Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Fukai Aijou © Haruno Aoi
Setting: AU
Warning: Mungkin sangat OOC, alur sangat cepat
Note: Prekuel dari Aisu Kurimu (es krim). Fukai Aijou (perasaan cinta yang mendalam).
.
.
.
Ai wa moumoku,
ai ni jouge no sabetsu nashi.
Cinta itu buta,
cinta tidak memandang derajat.
.
.
.
-::- Fukai Aijou -::-
*Jepit Rambut*
.
.
.
Awal musim panas tahun itu, Hinata pulang ke rumah dengan senyum mengembang. Seseorang yang ingin ditemuinya untuk pertama kali adalah pemuda berambut merah penghuni kamar di lantai dua kediamannya, pemuda yang paling berperan untuk kebahagiaan yang dirasakannya saat itu.
Masih di koridor lantai satu, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Belum ada tanda-tanda kehadiran orang lain di rumahnya yang bergaya tradisional. Sepertinya Hanabi masih berada di sekolah. Ah, ia baru ingat kalau hari itu Hanabi akan pulang hingga menjelang jam makan malam karena mengikuti ekskul bela diri karate. Adiknya yang tomboy itu sepertinya masih bertekad untuk menjadi pelindungnya.
Hinata menekan keraguan di hatinya dan memberanikan diri untuk menaiki tangga guna mencari keberadaan Gaara. Dengan tubuh yang seolah menggigil kedinginan pada musim panas, ia mencoba meraih pintu geser di hadapannya. Niatnya belum tercapai ketika ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari arah belakangnya.
"Mencariku?"
Secara refleks Hinata membalikkan tubuhnya dengan cepat hingga punggungnya membentur dinding di samping pintu. Matanya yang semula lebih membulat, menjadi normal kembali kala ia menghembuskan napas yang menandakan kelegaan. "Baru pulang?" tanyanya dengan tergagap sembari memperhatikan tas selempang berwarna coklat tua yang masih menggantung di salah satu pundak Gaara.
Pemuda bermata hijau itu hanya mengangguk, kemudian menggeser pintu kamar sewaannya. "Mau masuk?" Gaara bertanya sebelum kakinya melangkah lebih jauh.
Sambil merunduk dan berjalan kaku, Hinata menyusul Gaara yang sedang meletakkan tas di meja belajar. Ia meremas amplop coklat yang ia genggam di balik punggung saat berusaha mengangkat wajahnya. "Kapan Kakak libur kuliah?"
Kening Gaara terlihat mengernyit sebelum ia menjawab pertanyaan Hinata, "Besok, 'kan Sabtu."
Tawa paksa terdengar pelan dari mulut Hinata. Ternyata rasa bahagia sanggup mengaburkan ingatan dan konsentrasinya. "Kerja?" ia kembali bertanya dengan terbata.
"Kau ingin aku meliburkan diri?"
Hinata terlihat gelagapan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Gaara. Sejurus kemudian, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memang berharap menjadi seseorang yang bisa menemani Gaara di saat senggang. Namun, bukan berarti ia menyuruh Gaara untuk bolos dari kerja paruh waktunya. Ia tidak ingin menyulitkan Gaara yang sering direpotkannya, setidaknya ia merasa seperti itu.
"Aku hanya ingin mentraktir Kakak karena aku sudah mendapatkan gaji pertamaku," balas Hinata takut-takut.
"Besok, kah?" Gaara menduduki kursi di depan meja belajarnya dan masih belum mengalihkan perhatian dari Hinata yang berdiri dengan canggung. "Aku bisa," ujarnya.
Sontak mulut Hinata terbuka dan matanya tepat memandang dua pupil hijau Gaara. "Kalau Kakak tidak bisa, jangan memaksakan diri," katanya dengan gugup.
"Aku tidak akan berujar bila tanpa pembuktian," sahut Gaara. Ia menghidupkan kipas angin yang berdiri di dekat meja belajarnya karena berada di dalam ruangan ternyata juga sama panasnya dengan di luar rumah. "Jadi?"
