HELLOOO I'M BACK AGAIN

Mumpung lagi gak sibuk jadi banyak kesempatan buat lanjutkan ff ini. Curcol dikit boleh kali ya XD. jujur aku bingung tentang alur ff ini karena di otakku banyak banyak banyak opsinya. Jadi maapkeun daku kalau alurnya rada gak nyambung.

Makasih banyak yang sudah mau review. Aku baca semua review kalian loh. Seneng terharu juga banyak yang suka. Makanya aku bertekad ff ini sebisa mungkin harus cepat updet. Yaaaa doakan aja bukan cuma sekedar niat #plak. Makasih banyak juga buat yang sudah fav dan follow ff gaje ini. Maap yee kalau bahasanya makin lama makin acak adut. Makin bikin pusing mual muntah xD

3

~Kyusung~

.

.

.

.

.

Malam sudah begitu larut namun raja kita satu ini masih setia dibalik meja kerjanya. Ia sedang memikirkan sesuatu. Dan ruangan khusus dirinya ini menyajikan suasana yang sangat cocok untuk berpikir. Apa yang sedang dipikirkan raja ini? Hanya ia yang tau.

Tok...Tok...Tok

Sebuah suara ketukan dari pintu—Ah bukan, ketukan pada sebuah jendela kaca besar di ruangan itu mengalihkan perhatian sang raja.

"Masuklah" Titahnya

Jendela besar itu terbuka seiring dengan munculnya seorang yeoja cantik. Ruangan ini berada di lantai dua lalu bagaimana bisa yeoja ini muncul lewat jendela? Cara yang sangat tidak sopan untuk menemui sang raja. Tapi dilihat dari sudut manapun, sang raja terlihat tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mungkin sudah biasa

"Selamat malam yang mulia" sapa yeoja itu sambil membungkukkan badannya hormat. Yeoja itu terlihat seperti seorang pembunuh bayaran. Sungguh!. Ia menggunakan pakaian yang semuanya serba hitam. Jaket kulit hitam berpadu dengan celana hitam ketat. Sepatu boot hitam mengkilat. Rambut hitam panjangnya yang bergelombang ia biarkan terurai serta sebuah masker yang menutupi bagian leher hingga ke hidungnya. Tatapannya tidak begitu tajam tapi lebih dari cukup untuk membuatmu merasa terintimidasi.

Sang raja menatapnya serius sambil menumpukan tangannya di dagu.

"Berita apa yang kali ini kau bawa?"

"Mereka sudah mulai menyadarinya yang mulia" Yeoja itu berbicara sambil menunduk hormat dihadapan sang raja

"Hee...benarkah? apa kita terlalu mencolok" Ia berkata seolah terkejut tapi lihat saja raut wajahnya yang menampilkan seringai itu

Mendengar perkataan sang raja, yeoja itu langsung menatap sang raja. Menatapnya tak kalah serius

"Jadi anda sengaja?" tebaknya

"Lebih cepat lebih baik bukan" sang raja menjawabnya seraya tersenyum. Senyum yang membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Tak terkecuali yeoja itu.

"Tentu yang mulia"

"Kau menikmati tugasmu?"

"Sangat yang mulia. Seperti yang pernah anda katakan, mereka sangat baik. Ah tidak, mereka sangat bodoh. Baik dan bodoh ternyata memang berbeda tipis" Yeoja itu menjawab sambil tersenyum licik

"Sekarang kembalilah. Lanjutkan tugasmu"

"Baik yang mulia" Yeoja itu membungkuk hormat kembali kemudian berlalu pergi melewati jendela yang tadi juga ia gunakan saat datang. Meninggalkan sang raja yang kembali pada kegiatannya sebelum yeoja itu datang. Berpikir.

Mari kita doakan semoga raja tersebut memikirkan hal-hal yang baik. Tapi sepertinya itu...Mustahil!

.

.

.

.

.

Seperti pagi yang sebelumnya, hari ini juga sama. Sinar mentari pagi menyapa para penghuni bumi. Melewati setiap celah. Membangunkan para manusia dari tidur lelapnya untuk kembali memulai aktifitas. Tidak terkecuali untuk pangeran kita yang satu ini.

Yesung membuka kelopak matanya perlahan ketika cahaya matahari samar-samar menerobos gorden kamarnya. ia segera bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk. Sedikit meregangkan ototnya yang terasa sedikit kaku.

Kemudian ia masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya mengizinkan dua orang pelayan yang selalu menyiapkan kebutuhannya di pagi hari untuk masuk dan melaksanakan tugasnya. Dan seperti biasa, dua orang pelayan dengan nama Yoona dan Sulli itu akan segera pergi sebelum sang pangeran keluar dari kamar mandi. Tentu saja setelah menyelesaikankan pekerjaannya.

Jika diperhatikan, Yoona dan Sulli merupakan yeoja yang cukup menarik. Mereka cantik. Yoona memiliki senyum hangat yang lembut. Kulit putih terawat dan rambut panjang hitam bergelombang. Sedangkan sulli memiliki senyum yang sedikit lebih kekanakkan. Rambut hitamnya keriting sebahu. Ditmbah mata sipit dan kulit putih pucat. Sulli lebih muda dari Yoona jadi wajar saja jika sikapnya belum sedewasa Yoona. Yah sebut saja ia anak yang masih dalam proses peralihan. Masih labil.

Walaupun mereka berdua menarik dan cukup terkenal diantara para pelayan, tidak mungkin Yesung memberikan atensi lebih pada mereka. Seorang pelayan. Mereka terlalu sadar diri untuk tidak berharap lebih. Bahkan mereka ragu jika Yesung mengingat nama mereka berdua.

Ya...keraguan mereka nyatanya memang benar. Oh ayolah jangan lupakan sifat seorang Kim Yesung!

Kembali ke tokoh utama kita. Sekarang Yesung sudah selesai mandi dan berpakaian. Hari ini ia mengenakan setelan jas berwarna hijau tua dipadukan dengan sebuah kemeja polos berwana putih. Kembali ia sematkan kristal hitam bulat ditengah perpotongan kerahnya. Simpel tapi tetap mewah. Sederhana tapi tetap menawan. Rambut pirangnya ia biarkan agak berantakan. Melihat Yesung seperti ini sangat berbahaya sebenarnya. Jika bisa, mungkin kau akan pingsan karena tidak sanggup menahan setiap pesona yang ia tebarkan. Oke. Biarkan aku mati dengan tenang karena serangan ketampanannya.

Oh tidak tidak...jangan dulu. Biarkan aku menyelesaikan cerita ini.

Hari ini akan ada pertemuan besar di kerajaan ini. Pertemuan antara para petinggi dan orang-orang penting. Walaupun ayahnya tidak mengatakan tentang tujuan dari pertemuan ini tapi Yesung sudah dapat menebak apa yang nanti akan dibahas. Ia terlalu mengerti untuk masalah seperti ini. Karena Yesung adalah orang yang penting maka ia termasuk salah satu orang yang wajib hadir. Kau tidak lupa bukan posisi Yesung itu sebagai apa?

Pertemuan itu diadakan di gedung khusus yang terletak tepat disebelah istana ini. Dan ia harus segera kesana karena pertemuan tersebut akan dilaksanakan pukul delapan tepat sedangkan sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Jika saja bukan untuk kepentingan kerajaan, Yesung tidak akan mau datang. Tentu saja sangat memuakkan mendengar para tua bangka angkuh itu berbicara di rapat. Mereka selalu berbicara seolah tau segalanya, mengusulkan ini itu seakan rencana mereka yang terbaik. Yesung bukanlah tipe orang yang suka diperintah. Ia lebih suka bekerja dan bertindak dengan pemikirannya sendiri. Ia tidak akan dengan senang hati menerima usulan orang-orang yang seharusnya sadar diri bagaimana posisinya. Mereka hanya orang rendahan yang beruntung mendapat kepercayaan dari sang raja. Jadi sebaiknya mereka jangan banyak bertingkah.

Ada sebuah rahasia kecil yang sebenarnya cukup besar yang hanya diketahui oleh orang-orang di dalam istana. Saat itu Yesung masih berumur 11 tahun. Walaupun masih usia belia tapi berkat kemampuannya ia sudah menjadi orang yang diperhitungkan dalam hal bertarung. Namun, ada kejadian yang menjadi titik mula munculnya seorang Kim Yesung yang haus darah. Saat itu pertama kalinya ia ikut rapat kerajaan, awalnya rapat berjalan lancar dan tenang-tenang saja. Tapi semuanya berubah ketika seorang menteri menyuarakan pendapatnya.

Flashback On...

"Mohon maaf yang mulia, tapi saya sangat tidak setuju jika pangeran Yesung yang harus berdiri dibarisan depan pasukan"

"Mengapa demikan menteri Lee? Bukankah kita sudah sepakat?" Sang raja menimpali

"Walaupun pengeran Yesung memiliki kemampuan, tapi bukankah ia masih terlalu anak-anak. Bagaimana jika dalam medan pertempuran ia ternyata tidak mampu. Bukankah ini kali pertama untuknya"

"Apa baru saja kau meragukan anakku menteri Lee?"

"Tentu! Ah tidak maksud saya, pangeran Yesung belum cukup siap untuk itu"

"Kau sudah melihat sendiri bagamana kemampuannya bukan? apa itu tidak cukup untuk meyakinkanmu?" ucap sang raja bijak

"Tapi tetap saja yang mulia, pangeran Yesung masihlah anak-anak yang tidak pantas!" Menteri Lee masih tetap pada pendiriannya

"Maaf yang mulia. Saya akan berbicara dengan menteri Lee. Maafkan atas kelancangannya" Menteri Park bangun dari duduknya kemudian beralih untuk membawa menteri Lee keluar ruang rapat.

"Jangan halangi aku Park. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak terima anak yang masih bau popok ini menjadi pemimpin pasukan ini!"

"Duduklah kembali menteri Park. Biarkan menteri Lee mengutarakan pendapatnya" Raja Kangin mencoba tetap tenang walaupun baru saja anaknya dihina.

"Tapi yang mulia...aishh baiklah" akhirnya menteri Park kembali ke kursinya. Menteri yang lain hanya dapat menjadi penonton. Mereka sudah setuju jika Yesung yang memimpin. Untuk menang kita perlu seseorang yang kuat. Tapi sepertinya rekan mereka tidak satu pikiran.

Menteri Lee adalah kaki tangan langsung sang raja. Ia adalah seorang water maker. Ia tidak terima jika harus dipimpin oleh anak ingusan seperti Yesung. Ia kuat dan angkuh, yaahh walaupun ia akui Yesung juga kuat, tapi Yesung tetaplah anak kecil!

Yesung? Ia masih tetap diam. Membosankan pikirnya. Terserah saja menteri sialan itu mau berbicara apa. Ia hanya melirik malas menteri itu

"Lalu hal seperti apa yang kau setujui menteri Lee?" tanya sang raja

"Saya yang lebih pantas menjadi pemimpin pasukan"

"Tidak. Kau tidak lebih kuat dari Yesung"

"Cih...apa yang bisa diharapkan dari anak ingusan itu. Dengan melihat saja sudah dapat dipastikan saya yang lebih baik. Eoh! Apa anda berencana menyerahkan kerajaan pada pihak musuh dengan sengaja mengalah?" Menteri Lee berucap sambil meludah dengan tidak sopannya didepan sang raja

Ekpresi sang raja mengeras. Apa yag baru saja dilakukan menterinya ini?! Menentangnya eoh?!

"Menteri Lee jaga sikapmu!" Menteri Park mencoba menengahi

"Apa karena anda yang berkuasa jadi dengan seenaknya dapat memasukkan anak kecil sialan ini dalam pasukan. Ayah dan anak yang benar-benar sialan!" ucapnya cari mati

Sang raja geram.

"Kauu-

Wushhhh...

Jleb...

"Apa kau baru saja meragukanku? Yesung berucap tenang sambil semakin menekan pedangnya ke perut menteri Lee

Darah merembes di baju mahal sang menteri. Sebagian mengalir di pedang Yesung. Pergerakan Yesung begitu cepat, bahkan tidak ada yang menyadarinya dan tiba-tiba saja pedangnya sudah bersarang diperut sang menteri. Semua yang ada di ruangan itu terpaku.

"Uhuk..." Sang menteri batuk darah

"Yesung hentikan. Sudah cukup"

"Baiklah Appa" Yesung menarik pedangnya dari perut sang menteri. Lalu secepat kilat pedangnya ia tebaskan ke leher sang menteri.

Semua yang ada di ruangan tersebut shock!

"YAK APA YANG KAU LAKUKAN?!" Kangin benar-benar tidak habis pikir. Ia akan mengeluarkan kekuatannya untuk menghajar Yesung tepat ketika Yesung berbalik.

Yesung yang awalnya membelakanginya kini menghadap kearahnya dengan sebilah pedang berlumur darah. Ia arahkan pedang itu ke mulutnya dan menjilat sedikit darah disana.

"Aaaahh aku suka sensasinya. Menyenangkan" Yesung berucap sambil tersenyum

Kangin menelan ludahnya kasar. Tatapan itu. Sorot mata mengerikan yang baru kali ini dilihatnya langsung pada sang anak. Sepertinya membunuh akan jadi hobi baru anak bungsunya itu.

Yesung kemudian mengalihkan pandangannya pada semua orang diruangan itu. Mereka tidak berkutik, jangankan untuk bergerak dan bersuara, bernapas saja susah.

"Meremehkanku adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya dan hidup kalian. Cih!" ucapnya sambil menyarungkan pedangnya dan keluar ruangan

Flashback Off

Sejak saat itu, Yesung tumbuh menjadi pribadi yang semakin dingin. Egois. Jangan pernah membantah atau kau harus merelakan nyawamu.

Baiklah, kembali ke pokok semula. Yesung harus segera bergegas ke ruang rapat. Ia tidak suka membuang waktu. Mengabaikan pikirannya yang sedikit terganggu karena kejadian kemarin saat ia keluar perpusatakaan.

.

.

.

.

.

Sementara itu di pedalaman hutan belantara yang sangat rimbun tepatnya dipuncak sebuah gunung, hiduplah dua orang yang selama ini selalu menjadi pengamat kehidupan para manusia di bumi. Bukan. Mereka bukan dewa. Tapi mereka berdua adalah manusia pilihan yang mempunyai kekuatan unik. Mereka berumur panjang dan akan tetap awet muda sampai suatu saat nanti tugas yang dibebankan pada mereka terlaksana. Mereka akan kembali menjalani umur selayaknya manusia biasa ketika apa yang harus mereka lakukan berhasil. Jika dihitung-hitung, kemungkinan mereka sudah hidup sekitar tiga abad lamanya. Sepertinya abad ini akan mejadi titik terang mereka untuk menemukan apa yang dicari. Kenapa hanya mereka berdua? Entahlah, jika takdir sudah tertulis demikian kita hanya dapat menerima bukan.

"Ne tuanku, sepertinya sebentar lagi kita bisa kembali menikmati tua seperti manusia-manusia yang lain" salah seorang dari mereka memecah kesunyian

Mereka saat ini sedang berada di ruang dimana mereka selalu memperhatikan kehidupan manusia. Di dalam ruangan itu terdapat tujuh buah cermin yang menampilkan kehidupan manusia. Cermin Kau akan merasa seperti sedang menonton televisi jika melihat cermin-cermin tersebut. Lalu bagaimana kehidupan manusia yang begitu banyaknya hanya ditampilkan dalam tujuh buah cermin?!

Oh tentu saja bukan kehidupan manusia biasa-biasa saja yang mereka amati. Cermin itu hanya akan menampilkan kehidupan dari orang-orang terpilih. Setiap cermin memiliki ukiran yang sesuai dengan orang yang ia munculkan di dalamnya. Ketujuh cermin tersebut berjejer segaris dan melayang tanpa ada tali atau tiang yang menopangnya. Terdapat sebuah cermin paling besar dengan ornamen kristal sebagai cermin dibagian tengah. Di samping kanannya terdapat tiga cermin yang masing-masing memiliki ukiran menyerupai tanaman yang dialiri air, pecahan es dan kibasan angin. Sedangkan disebelah kirinya terdapat juga tiga buah cermin yang salah satunya sangat bercahaya dengan jluran lidah-lidah api, cermin dengan ornamen sambaran petir, dan sebuah cermin yang dikelilingi oleh angka-angka acak. Keenam cermin selain cermin dengan ornamen kristal menampilkan kehidupan di dalamnya. Sepertinya karena tugas yang sedang mereka jalankan belum membuahkan hasil sehingga cermin kristal tersebut belum berfungsi. Masih seperti cermin biasa pada umumnya.

"Kau benar, sepertinya sebentar lagi tugas kita akan berakhir" salah seorang yang lain menimpali

Mereka berdua namja. Mereka bukan saudara. Hmm...mungkin hubungan antara majikan dan pelayan lebih cocok untuk mereka.

"Tapi apa tuanku rela kehilangan wajah muda itu?"

"Aku sudah lelah hidup seperti ini, aku juga ingin merasakan tua dan mati dengan tenang"

"Tapi saat masih muda begini saja anda sudah sangat jelek, apalagi saat tua nanti"

"Yak. Kau pikir kau tampan eoh"

"Setidaknya aku lebih tampan dari anda"

"Sini ku hancurkan wajah sok tampanmu itu!"

"Daripada merusak wajah tampan saya, lebih baik anda memperbaiki wajah buruk rupa itu"

"Yak..kau ingin mati eoh?!"

"Sangat ingin, tapi sayangnya tidak bisa"

"Kau gila"

"Anda lebih gila tentu saja"

"Baiklah. Berhentilah bicara sok sopan monyet sialan!"

"Yak siapa yang kau panggil monyet hah?. Dasar tua bangka kelebihan kolesterol?!

"Yak...beraninya kau!"

Haahh...mari kita tinggalkan perdebatan tidak penting dari kedua makluk tadi. Itu sudah rutinitas mereka, saling ganggu. Mereka hanya hidup berdua bukan? jadi siapa lagi yang dapat mereka ganggu. Ckckck

Huh! Tunggu dulu. Sepertinya cermin kristal tersebut mulai bereaksi

"Lihat tuanku, cerminnya!" ucap salah satunya terkejut

"Diamlah. Aku juga melihatnya. Tapi ini masih terlalu samar"

"Sepertinya gerbang waktu sudah mulai terbuka"

"Kau benar. Kekacauan sebentar lagi akan terjadi"

.

