang sebelum ? sebelum apa ?"

"Kejadian… yang telah mengubah hidupku. Tapi… maaf, aku tidak bisa memberitahumu."

"Oh, tidak apa-apa. Mari, kita mulai latihannya." Rin mengulurkan tangannya kearah Len.

"Iya… terima kasih ya Rin…" Len tersenyum dan meraih tangan Rin.

"Ya, sama-sama" wajah Rin merona.

Akhirnya Rin pun mengajari Len sampai jam istirahat berbunyi. Saat pulang sekolah, Len berbicara dengan Rin.

"Rin, kamu bisa mengajari aku gitar lagi tidak ?"

"Boleh, tapi Cuma 2 jam ya. Karena aku sedang terburu-buru."

"Ya, tidak masalah. Terima kasih ya Rin."

"Ya."

Jam menunjukkan pukul 15.00. Vocaloid International High School terlihat sepi dari luar karena hampir semua murid sudah pulang. Yang masih ada disekolah hanya murid-murid yang sedang melaksanakan ekskul, beberapa guru dan penjaga sekolah. Di sebuah lorong yang sedang sepi, dapat terdengar dengan jelas alunan melodi gitar yang indah dari ruang musik.

"Bagus, kamu sudah cukup mahir memainkannya." kata Rin sambil menepuk bahu Len.

"Iya, aku senang bisa belajar main gitar. Ternyata bermain gitar tidak sesulit yang aku bayangkan." Len tersenyum sambil melihat gitar di pegangan tangannya.

"Pasti, siapa dulu donk yang mengajarkan." sahut Rin dengan nada bangga dan sombong sambil menepuk dadanya.

"Ya, aku juga senang berada di dekatmu." Len berkata tanpa berpikir apa akibat dari perkataannya tersebut.

Rin yang mendengar perkataan Len, wajahnya tiba-tiba menjadi merah padam serta jantung berdegup kencang. Len yang menyadari perkataannya pun menutup mulutnya dengan wajah yang merona.

"Aku tadi ngomong apa ?! kenapa aku bisa bicara begitu ?!" Len meruntuki dirinya sendiri.

"Len senang berada di dekatku ? apa tadi aku tidak salah dengar ? tidak, pasti aku salah dengar."

Suasana hening selama 15 menit, tidak ada yang memulai pembicaraan. Akhirnya Len dengan menguatkan tekad sepenuh hati memulai pembicaraan.

"Rin, sudah jam 4. Kita pulang yuk…" kata Len sambil mengulurkan tangannya.

"Ya." Rin menjawab dan menerima tangan Len.

Lalu mereka keluar dan pulang kerumah masing – masing.

~Two month later

Saat pengambilan nilai seni musik berlangsung. Len memainkan gitar dengan sangat baik, dan mendapat nilai bagus. Saat pulang sekolah Len menemui Rin.

"Rin, mau gak kamu nyanyi dan aku yang bermain gitar ? Aku ingin mendengar kamu bernyanyi."

"Hm…. Tapi suaraku tidak bagus" Rin berkata ragu.

"Pasti bagus ! Ayolah…" Len berkata dengan mata berbinar.

"Yah, boleh dicoba."

"Asyik… ayo…" Tangan kanan Len menarik tangan kiri Rin.

"Tu-tunggu… pelan-pelan jalannya" Rin agak sulit untuk menyamakan langkahnya dengan Len.

Setelah sampai di ruang musik Len dan Rin duduk berhadapan dengan Len yang sudah memegang sebuah gitar.

"Kamu bisa lagu 'Till The End' ?"

"Hm… itukan lagu lama."

"Iya, tapi lagunya bagus. Jadi gimana ?"

"Yah, boleh kucoba. Lagipula aku tahu lagunya."

"Oke, siap ya… 3, 2, 1…"

Where are you now?. I Want to see you, see your light. No matter how many letters I send to all people. If you are only one who responded, that's enough. You have given me this light. A small light but warm.

Reff : Wind storm came and took it away. The dimming light rain. I kept running till the end. I hope to again embrace the warm light. I fell into a deep dark abyss. Now I'm blind and numb. I can't see and feel your light again. I kept walking, even if it is difficult or I'm going to get hurt. Still hoping. no matter how much I would fall again. I'll always be up and running again. Till the end… Till the end…

Dan suasana hati mereka kini perlahan menghangat.

Thanks for read.

Mind to review ?