Hinata tampak berpikir sejenak. "Kalau Kakak diberhentikan, jangan salahkan aku, ya…" ucapnya pelan sembari membiarkan pandangannya tertuju pada jemari kakinya yang bergerak gelisah.
"Santai saja."
Wajah Hinata yang merona tidak hanya disebabkan oleh ucapan Gaara, tetapi, karena sepertinya ia mendengar tawa pelan pemuda berambut merah itu.
.
.
.
Mencuci piring setelah makan, sudah menjadi rutinitas para penghuni kediaman Hyuuga. Seperti yang dilakukan Hinata, setelah sarapan ia juga membersihkan peralatan makan Hanabi dan Gaara karena ia memang sedang mendapatkan giliran.
"Kau mau mentraktirku apa?"
Suara Gaara sedikit mengejutkan Hinata yang sedang mengelap tangan basahnya ke apron ungu pucat yang masih dikenakannya. Ia berbalik dan menghadap pemuda jangkung itu setelah melepaskan apron. Melihat Gaara yang sudah rapi dengan kaus merah hati berlengan pendek dan celana jeans hitam, Hinata mengulum senyum.
"Come with me…" katanya kikuk dengan pipi merona, membiarkan Gaara mengekor padanya yang mulai berjalan menuju pintu depan.
.
.
.
Senyum Hinata mengembang ketika memasuki pintu taman ria. Akhirnya setelah hampir satu jam berada di dalam kereta, keduanya tiba juga di tempat yang dijanjikan oleh Hinata. Taman ria yang mereka datangi memang tidak terlalu luas karena Hinata menyesuaikan dengan pendapatannya. Tetapi, taman ria sederhana itu juga dipadati pengunjung, tidak kalah dengan taman ria yang berada di pusat kota. Hinata menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, banyak stan-stan yang bisa dikunjungi. Kalau berjalan lebih jauh ke depan akan menemukan wahana-wahana yang sudah sangat dirindukannya. Sudah lama ia tidak datang ke taman ria sejak orang tuanya meninggal. Lain kali ia harus berhasil mengajak Hanabi yang sebelumnya menolak untuk ikut serta.
Baru beberapa langkah dua insan itu melangkahkan kaki, pasangan berkostum beruang yang menjadi maskot taman ria langsung menyambut kedatangan mereka. Pipi Hinata merona tatkala seorang tukang foto langsung jadi menawarkan jasanya. Sebenarnya wajahnya memerah karena pria paruh baya itu mengira bahwa ia dan Gaara adalah sepasang kekasih. Dengan sedikit dipaksa, dua anak manusia tersebut akhirnya bergaya di antara dua beruang yang selalu tampak tersenyum lebar.
Gaara yang menukarkan uangnya dengan satu lembar hasil jepretan sang fotografer, merasa tidak menyesal karena melihat senyum malu-malu Hinata di foto tersebut. Ia yang memang jarang menunjukkan ekspresi secara berlebihan, hanya berwajah datar walau beruang berpakaian perempuan menggandeng lengannya dengan manja. Sedangkan Hinata yang berdiri di sebelahnya malah merona karena beruang yang mengenakan celana merangkul pundaknya dengan tangan yang tidak menggenggam banyak balon.
Hinata yang berdiri di samping Gaara juga masih mengamati selembar foto itu dengan senyum yang tak kunjung pudar. Setelah Gaara menyerahkan foto kepadanya, ia memasukkannya secara hati-hati ke tas kecilnya agar tidak kusut. Ia pasti akan merindukan taman ria itu bila suatu hari kembali melihat gambar yang memuat kenangannya bersama Gaara.
Tanpa meminta persetujuan dari Gaara, Hinata memberanikan diri untuk menggelandang pemuda itu ke stan es krim yang bercat warna-warni. Ia memesan dua cone es krim rasa vanilla sebelum Gaara sempat mengeluarkan protes. Es krim sudah berada di kedua tangannya, ia mengajak Gaara menduduki salah satu bangku panjang di dekat stan yang terlindungi dari terik matahari menjelang siang di musim panas.
