Semenjak kedatangan Reborn, kehidupannya menjadi lebih berbeda (Dalam arti yang baik) meskipun rumahnya lebih.. berisik? dari sebelumnya karena akibat ledakan dari Reborn dan teriakan dari Lesuna. Tetapi karena itu Tsuna tak mendapatkan pukulan sedikitpun dari kakaknya sampai saat ini. Dan kini, dia telah berada di sekolahnya tepat waktu tanpa harus khawatir dengan Hibari dan tonfanya (Walaupun begitu dia dapat merasakan tatapan tajam Lesuna dari belakang.)

'Sepertinya setelah istirahat dimulai aku harus cepat-cepat keatap sekolah.' Pikir Tsuna keringat dingin keluar dari pelipisnya saat masih merasakan tatapan tajam dari Lesuna. Menangkup wajahnya dan mendesah pelan.

Akhirnya bel istirahat berbunyi dan Tsuna langsung bergegas keluar.

"Ah ah ah.. Mau kemana dame-Tsuna? Tidak secepat itu~" Ucap Lesuna, mencengkram lengannya kuat menahannya untuk kabur. "Kamu terlihat senang ya tadi. Bagaimana jika kita menambah kesenangan itu." Tanpa menunggu jawaban dari Tsuna yang terlihat akan pingsan ditempat karena ketakutan yang melandanya, Lesuna menarik tangannya keluar dari kelas dan menuntunnya ke belakang sekolah. Lesuna memberi gesture kesalah satu temannya untuk memeriksa keadaan yang diacungkan jempol menandakan jika keadaan aman. Mengalihkan pandangannya kembali kearah Tsuna dia tersenyum sadis.

"Ada apa dame-tsuna? Bukankah tadi kamu terlihat bahagia?" Salah satu geng Lesuna menggodanya. Terdengar tawa kecil dari yang lain.

"Yaa seperti itulah~ Jadi apa yang membuatmu begitu senang Tsuna-kun?" Tanya Lesuna, tangannya mencengkram rambut Tsuna kencang. Seringainya melebar saat mendengar erangan sakit dari Tsuna. "Oh oh.. Apa karena Reborn? Kamu senang melihatku disiksa olehnya bukan?"

Tsuna menggelengkan kepalanya cepat. Dia belum dapat bereaksi saat tiba-tiba sebuah kepalan tangan meninju perutnya dengan kencang yang membuatnya tersungkur ketanah sambil memegang perutnya. Dia terbatuk-batuk keras, meludahkan darah dari mulutnya ke lantai. Sebelum dapat memulihkan dirinya, pukulan kedua dilayangkan kembali padanya yang kali ini mengarah pada kepalanya.

Telinganya berdengung kencang, dia dapat melihat tetapi tak dapat mengerti apa yang dikatakan Lesuna dan gengnya. Mereka memukulinya secara bergantian, tetapi entah kenapa dia tak dapat merasakan apapun hingga akhirnya pandangannya mulai menggelap. Dia tidak tahu sudah berapa lama mereka memukulinya, hanya saja dirinya merasa waktu berjalan begitu lambat.

Sepertinya bel masuk telah berbunyi karena geng Lesuna menghentikan pukulan mereka. Lesuna berjongkok dihadapannya, tangannya dengan kasar mencengkram pipinya memaksanya untuk menatap Lesuna sementara gengnya menatap mencemooh kearah Tsuna.

"Lebih baik kamu membersihkan darah pada bajumu setelah ini. Aku tidak ingin berurusan dengan Reborn, dame-Tsuna." Perintah Lesuna. "Kau mendengarku?! Bersihkan kekacauan ini!" Teriaknya, menampar pipinya keras dan beranjak pergi. Terdengar gelak tawa dari kejauhan.

'Dari yang great day menjadi worst day hanya dalam sekejap.' Tsuna dengan susah payah bangun dari posisi telengkupnya. Pandangannya yang rabun akibat darah yang menghalangi matanya membuatnya kesulitan untuk melihat. Mengumpat dalam hati. Tsuna meraba sekitarnya berharap mendapatkan sesuatu yang dapat untuk membantunya berdiri. Tetapi nihil.

Air mata keluar dari matanya, tangannya terkepal menggigit tangannya keras. Tsuna berteriak keras berkali-kali dengan suaranya yang serak terendam diantara gigitan tangannya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menjadi orang yang naive, terlalu naive untuk dapat mempercayai jika semuanya akan berubah menjadi yang lebih baik.

'Mustahil untuk seorang anak yang tidak berguna sepertiku berharap hal yang terlalu tinggi.' Pikirnya, mata cokelatnya meredup.

~Jikan Ryõko-sha~

Naruto terbangun lebih pagi seperti biasanya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Karena tak lagi nyaman, Naruto membuka bajunya yang basah dan mengambil pakaian baru. Kali ini, dia hanya memakai kaos putih berlengan pendek.

