Tittle : LOTTO (MEANIE FANFICTION)
Author: Hani Hwang
Casts: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Genre: Romance, criminal *maybe* School life, Yaoi
Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author
Rated: M
DONT LIKE DONT READ!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menatap sendu jalanan yang dilaluinya. Tanpa disadarinya, air mata kembali merembes membasahi pipi putihnya. Ia teringat Wonwoo. Harus bagaimana ia menyelamatkan hyungnya? Jungkook hanya seorang anak berumur tujuh belas tahun. Hanya seorang siswa tingkat kedua sekolah menengah atas. Dia tak mampu melakukan apapun. Jungkook ingat betul, bahkan terkadang, keperluannya masih disiapkan Wonwoo. Jungkook benar-benar bingung. Fikirannya kacau. Tadinya ia memutuskan untuk tidak sekolah hari ini, tapi . . . Jungkook teringat pesan Wonwoo untuk terus sekolah bahkan jika keadaannya sulit.
Wonwoo dan Jungkook hidup berdua di Seoul. Orang tua mereka meninggal saat Jungkook kelas tiga sekolah menengah pertama. Dari awalpun, mereka bukanlah anak orang kaya yang hidup berkecukupan. Mereka bertahan hidup hanya dengan peninggalan orang tua. Dan selama ini, keduanya selalu bisa melalui masa-masa sulit bersama. Tapi kali ini, Jungkook sendirian. Akankah ia mampu?
Jungkook terus berjalan, dia menunduk. Tidak memperhatikan lalu lalang didepannya.
TIN! TIN!
BRUK!
Jungkook terlonjak, ketika ia sadari, tubuhnya berguling di trotoar dan seorang pemuda menyelamatkannya. Jungkook mengerjap, kemudian memperhatikan siapa yang disebelahnya.
"Zu-zuho hyung?"
Zuho menoleh, kemudian bangkit sambil membersihkan seragamnya yang terkena debu. "Kau jalan sambil melamun. Hampir saja tertabrak." Ucap Zuho, kemudian membantu Jungkook berdiri.
Jungkook menunduk makin dalam. Meringis, "Wonu-hyung." Lirihnya.
Zuho menghela napas panjang. Kemudian meraih tangan Jungkook. "Ayo kesekolah." Ajaknya. Kemudian mereka berjalan beriringan. Genggaman tangan mereka masih bertaut.
Jungkook mencuri pandang kearah Zuho, lalu kembali menatap kejalan.
"Mobilmu kemana hyung, tumben jalan?" Tanya Jungkook, sekedar mencairkan suasana.
Zuho tak menoleh, "Ada, di rumah. Biasanya aku kesekolah naik skuter. Tapi skuter-ku sedang direparasi." Sahut Zuho, acuh tak acuh.
Jungkook mengangguk paham, kemudian kembali diam. Ia memang sudah akrab dengan Zuho, dan sudah menganggap Zuho seperti hyungnya sendiri.
Keduanya sampai di gerbang sekolah, dan kemudian menyusuri koridor bersama-sama. Zuho bahkan mengantar Jungkook sampai depan kelasnya.
Zuho memegang bahu Jungkook, "Dengar aku, selama hyungmu tak ada, kau harus tetap konsentrasi dengan sekolahmu. Jangan jadikan beban, kita cari penyelesaiannya bersama. Dan sementara, biar aku yang jadi hyungmu dulu. Nanti pulang sekolah kita cari Wonu lagi. Paham?" Tanya Zuho, menatap Jungkook lurus-lurus.
Jungkook mengangguk. Zuho mengusak surainya perlahan, "Bagus. Belajarlah yang rajin." Pesan pemuda pirang itu, sebelum pergi meninggalkan Jungkook yang masu kekelasnya.
.
.
.
.
Ruangan itu adalah kamar tidur yang luas dan mewah. Dengan latar cokelat dan putih gading yang elegan. Perabotnya didominasi warna gold, yang memberi kesan mewah semakin kental. Sebuah ranjang king size berada di tengah ruangan. Dan diatasnya, seorang pemuda tertidur dalam selimutnya.
Beker di nakas menunjukkan pukul setengah sembilan. Dan sinar mentari sudah mulai naik, menyusup lewat celah gorden. Tapi pemuda itu masih saja terlelap.
