Udara dingin di malam hari menusuk tubuh sang wanita muda yang sedang membawa seorang anak perempuan kecil yang sedang tertidur lelap. Membawa seorang gadis kecil berambut pirang dan bergelombang yang usianya tidak lebih dari dua tahun. Lalu ia meletakkan gadis kecil yang tertidur tersebut di depan pintu rumah milik seseorang. Seseorang yang dulu pernah menjadi atasan mendiang suaminya.

"Anteeksi—Tiina," hanya kata itu yang terucap dari bibir wanita itu, sebuah permohonan maaf yang ia ucapkan. Air mata membasahi wajahnya yang terlihat tua dari usia sebenarnya. "Dia akan menjagamu. Mama yakin akan hal itu."

Ia tahu perbuatannya ini tidak akan diampuni oleh Tuhan tetapi ia sama sekali tidak punya pilihan lain, suaminya sudah meninggal dua bulan sebelum Tiina lahir karena kecelakaan kerja di pabrik sedangkan ia sendiri terlahir sakit-sakitan dan dokter memvonis dirinya tidak akan bisa hidup lebih lama. Sejak saat itu, ia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri karena semua biaya habis untuk berobat ke dokter dan Tiina seperti ditelantarkan. Tetapi ia tahu apa yang terbaik untuk anaknya—ia harus mengucapkan salam perpisahan pada Tiina demi kehidupan anaknya yang lebih baik dari sekarang.

Untuk terakhir kali, wanita muda itu mencium kening Tiina dengan lembut seraya menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak rela berpisah dengan anak semata wayangnya. Menahan rasa sakit di dadanya.

Ia tahu nyawanya tidak akan lama lagi. Tidak ada yang bisa diperbuatnya.

Ini hari terakhirnya.

.

.

.

Karusellvisan

Disclaimer: Hidekaz Himaruya

Warning: OC, OOC, AU. Prekuel dari FF Prohibited, don't like don't read.

.

.

.

Berwald Oxenstierna adalah pria berusia dua puluh enam tahun yang memiliki kehidupan sempurna. Katakan saja uang, wanita cantik yang mendekatinya, wajah tampan yang khas, usaha yang sukses, pandai dan sebutkan saja—karena pasti pria itu memilikinya.

Tetapi ia tetaplah memiliki kekurangan yang berarti. Ia sulit menjalin hubungan jangka panjang dengan orang lain karena kebanyakan orang yang berada dekat dengan Berwald takut dengan tatapan tajam sang pria Swedia tersebut—padahal memang tatapan matanya yang seperti itu. Ditambah dengan nada bicara yang terdengar patah-patah dan tidak jelas. Ia merasa segalanya sama sekali tidak berarti tanpa ada orang terdekatnya yang mendukungnya dengan sepenuh hati. Jika boleh berharap, ia ingin merasakan kebersamaan antar keluarga seperti sepuluh tahun lalu.

Udara pagi di musim dingin sangat menusuk karena pertengahan musim dingin dan seminggu sebelum Natal. Pekerjaan di kantor semakin hari semakin berat sehingga mau tidak mau Berwald harus bergadang untuk mempertahankan usaha yang dirintis keluarganya sejak ia berusia sembilan belas tahun, sejak orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat sehingga ia harus mengurusnya sendirian. Ditambah banyak relasi yang mencoba untuk mengambil usaha milik orangtuanya.

Merenung apa yang akan ia lakukan di masa depan, mungkin ia akan menjadi bujang lapuk untuk seumur hidup karena tidak menemukan gadis yang cocok dengan dirinya. Atau mungkin ia akan menghabiskan hidupnya dengan banyak uang sekaligus kesepian mendalam. Tentu ia tidak mau mengharapkan hal itu. Hanya satu hal yang ia inginkan, seorang istri yang lembut dan bisa memberi kehangatan sekaligus keceriaan di dalam keluarga.

Seandainya ia bisa mendapatkannya—walau itu setengah tidak mungkin.

"Mama mana! Mama mana!" teriak seorang anak kecil di depan pintu rumah. "Mengapa aku ada di sini?"