'Mimpi ini benar-benar semakin memburuk.' Naruto membasuh wajahnya dan sedikit pada rambutnya sembari menguap lebar. Mata biru sapphirenya tertuju pada jarum jam yang menunjukkan pukul 7 pagi dan memutuskan untuk berolahraga sejenak, sekalian menghilangkan memory mimpi buruknya. Walaupun begitu, karena tidak ingin membuat khawatir yang lain, Naruto membuat note untuk Kakashi dan Shikamaru yang dia taruh diatas meja makan.

Berada diluar ruangan terasa bebannya langsung menghilang. Hawa dingin menerpa wajahnya, matanya terpejam sambil mencoba menghirup udara sebanyak mungkin yang dapat dia ambil sebelum menghembuskannya kuat. Memastikan ikatan sendal (Atau sepatu seperti yang dia dengar dari orang) Naruto memulai joggingnya, pertama-tama dia jogging melewati tempat dimana dirinya dengan yang lain berada saat pertama kali. Keadaan masih terlihat senggang, hanya ada beberapa orang yang telah bersiap-siap untuk kerja menunggu kereta datang sementara sebagiannya lagi tengah mempersiapkan dagangannya, membuka tenda, mengeluarkan dagangannya, dan lain-lain.

Naruto memutari jalanan dan harus berhenti sejenak untuk membetulkan tali sepatunya. Dia kembali berlari memutar balik kearah dimana apartementnya berada dan mampir sejenak untuk membeli botol aqua (Darimana Naruto mendapatkan uang? Jangan ditanya. Intinya semua itu gara-gara Kakashi dan buku.) hampir saja botol aquanya terlepas dari genggamannya saat mendengar teriakan 'Ekstream!' dari kejauhan. Mengejutkan dirinya.

Dari kejauhan terlihat seorang anak berambut putih yang dipotong pendek tengah berlari kecil kearahnya berdiri. Pergelangan tangannya memakai tape olahraga sesekali meninju keudara. Semakin anak itu mendekat Naruto dapat melihat lebih jelas. Terdapat bekas luka diwajah kirinya dan perban pada hidunya. Dan... anak itu berhenti dihadapannya (?)

"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Ucap anak itu terus terang. Menunjuk kearahnya.

"Ah ya mungkin karena aku orang baru disini." Jawab Naruto tidak menyembunyikan sarkastiknya.

"Ooh seorang turis! Itu sangat sangat extremee!" Serunya tangan kanannya yang terkepal meninju keudara.

'Anak ini..' Naruto meringis mendengar teriakan dari anak didepannya. 'Tak dapat dipercaya.'

"Siapa namamu blondie-san?!"

Matanya berkedut mendengar penuturan dari anak tersebut, tetapi dia abaikan. "Namaku Uzumaki Naruto tetapi biasa dipanggil Naruto. Bagaimana denganmu? Dan juga, sedang berolahraga?"

"Sasagwa Ryohei siap membantu! Bukan, Aku sedang latihan, biasanya aku bangun lebih pagi dari ini tapi sekarang aku extremely late! (Kosakata yang bagus apaan ya? rasanya aneh kalau extremely telat, kurang pas aja menurutku. Agak susah buat charanya Ryohei karena dia termasuk chara yang suka menambahkan kata-kata extreme di perkataannya kalau dari sih okok aja tapi pake rasanya gimana gitu... lol)" Ryohei memeriksa jam tangannya. "Aku akan melanjutkan latihannya lagi sekalian pergi ke sekolah! Sampai nanti Naruto-san!" Lanjutnya melambaikan tangannya dan langsung berlari pergi tanpa menunggu jawaban dari Naruto.

"Anak yang aktif sekali.." Gumam Naruto, menghela nafas panjang. Entah mengapa Ryohei mengingatkannya akan Lee. Menggelengkan kepala, Naruto meremukkan aqua botolnya sebelum membuangnya ke tong sampah dan melanjutkan joggingnya kembali.

Hampir satu jam Naruto berolahraga, dan sekarang setelah melihat adanya sebuah cafe Naruto memutuskan untuk mampir sejenak dan membeli secangkir kopi (Dia mendapatkan roti kroisan atau apapun namanya itu pemilik kopi tersebut.). Setelahnya sembari membawa nampan, Naruto memilih untuk duduk yang berhadapan dengan kursi dan mejanya menghadap ke pemandangan luar.

Suara loncengan pintu menarik perhatiannya. Seorang pria jangkung memasuki cafe tersebut. Pria tersebut memakai jas hitam dengan topi fedora hitam bergaris kuning menutupi kepalanya, rambutnya yang berwarna hitam pekat memiliki cabang rambut melingkar dikedua sisinya. Ada satu yang menarik perhatiannya yaitu seekor bunglon hijau bertengger di topi orang tersebut.

