CLAY
"Siapa yang membunuhnya?", Kim Seokjin membuyarkan lamunan pria yang terseret kembali ke dalam ingatan terpahitnya, menemukan mayat Kim Taehyung terbaring tak bernyawa di kamar hotel, peluru yang menembus jantungnya. Semua itu salah Jungkook, kalau ia tidak bersikap egois dan mementingkan dirinya sendiri. Kalau dia tidak memiliki keangkuhan yang begitu berbahaya, harga diri yang membuatnya kehilangan segala hal.
"Russian Cybercrime", Jungkook mengutarakan fakta dengan pandangan kosong, "Ia membunuhnya. Ia membunuh Park Jimin, Jung Hoseok. Semua yang kumiliki", Jungkook berkali kali mengguratkan kuku pada punggung tangannya, tak menyadari kulit yang mengelupas dan darah yang mulai mengalir.
Seokjin memejamkan matanya, "Hentikan".
Jungkook menoleh dengan manik hitam yang kosong.
"Berhenti menyakiti dirimu sendiri", Seokjin menarik tangan Jungkook yang bergetaran hebat, membiarkan tahanan itu mengatur napasnya yang pendek pendek dan tidak stabil, ingatannya yang berulang kali memutar trauma itu.
"Kami bukan sebuah organisasi rahasia, kami hanya sekelompok remaja yang ingin membuktikan diri sendiri", Jungkook melanjutkan setelah warna kembali membasuhi wajahnya yang pucat pasi. Ia memberikan jeda yang panjang, membiarkan suara baling baling kipas angin berderak di atas kepalanya.
"Semuanya berawal dari aksi pertama kami yang hanya didasarkan pada kesenangan".[]
Aku terduduk di belakang sebuah van berwarna hitam yang berhasil dicuri Hoseok dari lapangan parkir minimarket 24 jam. Aku merasa sedikit gelisah akan fakta kalau aku sudah terlibat ke dalam sebuah aksi kriminal. Walaupun aku seorang hacker, aku berusaha sebaik mungkin untuk menghindari dunia kriminalitas—tetapi aku justru terseret semakin dalam. Taehyung berjanji kepadaku untuk mengembalikan van itu ketika semuanya sudah selesai. Setidaknya, aku berharap keparat kecil itu tidak bermain main.
Van berwarna hitam itu berhenti di gedung NBO yang tengah dikerubungi pers. Kim Taehyung berulang kali memberitahukan kepada kami rencana yang sudah disusunnya dari semalam. Sangat disayangkan, aku tidak terlibat dalam diskusinya. Rasanya janggal ketika kau adalah bagian dari sebuah kelompok, namun mereka merahasiakan sesuatu darimu. Taehyung meyakinkanku bahwa dia hanya ingin memberikan sebuah kejutan kecil kepada teman terbaiknya—yang dimana, berhasil membuatku memutar mata malas.
"Jimin dan Jungkook, kalian yang akan berkerja. Kook, kau hanya perlu memberikan akses laptop presentasi kepada Jimin, mengerti?", Taehyung meremas pundakku terlalu kencang, wajahnya berada terlalu dekat dengan milikku, hidung kami nyaris bersentuhan ketika ia berbicara. Bola mata pria itu membeliak dengan seringai lebar menghiasi bibir. Seluruh ekpresi yang menandakan betapa sintingnya Kim Taehyung.
"Tae, bukankah kita sepakat aku yang akan berperan?", tanya Hoseok memprotes, melirikku dengan tatapan menyelidik, membuatku merasa pria itu ingin menyingkirkanku dari kelompok kecilnya cepat atau lambat. Kalau bukan karena Taehyung, mungkin mereka sudah menendangku keluar.
"Keputusanku sudah bulat", Taehyung menepuk punggungku kasar sembari meraih kunci mobil dari tangan Hoseok. Ia pun mendorongku keluar dari van dengan senyum mendukung. "Ingatlah, kalau kau melakukan kesalahan sekecil apa pun, kita akan mati".
Aku mengangguk gugup, tidak merasa termotivasi sama sekali oleh kalimat penyemangatnya. Park Jimin tertawa melengking di sampingku, merangkulku sangat erat, nyaris mencekik leherku ketika kita berjalan mendekati antrian para pembicara dari berbagai negara.