"Aku tak suka es krim yang mengandung susu," ujar Gaara saat Hinata mengangsurkan satu cone es krim vanilla padanya. Seharusnya Hinata tahu kalau es krim yang dibelinya tidak akan melepaskan dahaga, malah akan membuat Gaara semakin merasa haus. Melihat Hinata yang hanya mengernyitkan kening dengan sebelah tangan yang masih menyodorkan es krim yang hampir meleleh kepadanya, Gaara mendengus sebelum menambahkan, "Di musim panas, lebih cocok makan es serut."
"Kalau es serut, aku bisa mentraktir Kakak di toko jajanan dekat rumah," sahut Hinata sembari menjilat es krimnya.
"Es krim vanilla juga ada di mini market dekat rumahmu," balas Gaara.
"Iya, sih…" gumam Hinata dengan kepala yang sedikit menunduk, "Tapi, Kakak harus mencobanya dulu."
Gaara tidak tega melihat wajah Hinata yang memelas. Bagaimanapun gadis itu telah berbaik hati mengajak Gaara merasakan hasil jerih payahnya selama sebulan. Meskipun sebenarnya pemuda bermata hijau tersebut sama sekali tidak mengharapkan balasan atas saran yang diberikannya kepada Hinata untuk melamar pekerjaan ke Sabaku Hotel. Namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat menghargai niat baik Hinata.
"Baiklah," desahnya. Karena ia adalah seorang manusia yang masih mempunyai hati, ia menerima pemberian Hinata dan langsung mencicipinya.
"Aku tahu Kakak akan suka," Hinata berkata riang seraya melanjutkan menikmati es krimnya.
"Aku lebih suka cokelat daripada es krim."
Hinata menghentikan kegiatannya, dan untuk sesaat menengok ke arah Gaara yang tampak setengah hati memakan es krimnya. "Kalau es krim cokelat?" tanyanya ragu.
"Cokelat."
"Keras kepala," gumam Hinata, berharap agar Gaara tidak mendengarnya. Sayangnya ia melupakan kalau Gaara memiliki pendengaran yang tajam.
"Apa yang baru saja ku dengar adalah pujian?"
"Eh?" Hinata tampak sangat terkejut sebelum meneruskan mengulum es krimnya. Disertai senyum yang sedikit meledek, ia berkata dengan lirih sembari menganggukkan kepala untuk mempertegas pernyataannya, "Mungkin."
Tentu saja Gaara dan Hinata pergi ke taman ria tidak hanya untuk makan es krim. Hinata yang terlihat lebih bersemangat dan mengajak Gaara mencoba macam-macam wahana yang disediakan. Dari roller coaster, bianglala, hingga komedi putar. Untuk komedi putar, Gaara hanya menunggu di luar wahana dan tersenyum tipis kala menerima lambaian tangan dari Hinata.
Hinata merasa lega setiap kali melihat Gaara berdiri di tempat yang sama ketika kuda-kudaan yang ditumpanginya berputar pada poros dan membuatnya menangkap pemandangan yang berbeda di sekelilingnya. Suatu ketika ia merasa bingung karena pada putaran ke sekian Gaara tidak ada di tempat sebelumnya. Ia takut, sangat takut andai Gaara meninggalkannya seorang diri.
Gadis berambut lurus itu mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan air bening yang mengumpul di pelupuk matanya. Saat putaran berhenti, ia bergegas keluar wahana dan berlari ke sana ke mari di antara para pengunjung taman ria yang membentuk kelompok-kelompok. Hingga akhirnya Hinata hanya mampu terpaku di tengah orang-orang yang berjalan hilir mudik, dan sesekali memutar tubuhnya dengan mata berkaca-kaca. Air matanya sudah hampir tumpah ketika ia merasakan dekapan sepasang lengan kekar di sekitar lehernya. Ia pasti sudah memekik bila tidak segera mendengar suara dari sosok yang memeluknya dari belakang, seseorang yang dengan mudah menemukannya di antara kerumunan orang.
"Kalau kau hilang, Hanabi pasti mematahkan tulang-tulangku."
Hinata tertawa kecil di tengah tangisan dalam diamnya. "Jangan meninggalkanku…" gumamnya lirih.
