Author : Miss Galaxy

Title : Truth or Dare? ( Chap 4 )

Cast :

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

And Other Cast

Rated : T

Genre : Romance, School life

.

.

.

.

KazekageLaxy present;

Karna saya seorang Kazekage, jadi semua cerita adalah milik saya secara SAH! XDD

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE!

WARNING TYHPO! And,

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

.

[PREVIEW]

.

.

.

.


"Jadi dia murid SOPA?"

Lelaki disampingnya mengangguk mantab. Jemarinya kembali menari diatas tablet touch screen miliknya. Sebuah senyum terkembang dibibirnya.

"Dia kekasih Kai."

Kalimat itu sukses membuat pergerakan lelaki berambut biru yang tengah meneguk wisky itu terhenti. Dia menatap temannya itu tajam. Tangannya menggenggam kuat gelas ditangannya.

"Benarkah itu Hyuk?"

"Benar. Sudah berjalan seminggu."

"Oh."

Lelaki bernama Ravi itu menyeringai, kemudian mengangkat tangannya mendekatkan gelas kaca itu kemulutnya. Rasa manis-asam, kuat itu membuat kepalanya sedikit pening. Dia tertawa.

"HAHA! Kita punya permainan baru Hyuk.."


.

.

.

"APAAAAA?"

Luhan memekik keras, membuat semua mata menatap tak suka kearahnya. Kyungsoo menepuk jidatnya sendiri, sementara Baekhyun sibuk membungkuk sambil menggumankan kata 'Maaf' kepada seluruh manusia yang sedang berada di ruang vocal ini. Oh! Sepertinya dia salah besar karna memberikan kabar baik pada Luhan disaat yang tidak tepat.

"Kecilkan suaramu Hyung~" Geram Kyungsoo sementara lelaki bermata rusa itu hanya nyengir. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya menatap serius pada sosok Baekhyun.

"Jadi..Kepala sekolah memintamu agar menjadi Tutor Park Chanyeol? Waah. Ini kabar baik. Apa kau menerimanya?" Tanyanya kali ini dengan suara yang dipelankan. Baekhyun merona mendengarnya.

"Aku tak tahu hyung. Aku sedikit ragu," Ucap Baekhyun.

"Kurasa kau harus menerimanya Baekhyun.." Saran Kyungsoo dan Luhan menyetujuinya dengan anggukan.

"Issh. Kau ini, ini kesempatan besarmu untuk mendekati Chanyeol."

"Tapi hyung-"

"Tidak ada tapi-tapian Oke? Kau harus menerima tawaran itu atau kau akan menyesal seumur hidup. Mengerti?" Luhan mengepalkan tangan kanannya keatas tepat didepan Baekhyun, seolah memberikan lelaki bermata sipit itu semangat. Baekhyun menghela nafas panjang, dengan ragu akhirnya dia mengangguk. Wow, menjadi Tutor Chanyeol adalah mimpi besar. Apa Tuhan memang sudah merencanakan semua ini?

.

.

.

Hari beranjak malam, namun lampu ruang vocal tempat murid-murid SOPA berlatih masih menyala, menandakan masih ada orang disana. Kai bersender didekat Pillar besar disamping pintu ruangan. Apa yang dia lakukan? Sebentar lagi kalian akan tahu jawabannya.

"Aku akan masuk."

Itu suara Chen. Lelaki tampan itu memasuki ruangan setelah Guru Kim yang merupakan pelatih Vocal pergi. Pintu terbuka dan suasana yang awalnya gaduh kini menjadi tenang saat Chen berjalan masuk. Semua pasang mata menatapnya intens.

"Chennie.."

Dan itu suara Xiumin. lelaki manis dengan pipi Bakpao itu tersenyum senang saat kekasihnya datang. Tanpa malu sedikitpun, Chen memberikan satu kecupan manis dibibirnya. Sontak membuat semua pasang mata terbelalak. Xiumin merona, dia menunduk menyembunyikan wajah tomatnya.

"Ayo pergi."

Xiumin menerima uluran kekasihnya dengan malu-malu kucing, Dan sepasang seloji itupun keluar kelas dengan bergandengan tangan mesra. Luhan hanya memasang wajah datarnya, anak rusa itupun berdehem untuk mengembalikan suasana.

"Ayo pulang," Ajak Luhan pada kedua sahabatnya itu. Ketinganya membereskan barang-barang bawa'annya dan berjalan beriringan menuju pintu keluar.

"Kyung, ada yang menunggumu.."

"Engh?" Kyungsoo yang tadinya menunduk sontak mengangkat kepalanya saat Luhan menyikut perutnya. Dan seketika tatapannya terkunci pada sepasang mata yang tengah menatapnya tanpa ekspresi. Manusia kutub itu, untuk apa dia disini? Batin Kyungsoo jengkel.

"Bisa tinggalkan kami berdua?" Tanya Kai datar pada Luhan, dan Luhan tahu siapa yang dia maksud.

"Berdua?"

