4. Siapa Namaku?
Thanks to Koshiba Kiri for beta!


Berada di lingkungan yang sama mengasah otak bayi untuk mengingat. Karma sudah hampir berumur satu tahun, dan baru kali ini dia berada di lingkungan yang sama selama hampir satu bulan. Ia sudah bisa mengingat Nagisa—mungkin malah orang pertama yang ia ingat—dan seluk-beluk rumah neneknya. Ia tahu kalau ia berkata 'Apba', Nagisa akan memberinya makanan atau susu. Dan jika ia merasa popoknya tidak nyaman, ia tinggal duduk diam, Nagisa akan menyelesaikan masalahnya.

Tapi ia tidak bisa mengingat satu hal. Yang juga membuatnya repot; Karma tidak tahu harus memanggil Nagisa apa. Nagisa sudah menyerah secara langsung saat pertama mengajarkan namanya, padahal bayi perlu pengulangan berkali-kali.

Suatu hari, ada orang lain yang masuk ke rumah, dan sebagai bayi yang cukup berani, sesuatu yang baru membuatnya sangat penasaran.

"Oooh, ini Karma? Lucuuuu!" seru Rio Nakamura mengusap-usap kepala merah si bayi yang duduk di lorong. "Diberi makan berapa kali sehari?"

"Nakamura-san, ini bukan hewan peliharaan," Nagisa tertawa gugup, menggendong Karma yang terus-terusan memandangi Nakamura dengan sangat penasaran. "Kadang dia membandel sih, tapi aku harus membuatnya terbiasa makan tiga kali sehari tepat waktu."

"Hmmm..." Nakamura mengamati Nagisa yang memeluk Karma dan menepuk-nepuk punggung si bayi agar bisa bersendawa. Tiba-tiba gadis itu berkata; "Nagisacchi, aku mau bilang kau bisa jadi suami yang baik, tapi kau malah seperti ibu."

Nagisa menoleh dengan wajah merah. "Eehh!? Ibu!?"

Karma yang baru mengotori punggung Nagisa mengerjap. Sesuatu yang dikatakan si pirang itu membuat Nagisa menoleh?

"Kan bukan hal buruk~"

"Tapi...yahh...ugh, terserahlah..." keduanya memasuki ruang tengah, dan Nagisa menyalakan penghangat ruangan. Nakamura meletakkan tasnya di atas meja, sementara temannya meletakkan Karma di atas tatami.

"Jadi kau mau kubantu memeriksa essay bahasa Inggris-mu? Yang mana?"

"Semuanya," Nagisa berkata sambil meletakkan setumpukkan kertas. Nakamura tertawa.

"Nagisa," Nagisa menatap temannya lurus. Karma mengamati ini, berhenti merangkak mengitar meja. Nakamura nyengir. "Satu essay satu makan siang?"

"Nakamura-san...aku hanya anak SMP..." Nagisa meminta belas kasihan. "Mohonlah bermurah hati ala kadarnya...bagaimana satu essay satu makan siang tapi satu kali tiap minggu...?"

"Ada dua belas essay...Bagaimana sekali tiap bulan, tapi apapun yang kuminta?"

"Baiklah...tapi beritahu aku paling tidak seminggu sebelumnya agar aku bisa menyiapkan mental—maksudku dompet..." gumam Nagisa lemas, membuat Nakamura tertawa riang. Keduanya mulai serius mengerjakan tugas sekolah—Nakamura memeriksa essay Nagisa, sementara si empunya PR mengerjakan pilihan ganda.

Rio Nakamura adalah gadis yang sangat pintar, sekelas dengan Nagisa. Ia juga sangat ramah—malah agak terlalu supel dan suka menggoda Nagisa. Meskipun begitu, karena Nakamura sangat populer dan memang sangat ramah pada siapa saja, Nagisa merasa mereka bukan teman dekat—atau tidak cukup percaya diri untuk menganggap bahwa mereka teman dekat.

Karma yang melihat keduanya tidak bicara lagi, kembali sibuk di dunianya, merangkak-rangkak ke bawah meja dan memanjat ke pangkuan Nagisa. Nakamura memperhatikan ini, melihat bagaimana Nagisa segera mengubah duduknya jadi bersila dan membiarkan si kecil bermain dengan selembar kertas kosong. Manis sekali.

