Disclaimer: Haikyuu! (c) Furudate Haruichi
Warning: death charas (mentioned), AU, BL. Sci-fi implied. Enjoy?
Sakit. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia tidak tahan lagi. Biarkan ia pergi. Lepaskan semua ikatan ini. Biarkan ia pergi—
(bokuto-san kau di mana)
Sinar lampu itu menyakitkan mata.
(aku ingin pulang)
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki. Bergerak ke arahnya. Diikuti langkah kaki lain. Jumlahnya banyak. Mereka membicarakan sesuatu, tetapi ia tidak bisa menangkap percakapan itu dengan jelas.
(bokuto-san)
"—perkembangannya—"
"—subyek berhasil—"
"—kesadaran?"
(bokuto-san)
Ia kesusahan bernapas. Didukung dengan alat bantu pun masih terasa berat. Matanya berkunang-kunang. Tubuhnya gemetaran. Ia kesakitan.
(tolong aku)
Akaashi ketakutan.
Sesaat sebelum semua menjadi gelap, Akaashi berhasil mengenali salah satu suara yang ada dalam kerumunan.
"Lanjutkan tesnya. Percobaan ini harus berhasil—"
(bokuto-san tolong aku—)
.
Amaranthine
.
(chapter 3)
["Ini Aku."]
.
Shirofuku duduk di sofa diliputi rasa cemas. Ia sudah berusaha menenangkan diri sejak mereka pergi tadi, tetapi semuanya gagal dan jantungnya masih berdegup kencang. Kekhawatiran dan kepanikan bercampur jadi satu; kombinasi yang tidak tampak di wajah namun punya efek yang nyata. Kuroo bisa dipastikan akan berubah jadi singa murka saat pulang nanti, begitu tahu cemilan yang ia sembunyikan di belakang rak video game sudah tinggal bungkusnya saja.
Masih ada remahan biskuit cokelat di sekitar mulut Shirofuku, ngomong-omong.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Shirofuku mengeluarkan ponselnya.
Dan langsung menepuk dahi lelah ketika melihat sebuah ponsel ber-casing merah tergeletak santai di sebelah televisi.
.
Suasana di kafe itu ramai, kecuali meja tempat Kuroo, Bokuto, dan Akaashi berada. Hawa-hawanya suram, penuh kekakuan, dan diisi keheningan sampai kepalan tangan Bokuto menghantam pinggiran meja. Tidak cukup keras untuk menarik perhatian pengunjung lain, namun sukses membuat Kuroo berjingkat dan tangan Akaashi tergerak untuk menjitak dahinya. Mengabaikan rasa sakit di dahi, Bokuto memposisikan diri agar bisa menatap Kuroo lurus. Wajah galak yang ia coba kenakan sejak memasuki kafe ini terancam hancur karena lelehan air mata. "Ke mana saja kau selama ini, hah?! Keluar militer kenapa enggak ngasih kabar apa-apa?!"
Akaashi geleng-geleng kepala. Kuroo meringis bersalah, mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
Dimulai sudah rutinitas biasa duo pembuat pusing kepala.
(tapi kau tetap merasa ada yang janggal 'kan?)
Tolehan cepat ke kanan. Tolehan perlahan ke kiri. Tolehan kedua ke kanan. Putar badan sedikit agar bisa melihat ke belakang punggung. Tidak ada yang aneh; pegawai kafe sibuk melayani pengunjung, pengunjung lain sibuk dengan urusan masing-masing. Meja yang mereka bertiga tempati sama sekali tidak menarik perhatian orang. Kerutan samar terbentuk di dahi Akaashi. Lalu kenapa rasanya seperti diawasi begini?
Bokuto dan Kuroo masih sibuk bertukar kata. Keduanya tidak memperhatikan Akaashi, sibuk dengan dunia mereka sendiri setelah lama tak bersua. Akaashi ragu dua teman akrab sejak SMA itu ingat dirinya masih ada di sana kalau Akaashi tidak bersuara, "Aku ke belakang sebentar, tolong jangan buat kegaduhan." 'Apalagi sampai diusir keluar' tidak terucap, namun dua makhluk kelebihan energi itu sadar dan mengerti maksud Akaashi.
