Summary : "Jangan menganggu hidup kami lagi! dasar pembawa sial" isak Hinata ketika melihat anaknya penuh dengan darah. Ruhi melihat okasannya dan kakaknya yang sudah setengah bernyawa setengah tidak secara seksama kemudia berkata, "Tidak akan!" teriak Ruhi, yang perlahan-lahan menghilang.
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Horror, Tragedi
Character dead
Don't Do It !
Chapter 4 : Her Destiny
Hinata POV
Aku sedang jalan-jalan menggunakan payung, hari ini emang hujan lebat. Tiba-tiba aku melihat anak kecil berdiri didepanku
"Kakak, bisa ikut aku bentar?"
"Oh, ok..kamu siapa ya ?" tanyaku lembut
"Aku temannya Nata"
"Temen ya..?, perasaan Nata nggak pernah bilang kalo punya teman seperti dia"
Jadilah aku mengikuti 'anak aneh' ini, semakin lama jalan semakin sepi. Entah napa anak aneh ini memilih jalan sepi daripada jalan seperti biasanya, ramai dan terang.
Dan kini berakhir di lapangan sepi
"Kok jauh amat sih, ngasih tau tuh sekarang aja deh"bentakku pelan meskipun nggak bisa dibilang bentak sih
"Ihihihi, belum nyadar juga ya?" tanya perempuan itu sambil tertawa kecil, "Masa nggak tau anak sendiri?" lanjutnya sambil menampakkan mukanya yang mengerikan
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
"Kenapa, okasan?, kok takut sama anak sendiri, ayo okasan ikutlah bersamaku..aku kesepian" ucap Ruhi menangis dan menarik kaki ku
"Tidaaak! lepaskan!"
"Okasan...ikutlah bersamaku" tuturnya sambil menangis, tiba-tiba keluar tangan banyak dari tanah dan berusaha memengikatku agar diam
"Lepaskan! lepaskan! LEPASKAAAAAAAN!" teriakku mengencang, semakin aku teriak semakin kencang ikatannya
"Okasan lebih baik diam, karena semakin okasan teriak semakin pula tangan-tangan itu mengikat okasan. Okasan tau kenapa tangan ini membantu?"
"Ke..kenapa?" tanyaku serak
Ruh mendekat padaku dan berbisik pelan ditelingaku
"Karena, mereka akan membantuku untuk menuntun okasan ke neraka!" bisiknya sambil tersenyum.
Aku tersentak, kemudian berusaha untuk kabur lagi.
Aku semakin memberontak, tetapi tidak berhasil juga. Tiba-tiba tangan itu mencekekku, "Inilah akhir hidupku ?" tanyaku dalam hati sambil menutup mata, seolah menerima semuanya yang terjadi.
Hahaha, bener banget tuh!
Iya iya eh tau nggak tentang si X itu?
terdengar suara canda siswi yang mendekat ke lapangan itu.
"Huh, permainan jadi cepat selesai deh" dengusnya kesal kemudian menghilang, bersamaan dengan tangan dari tanah itu.
Siswi tadi lewat, masih dengan ketawa-ketawa sambil memegang payung, aku bernapas lega "Mungkin ini akhir hidupku kalo nggak ada siswi lewat" pikirku senang. Kemudian pulang kerumahdan menelpon Tenten dan Temari untuk kerumahnya.
Normal POV
"Hai Hinata!" sapa Temar dan Tenten
"Ayo masuk, ada yang ingin gw bicarakan" kata Hinata serius
Setelah dijelasin...
"EEEEEH?! TERNYATA LOE MENGGUGURKAN RUHI?!!" teriak Tenten dan Temari bersamaan , "Iya, gw menggugurkan Ruhi, tapi dia itu nggak ada habis-habisnya membuntuti kita semua!"
"Pantes, semuanya mati nggak wajar"
"Hinata..."
"Hmm?"
"Loe harus memberitahu ini pada semuanya"
"Iiih nggak mau !!"
