Troublemaker...
.
.
.
Sasuke Uchiha, adik dari saudagar kaya yang terkenal jenius dan ambisius. Dia tak akan melepaskan apa yang menjadi keinginannya. Dia akan melakukan hal-hal gila di luar kewajaran yang mencengangkan demi mendapatkan apapun keinginannya. Dan sekarang pria raven dengan kepercayaan diri berlebihan itu sedang melihat seseorang yang dengan pasti di inginkannya.
"Itachi, itu siapa?" Sulung Uchiha itu hanya bisa menarik nafas lelah. Sasuke kelebihan rasa percaya diri dan otak, tapi sangat minim sopan santun.
"Haruno Sakura-hime, putri menteri kanan Haruno Kizashi. Jangan berpikir apapun tentangnya. Dia akan di jadikan selir oleh pangeran Gaara." Itachi selalu memberikan peringatan yang di perlukan untuk otak bebal Sasuke. Dia jenius, tapi bebal. Tak bisa membedakan zona yang bisa di jamahnya dan zona terlarang untuknya. Iya, itu Sasuke. Yang selalu membuat Itachi nyaris terkena serangan jantung.
"Calon selir? Sayang sekali. Awww." Sasuke mengaduh saat Itachi memberikan pukulan keras di kepalanya dan juga pelototan yang sama sekali tak seram bagi Sasuke. "Ck, di pesta yang berisik ini siapa yang akan mendengar." Gerutu Sasuke sembari melangkah menghampiri Akasuna Sasori, putra menteri kiri sekaligus sepupu sang pangeran.
"Hei." Sasuke tanpa rasa bersalah menepuk punggung Sasori yang sedang menenggak minumannya dan membuat pria itu tersedak.
"Uhuk uhuk kau gila!" Desis Sasori tajam.
"Bahasa Sasori-san, Bahasa." Ucap Sasuke memperingatkan. Sasori hanya berdecak kesal. Dia di peringatkan oleh pria paling tak tahu aturan. Sangat mengesalkan. "Sasori, bantu aku."
"Apa lagi kali ini?" Desah Sasori. Dia selalu terseret dalam masalah, kadang bahkan cukup serius hanya karena keinginan konyol Sasuke. Kalau bisa Sasori ingin berhenti berteman dengan pria bar-bar ini. Tapi sayangnya kadang tingkah Sasuke bisa menjadi hiburan untuknya yang sering stres karena bekerja di pemerintahan.
"Aku menginginkan Haruno Sakura." Dan Sasori tersedak lagi.
"Kau gila." Desisnya tajam. "Menjadikan pangeran saingan sama saja menyerahkan leher kita pada algojo."
"Ah pangeran curang sekali, harusnya dia bersaing dengan adil tanpa menggunakan kekuasaan dong. Toh daripada jadi selir yang tak memiliki hak atas pangeran lebih baik jadi istriku, satu-satunya istriku." Sasori menggeleng tak percaya mendengar gerutuan Sasuke. Pria ini kelewat berani atau bebal. Sasori ingat saat Sasuke berpura-pura gila saat turun surat perintah untuknya agar bekerja di pemerintahan. Wajar jika pemerintah menginginkan lulusan terjenius. Hanya Sasuke yang gila karna menolaknya. Sasuke juga pernah membuat mereka berdua nyaris di penjara karna melukis putri menteri keuangan yang setengah telanjang saat berendam di kolam khusus putri para menteri. Dan akhirnya Sasorilah yang bertunangan dengan putri itu karna tak akan ada pria yang mau menjadikan putri yang tubuh telanjangnya tersebar ke mana-mana. Dan sekarang, dia akan berpotensi kehilangan lehernya jika mengikuti Sasuke.
"Demi apapun jangan libatkan aku. Aku bukan temanmu sampai keinginan gilamu hilang." Sasori beranjak menjauhi Sasuke yang ternganga mendengar ucapannya. Dia tak peduli, kini dia sadar Sasuke lebih berbahaya daripada perampok gunung untuknya.
Sedangkan Sasuke hanya mendengus melihat tingkah sahabatnya. Meski sendirian dia tetap harus semangat mendapatkan apa yang di inginkannya. Ini hanya masalah tenaga yang berkurang bukan otak yang berkurang.
Saat Sasuke berjalan-jalan di pasar untuk menemukan sedikit inspirasi demi keinginannya, manik kelamnya menangkap sosok yang begitu mencolok. Rambut merah muda panjangnya yang selembut sutra saat tertiup angin, kimono merahnya yang indah juga emerald yang seolah mengikatnya. Sasuke semakin yakin jika dia sangat menginginkan gadis itu menjadi miliknya.