"Ya." Kyungsoo menatap lelaki rusa itu melas, namun bukan Luhan namanya jika tak bisa membuat orang jengkel. Anak rusa itu menatapnya sekilas kemudian kembali berpaling pada Kai dan mengangguk mantap.

"Tentu. Kurasa kalian perlu bicara. Ayo Baekhyunnie.." Luhanpun berlalu menggandeng lengan milik Baekhyun. Kyungsoo merengut tak suka, Kai selalu bersikap egois, selalu semaunya sendiri. Memang dia fikir dia itu siapa? Dan lagi Luhan. Awas saja anak itu, Kyungsoo merasa menyesal telah menceritakan semuanya pada Luhan. Ingin sekali Kyungsoo menenggelamkan anak itu di tengah-tengah samudra Hindia.

"Aku ingin pulang." Kyungsoo berucap kelewat datar. Rasa benci itu masih membekas dihatinya, jadi dia tak akan mau lagi berurusan dengan Kai.

"Ku antar,"

"Tidak." Cetus Kyungsoo, dia berlalu meninggalkan Kai namun lelaki tan itu tetap mengikutinya dari belakang. Kyungsoo mencoba tak peduli, dia kembali berjalan hingga lorong sekolah, namun Kai tetap mengikutinya. Sekali lagi Kyungsoo mendengus. Dia berhenti dan membalikkan badannya, menatap kesal pada lelaki didepannya.

"Jangan mengikutiku.."

Tak ada jawaban, namun langkah lelaki tan itu semakin mendekatinya. Hingga Kyungsoo merasakan punggungnya membentur dinding cukup keras saat tubuhnya didorong mundur. Kyungsoo meringis, punggungnya terasa ngilu. Sepasang tangan besar bertengger dikedua sisi kepalanya dan mengurung tubuh mungilnya. Kyungsoo berontak, tapi sekali lagi akhirnya dia kalah. Kai terlalu kuat memegang tangannya. Lelaki mungil itu menatap benci pada sosok didepannya.

"Lepaskan aku," Lirihnya tajam, namun Kai tak bergeming. Kyungsoo semakin menggeram tak suka.

"LEPASKAN AK-"

Pekikannya terpotong, bola mata Kyungsoo semakin membulat menyerupai kelereng. Lelaki mungil itu terdiam, merasakan sebuah benda kenyal telah menyatu dengan bibirnya. Bergerak lembut bagaikan helaian sutra. Kyungsoo terpaku, dibawah teraman sinar bulan dia dapat melihat kedua kelopak mata milik Kai tetutup rapat. Mendadak Jantung Kyungsoo berpacu sangat cepat. Dia gugup, tak menolak ataupun membalas. Tapi..Demi apapun, ciuman ini sangat lembut, bahkan sampai membuat kedua lutut Kyungsoo lemas. Kyungsoo kalah. Setetes airmata membasahi pipinya. Perasaan apa ini? Kenapa dia menangis?

"Hiks.." Satu isakan lolos dan itu membuat Kai membuka mata, lelaki tan itu melepaskan ciumannya, menatap Kyungsoo dengan sayu. Jemarinya dengan cepat mengusap lelehan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipi gemuk milik Kyungsoo.

"Jangan menangis.." Bisiknya lembut, mendekap Kyungsoo kedalam pelukan hangatnya. Kyungsoo terisak, harus dia akui, pelukan Kai sangat hangat, Kyungsoo merasa nyaman saat aroma maskulin menguar berlomba-lomba membelai indra penciumannya. Kyungsoo mengutuk kenapa dia harus didekap seerat ini hingga wangi itu seakan-akan membuatnya mabuk. Kyungsoo semakin menangis merasakannya, rasa bencinya menguap entah kemana.

"Sstt. Kubilang berhenti menangis.." Kai berucap lirih namun terdengar tajam tepat ditelinga Kyungsoo hingga lelaki mungil itu bergidik ngeri. Satu tangannya mengusap rambut Kyungsoo dengan sayang. Kyungsoo menyerah. Oke, dia kalah. Kai berhasil melukai hatinya dan berhasil juga menyembuhkannya. Jika hati itu kembali pulih, maka Kai akan melukainya lagi berulang-ulang. Kau berhasil mempermainkan hatiku, Kim Kai.

.

.

.

PRANG!

Kai, Sehun dan beberapa orang yang tengah tidur di dalam studio itu terjingkat kaget saat kaca depan pecah terhantam oleh sesuatu. Kai mengeram, dia bangkit dan memeriksa keluar ruangan. Namun kosong, tak ada tanda-tanda seseorang disekitar sana.

"Ada seseorang yang melemparkan batu." Sehun memungut sebuah batu cukup besar yang membuat kaca depan studio mereka hancur. Ada kertas yang tertempel disana menggunakan karet, lelaki pucat itu dengan cepat membuka karetnya dan mulai membaca tulisan yang tertulis di kertas.

'DANGER! WELCOME DISTRUCTION'

"Ck! Siapa yang berani mengirimkan benda laknat ini hingga membuat kaca pecah, hah?" Sehun meremas kertas itu kuat-kuat. Pandangannya dia alihkan pada Kai yang hanya diam membisu ditempat.

