Langkahnya terarah perlahan satu demi satu. Sudah tak terhitung berapa kali sejak tatapannya teralih bergantian, antara menatapi jalan atau memperhatikan nyeri yang tak kunjung hilang di area lengan kirinya. Dia berdecak lagi. Kesal dengan keadaannya sendiri, sementara rasa was-was karena diawasi memperburuk suasana hati.
"Brengsek." Umpatannya terdengar saat satu dari sekian manusia yang berjalan menjaga jarak untuk mengikuti kini makin dekat. Mau tak mau kecepatannya bertambah, membuat suara tapak sepatu makin jelas terdengar bukan hanya sepasang.
Chuuya yakin jika luka gores ini harusnya bukan apa-apa. Tidak dalam, mungkin hanya masuk sekitar beberapa milimeter menembus permukaan kulit. Tapi darah tak kunjung berhenti mengalir dari sana. Rasa sakitnya juga sedikit aneh. Seperti menjalar ke bagian tubuh lain dan jujur saja, kini kepalanya diserang pening hebat. Chuuya beruntung masih bisa bertahan dalam situasi ini.
Tapi tentu semua punya batasannya masing-masing. Tubuh kecilnya tersungkur, jatuh dengan suara memilukan. Terguling menuruni tangga dan berakhir dengan wajah dipenuhi pasir putih. Ah, kenapa juga dia kesini. Kenapa dia menuruti si bodoh Dazai dan malah pergi ke area pelabuhan?
"-ugh." Sebelah tangannya berusaha mengangkat tubuh untuk bangkit. Saat memandangi sekitar, orang-orang dengan setelan jas hitam sudah berhasil mengepungnya. Sebagian membawa senjata, sebagian seperti sudah memasang kuda-kuda untuk menangkapnya. Dia bahkan masih belum mencerna sepenuhnya kejadian yang dialaminya saat ini. Giginya lalu berkerit kesal dan suara yang nyaris hilang berhasil keluar penuh kemarahan.
"APA-APAAN INI?!" Itu mungkin teriakan terakhirnya sebelum sebuah tendangan bersarang tepat di perutnya. Tidak sekeras tendangan yang biasa dia dapatkan dari Kouyou saat latih tanding, tapi cukup untuk membuatnya jatuh lagi. Jelas mereka bukan orang-orang Port Mafia. Maksudnya, mereka tak akan segan-segan sekalipun itu adalah petinggi sekelas Chuuya. Perintah Boss adalah mutlak bahkan jika itu adalah perintah pembunuhan padanya.
"Perintahnya bawa dia hidup-hidup kan? Berarti tidak masalah jika tergores sedikit." Seseorang mengarahkan ujung pisau pada lehernya yang terbuka. Chuuya mulai muak. Lalu dengan satu gerakan paksa, dia bangkit. Mencoba memberi serangan sekeras mungkin berupa pukulan dan tendangan tapi berakhir buruk untuk dirinya sendiri. Dia tersungkur lagi karena pukulan balasan, disusul tendangan-tendangan lain yang membuat banyak bagian tubuhnya membiru dan darah dimuntahkan berkali-kali.
"Dia sudah pada batasnya. Ayo bawa dia." Irisnya mulai berbayang, tatapannya meremang tapi pendengarannya masih amat baik.
"Nona mungkin akan memberi bayaran tambahan jika kita menyelesaikannya dengan cepat."
"Ya, cepat bawa ke kapal."
"Kira-kira berapa harganya?"
"Berapa?"
"-berapa?"
"Jadi berapa?"
"Tujuh juta."
"Sepuluh!"
Dia tidak tahu kenapa ingatannya malam itu terputar kembali.
"Ibumu menjualmu."
"-dijual?!"
'Tidak ada yang menginginkanku ya?'
'Apa aku tidak pantas hidup?'
"Biarkan dia hidup."
'Kenapa? Semua orang akan membencinya, sama sepertiku.'
