"Aku kan bilang baru bertemu dengan gadis berambut indigo sepertimu, Vampire-chan. Kalau mengenai warna iris mata kalian, memang sama." Jawab Naruto enteng. Membuat Hinata cengo seketika.
Melepaskan bekapan tangannya, Hinata mengalihkan perhatian ke arah lain. 'Hanya sekedar warna rambutku ini, heh?' batinnya, entah kenapa tidak begitu suka dengan jawaban sang Uzumaki.
"Oh, satu lagi Vampire-chan!"
Menoleh enggan, Hinata mendengus cepat, "Apa?"
"Aku tahu kau tadi itu mungkin karena naluriku," ujar Naruto singkat, sedangkan Hinata menaikkan alisnya bingung.
"Naluri?"
"Ya!"
Menghela napas sejenak, Hinata kembali mendengus pelan. 'Yah, sifat polosnya memang belum berubah sejak dulu.'
Kenapa dia memikirkan perkataan Naruto begitu serius, Hah sepertinya ada hal yang aneh menimpa dirinya hari ini.
'Hah~ sudahlah,'
Vampire-chan! I Will Get You!
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T
Genre : Romance, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship
Pair : Naru x Hina(RTN)
Warning : Typo, OOC luar biasa, Hinata RTN! Aggressive Naru!Abal, Gaje
Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Enjoy~
OooOOoOoOoOoOoO
Chapter 4 : Something Weird?
"Ughh," erangan kecil terus terdengar dari bibir Hinata, alisnya tertekuk rapi, membuat pemuda yang menggendongnya kini ikut-ikutan bingung.
"Kau kenapa, Vampire-chan?" tanya Naruto cepat,
Kesal dengan perkataan polos sang Uzumaki, tanpa basa-basi lagi ia melayangkan pukulan mungilnya tepat di kepala pirang kebanggaan pemuda itu.
Buaghh!
"Baka! Kau pikir sudah berapa lama kita berjalan-jalan seperti ini terus?!" serunya kencang.
"Berjalan-jalan? Bukannya aku menggendongmu."
"Arghh! Terserah, tapi kau tahu ini sudah lewat dua puluh menit sejak kita keluar dari taman. Memangnya seberapa jauh kedai ramen kesukaanmu itu!" ujarnya sekali lagi.
"Sebentar lagi kita sampai kok~" mendengar jawaban santai dari Naruto, entah kenapa dia jadi ragu sendiri.
"Benar? Ingat waktuku bersamamu hanya sampai matahari terbenam."
Naruto sedikit melirik ke belakang, meski sekarang ia tidak bisa melihat wajah gadis kecil di gendongannya, "Memangnya kalau waktunya lewat, kau mau kemana?" tanyanya lagi.
"Kau tidak perlu tahu,"
Mengerang kecil mendengar jawaban singkat Vampire di belakangnya, "Kalau begitu aku boleh tahu kenapa tubuhmu bisa berubah sekecil ini? Setahuku dulu, tubuhmu kan hampir sama denganku sekarang?"
Memutar bola matanya sekilas, kembali Hinata mencubit pelan pipi tan Naruto, "Yah, itu juga rahasia, kalaupun aku memberi tahumu. Kupastikan kau tidak akan percaya~" jawab Hinata singkat,
"..." sedikit terdiam, Naruto sebenarnya ingin sekali tahu, tapi begitu ia merasakan terpaan napas gadis kecil yang ia gendong mengenai lehernya, terasa panas.
"Tubuhmu panas sekali, Vampire-chan, kenapa kau bisa berjalan-jalan siang hari seperti ini. Bukannya Vampireitu tidak suka dengan sinar matahari, kau tidak apa-apa?" pertanyaan bertubi-tubi mendatangi Hinata, sedikit mengernyit heran.
"Banyak sekali hal-hal yang tidak kau ketahui bocah, dan ini salah satunya."
Masih tidak mengerti, "Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa, mungkin nanti akan kuberitahu~"
Seolah tidak puas dengan jawaban Vampiredalam gendongannya ini, Naruto hanya bisa merengut pelan, "Kapan?"
'Hah, sikap keras kepalanya benar-benar tidak menghilang sejak dulu~'
Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan, akan sangat merepotkan kalau harus memberikan penjelasan yang panjang lebar pada Naruto,
"Bocah, kau bisa turunkan aku sekarang, aku bisa berjalan sendiri." Tawarnya cepat,
"Tidak mau, kau sedang sakit Vampire-chan, aku tidak mau nanti kau pingsan atau semacamnya." Ujar Naruto cepat.