"Kai? Kau tak akan membiarkan hal memalukan ini kan?" Tanyanya tajam. Sahabatnya itu menoleh, menatapnya dengan raut wajah penuh arti. Sehun tak mengerti, biasanya Kai akan langsung marah dan mencari si pelaku sampai dapat, kemudian akan memberikan pelajaran yang setimpal. Atau..

"Apa maksud dari tulisan itu?"

"Hah?" Alis Sehun bertautan. Dia menatap sahabatnya itu penuh arti.

"Apa maksud tulisan itu dan Siapa yang berani mengirimkannya kesini?"

"Kurasa mereka sedang memperingati kita." Keduanya menoleh, mendapati sosok Chen yang baru datang tengah berdiri didepan pintu masuk. Lelaki tampan itu menoleh sekilas pada kaca depan yang rusak dan gumpalan kertas ditangan Sehun.

"Danger berarti bahaya, Welcome selamat datang dan Distruction berarti bencana. Jadi.." Chen menggantungkan kalimatnya, lelaki tampan itu melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah datar.

"Itu sebagai tanda peringatan bahwa sebentar lagi kita akan mendapat bencana."

"Aku tahu arti kalimat itu. tapi siapa yang berani melakukan itu?" Chen mengangkat bahunya.

"Mungkin seseorang yang menyimpan dendam padamu, padaku atau pada kita semua.." Kai mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Lelaki tan itu langsung mengambil jaketnya diatas sofa dan berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya. Sehun memutar bola matanya malas.

"Memang siapa lagi yang berani mencari gara-gara dengan kita?" Tanya Sehun dan Chen menggelang.

"Entahlah. Mulai sekarang kusarankan agar kita lebih hati-hati. Tampaknya seseorang yang mengirimkan pesan melalui batu ini memendam benci yang sangat besar pada kita atau mungkin pada Kai." Jawabnya acuh. Sehun mengangkat bahunya tak peduli.

"Bersihkan pecahan katanya," Perintahnya pada salah seorang lelaki dengan rambut keriting Pinknya.

"Kenapa aku sih?" Guman si lelaki berambut pink lucunya, namun tak urung juga dia mengambil sapu dan tempat sampah.

.

.

.

TETT!

Hari sabtu ini bel pulang sekolah berbunyi lima belas menit lebih awal. Luhan adalah orang yang paling semangat menyambut hal ini, dengan ceria anak rusa itu membereskan semua peralatan sekolahnya. Dia berniat mengajak Kyungsoo dan Baekhyun pulang bersama menaiki kereta bawah tanah, akhir pekan biasanya memberikan potongan setengah harga untuk seorang pelajar. Dia memekik senang menyuruh kedua sahabatnya itu agar cepat bergeges.

"YA! Kalian berdua cepatlah." Omelnya dengan mata mendelik. Kyungsoo yang melihat itu rasanya ingin sekali menghadiahkan satu bogeman mentah ke wajah Luhan, namun dia urungkan niatnya itu. Memang dia gila apa?

Ketiganya berjalan beriringan melewati lorong kelas yang mulai sepi karna penghuni sekolah sudah berhambur pulang untuk bermalam minggu. Sampai dipintu gerbang, langkah ketiganya ditahan oleh seseorang. Orang yang paling terkejut disini adalah Baekhyun, karna sosok yang menghadang mereka adalah..

"P-Park Chanyeol.." Cicit Baekhyun pelan, nyaris tertelan hembusan angin. Lelaki mungil itu mendadak menjadi gugup dan salah tingkah. Luhan yang menyadari tinggah ganjal dari Baekhyun tersenyum jahil.

"Hallo Park Chanyeol. Kau pasti menunggu Baekhyun ya? Kudengar kepala sekolah meminta Baekhyun agar menjadi Tutormu kan?" Tanya Luhan bertubi-tubi, lelaki jangkung dihadapannya itu mengangguk malas. Dasar Luhan!

"Kau menerima tawaran itu Baekhyun?" Tanya Chanyeol dengan suara beratnya. Baekhyun mendongak cepat. Tatapannya bertubrukan dengan tatapan tanpa ekspresi milik Chanyeol.

"A-aku.."

"Tentu saja Baekhyun menerimanya." Potong Luhan cepat, anak rusa itu sedikit mendorong tubuh mungil Baekhyun agar mendekat kearah Chanyeol. Tanpa memperdulikan tatapan tajam Baekhyun yang seolah berkata 'Kubunuh kau jika melakukannya'

"Nah..Sekarang kalian berdua bisa pergi bersama. Aku dan Kyungsoo duluan ya? Byee Baekhyun..Bye Chanyeol.." Dan setelah itu Luhan menyeret lengan Kyungsoo agar menjauh. Lelaki bermata bulat itu hanya mendengus, dia sudah tak kaget dengan sikap gila teman satunya ini. Luhan terlihat seperti Peri Jomblang yang sedikit menyebalkan. Karnanya jugalah Kyungsoo harus menjadi eehemm.. kekasih Manusia kutub. Oh ya, bicara manusia kutub. Tumben sekali dia tak terlihat disekolah? Dimana dia? Apa sedang bersemedi di kutub utara? Baguslah jika begitu, Kyungsoo akan merasa aman. Dia akan menghabiskan akhir pekannya bersenang-senang dengan Luhan.