'Orang ini berbahaya.' Pikirnya dalam sekejap. Dia mengamati pria tersebut diam-diam saat lonceng pintu kembali berbunyi, mengalihkan pandangnya tak menyadari jika pria tadi menyeringai kearahnya.

"Yo, Naruto." Kakashi mengangkat dua jarinya memberi salam.

"Sensei."

"Mimpi buruk lagi?" Tanya Kakashi, duduk disebelah Naruto.

Naruto melirik kembali kearah orang yang tadi sebelum memijat pelipisnya dan menghela nafas panjang, matanya menatap Kakashi. "Seperti itulah, aku tak ingin membicarakannya."

"Hmm.." Kakashi mengerti hal itu dan memilih untuk tidak membahasnya. Tetapi dia akan mencari waktu yang tepat untuk bertanya padanya.

"Dimana Shikamaru?"

"Dia sedang melakukan sesuatu dan menyuruhku untuk pergi lebih dulu untuk mencarimu."

"Baiklah." Naruto meng-fokuskan pandangannya lagi kedepan, matanya mengikuti setiap orang yang berlalu-lalang dijalan."Jadi dapat jawaban bagaimana kita bisa kembali?" Tanyanya tanpa mengubah posisinya.

Kakashi menggelengkan kepalanya tak peduli jika Naruto melihat itu atau tidak. "Saat itu kamu seperti berbicara dengan seseorang, aku sempat ingin bertanya padamu jika dirimu sedang berbicara dengan Kurama. Tetapi melihat tingkahmu yang berbeda dapat kupastikan jika kamu tidak sedang berbicara dengannya. Jadi, ingin memberitahuku siapa sebenarnya orang yang berbicara padamu? Pasti ada sangkut pautnya dengan ini."

Naruto mendekatkan wajahnya kearah Kakashi dan berbisik pelan. "Jangan disini. Terlalu beresiko." Naruto menunjuk dengan lirikan matanya kearah orang itu berada.

"Ah." Kakashi mengangkat alisnya, rasa penasaran membuatnya mengubah duduknya agar dapat melihat orang yang dia maksud. Oh, sekarang dia mengerti, orang ini terlihat berbahaya dan misterius. "Mungkin sebaiknya sekarang kita mencari Shikamaru." Lanjutnya, memberikan sugesti. Matanya sekilas orang tersebut.

"Baiklah." Naruto menegak hingga tandas kopinya dan beranjak pergi. Kakashi mengikutinya dari belakang yang tak lupa membawa roti dimeja.

Reborn mengamati 2 orang misterius keluar dari cafe yang biasa dia datangi. Dia belum pernah melihat mereka sebelumnya, walaupun begitu entah kenapa mereka menarik perhatiannya terutama dengan laki-laki berambut pirang itu. Mungkin dengan orang yang tak memiliki pengalaman didalam mafia orang tadi terlihat hanya seperti orang biasa, tetapi tidak diperuntungkan untuk Reborn, dia dapat melihat begitu jelas posture bos pada orang pirang itu.

Reborn menyeruput kopinya perlahan menyembunyikan seringai sadisnya dari balik cangkir kopinya.

'Menarik. Aku memiliki perasaan jika ini bukan terakhir kalinya aku akan bertemu dengan mereka. Tetapi dipertemuan selanjutnya, aku sudah siap.'

Naruto tiba-tiba bergidik ngeri dan secara insting dia melihat kebelakang ketempat orang tadi berada. Kakashi yang melihat tingkah mantan muridnya sekaligus leadernya tak menanyakan apapun dan memilih untuk diam.

Mengikuti chakra signature Shikamaru terbilang mudah karena mereka disini hanya mereka bertigalah yang memiliki chakra yang besar. Akhirnya mereka menemukan Shikamaru yang tengah menggendong seseorang ditangannya, Naruto yang melihat itu bergegas mendekat yang diikuti dengan Kakashi dibelakangnya.

"Ada apa dengannya Shikamaru?" Tanya Naruto, wajahnya berubah serius saat melihat betapa banyaknya darah pada anak yang tak sadarkan diri ditangan temannya. Jika saja dia tidak melihat pergerakan pada dadanya mungkin dirinya sudah mengira jika anak ini telah mati.

Shikamaru menceritakan semuanya kepada Naruto.