"Kau lupa kalau aku ini Vampire yang kuat, dulu saja aku bisa menggendongmu~"
"Sekuat-kuatnya Vampire, kau tetaplah seorang gadis yang tengah sakit, dan dulu kau menggendongku itu saat tubuhku masih ringan," kilahnya.
"..."
'Heh, gadis ya? Dia masih menganggapku seorang gadis yang lemah,'
"Aku ini bukan manusia seperti yang kau pikirkan, aku ini hanyalah seorang monster yang abadi, bocah." entah kenapa mengatakan dirinya sendiri monster, membuat dadanya mengernyit sakit. Bukankah itu hal yang sebenarnya?
"..." Naruto kembali terdiam,
'Nah, kau tidak bisa mengelaknya bocah, hah tak kukira hari pertama menjadi manusia. Aku malah bertemu denganmu lagi,"
"Jangan-"
"Eh?" samar-samar gadis indigo itu dapat mendengar suara dari bibir Naruto, 'Apa dia mengatakan sesuatu?'
Langkah kakinya terhenti, semakin membuat Hinata bingung,
"Bocah-"
"Jangan pernah mengatakan kalau dirimu itu monster, kalau kau terus mengatakan itu aku akan marah."
Tercenung mendengar jawaban Naruto, tidak ada keraguan dalam kata-katanya, Hinata membeku, pemuda cengeng dan rewel yang sempat ia temui dulu. Ternyata sudah berubah menjadi seperti ini, terlihat dewasa dan pengertian seperti biasanya.
Haruskah ia senang mendengar semua itu?
Atau marah?
"..."
Ia tidak tahu.
'Arigatou bocah, aku senang bisa bertemu denganmu lagi.' batinnya pelan.
.
.
.
.
.
Setelah tiga puluh menit berjalan kaki, akhirnya manik Hinata menangkap sebuah kedai di ujung jalan sana. Aroma ramen pun mulai tercium, menyebabkan perutnya yang sejak tadi pagi tidak diisi berbunyi kecil.
Setidaknya hari ini dia tidak perlu merasa mual lagi melihat makanan itu, mengingat kalau salah satu pesanan favorite Naruto adalah Ramen Jumbo plus extra bawang goreng. Untunglah hari ini ia resmi menjadi manusia walau hanya sekejap, jadi kalau tidak. Di pastikan Hinata tidak mau mendekati bahkan mendatangi kedai itu bersama Naruto.
"Bocah, itu tempatnya kan?" tanyanya kembali, seraya menunjuk ke arah depan.
"Ya,"
Melihat selama sepuluh tahun ini dia tidak pernah lagi mendekati tempat itu, perubahan terjadi banyak sekali. "Biarpun letaknya tetap, tapi sepertinya kedai itu semakin besar." Gumamnya entah pada siapa.
Sedangkan Naruto yang mendengarnya mengangguk setuju, "Tentu saja, kedai ramen Ojisan sudah terkenal sekarang, memangnya Vampire-chan tidak pernah mampir ke sana lagi?"
"..." Pertanyaan Naruto entah kenapa membuat Hinata malah terdiam sesaat,
'Tidak tahukah kau bocah, kalau selama sepuluh tahun ini. Aku hampir tidak pernah berpikir untuk datang ke sana. Yang bisa kulakukan hanya berdiam diri di rumah dan pergi untuk berlatih bersama Neji-niisan.'
"..."
Ya, sejak sepuluh tahun belakangan ini, Hinata memang sedikit jarang keluar. Mengingat umurnya yang kembali bertambah, membuat semua keluarganya semakin memintanya untuk menjadi salah satu Vampire yang kuat bersama kakak sepupunya. Menaikkan derajat keluarga Hyuga, dan membuatnya semakin di segani.
Latihan yang berada jauh dari Kota Konoha, selama berhari-hari di sana. Berlatih dan terus berlatih, sampai-sampai untuk pergi menemui bocah pirang ini pun dia tidak sempat.
Bergelut dengan pikirannya, membuat Naruto yang melihat perubahan sikap gadis kecil di bekalangnya mengernyit heran, apa dia salah bertanya?
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan,
Menyentakkan pikiran Hinata sekejap, "Ah, ti..tidak, tadi aku hanya sedikit melamun saja."
"Tapi-"
"Ayo, cepat ke sana bocah. Sebelum aku kelaparan!" seru Hinata kecil, menarik-narik rambut pirang Naruto pelan. Membuat si empunya hanya bisa menghela napas panjang, dan mengangguk pasrah.
"Hah, baiklah~"
[...]
