.
Apakah di dalam sini?
Apakah di dalam sini ada kehidupan baru?
Apakah benar jika kini dia tengah ….
Mengandung?
.
.
Air mata kembali mengalir dari kedua mata hitam onyx miliknya ketika pemikiran seperti itu datang begitu saja ke dalam pikirannya.
Jika gadis itu mengandung, lantas, siapa yang menghamilinya? Gadis itu yakin, semua pelanggan yang 'memakai'nya selalu menggunakan pengaman, bahkan gadis berkulit tan itu selalu meminum obat pencegah kehamilan sebelum gadis itu 'bekerja'. Dia yakin itu,
Tapi…
Bagaimana mungkin dirinya bisa hamil?
=Oreta Tsubasa de=
Disclaimer :
Inazuma Eleven Go © Level-5
Fallen Angel © Mitsuki Kaco
Genre :
Romance/ Hurt/Comfort/Angst/Drama
Rated:
T+
Pairing :
Endou Mamoru x femGouenji Shuuya, Slight TachiHaru
Warning :
Gender Bender/NO YAOI/miss Typo/Alternate Universe (AU)/OOC-minimalisir(maybe)/little bit gore (?)/Don't like Don't read!
:: Last Chapter::
.
Shuuya menggeleng pelan. Tidak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan? Jika Tuhan menginginkan dirinya untuk hamil, kenapa tidak?
Shuuya terdiam, menatap lamat-lamat cermin yang merefleksikan wajahnya yang berantakan. Apa Tuhan tak pernah mengizinkannya untuk bahagia? Apakah Tuhan senang melihat air matanya keluar? Apakah Tuhan begitu menginginkan dirinya tak bahagia?
Ponsel di tas besarnya berbunyi. Gadis itu menatap lamat ponsel orangenya sebelum mengambil ponsel itu.
Corneous boy's calling
Mamoru?
Apa mungkin Mamoru adalah ayah dari anak yang tengah dikandungnya? Mungkinkah anak ini adalah….
Shuuya menggeleng kuat-kuat. Mamoru tak pernah menyentuhnya meski malam itu, mereka bersama di dalam kamar apartemen Mamoru, menghabiskan waktu hanya berdua. Pemuda brunette itu hanya mendekap tubuh Shuuya erat, tak lebih dari itu.
Jadi, jikapun dirinya mengandung seorang anak, Mamoru bukanlah ayah dari anak ini.
Dan dalam kondisi ini, masihkah dia sanggup bertemu dengan Mamorunya?
"Mamo—"
Panggilnya pelan, berharap dengan panggilan sepelan itu, Mamoru akan berada tepat di depannya, memeluknya atau demi dirinya, pemuda itu akan rela ber-OOC seperti saat pertama dirinya menemukan Shuuya.
Tapi harapannya tak mungkin terjadi kan?
"Tidak… aku tak boleh putus asa," ucap Shuuya lagi. Gadis itu menghapus air mata di kedua pipinya. Ya… dia hamil itu baru pemikirannya saja bukan? Belum ada bukti bahwa dia memang hamil. Meski dia mengalami yang namanya mual dan belum datang bulan, belum tentu dia hamil bukan?
Ya… pasti begitu.
Dia harus membeli tes alat kehamilan, harus! Dia harus melakukannya sebelum bertemu dengan Mamoru-nya. Ya… harus.
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
::: Mamoru POV :::
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh arah. Kini aku berada di tempat janjianku bersama Shuuya. Aku berada di depan sebuah boks telepon dan bersandar di sana. Aku mengawasi sekeliling yang entah kenapa penuh dengan polisi malam ini.
Firasatku tak enak. Aku ingat siapa bibi Makoto, pengusaha terkenal yang namanya terkenal sampai ke seluruh Jepang, dan mungkinkah Shuuya ketahuan? Mungkinkah polisi-polisi ini mencari Shuuya? Atau… mungkinkah dia tak bisa keluar dari rumahnya? Bagaimanapun juga, dia telat hampir setengah jam, membuatku khawatir dan perasaanku tak enak.