"Senang bertemu dengan anda Sakura-hime." Sasuke menunduk hormat. Bagaimanapun dia harus membuat gadis ini melihatnya.
"Senang bertemu dengan anda tuan..."
"Sasuke, Uchiha Sasuke." Sahut Sasuke memberitahu namanya. Sakura tersenyum sangat manis yang membuat Sasuke nyaris gila.
"Ya, senang bertemu dengan anda tuan Uchiha Sasuke." Itu kalimat terlarang yang membuat Sasuke sangat berniat menjerat Sakura. Dan dengan senyum menawan Sakura tak menyadari apapun yang berkeliaran di kepala Sasuke.
Pertemuan singkat yang membuat Sasuke memeras otak memikirkan cara bertemu dengan Sakura lagi. Dan ya, akhirnya dia di sini. Mengendap-endap bagai maling di kediaman Haruno. Ini sangat bahaya. Lehernya yang jadi taruhan jika tertangkap. Dan juga nama baik Uchiha. Tapi hal bagus tentu butuh pengorbanan yang besar.
Setelah memeriksa sana sini akhirnya Sasuke menemukan kamar Sakura. Dengan hati-hati dia menyelinap. Langkahnya melambat saat melihat Sakura yang terlelap dengan cantiknya. Sasuke tersenyum lembut. Dia benar-benar tak rela jika gadis ini menjadi selir pangeran serakah itu. Harusnya dia cukup memilih satu wanita, kenapa harus banyak?
"Kyaa... hmmmpf." Sasuke reflek membungkam Sakura yang akan berteriak. Entah apa yang membuat gadis itu terbangun.
"Ssshhhtt ini aku, jangan berteriak. Aku tak berniat memperkosamu." Ucap Sasuke yang membuat Sakura melotot. Tentu saja gadis itu berpikir jika Sasuke tadinya memikirkan apa yang di sanggahnya. "Tenang, oke? Kita bicara baik-baik."
Sakura mengernyit tak percaya betapa sintingnya pria ini. Tengah malam, menyelinap ke kamarnya, dengan pakaian penjahat, sisi mananya yang bisa di pandang baik-baik. Tapi gadis itu tahu dia tak memiliki pilihan selain mengangguk untuk saat ini.
"Bagus." Sasuke melepaskan bekapannya. Sakura segera beringsut menjauhi pria tampan bermental horor itu. "Jadi kenapa kau terbangun?" Dan tanpa sopan santun, itu jelas.
"Bukankah yang lebih tepat, kenapa anda di sini tuan Uchiha?" Sakura menahan diri agar tak mengumpat. Keluarganya tak pernah mengajarkan itu padanya. Dalam keadaan apapun. Prilaku menunjukkan derajatmu.
"Aku hanya ingin melihatmu. Karna besok kau akan di bawa ke istana, jadi ku pikir aku harus memastikan satu hal. Apa kau menyukai pangeran?" Emerald itu mengerjap beberapa kali.
"Itu pertanyaan yang sangat lancang bukan?"
"Bagus. Kau tak menyukainya. Kalau begitu besok aku akan membuatmu gagal jadi selir dan meminangmu." Kali ini Sakura benar-benar menganga mendengar ucapan tak terduga Sasuke. Dia sering mendengar rumor tentang pria ini dari teman-temannya. Dan sekarang dia tahu, jika Sasuke Uchiha lebih gila dari rumor yang beredar.
"A... apa..." Ucapan Sakura terhenti saat Sasuke mengecup sudut bibirnya. Kepalanya serasa mau pecah menerima semua perlakuan tak lazim dari pria tak lazim.
"Sampai jumpa besok, istriku." Dan Sakura tak bisa menahan dirinya untuk tak mengerang marah. Baru kali ini ada pria yang mampu membuatnya marah hanya dalam beberapa menit. Sakura meremas selimutnya cemas dengan apa yang terjadi esok.
Keesokan paginya seluruh kota gempar dengan beredarnya lukisan telanjang Haruno Sakura. Bukan setengah telanjang, tapi benar-benar telanjang dengan gaya erotis. Kepala keluarga tentu saja sangat murka. Apa lagi saat pangeran membatalkan niatnya menjadikan Sakura selir. Di tambah gunjingan dari sana sini yang membuat Sakura terpojok.