Ckitt~
Gara-gara terlalu memikirkan hal tadi, membuat pikiran Hinata terbebani. Tubuhnya kembali memanas, dan kepalanya semakin pusing. Padahal tadi dia hanya melamun sebentar saja, tapi kenapa efeknya keras sekali?
'Kuso, kenapa penyakitku jadi parah seperti ini?' batin gadis itu bingung, seraya tak lupa memegang kepalanya yang terus berdenyut, entah kenapa otaknya jadi tidak bisa berpikir jernih.
Apa ini sudah limit dari penyakitnya? Tanpa ia sadari, kepalanya kini sudah bertumpu nyaman di pundak Naruto lagi.
[...]
Saat tiba tepat di depan kedai ramen, Naruto mencoba menoleh melihat keadaan gadis kecil yang ia gendong, "Vampire-chan, kau benar tidak apa-apa?" tanya khawatir saat merasakan deru napas gadis itu semakin tidak beraturan.
"..." tidak ada jawaban, kepala Hinata sudah terlalu pusing untuk berbicara, alhasil gadis itu hanya mengangguk pelan, seraya merebahkan kepalanya tepat di pundak Naruto lebih dalam lagi.
"Lebih baik lupakan saja perkataanku tadi, akan kuantar kau pulang, ya?" tawar Naruto cepat, saat melihat kondisi gadis itu semakin parah.
Hinata yang mendengar ucapan samar Naruto mendongak sekilas, sepertinya dengan keadaan sakit di tambah perut yang kosong membuatnya semakin lemah.
"Ja..ngan, bocah. Kau tidak per..lu mengantarkanku, aku ini buk..an tipe orang yang su..ka mengingkari jan..ji-" sekuat tenaga ia melarang, memberi tahu rumahnya pada Naruto hanya membuat keluarganya curiga.
"Tapi tetap saja-" perkataan pemuda pirang itu langsung terpotong saat melihat tirai kedai terbuka. Menampakkan dua orang gadis yang tadi sempat ia membawa Kuro-nya. Tatapan kesal tertuju tepat padanya, sedikit membuat ia bergidik ngeri.
"N-A-R-U-T-O,"
Glek!
Takut-takut Naruto memandang kedua gadis aka Shion, dan Sara. Keduanya berkacak pinggang, kesal, dan melemparkan deathglare andalan mereka.
Sedikit kikuk, pemuda pirang itu menggaruk pipinya yang tak gatal, "A..ah, Shion, Sara, ternyata kalian sudah di sini," ujarnya pelan.
Tanpa mendengar perkataan sang Uzumaki, keduanya langsung berjalan mendekatinya. "Kau tahu kami sudah menunggumu selama tiga puluh menit di sini! Dan sekarang kau datang dengan wajah tanpa dosa, seakan-akan tidak sadar sudah melakukan kesalahan apapun!" Sara membentak gemas, mengepalkan tangannya geram.
"Ya, dan yang lebih parahnya lagi. Kau malah membuat kami mengajak Kuro-mu yang tidak bisa diam itu, membuat kami kelelahan karena sempat mengejarnya tadi!" Shion melanjutkan.
'Gawat! Aku lupa!' Naruto membatin ngeri, karena terlalu senang bertemu dengan gadis di belakangnya ini. Dia jadi lupa semua pada teman-temannya yang menunggu di Ichiraku, dan malah memperlambat langkah kakinya menuju kedai!
Hinata yang melihat pertengkaran kecil antara ketiga orang di hadapannya hanya bisa mendesah pelan, 'Bocah-bocah ini lebih berisik daripada Naruto.' batinnya.
Mencoba berbisik pada sang pemuda pirang, "Bocah, untunglah aku memintamu untuk kemari. Kalau tidak, mereka berdua mungkin akan lebih marah lagi padamu besok~" bisiknya pelan, masih dengan deru napasnya yang panas.
Sedangkan Naruto, entah ia harus berterima kasih atau sebaliknya. Tapi yang lebih penting sekarang adalah menenangkan kedua gadis di hadapannya.
"Go..gomen, aku benar-benar tidak bermaksud untuk lupa kalau-" belum selesai ia berbicara.
Shion, dan Sara langsung menyemburnya, "Apa! Jadi kau memang sempat lupa pada kami!"
"E..eh, i..itu-" melihat langkah kaki kedua temannya semakin mendekat, Naruto reflek berjalan mundur, masih menggendong Vampire kecil dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya yang memasang pose guard di depan tubuhnya.
"Naruto!"
"Tu..tunggu, ini bisa kujelaskan!"
"Tidak!"
'Mereka seram sekali!'
Kedua gadis itu makin dekat, menghimpitnya di dekat tembok, dan menghentikan pergerakannya. Naruto tidak mungkin berjalan mundur lagi, takut gadis kecil di belakangnyan ikut terhimpit.