Pintu terbuka, dan seorang pemuda bersurai cokelat masuk kedalam ruangan sambil membawa nampan sarapan. Di letakkannya nampan itu di meja, kemudian ia beralih membuka lebar-lebar gorden yang tertutup. Membuat sinar matahari menyinari ruangan itu dan membuat pemuda yang terlelap itu terusik.
Pemuda itu bangkit, mengucek matanya lucu dan mengerjap-ngerjap. Mencoba membiasakan pandangannya dengan silaunya mentari pagi. Dan, didapatinya sosok yang sudah emnganggu tidurnya itu tersenyum lebar dalam balutan setelan nya.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapan anda sudah disiapkan. Tuan Kim berpesan agar membangunkan anda untuk sarapan." Ucap orang itu.
Wonwoo meringis, lalu menyandarkan punggungnya. Tubuhnya terasa remuk tak bertulang. Dan, terutama bokongnya. Ia merasa kalau bagian belakangnya itu kebal dan tak dapat merasakan apapun.
Pria dalam setelan itu kembali menghampiri nampannya, menyodorkannya pada Wonwoo yang masih bergeming.
"Ini, Tuan."
"Akh- BooSeungkwan-ssi. . " Wonwoo membaca name tag pria itu. "Taruh saja, saat ini aku ingin obat penghilang nyeri." Ucap Wonwoo kemudian.
"Ini, obatnya ada bersama sarapan anda." Seungkwan menunjuk sebuah toples kecil yang berdiri di samping gelas minum. "Karena itu, anda harus makan dulu baru minum obat, Tuan Jeon Wonwoo." Jelas Seungkwan panjang lebar.
Wonwoo mengulurkan tangannya, berusaha meraih toples obat itu. Tapi rasanya nyeri sekali. Begitu ngilu, bahkan dia hanya bergerak sedikit. "A-aargh!"
Seungkwan buru-buru mengambil obat itu, lalu memberikannya pada Wonwoo. "Pelan-pelan." Ucap Seungkwan prihatin. Ini sudah kesekian kalinya Seungkwan mengurus orang-orang seperti Wonwoo. Salah satunya, Minki. Meski sudah terbiasa mengurus 'korban perkosaan Mingyu' tapi tetap saja Seungkwan prihatin melihatnya.
"Ini sarapannya dimakan, lalu obatnya diminum. Itu ada juga salep untuk luka luarnya." ucap Seungkwan, lalu bangkit.
"Baiklah, saya permisi. Kalau ada apa-apa, pencet saja bel yang ada di meja itu." Seungkwan membungkuk, lalu pergi dari ruangan itu.
Meninggalkan Wonwoo yang hanya menatap kepergiannya. Wonwoo menatap kosong apa yang ada didepannya. Semuanya begitu asing baginya.
Dindingnya, gordenya, jendelanya, ini benar-benar berbeda. Ini bukan kamarnya. Wonwoo ingin pulang.
Ia ingin kembali kerumahnya. Kamarnya yang penuh dengan komik Jepang dan poster Vocaloid, ia ingin ranjang sempitnya yang sudah reyot. Ia ingin bertemu Jungkook. Bagaimana kabar adiknya saat ini? Wonwoo merindukannya.
Perlahan, air mata menetes melintasi wajahnya. "Aku. . dimana? Jungkook-ah, apa kau baik disana?"
.
.
.
.
Seungkwan menoleh dan menunjuk wajahnya dengan bingung. Tapi kemudian, dihampirinya juga sosok yang memanggilnya itu.
"Minki hyung, ada apa?" Tanya Seungkwan bingung.
Minki menarik tangan Seungkwan masuk kedalam kamarnya. Lalu menutup pintu. Setelah memastikan takkan ada orang yang menguping mereka, Minkipun bicara.
"Siapa orang yang ada di kamar itu?" Tanya Minki, langsung keintinya.
Seunkwan pura-pura bodoh. "Kamar mana?" Tanyanya, sambil mengernyitkan alisnya.
"Ck, kamar yang tadi kau masuki!" Sebal Minki.
Seungkwan membulatkan mulutya, mengisyaratkan 'oh!'
"Siapa, dia? semalam aku melihatnya bersama Mingyu." Ucap Minki lagi.