Perlahan Hinata merasakan pundaknya menjadi ringan kembali. Pada saat bersamaan, sebuah gantungan kunci berbentuk es krim berada di depan wajahnya. Apa benda mini berbahan flanel itu yang sebelumnya membuat Gaara menghilang?
Kala langit sudah berwarna jingga, Gaara dan Hinata berada di dalam kereta yang membawa mereka pulang. Gerbong yang mereka tumpangi lebih sepi dibandingkan saat mereka berangkat ke taman ria. Gaara duduk dekat pintu kereta, dan Hinata tepat di sebelahnya. Pemuda bermata tajam itu langsung menoleh ke arah Hinata tatkala merasakan pundaknya mendapatkan beban. Ternyata gadis yang tertidur karena kelelahan itu menjadikan bahunya sebagai bantal. Di tengah guncangan kereta yang terus melaju, Gaara turut menumpukan kepalanya dan memejamkan mata setelahnya.
.
.
.
Menjadi waiter di rumah makan tidak hanya memotivasi Gaara untuk bersikap lebih ramah, tapi juga membuat Gaara bertemu dengan banyak wajah baru. Dan, tidak menutup kemungkinan ia akan bertemu dengan orang lama, seseorang yang belum ingin ditemuinya pada saat itu. Bukan seorang individu yang dibencinya, hanya gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
"Aku akan berbicara dengan orang tuamu di lain kesempatan," ujarnya pada gadis berambut merah muda di hadapannya.
"Baiklah," seusai menggumamkannya, gadis seindah musim semi itu tersenyum manis. Ia kemudian kembali ke salah satu meja di pojok ruangan dimana keluarganya sedang menyantap makan siang, meninggalkan Gaara yang masih mengawasinya dari dekat pintu dapur.
"Sepertinya kau salah tempat, Tuan Sabaku," celetuk pemuda berambut hitam yang hendak memasuki dapur.
"Bisakah kau tutup mulut?" desis Gaara sambil melirik pemuda yang menggunakan anting di telinganya itu.
.
.
.
Kalender di dapur kediaman Hyuuga menunjukkan pertengahan menjelang akhir bulan Agustus. Musim panas yang menyesakkan akan segera berakhir. Malam itu, Hanabi mengajak Hinata menyaksikan pesta kembang api yang diadakan tidak jauh dari rumah mereka. Di sepanjang jalan menuju kediaman Hyuuga bergantungan lampion-lampion, dan stan-stan makanan sudah berjejer rapi. Pasangan kekasih, sekelompok remaja, anak-anak, dan orang tua yang kebanyakan mengenakan yukata serta membawa kipas, mulai membeli jajanan sekaligus menuju lokasi yang paling strategis di sekitar taman, yang secara otomatis melewati jalan di depan rumah Hinata.
Di musim panas, toko pakaian di dekat kediaman Hyuuga juga menjual yukata laki-laki dan perempuan dengan motif paling digemari pada tahun itu. Hinata bahkan membelikan yukata untuk Hanabi, sebagai hadiah ulang tahun yang tertunda. Hanabi yang biasanya lebih nyaman mengenakan celana dan kaus, sore itu bersedia didandani kakak perempuannya. Setelah rambutnya disanggul dan ditata sedemikian rupa, Hanabi mengenakan yukata berwarna kuning muda dengan motif bunga krisan merah muda. Hinata juga membantunya mengikat obi yang berwarna merah muda. Sentuhan terakhir, Hinata menyematkan hiasan rambut berbentuk bunga krisan yang juga berwarna merah muda di helai coklat Hanabi.
"Kau cantik sekali, Hanabi…" puji Hinata sembari mengarahkan Hanabi ke depan cermin. Ia tersenyum geli karena jarang melihat pipi Hanabi yang merona merah.
Hinata yang sudah mengenakan yukata berwarna ungu muda, dengan motif ajisai biru dan obi ungu tua, kembali menduduki kursi di depan meja riasnya. Gilirannya menata rambut indigo panjangnya. Ia hanya mengikat menyamping keseluruhan rambutnya, lalu ia menyematkan hiasan rambut yang menyerupai buah anggur untuk mempermanis penampilannya.