"Awas kau, Baka Naruto! Kau harus mendapat pelajaran!" tepat saat Sara, dan Shion hendak memukul kepala pirang sang Uzumaki sekeras-kerasnya.
"Nee..san, jangan pu..kul Naruto-niisan-" suara seorang gadis kecil menginterupsi gerakan mereka. Menghentikan lebih tepatnya,
Kedua gadis itu reflek menurunkan tangan mereka, Saling menatap satu sama lain sejenak, sampai akhirnya menoleh garang pada Naruto.
Dan tepat saat meneliti pemuda pirang itu, barulah mereka sadar-
"Lho? Bukannya kau adik kecil tadi?"
Ya, mereka melihat rambut indigo yang mencuat dari belakang punggung Naruto, karena terlalu emosi. Sepertinya mereka tidak sadar kalau Naruto hanya menggunakan satu tangannya untuk menahan serangan, sedangkan satu tangan yang lain ternyata di gunakan untuk menggendong gadis kecil itu.
"Ta..di, Niisan tiba-tiba saja menga..jakku untuk kemari, ja..di kami agak sedikit lama-" jelas Hinata sekuat-kuatnya,
'Sial! Kepalaku makin pusing!' dia bahkan sadar kalau suaranya sudah tidak selancar tadi lagi.
Seakan ragu dengan ucapan gadis kecil di belakang Naruto. Sara dan Shion kembali menatap pemuda pirang itu.
"Apa yang di katakan adik kecil ini, benar Naruto-kun?!" sentak Shion cepat.
'Arigatou, Vampire-chan!'
Tidak mau menyia-nyiakan pembelaan Vampire kecil itu, Naruto mengangguk keras. "Iya! Kata adik kecil kepalanya sedang sakit, jadi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." jawabnya cepat.
"..."
Diam, kedua gadis itu membisu. Mereka saling melirik satu sama lain, seolah-olah melemparkan perkataan batin, 'Apa kita harus percaya dengannya?'
Masih berkacak pinggang kesal, Sara menoleh kembali pada Naruto, mengerucutkan bibirnya sekilas, "Kau tidak berbohong pada kami kan?" tanyanya penuh penekanan.
Sukses, membuat sang empunya meneguk ludah kembali, "I..iya, tentu saja aku tidak berbohong. Percayalah!" serunya yakin.
"..."
"Sara, Shion sudahlah, yang penting Naruto kan sudah datang. Cepatlah kalian masuk ke dalam, perutku sudah lapar, dan menunggu kalian memarahi si Baka ini hanya akan membuang-buang waktu." Tirai kedai terbuka kembali, menampakkan gadis merah muda, memutar bola matanya sekilas dan menghela napas panjang.
Kali ini gadis berambut pirang panjang aka Ino ikut andil, "Sakura benar, ayo cepat masuk. Marah-marahnya di tunda dulu," lanjutnya.
"Ugh~" mendengar perkataan Sakura dan Ino, sukses membuat kedua gadis ini mendengus kesal. Hah, terpaksa mereka mempercayai perkataan Naruto,
Dan kalau di lihat lebih dekat, memang gadis kecil dalam gendongan temannya ini memang terlihat sakit. Terbukti dari suaranya yang sedikit terputus-putus tadi,
"Hah, baiklah. Oh, mengenai Kuro-mu dia sudah kami ikat di dekat sana." ujar Sara, seraya masuk ke dalam kedai. Diikuti dengan Shion.
Meninggalkan Naruto dan Hinata berdua, lagi.
"..."
"Fuah, syukurlah!" seru Naruto kecil. Yah, untunglah untuk kali ini, wajah dan kepalanya tidak berakhir babak belur gara-gara amukan kedua temannya.
.
.
.
.
.
Sedangkan Hinata,
'Kuro...'
'Maksudnya hewan hitam itu?!' tersentak kaget, mendengar perkataan terakhir kedua gadis tadi. Barulah ia sadar, kalau ternyata melupakan satu hal yang penting.
Sret, manik Lavendernya dengan cepat melirik ngeri ke sebuah tiang yang yang tidak jauh dari sana. Dan-
"Guk! Guk!"
Anjing hitam nan manis itu menggonggong ceria, lidahnya terjulur keluar, ekornya bergerak keras, dan seolah-olah senang bertemu dengannya lagi.
Akhirnya dengan tenaganya yang setengah lemas, "Hu..waa, aku..lupa dengan hewan peliharaanmu, bocah!" Hinata berteriak kecil.
