Ok, karena author sudah janji untuk update di bulan Mei, maka fic ini pun berhasil di update bulan Mei… tanggal 31 dan di jam yang udah mepet-mepet. Kita langsung masuk ke sesi balasan review~
Shiroe Ino: Terima kasih sudah menunggu *peluk*. Udah hobbynya author buat nulis kata tbc setelah adegan menegangkan(?) /heh. Makasih reviewnya~
khamyauchiha23: Woaaa kalau gitu selamat bergabung di keluarga ffn XD. Fic ini masih akan terus update kok, mohon bantuannya yaaa *membungkuk*. Arigatou untuk reviewnya :3
Itou kyuu-chan: Hai, ganbarimaaaasu~ Author harus nyelesaiin tunggakan(?) fic SasuIno yang lain dulu nih, wkwk. Makasih reviewnyaaa
xoxo: Ini sudah dilanjut, selamat membaca :) Arigatou reviewnyaaa XD
vianna: Maaf karena suka susah untuk fast update :" Tapi ini sudah diusahakan update mepet-mepet di akhir bulan Mei, makasih reviewnya~
INOcent Cassiopeia: Makasih banget udah review chapter sebelumnya juga *peluk-pelukin*. Selama masih ada yang menunggu saya berusaha untuk ga hiatus kok /halah. Soal cinta segitiga dan hubungan Itachi sama ibunya Ino itu masih jadi rahasia perusahaan XD. Arigatou reviewnyaaa
Nuyusshu: Huaa makasih udah jadi pembaca setia fic ini, maaf ya authornya lambat banget kalau udah urusan update gini, padahal ngetiknya sih ga sampe selama itu, tapi nunggu ilham untuk ide ceritanya yang lama. Makasih reviewnya XD
amay: Oke, makasih udah menunggu~ selamat membaca, arigatou udah review :3
Chii: Mungkin Itachi muncul kalau jadwalnya udah gak sibuk(?) /bukan. Wkwk, lebih menarik kalau tokoh cowoknya semakin banyak XD. Makasih reviewnyaa~
Tyara: Apa sih yang engga buat kamuuu? /ih. Ini udah dilanjut yaa XD Selamat membaca. Arigatou reviewnya ^^
inuzukarei15: Hari ini dilanjut, di akhir bulan Mei, wkwk. Makasih reviewnya XD
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Only One Day © Hime Uguisu
Pairing:
Sasuke. U – Ino. Y
Summary:
Aku membenci kehidupan datar yang selama ini kualami. Hingga akhirnya hari itu tiba. Pada awalnya aku menurutimu hanya karena takut, tapi perlahan aku tahu hatiku tak dapat berbohong lagi. Itu semua karena aku nyaman bersamamu. SasuIno, GaaIno(?). RnR
Only One Day
By
Hime Uguisu
A
Naruto Fanfiction
Ino's POV
Malam itu aku sungguh menyesali perbuatan bodoh dan gegabahku. Mencoba mencari pelaku pembunuhan berantai? Yang benar saja, Ino! Bahkan sheriff kota ini pun datang untuk mencarinya dengan membawa banyak orang. Ia tidak cukup gila untuk menangkapnya sendirian. Sedangkan aku? Mungkin aku merasa diriku lebih hebat dari sheriff saat itu.
Aku menatap Sasuke yang tetap berjalan memasuki pintu belakang hotel ini. Pemuda itu terus menatap kami dengan tatapan waspada, lengkap dengan tangannya yang tak melepaskan pistolnya. Gaara tak berkomentar apapun lagi. Begitu pula denganku. Kami berdua hanya mengikuti Sasuke dalam diam.
Aman. Tidak ada orang lain di sekitar kami sekarang. Pintu dapur tertutup rapat. Para resepsionis terlihat masih berjaga di tempatnya. Hanya ada beberapa tamu yang duduk di ruang depan. Tempat kami berdiri sekarang terhalangi oleh dua tangga yang berlawanan arah namun sisi belakangnya menyatu dan terlihat seperti bentuk segitiga. Kami dapat mengintip sedikit keadaan di balik tangga. Sasuke pun berjalan ke arah kiri demi menaiki tangga yang mengarah ke kiri.