"Kak Gaara pasti jatuh cinta pada Kakak…"
Bisikan Hanabi di telinganya, membuat wajah putih Hinata hampir senada rambut Gaara. Ia segera bangkit dan mengejar Hanabi yang berlari ke luar kamar dengan langkah sempit karena yukata menyebabkan pergerakannya terbatas. Hinata terhenti di dekat pintu ketika mendengar suara Gaara di luar sana. Sepertinya Hanabi sengaja menahan Gaara di depan pintu kamar tidurnya untuk membuatnya semakin merasa gugup. Dengan dada berdebar-debar, Hinata memupuk keberanian untuk menampakkan dirinya.
Hanabi mengambil alih ember dan gayung kayu yang dipegang oleh Gaara saat perhatian pemuda itu terpusat pada Hinata yang keluar kamar dengan kepala merunduk. Tanpa sadar, belum sekali pun matanya berkedip ketika pandangannya seolah menelanjangi Hinata. Hingga akhirnya ia memalingkan wajahnya kala dua pemuda bersemangat memasuki rumah tanpa izin.
.
.
.
Bagaikan pengawal, Kiba dan Lee berjalan di sisi kanan kiri Hanabi. Malam itu Kiba mengenakan yukata bercorak abu-abu dan hitam, sedangkan Lee mengenakan yukata hitam yang bercorak hijau yang merupakan warna kesukaannya. Mereka bertiga berjalan sambil sesekali belok ke suatu stan untuk membeli topeng atau kincir angin. Tak jauh di belakang mereka, Hinata berjalan berdampingan dengan Gaara yang menyejajarkan langkah dengannya. Berbeda dengan Hyuuga bersaudara dan dua pemuda bersemangat, Gaara hanya mengenakan celana hitam panjang dan kemeja berlengan pendek warna putih tulang yang dilapisi cardigan coklat dengan lengan yang ia singsingkan hingga siku.
"Yukata itu cocok untukmu," Gaara membuka percakapan dengan Hinata yang sejak keluar rumah hanya bungkam.
Saking senangnya, gadis bermata lavender itu tidak sanggup membalas ucapan Gaara. Dengan pipi merona, ia memperhatikan furin yang dijual di atas jembatan merah yang sudah ramai dengan para pengunjung pesta kembang api. Dentingan lonceng berbahan keramik atau kaca itu terdengar saling bersahutan karena hembusan lemah angin musim panas. Obrolan ringan orang-orang di sekitar mereka, juga lampion-lampion yang bergantungan di sepanjang jalan, menambah semarak suasana.
Baru menginjakkan kaki di jembatan, Hinata menghentikan langkahnya mengikuti Gaara yang terpaku di depan penjual aksesoris.
"Pilih yang kau suka," Gaara memerintah dengan nada ajakan.
Walaupun agak ragu, Hinata menuruti perintah Gaara dan mengambil jepit rambut berbentuk strawberry. "Merah…" gumamnya sambil memandangi jepit strawberry yang dipegangnya, "seperti rambut Kak Gaara…"
"Secara tidak langsung, Kakak mencela rambut Kak Gaara," celetuk Hanabi yang tiba-tiba muncul di belakang Hinata.
Hinata terlihat gelagapan dan malah tidak mampu untuk berkata-kata setelah melihat senyum lebar Hanabi.
"Kalau rambutmu, seperti blueberry," timpal Gaara, yang membuat Hinata secara refleks menyentuh rambutnya. Belum sempat Hinata membalas, Gaara sudah mengambil jepit strawberry dari tangannya dan menyematkannya di rambut biru tuanya.
"Arigatou," ucap Hinata lirih dengan wajah memanas sembari menyentuh strawberry yang sudah menjepit helaian rambut di salah satu sisi kepalanya. Ia beranikan dirinya untuk membalas tatapan Gaara sembari menyunggingkan senyum canggung.