"Oh, tenang saja Kuro sudah diikat di sana, jadi kau tidak perlu takut." Naruto malah menanggapinya dengan enteng.
"Guk! Guk!" gonggongan itu semakin keras,
Langsung saja tanpa basa-basi, sang gadis indigo memeluk leher Naruto erat, membenamkan wajahnya di sana, menahan rasa takutnya.
'Jilatan dan gonggongannya! Hiee, aku berjanji tidak akan mau dekat-dekat dengan hewan itu lagi!' batinnya, karena sekarang ia tidak bisa berteriak seperti biasa.
[...]
Naruto yang merasakan kembali deru napas di lehernya, samar-samar mencium harum tubuh Vampire kecil itu, entah kenapa ia baru sadar. Kalau aroma yang di keluarkan sang gadis masih sama seperti dulu,
Grep, "Menyeram..kan,"
"Vampire-chan, jangan memelukku terlalu erat-" sedikit kikuk ia berusaha menahan diri agar tidak memerah,
Hinata malah tidak sadar sepenuhnya, "Bo..cah, cepat ma..suk!" ujarnya ambigu.
'Masuk?!'
Saking kikuknya, Naruto malah memikirkan hal yang tidak-tidak, pikirannya melayang kemana-mana. Salahkan gadis kecil di belakangnya, yang sudah seenaknya saja memeluk lehernya erat, membuatnya merasakan samar-samar harum dan bibir mungil yang sekilas mengecup di sana. Geli bercampur panas,
"E..eh! Masuk ke mana, Vampire-chan! Aku belum siap!"
Krik.
"..." tatapan datar langsung terlihat di wajah Hinata,
'Ini bocah mikirin apa sebenarnya?'
Dengan sisa tenaganya, Hinata berusaha menjauh sekilas dari leher Naruto, menggunakan tangan mungilnya. Kembali ia melayangkan cubitan gemas pada pemuda pirang ini,
Gyutt~
"Sakit! Jangan mencubitku terus!" Naruto mengerang sakit,
"Bocah, me..mangnya kau pikir masuk ke..mana lagi, hah? Tentu saja ma..suk ke dalam kedai-" ujar Hinata setengah menyeringai, saat mendengar jawabannya. Dapat ia rasakan tubuh Naruto yang berubah menjadi batu sekilas-
"..."
"A..ah! Bu..bukan apa-apa kok, ya, te..tentu saja masuk ke dalam kedai! A..ahaha, ayo masuk!" jawaban nan kikuk meluncur indah dari bibir Naruto.
'Hmph, dasar.' Batin Hinata kecil, setengah geli.
.
.
.
.
Begitu memasuki kedai, aroma khas ramen terasa sangat kental. Membuat Hinata rindu walaupun hanya pernah sekali tempat ini. Memang ia akui kalau ramen di Ichiraku memang lezat, dan ucapan Naruto saat kecil dulu ternyata tidak salah.
"Naruto disini!" seruan semua teman-temannya, membuat Naruto menoleh cepat. Lambaian singkat mereka berikan pada pemuda pirang itu.
"Oke!" dengan cepat Naruto menghampiri teman-teman di sana.
[OoOoOoOoOoOoOoO]
"Bocah, kau bi..sa turun..kan aku sekarang-" Oh, sial! Kenapa suaranya jadi semakin kacau seperti ini! Hinata mencoba berbicara semampunya. Ia tidak bisa terus di gendong oleh Naruto, kan malu!
"Baik, baik." Saat sampai, Naruto melihat ada dua tempat duduk kosong, tapi yang satunya di apit oleh Sara dan Shion, dan yang satunya lagi di samping Sara. Jadi terlihat berpisah, kedua alis Naruto pun sukses mengernyit heran.
Sebelum bertanya lebih jauh, Naruto menurunkan Vampire kecil di belakangnya pelan-pelan.
'Aku benar-benar butuh tempat duduk,' tanpa basa-basi Hinata, hendak berjalan menuju tempat duduk di samping seorang gadis berambut merah. Tapi sebelum ia berjalan lebih jauh-
Grep, tangan Naruto menghentikannya lagi, membuatnya mendecak kesal, "Ada apa? Aku ingin segera duduk." Gerutunya.
Tidak mengidahkan perkataan gadis kecil di sampingnya, Naruto berjalan mendekati kedua teman gadisnya.
"Ano, Sara bisa kau geser ke samping Shion sedikit?" ujar pemuda pirang itu polos, tak peka sama sekali!
"E..eh?" kedua gadis di sana malah terlihat kaget.