"Aku akan mencintainya. Seperti aku mencintaimu."
"Dazai-" Chuuya bergumam diambang kesadarannya. Merasa jika dia tak boleh berakhir disini.
Dia juga merasakan hal yang sama.
Dia juga ingin melindungi hal yang sama.
Dia ingin bersama orang itu.
Dia ingin bersama Dazai.
"Ah, raja kegelapan yang murka tentu tak bisa membangunkanku. Dan memang tak ada seorangpun yang bisa." Chuuya masih berusaha bangkit. Tertatih, ia mulai melepas sarung tangannya bergantian. Diikuti pola berwarna merah pekat dan hitam yang menghiasi kulitnya perlahan.
"Kuharap kau datang dan membangunkanku nanti, Dazai."
====AO SINS====
Cast : Dazai Osamu, Nakahara Chuuya.
Genre : Romance, Slice of Life, Hurt Comfort.
Rated : M for explicit content (Tapi tidak ada apapun di dalam chapter ini, bhaks)
Disclaimer : Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka-Sensei and Harukawa Sango-sensei. This FF belongs to me, Nyandyanyan desu~~~
Summary : CHAP 4 UPDATE. Deathflag~ /SOUKOKU Omegaverse Fiction./DazaixChuuya./Soukoku./Warning didalam.
Warning : Mengandung typo dan ketidakjelasan serta ke absurd an sang author yang teramat dalam /keplakkeplak/ Judul gak nyambung. Alur kecepetan. MPREG (tolong segera hentikan membaca jika kau muak dengan yang satu ini) OOC. Adanya OC yang mayoritas pembaca tak menyukainya. Sedikit crossover. Banyak umpatan, caci maki dan kata-kata kasar lainnya jadi tolong persiapkan dirimu. Terwujud dari obsesi author pada dunia omegaverse akhir-akhir ini (terbukti dari koleksi doujinshi berbagai fandom juga manga yaoi yang menggunung di history dan kini bisa dibuka lagi karena g**gleweblight. Terima kasih gugel-san LOL). Maaf atas ketidaksesuaian yang terjadi dalam fiksi ini. Ini cuma fiksi gaes, kay? Jangan bawa sampai hati /chuu/. Author tidak bertanggungjawab atas efek samping berupa baper, kzl dan perasaan tidak mengenakkan lainnya karena fanfiksi ini. Sekian :'v
Ah, happy reading btw (*´∀`*)
===xxx===
"DAZAI-SAN!" Bukan mimpi jika suara Atsushi memenuhi pendengarannya setelah suara letusan barusan. Dazai mengerjap sesaat, arah matanya kini jatuh pada wajah panik Atsushi sementara bocah harimau itu menutupi sebagian tubuh Dazai dengan lengan harimaunya.
"Baik-baik saja?"
"Sangat." Dazai terkekeh. Atsushi mengabaikan lelehan merah yang mengotori bulu-bulu putih lengan kirinya. "Bagaimana bisa kau kesini?"
"Entahlah. Kunikida-san terus mengoceh soal hal-hal buruk yang mungkin terjadi dan Ranpo-san juga tidak bisa duduk tenang di kursinya sejak kau pergi. Aku hanya mengikutimu dengan reflek."
"Reflek yang menakutkan." Tawa Dazai ditanggapi tatapan tajam dari iris dwiwarna milik Atsushi yang kini mengarah pada Sullivan. Gadis itu bergidik sementara tangannya bersiap menarik pelatuk lagi namun gerakan Atsushi dalam mode ini sama cepatnya dengan satu tarikan nafas. Membuat keduanya kini berhadapan dan pistol dengan enam slot peluru itu berpindah tangan.
"Maaf, nona. Kau tidak boleh melukai siapapun lagi." Atsushi meremukkan benda itu dengan kedua lengannya. Sullivan menatapnya ngeri, Dazai tertawa pelan di depan pintu.
