(A/N) Holaaaaaa, saya kembali membawa chapter 4 yang terlalu lama di updatenya. Maaf, habisnya kemaren-kemaren lagi kena Writer Block sydrome sih :D. Sebelum berlanjt ke ceritanya saya akan membalas review dulu.
Haruchi Nigiyama : Makasih reviewnya :). Wah, baguslah kalau masih terasa sweetnya. Semoga di chapter ini juga ya :D.
Chiwe-SasuSaku : Makasih reviewnya :). Iya, chap kemarin saya buat Gaara sedikit OOC :D.
Nakamura Kumiko-Chan : Makasih reviewnya :). Maaf ya updatenya lama, itulah kebiasaan saya *wajah innocent*.
Ruki_ya : Makasih reviewnya :). Ohaha, begitu ya? Baguslah :D.
Argi Kartika 'KoNan' : Makasih reviewnya :). Di chap ini udah mulai ada konflik nya (ga ada yang nanya) semoga aja jadi lebih menarik :D.
Arishima Ryuu-Chan : Makasih reviewnya :). Oh iya, tertinggal 1 kesalahan haha :D. Oke, chap ini udah saya perbanyak konfliknya :D.
Kuchiki Uchiha : Makasih reviewnya senpai :). Mungkin, bisa juga hehe :D.
Amethyst is Aphrodite : Makasih reviewnya :). Hahaha, kalo siapa yang disukai Saskay itu masih rahasia :D. Maaf ya updatenya lama :D.
UchiHAruno Sasusaku : Makasih reviewnya :). Iya, lebih panjang dari yang kemarin :D.
Naocchi : Makasih sudah review :). Lha, katamu yang itu sudah lumayan(?). Bingung aah :D.
Sessio Momo : Makasih sudah review :). Eh gak papa kok, nyantai aja kayak di pantai :D. Iya, beruntung banget si Saku. Andai itu saya :D. Penaran endingnya? Tunggu chap depan yaa :)!
Tsukimori Reyna : Makasih reviewnya sayang :). Kau tahu Rey? Sepertinya menyebut aku penulis pro itu berlebihan. Pengennya sih kayak Kahlil Gibran, tapi butuh waktu 100 tahun supaya bisa :D.
Eh, aku buat Sasuke disini sedikit OOC, sedikit loh! Ga banyak! Ingat! Sedikit! Hahaha.
Terus ada Naruto chibi juga loooh (readers : Ga ada yang nanya woy!).Ya udah deh sekian aja dari saya, cape ngebacot terus :D. Selamat membaca ya! ^^
Empty Heart
*Chapter 4*
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Shiroi Yuri
Main Character : Sakura H, Sasuke U, Ino Y, Gaara, Tsunade
"Orang itu adalah..." perkataan Gaara terpotong, karena tiba-tiba terdengar suara dari ponsel milik Gaara. Ia pun mengambil ponsel dari kantong celananya, kemudian mengangkat telepon tersebut.
"Hallo? Ada apa Tsunade-sama?"
Ternyata telepon itu dari Tsunade-sama rupanya.
"Baik, aku segera kesana."
Gaara menutup teleponnya, dan memasukkan kembali ponsel kedalam kantong celananya.
"Maaf Sakura, aku harus kembali ke panti sekarang juga. Apa kau mau ikut?"
"Ah tidak, aku ingin disini dulu."
"Baiklah, aku pergi dulu. Hati-hati ya!"
Aku hanya mengangguk. Kemudian Gaara pun pergi. Dan tinggal aku sendiri dihutan pohon Sakura ini. Mungkin dengan begini aku bisa sedikit menenangkan pikiranku.
Jika mengingat tentang masa lalu Gaara yang diceritakan olehnya, aku jadi teringat pula dengan masa lalu Sasuke dan masa laluku. Memang bila dibandingkan dengan hal yang dialami oleh mereka, masa lalu mereka lebih menyakitkan dan jauh lebih kelam daripada masa lalu yang pernah kualami. .
-
-
-
"Kak Sakura!!" terdengar suara Ino yang memanggilku. Terlihat ia sedang berlari menghampiriku dengan tangan yang memegang sepasang Otedama(1).
"Eh Ino, sedang apa disini?"
"Tadi Ino sedang bermain bersama Naruto disekitar sini, lalu Ino melihat kakak yang sendirian. Jadi Ino menghampiri kakak, mungkin saja kakak ingin ditemani."
"Oh begitu. Terus Narutonya mana?"
"Itu dia sedang berlari kemari." ujar Ino sambil menunjuk seorang anak lelaki berambut pirang yang tengah berlari menghampiri kami.
"Ino, kau ini larinya terlalu cepat! Aku jadi sulit mengejarmu." ujar Naruto.
"Salah sendiri larinya lambat! Masa laki-laki larinya lebih lambat daripada perempuan!"
"Kau ini, Ino!"