Perlahan, langkah pemuda Uchiha itu meniti anak tangga. Kepalanya menghadap ke belakang, tetap menatap kami tanpa mengkhawatirkan langkah kakinya. Gaara berpindah posisi menjadi ke sisi kananku, namun tanggannya masih tetap sibuk menahan lenganku dan mengarahkan pisau ke leherku. Aku berusaha mengikuti irama langkahnya. Salah sedikit saja, pisau itu benar-benar akan menyentuh kulit leherku lagi.
"Tuan Gaara?" Suara seorang wanita mengagetkan kami. Mataku menatap lurus pada sumber suara yang berada dari lantai atas. Gadis dengan surai merah muda sedang berdiri di depan tangga lantai atas. Sepertinya ia hendak menuruni tangga ini. Iris emerald itu tampak menyiratkan kebingungan melihat keadaan kami saat ini. Sasuke yang memegang pistol. Gaara yang menodongkan pisau padaku. Tentu pemandangan seperti ini akan membuatnya bertanya-tanya. Tapi satu hal yang membuatku bingung. Barusan, ia memanggil 'Tuan Gaara', kan?
Mendengar namanya disebut, Gaara menurunkan tangannya yang sejak tadi mengarahkan pisau ke leherku itu. Ia mencoba bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
DOR
Belum sempat ia membalas kata-kata gadis yang kukenal sebagai resepsionis hotel ini, suara tembakan sudah terdengar lebih dulu. Perhatianku yang semula tertuju pada gadis di lantai atas itu kini beralih menatap Sasuke. Onyx itu menatap dingin. Peluru pistolnya berhasil melesat dengan cepat tanpa memedulikan keadaan sekitar. Detik berikutnya, aku tidak merasakan lagi tangan yang menahan pergelanganku. Dan selanjutnya, suara benda terjatuhlah yang menarik perhatianku lagi.
Mengalihkan pandangan dari Sasuke, dan melihat ke samping. Gaara sudah tidak berdiri di sana. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan kaget dari bawah. Bukan Gaara yang berteriak, tapi orang-orang yang sedang duduk-duduk di lantai bawah hotel. Sepertinya mereka kaget melihat seseorang jatuh dari tangga dengan memegangi bahunya yang mulai berdarah.
Aku masih tertegun melihat Gaara di bawah, hingga kurasakan lengan kananku ditarik paksa. Sasuke memaksaku berlari mengikutinya. Aku pun mengikuti langkahnya yang cepat dalam melewati setiap anak tangga sambil sesekali melihat ke bawah. Beberapa orang tampak mencoba mendekati Gaara dan membantunya. Namun ia menepisnya pelan dan berusaha berdiri sendiri. Menatap tajam ke arah kami berdua, hingga membuatku tak berani lagi melihat ke arahnya.
Kami berlari melewati gadis resepsionis yang masih terdiam kaget melihat keadaan di hadapannya. Kami berhasil menginjakkan kaki ke lantai dua. Beberapa pintu kamar terbuka dan menampakan orang-orang yang mencoba melihat keadaan. Mungkin mereka kaget juga karena mendengar suara tembakan tadi. Sasuke mengacuhkan semua orang dan tetap berlari menarikku menuju kamar tempat kami menginap. Ia membuka pintu itu dengan cepat dan menutupnya rapat setelah aku berhasil memasuki kamar itu juga. Menguncinya. Mengambil kotaknya yang terdapat di bawah tempat tidur dengan tergesa-gesa.
"Sasuke, kau mau apa?" tanyaku yang merasa tak bisa hanya diam menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga," jawabnya sambil membuka kotak itu. Memeriksa barang-barang yang terdapat di sana.
"Pergi? Sekarang? Ini sudah malam, kita akan ke mana?"
"Cerewet! Sekarang kau pilih, ikut bersamaku atau mati di tangannya? Cepat tentukan atau kau akan kutinggalkan di sini." Nada bicaranya meninggi. "Lagipula bagaimana ceritanya hingga kau bisa diserang oleh orang seperti itu, hah? Apa kau mencuri barang-barangnya?"
"Tidak! Tentu saja aku tidak mungkin mencuri seperti itu!" Aku balas membentak. Tidak terima dituduh seperti itu.
"Lalu apa?"
"A-aku hanya…" ucapanku terhenti. Menyisakan Sasuke dengan tatapan penasaran demi menunggu jawaban lengkapku. "Mencoba mencari tahu apakah ia pelaku pembunuhan berantai itu," jawabku dengan suara yang semakin pelan.