"Kenapa, kau cemburu, hyung?" Ledek Seungkwan.
Minki mendelik. "Cemburu? aku hanya bertanya, Boo Seungkwan! jangan memvonisku yang tidak-tidak!" Kesal Minki, kali ini kejengkelannya bertambah. Terlihat dari wajahnya yang merenggut tak suka.
"Seharusnya kau mengakui saja. . "
"JAWAB!" Bentak Minki galak. Seungkwan bungkam, berkedip beberapa kali karena kaget dengan bentakan Minki.
"Ba-baiklah. aku jawab!" Seungkwan ketakutan. Minki mengangkat sebelah alisnya,
"Orang itu, aku tak tahu juga. Namanya Jeon Wonwoo-tadi pagi Tuan Kim memberitahukan namanya padaku- dan kata Tuan Kim, dia juga sandera sepertimu, Minki hyung." Sahut Seungkwan cepat.
Minki menggaruk dagunya dengan telunjuknya, tampak memikirkan sesuatu.
"Kau tahu, hyung?" Seungkwan memelankan suaranya. "Pemuda itu benar-benar luar biasa. Dia sangat putih dan wajahnya, aku sendiri tak tahu ada apa dengan wajahnya, tapi dia punya daya trik tersendiri. Terutama matanya. Secara garis besar, ia benar-benar cantik sepertimu." Ucap Seungkwan menyerocos, layaknya presenter gosip di tv.
Minki mendengus. "Aku ini tampan! harus berapa kali kutegaskan?!"
Seungkwan memamerkan cengirannya, "Iya, kau tampan. Tapi ketampananmu tertutupi oleh kecantikanmu."
"Menyebutku cantik sekali lagi, kusembelih kau untuk makan malamnya Mingyu!" Ancam Minki sadis. Seungkwan tertawa remeh.
"Kau bahkan tak pernah mau turun kedapur." Cibir Seungkwan. Minki mendelik, semakin sebal. Baginya bicara dengan Seungkwan sepuluh kali lipat lebih menjengkelkan daripada gebetan yang tak peka.
"Jadi, dia lebih menarik dari aku ataupun Jeonghan?" Minki mengembalikkan topik pembicaraan.
"Tidak juga, kalau dengan kau, lebih menarik Minki hyung. Tapi dengan Jeonghan hyung. . ." Ucapan Seungkwan menggantung.
"Ck! Ya sudah! kau pergi sana!" Usir Minki kemudian.
Seungkwan mengibaskan tangannya, lalu pergi dari hadapan Minki.
.
.
.
.
Jungkook mendudukkan dirinya di kursinya. Bel tanda pergantian pelajaran sudah berbunyi sejak tadi. Namun guru yang bersangkutan absen, dan hanya meninggalkan secarik kertas tugas yang harus dikumpulkan. Jungkook menatap keluar jendela, kursinya memang dekat jendela. Ia menatap kearah awan yang berarak, lapangan olahraga yang hijau. Dan kakak-kakak kelasnya yang sedang bermain futsal.
Jungkook mengalihkan pandangannya, menatap datar buku tulisnya. Buku cetak sudah terbuka lebar menyajikan soal-soal yang harus dikerjakannya. Tapi ia sama sekali tak semangat. Ia ingat Wonwoo. Hyungnya, satu-satunya yang ia punya di Seoul. Neneknya ada di Busan, sedang paman dan bibinya hidup di Changwon. Jungkook benar-benar merasa sendiri.
Jungkook mulai menulis, baru beberapa kata, Jungkook tiba-tiba saja menelungkupkan kepalanya di meja. Terdengar hembusan napas panjang.
Matanya berair, setetes membasahi buku tulisnya. Jungkook benar-benar bingung.
Kelas itu bising seperti biasa, beberapa anak perempuan sibuk membaca majalah fashion, sebagian lainnya bergosip dengan suara bising, sedang sebagian anak laki-laki tertidur. Tapi Jungkook tak peduli. Ia masih saja menelungkupkan kepalanya. Jungkook ingin Wonwoo. Ia butuh Hyungnya.
Harus bagaimana ia menyelamatkan Wonwoo? pada siapa ia harus mintas tolong, jika aparat keamanan saja menolak laporannya?
Jungkook mengusap wajahnya, lelah.