"Sudah-sudah.. Jangan bertengkar, itu tidak baik. Mendingan kita main saja, yuk!" ujarku berusaha melerai. Aku tak ingin jika mereka bertengkar dan pada akhirnya salah satu dari mereka menangis. Karena akan sangat sulit memperbaiki suasana jika sudah seperti itu.
"Iya, lagipula daritadi Ino ingin cepat-cepat bermain dengan kak Sakura."
"Ya sudah, sekarang mainkan Otedamanya. Ino bisa kan memainkannya?"
"Tentu saja kak, malah Ino sangat mahir memainkan ini."
"Aku juga bisa kok memainkan Otedama!" ujar Naruto tak mau kalah.
"Hah? Kau ini kan laki-laki. Masa main Otedama? Harusnya kau itu main Koma(2) saja. Memangnya kau bisa?"
"Tentu saja! Kalau tidak percaya akan kubuktikan!."
Naruto mengambil sepasang Otedama dari tangan Ino. Kemudian ia memainkannya dengan cara melempar lalu menangkapnya kembali sambil menyanyikan lagu dari permainan tersebut. Naruto pun berhasil memainkannya.
"Tuh kan! Sudah kubilang itu aku bisa bermain Otedama."
"Hmm, lalu apa kau juga bisa memainkan ini?" Ino menyodorkan sebuah Kendama(3). Naruto mengambilnya, dan mulai memainkannya. Namun ia tak berhasil menempatkan bola disisi bagian samping maupun atas.
"Haha dasar Naruto, masa begitu saja tak bisa."
"Tentu saja! Ini kan memang permainan yang sangat sulit. Memangnya kau bisa?"
"Lihat ini!!"
Ino memainkan Kendama dengan sangat mahir. Aku pun sampai tercengang melihatnya. Padahal tak semua orang bisa memainkan Kendama, begitu juga aku.
"Wah! Kau hebat Ino!" ucapku dan Naruto bersamaan.
Aku merasa antusias sekali. Bahkan aku sampai mencoba kedua permainan tradisional tersebut. Entah mengapa, rasanya aku menjadi kembali seperti anak kecil. Begitu senangnya sampai tak terasa kami sudah bermain selama beberapa jam.
"Kak Sakura, aku lapar.." ujar Naruto sambil memegangi perutnya.
"Hmm, sepertinya sekarang sudah masuk jam makan siang. Kalau begitu kita kembali ke panti ya."
"Iya." ucap Ino dan Naruto bersamaan.
Kemudian kami pun pergi dari hutan pohon Sakura, dan segera kembali menuju panti. Dengan menyusuri jalan setapak yang langsung mengarah ke panti asuhan. Namun ditengah perjalanan, aku menemukan sebuah kalung berwarna keperakan diantara semak-semak. Saat ku mengamati benda itu sejenak, aku merasa tak asing dengan liontin kalung tersebut yang berbentuk kipas.
"Ada apa, kak?" tanya Ino.
"Ah ini, kakak menemukan sebuah kalung."
Aku memperlihatkan kalung itu pada Ino dan Naruto.
"Lho, ini kan kalungnya kak Sasuke!" ujar Ino.
"Milik Sasuke? Tapi kenapa ada disini ya?"
"Mungkin saja terjatuh. Sebaiknya segera dikembalikan pada kak Sasuke." tambah Naruto.
"Baiklah, biar kakak saja yang mengembalikannya. Kalian berdua duluan saja ya."
"Iya, hati-hati kak!"
Ino dan Naruto pun pergi, hingga akhirnya tak terlihat lagi dari pandanganku.
Sekarang ku harus mencari Sasuke, tapi aku tak tahu dimana ia berada. Ah, dasar bodoh aku ini! Kenapa tadi tidak menanyakannya pada Ino saja, ya? Jadi aku tak perlu bingung-bingung mencarinya. Kalau begini, aku terpaksa mencarinya ke seluruh daerah hutan ini. Huh, memang penyesalan itu selalu di akhir.
-
-
-
Aku telah mencari Sasuke ke seluruh penjuru hutan. Tapi usahaku itu sia-sia saja, karena dia tak ada dimana pun. Sekarang hanya padang bunga harapanku satu-satunya. Semoga saja Sasuke berada disana. Dan tanpa basa-basi, aku segera pergi menuju tempat itu.
Setibanya di padang bunga, ku langsung mencari sosok Sasuke. Dan benar saja dugaanku, dia memang berada disini. Tanpa ragu-ragu ku hampiri Sasuke, yang nampaknya sedang mengamati beberapa ekor kelinci yang berkeliaran.
"Sasuke.."
"..." dia hanya diam saja. Sama sekali tak menggubris panggilan dariku. Bahkan untuk menoleh atau berbalik badan padaku saja tidak.
"Sasuke, aku ingin mengembalikan kalung milikmu. Tadi aku menemukannya di hutan."
"Buang saja." ujarnya dingin.
"Tapi Sasuke.."
"Kubilang buang!! Aku tak butuh benda itu!!" bentak Sasuke.
"Tapi ini adalah benda yang berarti bagimu kan? Jika kau membuangnya, itu sama saja dengan membuang semua kenanganmu bersama keluargamu!"