.

.

.

Hari mulai gelap, matahari sebentar lagi akan terbenam di ujung barat. Kyungsoo dan Luhan masih asik berjalan di keramaian kota dengan satu cup Bubble tea ditangan. Mereka telah menghabiskan cukup lama untuk bermain di Lotte World dan berjalan-jalan disekitar Mall Kingdom. Merasa lelah, Luhan memutuskan untuk pulang menggunakan kereta bawah tanah. Jarak stasiun hanya tinggal lima puluh meter lagi. Dia menatap Kyungsoo disampingnya untuk menghabiskan waktu sampai stasiun.

"Heii Soo.."

"Hhmm?"

"Bagaimana hubunganmu dengan Kai?" Kyungsoo balas menatap sahabatnya itu dengan raut wajah tak suka. Oh, Please. Dia ingin bersenang-senang diakhir pekan dengan nyaman tanpa menyangkut pautkan si manusia kutub.

"Jangan bertanya lagi,"

"Kenapa?"

"Aku malas membicarakannya,"

"Tapi dia itu pacarmu heh, lagipula sekarang kan malam minggu, apa dia tak ada niatan mengajakmu kencan?"

Kepala Kyungsoo rasanya mendidih mendengar ucapan Luhan. berkencan? Dan membiarkan Kai mempermalukan dirinya seperti tempo lalu seperti dibar? BIG NO! Kyungsoo tak menyahut, stasiun kereta sudah terlihat. Dia berjalan duluan meninggalkan Luhan dibelakang.

Drrt! Drrt!

Ponsel disaku celananya bergetar, Kyungsoo merogohnya dan melihat nama penelfon dilayar ponselnya.

'Manusia Kutub' –Lelaki mungil itu memutar bola matanya malas, dia tak ada niatan untuk mengangkatnya. Namun seolah tak ada kata lelah, ponselnya terus bergetar dan hingga panggilan ke empat, Kyungsoo memencet tombol Hijau.

"KENAPA TAK MENJAWAB PANGGILANKU HAH?" Kyungsoo menjauhkan ponsel itu dari telinganya yang mulai berdengung. Sial! Bahkan pekikan itu lebih keras dari milik Luhan. Kyungsoo bisa gila sekarang.

"Kau dimana?" Tanya dari sebrang. Sekilas Kyungsoo mendengar suara ramai-ramai dan roda-roda yang saling bergesekan dengan besi. Sedang dimana sih manusia kutub itu?

"Dirumah." Jawab Kyungsoo asal.

"Kenapa dirumah sangat ramai? Jangan bohong. Katakan padaku dimana kau sekarang." Kyungsoo merengut. Kenapa sih Kai terus mengintimidasi dirinya dengan ucapan tajam? Kemana ucapan lembut penuh kasih sayang seperti semalam?

"Aku tak bohong. Aku sedang berada dikedai dekat rumahku membeli ramen. Kau ini sok tahu sekali sih," Kesal Kyungsoo. Suara dari seberang telfon terdengar semakin ramai.

"Oke. Awas jika kau berbohong."

Tutt! Tuutt!

Hubungan telfon diputuskan sepihak. Kyungsoo menghentakkan kakinya kesal, bersamaan dengan itu Luhan berhasil menyusulnya. Kyungsoo segera menyimpan ponselnya kembali saat Lelaki bermata rusa itu menyeretnya memasuki pintu stasiun. Beruntung sekali Luhan tak mengetahui acara'Telfon-telfonannya' dengan Kai, jika tidak. Ugh, pasti akan repot. Mereka berdua memasuki loket dan memesan dua tiket. Benar kan? Harga tiket dipotong besar-besaran. Luhan menatap papan besar yang tergantung di atas dinding loket, Jadwal keberangkatan kereta mereka lima belas menit lagi. kedua lelaki mungil itu menuruni tangga menuju peron stasiun. Keadaan cukup legang. Entahlah~ padahal hari ini malam minggu, biasanya stasiun bawah tanah akan ramai. Luhan mengajak Kyungsoo duduk dikursi panjang untuk menunggu kedatangan kereta.

"Ugh. Aku ingin pipis.." Rengek Luhan tiba-tiba, Kyungsoo menatap jam digital dipergelangan tangan kirinya. Masih ada lima menit sebelum kereta berangkat.

"Dua menit." Ucapnya. Luhan mengangguk dan dengan buru-buru pergi melenggang kearah kamar mandi. Tinggallah Kyungsoo yang sendiri duduk disana. Lelaki mungil itu menatap sekitar, tak ada yang aneh. Hanya saja dia agak heran karna tiba-tiba seorang remaja dengan seragam yang Kyungsoo yakini dari sekolah lain berlari-lari dengan gelisah sambil berteriak, berlari menerobos para penumpang menuju gerombolan teman-temannya yang sedang asik menunggu kereta dipojok ruangan.

