Chapter 4: Serangan …
. Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Crime, Friendship, Romance
Pairing : PeinxKonan, PeinxNaruto,
Warnings : Gore, Violence, OOC, bahasa kasar, Typo, dll.
Rated M!
.
No Like Don't Flame
.
Desa demi desa telah di lewati. Semakin masuk ke dalam semakin ke absurd-an tampak menyelimuti desa-desa yang sangat jarang di masuki manusia luar itu.
Waspada!
Tim Akatsuki menatap sekeliling dengan tajam dan perasaan was-was. Kejadian sebelumnya adalah pelajaran yang sangat berharga buat mereka. Saat ini hujan dengan derasnya sedikit banyak menutupi penglihatan. Seakan wilayah jarang berpenghuni itu benar-benar diciptakan sekedar untuk uji nyali –yang lebih nyata- seperti acara-acara pada kebanyakan televisi swasta.
Semakin bus merengsek perlahan melalui jalan tanah itu, pandangan disekitar Akatsuki semakin gelap. Mereka cemas. Tampak dari raut wajah mereka. Padahal mereka adalah manusia-manusia kekar, manusia kuat yang sanggup mematahkan tubuh lawan dengan mudah. Tak ada lagi musik dangdut yang terdengar seperti permintaan mereka sebelumnya. Entah apa pula yang mereka cemaskan, mereka bahkan tak tahu. Yang jelas saat ini mereka lebih memilih diam dan memasang tatapan tajam ke segala arah.
Di sini Pein lah yang paling merasa gelisah. Nyawa teman-temannya adalah tanggungjawab terbesar yang di embannya sebagai seorang pemimpin. Ia tak boleh gegabah. Sesaat delusi terpotongnya tubuh dan kematian satu persatu teman-temannya menggetarkan sendi-sendi Pein. Ia terbungkuk tiba-tiba. Serasa tak sanggup berdiri.
Pluk!
Tepukan pelan di bahu Pein membuat tubuhnya sesaat kaku, lalu menjadi lebih tenang. Mendongakkan kepala ke arah si pemilik tangan.
"Kalau kau takut, bagaimana dengan kami? Segitu takutnya kah kau jika nyawa mu tercabut di tempat ini sampai-sampai gemetaran seperti itu?"
Pein mengerutkan alis. Ia menepis tangan di bahu-nya, lalu berdiri, menatap tajam ke pemilik tangan. "Kau ternyata tak mengerti, tapi terimakasih perhatian mu, Tobi" jawabnya.
"Itachi, apa penglihatan mu baik-baik saja?" tanya Pein sembari menatap kaca spion depan. Pandangannya langsung tertuju ke mata Itachi yang entah kenapa tampak berwarna darah. 'Oh, inikah kekuatan khusus dari keluarga Uchiha yang di ceritakan Sasuke itu?'
Itachi menatap balik spion bus, menemukan pandangannya dengan pandangan tajam pemimpin mereka, lalu mangacungkan jari jempolnya, pertanda semua baik-baik saja. Ia berkata setengah bercanda, "kita hanya tak dapat melaju seperti sebelumnya, leader, bisa-bisa tergelincir ke dalam jurang. Meskipun kematian itu sesuatu tak terduga, aku masih berharap tidak ditakdirkan mati konyol."
Pein dan anggota lainnya terbelalak. "maksud mu Chi?" sahut Kakuzu takut-takut, berharap itu hanya candaan si sulung Uchiha.
"Sebaiknya kalian jangan banyak bergerak, di sebelah kiri kita ada jurang dalam tertutup kabut, aku tahu ini dari tadi sih."
Pein segera kasak-kusuk mencari teropong infrared dalam tas nya. Lalu berjalan ke arah kiri, dekat pintu bus belakang. Ekor mata beberapa anggota mengikuti. Pein mulai meneropong.
"Ya ampun…" pein berdecak pelan. Pandangannya yang serba merah di balik teropong itu mencari-cari, menganalisis, dan menghitung-hitung perkara apa yang kemungkinan akan terjadi.
Yang tampak di balik teropong itu hanya sekilat cahaya-cahaya redup yang letaknya saling berjauhan, batang-batang pohon yang luar biasa besar, dan rumah-rumah gubuk tertata tak rapi di balik pohon-pohon. sepertinya mereka sedang melintasi sebuah desa.