"Atas asas dasar apa kau melakukan hal konyol seperti itu? Sheriff menyuruhmu? Ada yang membayarmu kalau kau berhasil menangkapnya, hmm?" Pertanyaan Sasuke terdengar sangat sinis dengan ekspresi wajahnya yang merendahkan. Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri. Tak bisa balas membentak lagi.
"Karena di malam sebelumnya, ada seorang pemuda yang menolongku dengan aroma amis darah di sekelilingnya. Jadi, saat kau memberi tahu berita itu padaku, tentunya aku sangat penasaran."
"Pemuda yang kau banggakan padaku waktu itu ternyata benar-benar seorang pembunuh bayaran dan dia mengejarmu karena kau menjadi saksi mata? Bagus, Ino. Bagus!" Sasuke menyimpulkan kejadian itu dan tak melanjutkan lagi pembicaraan kami. Ia kembali sibuk berkutat dengan barang-barang, sebelum akhirnya menutup kotak itu. "Sekarang, apa pilihanmu?" tanyanya lagi setelah ia selesai menyiapkan keperluannya dan berdiri di depan jendela cukup besar yang terbuka.
"Kau akan pergi dari jendela itu? Ini lantai dua, jangan bercanda!" bukannya menjawab, aku malah membentak lagi. Suara langkah kaki yang terdengar mendekat mengalihkan perhatianku dan Sasuke pada pintu kamar. Lalu terdengar juga suara beberapa orang.
"Tuan Gaara, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa ada penjahat di dalam hotel ini?"
"Anda terluka! Biar kami obati dulu luka Anda!"
Aku semakin kebingungan. Apa ia adalah orang yang cukup terkenal di kota ini? Di antara suara-suara itu tak kudengar suara Gaara. Mungkin ia memilih untuk diam.
"Di mana letak kamar dua orang yang melarikan diri tadi?" DEG. Jantungku rasanya tak karuan saat mendengar suara dingin itu. Sepertinya tak jauh dari pintu kamar kami.
"Tepat dua pintu dari tempat Anda berdiri sekarang, Tuan Gaara." Suara perempuan terdengar menjawab pertanyaannya. Membuatku panik seketika. Bagaimana orang-orang itu malah membantu Gaara? Kenapa mereka membantu seorang pelaku pembunuhan berantai? Tapi… mereka tentu tidak tahu jika Gaara adalah pelakunya.
"Cih, masih mengejar rupanya." Sasuke pun kembali fokus menatap jendela di depannya. Membiarkan angin malam yang seakan menusuk memasuki ruangan ini. "Ino, cepat ke sini atau kutinggal."
"Tapi ini lantai du… Sasuke!" Teriakku pelan saat melihatnya melempar kotak ke bawah tanpa pikir panjang. Dan yang lebih membuatku kaget lagi, ia menduduki bingkai jendela itu. Terlihat menurunkan tubuhnya pelan-pelan. Aku pun berlari mendekatinya agar bisa melihat apa yang ia lakukan. Berdiri di hadapan jendela. Sasuke berusaha berpijak pada kayu yang terdapat di atas jendela luar lantai bawah. Ketika berhasil mendaratkan kedua kakinya pada kayu tersebut, ia pun melompat. Membuat tanganku bergerak dengan sendirinya. Berusaha meraihnya. Namun, ternyata ia sudah berhasil mendarat dengan sempurna di halaman belakang.
"Ino, kau juga cepat lompat!" perintahnya.
"Mustahil, aku tidak akan bisa…" bisikku ketakutan. Sementara itu, aku mendengar suara benturan yang keras dari arah pintu. Sepertinya ada yang mencoba mendobrak pintu. Bagaimana ini? Pasti Gaara yang melakukannya. Pikiranku sudah benar-benar kacau. Menatap bergantian antara Sasuke yang terus memberi isyarat padaku untuk melompat dan pintu yang semakin bergetar karena berusaha didobrak. Tapi di sela-sela kepanikanku, aku masih dapat mendengar suara pintu lain yang terbuka.
"Ada rebut-ribut apa ini? Kenapa ada anak sheriff di sini?" Kemudian terdengar suara laki-laki.
"Aku ditugaskan ayah untuk menangkap dua orang penjahat yang berusaha melarikan diri. Sekarang mereka bersembunyi di dalam kamar ini." Suara Gaara terdengar menjawab pertanyaan laki-laki itu. Apa? Anak sheriff? Ayah? Gaara adalah anak sheriff?