Tidak lama setelah mereka menginjakkan kaki di atas jembatan, kembang api pertama meledak di langit hitam tanpa awan. Keduanya mengambil tempat di tepi jembatan, diikuti Hanabi beserta Kiba dan Lee. Mereka berlima mengagumi keindahan berbagai bentuk kembang api yang beraneka warna dari pagar jembatan. Selain bunga, kembang api yang meledak di langit juga berbentuk hewan yang lucu dan sederetan kata ucapan yang mampu menciptakan senyum bagi para penikmatnya.
"Takoyaki harus dimakan selagi hangat," kata Hanabi seraya mengangsurkan satu porsi takoyaki kepada Hinata. Entah kapan gadis berambut coklat itu meninggalkan tempat menontonnya dan membeli takoyaki untuk kakaknya. "Berdua dengan Kak Gaara, ya…" bisiknya dengan nada menggoda saat Hinata sudah menerima pemberiannya.
Walaupun malu, Hinata menyodorkan takoyaki kepada Gaara yang tengah menyaksikan kembang api ke sekian yang meledak di langit. Saat Gaara menoleh, ia menusuk satu di antara enam makanan bulat berbahan gurita itu dan menyerahkannya pada pemuda bermata hijau tersebut. Tanpa disangkanya, Gaara sedikit membungkuk agar bisa makan dari suapannya. Sebelumnya ia mengira bahwa Gaara akan mengambil alih tusuk takoyaki dan makan dengan tangannya sendiri.
"Oishii…" gumam Gaara.
"Lagi?" Hinata bertanya dengan ragu-ragu dan terbata.
Sekali lagi Hinata dikejutkan oleh aksi Gaara. Ia benar-benar tidak menduga kalau pemuda itu akan bergantian menyuapinya. Sontak warna merah kembali menjalari pipi putihnya dan organ pemompa darahnya berdegup dengan kencang.
"Kau juga harus makan," kata sang pemilik lingkaran hitam di mata.
Disertai keinginan membenamkan wajah di bantal, perlahan Hinata menerima suapan dari Gaara. Pada saat yang sama, suara batuk yang dibuat-buat serta ledekan yang bermacam-macam dikeluarkan oleh tiga remaja berisik yang berdiri tidak jauh dari keduanya. Ternyata adegan suap-suapan Gaara dan Hinata lebih menyita perhatian mereka dibandingkan bunga api yang terus meledak di langit.
"Mulai tahun ini, ada seseorang yang aku inginkan berada di sampingku saat melihat kembang api di musim panas," ujar Gaara saat keadaan kembali tenang.
Entah mengapa Hinata menjadi berharap agar dirinya termasuk dalam seseorang yang dimaksud oleh Gaara. Karena seindah apapun bentuk dan warna kembang api yang dinyalakan, sama sekali tidak akan menyenangkan bila disaksikan seorang diri. Kembang api mudah menghilang setelah meledak di langit, tapi karena itulah gunanya menonton bersama orang lain. Meskipun misalnya nanti Gaara akan lupa dengan aneka bentuk dan warna kembang api, pasti yang akan selalu diingat sampai tahun berikutnya adalah wajah dari seseorang yang berada di sampingnya.
"Semoga tahun depan masih diadakan pesta kembang api di sini," ucap Hinata seraya tersenyum manis. Dalam hati, ia mengamini ucapannya sekaligus memanjatkan permohonan lain.
"Aku tahu yang sebenarnya kau inginkan."
Gadis berpipi chubby itu tertawa kecil. "Mudah ditebak, ya?" lirihnya. Ia menunduk, sehingga sungai yang hampir kering menjadi pemandangan yang ditangkap oleh indera penglihatannya. "Aku ingin menyaksikan pesta kembang api lagi setelah musim panas tahun ini," gumamnya sambil memejamkan mata, "Bersama orang-orang yang ku sayangi."
Jika harapan menjadi kenyataan, maka rasa bahagia akan meluap-luap dalam dada. Namun ada yang tidak boleh dilupakan, terkadang realita tak seindah rencana.
.
.
.
Ai wa hashika no gotoku,
kakara nebanaranai byouki dearu.
Cinta itu laksana penyakit campak,
semua orang harus merasakannya.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih sudah bersedia membaca. Sampai jumpa.
Friday, August 05, 2011