"Kau bisa ambil hadiahmu, Atsushi-kun."
"E-Eh, haha. Ya, mungkin saja." Atsushi mengusap tengkuk canggung. "Dan kau sebaiknya bergegas, Dazai-san. Waktumu tidak banyak kan?"
"Begitulah." Dazai tersenyum sekilas sebelum berlalu. Menemukan Chuuya adalah tujuan utamanya sekarang. Waktu akan jadi sangat cepat dalam beberapa menit. Dazai menambah laju langkahnya sementara dalam genggamannya adalah ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi Chuuya.
"Tch, dimana kau?" Dia merutuk berulang kali saat sosok manis itu tak kunjung menjawab panggilannya. Terlalu banyak kemungkinan dimana Chuuya berada saat ini. Apalagi tadi dia bilang dia sudah meninggalkan markas dan juga menyuruh Dazai agar tidak pergi ke rumahnya karena kecurigaan orang-orang Port Mafia selalu berujung pada tindakan mata-mata sepihak. Dan Dazai tahu persis jika Chuuya sangat benci hal itu apalagi jika dirinyalah yang kini menjadi targetnya. Dazai teringat sesuatu kemudian, kakinya berjalan sendiri tanpa perintah.
"-temui aku nanti di pelabuhan." Dazai ingat minta bertemu dengannya tadi. Pria itu mempercepat langkah hingga tanpa sadar mulai berlari ke arah pelabuhan. Dia bersyukur tempat itu cukup dekat dengan tujuannya. Kemudian dalam langkahnya, suara gemuruh terdengar di kejauhan dan menjadi semakin jelas saat semakin dekat.
"-Chuuya." Dazai menggumamkan nama itu. Sosok oranye itu dikelilingi aura merah. Sarung tangan hitamnya sudah tak terpasang, menampakkan tanda serupa tatto yang menjalar di sepanjang lengan. Kemudian di sisi kiri agak jauh dari tubuhnya, tergeletak tubuh lain yang kini mulai tenggelam dalam genangan pekat darah segar.
"BODOH!" Dazai bahkan tak tahu siapa yang dibentaknya barusan. Yang jelas, langkah cepatnya diiringi kegusaran. Dibawah sana, ada beberapa orang lagi yang sedang mencoba menyerang Chuuya. Belum sempat Dazai berteriak mencegah mereka, orang-orang itu sudah terpelanting ke berbagai arah karena bola hitam yang dilemparkan Chuuya.
"HAHAHAHAHAH!" tawa itu terakhir kali didengar Dazai bertahun-tahun lalu. Tawa gila yang menggelegar namun penuh rasa sakit didalamnya, seolah meminta pertolongan dan Dazai tahu betul jika hanya dia seorang yang bisa menarik Chuuya keluar dari situasi buruk itu.
"CHUUYA! BANGUN!" Dazai merasa bodoh berteriak begitu. Dia kesal karena Chuuya makin tak terkendali setelah sekian lama tidak menggunakan Corruption. Dulu Dazai bisa dengan mudah menghindari serangan bola hitam itu tapi sekarang gerakannya semakin cepat dan akurat. Dazai nyaris kena telak beberapa kali jika otaknya tak berpikir dengan cepat soal langkah selanjutnya.
Beberapa di antara orang-orang itu mulai was-was. Mayoritas mulai dibanjiri rasa takut, kemudian memilih berjalan mundur sebelum mati mengenaskan seperti rekan-rekan mereka yang sudah tergeletak. Sementara aura merah menguar dari sosok oranye itu mencemari langit senja. Membuat warna indah yang selalu dinantikan kini berubah menjadi mimpi buruk.