"Baiklah, saya akan mencoba menembak pintu ini." Suara berikutnya membuatku bertambah panik. Kualihkan lagi pandanganku pada Sasuke.
"Cepat loncat! Aku akan menangkapmu, percayalah! Kita tak punya waktu lagi!" bentak Sasuke. Aku berusaha meyakinkan hatiku. Lagipula, jatuh ke bawah memang lebih baik daripada ditangkap dengan tuduhan palsu itu.
"Benar, ya? Aku akan lompat sekarang." Tanganku memegang kedua sisi bingkai jendela. Mendudukan diriku di jendela dan melakukan persis seperti yang tadi Sasuke lakukan. Mencoba berpijak pada hiasan kayu jendela di bawahku. Menatap Sasuke lagi. Aku pun melompat dari tempatku berpijak ke arah Sasuke yang tangannya sudah siap menangkapku.
Tangan itu berhasil menangkapku. Aku jatuh ke pelukannya. Membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Namun, ia berhasil menjaga keseimbangannya. Tangannku masih memeluk lehernya erat. Sedikit sakit juga saat badanku terbentur dengan badannya. Perlahan ia menurunkan badanku. Membuat kakiku kembali menyentuh tanah. Tubuhku masih bergetar dan entah kenapa tanganku sulit sekali melepaskan pelukan di lehernya ini.
"Sudah aman sekarang." Sasuke berbisik di telingaku karena aku tak juga melepaskannya. Sadar akan apa yang aku lakukan, aku pun mulai melepaskan pelukanku.
"Ah iya, maaf," ujarku gugup dan tak sengaja menatapnya. Mendapati mata onyx yang juga sedang menatapku. Tatapannya benar-benar dalam. Membuatku semakin gugup. "Sasuke…" gumamku pelan.
DOR
BRAK
Terdengar suara keras dari lantai atas. Itu pasti suara pintu kamar yang berhasil dibuka. Bisa gawat kalau mereka melihat ke arah jendela dan mendapati kami berdua masih berada di sini. Sasuke pun segera berlari ke arah kandang dan melepaskan ikatan kudanya. Menaikinya lebih dulu. Sebelah tangannya memegang tali kekang, dan sebelahnya lagi mencoba meraih kotak yang aku berikan padanya. Aku pun berusaha menaiki pijakan kaki yang masih terpasang pada kuda ini. Mendudukan diri di belakangnya. Ia kembali menyerahkan kotaknya padaku. Aku pun memeluk erat kotak itu dan merapatkan tubuhku pada Sasuke.
Baru saja Sasuke hendak memberi isyarat pada kudanya untuk berjalan, kami dikagetkan dengan pintu belakang yang terbuka dengan keras. Menampakkan sosok Gaara dengan napas tak beraturan. Di bahu kanannya terdapat ikatan kain putih dengan noda merah. Peluru itu benar-benar melukai bahunya. Ekspresi dinginnya berubah menjadi penuh kebencian. Melihatnya, Sasuke segera menarik tali kekangnya. Membuat kuda ini berjalan.
Kepalaku menatap ke belakang. Gaara terlihat segera melepaskan salah satu kuda dan menungganginya. Tidak ada satu pun orang yang menghentikannya. Bahkan semua orang itu tidak ada yang terganggu dengan aksi Gaara yang asal mengambil kuda tanpa izin. Mereka malah menatap kami dengan tatapan tak percaya. Dengan cepat, Gaara memecutkan tali kekangnya. Kuda itu tampak kaget dan segera berlari. Ia mengejar tepat di belakang.
"Sasuke, di belakang! Belakang!" seruku panik.
"Iya aku juga mengetahuinya kok." balasnya yang ikut memecutkan tali kekang. Membuat kuda yang kami tunggangi berlari lebih cepat. Kepalaku berkali-kali menoleh ke belakang. Walau takut melihatnya, aku tetap ingin tahu sudah sejauh apa jarak di antara kami. Semakin dekat. Kami kini berlari di tengah jalanan kota yang sudah tidak terlalu ramai. Beberapa pasang mata yang berpapasan dengan kami menatap kaget. Semua berusaha menyingkir dari jalan. Baik Sasuke maupun Gaara tidak ada yang peduli pada tatapan itu. Mereka hanya menatap lurus.