Lalu pandangan Pein beralih lebih ke bawah. Benar. Asap mengepul sepanjang perjalanan mereka, membentuk suatu jalan horizontal mengikut alur jalan, tepat satu meter di samping jalan tanah itu. Pein kebingungan, bagaimana mungkin asap itu tak menghilang meskipun hujan sederas ini –bahkan makin deras- tak mampu menghilangkan gumpalan-gumpalan benda merah –dalam teropong infrared- itu. Pein percaya di balik sana memang terdapat lubang panjang yang dalam. Pein sangsi berapa banyak umat manusia atau makhluk hidup lainnya telah merasakan kematian karena terperosok ke dalam jurang.
Pandangannya semakin kebawah. 'Oh mantav! Keadaan sepertinya semakin membaik!' Pein membathin sarkastik. Tanah telah berubah menjadi lumpur. Roda-roda masih merengsek pelan menggilas benda coklat, seakan ingin menghentikan laju bus mereka yang tak seberapa kencang. Pantas saja Itachi menyuruh semuanya tak bergerak, dia sudah menyadari semua ini. Sangat benar si Uchiha itu.
Semua yang di dalam bus bungkam. Hanya menunggu titah dari pemimpin mereka. Beberapa saat, Pein kembali ke tempat duduknya namun ia berdiri. Satu tarikan nafas dari suara berat Pein. "Ada hal yang ingin aku sampaikan pada orang-orang sok kuat seperti kalian. Aku sebenarnya tak begitu paham kenapa bisa-bisa nya aku terjebak bersama bedebah busuk macam kalian ini, dan aku sungguh-sungguh tak paham, bagaimana dengan entengnya kalian menyetujui aku menjadi pemimpin kalian. Kalian sungguh memusingkan." Pein menahan lagi ucapannya sesaat, sedikit banyak menghenyak diri para pendengar di diantara bising nya hujan. Sebagian merasa tersinggung hingga mereka mengerutkan alis, sebagian mau membalas ucapan Pein, namun melihat wajah pein yang kelihatannya dalam mode super angker, akhirnya protesan itu hanya tertahan di tenggorokan. Kicep seketika.
"Kalian adalah tanggungjawab ku. Aku adalah pemimpin kalian. Aku ingatkan lagi. Aku akan bersikap sebagai pemimpin otoriter di sini. Terserah kalian mau membenci ku atau bagaimana. Namun setiap keputusan yang aku ambil selama aku menjabat sebagai pemimpin adalah mutlak untuk kalian patuhi, kecuali jika dalam rapat aku meminta pendapat kalian, atau ada sesuatu hal yang memang kalian harus menentang keputusanku."
"Jujur saja, aku takut sekali kedepannya terjadi perpecahan di antara kita karena keegoisan di otak kalian yang terkadang dangkal itu. Entah sudah berapa banyak tim-tim kukerta tahun-tahun sebelumnya yang gagal menjalankan program bahkan berakhir adu jotos antar sesama. Aku jadi beranggapan mengurus kalian lebih menyusahkan di banding mengurus anggota perkumpulan preman ku yang berjumlah ratusan orang. Ya! Aku tau! Kalian sungguh kuat! Kalian yang ahli dari yang ahli dalam membunuh dan menjatuhkan orang. Bisa jadi kalian akan saling membunuh jika masing-masing mempertahankan ego."
"Dengarkan perkataan ku ini baik-baik, kalau kalian berani main kekuatan untuk menampakkan sisi binatang dan ego kalian hingga kita terpecah belah, aku tak akan segan-segan menghancurkan tangan dan kaki kalian, lalu mengikat kalian di pohon rambutan di temani dua belas ekor buaya pada malam jum'at kliwon."
Gluk!
Para pendengar menelan ludah. Perkataan Pein yang terakhir sebenarnya ibarat sebuah lelucon, namun melihat tampang Pein yang –sumvah serem banget- mereka tak berani jamin kata-kata itu adalah main-main. Tanpa sadar akhirnya hanya mengangguk cepat, meskipun masih sedikit tersinggung sepertinya, mereka pada akhirnya menemukan sosok tegas dari seorang pemimpin preman Konoha itu. mengintimidasi. sangat.
"Aku, Pein Yahiko, mengucap sumpah akan melindungi kalian dengan cara ku sendiri, meskipun harus menukar anggota tubuh ku atau nyawa ku sekalian, nyawa kalian adalah prioritas utama di atas nyawa ku."
Pein menggeser tubuhnya hingga berdiri diantara celah bus, pada rentetan kursi-kursi, masih di pandangi dengan tatapan takjub-ngeri anggotanya. Itachi bahkan menghentikan laju bus sementara, ingin melihat aksi –yang menurut nya layak untuk di tonton- sang pemimpin berambut orange.
"Oleh karena itu. Chi, Dei, Saso, Tobi, Hidan, Kuju, Zetsu, Konan, dan Kisame, aku mohon kerjasama kalian. Jangan mementingkan sisi keegosian kalian. Aku mohon percayalah pada ku, seperti aku mempercayai kalian, sejujurnya aku sangat bangga bisa menjadi pemimpin dari manusia-manusia kuat seperti kalian, dan bersyukur, semoga pertemuan kita ini tidak berakhir sampai kukerta ini selesai saja, semoga." Pein menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Sesaat para anggota terkesima pada sosok pemimpin satu ini. Wow. Karisma nya itu loh.
Setelah beberapa saat jeda karena masing-masing manusia masih berkutat dalam pemikiran masing-masing, entah mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada pimpinan mereka itu, atau sekedar terbengong-bengong saja. Pada akhirnya Kisame berkata, "jujur saja, setelah membaca keseluruhan file yang diberikan pak Naruto tempo hari, aku hanya bisa pesimis mungkin di desa itulah akhir hidup ku. Asal kalian tau aku ini hanya bodyguard, bukan pembunuh betulan seperti kalian. Dan sebenarnya aku masih belum mempercayai kalian seratus persen, karena memang aku di didik untuk tak terlalu mempercayai orang lain. Tapi melihat mu leader, serasa aku akan bisa bertahan di sana."
Kemudian Tobi melanjutkan perkataan Kisame dengan lirih, "angkat kepala mu leader. Kami akan mengikuti mu. Kami percaya pada mu, dan maafkan ucapan ku tadi."
Pein mengangkat tubuh dan wajahnya. Mata memancarkan binar. Keyakinan. Kata-kata yang mengalun meski terdengar menyakitkan pada awalnya, akhirnya menabuhkan semangat di dada mereka, melipatgandakan kepercayaan diri mereka. 'Kami yakin bisa bertahan hidup dibawah pimpinan orang ini.'
"Kita tak akan mati semudah itu, teman-teman. Sekarang cepat sarungkan segala persenjataan kalian, selengkap-lengkapnya di balik tubuh kalian itu, dan pakai jubah tim kita. Kemungkinan besar sebentar lagi kita akan memasuki wilayah desan X."
"Siap leader!"
Dengan tenang Akatsuki –minus Hidan yang masih KO- memasang peralatan tempur mereka. Begitu patuh. Begitu percaya. Seakan-akan mereka adalah tim yang telah ada sejak lama, dengan ikatan yang dirasa semakin kuat. Beberapa dari mereka berdecak kagum karena baru saja menyadari desain dalam jubah tim itu. Terdapat banyak kantong khusus untuk penyimpanan senjata dalam jumlah besar. Pein benar-benar telah memikirkan semuanya.
Semua telah siap. Itachi kembali menyetir, dan semua siaga di tempat duduk masing-masing.
.
.
.
.
Gerbang Desa X
Sudah pukul Sembilan malam. Mereka bahkan baru sampai di gerbangnya saja. Lelah, lapar, pada akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama. Itachi menghentikan bus, agak menepikannya ke kanan dekat semak-semak tinggi. Sisi kiri jalan masih bergumpal asap-asap yang menutupi jurang. Hujan masih juga belum reda. Kirigakure benar-benar pantas dijuluki negeri hujan.
Acara makan malam berlangsung khidmat. Hanya sesekali terdengar gurauan seperti saling berebut makanan di antara mereka. Konan meminta agar makan pelan-pelan dan tidak sampai kenyang, mengingat entah apa yang akan mereka hadapi di malam buta ini, mereka harus tetap bergerak cepat jika hal yang tak di inginkan muncul.