Lelaki bersurai gelap disana sudah kehabisan pemikiran. Berkali-kali menyadarkan diri sendiri dari rasa ingin menyerah juga berusaha mendapatkan jalan keluar atas kondisinya saat ini. Gerakannya makin terbaca, begitu mudah hingga sosok yang kesadarannya sudah habis ditelan kekuatan itu kini berhasil memukulnya mundur dengan satu tendangan berkekuatan gravitasi yang mengarah pada abdomen Dazai.
"-GGUHHH!" Hal itu cukup untuk membuat Dazai memuntahkan darah segar setelah tubuhnya terlempar dan menabrak tiang penyangga dermaga kecil disana. Chuuya tertawa lagi, lebih mengerikan dari yang sudah-sudah. Dipersiapkannya bola hitam selanjutnya untuk diarahkan pada Dazai. Dazai mengeritkan gigi, dalam sela rasa sakit menghapus kaku sisa cairan merah di sudut bibirnya sambil mulai bangkit. Ini buruk. Jika dia tak segera mencapai Chuuya dan menetralkan Corruption nya, maka bukan mustahil jika dalam hitungan detik nyawa matenya itu hilang.
'Sialan! Ayo pikirkan sesuatu!'
Chuuya mengangkat bola hitam dalam genggamannya, sementara tubuh kecilnya juga terangkat melawan gravitasi bumi. Dia tampak akan menggunakan kekuatan penuh untuk melempar bola hitam itu pada Dazai. Geraman Dazai dibarengi gerak reflek mendekat, berlari menuju lelaki Nakahara itu dan bersiap menerjangnya. Namun baru separuh perjalanannya menuju Chuuya, bola hitam tadi menghilang. Aura merah di sekeliling Chuuya memudar perlahan dan sosok itu terbatuk keras di sela tawa gilanya. Kondisinya semakin parah hingga kehilangan kendali atas tubuhnya lagi. Kemudian tubuh itu benar-benar kembali pada sisi normalnya, jatuh dari ketinggian yang bisa membuatnya tewas seketika jika Dazai tak bersiap menangkapnya. Bersamaan dengan itu, Dazai juga mengaktifkan kekuatan penetralnya sebagai pencegahan kalau-kalau Corruption milik Chuuya aktif kembali.
BRUGHH!
"-ugh." Suara jatuh tadi disusul suara lain yang kesakitan. Dazai merasa kondisinya akan sangat buruk setelah ini tapi masih lebih baik daripada seseorang dalam dekapannya sekarang.
"C-Chuuya?" Lelaki itu memejamkan mata. Nafasnya pendek-pendek dan aliran darah di beberapa sisi wajahnya tampak sangat mengganggu. "Hey!" Dazai mengguncang tubuhnya. Membuat erangan sakit terdengar pelan dan memilukan.
"-Dazai." Panggilan itu samar bahkan tersela batuk keras dengan muntahan darah setelahnya. "K-Kenapa kau ugh- kesini?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu." Ucapan itu dibalas tawa lemah Chuuya. "Kenapa kau gunakan Corruption sementara aku tak ada di dekatmu? Apa kau gila?!"
"Mereka terlalu banyak. Dan racun yang masuk benar-benar mengganggu. Aku tidak punya pilihan- ugh-" Dazai menatapnya miris, menahan perasaan sakit ketika melihat Chuuya-nya begitu rapuh. "Kau akan baik-baik saja. Apa racunnya masih bekerja? Kau harus minum penawarnya." Dazai cepat-cepat merogoh sakunya. Mengeluarkan ampule yang dibawanya tadi dan menyodorkannya pada Chuuya.
"Da-darimana kau dapatkan ini?" suara lemah itu penuh keheranan juga rasa takut. "Itu- itu bukan-"
"Ya, aku tahu apa ini. Tapi penyihir itu bilang ini juga penawar racunmu. Cepatlah, waktumu tidak banyak."
"Tidak!"
"Chuuya!"