"Achas?"

"Pintar, Karma...Kertas!" seru Nagisa, matanya masih fokus di soal.

Karma merengut karena tidak diperhatikan. Akhirnya, dia menarik-narik bahu kaos Nagisa dan berdiri di pangkuan kakaknya itu dan merengek.

"Muuff!" serunya, dan tiba-tiba mencium pipi Nagisa.

Nagisa mengerjap, lalu menghela napas dan tersenyum pada Karma. "Iyaa, iya, apa sih? Mau dicium? Hm?" ia tertawa kecil, mencium pipi bayi berambut merah itu, membuat Karma tertawa geli dan memeluk kakaknya erat. Nagisa mendudukkannya lagi dan mencubit hidung Karma.

"Hnn, nakal ya, kuambil hidungmu!" seru Nagisa, mencubit hidung Karma dan pura-pura mencabutnya, membuat suara 'pop!' dengan bibirnya.

Karma gemetar, mata tembaga pucatnya lebar dalam horor. "Naaaa! Muuuffiii! Haffbuuu!" rengeknya, tangan kecilnya berusaha meraih tangan Nagisa yang sudah 'mencabut' hidungnya.

"Hmm~ Janji nggak nakal?"

"Jaajaabu," Karma mengangguk, pipinya menggembung. Nagisa membungkuk sedikit.

"Cium dulu?"

Karma menepuk-nepuk pipi Nagisa lalu merangkak maju untuk mencium kakaknya. Setelah itu, Nagisa mencubit lagi hidung Karma dan berpura-pura sudah mengembalikan hidung mungil itu.

"Muufiii!" seru Karma, dan berguling-guling di sebelah Nagisa sementara kakaknya itu kembali mengerjakan PR.

Tiba-tiba Nakamura menggebrak meja. Wajahnya merah menahan diri.

"Nagisa?" Nakamura berkata dan beranjak, mengedikkan kepala ke pintu. Karma mengerjap, memperhatikan bagaimana Nagisa langsung mengangkat wajahnya dari kertas di meja. Si biru langit mengangguk dan tersenyum, sebelum kembali ke pilihan gandanya.

Nakamura pamit ke kamar mandi dan menyalakan air keras-keras untuk menjerit-jerit tak tahan.

Moe-nya terlalu kuuuaaaat!

~.X.~

Saat Nakamura kembali ke ruang tengah, entah kenapa Karma sudah berguling-guling di bantal duduknya. Saat bayi berambut merah itu melihat Nakamura, ia berhenti berguling-guling dan sembunyi di bawah meja. Nakamura menelan ludah dan kembali duduk.

Entah kenapa bayi itu sekarang duduk di sebelahnya, menjambak-jambak rambutnya.

"Karma! Sshh! Jangan!" Nagisa sudah mau beranjak menghentikan Karma.

"Nagisa," Karma berhenti, melihat Nagisa menoleh ke arah Nakamura lagi. "Sudah, tidak apa-apa, kok~!"

"Tapi—"

"Na...gi." keduanya terdiam dan menoleh ke arah Karma. Karma menoleh pada Nakamura dengan bingung. Kenapa dia juga menoleh dipanggil 'Nagi'? Apa namanya juga Nagi? Nagisa tiba-tiba berdiri dan duduk di depan Karma.

"Kamu bilang apa tadi, Karma?" Nagisa menunjuk ke arah dirinya sendiri.

Karma mengerjap dan menjulurkan ke dua tangannya. "Nyagi?"

"Aah! Iya, benar! Itu namaku!" seru Nagisa kegirangan dan memeluk Karma. "Apa tadi namaku?"

"Heeeheee~! Nyagiii~?"

"Pintaaar, pintarnyaa, anak pintaar!" seru Nagisa, berdiri dan memutar membuat Karma tertawa kegirangan. Ia berhenti dan menempelkan dahinya ke dahi Karma. "Siapa namaku tadi?"

Kedua tangan kecil Karma mencengkeram pipi Nagisa, tertawa. "Nya...giii!"

Lalu Nakamura tiba-tiba pingsan, membuat Nagisa gempar dan momen manis itu berakhir.


Riocchi emang sahabat fujo kita yang demen bromance ya /ngga

Kindly review if you have the time.