#Sebelumnya#

Shikamaru tengah memeriksa tempat baru yang baru saja mereka datangi, berharap adanya sedikit petunjuk yang membuat mereka berada dunia ini tetapi sayangnya dia tak menemukan apapun. Walaupun suasananya terasa berbeda dengan tempat tinggalnya tetapi Shikamaru tidak merasakan hal aneh dengannya. Karena tak adanya petunjuk yang dia dapat akhirnya dirinya menyerah dan memutuskan untuk menemui yang lain. Sebuah kaleng bergelinding kearahnya membuat perhatiannya tertuju pada kaleng tersebut dan hendak mengambilnya saat tiba-tiba suara berdebum menarik perhatian dirinya. Shikamaru melihat seorang anak terkapar tak sadarkan diri dijalan, tubuhnya dilumuri darah. Shikamaru cepat-cepat menghampiri anak tersebut dan memeriksa urat nadinya. Perasaan lega dia rasakan saat dirinya masih dapat merasakan tanda-tanda kehidupan, tak pikir panjang dia langsung mengangkat tubuh ringan anak tersebut dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat.

"Seperti itu, tadinya aku hendak membawanya kerumah sakit sampai aku berpapasan denganmu." Ucapnya.

"Tidak perlu, aku bisa menyembuhkannya. Berikan padaku." Naruto mengambil tubuh kecil anak tersebut dari tangan Shikamaru, menggendongnya secara bridal style dan segera berlari menuju apartemennya. Shikamaru dan Kakashi tak jauh berlari dibelakangnya.

Setelah sampai di apartemennya Kakashi membantu membukakan pintu agar dirinya dapat masuk dan Naruto segera menaruh badan anak itu diatas meja makan setelah Shikamaru dibantu dengan Kakashi menurunkan semua barang-barang kelantai.

"Sensei tolong ambilkan aku baskom dan handuk atau apapun itu untuk membersihkan darah dibadannya. Dan Shikamaru tolong membelikan baju beserta celana ukuran anak ini." Pinta Naruto yang langsung dilakukan oleh mereka berdua.

Naruto segera menyembuhkan anak tersebut dengan chakranya, butuh beberapa menit agar semua lukanya pada tubuhnya menghilang dan memastikan tidak ada luka dalam. Kakashi yang telah mengambil baskom beserta handuk bersih langsung membersihkan darah pada tubuh anak itu, melepaskan seluruh bajunya yang telah terkena darah, hanya boxernya sajalah yang tertinggal.

"Apa yang terjadi dengannya sampai begitu banyak luka pada tubuhnya? Bahkan aku melihat tak sedikit luka lama pada wajah dan badannya." Komen Kakashi, merasa kasihan pada anak laki-laki itu.

"Siksaan." Jawab Naruto, tak menyembunyi rasa amarah yang dia perlihatkan saat ini. Anak ini mengingatkan dirinya akan anak tertuanya, Boruto. Dan melihat Boruto disiksa oleh seseorang hingga seperti ini membuat darahnya mendidih. Perasaan protektif menguasai dirinya dan Kakashi merasa 'Sedikit' kasihan dengan orang yang menyiksa anak ini. Sedikit.

Shikamaru akhirnya kembali dengan sepasang baju ditangannya. "Harganya tak ada yang murah, jadinya terpaksa aku harus mengambilnya. Aku berharap ini pas." Ucapnya, memberikan baju itu kepada Naruto.

Oh well, dia akan membayar baju ini nanti, pikir Naruto. Dia memakaikan baju dan celana barunya kepada anak itu dan mengangkatnya untuk menaruhnya ditempat yang lebih nyaman. "Sekarang kita hanya perlu menunggu dirinya tersadar." Naruto bersender pada tembok menemani anak tersebut, tangannya meraih rambut cokelatnya yang terasa lembut saat dia mengelusnya pelan. Dia tak mengerti mengapa ada orang yang tega menyiksa anak yang menggemaskan ini dengan brutalnya, mungkin teman-temannya disekolah yang melakukan hal itu karena tidak mungkin jika keluarganyalah yang melakukan ini semua. Mungkin dia perlu mengunjungi tempat anak ini sekolah dan memberikan 'Ceramah' kepada teman-temannya tetapi yang dia harus lakukan saat ini hanyalah menunggu anak ini terbangun. Naruto termasuk orang yang sabar dalam hal menunggu.

'Aku merasa kasihan dengan 'mereka' " Pikir Kakashi dan Shikamaru secara bersamaan. Melupakan rencana mereka untuk membicarakan tentang caranya menyelesaikan permasalahan yang dialami mereka.

#Sementara itu#

Hawa dingin menerpa Lesuna secara tiba-tiba membuat dirinya bergidik ngeri. Dia tidak suka perasaan ini, seakan dirinya merasa hidupnya berada diujung tanduk dan dalam bahaya. Lesuna berharap jika Reborn tidak melihat aksinya tadi dan menghabisinya.


Kurotsuki Makito Terima kasih untuk reviewnya. Sepertinya memang Fanfic Naruto seperti itu wkwkwk lol, untuk pairing aku belum bisa memutuskan karena masih bingung juga, tapi bisa memberikan suggestion Naruto, Kakashi dan Shikamaru dipairingkan dengan siapa. Nanti kutampung dan pertimbangkan.