.
.
.
.
"Baek Zuho!"
"Ada!"
Choi Songsaenim memperhatikan murid-muridnya sambil mengabsen. Pria bertubuh tinggi dengan kacamata menggantung dipangkal hidungnya terus memanggili satu persatu murid-muridnya sambil mengisi kolom didepannya.
"Jeon Wonwoo!"
Hening sesaat. Siswa-siswi itu berpandangan, mencari sosok yang dipanggil guru mereka barusan. Zuho terdiam dikursinya. Tak menyahut apapun.
"Dimana Jeon Wonwoo?" Tanya Choi Songsaenim.
"Tak tahu, Saem. Wonwoo tak hadir!" Sahut salah seorang siswa.
"Baek Zuho, kau tahu kemana Wonwoo?" Tanya Choi Songsaenim, karena ia tahu Zuho adalah sahabat karib Wonwoo.
Zuho terdiam. Bingung harus menjawab apa. Lalu Zuho menggelengkan kepalanya putus asa.
"Hm, tak biasanya Wonwoo tak hadir tanpa keterangan." Gumam Pria berumur empat puluhan itu, lalu kembali melanjutkan pekerjannya.
Zuho menangkup wajahnya dengan tangan. "Bagaimana ini, Wonu-ya?" Lirih Zuho pelan.
.
.
.
.
Pria berambut biru metalik itu memasuki ruangan dengan seorang perempuan cantik berambut sepunggung yang mengikutinya.
"Tuan Kim, setengah jam lagi anda akan rapat dengan. . ."
Mingyu mengangkat tangannya, mengisyaratkan sekertarisnya untuk diam.
"Baiklah Kim Doyeon, kau bisa meninggalkanku untuk tiga puluh menit kedepan." Ucap Mingyu, Doyeon terdiam, lalu mengangguk. Dengan hormat ia membungkuk memberi salam dan meninggalkn ruangan itu.
Mingyu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk. Hari ini ia cukup sibuk. Proyek barunya membuatnya bekerja lebih keras dari kemarin. Mingyu menatap langit-langit ruangannya, menerawang. Lalu menyeringai kecil.
Drt. . drt. . .
Ponselnya bergetar, Mingyu meliriknya sekilas. Kim Taehyung.
Seketika raut wajah Mingyu berubah. Diraihnya ponsel itu.
"Halo? kau dimana sekarang, idiot?"
"Cih, sialan. Kau menipuku lagi!" Bentak Mingyu dengan wajah masam.
"Kau bilang kelinci manis, kenyataannya harimau betina lagi! tak jauh beda dengan Minki!" Sungut Mingyu pula.
"Halah! Tidak usah bohong! cepat kembali kau ke Seoul, dan akan kumasukkan kau kekandang harimau betina sungguhan!" Geram Mingyu, lalu mematikan ponselnya.
"Kim Taehyung sialan, enak-enaknya dia liburan di Amsterdam dengan Lambhorgini-ku!"
.
.
.
.
Rumah megah itu berwarna ungu dengan paduan putih yang elegan. Halamannya cukup luas dengan rumput hijau dan hiasan pot-pot tanaman cantik, berpagarkan besi tinggi dengan cat hitam yang mengkilat. Sebuah Mercedes Benz-karena Corolla yang biasa dipakai pengemudinya sedang direparasi- memasuki halaman rumah itu, setelah sebelumnya seorang pembantu rumah tangga menyongsong membukaknan pintu untuk tuannya.
Mobil itu segera terparkir di halaman, dan beberapa saat setelahnya pengemudinya turun. Seorang pemuda berbalut seragam sekolah menengah atas tingkat akhir, dengan name tag 'Baek Zuho'. Rmbutnya yang pirang terlihat agak berantakan, dan wajahnya kusut. Pemuda itu segera masuk kedalam rumah.