"SEMUA PERGI DARI SINI. AKAN ADA PERKELAHIAN .."

Kyungsoo mengerutkan alisnya bingung. Perkelahian? Di stasiun? Ya, Tuhan. Anak jaman sekarang memang konyol. Kyungsoo mencoba acuh, namun bagaimanapun dia tak akan bisa karna dari arah gerbang masuk tiba-tiba muncul segerombolan anak sekolah dengan..Ya Tuhan. Semua berjalan dengan cepat sebelum Kyungsoo mampu mencernanya. Perkelahian sudah terjadi hingga sebagian penghuni stasiun memilih melarikan diri. Mata Kyungsoo menyipit, menatap tajam pada sebelah pihak yang menggunakan Blazzer Kuning bergaris. Kyungsoo terbelalak. Ya! Bukankah mereka itu murid SOPA? Sekolahnya? Kyungsoo menatap kanan-kiri dengan resah, mereka semua membawa senjata, dia harus cepat pergi jika ingin selamat. Tapi dimana Luhan? Kyungsoo berjalan resah menuju kamar mandi berniat mencari Luhan. Namun beberapa orang dengan seragam putih kecoklatan mencegatnya dan menahan tubuh mungilnya. Kyungsoo berontak, berteriak memanggil-manggil Luhan berharap pertolongan.

"LEPASKAN DIA BRENGSEK!"

BUGH!

Sepertinya Dewi Fortuna datang persis seperti di flim–flim . Satu persatu dari mereka yang menahannya jatuh tumbang karna bogem mentah dari seseorang, Kyungsoo menutup mulutnya lega. Kemudian mendongak menatap si penolong. Bola matanya membulat, mendapati sosok tegap dengan keadaan awut-awutan berdiri menatapnya tajam dengan nafas terengah, belum lagi sedikit memar dan darah yang mulai mengering disekitar sudut bibirnya.

"Kai.." Lirih Kyungsoo pelan.

"Kau berbohong padaku, Do Kyungsoo.." Lirihnya tajam, kemudian menarik lengan Kyungsoo meninggalkan tempat itu. Kyungsoo tak mampu menolak, langkahnya terburu-buru mengikuti tarikan lelaki didepannya.

"KAU! BERHENTI..!" Kai dan Kyungsoo menoleh secara bersamaan, seorang lelaki dengan rambut pirangnya mengacungkan sebuah tongkat baseball kearah keduanya. Kai mendesis, kemudian menarik Kyungsoo agar lelaki mungil itu berlari lebih cepat.

"Kai..Kai, yaa..pelan-pelan." Ringis Kyungsoo merasakan pergelangan tangannya yang memanas, namun tak sedikit digubris. Lelaki tan itu semakin menariknya kuat menaiki anak tangga menuju pintu darurat, sementara beberapa orang mengejar mereka. Keduanya sampai disebuah lapangan setelah melewati pintu, disana sebuah motor ninja berwarna merah mengkilat telah terparkir.

"Naik.." Perintah Kai cepat.

"Apa?"

"Kubilang naik," Kai berdecak tak sabaran, dia mengangkat tubuh Kyungsoo agar lelaki mungil itu naik ke jok belakang. Wajah Kyungsoo memanas, seringan itukah tubuhnya hingga Kai mampu mengangkatnya tanpa kesusahan?

"Pegangan." Kai menarik kedua lengan Kyungsoo agar melingkari perutnya, lelaki mungil itu tersentak, namun belum sempat membuka mulut untuk protes, motor mulai melaju dengan sangat cepat. Istilahnya seperti 'Menyelam sekaligus minum air'. Hey~ bukan apa ya, dia hanya tak mau ambil resiko jika terjatuh, maka dengan ragu Kyungsoo mengeratkan pegangannya, menyandarkan kepalanya pada punggung Kai yang kokoh. Mendadak kedua pipinya memanas, dia gugup. Sementara beberapa motor tengah mengejar keduanya. Kai melihat melalui kaca spionnya, lelaki berkulit tan itu berdecak. Menancap gas menambah kecepatan, meliuk-liuk melewati berbagai jenis kendaraan, bahkan dengan nekat mengabaikan rambu-rambu lalu lintas, hal inilah yang semakin membuat Kyungsoo mengeratkan pelukannya. Kai membuat jantungnya mendadak Asma.

"PELANKAN LAJU MOTORMU.." Teriak Kyungsoo nyaring, namun lelaki tan itu malah melakukan hal yang sebaliknya, jarum spidometer menunjuk angka 100. Motor melaju menuju jalan rel kereta api, dan dengan santai Kai melewatinya begitu saja, Sedetik setelah keduanya lewat, kereta api datang, meninggalkan beberapa orang yang mengejar mereka tertinggal dibelakang terhalang oleh laju kereta. Kai menyeringai, dia melirik kearah Kyungsoo yang tengah memejamkan kedua matanya erat, kemudian turun menatap lengan mungil Kyungsoo yang melingkari perutnya erat. Haha, sebuah kesempatan dalam kesempitan.

"Mereka sudah pergi.."