Temari menarik kerah baju Hinata, "Loe tau? gara-gara LOE semuanya jadi kena MASALAH TAU!!" ucapnya geram sambil menekankan kata-kata 'loe' dan 'masalah'
"Apa hak loe menyuruh-nyuruh gw?, lepaskan" desis Hinata sembari menepis tangan Temari dari kerah bajunya.
Plak!, Temari menampar pipi Hinata dengan keras.
"Terserah loe!, dasar PEMBUNUH!" bentak Temari sambil berjalan menuju pintu, tiba-tiba gerakannya berhenti
"Jika kita semua mati, loe harus tanggung jawab. masalah ini nggak akan selesai meskipun kita semua sudah mati" lanjutnya kemudian berjalan lagi dan membanting pintu. "Hinata, maafkan Temari ya?, dia emang sedang emosian" sesal Tenten.
Perlahan-lahan air mata Hinata mengalir deras, "N..nggak apa apa, memang gw yang salah. Seandainya gw nggak membunuh....." jawab Hinata sesegukan "Loe juga menyalahkan gw kan ?" tanya Hinata dengan linangan air mata, matanya menjad bengkak karena kebanyakan menangis dan pipinya juga memerah.
"Iya, tetapi loe harus menyelesaikannya secara baik-baik, permisi" Tenten membungkukkan badan dan pergi. Hinata menangis sekencang-kencangnya, ya dia emang bersalah tidak membiarkan bayi kandungannya untuk hidup di dunia ini, demi menanggung malu.
Cklek
"Aku pulang, okaasan" kata Nata
"A..ah, Nata-chan sudah pulang?, okasan akan membuatkan kamu mie ramen lho mau ?" tawar Hinata dengan mata sembab dan pipi merah karena ditampar Temari
"Mau! tapi okasan, matanya okasan kenapa? dan pipi okasan kok merah?" tanya Nata bertubi-tubi
"Ini, ahahaha bukan apa-apa kok, Nata-chan mau makan kan? okasan akan buatkan mie ramen spesial untuk kamu" ucap Hinata berusaha tersenyum
"U-umm, iya! Nata ke kamar ya okasan, oh ya okasan Maru-chan mau datang untuk belajar bersama jadi tolong buatkan 2 ya?"
"Iya"
Hinata menatap foto yang menggambarkan 3 orang, "Naruto-kun, apakah kamu baik-baik saja di surga sana? sepertinya Ruhi-chan nggak ada henti-hentinya untuk membunuhku. Suatu hari, aku akan menyusulmu" ucap Hinata lirih sambil memeluk foto itu dan buru-buru ke dapur. Nata melihat semuanya, "Okasan...".
Nata pun pergi ke kamarnya dan mengganti baju kemudian turun kebawah untuk nonton tv untuk menonton film kesukaannya yg diputar setiap hari, Alice Academy / Gakuen Alice. Dia mengganti channel dan menemukan channel Animax. Nata mulai menonton, sedikit-sedikit Nata tertawa terbahak-bahak karena ada adegan yang lucu. Hinata melihat Nata dengan tersenyum, kemudian kembali melihat kompornya.
"Hmm, 30 menit lagi selesai" katanya dalam hati. "Ahahahahaha, lucu!! ahahahaha buahahaahahah" tawa Nata semakin meledak, Hinata hanya melongo melihat anaknya tertawa begitu, Hinata tertawa pelan "Hihihi, dia bener-bener mirip Naruto-kun"
Ting tong
"Iya?" Hinata membuka pintu dan melihat sosok kecil seumuran Nata
"Konichiwa! Hinata-baasan, ada Nata-chan nggak?" tanya cewek itu tang ternyata Maru
"Oh, Maru-chan! ada apa?"
"Aku mau belajar bersama dengan Nata-chan" jawabnya mantap
"Nata-chan, Maru-chan udah dateng nih"
"Iya, bentar okasan. Film-nya juga mau selesai"
"Dasar, ya sudah Maru-chan, kamu masuk aja dulu"
"Ya, Hinata-baasan"
Ketika masuk..
"Nata-chan, film-nya udah selesai?" tanya Maru-chan ketika melihat Nata nonton di ruang tv dan duduk d sofa.