Berwald terkejut dan teriakan anak kecil tersebut merusak konsentrasinya, baru saja ia mau berjalan ke arah dapur sudah dikejutkan oleh suara anak kecil yang menangis. Dengan cepat ia membuka pintu rumahnya.

Ia mendapati seorang anak perempuan berusia dua tahun dengan rambut pirang gelombang dan mata violet. Wajahnya memerah karena menangis sekaligus kedinginan. Tangan gadis itu memegang secarik kertas, tetapi kertas itu buru-buru dimasukkannya.

"Ada apa?" tanya Berwald dan menatap gadis kecil itu dengan tatapan tajam.

Gadis kecil itu menoleh dan terkejut melihat wajah Berwald. Tak lama kemudian anak itu menangis lagi dan meringkuk seperti bola. Gemetar dan tegang.

"Mama mana? Aku mau pulang!" seru gadis kecil itu. "Aku takut, jangan tinggalkan aku. Mama!"

Berwald bingung—ia tidak menyangka pagi-pagi seperti ini sudah diserbu suara berisik dari anak kecil. Darimana anak kecil bisa merobos rumahnya padahal pintu rumah dipagar sangat tinggi? Benar-benar aneh.

Anak kecil ini menyebut soal ibunya, apa mungkin ibunya membuang anak kecil ini di rumahnya karena suatu alasan tertentu.

"Mengapa bisa masuk sini?" tanya Berwald, perlahan-lahan mendekati gadis kecil itu dengan lembut seraya mengelus tubuh kecilnya. "Mana ibumu? Siapa namamu?"

Gadis kecil itu terisak-isak, tertunduk dan tidak mau menatap Berwald sedikitpun. "Namaku Tiina Vaina—vaina," katanya dengan nada sedih. Ia benar-benar tidak bisa mengeja nama belakangnya sendiri. Berwald menatap jaket yang dikenakan Tiina dan tertulis nama lengkap Tiina—Tiina Vainamoinen.

Berwald membatin, orang tua macam apa yang tega-teganya meninggalkan anaknya di depan rumah orang terutama dalam keadaan musim dingin seperti ini. Memangnya tidak mengerti apa akibatnya meninggalkan anaknya sembarangan seperti ini. Bisa-bisa ada penculik yang mengincar anaknya.

"Ayo ikut bersamaku," gumam Berwald dan menggendong Tiina dengan erat. Tiina terkejut akan gendongan Berwald. Berlangsung sangat cepat tanpa bisa Tiina duga. Air mata merebak semakin deras di wajah Tiina yang masih anak-anak. Dalam hati Tiina berdoa kepada Tuhan agar ia bisa selamat tanpa celaka sedikitpun. Tiina takut jika Berwald akan menyiksanya habis-habisan seperti di film seram yang pernah ia tonton seminggu lalu di saat ibunya tertidur karena pengaruh obat-obatan.

Tiina meronta-ronta dan menendang-nendang Berwald dengan kaki kecilnya. "Moi—lepaskan aku, moi. Om jahat dan seram."

"Membawamu ke kantor polisi," gumam Berwald, menahan kaki Tiina dengan erat.

"Nggak! Nggak mau!" isak Tiina kecil, berusaha melepaskan diri dari gendongan Berwald. "Lepaskan aku, moi. Pokoknya menjauh dariku!"

Berwald tidak peduli dengan udara dingin yang ada dan berjalan menerobos salju. Persetan dia tidak memakai pelindung baju hangat, ia harus segera mengembalikan Tiina ke orangtuanya karena pasti mereka kuatir kehilangan anaknya. Mungkin Tiina hilang ketika orangtuanya sedang berlibur ke Swedia. Secara dari wajah Tiina menunjukkan bahwa ia adalah gadis Finlandia.

Tiina semakin ketakutan dan memandangi sekelilingnya, berharap ibunya menemukan Tiina dan membawanya pulang sehingga ia bisa bebas dari Berwald.

"Mama mana?" tanya Tiina cemas. "Jangan-jangan Om penculik."