Zuho melempar tubuhnya kesofa, setelah membiarkan ranselnya tergeletak begitu saja didekat kakinya. Merebahkan tubuhnya keatas sofa putih empuk itu. Memejamkan matanya. Jam-jam segini rumahnya selalu sepi, Ayahnya masih sibuk bekerja-dan selalu begitu- sedang Ibunya juga sibuk menjalankan bisnis butiknya. Zuho adalah anak tunggal. Dan biasanya untuk mengusir bosan sepulang sekolah, ia akan bermain di rumah sahabatnya, Wonwoo. Tapi sekarang Wonwoo tak tahu dimana. Dan itu membuat Zuho bingung setengah mati. Apalagi jika mengingat laporannya ditolak mentah-mentah oleh Polisi. Ia hanya pemuda berumur delapan belas tahun, jelas ia masih tak bisa melakukan apapun. Apalagi hal sulit seperti menyelesaikan kasus penculikan yang harus dihadapinya saat ini.
"Oi! Baek Zuho!"
Zuho membuka matanya, melihat siapa yang sudah mengganggu lamunannya. Dan didapatinya sosok sepupunya, Min Yoongi. Pemuda dalam balutan jeans robek-robek dengan kaos oblong yang dibalut kemeja kotak-kotak kebesaran. Rambutnya hitam dan poninya terjulur menutupi matanya yang sipit.
Zuho memperhatikan Yoongi yang duduk seenaknya dekat lututnya.
"Rambutmu kau hitamkan, hyung?" Tanya Zuho, saat menyadari rambut pirang Yoongi kini berwarna hitam.
Yoongi menoleh acuh, memainkan ponselnya. "Kelihatannya?"
Zuho mendengus. Yoongi melirik sepupunya yang terlihat jengkel itu.
"Hei, hei, ada apa wajahmu tak karuan begitu?" Tegur Yoongi, memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Lalu menyandarkan tubuhnya kesofa dibelakangnya. Zuho bangkit dari telentangnya, membetulkan posisi duduknya.
"Hyung, kau tak kerja?" Tanya Zuho.
"Aku libur." Sahut Yoongi.
"Kau ini polisi macam apa, libur terus." Dengus Zuho.
"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan, jawab kenapa wajahmu sekusut itu?" Yoongi membalikkan topik pembicaraan mereka yang membelot.
Zuho duduk menyandar, berusaha menyamankan diri. Cerita atau tidak? ini masalah yang serius. Dan lagipula, Yoongi adalah saudaranya. Zuho teringat sesuatu, Yoongi polisi, kan? itu artinya Zuho bisa menceritakan kasus ini padanya!
"Hyung, sebenarnya, ada masalah serius." Ucap Zuho, memasang wajah sungguh-sungguh. Yoongi menghadapkan kepalanya kearah Zuho.
"Kau menghamili gadis disekolahmu?" Tanya Yoongi asal. Zuho merenggut, wajahnya masam seketika.
"Yang benar saja!" Jengkelnya. Yoongi nyengir, "Baiklah, ceritakan masalahmu. Mungkin aku bisa bantu sedikit."
Zuho menarik napas panjang. "Hyung, kau kenal Kim Taehyung?" Tanya Zuho.
Yoongi yang hendak membaca majalah sport itu langsung mengangkat kepalanya, menatap Zuho lurus-lurus. Sepertinya nama yang disebut Zuho itu sudah menarik perhatinnya.
"Hm, ya. Sepertinya aku pernah mendengarnya sedikit. Makelar penginapan itu, kan?" Tanya Yoongi balik.
Zuho mengerutkan keningnya. Ia tak tahu. Yang ia ketahui, Kim Taehyung adalah bajingan yang sudah menculik Jungkook, dan sekarang membuat Wonwoo terjebak karena terpaksa menggantikan Jungkook.
"Bukan, akh! tepatnya aku tak tahu! yang kutahu, Kim Taehyung menculik temanku!" Seru Zuho terdengar kacau. Yoongi terbelalak mendengarnya.
"Menculik temanmu?!" Ulangnya kaget. Zuho mengangguk cepat.
Yoongi menarik napas panjang. "Baiklah, ceritakan semuanya." Ucap Yoongi, lalu bersiap menyimak cerita Zuho.