.

.

.

.

Hari ini terlampau biasa bagi seorang Tan Kyuhyun. Tidak ada yang spesial karena baginya semua selalu terlihat sama. Semuanya terlalu sama. Keadaaan yang sama, lingkungan yang sama, suasana yang sama serta orang-orang yang sama.

Tidak sadarkah kau tuan bahwa orang-orang juga selalu menatapmu dengan pandangan yang sama pula? Mungkin jika kau sedikit membuka hati untuk dunia maka kau akan menemukan sesuatu yang menarik.

Seperti biasanya pula, Kyuhyun akan selalu terlihat tampan dan semakin tampan setiap harinya. Terlebih hari ini rambutnya ia tata naik dengan memperlihatkan dahi indahnya. Tinggi semampai, kulit putih menjurus pucat, rambut sewarna milk cokelat serta sepasang caramel yang mampu meluluhkan siapa saja yang memandangnya. Sekali terjerat dalam ketampanannya maka jangan pernah bermimpi untuk keluar. Terlalu mustahil.

Tapi siapa orang bodoh yang akan dengan suka rela melewatkan ketampanan seorang pangeran bernama Tan Kyuhyun tersebut? Jika ada, ku rasa kewarasan sungguh telah meninggalkan raga dan jiwanya.

Kyuhyun saat ini mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan sweater turtle neck berwarna marun sebagai dalamannya. Cukup aneh digunakan ketika matahari sedang bersinar dengan teriknya diluar sana. Tapi jangan remehkan jika kyuhyun yang memakainya. Alih-alih tertawa konyol, kau malah akan semakin terpesona. Kyuhyun dan segala pesonanya.

Entah alasannya apa, kyuhyun hanya merasa sedikit dingin. Dan sweater cukup mejanjikan kehangatan. Oh apa sedang ada yang salah dalam diri sang master thunder kita?

Dengan sedikit tidak senang hati aku akan mengatakan iya.

Kyuhyun tidak sedang sakit. Namun ada sesutu yang mengganggu hatinya. Memang kau tak akan menemukan ekspresi berarti dari wajahnya. Tapi percayalah di dalam sana sedang bergejolak dengan sangat hebatnya.

Sejak tadi ia memandangi lukisan besar yang melekat di dinding dark blue kamarnya. lukisan itu berisikan sosok kecil dirinya sekitar usia 3 tahunan yang berada dalam gendongan sang ibu beserta sang ayah disampingnya. Di lukisan tersbut, ayah dan ibunya sedang tersenyum bahagia. Mungkin efek kyuhyun yang saat itu memang nampak sangat menggemaskan.

Melihat lukisan tersebut membuat pikirannya kembali melayang pada masa lalu

Flashback On

Malam itu Tarteis kingdom penuh dengan suka cita karena putra mahkota yang nantinya akan memimpin kerajaan akhinya lahir dengan selamat. Tidak kurang satu apapun.

Awalnya semua berjalan baik hingga kekacauan terjadi ketika seorang pria tambun dengan pakaian aneh menerobos masuk kamar persalinan sang permaisuri. Wajah pria itu tetutup oleh topi kerucut yang ia gunakan. Jangan lupakan tongkat kayu yang ada dalam genggaman tangan kirinya/

Hangeng dengan sigap langsung berdiri dihadapan pria itu lengkap dengan huusan pedangnya. Bersiap melindungi sang permaisuri dan putra mahkota jika orang ersebut berniat jahat.

"Siapa kau dan apa maumu?!" ia geram. Kebahagiaannya diganggu oleh pria aneh didepannya ini

Pria tambun itu kemudian membungkukkan badannya seakan memebri penghormatan kepada sang raja.

"Maafkan kelancangan saya yang mulia. Saya tidak memiliki maksud jahat apapun, saya hanya ingin menyampaikan sebuah kabar"

"katakan dengan jelas"

"Kehidupan putra mahkota telah digariskan oleh takdir. Hidupnya tidak akan mudah. Ketika usianya memasuki tahun ke tujuh kesadarannya akan hilang karena sebuah hal menyakitkan. Namun ia akan kembali bangun ketika penyembuh dan alasannya hidup bangkit"

"Jangan membual!" desis Hangeng dingin

"Kebenaran selalu bersama saya yang mulia"

"Saatnya pulang tuanku" Seorang pria datang bersama dengan kepulan asap yang tiba-tiba saja muncul disamping pria tambun tadi

"Baiklah kami undur diri yang mulia"

"Tunggu— dalam sekejap mata dua pria aneh tersebut menghilang.