Perlahan Kyungsoo membuka matanya setelah dirasa laju motor menjadi normal, dia sedikit menoleh kebelakang, orang-orang yang mengejar mereka memang sudah menghilang.

"Kau hampir membuatku jantungan, bagaimana jika kita tertabrak kereta tadi hah? Aku tak mau mati." Kesal Kyungsoo masih mempertahankan posisinya, dia menatap sekeliling dengan bingung.

"Kita dimana?"

"Entahlah."

"YA! Bagaimana bisa kau membawaku ketempat yang bahkan kau sendiri tak tahu."

"Aku tak membawamu. Mungkin takdir yang menuntunku untuk membawamu kesini." Alis Kyungsoo saling bertautan mendengarnya. Tumben manusia kutub ini sangat puitis?

"Kau bicara apa sih?" Kai mengangkat bahunya acuh. Keadaan menjadi hening seketika hingga Kai berdehem.

"Kau tak perlu memelukku seerat itu. Aku menjamin kau tak akan jatuh dari motorku."

"Apa?" Kyungsoo menatap pada kedua tangannya sendiri. Bingo! Dan Detik berikutnya dia cepat-cepat menarik kedua tangannya itu. Aduh, Kyungsoo! Kau mempermalukan dirimu sendiri hah? Mau kau letakkan dimana mukamu? Hah, dia butuh kerosin untuk mengaspal mukanya.

"A-Aku tak sengaja. Bukankah tadi kau yang memintanya?" Jawab Kyungsoo asal, wajahnya kini sudah menyaingi tomat.

"Aku memang memintanya. Tapi tak sekuat itu."

"Ma-aa..maaf.." Kai yang mendengar suara malu-malu itu mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang samar. Angin malam membelai wajah tampannya. Kai melirik Kyungsoo yang menunduk lewat kaca spionnya. Oh, wajah anak itu memerah? Apa dia malu?

"Kita akan kemana?" Cicit Kyungsoo pelan dan Kai tak berminat untuk menjawabnya, dia lebih memilih melajukan motornya menembus jalanan malam. Kemanapun pergi, rasa bahagia itu akan mengikuti asal bisa bersama dengan orang yang disayangi.

.

.

.

"Ahh.."

Luhan mendesah lega meninggalkan salah satu bilik setelah berhasil menyelamatkan kantung kemihnya. Lelaki bermata rusa itu merapikan sedikit pakaiannya, melirik sekilas pada jam tangan kepala rusa dipergelangan tangan kanannya. Dia terkikik, masih ada tiga menit lagi. Dengan bangga –Karna bisa menepati waktu yang Kyungsoo tentukan– Luhan berjalan kembali ketempat dimana dia meninggalkan Kyungsoo tadi. Namun mata rusanya terbelalak melihat pemandangan yang tersaji didepan matanya. Kenapa bisa ada perkelahian disini?

"Kyungsoo!" Luhan berteriak gelisah, bola matanya bergerak tak tentu arah mencari-cari sosok Kyungsoo diantara kerumunan yang saling menyerang itu. Lelaki rusa itu takut, dia tak menemukan Kyungsoo? Jangan-jangan salah satu dari mereka membawanya pergi dan berbuat jahat padanya? Andwee. Luhan semakin gelisah, dia berjalan mondar-mandir ditempat. Tentu saja. Siapa yang berani mendekati kerumunan yang kesetanan dan membabi buta itu?

"ARGH! SIALAN KAU.."

Luhan menatap sekeliling saat mendengar suara yang sepertinya dia tahu milik siapa. Nah, benar kan? Si manusia mesum itu tengah berdiri menantang didepan seorang lelaki berambut coklat yang agak keriting. Sehun melepaskan jas almamaternya, kemudian menyingkap lengan kemejanya. Diam–diam Luhan berguman keren sambil tersenyum aneh. Entah mengapa, dalam hati Luhan berharap agar Sehun menang. Lelaki pucat itu mulai bertarung, melemparkan tendangan, meninju ataupun menghindar.

"TIDAAKKK!" Teriak Luhan tiba-tiba saat seorang murid bukan dari SOPA hampir saja menusukkan pisau ke punggung Sehun. Berkat teriakan Luhan yang nyaring, Sehun menoleh kebelakang dan berhasil menghindari tusukan itu. Sehun melirik kearah Luhan sekilas, pupil matanya membesar. Lalu pandangannya dia arahkan pada kedua sosok dikanan-kirinya.

"KAU CURANG!"

Dan luapan emosi itupun mulai tersalurkan melalui pukulan dan tendangan maut hingga kedua lelaki itu jatuh tumbang, ceceran darah mengotori lantai ubin stasiun. Sehun terengah menetralkan nafasnya yang naik turun, kemudian pandangannya dia bawa pada Luhan yang berdiri lima meter didepannya. Lelaki pucat itu mendekat, menarik pergelangan tangan Luhan dengan kuat.

"YA! OH SEHUUNN.. MAU KAU BAWA KEMANA DIRIKU?"

.

.

.

"Dimana tempat belajar kita?"