"Sebentar nak," seorang polisi menyapaku dengan wajah curiga. Aku menatap polisi itu dalam diam. "Sedang apa, anak sepertimu masih berkeliaran jam segini?" Tanya polisi itu. aku tak menjawab karena pertanyaan itu seperti basa-basi ditelingaku. Tadi, aku menelpon Shuuya, meski dia tak menjawab panggilanku, mungkinkah polisi ini mencurigaiku sebagai orang yang akan membawa kabur Shuuya?
Aku berdiri, menatap polisi itu, memiringkan sedikit wajahku dan tersenyum jahat.
Deg!
"Bukan urusanmu," ucapku kemudian secepat kilat aku berlari menuju arah rumah Shuuya, polisi yang tadi membeku karena aura membunuh yang aku perlihatkan, tersadar kemudian berlari mengejarku.
Saat itu aku tak menyadarinya…
Saat itu, saat aku berlari menjauhi polisi, Shuuya berjalan pelan dengan wajah menunduk dari apotek, menatap sekilas tempat perjanjian kami, kemudian berjalan ke toilet….
Apakah takdir tak bisa sedikit saja untuk tidak mempermainkan kami?
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
::: Shuuya POV :::
Mamoru tidak ada.
Dia tidak ada di tempat perjanjian kami, mungkinkah aku membuatnya menunggu begitu lama?
Tidak!
Mamoru akan selalu menungguku, dia tak pernah tidak menungguku bukan?
Apakah Mamoru mengalami masalah?
Apakah Mamoru ditemukan ibuku?
Ya… ibuku meninggalkan pesan suara di ponselku, mengancamku jika aku tidak pulang segera juga, ibu akan menghancurkan pemuda yang membuatku menjadi seorang pemberontak.
Aku tersenyum miris, kemudian memeluk erat bungkusan di dadaku. Ada tes pack di sana dan beberapa peralatan lain yang akan kugunakan jika test ini menunjukan bahwa aku positif hamil.
Sebentar lagi kakiku sampai di toilet tapi langkahku berbalik ke samping ketika aku merasakan tarikan di lenganku, ingin berteriak namun aku tak bisa begitu melihat orang yang menarikku.
Kuroki-San…
Saat itu, aku tercekat.
.
.
.
Bruk~!
Kuroki dengan tak berperasaannya membanting tubuh Shuuya hingga punggungnya berciuman dengan tembok. Shuuya hanya bisa merintih dan Kuroki tertawa….
"Apa kabar sayang? Kau tak merindukanku?" Tanya Kuroki yang masih terbalut perban akibat perlakuan 'mesra' Mamoru terakhir kali. Aku tak menjawab, namun, ketika pria itu memeluk Shuuya dan mulai menciumi puncuk kepalanya, Shuuya bertindak,
Shuuya mendorongnya hingga dia jatuh di tanah, berbarengan dengan bungkusan yang dari tadi ia pegang. Tas besar milik Shuuya terjatuh tepat di sampingnya.
Mendapatkan penolakan dari Shuuya membuat pria bermata kucing itu mendesis marah, dia hendak memperlakukan Shuuya dengan kasar sebelum matanya menemukan alat tes kehamilan yang Shuuya beli tadi.
Shuuya dapat melihat matanya melebar, dan bibirnya tertarik ke atas, dan terdengarlah tawanya yang membuat dirinya muak.
"AAHAHAHAHAHA! Hamil? Kau hamil?"
Shuuya terdiam, mukanya memerah karena malu tambah marah. Tangan Shuuya gemetar, ketika pria itu tertawa semakin keras. "Ternyata kita sama-sama kotor ya?" ucap Kuroki kemudian pria itu berdiri, menepuk-nepuk celananya kemudian mendekati Shuuya dengan wajah bahagia karena melihatnya tersiksa.
"Karena kita sama-sama sudah kotor, bagaimana kalau kita bersama?" ucapnya kemudian dia memainkan ujung rambut putih milik Shuuya. Shuuya hanya menunduk, tak menatapnya.
