YOU

Hai minna-san :D terimakasih ya, yang udah review, follow, fav, dan baca hehe :3. karena semangat, Ahiru-chan mau lanjutin chapter 4 secepatnya nih biar ga ke-update jam 1 pagi lagi kayak chapter 3 hehe -w-)a . ok, minna sekali lagi kalau ada kesalahan ketik, bahasa, ooc hountoni gomenasai *bow*. Okeh, selamat membaca ya~ mudah-mudahan fic ini bisa dimengerti dan menghibur^^

-Chapter 4-

Akashi's POV~

(Reader) menangis tanpa sebab yang ku ketahui. Aku tidak pernah menenangkan orang yang menangis sih, jadi bagaimana? Hmmm, mungkin seperti dulu yang pernah ibu lakukan. Aku mendekatkan diriku ke (reader) sampai dahi kami bersentuhan, ku elus punggung (reader) pelan-pelan, lalu aku mendekati kupingnya.

"(reader) berhentilah menangis, kamu membuatku sedih juga." Setidaknya itu dulu yang ibu katakan. Lalu ia menatap lurus ke mataku dan aku balas menatapnya. Posisi kami, bisa dilihat sebagai... pelukan? Bukan, tapi hanya aku yang memeluk. Tanganku yang satu lagi kugunakan untuk menghapus air matanya.

"ayo kita duduk dipinggir sana," ia mengangguk setuju. Daripada jadi pusat perhatian, aku menuntunnya ke tempat yang sepi. Disini hanya ada kami berdua, jadi kami bisa bicara bebas. "(reader), kau kenapa?" kukira dia tidak akan membuka mulutnya, namun ia malah mulai bercerita tentang mengapa ia dikeluarkan dari sekolah putrinya di Nagoya.

"...maka dari itu. Saat anak-anak mulai memukul pinata tanpa perasaan dengan tongkat kayu seperti itu, aku ingat saat memukul kepala laki-laki itu dengan tongkat kayu sampai mrngrluarkan banyak darah," perempuan ini kuat juga ya. Daripada membuatnya sedih lagi, aku menanggapinya. Lagipula, entah kenapa aku tak mau melihat dia sedih.

"oh, lalu bagaimana orang itu? Meninggal?" ia menggelengkan kepala.

"...tidak, hanya saja koma." Oh, hanya koma.

"sudah bangun? Laki-laki itu?" seru juga membicarakan orang yang dihajar.

"...belum. namun saat bangun kata dokter dia akan menderita lupa ingatan," heee, keren sekali (reder). Kami berduan hening sebentar, ia mulai tidak tenang lagi dan mengoceh terus. "kejadian itu dirahasiakan sih, tapi tetap saja aku takut. Bagaimana kalau dia ingat lalu membalasku? Bagaimana kalau sebetulnya tidak dirahasiakan? Bagaimana kala—" aku lelah melihatnya sedih, karena itu membuatku ikut sedih. Maka dari itu, aku merangkulnya dan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku sehingga ia bisa bersandar di pundakku. Aku mengelus kepalanya dengan lembut sampai membuat (reader) tenang kembali. saat dia tenang, rasa sedihku juga , kenapa aku ikut sedih? Kan bukan masalahku, aneh. Aku belum pernah sedih untuk orang lain sebelumnya, apa karena itu (reader) makanya aku peduli?

Reader's POV~

Aku kaget dengan sikap Akashi yang ini. Aku tidak menyangka Akashi bisa selembut ini. Biasanya kalau aku banyak bicara, akan ada gunting menancap di dekatku. Bahkan minggu lalu waktu aku ketakutan karena mati lampu, ia masih sempat menancapkan gunting di dekat wajahku. Ah, paling karena disini banyak orang. 'Kan waktu di mobil dia bilang kita harus baik-baik disini, tidak seperti disekolah [baca: tidak lempar-lemparan gunting disini].

"(reader) kamu tidak kedinginan?" kata Akashi menghentikan lamunanku.

"ah ngg, iyalah kedinginan. Malam, outdoor, dress 'you-can-see' lagi," kataku mengembungkan pipi tanda kesal. Ukh, aku tidak suka pakai dress seperti ini karena pasti dingin.