"Santai saja, okay?! Jangan tegang, jangan terlihat mencurigakan!", ujar Jimin yang tampak sangat mencurigakan dengan senyum lebar dan suaranya yang sekeras toa.
Akses masuk kita sudah dibereskan oleh Jimin yang telah mencuri berkas identitas anggota NBO kemarin malam. Ia hanya perlu mencetak ulang kartu identitas anggota sembari memalsukan miliknya sendiri.
Kami tiba di depan pintu yang dijaga ketat oleh keamanan, tidak mengejutkan karena banyak orang penting yang menghadiri pertemuan politik NBO. Aku sendiri tidak mengerti organisasi apa yang sedang mereka serang, apa motivasinya, dan mengapa disembunyikan dariku. Karena jujur, aku tidak berniat untuk berkhianat sama sekali.
Pria berbadan kekar yang menjaga di samping pintu mengamati Jimin sembari menyodorkan tangannya, "Identitas anda, Sir?".
Jimin tersenyum percaya diri, memperlihatkan kartu keanggotaan NBO dari dalam saku jasnya. Taehyung sudah menata ulang rambutku ketika kami berada di dalam van, memberikanku setelan mahal yang untungnya masih terlihat simpel. Tapi, aku sudah merasa seperti menempati tubuh orang lain, seperti identitasku juga menghilang ketika aku bermain peran.
Park Jimin melangkah masuk tanpa kendala, namun pria berotot itu menahan dadaku ketika aku hendak mengikuti, "Tolong tunjukkan identitas Anda".
Tubuhku menegang.
Identitas apa?! Taehyung tidak menjelaskan tentang ini, kukira Jimin juga sudah mengatur semuanya. Tapi ia hanya menatapku sembari tersenyum nakal. Keringatku sudah membanjir deras, aku berusaha menguatkan ekspresiku yang tidak mencurigakan, walau sebenarnya aku merasakan gelisah luar biasa.
"Apa kau tidak mengetahuinya?", Jimin seketika mendekat kearahku. "Dia Kang Jungri, pembicara dari Korea Selatan", pria berotot itu tidak bergeming ketika Park Jimin menghela napas dengan dengusan jengkel. "Ayolah, jangan membuang waktuku. Dia si Jungri, pembicara itu?".
Aku kembali terkesan ketika pria itu mengangguk dan mempersilahkan kami masuk ke dalam gedung NBO. Bulu kudukku merinding ketika menangkap kehadiran Badan Intelejen yang berjaga di sekitar ruangan meeting.
Jimin menyelinap dengan gesit ke lantai atas, meninggalkanku seorang diri, kebingungan di antara para tamu yang berdiskusi ricuh di sekelilingku. "Jimin!", aku mendesis dengan suara kecil, pria itu berpaling dengan senyuman lebar. "Apa yang harus kulakukan?!", aku mendekatinya, berusaha tampil senatural mungkin diantara para politikus.
"Kau lihat laptop presentasi itu?", Jimin mengangguk ke panggung. "Pasti terhubung dengan server lain. Kau hanya perlu menyambungkan laptop itu dengan jaringanku sehingga aku mendapatkan akses untuk meretasnya, mengerti?".
Pria itu tidak menunggu responku yang masih diam membeku, ia langsung menempatkan dirinya di lantai atas gedung NBO. Aku menarik napas panjang, tidak ingin gagal dalam aksi pertamaku di sebuah kelompok sungguhan. Akhirnya, aku merasa menjadi bagian dari sesuatu, tidak dikucilkan dalam masyarakat.
Aku harus berhasil.
Aku berjalan mendekati panggung, melirik ke sekeliling. Orang orang terlihat sibuk berdiskusi dengan koleganya, mereka tidak melihat kearahku yang melintas mendekati podium. Aku melekatkan alat peretas pada mikrofon di samping podium pembicara, sebelum bergerser dan mengutak atik laptop presentasi.
Aku tidak terlihat. Tidak ada yang peduli dengan keberadaanku. Aku tidak akan terlihat.