Muak!
Dia muak! Muak! Muak! Muak! Muak!
Dia muak kepada pria ini!
Dan ketika Kuroki hendak mencium bibirnya…
JLEB!
Mata kucing itu melebar tak percaya, pria itu berjalan menjauhi Shuuya dengan pisau tertancap di perutnya. Tangan yang memegangi perutnya itu sudah basah oleh darahnya sendiri. Shuuya menatapnya tanpa ekspresi. Mata hitam kelamnya meredup. Genggamannya penuh dengan darah yang diketahui —milik Kuroki itu merembes keluar cukup banyak dari tubuhnya.
Dan Shuuya tahu ekspresi apa yang ditampilkan pria itu?
Tertawa!
Ya… dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Shuuya dan tindakannya.
"Kau… benar-benar kotor, nona. Kau bahkan membuatmu lebih dalam jatuh ke dalam lumpur yang membuatmu semakin kotor, pelacur kecilku!"
Muak!
Shuuya merasakan dadanya sesak, ia ingin menangis, namun tak ada air mata yang keluar. Shuuya lalu mendekati pria berengsek itu, dengan pisau yang sudah terangkat. Wajah Shuuya mendingin. Wajahnya berubah menjadi kaku,
'Aku muak padanya'
'Muak!'
CRASH!
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
Haruna membuka matanya dengan keringat membasahi seluruh rubuhnya.
"Haruna?"
Tachimukai Yuuki, kekasihnya mendekat pada Haruna. Haruna menatapnya dengan kalut.
"Shuuya-chan… aku… ingin bicara dengannya," ucap Haruna setengah memohon. Tachimukai menatap gadisnya dengan tatapan bingung.
"Ada apa Haruna?" tanyanya bingung. Padahal baru tadi siang Haruna menceritakan bahwa Shuuya, sahabatnya sepertinya tengah berbahagia karena bertemu dengan cintanya, Tachimukai mengiyakan kata-kata Haruna karena dia pernah melihat Shuuya (chap 3) bersama kekasih yang sepertinya sangat overprotective padanya. Namun, kenapa wajah Haruna terlihat begitu khawatir?
"A-aku me-merasa di-dia sedang dalam masalah," ucap Haruna gusar. Apa? Mimpinya terasa begitu nyata. Firasatnya tak enak karena ini, dan biasanya firasatnya selalu tepat.
"Tenanglah Haruna, itu hanya perasaanmu," ucap Tachimukai. Haruna menggeleng, firasatnya selalu tepat, dan Haruna yakin itu
"Kumohon Tachimukai-kun, hubungi Shuuya-chan-"
Dan Tachimukai tak bisa berkata tidak…
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
Pisau kecil itu terjatuh, berbunyi dengan nyaring di samping seorang gadis yang menatap pria setengah baya dihadapannya.
Gadis itu menatap pria bernama Kuroki itu dengan tatapan dingin dan ekspresi yang datar.
Ekspresi yang mengerikan. Shuuya, menatap Kuroki yang tak bergerak.
Matikah pria itu?
Bagus! Sekarang, alasannya untuk tidak bertemu dan bersama Mamorunya bertambah.
Dia memandang telapak tangannya yang berlumuran darah.
Dia kotor sekarang.
Dia benar-benar kotor sekarang.
Membunuh orang kotor yang pernah menyentuhnya yang juga kotor.
Sesak… sesak…
Muak... muak…
Tak ada yang dapat menolongnya saat ini, tak ada…
Tak ada….
Bahkan Haruna pun, tak dapat menolongnya sekarang.
Maka, saat dia mendengar ringtone ponselnya, dia tak memperdulikannya, dia malah melangkah dengan langkah pelan layaknya orang yang benar-benar putus asa.
Dia harus menyelesaikan hal yang lain lagi….
.
.
.