"yasudah sebentar." Ia mengisyaratkan ku untuk tidak bersandar di pundaknya lagi. Lalu ia melepas jas yang ia pakai dan ia kenakan padaku. "tuh, pakai. Jangan sampai kotor." Lalu ia tersenyum dan mengulurrkan tangan mengajakku untuk berkeliling lagi.

Aku menyambut tangannya, dia hanya tersenyum dan membawaku berkeliling. Sesekali ada yang menghentikan langkah kami, tentu saja bapak-bapak atau ibu-ibu pengusaha yang menanyakan tentang posisi seorang Akashi Seijuurou, atau sekolahnya, atau yang lebih absurd lagi. Maksudku absurd... ada yang mengira kami pacaran, tunangan dan lain-lain. Bahkan ada yang memperkenalkan putrinya dengan wajah berharap 'menikah dengan putriku yaaa, jangan dia' maksudnya dia itu adalah aku, padahal aku bukan pacarnya. Entah kenapa aku senang saat orang-orang mengira aku pacaran atau punya status dekat dengan Akashi, tapi kenapa ya? Lalu bila Akashi berbicara dengan gadis lain aku menginjak kakinya karena kesal. Ia balas menginjakku sih, lalu kalau aku injak lagi, dia akan meremas tanganku yang sedari tadi tidak ia lepaskan.

"(reader) kenapa kau menginjak kakiku terus sih?" ia menatapku dengan kesal. Kami sudah pulang duluan sebelum pesta selesai karena aku mengeluh capek dan pegal memakai sepatu tinggi.

"tidak apa. Cuma mau memeriksa, ketebalan sepatu." Kataku melihat keluar jendela mobil.

"apa hubungannya dengan menginjakku?"

"tidak ada." Lalu aku memejamkan mata untuk tertidur, Akashi hanya bisa menghela napas. Perjalanan dari sini sampai apartemenku masih lumayan jauh, daripada kupakai untuk debat, lebih baik aku istirahat. Aku tidak tahu persis sekarang jam berapa, walau aku baru bangun sekitar jam setengah empat sore, aku sudah sangat mengantuk sekarang. Yang kutahu setelah aku tertidur dan sepertinya sudah sampai, seperti ada yang menggendongku dan menaruhku dikasur. Aku bisa merasakan tangan yang memainkan rambutku, namun aku tak bisa membuka mata karena terlalu lelah.

"oyasumi," terdengar suara Akashi membisikan kata salamat malam itu di telinga ku. Akashi yaa...

-skip-

Tok tok tok suara ketukan di pintu membuatku terbangun. Siapa lagi sih sepagi ini? "nnggggg siapa?"

"Akashi Seijuurou," kata usara dibalik pintu.

"Akashi? Kenapa pagi-pagi?" ukhh ngantuk banget nih. Aku berjalan membukakan pintu untuk Akashi. Karena belajar dari pengalaman kemarin, aku pakai kaus dulu sebelum keluar. "kenapa?" aku masih setengah sadar membukakan pintu.

"cepat bersiap ke sekolah, kita bisa telat nanti." Katanya masuk tanpa kupersilahkan.

"telat?" aku baru saja akan menarik lengan Akashi untuk melihat jam di tangannya tapi ia sudah tahu dan memperlihatkan jam ditangannya, sial aku kesiangan! Aku lari bersiap-siap secepat kilat dan menarik Akashi yang sedang duduk di sofa ruang tengah untuk keluar. Aku mengunci pintu apartemen dan menariknya untuk berlari turun lewat tangga. Saat sudah hampir sampai di halte, aku melihat ada satu bus yang masih menunggu. Aku lari dengan lebih cepat lagi, tapi aku tersandung hingga jatuh. Akashi yang daritadi kutarik ikut terjatuh dan menimpaku.

"Akashi, berdiri cepat," aku merintih kesakitan karena tertiban.

"jangan memerintahku," katanya juga sambil merintih kesakitan, jatuh kami agak keras sih.

"uuurggghhh, Akashi tolong berdiri," lalu ia berdiri, saat ia mau membantuku untuk berdiri aku malah langsung berdiri mengejar bus, tapi telat. "aaaahh! Tunggu!" namun bus itu tetap berjalan pergi. Sialan.

"hei (reader),"

"apa?" kataku kesal. Coba tadi kami tidak terjatuh...