Oh, Hinata ingin sekali memukul kepala Naruto yang polos itu! Kenapa dia tidak sadar sedikit pun kalau kedua gadis di sana memang sengaja menyisakan jarak antara mereka berdua agar Naruto bisa duduk di tengah-tengah!
Menepuk kepalanya keningnya, tangan mungil Hinata menarik baju Naruto, berjinjit sekilas, dan mencoba membisiki pemuda pirang itu, "Bo..cah, paling ti..dak pekalah sedikit. Aku bisa duduk di mana saja." bisiknya cepat.
Alis Naruto kembali mengerut bingung, "Peka apa? Aku harus duduk di sampingmu, kalau tidak nanti kalau kau pingsan tiba-tiba bagaimana?"
Plok! 'Percuma aku bicara dengannya!' Hinata makin pusing, sudahlah daripada memikirkan hal yang sia-sia lebih baik ia menurut saja.
"Terserahmu."
[...]
Dan alhasil, Hinata melihat jelas rengutan dari bibir Sara dan Shion. Kedua gadis itu terlihat tidak suka. Ia jadi menghela napas panjang, Maniknya memandang malas ke arah Naruto yang tengah asyik membaca menu makanan di depannya.
"Naruto kau pesan Ramen seperti biasa?" Sakura menginterupsi pemuda pirang itu. Membuat Naruto mengadah singkat, dan-
"..."
Menoleh padanya.
Lho?
"Kau pesan apa, Va-maksudku adik kecil?"
Mendengar pertanyaan Naruto, sebenarnya Hinata simple-simple saja. "Ramen biasa," jawabnya singkat, setelah itu mencoba menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya. Mungkin selagi menunggu ramen datang dia bisa menutup matanya sejenak.
"Kalau begitu aku juga, pesan Ramen biasa, Ojisan!"
"..."
Teriakan Naruto sukses membuat gadis berambut indigo itu menaikkan alisnya heran, mengangkat wajahnya sekilas, bibirnya tanpa sadar bergumam kecil, "Bocah, bukannya dulu pesananmu itu Ramen super jumbo yang entah apa namanya? Seleramu berganti, ha?"
Sebenarnya tidak penting juga sih, membahas hal itu. Tapi saat mendengar jawaban dari Naruto-
"..."
"Kelemahanmu kan bawang goreng jadi aku tidak akan memesan itu."
Hinata tertegun. Ia mulai merasakan kembali darah yang perlahan mengalir lembut menuju wajahnya, panas-
'Bocah menyebalkan.'
.
.
.
.
.
Menunggu makanan datang, Hinata mencoba menutup matanya barang sekejap. Bola matanya sudah terlalu berat, dan kepalanya malah bertambah pusing. Deru napasnya pun kembali tak teratur,
'Kenapa penyakitku bisa separah ini, dulu aku tidak pernah kerepotan sampai ingin pingsan seperti sekarang?' batinnya masih heran, apa Kabuto salah memberinya ramuan atau justru ramuan yang dia ambil yang salah?
'Pokoknya aku harus menanyakan ini saat pulang nanti, dan kalau dugaanku ternyata benar. Kabuto-san akan menerima akibatnya.' Hinata mendesah panjang,
"..."
Hyungg~ tubuh Hinata kembali merosot dari tempat duduknya.
'Panas,'
'Kepalaku pusing,'
'Haus.'
Tanpa ia sadari, tegukan kecil meluncur turun dari tenggorokannya. Terasa kering, dan Hinata benar-benar ingin meneguk sesuatu sekarang juga.
Glek, tanpa menunggu lebih lama lagi, tangan mungilnya mencoba menarik pelan lengan baju Naruto, berharap kalau pemuda pirang itu mau menoleh.
"Bocah-" gumamnya kecil.
"..."
Naruto yang tengah asyik berbicara dengan teman-temannya pun segera menoleh, begitu mendengar suara panggilan gadis kecil di sampingnya.
"Apa apa?" tanyanya lembut, matanya terlihat sedikit khawatir saat manik Lavender gadis itu membuka dan menutup sekilas, bibirnya bergumam seakan ingin mengatakan sesuatu.
Saat mendengar samar-samar suara Vampire itu, Naruto dengan cepat mendekatkan wajahnya. Mempertajam pendengarannya,
"..."
Membuat Hinata yang entah kenapa malah tertegun melihat pemuda pirang itu mendekat padanya. Tanpa ia sadari kini pikirannya sudah melayang-layang-
"..."
'Harum, apa aroma tubuh Naruto memang seenak ini~' dalam kesadarannya yang meremang, Hinata menghirup aroma tubuh Naruto dalam-dalam. Entah kenapa aroma yang di keluarkan oleh pemuda pirang ini, terasa sangat enak,
Dan sukses membuat dirinya menjilat bibirnya singkat, sebelum..