Aku terkejut ketika mataku terpaku ke ujung panggung, seorang pria botak yang berwenang dalam teknisi acara mengernyit kepadaku curiga, hendak mendekat ketika aku tersenyum dan mengangguk singkat kepadanya. Kalimat Taehyung serasa berputar kembali dalam otakku, memberikanku kepercayaan diri.
Pria itu pun melewatiku tidak acuh.
Aku menghela napas lega, segera mengubah sever yang tersambungkan pada laptop presentasi dengan jaringan yang disediakan Jimin di lantai atas. Setelah koneksi terhubung, aku segera melenyapkan diriku dari keramaian, kembali tidak terlihat diantara politikus yang bertepuk tangan ricuh.
Seorang pembicara dari Jerman menaiki undakan podium, berdeham dalam mikrofon sebelum mengakses laptop presentasinya. Ia membuka meeting dengan wibawa yang seperti menyatukan para politikus di ruangan itu, suaranya begitu lantang dan tegas, memberikan finalisasi pada keputusan meeting di akhir diskusi.
Pria berkumis putih itu pun menayangkan sebuah tautan tentang politik, atau lebih tepatnya—
Aku melebarkan bola mataku ketika Jimin meretas ke kamera kemanan dan mengunduh semua video yang merekam kejadian terbesar dalam hidupku.
Layar berubah menjadi animasi yang membuat mulutku tercengang lebar, itu animasi seekor anjing dengan wajah yang diganti menjadi politikus ternama yang kini sedang menjadi pembicara di atas podium.
Anjing itu membalikkan tubuhnya ketika seekor binatang dengan tulisan merah 'RAT' menyongsong ke arahnya dan melakukan tindakan seksual yang membuat perutku terpelintir hebat. Taehyung bahkan tidak repot repot mensensor kemaluan pria yang terdorong masuk begitu saja pada bagian privat politikus yang mengeluarkan suara tidak senohoh.
Adegan berganti dengan politikus yang menerima perlakuan seksual dari berbagai pihak secara langsung, semuanya berangsur bertubi tubi dengan segala jenis suara yang berhasil membuat wajahku memucat. Aku dapat mendengar Park Jimin yang tertawa tawa keras dilantai dua, Kim Taehyung tergelak puas dengan koleganya yang menerima segala unduhan rekaman, menyebar luaskannya di jejaringan sakral bernama internet.
Park Jimin melompat turun dengan gesit, menarikku keluar ketika ruangan diskusi berubah panas dan ricuh oleh teriakan protes dan tidak terima dari para politikus yang menjadi korban kesenangan mereka bertiga.
Jimin terbahak bahak histeris, mendorong kepalaku kembali ke dalam van untuk menemui Taehyung yang menyeringai dan langsung memelukku sangat kencang. "Kerja bagus! Kau lihat reaksi mereka, kan?!".
Hoseok terkekeh sinis, memperlihatkan sebuah video yang sudah diunduh di berbagai jejaring sosial, "Kurasa, Berlin akan dilanda konflik untuk beberapa hari kedepan".
Aku bahkan tidak bisa tersenyum, aku tahu aku telah salah melangkah. Ketiga pria ini adalah sampah masyarakat sama seperti diriku, melakukan aski protes besar besaran dengan tindakan anarkis, atau hanya murni untuk kepuasan mereka sendiri.
Aku berteriak panik ketika melihat serombongan pria yang berlari menuju van kami dengan tongkat pemukul teracung. Aku menjerit ketika mereka mulai menghancurkan badan van, jendela mobil dihantam dari berbagai sisi sebelum pecah berkeping keeping.
"PERGI!". ini pertama kalinya aku menyeru begitu lantang, mendorong Taehyung yang justru tertawa semakin keras. "Kita akan tertangkap! Kita harus pergi sekarang, Taehyung!".
Taehyung merangsek mundur sembari menyeringai lebar ketika tongkat pemukul itu berhasil memecah kaca belakang van, ia merogoh sakunya dan seketika memucat. "Kunci mobilnya tidak ada".
"Apa?!", Hoseok menyeru panik, merogoh kantung celanya dengan liar, tidak menemukan benda logam itu berada dimana pun. "Aku bersumpah kau yang memegangnya, Taehyung!".
"Tidak ada padaku!".
"MEREKA DATANG!".