"Uh?" Baekhyun yang sedari tadi menunduk mengangkat kepalanya, menatap Chanyeol yang tengah focus menyetir. Lelaki bermata sipit itu salah tingkah, pasalnya baru kali ini dia duduk hanya berdua dengan Chanyeol.

"Engh..Te-terserah Sunbae saja.." Jawabnya pelan, Chanyeol melirik Baekhyun dengan ekor matanya.

"Panggil aku Chanyeol saja. Karna mulai sekarang kau adalah Tutorku."

BLUSH~

Baekhyun merasakan kedua wajahnya memanas mendengar ucapan Chanyeol. Ooh, Apa yang sedang Tuhan rencanakan?

"Mmm..Terserah Chanyeol saja.."

"Terserah kau saja.." Chanyeol membalikkan ucapannya. Baekhyun meremas kepalan tangannya yang berada diatas pangkuannya, tanda bahwa dia sedang gugup.

"Umh, bagaimana jika di..rumahku?" Usulnya takut-takut menunggu respon Chanyeol yang hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi.

"….."

"Ma-maaf! Jika kau tak suka, bisa kita laku-"

"Oke. Dirumahmu! Karna kau yang meminta."

.

.

.

"Tempat apa ini?"

Kyungsoo turun dari atas motor, menatap sekeliling dengan pandangan bingung sekaligus takjub. Kai membawanya kesebuah tempat yang bahkan dia sendiri tak tahu apa namanya, namun dari sini hamparan kota Seoul terpampang dengan jelas, langit malampun terasa sangat dekat. Kyungsoo mengulurkan tangan kanannya keatas, dia terkikik kecil karna bayangan dari tangannya seolah-olah mampu menyentuh salah satu dari taburan bintang dilangit.

"Tempat apa ini?" Tanya Kyungsoo lagi, menatap Kai yang duduk bertengger diatas motornya. Lelaki mungil itu menghentakkan kedua kakinya kesal. Kenapa manusia kutub ini irit sekali sih jika bicara?

"Kai..Jawab aku.." Rengek Kyungsoo, sementara Kai hanya menatapnya datar tak minat.

"Bukit bintang.."

"Benarkah?"

"Ya."

"Oh." Kyungsoo berguman pelan, mendongak menatap langit malam yang entah kenapa saat ini terlihat lebih indah berkali-kali lipat dari biasanya. Apa karna dia tak sendiri? Apa karna dia bersama Kai? Ohya, membicarakan hari ini. Bukankah hari ini malam minggu? Kyungsoo berfikir ini terlihat seperti..ehem, berkencan mungkin. Ah, lebih tepatnya berkencan tanpa sengaja. Mendadak dia teringat kejadian di bar tempo lalu, rasa sakit itu kembali menjalari tubuhnya menuju ke ubun-ubun, Lelaki mungil itu merengut tak suka.

"Bawa aku pulang sekarang," Kai menatap manusia mungil didepannya tak mengerti. Baru beberapa detik yang lalu dia terlihat banagia, namun sekarang?

"Kenapa? Kau tak suka tempat ini?" Kyungsoo menggelang.

"Aku lapar, aku ingin pulang."

"Kita makan diluar,"

"Tidak." Jawab Kyungsoo ketus, dia menatap tak suka pada Kai.

"Jika kau mengajakku ke Kedai atau Restoran, kau pasti akan mempermalukanku lagi.." Dan entah kenapa ucapan itu lolos begitu saja dari Heartlips Kyungsoo, dia sedikit trauma dan ucapannya sukses membuat lelaki tan itu menatapnya tak suka. Hey~ kenapa hal itu diungit-ungkit lagi?

"Berhenti membicarakan hal yang telah berlalu. Itu semua tak benar."

"Jika itu tak benar. Kenapa kau hanya diam saat lelaki itu mempermalukanku?" Kai menghela nafas panjang mencoba mengontrol emosinya, lelaki tan itu turun dari motornya, mendekat hingga tubuhnya berdiri tepat dihadapan Kyungsoo.

"Kau marah?" Tanyanya sedikit menunduk guna mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kyungsoo.

"Sangat marah," Sahut Kyungsoo.

"Aku juga marah."

"Kenapa?"

"Karna kau berdekatan dengan lelaki brengsek berambut biru itu." Alis Kyungsoo bertautan, lelaki brengsek berambut Biru? Maksudnya Ravi? Heii~ dia tidak brengsek.

"Aku tak melarangmu berdekatan dengan lelaki blonde itu, lalu apa urusanmu jika aku dekat dengan Ravi? Lagipula dia itu tak Brengsek tahu!" Kesal Kyungsoo.

"Ravi hanya menolongku." Koreksi Kyungsoo.

"Tapi aku tak suka."

"Aku juga tak suka dengan lelaki blonde itu," Sahut Kyungsoo tak kalah cetus, sebuah senyum tercipta dibibir tebal milik Kai.

"Aku tahu. Kau pasti cemburu,"

"Ya. Aku Cem- A-APAA?" Mata Kyungsoo terbelalak, dia menatap jengkel pada Kai.