"Sungguh itu bukan sakura, ayah." Bantah Sakura ke sekian kalinya dengan suara bergetar. Kemarahan ayahnya terasa membunuhnya. Dia tak mengerti kenapa semua orang mudah percaya dengan lukisan sialan itu.
"Di sini yang bisa melukis dengan sedetil dan seindah ini hanyalah para ahli, Sakura-hime. Dan wajahmu itu tak pernah di lihat khalayak umum. Jadi siapa yang bisa mengada-ada? Tak ada orang bermartabat yang melakukan hal sekeji ini." Sakura terdiam menelan isakannya. Entah kenapa dia tak bisa mengatakan jika ada pria berotak gila yang menyusup ke kamarnya. Entah kenapa juga dia harus memikirkan keselamatan pria brengsek yang membuatnya menjadi aib keluarga.
"Bersyukurlah ayah menggunakan jasa ayah selama mengabdi agar pangeran mengampunimu. Tak mengirimu ke tiang gantungan." Lirih Kizashi yang membuat Sakura merasa bersalah. Dia tak bersalah. Seharusnya semuanya baik-baik saja jika saja dia tak bertemu dengan pria gila itu. Meski melaporkan insiden penyusupan Sasuke, itu hanya akan di anggap sebagai masalah lain yang tak berkaitan. Hanya menambah sakit kepala Sakura nantinya.
"Tak ada pilihan lain, aku akan menerima pinangan keluarga Uchiha padamu. Tak akan ada lagi yang mau meminangmu selain mereka." Ucap Kizashi semakin lirih seolah putus asa.
Sementara itu, Sakura menggeram dalam diam. Dia berjanji akan membantai habis Uchiha Sasuke. Pria brengsek yang gila. Jika tahu akan seperti ini, dia akan menghindari pria itu. Sakura pikir rumor tentangnya berlebihan, ternyata justru terlalu baik.
Entah bagaimana semuanya berlangsung terlalu cepat. Sekarang pesta pernikahan Sasuke dan Sakura di adakan. Gadis itu tak mengerti kenapa semua orang bisa tersenyum pada penjahat yang sesungguhnya. Senyum pria itu tak lagi menawan untuknya, tapi menggelikan. Sakura mengerang jengkel hingga membuat ibunya menegurnya. Lihat, pria itu membuat Sakura penuh kesalahan sekarang.
"Aku tahu kau memang gila, tapi tak ku sangka kau segila ini dengan mengelabui Pangeran dan keluarga Haruno. Jadi, katakan padaku tubuh siapa yang kau gambar?" Bisik Sasori.
"Itu imajinasiku. Lagi pula berterima kasihlah karna sekarang kau memiliki teman senasib. Kita ini pria baik hati yang menampung gadis beraib. Awww." Rintih Sasuke saat merasakan kepalanya di pukul seseorang. Dua pria itu menoleh dan mendapati Sakura yang melotot garang.
"Terima kasih sudah menampung gadis beraib. Oh jangan pernah bermimpi tentang malam pengantin. Karna aku akan mengebirimu setelah pesta ini." Desis Sakura lalu menjauh. Lihatkan, sekarang dia menjadi sangat tidak sopan. Tapi mungkin itu yang di butuhkan untuk menghadapi Sasuke.
"Ah seperti dia bisa menolak pesonaku saja." Ucap Sasuke sembari tertawa remeh. Sasori hanya menggelengkan kepala melihat kepercayaan diri sahabatnya.
.
.
.
.
Hari ke dua puluh setelah pernikahan Sasuke dan Sakura. Dan ke dua puluh kalinya Sasuke datang ke kediaman Akasuna hanya untuk mengatakan hal yang sama. Hal yang membuat Sasori menyeringai senang.
"Kau tahu, dia bahkan menyimpan pisau di balik pakaiannya. Memangnya dia mau tidur atau mau perang?" Yap awal omelan Sasuke.
"Jadi kau belum bisa menyentuhnya?" Pertanyaan yang sama dari Sasori sejak lima belas hari lalu.
"Bagaimana menyentuhnya jika tubuhnya penuh senjata. Dia tidak hanya menggertak. Kulit mulusku sudah merasakan goresan pisau sialannya. Jangankan menyentuhnya, melihat kulit di balik pakaiannya saja belum. Aaaaaarrrrgggghhh aku ini seorang suami, harus sampai kapan aku perjaka? Apa yang harus ku ceritakan pada Itachi? Ini memalukan... blabla..."
Sasori hanya tersenyum mendengarkan curahan hati seorang pria tengil. Setidaknya sekarang tak ada hal gila yang di pikirkan Sasuke selain istri luar biasanya.
End...