"Aku-" Chuuya berusaha keras saat mencengkram vest hitam Dazai. Buku-buku jarinya bahkan sudah mati rasa dan dia yakin gerakan ini tak akan berguna sedikitpun. Dia menarik perlahan tubuh Dazai agar mendekat padanya. Kemudian berucap dengan lirih, seperti menghemat nafas-nafas dan suara terakhirnya. "-aku tidak bisa hidup sementara dia mati karenaku. Tidak bisa, Dazai."
Dazai bungkam. Merasa jika perasaan menyakitkan perlahan tapi pasti mulai menyebar dalam dirinya. Senyuman lemah itu menambah luka yang baru saja terukir di sudut hatinya. "Lebih baik jika aku menemaninya kan? Maaf karena tidak bisa menjaganya."
"Kau-" Dazai mengusap pipi berlumuran darah milik Chuuya. Bagaimana bisa mereka berakhir begini buruk? Bagaimana bisa Chuuya bersikap seperti ini? "Kau sangat egois."
"Dazai-" lirihan itu diikuti nafas yang semakin pudar. Chuuya berusaha sekuat tenaga dengan sisa-sisa energi yang masih dia punya. Dia masih ingin bersama Dazai. Bersama lebih lama. Menyentuhnya, melihat setiap gerak geriknya, mencintainya.
'Ah, mustahil.'
Pikiran itu begitu menyedihkan namun Chuuya kini tidak sanggup lagi melakukan apapun bahkan sekedar mengeluarkan beberapa tetes air mata. Bibirnya menarik sebuah senyum meski kesulitan dan tangannya mengotori pipi Dazai dengan darah miliknya sendiri.
"Maafkan aku."
Dazai berharap ini semua hanya mimpi buruk.
===xxx===
"Yosano-sensei, kumohon."
"Aku tidak bisa berjanji, Dazai." lelaki itu mencengkram erat sepasang sarung tangan hitam dalam genggamannya. Sementara didalam ruang kesehatan milik agensi, terbaring seorang Nakahara Chuuya. Alat bantu pernafasan terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Luka luar sudah pulih sepenuhnya namun racun dalam tubuhnya terus bereaksi.
"Kondisinya sangat buruk. Aku berhasil menyembuhkan semua luka kecuali racunnya. Racun itu tidak bisa kukeluarkan." Wanita cantik itu tampak merasa bersalah dengan keadaan mereka saat ini. Andai saja, andai saja penawar itu bisa mereka gunakan.
"DIMANA DIA?!" Suara itu datang setelah keributan kecil di luar. Wanita berkimono tampak masuk ke area ruang kesehatan. Matanya berkilat penuh amarah saat bertemu pandang dengan Dazai. Dari dalam dirinya, cahaya berwarna keemasan menguar kemudian. Dan Dazai kini sudah terjebak di antara lengan kokoh sosok hantu emas yang juga menyodorkan katana ke arah lehernya.
"Pengkhianat sepertimu, tak akan puas sampai kami benar-benar habis."
"Tenanglah Kouyou-kun. Kita kesini untuk membantu, bukan membuat keributan." Pimpinan Port Mafia itu datang, menimbulkan sedikit rasa was-was diantara anggota detektif yang lain. Tangannya memberi isyarat agar Kouyou melepaskan Dazai sebelum wanita itu benar-benar membunuhnya. "Aku kemari karena Yosano-sensei menghubungiku, dan pimpinan kalian juga tentu saja." Yosano mengiyakan, kemudian mulai menjelaskan keadaan Chuuya saat ini.
Dahi Mori berkerut, iris gelapnya kini terarah pada bawahannya yang terbaring di ranjang ruangan itu. Bekas kehijauan tampak menyebar dari bekas luka gores di lengannya. Dia menoleh kearah Dazai, tak perlu berkata apapun untuk membuat Dazai bicara.
"Aku punya penawarnya."
"Lalu kenapa?"
"Aku- tidak tahu."