"Aku tak cemburu. Meskipun dia pacarmu sekalipun aku tak peduli." Dan entah kenapa, lidah Kyungsoo terasa ngilu mengatakannya. Kai tersenyum sinis, menegakkan kembali tubuhnya menatap Kyungsoo yang tengah menuduk.

"Dia bukan pacarku. Pacarku hanya satu..Pacarku.. yaitu Do Kyungsoo.." Satu telunjuk milik Kai mengangkat dagu Kyungsoo, dan dengan lembut Kai menyapukan bibirnya pada heartlips milik lelaki mungil yang dia klaim sebagai kekasihnya. Rasa manis mulai menjadikan bibir itu sebagai candu, Kai melumat bibir itu dengan lembut. Menghadirkan sensasi mendebar luar biasa pada Kyungsoo, lelaki mungil itu terhenyak. Ooh! Bagus. Sekali lagi kau mampu membuat Kyungsoo terhanyut dan mempercayai omonganmu Kim Kai. Apakah ucapan itu bisa untuk dipegang? Apakah ucapan itu mampu dipercaya? Dari bibir yang jarang terbuka itu? Apa langit malam akan bersaksi? Bahwa semua ucapan itu benar? Kyungsoo memejamkan kedua matanya, membiarkan secuil perasaan yang tiba-tiba muncul itu melayang-layang diotaknya, melumpuhkan semua kerja syaraf tubuhnya. Kyungsoo ingin menikmatinya. Biarkan dia meyakini ucapan itu, untuk saat ini, biarlah malam ini menjadi malam minggu yang berbeda. Biarlah dia menjadi manusia yang munafik jika dia tak bisa berbohong bahwa dia menikmati ciuman ini. Bagus sekali, Kai semakin membuat perasaannya menjadi Labil.

.

.

.

"Kau.."

Ravi menatap lelaki dengan mata sipit dihadapannya malas, kedua tangannya terlipat didepan dada.

"Bodoh.." Lanjutnya. Sementara lelaki yang disebut bodoh itu mendelik.

"Kau yang lebih bodoh. Aku nyaris berhasil menangkapnya jika saja ketua Geng sekolah itu menyelamatkannya."

"Nyaris kan? Itu sama saja dengan Bodoh. Melawan cenguguk saja kalah.." Hyuk mendelik, dia menatap tajam pada Hyung didepannya itu dengan jengkel.

"Jika aku bodoh, kenapa kau malah menyuruhku untuk menyerang mereka? Lagipula, Kai itu tak bisa dianggap remeh. Dan, Yaa~ Lihat! Wajah tampanku jadi babak-belur. Aigoo! Wajah tampanku, apakah Seulgi masih mau bertemu denganku eh?" Ucap Hyuk dramatis. Ravi yang melihat itu memasang pose ingin muntah. Dia berjalan kearah sofa, mengambil sebuah tablet dan mengetikkan sesuatu.

"Ah, Hyung~"

"Hh?" Sahut Ravi malas, Hyuk yang sedang mengompres lebamnya itu menoleh sebentar.

"Lelaki bermata mirip burung hantu itu, ternyata manis yaa~ Aigoo! Bahkan meski dia lelaki, kadar kemanisannya melebihi manisnya wajah Joy." Ravi menatap Hoobaenya itu dengan tatapan tajam. Bisakah sehari saja anak itu tak memikirkan wanita? Dasar Playboy.

"Jangan macam-macam dengannya atau kulaporkan perselingkuhanmu dengan Wendy pada Seulgi." Ancamanya telak, dan Hyuk hanya mendengus sebal. Kena kau!

Ting!

Ravi kembali menatap tabletnya. Sebuah pesan muncul dari emailnya, membuat seringaian muncul disudut bibirnya.

"This time for show.."

.

.

.

"Aku mmm.. lapar.."

Kai melirik kebelakang, Kyungsoo tengah bersandar pada bahunya dengan mata terpejam. Entah apakah anak itu tidur atau tidak. Namun yang Kai yakini, bahwa Kyungsoo benar-benar lapar.

"Aku mau makan ayam goreng dan es krim coklat.." Kai menahan nafas agar tawanya tak meledak. Anak ini benar-benar tidur dan mengigau. Menggemaskan.

"Kita akan ketempat yang kau mau.."

"Mmmm.."

Kai memacu motornya semakin cepat. Tangan kirinya memegang lengan Kyungsoo yang melingkar diperutnya. Sepertinya anak ini tidur terlalu lelap dan Kai tak mau mengambil resiko terjatuh.

Oh! Malam ini sungguh berbeda. Dan itu menghadirkan sebuah rasa yang tiba-tiba menghangat dihatinya saat dia menyentuh Kyungsoo, bagai ribuan volt listrik yang Kyungsoo antarkan untuknya. Lelaki tan itu menarik sudut bibirnya –Entah mengukir senyum samar ataupun seringaian. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Biarkan malam ini berlalu dengan indah.


.

.

.

TBC.

.

.

.

Terimakasih buat kalian yang sudah MEM-FOLLOW, MEM-FAVORITKAN dan ME-RIVIEW FANFICTION INI :* :*

Love you {}