"kau lupa aku naik mobil?" lalu aku menoleh padanya dan berjalan mengahampirinya. Aku memegang kedua tangannya dan tersenyum,

"yokatta," kataku senang. Eh tapi tunggu, ko tidak bilang? "Akashi, seharusnya kamu bilang dari tadi!"

"kamu tidak bertanya." Katanya lalu berjalan mendahuluiku untuk masuk mobil. Haaah, pagi yang melelahkan.

-skip-

"(reader)-san! Ohayou!" sapa Sasaki di dalam kelas.

"Ohayou~" kataku lalu duduk dan menghela napas. Sasaki mengikutiku dan duduk di depan kursiku.

"(reader)-san, kamu tidak apa-apa? Kemarin minggu kau dipaksa menemani dia bukan? Kalian melakukan apa saja disana?" Sasaki langsung menghujani ku dengan banyak pertanyaan. Ngapain ya di pesta kemarin? Yang aku ingat dia menenangkanku, memelukku, dan membriku jasnya... aku mengingat kejadian itu satu per satu dan bisa merasakan kalau wajahku mulai memanas dan jantungku berdebar. Padahal kan Cuma begitu, tapi kenapa wajahku memanas dan berdebar?

"ti-tidak melakukan apa-apa tuh," kataku lalu memalingkan wajah. Sasaki tampak tidak puas dan menarik dagu ku untuk kembali melihatnya.

"(reader)-san, mukamu merah," katanya menatapku dengan penasaran.

"me-merah?" aku panik menyadarinya.

"iya! (reader)-san sakit ya?" ah betul juga, mungkin aku berdebar dan wajahku memanas karena sakit. Sasaki memeriksa dahiku dengan punggung tangannya lalu menggeleng. "(reader)-san tidak sakit tuh, jangan-jangan semalam terjadi sesuatu antara (reader)-san dan Akashi-sama?"

"ti-tidak ada a-aaa-apa-apa kok sungguh," kataku panik. Lalu Sasaki mendekatkan wajahnya padaku,

"(Reader)-san suka dengan Akashi-sama ya?" tanyanya penuh curiga. Su-su-suka? Mana mungkin?

"mana mungkin! Aku ga suka yang ya-yandere"aku panik dan bisa kurasakan wajahku makin memerah.

"heee, (reader)-san suka tuh, wajahmu merah sekali," ia menatapku dengan curiga. Aku tak bisa menjawab apa-apa kaarena mungkin, iya?

"iya... mungkin,"

"beneran suka? Kyaaaaaaa! Selamat!" katanya lalu memelukku. Selamat?

"bukannya kau takut dengannya? Kenapa memberiku selamat?"

"tidak apa. Rasa suka itu menyenangkan kan harusnya? Jadi aku bilang selamat saja deh hehehe," ia tersenyum dengan senang. "tidak apa, walau aku takut dengannya, aku akan menukungmu!" aku terseyum senang karena kelakuan Sasaki yang menyenangkan. Jadi, selama ini aku mau saja ia perintahkan, ia ajak, atau aku kesal dia dekat dengan perempuan lain karena... suka? Ah, paling hanya suka sebagai teman. Dan msalah diperintahkan mau, paling aku hanya takut rahasia lamaku terbongkar.

-skip-

Ukkhhh, karena tadi pagi buru-buru, buku bahasa inggris ku tertinggal dan alhasil harus berdiri di depan kelas selama 3 jam pelajaran, ditambah aku belum sarapan. Untung sekarang sudah jam makan siang, tapi aku juga lupa bawa bekal, jadi aku harus membelinya dulu di kantin."Sasaki, aku ke kantin dulu ya,"

"iya, aku tunggu disini ya," kata Sasaki mulai membuka bentonya. Karena belum sarapan, aku agak lemas. Ku pikir tidak apa-apa, namun pandanganku agak sedikit kabur dan mulai gelap, sepertinya aku mau pingsan. Aku bisa merasakan tubuhku terjatuh begitu saja. Aku mengira akan sakit saat terjatuh, tapi ternyata ada yang menangkapku agar tidak terjatuh. Aku kenal tangan ini, tangan Akashi. Setelah itu aku tidak ingat apalagi yang terjadi.