"Dazai, kau harus memilih. Kehilangan keduanya atau salah satu saja." Tangannya mengepal. Pilihan sulit sejak dia tahu jika benda dalam saku coatnya saat ini adalah penyelamat sekaligus pembunuh. Apa yang akan terjadi jika dia berikan benda ini pada Chuuya? Dia yakin jika Chuuya akan sangat membencinya nanti. Tapi bagaimana jika dia melenyapkan benda ini? Bersamaan dengan itu, Chuuya nya dan bayi mereka akan ikut lenyap bukan?
"Dazai-" ucapan Yosano dibarengi tepukan lembut di pundaknya. Wanita itu tampak iba, kini seolah memberinya kekuatan untuk membuat keputusan. "Kau tahu yang terbaik." Lengan lentik dokter itu tertadah, meminta benda itu. Sementara Dazai mulai merogoh sakunya ragu. Dengan gerakan teramat pelan mulai mengeluarkannya, menyerahkannya dengan berat hati pada Yosano.
"Walau penyihir itu berkata jika salah satu dari mereka akan mati karena penawar ini, kemungkinan lain masih bisa terjadi." Mori berkata begitu bukan tanpa alasan. Dia tahu jika racun dalam tubuh Chuuya sangat baru. Belum digunakan pada apapun selain kelinci percobaan, dia yakin akan hal itu. Selain itu, tubuh mereka yang memiliki kekuatan supranatural pasti memiliki sedikit perbedaan dengan manusia biasa. Bisa jadi efek yang dihasilkan oleh racun ataupun penawar itu akan berbeda.
"Selain itu, aku tak ingin kehilangan bawahanku lagi."
"Penyihir itu sudah menjadi milik polisi militer. Pelayannya mati karena pendarahan. Dan semua orang sewaannya juga sudah tertangkap." Atsushi muncul dengan Tanizaki. Tatapannya tak bisa dijelaskan, mengarah pada Dazai yang kini mengusap wajahnya frustasi.
"Bisakah kita keluar saja? Kita baru bisa melihat efeknya sekitar 30 menit lagi." Semua menurut, satu persatu pergi dari sana. Menyisakan Dazai dan Kouyou yang masih enggan beranjak. Tatapan tajam didapatnya lagi. Dan ucapan menusuk terdengar tepat saat wanita berkimono itu melewatinya.
"Harusnya kau saja yang mati."
Harusnya memang begitu. Tapi semua dendam Sullivan tak ada hubungannya dengannya. Jika bisa, dia juga ingin bertukar posisi dengan Chuuya. Lebih baik dia yang terbaring penuh siksaan saat ini.
"Keluarlah dulu, Dazai." Ucapan Yosano membuatnya melangkah keluar dengan berat. Dia tidak bisa hanya berdiam diri kan? Dia tidak bisa bersikap tenang sementara orang yang begitu dia cintai berjuang sendirian di antara siksaan racun mematikan yang bersarang di tubuhnya.
"Dazai-" baru beberapa langkah dari pintu, benda itu terbuka lagi. Menampakkan dokter cantik itu dengan ekspresi yang tak dapat dia artikan. Bongkahan kakao dalam matanya melebar saat wanita itu mengucapkan satu kata.
"-maaf."
===xxx===
END?
===xxx===
Halo~
Udah gaes ini endingnya
/author mulai maso, bersiap dibunuh sama readers/
Gak lah, kejam amat daku.
Gabisa bilang apa-apa selain makasih banget dan maaf banget
Maafin author ga konsisten ini
Seriusan, aku gada niatan php in kalian tapi takdir berkata lain /alasan sampah macam apa ini /slap
Aku siap kok dicaci maki dikritik diapain juga hayu lah
Mampir aja ke fb ku, Takatsuki Nyan
Caci maki aku disana /sumpah kok aing maso amat/
Sudah, sampai jumpa lagi
Di ending yang sebenarnya baru aku mau mengutarakan sesuatu
Matta ne~
/N-D-08042018/