"AKU TIDAK MEMILIKI KUNCINYA!".
Teriakan demi teriakan membuat jantungku bedebaran sangat keras bercampur dengan sumpah serapah para pria yang hendak menghabisi kami berempat. Aku pun merogoh ke dalam saku celana jinsku dan terkejut bukan main ketika menemukan kunci van itu berada padaku.
"HOSEOK, BAWA KITA PERGI, SEKARANG!".
Jung Hoseok langsung meraih kunci mobil itu dari tanganku dengan tatapan bingung, menyetir secepat kilat ketika Jimin tertawa tawa histeris, mengacungkan jari tengahnya kepada pihak keamanan yang mengumpat kasar. Taehyung bangkit dari tempat duduknya, melongokkan kepalanya keluar dari jendela yang hancur tak bersisa, sebelum mereka bertiga berteriak serempak.
"FUCK YOU!".
Ketiga jari tengah itu teracung tinggi, disusul dengan gelak tawa yang membahana di malam yang begitu dingin menggigit, meninggalkanku yang terduduk dengan pikiran berkecamuk, mengerti betul sudah sangat terlambat bagiku untuk berlari menjauh. Aku pun berteriak sekencang kencangnya, mengeluarkan kemarahan dan kebencianku kepada Berlin dan masyarakatnya yang meninggalkanku untuk mati.
Sampai aku bertemu dengan mereka, ketiga kolega yang sudah terasa seperti keluarga bagiku. Kami membuat kekacauan bersama, melarikan diri bersama dan tidak pernah menginggalkan siapa pun dibelakang.
Kim Taehyung pun mengembalikan van yang sudah pecah dan rusak diberbagai bagian ke lapangan parkir minimarket 24 jam sesuai dengan janjinya. Tidak lupa, pria itu mencoretkan tulisan 'SORRY' disepanjang badan mobil.[]
Kita adalah kelompok kecil yang melakukan sebuah aksi besar besaran dan kami membutuhkan sebuah markas untuk menyusun segalanya. Rumah nenekku adalah pilihan yang terbaik, nenekku menghilang kemarin malam dan ditemukan sedang berkeliaran di jalan raya Berlin. Ia memukuliku seperti orang gila ketika aku berusaha menolongnya. Dokter khusus yang menangani nenek sejak aku kecil, bersikeras agar ia dirawat pihak rumah sakit.
Dan dalam hitungan hari, ruang tengah nenekku berubah menjadi sarang seorang peretas. Komputer kami sudah terpasang dengan alat, kabel dan perangkat lunak lain yang akan membantu kami melakukan aksi. Jung Hoseok sedang berkonsentrasi dengan hardware dan mahakarya nya ketika Taehyung berteriak keras, menepuk pundakku dari belakang.
"Lebih dari satu juta penonton!".
Tidak pernah kusangka bahwa terobosan kami berhasil menarik atensi seluruh penduduk Kota Berlin. Video memalukan yang diunduh Hoseok sudah tersebar ke setiap sudut internet, berjuta juta penonton memutar ulang rekaman memalukan politikus dengan harga dirinya yang diinjak habis oleh sekumpulan anak remaja tanpa nama.
Namun, kalau kau ingin dikenal oleh masyarakat, menjadi desas desus yang beredar pada tiap area di Berlin, kau harus mempunyai sebuah nama yang mewakili kalian, merepresentasikan aksi yang kalian lakukan.
"Kita harus membuat sesuatu yang keren, sesuatu yang bagus!", Taehyung lebih bersemangat daripada yang lain, kecuali Jimin yang terkekeh keras ketika menonton ulang video pemberantasan para tikus politik itu. "Kita bisa menjadi seperti Anonymous", Hoseok menyuara dengan seringai lebar, "Seperti Lizardsec".
"Seperti—".
"MRX", aku dan Taehyung berucap serempak, saling melemparkan tatapan penuh arti.
"Tapi, aku rasa sebaiknya kita menjauh dari radar", ujar Hoseok yang masih berkonsentrasi dengan hardware dan motherboard di meja kerjanya. "Kecuali kalian cukup gila dan ingin tertangkap polisi", ia terkekeh.