"..."
'Eh! Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu!' Hinata menggelengkan kepalanya keras, membuat kepalanya bertambah pusing.
'Cih, sadarlah Hinata!' Ia mencoba mengembalikan kesadarannya,
'Aku tidak lemah, hanya karena penyakit ini!' tangannya mengepal perlahan, dan tepat saat Naruto semakin heran dan semakin mendekatinya.
"Tadi kau bilang apa, Vampire-chan? Aku tidak terlalu dengar?" bisik Naruto.
Hinata tersadar dari lamunannya, tubuhnya menegang sekilas. Ia yang tadinya menoleh menatap Naruto pun berbalik menghadap ke depan, atau lebih tepatnya menunduk pelan. Kenapa aroma tubuh Naruto terasa menyengat di hidungnya? Kenapa sekarang? Bukannya tadi saat di gendong oleh pemuda pirang ini dia masih baik-baik saja?
Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhnya?!
"Vampire-chan?" oke, Naruto yang melihat gerak-gerik tak biasa dari gadis di sampingnya mulai merasakan keanehan.
"..."
Harum,
Enak,
Menyegarkan,
Darahnya-
"..."
Glek!
'Apa yang kupikirkan! Aku seorang manusia sekarang! Sadarlah Hinata! Kuso!'
"Kau baik-baik saja? Jawab aku Vampire-chan?" bertambah khawatir, Naruto segera berbisik memanggil gadis itu.
'Tenang, Hinata tenang!'
"..."
Napasnya yang tadi sempat memburu, kembali normal walau bukan sepenuhnya. Entah kenapa berada semakin dekat dengan Naruto membuatnya-
"..."
Bertambah haus-
Padahal dulu dia sama sekali tidak tertarik dengan darah bocah pirang ini. Tapi kenapa sekarang, dan semuanya terjadi secara tiba-tiba seperti itu!
"Kau baik-baik sa-"
Tangan Naruto yang berusaha kembali menyentuh pipi kenyalnya, segera ia tepis,
Plak!
"Ah,"
"Ah, a..ku tidak apa-apa, lupa..kan saja panggilanku tadi." Kilahnya cepat, berusaha menyembunyikan perasaan anehnya ini.
"Tapi-"
Tepat saat melanjutkan perkataannya-
"Pesanan datang! Delapan porsi Ramen!" tiga orang pelayan datang sambil membawa delapan mangkuk ramen di tangan mereka. Membuat Hinata mendesah lega, dan Naruto yang-
"Ini pesananmu Naruto-kun," sukses dikerumuni dua gadis di samping kanannya.
"Tu..tunggu dulu-"
"Makanlah bocah, kau tidak usah menghawatirkanku." Bisik Hinata kembali.
Meski ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Tapi yang pasti, Ia tidak ingin kalah dengan penyakitnya ini.
'Padahal waktuku masih tiga jam lagi, kenapa bisa-bisa tadi aku memikirkan darah Naruto.'
"..."
Menggeleng kecil, Hinata segera menepiskan semua prasangkanya. 'Tidak, tidak, tidak! Lupakan semuanya, aku yakin tadi hanya kecelakaan kecil saja.'
Ya, semoga saja.
.
.
.
.
.
Sementara di tempat lain~
"Kalian cepat cari Hinata-sama!" seorang laki-laki berambut perak, aka Kabuto tengah memandang panik ke seluruh pelosok Konoha, berharap bisa menemukan putri majikannya itu.
"Ha'i!" semua pelayan yang sudah lengkap dengan payung kecil dan obat yang sempat di minumnya, segera melompat pergi, mencari Hinata.
[...]
"Kenapa aku baru sadar-" Kabuto mendesis pelan, menggigit jemarinya bingung, pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak menyangka kalau sudah melupakan sesuatu yang penting, pantas saja tadi ia merasa ada yang aneh dengan sikap Hinata.
Memang perkiraannya, begitu Hinata meminum ramuan miliknya, tubuh gadis itu akan mengecil, tapi ia tidak mengira kalau Hinata akan mengambil obat yang berbeda. Obat yang memiliki efek yang sama, namun dengan warna yang berbeda, letaknya hanya berjarak tidak jauh dari rak yang ia anjurkan pada gadis indigo itu, terlebih lagi-
'Obat yang di ambil Hinata-sama belum pernah kupresentasikan pada siapapun!' kenapa dia bisa se-santai itu saat mengatakan kalau ramuan yang dibuatnya aman-aman saja. Saking lelahnya dan berkonsetrasi dengan ramuan barunya, Ia malah menjawab pertanyaan-pertanyaan Hinata dengan gampang. Tidak sadarkah dia kalau obat yang diambil putri majikannya itu salah! Laki-laki itu hanya melihat perubahan yang terjadi pada Hinata, bukan ramuan yang diambilnya!