"Yeobo apa maksud orang tadi?" Heechul menatap sendu putra dalam gendongannya

"Entahlah...lupakan saja bualan orang tadi. Lebih baik pikirkan nama untuk pangeran kita ini" tidak tega juga mlihat tatapan sedih istrinya.

Berhasil. Cercah sinar bahagia kembali terpancar dalam obsidian bening Heechul

"Dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang tampan dan kuat. Kyuhyun kurasa nama yang cocok"

"Sangat bagus. Tan Kyuhyun"

"Selamat datang di dunia putraku. Tan Kyuhyun" ucap sang ibu baru seraya mengecup sayang pipi gembil putranya.

Tujuh tahun kemudian...

Kyuhyun tumbuh dengan baik. Parasnya yang rupawan dilngkapi dengan pemikiran jenius. Namun sifatnya tidak demikian baik, ia cenderung tertutup dan antisosial. ia tidak suka keramaian, tapi bersikap begitu manis hanya untuk ayah dan ibunya. Ia tidak pernah keluar istana atau bahkan bermain di lapangan karena keadaan stamina fisiknya sangat buruk. Ia sangat mudah kelelahan dan jatuh sakit.

Hingga satu bulan sebelum perayaan kelahirannya yang ke tujuh, kondisi Kyuhyun semakin memburuk sehingga ia hanya dapat terbaring di tempat tidur. Segala tabib dan dokter telah didatangkan ayahnya. Berbagai macam pengobatan juga telah dicoba namun hasilnya tetap nihil. Kondisinya semakin dan semakin memburuk tiap harinya

Heechul saat ini sedang duduk di tepi kasur sang putra dengan didampingi suaminya. Sang putra sedang tertidur dengan raut yang jauh dari kata tenang

"Yeobo" Heechul tak tahan lagi. Luruh juga airmatanya

"Ssstt...tenanglah" Hangeng menenangkan sambil memeluk sang istri tercinta

"Hari ini ulang tahun Kyuhyun yang ke tujuh. Harusnya kita merayakan dengan bahagia, tapi lihatlah kita sekarang"

"Jangan menangis yeobo. Kyuhyun pasti akan sedih juga melihatmu dalam keadaan begini"

"Apa...apa perkataan orang aneh tujuh tahun yang lalu benar akan terjadi. Aku taku yeobo. Kyuhyunku yang malang"

"Entahlah..." Hangeng putus asa. Segala usaha telah ia lakukan demi kesembuhan sang putra namun semua gagal. Ia ingin tidak setuju dengan perkataan istrinya barusan, tapi kenyataan memaksanya untuk percaya.

"Eomma~~Appa~~"

"Eoh Kyuhyunie kau sadar nak" Heechul refleks melepas pelukan suaminya dan langsung menggenggam telapak tangan sang putra

"Sakit"

"Dimana yang sakit sayang"

"Se—Arrggh" Kyuhyun mengerang dengan tubuh berjengit sakit

"Kyu..kyu" Heechul hanya dapat menangis sambil memeluk sang putra

"Eomma-akhh

"Penjaga cepat panggil tabib Han! Teriak Hangeng kalut

"Bertahanlah sayang"

Bersamaan dengan itu tubuh Kyuhyun melemas dengan napas dan denyut nadi yang melambat. Kesadarannya hilang

Tabib Han datang dan memeriksa keadaan Kyuhyun

"Bagaimana keadaan anakku?" Heechul sungguh tidak dapat menahan aliran air matanya melihat keadaan sang putra

"Maafkan saya yang mulia. Pangeran Kyuhyun masih hidup dan bernapas tapi kesadarannyaa untuk terjaga, hanya keajaiban yang dapat membawanya kembali. Saya sudah memberikan obat untuk meningkatkan ketahanan tubuhnya, tapi ini seperti tubuh pangeran sendiri yang menolak untuk sembuh"

"Apa maksudmu?"

"Obat yang saya berikan selalu ditolak oleh tubuh pangeran. Maafkan saya yang mulia, saya sudah mengerahkan sagala pengetahuan pengobatan yang saya tahu. Tapi saya juga tidak dapat memberikan kabar baik. Maafkan saya, saya siap atas segala hukuman anda" sang tabib jujur, iapun bingung dengan keadaan sang pangeran. Obat-obat yang ia berikan tidak memberikan efek baik bahkan berbalik menjadi racun bagi tubuh sang pangeran. Ia merasa gagal tentu saja. Hukuman apapun yang nanti diterimanya akibat ketidakbecusannya akan ia terima dengan lapang dada

"Sembuhkanlah anakku. Tolong" Sang permaisuri sangat terpuruk saat ini

"Maafkan saya yang mulia, saya sudah kehabisan cara" ucap sang tabib sambil berlutut. Ia tahu akan seperti apa nasid selanjutnya dirinya.