"Tapi brand adalah sesuatu yang keren!", Jimin berucap girang, diikuti tawa Taehyung yang sepemikiran dengannya, terlihat seperti anak kecil. "Aku ingin mereka mendengar suaraku".
Yang perlu kalian ketahui adalah bahwa Kim Taehyung bisa menjadi seseorang yang benar benar berbeda. Keparat arogan itu mempunyai ambisi yang sangat besar, harga diri yang mudah diserang seperti milikku, tak kusangka kita jauh lebih mirip dari yang pernah kukira.
Taehyung tidak mau melakukan aksi yang begitu begitu saja, dia selalu menantang untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dan kami bertiga selalu terseret masuk.
Ketika Taehyung mempunyai sebuah gagasan, ia tidak akan menerima penolakan dalam bentuk apa pun.
Ia mengambil sebuah topeng badut yang tersenyum lebar dari rak koleksi nenekku, "Bingo". Ia berakhir membuat sebuah rekaman video dengan topeng badut dan tudung biru yang menutupi wajahnya. Ia mengangkat kelima jarinya yang lentik dan panjang.
"This little clown is chubby and fat", ia menurunkan ibu jarinya.
"This little clown wears a big red hat", jari telunjuknya turun.
"This little clown is strong and tall", ia menurunkan jari manisnya.
"This little clown is sweet and small", jari kelingking itu ikut turun.
"But THIS clown has the funniest trick of them all!", ujar Taehyung sembari menodongkan jari tengahnya dengan tawa maniak yang hanya ia miliki. Aku tidak menyadari diriku yang tersenyum ketika mengamatinya beraksi, orang sinting yang tampan dan tidak pernah dikalahkan. Namun, semua imajinasiku hancur ketika Hoseok mengutarakan sebuah protes yang terdengar seperti komentar santai.
"Bung, aku tidak ingin mati. Aku keluar", ujarnya sembari berkemas kemas perlengkapan, masih tersenyum tidak habis pikir. Park Jimin tergelak histeris, merangkul Hoseok yang kembali menggeleng, "Aku serius. Kalian benar benar sinting. Kuharap kau tidak berpihak kepada mereka", ia menoleh kepadaku yang menjadi salah tingkah.
"Siapa yang setuju?", Taehyung mengangkat tangannya sendiri, diikuti acungan tangan Jimin yang membuat Hoseok tersenyum putus asa, mereka semua sekarang menatapku dan sebuah kesalahan besar ketika aku juga ikut mengangkat tangan, mulai menggali liang kuburku sedikit demi sedikit.
"Tapi, kita harus mempunyai sebuah nama", ujar Taehyung sembari mondar mandir di ruang tengah nenekku yang sudah menjadi sarang seorang hacker.
"Bagaimana dengan CLAY?", baru pertama kali dalam hidupku aku mengutarakan sebuah pendapat tanpa merasa ketakutan. Ketiga orang itu seketika menaruh atensinya kepadaku, yang sekarang aku mengerti betapa memuasakannya menjadi pusat perhatian orang lain.
Aku tersenyum asimetris, meraih topeng badut yang tersenyum lebar dengan wajah berkerut kerut.
"Clowns Laughing At You".
Kim Taehyung terengah sebelum tertawa keras dan memelukku tiba tiba, merampas seluruh oksigen di dalam paru paruku ketika kami nyaris terjatuh ke rak barang koleksi. Terkadang aku mempertanyakan sifat Taehyung yang lebih seperti binatang daripada seorang manusia.
Itu bagus. Karena aku tidak berteman baik dengan mereka.
"Kita adalah CLAY", Taehyung merangkulku, mengangguk kepada kedua koleganya dengan senyum merekah lebar. "And the world will hear our name".[]
Aksi pertama CLAY adalah pemberian salam hangat ke dalam dunia finansial, kami memakai topeng badut dan jaket bertudung yang menyembunyikan identitas kami. Aku berjalan beriringan dengan ketiga pria dengan ransel berat yang menyimpan seluruh teknologi dan perlengkapan meretasku. Kami menyusup ke atap gedung perusahaan besar di Berlin, menuju ke server yang menyambungkan seluruh jaringan perusahaan. Kesalahan yang fatal, karena begitu kami membobol masuk ke dalamnya, kami adalah Tuhan.
