Disclaimer
Vocaloid bukan punya saya
Tapi ceritanya punya saya
WARNING : Typo(mungkin), aneh, abal, gaje, alurnya gak tentu(yang ini memang ada), dan lain-lain yang berlabel WARNING
Rated : T untuk beberapa chapter awal-awal, T+ untuk chapter kedepan
Genre : Family, Romance, sedikit Humor
Happy Reading Minna~
Chapter 4
Aku mau Mama, Pa!
Sudah akhir semester 2, sebentar lagi waktunya ambil rapot.
"Pa, Sabtu nanti ambil rapot." Rin melapor.
"Kamu sama Kakek aja, kayak tahun-tahun kemarin." Len menyahut. Rin memainkan ujung pitanya.
"Kata kakek, Minggu nanti dia gak bisa dateng. Harus berangkat ke Italia, ngurusin perusahaan."
"Gak bisa dateng sendiri?" tanya Len.
"Nanti gurunya kira aku nyembunyiin rapot dari orang tua."
Len menghela nafas. Gimana dong? Jadwalnya ambil rapot juga bareng. Len kan cuma satu, gak bisa dibelah dua.
"Ya udah, nanti Papa usahain dateng, deh."
"Kalo Papa gak dateng?"
"Habis Papa ambil rapot, Papa langsung kekelasmu deh."
Rin mengangguk. Len mengacak-acak surai honeyblonde anaknya itu dan tersenyum. Dia akan naik kekelas 8 dan Rin kekelas 5.
Hari Sabtunya, Len menunggu gilirannya mengambil rapot dengan tidak tenang. Ia menggerak-gerakkan kakinya tidak sabar. Kenapa gilirannya lama sekali, sih? Gak tau orang lagi buru-buru apa?
"Len, kau kenapa?" tanya Luki.
"Rin juga akan mengambil rapot. Aku harus cepat datang." jawab Len.
Mikuo yang baru saja menerima rapotnya menghambur bersama Luki dan Len.
"Bagaimana hasilnya Mikuo?" tanya Luki.
"Nilai rata-rataku 88." Mikuo mengacak rambut tealnya. "Uh, padahal sedikit lagi aku bisa menyaingimu, Luki!"
"Ohoho, berapa peringkatmu?" tanya Luki sedikit membanggakan dirinya.
"8." Mikuo membalas. Luki mendapat nilai rata-rata 90 mengibaskan poni rambut pinknya.
"Kagamine Len." Nama Len kini dipanggil. Len dengan buru-buru maju kedepan.
"Selamat Len, kau―"
"Maaf, sensei! Aku buru-buru!" Len mengambil rapotnya dengan cepat, membungkuk, lalu berlari keluar kelas.
"Mikuo! Luki! Temui aku didepan kelas 4-C nanti!" Len berlari.
"Dia benar-benar peduli, ya?" Mikuo menggumam.
"Papa yang baik..." timpal Luki.
"Dia dapat nilai berapa? Peringkat berapa?" tanya Mikuo pada Luki. Luki mengangkat bahunya.
"Entahlah. Jangan-jangan dia kabur?" curiga Luki.
"Kita benar-benar harus menyusulnya!" Mikuo dan Luki berjalan menuju depan kelas 4-C.
.
.
4-C. Len masuk kekelas Rin. Ia menoleh kekanan dan kiri tapi belum menemukan Rin. Len mengatur nafasnya.
"Dimana Rin?" gumam Len pada dirinya sendiri.
"Papa!" panggil suara yang familiar. Len menoleh. Dia mendapatkan Rin melambaikan tangan kanannya dengan cengiran cerianya.
"Rin. Kau sudah ambil rapot?" tanya Len berlari menghampiri Rin. Rin mengangguk senang.
"Dengan siapa?" tanya Len.
"Mamanya Yuuma!" seru Rin.
"Maaf ya, Rin..." Len mengusap-usap pucuk kepala Rin.
"Gak papa, kok, Pa!" Rin memeluk Len. Yuuma datang bersama seorang wanita berambut merah muda sepunggung.
"Pa, kenalin. Ini Mamanya Yuuma, Megurine Luka. Kak Luka, kenalkan ini Papaku, Kagamine Len." Rin saling mengenalkan. Luka menjabat tangan Len.
Kak Luka? Memangnya dia umur berapa?
"Luka-san, berapa umur anda?" tanya Len.
"Ah, gak usah formal begitu! Umurku 27 tahun!" Luka berbasa-basi.
"27 tahun? Tapi ya, ehm, kenapa Rin manggil kamu 'Kakak' ya?"
"Oohh, itu.. Aku gak mau dibilang tante, keliatan tua! Jadi aku menyuruhnya untuk memanggilku Kakak Luka, kelihatan lebih muda, kan? Lagian tampangku belum tua-tua amat, kok! Masih unyu dan cakep, kayak cewek berumur 17 tahun!" celoteh Luka panjang lebar.
Len bergidik.
"Oh, begitu ya? Dimana suamimu?" tanya Len lagi.
"Aku sudah cerai dengannya."
"Ah, maafkan aku."
Luka mengangguk. Tinggi Len kalau dilihat-lihat setelinga Luka.
"Pa, bisa gak Mamanya Yuuma jadi Mamaku juga?" tanya Rin.
Ya jelas gak mungkin, lah! Aku dan dia itu umurnya beda 15 tahun, tau! Len membatin sambil menatap Luka yang senyum-senyum dengan tatapan horor.
"Gimana Len-san?" tanya Luka. Dan juga ngapain wanita ini keliatannya setuju?
"Eh, gimana, ya? Kita kan baru ketemu, masa langsung..." Len menimbang-nimbang. Bukan menimbang-nimbang sih, sebenernya dia pengen bilang―
"Gak sudi gue nikah sama tante-tante 27 tahun!"
―tapi dia memutuskan untuk menolak dengan halus. Karena Len tau nanti hubungan Rin dengan Yuuma bakal merenggang gara-gara dirinya.
"Ah, gapapa, kok! Dipikir aja dulu. Emangnya Len-san berapa umurnya?" tanya Luka.
"12 tahun." Len menjawab. Bagus, dengan ini Luka pasti langsung menarik ajakkannya tadi. Lagian ngapain sih, Rin pake ngomong kayak tadi segala?
"12 tahun ya, hem, boleh juga..."
Len bersumpah akan melaporkan wanita satu ini ke aparat kepolisian, kalau dia punya keberanian...
"Eh, tapi umur kita beda jauh, lho! Aku juga gak mau menikah muda! Aku mau menikah kalo aku udah selesai kuliah!" Len kembali menolak.
"Enggak masalah, dong. Tuh, liat. Sekarang aja kamu udah punya anak." Luka membantah.
Tuhaaan, tante satu ini pedofil, ya?
"Eh, tapi aku dapet anak ini dari panti asuhan, lho! Bukan aku yang buat!"
Len, apa yang kau katakan?
"Buat? Jadi dulunya aku dibuat, ya?" tanya Rin polos. Matanya menatap dalam mata Len.
Omaygadh, Len salah ngomong. Keringatnya bermain ski dari dahinya menuju pipinya.
"Gimana buatnya? Kalo gitu, aku mau punya adik dong, Pa!"
Len menatap Rin horror. Kini dia mengerti perasaan Papanya waktu dia meminta Rin dibawa pulang dari panti asuhan.
"Rin, buat adik itu susah. Bahan-bahannya mahal, lho." kata Len.
"Ah, begitu, ya.." Rin kecewa.
"Len-senpai, coba dengar. Aku dan Rin kelas 5 nanti akan sekelas lagi!" kata Yuuma girang. "Aku harus memanggilmu apa, ya? Kamu kan Papa Rin sekaligus kakak kelasku disini.."
"Oh, Senpai Len-san?"
Panggilan macam apa itu?
"Yah, terserah kamu, sih, Yuuma-kun. Ya sudah, Rin, ayo kita pulang." Len menuntun tangan Rin.
"Aku pulang, ya, Yuuma!" Rin melambaikan tangan kearah Yuuma sambil tertawa lebar. Yuuma membalasnya.
So sweet deh, pikir Len. Len jadi iri. Saat berjalan pulang, ia bertemu Mikuo dan Luki.
"Hoi." panggil Luki.
"Berapa rata-rata dan peringkatmu?" tanya Mikuo.
"Hng? Gak tau." jawab Len asal.
"Ya rapotnya diliat lah, bego." Mikuo mem-bego-kan Len.
Oh, gitu ya, Mikuo? Sekarang kamu juga udah mulai berani ngatain Len bego? Ikut-ikutan Luki nih?
"Uh, oke oke." Len membuka rapotnya.
"Rata-rata 95, peringkat 1." Len membacakan nilai yang tertera dirapotnya.
"HEH? SERIUSAN LEN?" tanya Luki. Len mengangguk.
"Emang aku bohong?" Len balik bertanya.
"Jago juga. Ya udah deh, balik dulu, ya." Mikuo dan Luki berlalu.
Kini tinggal Len dan Rin.
"Papa." Rin memanggil.
"Apa Rin?" tanya Len mentap anaknya yang kini tingginya nyaris seketiaknya.
"Gendong."
What?
"Oke oke, ayo sini naik kepunggung Papa." Len berjongkok dan membiarkan Rin naik kepunggungnya.
HUP! Len berdiri dan menggendong Rin. Dia berlari seakan tidak ada beban apapun. Orang-orang yang melintas mengira mereka adalah adik kakak yang bahagia. Ada adik perempuan yang iri melihat anak seusianya yang punya kakak ganteng nan baik. Ada juga kakak laki-laki yang iri melihat anak seusianya memiliki adik manis bertubuh loli serta berwajah manis itu.
"Adik kakak itu manis, ya? Main gendong-gendongan." Salah satu dari mereka berkomentar.
Len menghampiri orang itu.
"Jangan salah paham, ya? Aku Papanya lho!" kata Len kemudian kembali berlari-lari sambil menggendong Rin yang tertawa-tawa kegirangan.
Sampai dirumah. Len melonggarkan dasinya dan membuka 2 kancing kerahnya yang paling atas. Gerah, capek, panas. Iyalah, bayangin aja, gendong anak kelas 4―udah kelas 5 woy, sambil lari-lari lagi. Rin cuma ketawa-ketawa waktu sampe rumah.
"Papa hebat, deh! Aku mau es krim, dong!" puji Rin.
Sumpah ini anak gak ada matinya.
"Minta ambilin aja gih, sama Miriam." seru Len sambil mengipas-ngipasi dirinya.
Rin duduk disamping Len. Dari samping, Rin juga kelihatan cantik. Pipinya mulus merona. Udah dari lahir begitu mungkin. Bercak-bercak pink itu selalu muncul dipipinya yang putih. Orang yang jadi suami Rin kelak pasti adalah laki-laki yang paling beruntung.
"Papa." panggil Rin.
"Ya?" tanya Len.
"Kata temen-temen aku, katanya masa aku ini aneh."
"Aneh kenapa?" tanya Len.
"Aneh, punya Papa yang cuma lebih tua 3 tahun dari aku."
Len mengedip-ngedipkan matanya.
"Ya gak papa dong. Kan gak jadi masalah buat mereka." Len menjawab asal.
"Terus katanya mereka bilang aneh, soalnya aku gak punya Mama."
Len kicep. Dia jadi inget Luka, tante genit yang tadi secara tidak langsung mengajak dirinya menikah. Len merinding.
"Belum ada Mama yang cocok buat Papa, Rin.."
"Kalo gitu Mamanya Yuuma aja. Dia cantik kok. Dia juga baik, tadi dia ngasih aku permen..."
Rin, denger ya, gak semua orang yang ngasih kamu permen itu orang baik.
"Umur Papa sama umur Mamanya Yuuma beda jauh banget, Rin. Papa masih muda, sedangkan Mamanya Yuuma udah tua."
"Emangnya gak boleh, ya?" tanya Rin.
"Ya, boleh aja sih, cuman Papa gak suka."
"Kan Rin suka. Lagian Mamanya kan, buat Rin, bukan buat Papa."
Tuhaan, anak ini sebegitu pengennya kah punya Mama? Len, masih 12 tahun, Rin. DUA-BELAS-TAHUN!
"Kalo gitu, Rin aja yang jadi Mama, gimana?" tanya Len.
Rin mengerutkan alisnya.
"Maksud Papa?"
"Yaaa gitu, kamu jadi Mamanya. Jadi kamu punya dua peran, jadi Mama, juga jadi anaknya Papa. Gimana?"
Sebenernya Rin bingung sama apa yang dibilang Papanya. Karena gak mau dikira lemot, dia oke-oke aja.
"Oke deh." Rin tertawa lebar.
Len tersenyum puas. Secara tidak langsung, Rin menjadi istrinya yang tidak sah. Len adalah Papa durhaka yang tega menipu anaknya sendiri untuk menjadi istrinya. Ini gak boleh ditiru, INI GAK BOLEH DITIRU!
Len tertawa dalam hati. Semoga aja Rin gak ngerengek-rengek minta Mama lagi...
A/N : Hai. Maaf Mikan baru ngeupdate-nya sekarang TT_TT
Tapi Mikan kan udah ngomong, ya? Mikan lagi dalam masa-masa hiatus :3
Harap dimaklumi...
Betewe, kayaknya chap yang sekarang abal, ya?
Mikan masih dalam masa hiatus update fic, dan semi-active-read-and-review-fic
MAKASIH YANG UDAH NGEREVIEW! XD
Update tergantung hits.. Yap, mereviewlah jika ingin karyanya direview banyak orang
Next Chapter : Chapter 5. Ini perasaan yang 'GAK MUNGKIN', kan?
Mind to Review, Favorite, or Follow?