"Sebentar lagi!, aaargh sialan tuh Reo, menculik Natsume lagi!! tidaaaak" gumam Nata nggak jelas.
"Aaah, bener banget! sial abis" jawab Maru melihat adegan penculikkan.
"Bersambung deh, nggak sabar untuk besok" kata Nata sambil berjalan ke atas diikuti Maru
Mereka pun mulai belajar Matematika, sedikit-sedikit Nata menggerutu kesusahan tetapi Maru tetap mengajarnya dengan sabar. Terdengar Hinata memanggil mereka untuk makan.
"Hmm, masakan Hinata-baasan emang enak" ucap Maru sambil menyeruput kuah ramen dan memakan mie-nya lagi
"Hehehe, masakan buatan okasaan nggak akan ada yang bisa nandingin deh" ujar Nata membanggakan okasaannya
"Ayo makan lagi jangan banyak ngomong" kata Hinata sambil memakan ramennya
20 menit kemudian
"Eeegh, kenyang"
"Terima kasih ya, Nata-chan Hinata-baasan. Aku pulang dulu" pamit Maru dengan sopan
"Daah! Maru-chaan" Nata melambaikan tangannya ke arah Maru yang menaikki sepedanya
"Dadah Nata-chan, sampai ketemu disekolah yaa"
Nata menaikki tangga untuk menuju kekamar-nya, dia merebahkan tubuhnya yang cape. Dia menutup mata-nya.
Tes tes tes tes
Nata membuka matanya, di usap dahinya yang tadi seperti terkena air, dilihatnya cairan itu.
"Hi..hiiii! da--darah?" Nata menengok keatas dan dilihat Ruhi sudah membawa senjata tajam
"Nata-neechan, aku kesepian" ucapnya gemetaran dan menuju ke hadapan.
"Kumohon Ruhi, jangan bunuh aku" pintanya menangis-nangis, sepertinya ucapan Nata tidak didengar Ruhi
"Nata-neechan harus bersamaku, aku kesepian. Tapi kakak bersenang-senang dengan teman-teman kakak"
"Nggak bisa!, aku masih mau hidup!!!" teriak Nata kesal
"Nata-neechan tidak sayang sama aku?" tanya Ruhi sambil menangis, Nata iba melihat mantan adiknya itu menangis. Biarpun dia sudah mati, dia tetap adiknya, dia pun menghampiri mantan adiknya dan memeluknya.
"Kakak tentu sayang kamu, tetapi kamu sudah tidak ada didunia ini, kamu sudah lenyap dari dunia ini. Sebagai adik, kamu jangan keras kepala dong. Kakak...kakak pun
kakak pun ingin kamu hidup, seandainya kamu hidup" Nata menangis
"Kakak- mau ikut bersamaku?" tanyanya
"Iya, lakukan apapun maumu" katanya sambil menutup mata.
Ruhi tersenyum senang, dia menutup matanya dan mengayunkan pisau.
23 senti
20 senti
17 senti
14 senti
10 senti
5 senti
4 senti
2 senti
1 senti
JLEB
"Kamu puas kan, Ruhi-chan?" tanya Nata sambil menutup matanya untuk selamanya. "Nata, air mandi sudah si- KYAAAAAAAAAAAA" teriak Hinata melihat anaknya sudah belumuran darah, pisau menusuk tepat di jantungnya, disampingnya ada tulisan darah
4 orang menjadi milikku
-Ruhi-
"Sampai-sampai Nata-chan pun- " Hinata masih menangis, kini didampingi teman-temannya. "Tadi terakhir kalinya aku belajar bersama Nata-chan" kata Maru menangis. Polisi mondar-mandir keluar rumah Hinata dan menanyai tentang pembunuhan itu. Hinata terus-terusan ditanyai, yang akhirnya selesai juga.
"Nggak ada ampun lagi untuk dia!, besok aku akan membuat perhitungan! PASTI"
To be continued
halcali-chan : Chapter ke-5 nanti adalah chapter terakhir jadi tunggu yaa!!!