Dengusan pelan keluar dari mulut Berwald. Penculik katanya, yang benar saja—jika dia penculik pasti Berwald sudah mengikat Tiina dengan tali rafia dan mencari orang tua Tiina untuk dimintai tebusan sebanyak yang ia mau. Buat apa ia melakukan hal itu, seperti kurang kerjaan saja jika meminta tebusan. Ia kan kaya raya, pikirnya kesal. Ya Tuhan, ada-ada saja kerumitan yang ia harus hadapi hari ini.

"Diam," gerutu Berwald kesal.

Tiina menangis, tangannya yang kecil memukul dada Berwald dengan sekuat tenaga. "Om seram seperti setan," katanya dengan nada takut-takut. "Turunkan aku!"

"Tidak," jawab Berwald, tidak mau kalah.

"Aku mau ketemu mama, moi. Turunkan aku!"

Kesabaran Berwald sudah diambang batasnya. Ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi anak kecil yang rewel dan manja seperti Tiina. Baiklah ia akan menurunkan Tiina dan tidak peduli apa yang akan terjadi pada Tiina.

"Jalan sendiri, kalau itu maumu," gumam Berwald marah dan menurunkan Tiina dari gendongannya. "Aku tetap akan membawamu."

Tiina menangis keras, lebih keras dibandingkan ketika Berwald menggendongnya. "Nggak mau," isaknya dan memukul kaki Berwald. "Om jahat."

Wajah Berwald berubah datar sedatar-datarnya, dia kan sudah menuruti keinginan Tiina. "Kenapa? Aku turunkan."

Tiina cemberut, kedua tangannya menarik-narik celana panjang Berwald dengan erat. "Gendong—takut diculik."

Dahi Berwald berkerut mendengar perkataan Tiina. Tadi Tiina memaksa Berwald untuk menurunkan gendongannya, sekarang minta digendong balik. Anak kecil memang ada-ada saja, pikir Berwald geli.

Ia menggendong Tiina kembali dan senyuman mulai muncul di wajah Tiina. Senyuman tulus yang ditujukan untuknya pada pertama kali.

"Wai!" seru Tiina riang dan memainkan kacamata Berwald. "Lebih tinggi lagi!"

Mungkin ini hanya perasaan Berwald saja, ia merasa senang akhirnya Tiina mulai mengerti dirinya. Ini akan jadi awal yang baik untuk mereka berdua.

Pada akhirnya Berwald tidak jadi membawa Tiina ke kantor polisi dan menaruh Tiina di rumahnya sementara waktu. Ia membiarkan Tiina beristirahat di rumahnya dan membuatkan Tiina makanan enak. Hitung-hitung untuk membuat Tiina merasa tenang dan nyaman. Baru besok ia akan membawa Tiina ke kantor polisi dan mulai mencari orang tua Tiina.

"Enak sekali, moi," ucap Tiina riang dan memakan makanannya dengan lahap. "Siapa nama Om?"

"Berwald Oxenstierna."

"Ber—wald," Tiina berusaha mengeja nama lengkap Berwald. "Oxen—stiel—nah."

Sikap Tiina membuat Berwald berpikir betapa polosnya anak kecil. Tadi Tiina ketakutan setengah mati pada Berwald, begitu diberikan makanan sikap Tiina terhadapnya mulai melunak. Benar-benar sulit dimengerti—

—sama sulitnya mengerti orang seperti dirinya.

"Ibumu orang yang seperti apa?" tanya Berwald tiba-tiba. Ia tidak ingin menanyakan hal ini pada Tiina, Tiina masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk bertanya mengenai hal ini. Rasa yang aneh dan keingintahuan mendalam yang ada di dalam dirinya.

Wajah Tiina bersinar-sinar ketika Berwald bertanya mengenai ibunya. "Dia sangat baik dan manis. Tetapi dia sering tidur karena sakit yang diderita mama."

Anak malang, batin Berwald. Kasihan anak sekecil Tiina jika ibunya sakit seperti ini. Untung saja Tiina sangat ceria, jika tidak?