Wanita berambut coklat-keemasan itu turun dari mobilnya, ditemani dengan seorang perempuan berambut hitam. Wanita bernama Kurosaki Makoto itu tampak terlihat terluka ketika dia mnerima telepon bahwa barang-barang putrinya ditemukan di sebuah gang sempit dengan seorang pria yang sekarat karena kebanyakan mengeluarkan darah.
Di tempat itu ditemukan pisau kecil yang di duga ada sidik jari putrinya dan…
Alat tes kehamilan?
Sungguh dia tak tahu, kenapa Shuuya-nya yang manis berubah seperti itu. Dia syok saat mendapati surat itu, dia shock ketika pembantu di rumahnya baru mengatakan sesuatu kepadanya tadi. Mereka selalu menemukan uang beserta tulisan dari Makoto di tong sampah. Pembantu itu, sering memergoki putrinya selalu menangis, para pembantu sering melihat nona mereka yang pulang larut malam dengan penampilan yang acak-acakan. Pembantunya sering melihat putrinya yang selalu mengurung diri di kamar mandi berjam-jam sesaat setelah nona mereka pulang dengan pakaian yang acak-acakkan. Dan banyak sekali yang diberitahukan oleh pembantunya pada malam ini.
Dan reaksi Makoto?
Wanita bermata ruby itu langsung syok. Merasa ditampar ketika semenjak kematian suaminya, Makoto tak pernah lagi memperhatikan putrinya yang mirip dengan suaminya. Bahwa semenjak kematian suaminya, Makoto sibuk dengan pekerjaannya, meninggalkan Shuuya dan sejak kematian suaminya—bahkan putri keduanya; ia titipkan kesanak saudaranya, Makoto tak pernah sekalipun memanggil nama putrinya dengan nama pemberian suaminya itu.
Kenapa? Kenapa dirinya begitu seegois ini? Pantaskah dirinya untuk dipanggil ibu?
"Makoto? Kau baik-baik saja?" Tanya wanita disampingnya. Makoto menatapnya putus asa. Apa dirinya bisa dibilang baik-baik saja sekarang? Bisakah?
Saat Makoto hendak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, mata Makoto melebar ketika melihat seorang pemuda yang tak jauh dibelakang sahabatnya berlari dengan wajah tegang.
Mamoru!
Ya… Makoto tak akan pernah melupakan putra dari sahabatnya di Okinawa itu. Mamoru, teman Shuuya, yang saat kepindahan mereka ke Raimon mengejar mereka mati-matian bukan?
Tangan Makoto terjulur dengan gemetar.
"Kejar! Kejar pemuda itu!" perintahnya kepada polisi yang ada di sampingnya. "Dia yang akan membawa kita menemukan Shuuya! kumohon! Kejar pemuda itu!" rintih Makoto histeris, membuat beberapa polisi langsung mengejar pemuda yang dimaksud Makoto.
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
Langkah Shuuya pelan namun pasti. Tak pedulikannya tangga demi tangga yang ia injak. Ya… dia kini berada di sebuah bangunan tua yang tak terpakai, yang terbengkalai. Langkahnya menuju lantai tertinggi bangunan ini.
Ketika angin menerpa tubuhnya, memainkan rambut putih tulangnya, Dia berjalan semakin mendekati ujung lantai ini. Shuuya menatap ke bawah. Tinggi.
Dia jadi teringat, cerita mengenai seekor burung rumahan yang nekat terbang ke dunia luar dan membuatnya kehilangan sayapnya.
Kisah itu sama sepertinya sekarang, 'Aku telah kehilangan 'sayap'ku.' Sayap yang akan membuatnya terbang menuju kebahagiaannya. Shuuya menatap ke depan. merentangkan tangannya, merasakan angin menerpa wajahnya, membuat rambut putih panjangnya melayang-layang.
Jika ia merentangkan kedua tanganknya, merasakan angin yang menerpa tubuhnya dan loncat dari atap ini. 'Apakah aku akan bisa terbang? Apakah dengan begini aku dapat mendapatkan kembali sayapku? Dan apakah aku bisa menemukan kebahagiaanku?' itulah yang saat ini dipikiran Shuuya. Ia sudah memantapkan tekadnya. Mungkin.