Aku memasang alat peretasku pada jaringan yang diutak atik Hoseok dengan tangan lincahnya, tawa Taehyung dan teriakan Jimin berkumandang. Aku dapat mengerjakan sesuatu dengan sangat cepat ketika aku memaksa otakku untuk melakukan demikian. Ditambah dengan butiran Ritalin yang kini menjadi konsumsi kami sehari hari, memastikan bahwa kita terjaga sepanjang hari dan bekerja keras.
Jimin tersenyum lebar ketika ia sudah mendapatkan akses masuk dari laptopnya, kami hanya perlu melakukan sebuah trik dan mempersembahkan hadiah kecil kepada Kota Berlin yang kekurangan warna.
Saluran televisi menyiarkan tayangan langsung dengan reporter yang tampak tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi, "Stok saham perusahaan naik dan turun secara bersamaan. Yah, s-saham itu⸺", reporter itu tercengang ketika aliran grafik stok naik, turun, melejit naik lagi dan turun secara teratur.
Melambangkan jari tengah yang teracung.
Taehyung terbahak bahak keras, menjerit dalam tiap aksi CLAY yang mengundang banyak perhatian Kota Berlin. Aksi kedua kami adalah perusahaan farmasi yang menyandang nama besar di Jerman. Kami melompat turun dari van, mereka mengerubungiku yang sudah berkutat dengan laptop di depan gedung perusahaan Pharma yang menampilkan cahaya keemasan.
Sebelum aku mengambil kendali atas listrik perusahaan itu dan memberikan sedikit seni ke dalamnya. Dari kecil aku memang pecinta seni dan sangat memuaskan untuk bisa membaginya ke seluruh dunia.
Lamp lampu yang menerangi gedung perusahaan farmasi mati sepenuhnya sebelum kembali menyala dengan kalimat demi kalimat yang berhasil membuat kami tertawa keras, bahkan gelak tawa terlontar dari belah bibirku.
'WE'
'KILL'
'ANIMALS'
'WE'
'KILL'
'ANIMALS'
Terobosan demi terobosan kami lakukan bersama, dengan bantuan stimulan yang selalu membuatku terfokus aku tidak pernah memberikan lubang dalam pekerjaanku. CLAY menjadi sebuah nama yang tersebar ke seluruh dunia, terfokus pada Kota Berlin yang gempar dengan fenomena 'CLAY'. Penonton bergilir dan terus berdatangan seperti sungai yang mengalir deras, komentar dan pengakuan berbagai pihak menyatakan dukungan mereka akan aksi anarkis CLAY yang sudah membombardir berbagai perusahaan penting di Jerman.
Politikus. Pengusaha. Siapa saja yang menjadi target berikut CLAY tidak akan bisa melakukan apa apa, semuanya begitu sederhana. Hanya dengan akses terhadap jaringan yang luas, kau sudah bisa mengendalikan orang sukses yang hanya mampu tercengang bodoh.
Sekumpulan sampah masyarakat yang mengotori nama baik orang yang pernah membuang mereka. Aku tidak pernah menyangka dapat memberikan pengaruh yang sangat besar kepada dunia yang tidak pernah memedulikanku, pertanyaan para reporter terus saja mengundang senyum pada bibirku yang akhir akhir ini selalu merekah lebar.
"Siapa kira kira figur dibalik topeng itu?".
"Apakah mereka semacam organisasi rahasia?".
"Atau hanya sekumpulan anak remaja pemberontak?".[]
Aku tidak terkejut ketika menemukan Taehyung yang alih alih terpuaskan seperti Jimin ia justru terduduk dengan dahi mengernyit keesokan harinya. Kilat frustasi dan cemas terpancar dalam bola matanya yang mendung. Dan untuk pertama kali, aku melihat pria itu kehilangan kepercayaan diri.
Aku selalu tahu semuanya tidak pernah sesederhana itu bagi Taehyung. Dia bukan remaja anarkis yang hanya ingin melakukan aski besar besaran atau mempermalukan orang lain demi kepuasan semata. Dia adalah pria berambisi yang hanya ingin seseorang untuk mendengar namanya.
MRX.
Tuhan dari Darknet.