Akaashi menghela napas pendek seraya beranjak dari tempat duduknya. Terakhir sebelum meninggalkan meja, lelaki berambut agak acak-acakan (tetapi tidak separah Kuroo) itu memberi peringatan terakhir—"Aku serius, Bokuto-san, kalau sampai kejadian nanti malam menunya vegetarian." Kuroo terkekeh melihat wajah Bokuto berubah horor. Mereka memperhatikan punggung Akaashi yang makin lama makin menjauh sebelum benar-benar menghilang di tengah kerumunan.
Beberapa saat setelah Akaashi tidak lagi terlihat, kekehan Kuroo pudar. "Dia sehat-sehat saja, 'kan?"
Bokuto menopang dagu, mata masih menatap lurus kerumunan tempat Akaashi menghilang saat menyahut, "Sejauh ini dia oke. Rutin check up juga, jadi kurasa enggak ada masalah…" Humor yang biasa menghiasi nada bicaranya lenyap. Keseriusan yang jarang muncul bahkan saat menjalankan misi sekalipun mengambil alih tempatnya. Kuroo memejamkan mata, mengeluarkan smartphone hitam dan membuka kuncinya tanpa melihat. Ketika ia membuka mata, ia mendapati Bokuto tengah memandangnya tanpa berkedip. "Daishou memang menyebalkan, tapi semua tahu dia yang paling hebat di bidangnya."
"Bokuto."
"Kalau saja waktu itu kamu enggak menolak tawarannya—"
"Sampai sekarang juga aku sama sekali enggak menyesal," sela Kuroo cepat, manik hitam terpaku pada layar ponsel. "Aku enggak menyesal menolak tawaran itu, Bokuto. Sama sekali enggak."
Bokuto mengerutkan dahi. "Akaashi sekarang ada di sini. Dia hidup; itu yang terpenting."
"Seandainya si brengsek itu berhasil dan Kenma juga ada di sini lagi, aku yakin dia enggak akan senang waktu tahu tubuhnya diotak-atik sedemikian rupa."
"Tapi dia enggak bakal [pergi]."
Untuk sekali ini, Kuroo tidak berani mengangkat kepala. Tidak saat Bokuto menatapnya begitu; Kuroo tidak ingin menyesali keputusannya yang satu ini. Kuroo hapal semua tingkah laku Bokuto sama seperti Akaashi. Hampir setiap waktu Bokuto selalu terlihat kekanakan dan tidak berbahaya, tetapi kalau menyangkut sesuatu yang sensitif dan seorang Akaashi Keiji, ia tidak akan segan menembakkan peluru ke kepala si penyinggung. Kuroo pernah jadi saksinya sekali, saat mereka menjalankan misi pertama dan seseorang menghina Akaashi habis-habisan. Jika Iwaizumi tidak bergerak cepat dan merebut senapan dari tangan Bokuto, bisa dipastikan karir militer Bokuto tidak akan jadi seperti sekarang.
"Kuroo."
"Kenma [pergi] dan itu kenyataan, mau enggak mau aku harus nerima meski sakitnya masih terasa sampai detik ini juga," Kuroo memandang foto sosok berambut dwiwarna lain—pirang hasil salon dengan warna hitam di bagian akar rambut, seorang yang sudah tiada dan berubah jadi kenangan yang masih menghantui Kuroo tiap malam—dengan seulas senyum lembut, "Aku enggak menyesal, Bokuto."
Bokuto tidak berkomentar, tahu keputusan Kuroo sudah final. Memutuskan tidak ada gunanya lagi membicarakan topik ini, Bokuto mengedarkan pandangan bosan. Pembicaraan mereka selesai, Bokuto sudah kembali ke dirinya yang biasa. Tanpa sadar, Kuroo menghembuskan napas lega.
"Akaashi lama, ya."
"Biarkan ibu rumah tangga dandan sesukanya, Bo."
"Kalau Akaashi dengar bakal ada sepatu melayang."
Keduanya bertukar cengiran lebar. Bukan pertanda baik bagi siapapun yang ada di sekitar. Mengutip komentar korban kejahilan utama mereka (baca: Sawamura Daichi), "Itu cengiran setan, masuk kategori kode merah. Segera kabur begitu tertangkap mata. Punya hubungan baik dengan mereka bukan jaminan keselamatan, kecuali kalau kau adalah Akaashi Keiji atau Kozume Kenma."