Sasuke akhirnya membalikkan badannya menghadapku, lalu berkata.
"Memangnya kau tahu apa, hah?! Apa yang kau mengerti tentang itu semua?!!"
"Aku memang tak tahu apa-apa tentang dirimu dan masa lalumu. Tapi aku mengerti perasaanmu.." ujarku lirih. "Aku mengerti perasaanmu yang sedih saat ditinggal pergi orang yang begitu kau cintai. Aku mengerti rasa penyesalan yang muncul saat kau merasa tak bisa melindungi mereka. Dan aku juga mengerti perasaan kesepian disaat kau memikirkan mereka. Aku bisa mengerti semua perasaanmu.."
Suaraku bergetar, berusaha sekuat mungkin agar tidak terisak. Tenggorokan ini mulai sakit, namun aku berusaha menahan rasa sakit itu. Pelupuk mataku mulai dibanjiri oleh air mata, yang telah siap mengalir melewati pipi. Aku pun melanjutkan perkataan yang tadi sempat terputus, walaupun rasanya sangatlah sakit. " Itu karena aku juga pernah merasakannya, Sasuke!!"
Samar-samar terlihat, Sasuke yang hanya menatapku dalam diam. Airmata yang menggenang, mulai turun membasahi pipiku. Suara yang bergetar pun, kini sudah menjadi sebuah isakan.
"Hanya saja aku dapat melewati semua penderitaan itu, Sasuke.. Aku mencoba untuk tegar. Karena aku berkeyakinan bahwa masih ada orang lain yan menganggapku sebagai keluarga. Dan pasti mereka tak menginginkan jika aku terus larut dalam penderitaan dan kesedihan. Aku ingin kau juga seperti itu."
Suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat.
"Kenapa, Sakura? Kenapa kau begitu peduli padaku?" tanya Sasuke lirih. Kulihat wajahnya yang tertunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya dariku.
"Seharusnya tak ada alasan untuk peduli, tapi aku memiliki alasan khusus untuk itu. Itu karena.." Aku terdiam sejenak, lalu berkata lagi "aku mencintaimu, Sasuke.."
Kini giliranku yang tertunduk, merasa malu. Tapi dengan begini aku jadi merasa lebih lega. Perasaan yang telah lama kupendam selama berbelas-belas tahun, akhirnya bisa kuungkapkan padanya hari ini.
Tiba-tiba aku dipeluk oleh Sasuke. Awalnya ku tersentak. Tak menyangka jika akan dipeluk oleh lelaki yang sangat kucintai ini. Namun didekap olehnya, begitu hangat dan nyaman. Apakah ini rasanya?
Kemudian ia berkata padaku,
"Terima kasih, Sakura.. Kau telah peduli padaku. Tapi maaf.. Sepertinya kau harus mencari orang lain yang lebih pantas untuk kau cintai. Karena, perasaanku padamu tak sama dengan perasaanmu padaku."
Sasuke melepaskan pelukannya dariku, dan pergi begitu saja. Aku hanya bisa terdiam membisu. Namun hati ini menjerit menahan sakit bagaikan tersayat-sayat oleh seribu pisau belati.
Aku pun menangis sejadi-jadinya. Airmata yang semula kutahan, kini dibiarkan mengalir deras. Tak bisa berbuat apa-apa, yang dapat kulakukan hanya diam dan menangis. Ingin rasanya aku menarik tangan itu, tak ingin membiarkannya pergi. Tapi tubuh ini tak bisa digerakkan sedikitpun.
"Sakura! Kau kenapa?"
Aku mendengar ada seseorang yang memanggilku, dan juga merasakan ada yang menggenggam pundakku. Tapi aku tak dapat melihat orang itu. Penglihatanku buyar dan berkunang-kunang, kepalaku sangat pening. Dadaku sesak, sulit untuk bernafas.
"Sasuke..."
Setelah mengucapkan nama itu, pandanganku menghitam. Dan aku pun tak sadarkan diri.
To be Continue...
Catatan :
(1) Otedama : Mainan tradisional Jepang, berupa biji-bijian yang dibalut kain membentuk sebuah bola. Biasanya dimainkan oleh anak perempuan
(2) Koma : Mainan tradisional Jepang, sejenis gasing yang terbuat dari kayu.
(3) Kendama : Mainan tradisional Jepang, bentuknya mirip palu dengan 2 lengkukan disisi Kendama dengan bola yang diberi tali yang menempel. Cara memainkannya dengan melempar bolanya dan harus disimpan di kedua lengkukan, lalu simpan bola diposisi semula yaitu di bagian atas pucuk tongkat yang agak cekung. Permainan ini sangat sulit dan tak semua orang bisa memainkannya.
Nah, gimana ceritanya? Aneh dan abal kan? Tapi biarpun begitu tetap REVIEW YA!!!! Biar chap depan lebih bagus lagi :D. Dan doakan biar saya updatenya ga lama, hehehehe...
REVIEW YA? REVIEW YA? REVIEW YA?