Aku menghampiri Taehyung yang menjambak rambutnya frustasi, menggebrak keyboard sembari mengumpat kasar ketika tidak ada kabar sedikit pun dari idolanya itu. "Mengapa dia tidak melihat kita?! Apa kesalahan yang kita perbuat?!".
Desas desus tentu saja sudah tersebar ke dalam Darknet, tentang sekelompok peretas dengan julukan CLAY yang melakukan aksi gila disepenjuru dunia, berpusat di Jerman. Semua orang bertanya tanya siapa mereka? Apakah mereka akan menjadi penghalang?
MRX menatap satu persatu pengikut setia yang memujanya, memberikan pekerjaan kepada mereka yang dianggap layak untuk mengemban sebuah misi.
"What about CLAY?", salah seorang hacker bawahan MRX bertanya, diikuti anggukan dari kelompok kecil lain yang juga merasa resah.
MRX menelengkan kepalanya, "CLAY who?".
Mereka semua tertawa terbahak bahak dan respon itu menampar Taehyung sangat keras, merusak harga diri yang begitu dinjunjungnya—aku sangat mengerti itu. Kim Taehyung adalah orang yang gila kekuasaan dan kontrol. Seseorang yang bisa membuatmu bertekuk lutut hanya dengan rekayasa sosial. Namun, seperti naristik yang lain, kelemahannya terletak pada harga dirinya sendiri.
Dan kalau kau berhasil menjatuhkan itu, kau bisa membuat Kim Taehyung bersujud.
Taehyung berakhir melakukan berbagai aksi gila yang tidak direncanakan matang matang, ia bahkan tidak mendisukiskannya dengan kami terlebih dahulu. Sampai suatu ketika Taehyung nyaris menyebabkan identitasnya terkuak kepada publik karena hampir tertangkap polisi.
Aku, Jimin, dan Hoseok yang akan terus menyelamatkannya, tapi pria itu tidak pernah menyerah. Merusak keamanan CLAY hanya karena egoisme yang tidak ada habisnya. Aksi itu pun hanya berhenti karena notifikasi yang membuat Taehyung tersenyum bungah, matanya sayu akibat tidak tidur berhari hari, rambutnya acak acakkan seperti orang gila.
'MRX has invited you'.
Kami pun meluncur ke dalam Darknet sebagai CLAY, dengan Taehyung yang memimpin untuk bertemu Tuhan-nya. Kami melewati beberapa peretas yang menjadi pengikut setia MRX, menemukan pahlawan Darknet itu sudah menanti kedatangan kami di ujung terminal jaringan.
"I have a present for you".
MRX menyerahkan sebuah kotak hadiah kepada kami, sebelum Taehyung membukanya dan mendapatkan empat mainan bayi yang mengundang gelak tawa penghinaan dari seluruh pengikut MRX, disusul dengan tawa dingin peretas terkemuka Darknet yang tersenyum di balik topeng bertanda 'X'.
Kim Taehyung membanting laptopnya yang jatuh bergulingan di markas kami, tidak ada yang berani mendekatinya kalau pria itu sudah mengamuk. Aku bahkan melihat air mata nyaris mengaliri wajahnya yang kacau dan gelisah.
'HAHAHA!' 'HAHA!'.
Seluruh komentar itu membuat Kim Taehyung menjerit frutasi sebelum aku bertindak dan memutuskan sambungan dari Darknet. Itulah CLAY bagi MRX, hanya sekumpulan pencundang menyedihkan dengan lelucon kekanak kanakkannya. Kalau aku boleh mengutarakan pendapat, MRX memang benar.
Kami hanya peretas tak terarah yang bekerja untuk mendapatkan perhatian orang lain dan itu sangat sangat menyedihkan.
"Kita akan meretas data BND", aku berujar tegas, diikuti tatapan terkejut dari Jimin dan Hoseok yang menganggapku sudah sinting. BND adalah Pusat Intelejensi Jerman dengan sistem keamanan terketat dan tidak ada terobosan maupun akses masuk ke dalamnya.
"Kau sudah gila!", Hoseok menggeleng, bahkan Jimin tampak tidak tertarik untuk mengikuti langkah sintingku. Namun, Taehyung berbeda dari mereka, ia mengerti motivasiku, tujuanku, ia mengerti diriku luar dan dalam, dan kita membagi dua pemikiran yang sama.