-skip-

Aku membuka mata dan menyadarinya bahwa aku sudah berada di UKS. Aku bisa melihat sosok berkepala merah itu sedang duduk disebelahku, menungguku bangun dengan tidak sabaran.

"kau sudah sadar?" katanya pertama kali. Aku bisa melihat wajah khawatirnya yang sangat jelas itu. Akashi mengkhawatirkan ku?

"nggg," balasku lemah.

"kau belum sarapan dan kau punya anemia," jelasnya. Aku tahu aku punya anemia dan mudah sekali pingsan sebenarnya, tapi kukira itu hanya waktu dulu.

"iya, kalau sarapan kita bisa telat ke sekolah," aku menatapnya dan ia tampak kesal entah kenapa.

"lebih baik telat daripada kau pingsan. Itu membuatku kha—" ia diam tidak mau melanjutkan kata-katanya. Kha-khawatir?

"kau khawatir kepadaku?"

"tentu saja, kau kan salah satu yang melayani ku," kembali ia mengatakan hal itu. Aku tersenyum senang karena ia mengkhawatirkan ku, aku meninju kecil lengannya. "lebih baik kau minum obat penambah darah," sarannya.

"obat? Tidak mauu!"aku menutup mulutku dan bersembunyi dibalik selimut. Akashi seperti menggeser lemari dan mengambil obat penambah darah berbentuk kapsul itu.

"aku perintahkan kamu untuk minum," katanya menarik selimutku.

"engga mau!" lalu aku kelemparnya dengan bantal dan selimut lalu berlari. Ia berusaha menangkapku. Kami berdua berlari-lari di dalam UKS. Saat aku sudah tertangkap, aku melemparnya dengan barang yang ada disekitarku lalu berlari lagi. Namun karena masih lemah, aku hampir terjatuh, Akashi cepat-cepat menangkapku. Ia menangkap ku dan aku hanya bisa tertawa lemas. Akashi terduduk di lantai, sedangkan aku masih dalam dekapannya.

"ayo minum obatmu,"katanya memaksaku. Aku menutup mulutku dan menggeleng. "baiklah kalau begitu," lalu ia memasukkan kapsul itu kedalam mulutnya.

"hee? Akashi?" aku kaget melihatnya. "Aka—" belum selesai aku memanggil namanya, ia mendekatkan wajahnya kepadaku dan menciumku. A-apa maksudnya? Tapi, kali ini aku tidak takut. Aku merasa nyaman dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia seperti memaksaku untuk membuka bibir ku lebih lebar lagi. Aku merasakan seperti ada yang memasuki mulutku. Apa ini? Li-lidah? Gluk sepertinya aku menelan sesuatu. Ia menyudahinya dan aku hanya bisa menatap matanya, tepatnya shock.

"itu tadi obatmu, cepat sembuh ya." Kata Akashi menatapku dengan lembut. Lalu ia menaruhku di lantai, membiarkan aku yang masih membeku. Ia keluar ruangan UKS membiarkan ku sendiri di dalam sini. Wajah ku merah padam dan debaran dijantungku terus merus terdengar dengan sangat kencang. A-apa maksudnya itu?

Akashi's POV~

A-apa yang kulakukan? Aku ingin menciumnya dan, melakukan itu? Baru kali ini aku melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Darimana aku dapat pemikiran seperti itu?

"kamu pacaran sama si ketua kendo?"

"iya, kemarin dia bilang suka padaku dan ia menciumku,"

"kyaaa beruntung sekali!"

Aku mendengar percakapan dua orang perempuan yang sedang lewat itu. Suka? Aku mencium (Reader) karena aku menyukai (Reader)? Saat kata suka terlintas dipikiranku, aku merasa itulah jawaban yang kucari selama ini. Jawaban kenapa aku tidak suka ia dengan lelaki lain, kenapa aku ikut sedih kalau ia sedih, kenapa aku mengkhawatirkannya, kenapa aku memperhatikannya setiap hari karena... Aku suka (reader).

Chapter 4 END

Bersambung desuu 'w')/

Gimana chapter ini? Agak aneh ya? Sekali lagi dimohon reviewnya yaaa :3 supaya kalau ada kesalahan aku bisa perbaiki. Makasih ya kalian yang udah baca, ikuti terus yaaa~ aku ga sabar nulis chapter kelanjutannya mohon ditunggu *bow*