"Kita akan ke mana sekarang?" tanyaku sambil menatap punggung Sasuke.
"Aku juga tidak tahu. Yang penting kita harus berhasil pergi dari kejarannya. Ino, kalau kau ingin cepat selesai, cepat ambil pistol di saku celanaku!" bentaknya.
"Aku harus menembaknya? Kau bercanda? Aku tidak mau menggunakan pistol lagi!"
"Kau terlalu banyak protes. Aku bisa saja mendorongmu agar kuda ini dapat berlari lebih cepat dan aku bisa menyelamatkan diri sendiri," ujarnya. Aku terdiam mendengarnya. Tega sekali ia bisa berpikir seperti itu. Tanpa bicara lagi, aku pun berusaha mengambil pistol di saku celananya. Ini sulit sekali karena aku harus menjaga diriku agar tidak terjatuh dan sebelah tanganku tetap memegangi kotaknya. Ketika aku berhasil meraih pistol itu dan memegangnya, aku menatapnya berkali-kali. Meyakinkan diriku untuk menembaknya. Aku pun menoleh lagi ke arah Gaara. Pemandangan yang kudapati semakin membuatku takut untuk menembaknya. Ia tampak sedang mencoba melempar pisau ke arah kami.
"Sasuke ia akan melempar pisau ke arah sini!" teriakku.
"Sial, merepotkan sekali!" Sasuke menarik tali kekang lagi demi membelokkan arah berlari kuda kami. Ia terus melakukannya hingga posisi kami berpindah-pindah. Membuat Gaara tak kunjung melempar pisaunya juga. "Kenapa belum kau tembak juga sih?"
"Aku tidak berani!" Mendengarnya, Sasuke mengerang frustasi.
"Kalau begitu berikan lagi padaku!" bentaknya. Menurut, aku pun memberikan pistol itu padanya. Ia mengambilnya dengan tangan kiri sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan. Tangan kanannya tak melepaskan tali kekang sedetik pun. Kuda kita akan sedikit kehilangan keseimbangan. Jatuhkan kotaknya dan peluk aku kalau kau tak mau jatuh!" perintahnya.
"Tapi bagaimana dengan isinya?"
"Aku sudah menyimpan uangnya di saku celana. Isi kotak itu hanya pakaian, lempar saja!" Walau agak ragu, aku tetap melempar kotak itu dan memeluknya erat.
Ia memiringkan tubuhnya untuk menatap ke belakang. Kepalanya menoleh ke kiri mengikuti tangan yang memegang pistolnya. Ia pun mulai menekan pelatuknya. Sepertinya peluru itu meleset karena aku masih dapat mendengar dengan jelas suara langkah kuda yang mengejar kami. Terdengar suara tembakan yang kedua. Keadaan pun masih sama. Sesekali Sasuke menatap kembali ke depan sebelum akhirnya menoleh lagi ke belakang untuk menembak ke arah Gaara.
Ketika Sasuke kembali menoleh ke depan, aku mendengar suara langkah di belakang kami semakin cepat. Menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan, aku malah mendapati Gaara sudah berada di samping kanan kami. Sasuke menatapnya tak percaya. Sebelum ia berhasil menekan pelatuknya lagi, Gaara sudah lebih dulu menusuk tangan kanan Sasuke yang masih memegang tali kekang. Membuatnya terkaget dan refleks melepaskan tali kekang kuda kami. Aku yang masih memeluknya pun ikut tak seimbang. Keadaan diperparah dengan Gaara yang menendang kuda kami. Membuatnya ikut terkaget dan terhentak. Kami yang hampir terjatuh pun akhirnya benar-benar terjatuh ketika Gaara kini menendang Sasuke dari kanan.
Aku bahkan tidak bisa berteriak saat kami terjatuh ke arah stand kosong yang terbuat dari kayu. Yang terdengar hanya suara teriakan seorang wanita selain aku, suara kayu yang patah, dan suara tubuh berbenturan dengan jalan. Sasuke yang masih memegangi tangannya tidak sempat melakukan perlawanan dan pertahanan apapun. Samar-samar kulihat Gaara melompat dari kudanya dan berjalan ke arah kami. Kepalaku terasa sangat pusing akibat benturan ini.
"Ada apa ini, Tuan Gaara?!" suara wanita itu terdengar sangat panik.