Taehyung mengangguk dengan senyum liar. "Aim For The Impossible'".
"Dan disitulah saat kau jatuh".
Kim Seokjin menatap pria yang bergeming dengan rasa bersalah menggerogoti jiwanya, langkah yang begitu beresiko, kesombongan yang terlalu tinggi. Jeon Jungkook mengangguk miris, teringat ketiga temannya yang meninggal karena ulahnya sendiri.
"Just like Icarus fly too close to the sun".
"Russian Cybercrime, mereka membunuh teman temanku dan mereka juga akan membunuhku", Jungkook bergidik ngeri, memeluk tubuhnya yang bergetaran hebat, kembali merasakan dunia yang tidak memedulikannya, dunia yang sudah lupa akan segala aksi anarkisnya.
"Aku tahu kalian menawarkan program perlindungan saksi", Seokjin tersenyum miris ketika Jungkook berujar dengan bola mata yang melebar penuh harap, dibalik segala keputusasaan dan rasa takut yang membuatnya selalu menoleh ke belakang, menunggu sampai seseorang meledakkan otaknya.
"Aku bisa menemukan MRX dan FRI3NDS untuk kalian dan kalian memberikanku program perlindungan".
"Dan darimana aku bisa tahu kau bahkan tidak berbohong?", tanya Seokjin dengan hembusan napas yang tidak sabar. Jungkook sama sekali tidak memberikannya informasi penting, tidak mengindikasikan lokasi MRX maupun organisasi teroris yang bersembunyi di dalam Darknet.
Dia justru menawarkan sebuah jasa.
Jungkook mengambil empat kotak gula dari toples kaca di meja interogasi. "Meretas itu seperti sihir", sebelum merangkup gula gula itu dan hanya menyisakan satu bongkahan kecil, melenyapkan tiga lainnya. "Kau membuat mereka melihat apa yang kau ingin mereka lihat", sebelum mengusap jarinya sekali lagi dan empat bongkahan gula pun meluncur turun ke meja interogasi seperti sedia kala.
Kim Seokjin memalingkan wajah, berusaha mengabaiakan senyum dingin yang terpatri pada bibir Jungkook. Ia tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran lelaki itu, ia terlihat frustasi, putus asa, trauma akan kematian teman temannya sebelum bersikap seperti bajingan kecil yang mempermainkan kepala divisi itu sedetik kemudian.
"Karirmu sedang terancam", Jungkook menatap tepat ke dalam bola mata penyidik yang mematung, "Kau lulusan Free University of Berlin dengan nilai tertinggi, melakukan pencapaian spektakuler dan ditempatkan di divisi kejahatan dunia maya".
"Kau mempunyai seorang istri yang mengalami keguguran, setelah itu ia tidak bisa mempunyai seorang anak diakibatkan penyakit langka pada rahimnya. Semenjak itu, hidupmu hancur berantakkan, kau mengalami kegagalan dalam menemukan MRX dan organisasi teroris yang bernama FRI3NDS".
Jungkook menyodorkan tiga selongsong peluru kepada Seokjin yang diam ditempat, tidak melepaskan pandangannya dari tahanan yang berbicara dengan lancar, membeberkan informasi Seokjin dengan kepercayaan diri dan arogansi yang tinggi.
"MRX membunuh teman temanku. Aku akan menangkapnya untuk sebuah program perlindungan".
Seokjin justru memerintahkan bawahannya untuk menganalisis peluru yang membunuh Kim Taehyung, Park Jimin, dan Jung Hoseok. Ia harus berusaha sekeras mungkin untuk mempersempit lubang pencariannya terhadap peretas anonimus bernama MRX.
Jeon Jungkook adalah opsi terakhirnya dan pria itu mengerti bagaimana caranya membuat Seokjin merasakan keputusasaan dan depresi berat.
Ia menghabiskan tiga jam menginterogasi tersangka yang masih bertahan untuk tutup mulut. Seokjin mengerti, kalau ia berada disekitar pria itu lebih lama lagi, pertahanannya akan runtuh, dan Jungkook lah yang akan memenangkan permainan.[]