"Hm, menurutmu yang mana lebih bagus, Kabuto-san?"
"Yang mana saja aman."
'Aku pasti akan di hukum!'
Pokoknya yang harus ia lakukan sekarang adalah menemukan Hinata, dan membawa gadis indigo itu pulang secepatnya. Kabuto benar-benar tidak bisa memprediksikan seperti apa efek samping yang di terima oleh Hinata, saat matahari terbenam nanti.
"Sebelum itu terjadi, aku harus mencegahnya." Dengan cekatan laki-laki perak itu segera membuka botol obat miliknya, dan mengambil satu pil. Memakannya dengan cepat,
"Aku benar-benar tidak memikirkan akibat yang akan di timbulkan obat itu," mengingat tubuh Hinata yang sejak awal melemah, di tambah menanggung penyakitnya dengan tubuh kecil seperti itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, masih dengan pandangannya yang mengedar, Kabuto merenggangkan tubuhnya dan segera melompati gedung-gedung. Mencari sang putri majikannya,
Siapa yang tahu kalau ternyata profesor sekaligus dokter hebat sepertinya bisa membuat suatu kesalahan besar.
"Semoga kau baik-baik saja, Hinata-sama."
TO BE CONTINUED~
A/N :
Yuhhuu Mushi apdet kembali :D #Lambai2# Untunglah hari sabtu ini kegiatan Mushi nggak sibuk jadi bisa apdet, ehehe. Buat yang minta untuk memanjangkan fic ini, huwee kayaknya nggak bisa lagi deh, kan udah di buat jadi Mushi nggak bisa ngerombak lagi deh muehehe #plak#
Dan untuk apdet sabtu depan, doain aja ya mushi punya waktu. Mengingat kalau pendaftaran kuliah udah di mulai minggu depan :(
OooOoOoOooOoOoO
Answer :
Apa nanti Naruto bakal jadi Vampire? Well, untuk masalah itu masih mushi pertimbangkan. Mengingat kalau manusia jadi Vampire itu sedikit mainstream #plak#tendang# XD
Ending mereka bersama? Ohoho, menurut kalian bagaimana? Mau mereka bersama atau di pisah aja? #tampar# :D Kita lihat saja nanti muehehe XD
Buat Naruto cemburu? Okee, pastinya mushi bakal buat adegan dia cemburu muehehe #tawa setan#tabok#
Naruto dari keluarga biasa? Trus temannya ada yang jadi pembasmi Vampire gitu? waahh, ide yang bagus, akan mushi masukin ke dalam archive, :D Kalau Narutonya memang dari keluarga biasa :3
Siapa yang bakal ngalah ke depannya? Um,, gantian mungkin ya, Naru aja yang ngalah muehehe XD tpi untuk sekrang biarkan sajalah Hinata yang mengalah. Coz umurnya lebih tua dari Naru muahaha :v #ditendang Hina#
Hinata manggil Kami-sama, Aneh? Wuaah pasti Hinatanya keceplosan itu! #tunjuk Hina# mueehehe, gomen untuk yang merasa ganjal. Mushi sudah terlanjur tulis sih, di wajar-wajarin aja yaah #tabok#
Chap ini Hinata kembali ke tubuh aslinya? Untuk sekarang tidak dulu, di chap depan akan baru Hinanya kembali ke wujud semula. Sekarang gejala dulu :D
Naruto Agresive? Wehh Mushi demen banget kalo liat Narunya argesive sama Hinata, rasanya gimana gitu. Jadi kalau ada yang ngerasa Narunya beda sifat, itu memang sengaha mushi buat kyk gitu. Sudah di tulis warning sekarang :D
Konflik yang sedih? Pasti bakalan ada, coz mereka aja kan nggak bisa bersatu gitu aja jadi pasti ada! XD
Limit pemakaian obat? Udah ada di chap satu, tapi di sini entah kenapa jadi ada keanehan :D
Tamat ga terlalu panjang? Iyaa, doain aja cepet kelar TOT7
Kabuto muncul? Tuh udah ada walaupun cuman sekejap #plak# di chap selanjutnya akan mushi perlihatkan lagi :D
oOOOOoOoOoOOOOo
Big Thanks buat yang sudah meriview, men-fav, men-follow :D Arigatou! #ojigi#
Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi
Kalau begitu Akhir kata kembali
SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7
JAA~