Tangisan anak kecil yang kehilangan balonnya itu bukan karena ulah mereka—seriusan.
.
Akaashi memijat dahinya dengan tekanan penuh. Firasatnya mengatakan ia harus kembali ke meja sekarang, tetapi lelaki berusia duapuluh lima tahun itu masih merasa ada yang janggal.
Pikiran yang tadi itu… dari mana asalnya? Akaashi memainkan jemarinya, kebiasaan yang selalu dilakukan tanpa sadar tiap merasa gelisah. Yang janggal memang ada, tapi—
"Lebih seperti 'tidak pantas berada di sana*', 'kan?"
Akaashi bagai tercolek listrik.
Di sisi kanannya, dengan kepala tertunduk dan tangan penuh bekas luka di bawah keran wastafel yang menyala, ada seorang lelaki dalam balutan hoodie merah. Wajahnya tertutupi tudung hoodie, namun jika Akaashi berani melirik cermin, pantulan wajahnya bisa tertangkap mata.
Hanya jika Akaashi berani.
Karena mendengar suaranya saja Akaashi tangannya gemetaran. Belum saat mengenali hoodie merah marun yang terlihat familiar.
Kenma selalu mengenakannya tiap Akaashi dan Bokuto berkunjung ke apartemen Kuroo. Lengannya sampai menutupi ujung jari Kenma, ukurannya lebih besar dan membuat Kenma terlihat seperti anak kecil dalam pakaian orang dewasa. Bokuto pernah iseng bertanya, "Suka banget sama Kuroo ya?" Kenma menutupi bagian bawah wajahnya dengan kedua tangan (yang nyaris tertelan lengan hoodie merah marun itu sendiri), alis bertautan dan berbisik, "Aku suka baunya, bukan yang punya."
Dusta, tentu saja. Akaashi tahu perasaan Kenma untuk Kuroo sama seperti perasaan Akaashi untuk Bokuto. Mengingat saat itu Kuroo masih sering pergi jauh karena misinya sebagai tentara, Akaashi memutuskan untuk diam dan tersenyum penuh arti.
Dan sekarang, setelah Kenma [pergi], hoodie beraroma familiar itu dikenakan orang lain.
Kuroo yang Akaashi tahu akan langsung menghajar siapapun yang berani mencuri barang dari apartemennya. Tetapi tiga tahun bukan waktu yang singkat, ditambah [kepergian] Kenma. Siapapun bisa berubah setelah kepergian mereka yang disayang.
Pantulan di cermin menunjukkan sosok itu sedang tersenyum. Ujung bibirnya melengkung, membentuk senyuman yang tak kalah familiar di ingatan Akaashi. Caranya mengeringkan tangan, caranya tersenyum, postur tubuhnya; Akaashi ingat pernah melihat semuanya. Hanya saja, kepanikan yang mendadak menyerangnya membuat Akaashi kesusahan mengingat di mana ia pernah melihat sosok ini. Tidak dengan napas yang terburu, tidak dengan suara hati yang berteriak lari lari lari lari—
"Sampai ketemu lagi." Tepukan ringan di pundak kanan, lalu sosok itu berjalan pergi dengan kepala tertunduk dan tubuh agak membungkuk. Langkahnya pincang. Dari sudut matanya, Akaashi melihat kaki kiri yang sedikit diseret menuju pintu keluar.
Hening untuk beberapa saat. Beberapa menit kemudian, Akaashi mencelos 'ah' begitu ingat di mana ia pernah merasa melihat sosok itu.
Akaashi melihat ke cermin yang ada di hadapannya.
.
("Kau mengenaliku, 'kan?")
.
.
[to be continued]
* pinginnya ngetik 'don't belong there' /oi Awalnya mau pakai 'tidak cocok berada di sana', tapi setelah nanya, akhirnya pakai yang ini. Beginilah akibat kebanyakan baca-tulis fic Inggris; ngerti arti tapi gak bisa deskripsiin kehendak hati /stop
A/N: There. 'Tamu'nya Kuroo udah 'dijelasin' di sini (walau ambigu). Mulai chapter selanjutnya bakal terasa lebih berat, saya bakal usahain supaya sesuai sama genre awal. Terima kasih sudah mampir membaca, review dengan sabar dinantikan ovo)/