"Maaf merusak tokomu. Aku hendak menangkap kedua pencuri ini," jelas Gaara yang kini mengeluarkan borgol dari saku bajunya. Aku bahkan tidak menyangka jika ia membawa benda seperti itu karena sejak awal ia hanya menahanku menggunakan tangannya sendiri. Dengan kasar, ia menarik lengan kiriku dan lengan kanan Sasuke, lalu memborgol tangan kami. "Tolong bantu aku membawa mereka ke kantor sheriff." Dengan sekali perintah, orang-orang yang sejak tadi berdiri menatap kami penuh takut pun menurut. Menarik tubuhku dan tubuh Sasuke, mendorong kami dengan kasar, memaksa kami untuk berjalan sesuai perintah mereka. Aku ingin sekali protes, namun melihat Sasuke yang hanya diam membuatku mengurungkan niat. Pistolnya sudah terjatuh tadi. Tangan kanannya juga terluka, cairan merah terlihat menetes perlahan mengotori jalanan yang dilewatinya. Ini semua salahku.
.
.
.
"Ada apa ini?" Sosok sheriff yang hanya kulihat sekilas waktu itu muncul bersama suara beratnya. "Kenapa ada banyak orang berkumpul di sini? Dan siapa kedua orang ini?" pertanyaan itu terdengar sangat sinis. Tatapan matanya yang dingin menyelidk ke arah kami. Saat ini aku dan Sasuke hanya terduduk di atas lantai kayu dengan keadaan tangan kami yang masih terborgol.
"Aku hanya menangkap dua orang pencuri," jawab Gaara yang berdiri di belakang kami. Ia mulai berjalan mendekati sheriff dengan langkah yang terlihat ragu. Sheriff itu hanya terdiam. Matanya menatap seluruh orang yang masih berada di ruangan ini.
"Aku rasa sudah cukup bantuannya. Terima kasih." Mata itu kini beralih menatap pintu keluar. Jelas sekali mengisyaratkan orang-orang yang tadi membantu menangkap kami untuk segera keluar dari rumah itu. Tanpa suara, semuanya pun berjalan keluar. Meninggalkan rumah ini dengan hanya sheriff, Gaara, aku, dan Sasuke. Gaara hanya menunduk dan tak menatap wajah sheriff sama sekali. Ia juga masih berusaha membuat jarak di antara mereka. Gaara yang dingin dan tak ragu melakukan kekerasan itu hanya dibuatnya tertunduk takut, aku tak mengerti orang macam apa sheriff itu.
"Apa aku memerintahkanmu untuk menangkap pencuri?" Suara baritone memecah keheningan kami. Gaara tak menjawab dengan suara, hanya gelengan kepala yang ia berikan. "Apa aku bilang ada laporan soal pencuri yang sedang berkeliaran?" Lagi, gelengan itu ia berikan. "Jadi, siapa yang memerintahkanmu melakukan ini? Siapa yang bilang kau boleh sembarangan berkeliaran di kota?" Pertanyaan berikutnya tak dijawab oleh Gaara sama sekali, bahkan sekedar menjawab dengan gerak tubuh pun tidak.
Aku terus memperhatikan mereka hingga aku terkejut melihat sheriff menendang perut Gaara tanpa ragu. Membuat tubuh itu tersungkur tepat di depanku dan Sasuke. "Kalau begitu urus mereka. Eksekusi saja secepatnya dan jangan pernah ikut campur lagi dalam urusanku." Setelah berkata begitu ia pun berjalan menuju pintu utama, menguncinya dan menyimpan kunci itu dalam sakunya. Pergi meninggalkan kami. Menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua rumah ini. Gaara hanya menahan rintihannya. Pasti sakit sekali karena bahunya yang terluka juga terbentur saat ia terjatuh.
"Gaara?" Aku memberanikan diri membuka percakapan di antara kami. "Aku tidak akan memberitahu siapapun soal apa yang kau lakukan malam ini di jalan buntu itu. A-aku mohon, kau memikirkan lagi soal ekseku-"
"DIAM!" bentaknya sambil berusaha berdiri. "Kau dengar tadi? Aku berhak untuk mengeksekusi kalian secepatnya." Wajahnya yang menahan kesakitan itu kini berubah. Memperlihatkan senyuman yang menyeramkan. Matanya yang terbuka lebar menatap kami. Tangannya menggenggam pisau dengan bercak darah kering yang masih menghiasi. Mengarahkan ujung pisau tajam itu tepat di depan dahiku.
"Ino! Cih, sial! Dia bilang tidak akan memberitahu siapapun, kan?! Cepat lepaskan!" Sasuke terlihat marah sabil terus berusaha melepaskan tangannya dari borgol. Percuma, borgol itu tidak akan lepas.
"Dan kau pikir aku akan percaya?" Dimainkannya pisau itu di depan dahiku. Beberapa millimeter lagi dan pisau itu benar-benar dapat mengenai kulitku.
"Aku mohon, aku masih harus mencari ibuku! Perjalananku tidak bisa berhenti sampai di sini! Aku harus menemukan ibuku bagaimanapun caranya!" Tanpa sadar aku berteriak padanya. Kupejamkan mataku. Takut melihat apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi pisau itu tidak terasa bergerak lagi. Kubuka mataku perlahan. Melihatnya hanya terdiam menatapku dalam.
"Mencari ibumu?"
"Iya, sungguh aku tidak bohong! Aku melakukan perjalanan ini dengan Sasuke untu mencari orang," jawabku.
"Kalau kuperhatikan lagi, aku ingat sosok wanita berambut pirang sepertimu pernah bersama pria berambut hitam. Terlibat baku tembak di depan kantor sheriff ini dengan beberapa orang yang bukan penduduk kota." Kata-kata Gaara berhasil membuat mataku membulat seketika. Wanita berambut pirang? Bersama pria berabut hitam?
"Itachi… kau pernah melihat Itachi?!" Kini Sasuke juga tampak terkejut sepertiku.
"Aku tidak tahu namanya. Aku hanya melihat mereka dari balik jendela rumah ini. Tapi aku ingat di hari sebelumnya mereka sempat menanyakan pada ayah soal rute menuju kota tertentu."
"Ke mana? Mereka menanyakan rute ke mana?" Sasuke bertanya dengan tidak sabar. Ia terlihat begitu penasaran dengan setiap jawaban Gaara saat ini. Gaara kembali diam dan mulai tersenyum merendahkan.
"Apa kau berpikir aku akan memberitahukannya dengan mudah?" Mendengarnya, Sasuke terlihat sangat ingin memukulnya. "Kalau kau bisa mengambil kunci yang dibawa oleh ayah dan menyerahkannya padaku, aku akan dengan senang hati memberitahukannya padamu." Ia pun mengeluarkan sebuah kunci dan melepas borgol kami. Merasa berhasil bebas, Sasuke berusaha menendang Gaara namun gagal karena Gaara sudah lebih dahulu menodongkan pistol pada kami. Itu pistol milik Sasuke yang terjatuh saat di jalan tadi. "Kalau kalian berani melakukan perlawanan, aku akan dengan senang hati juga mengeksekusi kalian sekarang. Di sini." Merasa tak punya pilihan, Sasuke pun kembali diam.
"Hanya perlu mengambil kuncinya kan?"
"Jika kau menyerangnya, maka pasti ia akan balas menyerangmu. Dan tentu saja jika kau membuat kegaduhan, orang-orang akan segera berdatangan ke sini."
"Kenapa tidak kau dobrak saja pintu rumah ini, Sasuke?" tanyaku yang membayangkan sehebat apa sheriff itu sampai Gaara saja ketakutan berhadapan dengannya tadi.
"Aku bilang aku ingin kau mengambil kuncinya. Tidak akan menarik jika mendobrak pintunya. Lagipula jika ia mendengar suara berisik di bawah, maka ia akan segera turun dan mengejar kalian."
"Kau…" Sasuke mengepalkan tangan kirinya. Lagi-lagi menahan diri untuk tidak menyerang pria bersurai merah di hadapannya. Aku hanya bisa mencoba menenangkan Sasuke. Sekarang apa yang harus kami lakukan? Aku dan Sasuke sama sekali tidak memegang senjata. Kami juga tidak mungkin merebut paksa senjata yang dipegang oleh Gaara, bisa berbahaya kalau sampai Gaara menekan pelatuknya dan menyebabkan suara gaduh yang bisa membuat sheriff segera turun. Tapi kalau begitu bagaimana kami bisa mengambil kunci itu dari sheriff?
"Akan kubunuh kau kalau sampai tetap menghalangi kami saat kami berhasil mengambil kuncinya!" bentak Sasuke. Ia menyerah dan memilih mengikuti kemauan Gaara yang kemudian duduk tenang dengan senyuman kemenangannya. "Ayo Ino, ikut aku!" perintahnya. Menurut, aku pun mengikuti Sasuke yang berjalan menjauh dari Gaara. Kami pun terdiam di sebuah dapur yang tak jauh dari tempat Gaara duduk mengamati kami. Ia menyalakan air keran dan membiarkan tangannya yang terluka di bawah air itu. Setelah beberapa saat dan ia sudah membersihkan sisa darah yang telah mengering, Sasuke pun terduduk di atas lantai kayu ini. Memberikan isyarat padaku untuk melakukan hal yang sama.
"Apa kau punya rencana?" tanyaku sambil mendudukan diri di hadapannya. Aku berusaha berbicara dengan suara sepelan mungkin agar tidak terdengar Gaara. Sasuke merobek lengan bajunya dengan bantuan gigi serta tangan kirinya. Memberikan kain itu dan mendekatkan tangan kanannya yang terluka padaku. Darahnya sudah tidak menetes. Aku pun membalut luka itu dengan kain bajunya tadi.
"Kita harus memikirkannya sekarang. Aku memang tidak punya senjata, tapi mungkin kita bisa menggunakan pisau yang ada di dapur ini untuk membunuh Gaara. Ino, kau yang akan menarik perhatiannya dulu. Lalu, aku akan-"
"Tunggu, bukankah kita akan mengambil kuncinya? Kenapa kau merubah tujuan awalnya?"
"Persetan dengan kunci itu. Kita hanya perlu membunuh Gaara lalu mendobrak pintu, pergi menjauh dari kota gila ini!"
"Bagaimana kita bisa pergi dengan selamat dari sini setelah mendobrak pintu? Sheriff akan turun dan melihat mayat anaknya tergeletak lalu melihat pintu depan yang rusak. Bagus Sasuke, kita benar-benar akan jadi penjahat buronan."
"Kita kan hanya perlu menghilang sebelum sheriff turun."
"Apa kau pikir dengan hanya berlari kita dapat kabur dari kejaran sheriff dan para penduduk kota yang sudah melihat wajah kita sebagai penjahat? Kita juga sudah tidak memiliki kuda." Mendengar kata-kataku, Sasuke tidak jadi membantah. Ia semakin terlihat kesal.
"Ini semua salahmu. Kalau begitu kau yang harus memikirkan rencananya. Terserah, aku tidak peduli bagaimanapun juga kita harus berhasil pergi dari sini malam ini juga." Kini aku yang tak bisa membalas kata-katanya. Ia benar, dari awal ini semua salahku. Karena pikiran bodohku ini Sasuke juga harus menerima akibatnya. Bahkan ia yang jadi terluka. Sedangkan aku? Hanya terus mengandalkan Sasuke. Sejak aku tiba di rumah Uchiha itu, Sasuke yang menolongku. Pria angkuh ini yang menolongku. Aku tidak bisa seperti ini terus. Mataku memperhatikan dapur ini. Mencari apakah ada benda yang dapat kugunakan.
"Sasuke, bagaimana kalau kita membuatnya keluar dari kamar? Apa selanjutnya kita bisa menyerangnya dengan tangan kosong dan membuatnya tak sadarkan diri?"
"Kita? Memangnya kau bisa melakukan sesuatu sebelum peluru timahnya melubangi kepalamu? Kerja sama macam apa yang bisa aku lakukan denganmu?" pertanyaannya terdengar amat sinis di telingaku.
"Setidaknya aku bisa memegang salah satu sisi benang pancing yang ada di atas rak itu saat kau memegang sisi lainnya. Seperti itu juga sudah bisa disebut kerja sama kan?"
"Ino… rencanamu bisa juga kita coba!"
"Hah? Rencana?"
.
.
.
TBC
Fiuuuuh, akhirnya berhasil juga update tepat waktu. Bulan ini ternyata malah jadi sibuk ngurus berkas…. dan nonton juga /plak. Untuk chapter 5 mungkin bisa saya kejar sebelum masuk bulan Juli, yaaa semoga sempat :"
Makasih buat yang masih tetap setia membaca. Semoga masih tetap mau baca juga untuk chapter-chapter selanjutnya~