.
.
.
Namun...
.
Sekelebat wajah ayahnya, muncul dibenaknya,
'Ayah… mungkinkah kebahagiaan akan kudapatkan hanya ketika aku menyusulmu ke akhirat sana?'
'Haruna... apakah aku memang tak diperbolehkan berada di samping orang-orang yang aku sayangi? Tak bolehkah?'
'Mamoru…'
Shuuya menutupkan matanya ketika mengingat nama itu…
'Maaf tak bisa menepati janjiku lagi…'
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
::: Mamoru POV :::
Polisi itu sudah tak mengejarku lagi. Aku mendengus kesal. Karena polisi itu aku jadi jauh dari tempat janjianku.
Aku kemudian berbalik, berlari menuju boks telepon itu lagi.
Tak ada siapa-siapa…
Mungkinkah Shuuya tak datang?
Sepertinya tidak. Sepertinya dia ada, tapi kenapa dia tidak ada?
Mungkinkah dia ke toilet dulu?
Ya… mungkin saja.
Aku kemudian berjalan menuju toilet yang ada di seberang jalan itu, namun baru beberapa langkah, aku mendengar seorang polisi mengatakan sesuatu tentang Shuuya.
"Kami menemukan barang-barang Gouenji Shuuya bersama dengan seorang pria yang sekarat karena kehabisan darah. Kami juga menemukan pisau yang menusuk dan menyayat pria bernama Kuroki dan sebungkus alat tes kehamilan."
Membeku.
Aku membeku di tempat ketika mendengar itu. Apa kata polisi itu tadi?
Kuroki?
Aku menoleh ke belakang, di sana ada Kuroki yang tengah berbaring tak sadarkan diri yang sedang diangkut ke dalam ambulance.
Wajahku langsung tegang. Kuarahkan pandanganku ke segala penjuru arah dan aku mendapati Shuuya sedang berjalan di tangga sebuah bangunan tua tak terpakai.
Jangan-jangan…
Aku langsung berlari ke sebuah bangunan lain yang berhadapan dengan bangunan itu, yang jaraknya lebih dari dekat dari tempatku berada.
Aku berlari sekuat yang aku bisa, saat polisi lain entah kenapa mengejarku, aku tak peduli, yang kupedulikan adalah Shuuya. Shuuya… Shuuya…
"Jangan loncat Shuuya! Jangan tinggalkan aku lagi…"
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
.
"KYAAA!"
Pekikan itu terdengar di telinga Makoto. Makoto melirik ke arah suara itu. Beberapa orang menutup mulut mereka, telunjuk mereka menunjuk ke atas, ke sebuah bangunan tua, membuat Makoto langsung lemas ditempat.
Shuuya! Di sana adalah Shuuya! Di sana adalah putrinya.
Dan ketika tubuh itu limbung ke depan dengan tangan yang direntangkan, Makoto memekik keras…
"SHUUYA!"
.
.
.
::: Mamoru POV :::
Tinggal beberapa langkah lagi jarakku dengannya, namun Shuuya terlanjur melompat,
Membuatku ikut meloncat dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
Mata Shuuya yang sedari tadi tertutup terbuka ketika merasakan sesuatu yang membungkusnya, dan ketika Shuuya tahu bahwa aku yang memeluknya, dia itu membalas pelukanku, aku mengeratkan pelukanku kepadanya.
Tak memperdulikan kenyataan bahwa kini kami tengah meluncur ke bawah dengan tinggi lebih dari 10 meter,
Tak mempedulikan, bahwa jika kami sampai ke bawah ada kemungkinan aku mati bersamanya.
Aku makin mengeratkan pelukanku ketika tubuh kami hampir menyentuh tanah dan…
BUK!