"Papamu?" tanya Berwald ragu-ragu, mulai mencium sesuatu yang tidak beres terhadap Tiina.

Tiina terdiam, raut wajahnya terlihat bingung. "Papa itu apa? Nama makanan baru?"

Hati Berwald serasa tertusuk mendengar perkataan Tiina. "Papa itu laki-laki yang menjaga anak," jawabnya pelan. "Seperti mama—semua punya."

"Kok aku tidak punya?" Tiina tertegun dan memain-mainkan garpunya. "Aku cuma kenal yang namanya mama."

Diam—tidak ada kata-kata yang terucap. Tangan Berwald bergerak dan mengambil satu kertas kecil yang berada di kantong Tiina dan membukanya perlahan.

Untuk Mr. Oxenstierna,

Katakan maaf pada Tiina karena aku telah membuangnya, jika Tiina sudah dewasa nanti. Aku sama sekali tidak berniat membuang Tiina seperti itu. Tetapi jika aku terus mempertahankannya dengan keadaan sakit-sakitan seperti ini, aku akan membunuh anakku sendiri dan aku sama sekali tidak mau hal ini terjadi. Hidupku tidak akan lama lagi.

Mungkin ketika Anda membaca surat ini, aku sudah tiada. Tetapi aku ingin Anda mengerti bahwa Tiina adalah seseorang yang kucintai selain mendiang suamiku. Hanya dia semangat hidupku.

Aku tahu ini terkesan berlebihan—tetapi ini kenyataan.

Aku ingin Tiina tahu bahwa aku mencintainya.

Tolong jagalah Tiina hingga Tiina dewasa nanti.

Dengan hormat, Mrs. Vainamoinen.

Berwald ingat nama keluarga itu, salah satu karyawan terbaik yang meninggal karena kelalaian salah satu ketua regu perusahaannya di saat istrinya mengandung tujuh bulan. Tadinya ia mengira Vainamoinen yang lain tetapi setelah membaca surat itu, ia yakin Vainamoinen mana yang dimaksud. Ia tahu bahwa karyawannya memiliki istri yang sakit-sakitan sejak kecil dan betapa ia menyayangi istrinya tersebut.

"Ada apa, Om?" tanya Tiina ceria dan menawarkan sisa makanan pada Berwald. "Om lapar?"

Air mata membasahi wajah stoic Berwald, sudah lama ia tidak pernah menangis sejak kematian orangtuanya. Matanya tidak lagi tajam melainkan lembut dan menatap Tiina.

"Om kenapa?" wajah Tiina mulai terlihat cemas. "Om marah aku menghabiskan makanan, moi. Maaf."

Seulas senyuman muncul di bibir Berwald, wajahnya kini tidak terlihat menakutkan melainkan kebapakan. "Boleh aku menjadi papa untukmu?" tanya Berwald pelan dan memeluk Tiina dengan erat. Air mata masih tertumpah di wajahnya. Membasahi baju Tiina.

Tiina mengangguk pelan seolah-olah mengerti apa yang dirasakan Berwald saat ini. Yang pasti Tiina tahu bahwa Berwald menangis untuknya.

"Pa—pa," ucap Tiina terbata-bata dan memegang pipi Berwald dengan lembut. "Jangan menangis,moi."

Sentuhan Tiina [membuat Berwald merasa damai dan hangat. Merasa dibutuhkan oleh jiwa yang lebih kecil darinya. Berwald tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Tiina hingga Tiina sudah dewasa nanti. Kehidupan barunya bersama Tiina akan dimulai saat ini juga.

Ia berjanji tidak akan menyakiti Tiina sedikitpun dan akan menjaganya sebagai seorang anak, melebihi ayah kandung.

FIN


A/N Sebenarnya ini juga dari akun lama (fic Prohibited sengaja saya biarkan di sana, supaya tahu rekor saya di akun lama seperti apa. Saya juga kehilangan minat nulis di akun lama. Biar saya nggak sakit hati mendingan saya pindahkan semua fic saya di akun ini). Review please but no flame -_-