"Begini, awalnya, adik temanku,Jungkook, berkenalan dengan Taehyung. Dan mereka menjadi akrab. Lalu setelah merasa saling mengenal, Taehyung mengajaknya untuk pergi. Lalu Jungkook minta izin pada Wonwoo, kakaknya. Dan Wonwoo mengizinkannya. Tapi kemudian, Jungkook belum pulang juga sampai waktu yang dijanjikannya. Wonwoo jadi khawatir, maka iapun menelepon adiknya. Tapi yang didapatnya hanya suara-suara aneh yang mencurigakan. Wonwoo jadi panik. Ia lalu meneleponku. Akhirnya kami mencari Jungkook. Setelah berjam-jam mencri, akhirnya kami menemukan Jungkook disebuah apartemen. Dan dalam keadaan disekap. Pintu terkunci rapat, jadi aku mencoba mengakalinya sampai terbuka. Setelah terbuka, kami lalu melepaskan Jungkook. Dan ketika kami akan kabur, seseorang datang kekamar itu. Aku dan Jungkook sudah melompat lewat jendela, dan ketika Wonwoo akan lompat juga, suara asing terdengar. Aku dan Jungkook lalu sembunyi. Dan setelahnya, kami melihat sebuah ferrari membawa pergi Wonwoo. Dan sampai saat ini, Wonwoo tak jelas dimana." Cerita Zuho panjang lebar, menjelaskan semuanya dengan begitu gmblang. Yoongi mendengarkan dengan serius.
"Baiklah, aku akan mencoba membantumu. Sebenarnya, sudah banyak desas-desus yang beredar bahwa beberapa penculikkan didalangi KIm Taehyung, namun tak ada bukti yang kuat. Kasusnya selalu tenggelam tanpa akhir. Dan sekarang, adalah saat yang tepat untuk melacaknya." Ucap Yoongi serius.
Giliran Zuho yang tercengang, "Jadi dia sudah pernah menculik sebelumnya?"
Yoongi mengangguk. Ia kemudian bangkit, pekerjaannya adalah 'Polisi preman' ia merupakan agen khusus yang menyamar menjadi pemuda berandalan dan terjun langsung kebar-bar untuk menyelidiki kasus-kasus suram seperti prostitusi, pengedaran narkoba, selundupan, dan semacamnya.
"Aku pulang dulu, Zuho-ya!" Pamit Yoongi.
"Hyung, bantulah aku!"
"Aku sedang mulai membantumu!" Teriak Yoongi dari jauh.
.
.
.
.
Minki menoleh, ketika mendapati pintu kamarnya terbuka, dan menampakkan sesosok pria jangkung dalam balutan celana panjang hitam dan kemeja putih ketat yang sudah digulung lengannya sampai kesiku. Rambut biru metalik pria itu agak sedikit basah karena keringat, sementara kulit tan nya agak mengkilat tersorot sinar mentari sore. Kim Mingyu, yang baru pulang dari kantor.
Mingyu menghampiri Minki, kemudian memeluknya agresif dari belakang. Minki diam saja. Bahkan ketika Mingyu menenggelamkan wajahnya diceruk lehernya.
"Kim Mingyu, lepaskan aku." Ucap Minki.
"Ck, kenapa kau selalu saja berkata begitu saat kita bersama?" Dengus Mingyu, lalu melepas pelukannya.
Minki berbalik, menatap Mingyu dengan netranya, tatapan dingin. "Kau sudah punya 'mainan' baru, jadi kenapa aku masih harus disini? Aku lelah." Ucap Minki kemudian.
Mingyu tertawa. "Kau cemburu?"
Minki berdecih. "Cemburu? layakkah orang sepertimu dicemburui?" Sinis Minki.
"Aku takkan melepaskanmu, Choi Minki. Sampai kapanpun. Dan kalau mengenai 'mainan baru'-ku itu, kau tak perlu turut campur.
"Kalau begitu, lepaskan saja pemuda itu." Kata Minki sejurus kemudian.
"Kenapa aku harus melepaskannya?"
"Aku kasihan, cukup aku saja yang hidup tersiksa bersamamu. Tak usah ada lagi. Pemuda itu masih sekolah, Mingyu." Ucap Minki pula.
"Aku akan menyekolahkannya."
"Ck, menyekolahkannya? kau bahkan tak mengizinkannya keluar."
"Home schoolling." Enteng Mingyu. Minki mendelik sebal.
"Susahnya bicara dengan Macan tutul hitam sepertimu." Ejek Minki.
.
.
.
.
To be continued OR END/?
REVIEW PLEASE
Note: Sekolah praktek terus euy :3 mana 5 desember udah UAS lagi :') jangan lupa review ya^^
KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW