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
Gadis itu menatap langit malam yang terlihat indah. Seindah hatinya saat ini. Seindah masa depan yang akan di dakinya bersama…
"Mamoru," gadis itu berlari menghampiri kekasihnya. Mamoru, pemuda berambut coklat itu langsung menangkupkan tangannya di wajah tan kekasihnya itu.
"Hei Shuuya, sudah kubilang kamu tak usah kemari!" ucap Mamoru lagi.
"Aku bosan tahu Mamo di rumah sakit terus! Lagipula sekarang aku harus mengantar kepergian ibu ke Jerman," ucap Shuuya kesal. Mamoru menghela nafas, kemudian menggandeng tangan itu.
"Baiklah.. baiklah… ayo, ku antaar~!"
"Kau memang harus mengantarku…"
Ya... beberapa minggu setelah kejadian itu, Shuuya diharuskan mendapatkan perawatan dari rumah sakit. Gadis itu menderita sedikit gangguan psikologis dan harus menjalani terapi.
Selama beberapa minggu dia berada di rumah sakit yang sama dengan Haruna, sedikit demi sedikit kebahagiaannya terajut. Makoto, ibunya, meminta maaf padanya, menangis karena kebodohannya, membuat hati Shuuya tersentuh dan memeluknya.
Dia mendapatkan kebahagiaan yang sangat diinginkannya.
Dan ternyata, gadis itu tidak hamil, itu membuat beban Shuuya sedikit berkurang.
Dengan dukungan ibu, Haruna dan Mamoru serta ayahnya yang sering mengunjunginya dalam mimpilah, akhirnya Shuuya benar-benar sembuh dari traumanya...
.
.
.
=Oreta Tsubasa de=
::: At Aiport :::
Makoto menyentuh pipi putrinya dengan sayang. Shuuya meresapi sentuhan hangat itu, sentuhan yang sudah lama tak dirasakannya.
"Maaf Shuuya, ibu harus pergi. Tapi ibu janji, ibu akan cepat menyelesaikan pekerjaan ibu dan setelah ibu pulang dari sana, kita akan memperbaiki semuanya, ya?" Tanya Makoto. Shuuya mengangguk, Makoto memeluknya dengan sayang. Sungguh, dia bersyukur, bersyukur karena Tuhan telah menyelamatkannya. Bahwa Tuhan tak mengambil Shuuya dari sisinya, bahwa Katsuya, masih melindungi putrinya ini.
"Ibu menyesal selama lima tahun ini, Shuuya," ucap Makoto lagi. Shuuya menggeleng, dia melepaskan pelukan ibunya dan menatap mata ruby ibunya itu.
"Ibu… jangan begitu! Aku baik-baik saja,Ok?"
Dan Makoto mengangguk, lalu pandangan matanya tertuju kepada pemuda yang menyelatkan putrinya.
"Kau sudah sebesar ini ya, Mamoru?" Tanya Makoto basa-basi. Mamoru hanya tersenyum simpul. "Terima kasih karena telah menyelamatkan Shuuya, Mamoru," ucap Makoto lagi kemudian menyuruh Mamoru yang lebih tinggi darinya menunduk sedikit, dan ketika Mamoru menunduk.
PLAK!
"Aw!"
"Ibu!"
Makoto tertawa ketika melihat Mamoru meringis kesakitan karena dengan tenaganya, wanita berambut coklat-keemasan itu memukul kepala Mamoru.
"Itu peringatan pertama agar kau tak maca-macam dengan Shuuya!" ucap Makoto. Shuuya menggembungkan pipinya.
"Aku tak akan macam-macam padanya bi, percaya padaku," ucap Mamoru lagi. Makoto hanya ber"Hm" ria kemudian menunduk.
"Tolong jaga Shuuya-ku ya," ucapnya lagi.
"Ibu…"ucap Shuuya merona malu. Makoto tersenyum. "Jaa… matane…" ucap Makoto lagi ketika pengumuman keberangkatan pesawatnya.
"Tak apa-apakah?" Tanya wanita yang berada di samping Makoto sedari tadi. Makoto mengangguk mantap.
"Tak apa, karena aku percaya… aku percaya Katsuya melindunginya," ucap Makoto sembari melirik ke belakang, di sana, di belakang putrinya. Pemuda yang mempunyai mata sehitam mata putrinya tersenyum ke arahnya sebelum menghilang. Makoto menitikkan air matanya.
Dia akan menyelesaikan pekerjaannya di Jerman dan segera pulang untuk putrinya, mengganti waktu mereka yang hilang lima tahun ini…
.
.
.
.
.
::OWARI::
=OMAKE=
Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu, di suatu malam yang cerah (?), pemuda berambut tosca itu membuka pintu apartemennya, tadi sore tiba-tiba saja, pemuda bermarga Kazemaru itu dipanggil oleh atasannya, Natsumi-sama untuk hal sepele—menurutnya dan dengan berat hati, pemuda itu harus rela meninggalkan Aki-nya sendirian di kamarnya.
Ichirouta kemudian memegang handle pintu kamarnya dan ketika pintu terbuka, dia melihat Aki masih nyenyak tidur. Melihat itu Ichirouta tersenyum. Wajar saja Aki masih tertidur mengingat sejak sore kemarin *bayangkan sendiri mereka berdua 'ngapain' ? (OAO)* sampai sebelum si Mamoru datang dengan keadaan mabuk, Ichirouta terus melakukan 'itu' dengan Aki, hingga Aki kehabisan tenaga.
Hah…
Terkadang dia membenci dirinya yang terlalu memaksakan Aki.
Tapi ngomong-ngomong… di mana 'partner'nya itu?
Ah, pasti dikamarnya. Ichirouta kemudian melangkah ke kamar Mamoru memegang handle pintu dan memutarnya sedikit, tak terkunci.
"Endou, kau tidak macam-macam kan pad—"
Kata-kata Ichirouta terputus ketika pemuda berambut tosca berkucir itu mendapati pemandangan di atas kasur. Pemandangan di mana Mamoru tengah ada di atas dan Shuuya di bawah sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Mamoru.
Mereka berdua hanya ditutupi oleh selimut nan tipis dan Ichirouta bisa melihat baju-baju yang berserakan dilantai.
Mendengar suara Ichirouta, kedua orang itu langsung menatap ke arah tempat si pemuda itu dengan tatapan tak kalah kaget.
….
…
…
"Wah… sepertinya aku mengangguk, silakan lanjutkan!"
Cklek!
Meski pemuda itu sudah tak ada, tapi kedua insan yang ada di kamar tersebut masih terpaku ke arah kehadiran sang pemuda tadi, alias ke arah pintu yang sekarang tertutup sempurna.
….
….
…..
Tuit!
Satu buah empat siku versi gede muncul di belakang kepala Mamoru.
"KAZEEMARUUUUUU!"
.
.
.
The End...?
Yey... \^0^/ akhirnya tamat (?). Gomen updatenya lebih dari yang saia janjian TwT *bungkuk"*. Tapi... ya yokattane, sekarang bisa update lagi. Udah rampung, kelar, dan nama-nama sebangsaan ( '3')
Thanks (:: Speciality Usagi Yumi-san and Chiheisen-san ::) yang membaca, review, kritik dan sarannya, udah saia re-write kesalahan yang saia buat –mungkin. Maklum saia bisanya ngetik kalo menginjak jam 10 malam. Selain itu nggak bisa, resiko jadi anak sekolahan yang dikasih tugas seabrek, rangkuman suruh tulis beberapa halaman, belum lagi tugas makalah. Yang paling nyesek itu jerit payah keluh keringat sampai berdarah-darah *lebay* dibayar CUMA dikasih—dibumbuhi (?)—dicoret SEBUAH Tanda Tangan TITIK —uhukCurhatuhuk—
Dari pada saia mulai galau mending saia tutup sesi tanya-jawab (?) dengan mentorehkan 'tulisan tangan' anda dikotak mungil Review. Klik warna biru di bawah. Jangan lupa ya ( ^w^ )
.
.
Sampai Jumpa~!