"Aku tidak akan menghukummu, tapi aku memrintahkanmu untuk tetap merawat putraku dalam ketidaksadarannya ini"

"Dengan segala horma. Saya akan mengabdikan seluruh hidup hanya untuk menjaga yang mulia pangeran"

"Kyuhyunie eomma tidur yang nyenyak ne, nanti kalau sudah hilang sakitnya bangunlah. Eomma selalu disini menungumu kembali" dengan linangan air mata ia kecup dahi sang putra

"Sabarlah yeobo...suatu hari Kyuhyunie kita pasti akan kembali" Hangeng juga ingin emnangis tapi ia harus dapat menguatkan sang istri. Siapa lagi yang dapat diharapkan sang istri sebagai penguat jika bukan dirinya.

Hari demi hari berlalu. Kyuhyun tetap tenang dalam tidurnya. Kondisinya tidak semakin membaik tapi tidak juga semakin memburuk. Tetap sama.

...In Other Side...

Kyuhyun terbangun ditengah sebuah padang rumput berwarna ungu. Oke sebut saja hamparan lavender.

"Dimana aku?" Seingatnya ia terbaring di kamarnya. tapi mengapa ia bisa ada disini sekarang?

Kyuhyun memilih bangun kemudian berjalan di hamparan lavender tersebut. Berharap enemukan orang-orang yang dikenalnya. Atau setidaknya ia harus tau dimana ia berada sekarang

Kakinya terus menapak. Entah sudah berapa lama ia berjalan. Iapun tak tau. Terlalu putus asa namun anehnya fisiknya tidak merasan lelah sama sekali.

"Eomma~~ Appa~~" ia terus berjalan sambil memanggil dua orang terkasihnya

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah bukit di tengah hamparan lavender tersebut. Bukit yang indah. Bgaimana tidak indah jika bukit tersebut diselimuti oleh benda-benda berkilau dengan beragam warna. Sepertinya kristal. Indah tapi berbahaya disaat yang bersamaan, lihat saja ujung-ujung runcing dari sebagian kristal disana.

Kyuhyun tidak tau mengapa hatinya seperti tertarik untuk menggapai puncak bukit tersebut. Tanpa pikir panjang segera saja ia daki bukit indah tapi mengerikan tersebut. Ia terus berjalan naik. Ia yakin ada sesuatu diatas sana

Ia semakin cepat menaiki bukit sehinnga tanpa sadar semakin mempercepat langkahnya hingga ia tergelincir dari jalan yang seharusnya.

"Arrrgghh" sebuah kristal tajam berhasil menembus tubuhnya tepat di jantung. Kyuhyun batuk darah. Oh apakah ini akhir hidupnya? Mati mengenaskan di usia yang masih sangat belia. Ia bahkan belum sempat membahagiakan kedua orang tuanya. Tuhan...biarkanlah Kyuhyun menangisi nasibnya untuk yang terakhir kalinya.

Kesadarannya menipis. Darah semakin banyak terbuang. Kulitnya semakin memucat dengan bibir yang semakin membiru. Saat akan menutup matanya sebuah suara menginterupsi

"Hey...kau sudah mati?"

'Siapa' batin Kyuhyun

Ia buka kembali matanya yang hampir tertutup selamanya tersebut dan menemukan seorang anak seusianya yang berdiri angkuh dihadapannya. Tatapan dalam obsidiam hitam itu sangat tajam, seakan melarannya untuk beralih menatap pada yang lain

"Kka-kau si—siapah?" Tertatih. Ia bertanya disela napas beratnya yang putus-putus

Anak itu tidak bergeming. Ia terus menatap Kyuhyun dalam. Hingga akhirnya mata yang sudah redup itu terpaksa melotot karena aksi anak di depannya

Jleb..

Anak itu mengambil sebuah pecahan kristal dan menancapkan ke jantungnya. Ia berlumur darah tapi masih dapat berdiri tegak

"Yyakk..apa uhuk ya-yang kau uhuk la-lakukan?!" terkejut. Sungguh. Tapi suaranya terlalu pelan. Ia kehabisan tenaga

Beberapa detik kemudian muncul sebuah benda bercahaya dari dalam diri si anak dengan obsidian hitam. Benda yang awlanya satu itu kemudian terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian masuk dalam tubuh Kyuhyun sedangkan bagian lain kembali pada diri si anak lain tadi

"Kau menarik. Dengan ini aku membagi kehidupanku denganmu. Hiduplah dan kembali bawa aku dalam kesucian. Datanglah padaku. Hanya untukku" anak itu berkata sambil tersenyum lembut. Sangat lembut

Senyum lembut yang menjadi hal terakhir yang disaksikan Kyuhyun sebelum matanya tertutup sempurna

Flashback Off...

Setelah kejadian itu, Kyuhyun kembali bangun tepat ketika peringatan ulang tahunnya yang kesebelas. Tentu saja ia disambut tangisan haru orang tuanya. Sejak saat itu, Kyuhyun tak lagi sakit-sakitan, ia malah semakin kuat.

Untuk mendapatkan sesuatu tentu ada hal yang harus dikorabnkan bukan? jika tubuhnya yang awalnya lemah menjadi lebih kuat, maka sikapnya pada orangtuanya yang awalnya hangat menjadi sangat dingin. Ia kembali bangun sebagai seorang pangeran Tan Kyuhyun yang dingin dan apatis.

Awalnya Heechul sangat tertekan dengan perubahan drastis sikap putranya, tapi kemudian ia mencoba mengerti dan lebih memilih untuk bersyukur karena kembalinya sang putra tercinta. Tidak apa-apa sikapnya demikian, selama ia hidup dengan baik. Heechul sudah bahagia. Dan Hangeng hanya dapat mendukung semua keputusan sang istri

Tok...tok...tok

"Yang mulia, ini saya Kim Kibum" suara seorang namja terdengar setelah sebelumnya mengetuk pintu kamar Kyuhyun

Kyuhyun segera beralih dari lukisan tadi menuju pintu. Menemuai seorang namja bernama Kibum.

Kibum merupakan salah satu orang kepercayaannya, atau bisa dibilang kaki tangan Kyuhyun. Kibum berperawakan tampan dengan tinggi yang tidak kalah dari Kyuhyun

Krieeettt...

"Ada apa?"

"Anda harus ke aula rapat sekarang, yang mulia raja mengadakan rapat dadakan" Kibum berucap sambil membungkuk hormat

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun pergi ke tempat yang dimaksudkan. Dengan Kibum yang mengekor dibelakangnya.

'apa sudah saatnya' Kyuhyun membatin

.

.

.

.

.

Akhirnya Yesung sampai ke tempat tujuannya. Gedung rapat. Semua orang dalam ruangan tersebut membungkuk hormat pada Yesung kecuali ayahnya yang duduk tenang di singgasananya. Tak ingin berbasa basi, Yesung kemudian memposisikan diri di samping kanan sang ayah.

Setelahnya muncullah Sungmin yang langsung menempatkan pantatnya di kursi di sebelah kiri sang ayah. Jangan heran dengan kedatangan Sungmin. Walaupun terkesan manja, ia ikut andil dalam peperangan.

Oh akhirnya terjawab. Pertemuan ini sengaja dilakukan untuk membahas peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Gencatan senjata sudah tidak berguna lagi ketika salah satu pihak mengingkari perjanjian yang telah disepakati.

"Yang mulia" Seorang menteri datang tergesa-gesa pada sang raja

"Ada apa"

"Kerajaan Tarteis mencoba bertelekomunikasi dengan kita"

"Baiklah. Hubungkan" Titah sang raja

Selanjutnya, tiga orang dengan posisi sebagai maker dari setiap elemen berkumpul di tengah ruang rapat. Mereka duduk membentuk sebuah segitiga. Di sisi pertama ada Siwon sabagai water maker, sisi kedua ada Yunho sebagai vegetal maker dan sisi ketiga diisi oleh Jaejong sebagai wind maker. Mata mereka terpejam fokus untuk menerima komunikasi dari pihak seberang hingga muncullah sebuah tabir yang menghadap langsung kearah raja.

Awalnya samar-samar hingga akhirnya muncullah raja dan orang-orang dari Tarteis Kingdom di tabir tersebut.

"Apa maumu" Tanya Kangin langsung

"Perang" Hangeng menjawab sambil menyeringai. Oh ia mulai jengah dengan ketenangan

Kangin? Hanya menatap datar. Ia sudah tau cepat atau lambat hal ini pasti terjadi

"Pantas saja kau lebih dahulu bergerak dan mengganggu wilayah kekuasaanku"

"Oh kau sangat tau aku bukan raja Kangin yang terhormat"

"As your wish Tarteis!"

Ok. Genderang perang akhirnya bertabuh!

Setelahnya tabir itu mulai menghilang hingga—

Sepasang karamel dan obsidian itu saling bertemu tatap. Si pemilik karamel sedikit tertegun sementara si pemilik obsidian lebih memilih memutuskan kontak mata tersebut.

'Kau...mungkinkah?' batinnya

TBC

Review?