Sepuluh menit cukup bagi manusia-manusia kuat itu untuk melahap sumber energi. Setelah beres-beres, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Seharusnya pemimpin desa akan menyambut mereka di gebang desa, namun mengingat hari telah malam dan hujan yang tak kunjung berhenti, mereka maklum jika tak ada sambutan sama sekali.
Oh. Itu hanya pemikiran sementara mereka. Baru saja bus hendak bergerak pelan, Zetsu tiba-tiba berteriak, "Argh!". "Ini tidak bagus! Firasat ku tidak enak," Zetsu mengacak rambutnya. Sekali lagi ia memeriksa kelengkapan senjata di balik jubah hitam bercorak awan merah itu.
Firasat Zetsu menjadi kenyataan. baru saja bus bergerak sekitas seratus meter, tiba-tiba mesin benda besar berhenti.
"Ada apa Chi?" Pein mencoba bertanya dengan tenang.
"Mesinnya mati leader."
"Urusan mesein dan teknologi, serahkan pada Tobi. Tobi akan memeriksa keadaan mesinnya," Tobi mengacungkan tangan.
"Baik. Itachi, Kisame dan Zetsu, ikut aku. Kita pantau kondisi daerah ini."
Pein segera membuka pintu bus bagian belakang. Betapa terkejutnya ia karena roda bus telah tenggelam dalam lumpur.
"Ya ampun, dalam sekali. Kalian! Pakai boots karet sepaha," perintahhnya. Kemudian mereka turun satu persatu. Pein mengangkat kain jubah dari betis ke pinggang, mengikatnya kuat, di ikuti teman-teman. Curahan hujan untungnya tak membuat basah pakaian mereka di balik jubah itu, karena memang jubah itu terbuat dari bahan anti air terbaik.
JLEB!
Lutut Pein tenggelam ke dalam lumpur ketika pertama kali ia menurunkan kedua kaki nya. Susah payah ia mencoba berjalan di kubangan itu. Di susul Kisame, Zetsu dan Itachi. Baru saja mulai bergerak Dedara mengetuk-ngetuk kaca, agar Pein menoleh.
"Leader! Ada gerakan mencurigakan dari berbagai arah! Cepat masuk!" Deidara berteriak. Pupil matanya terlihat sedikit mengecil. Namun kedua tangannya masih aktif memijit tengkuk Hidan yang masih tertidur.
"Tunggu apa lagi cepat masuk!"
Mereka bergegas masuk dan berhamburan mengelilingi Deidara.
"Bagaimana Dei? deskripsikan dengan cepat," Pein menatap Deidara tajam.
Deidara mengangguk. "Jujur aku tak dapat memprediksi berapa jumlah mereka pastinya, karena hujan mengganggu pendengaranku. Tapi percayalah, mereka sangat ramai, un. Aku mendengar samar suara-suara besi yang saling bergesekan. Mungkin mereka bersenjata."
Pein telah memprediksi kondisi ini sejak dia meneropong tadi. Dia memang dikenal sebagai pemimpin dengan intuisi dan prediksi yang luar biasa oleh anggota-anggota di Perkumpulan Preman Konoha, hingga dalam perang-perang geng antar provinsi mereka selalu meraih kemenangan. Meski yang bersangkutan tidak terlalu mempedulikan pujian yang menurutnya berlebihan itu.
Puluhan strategi telah tercatat di otaknya sedari tadi. Tinggal yang manakah strategi yang akan di pakainya kali ini. Pein bersidekap. Menatap nanar ke pemuda-pemudi berseragam sama namun bersurai ragam itu. Ah. Strategi yang manapun sama saja untuk di coba.
"Harus bergerak cepat! Tobi, kau gantikan posisi Itachi untuk menyetir. Kisame, Sasori dan Itachi, berpencar ambil posisi untuk membantai mereka. Bantai! Bantai tanpa sisa! Potong-potong tubuh itu sampai kalian puas! Deidara dan Kakuzu gunakan riffle semi-auto, atau sniper dengan peredam, terserah, bidik mereka dari jendela. Kalau bisa tembak di bagian kepala. Anggap saja mereka zombie abnormal yang mampu memainkan senjata."
"Dan kau jangan jauh-jauh dari Hidan. Aku dan Zetsu akan mendorong bus ini. Konan, kau lindungi kami, kalau-kalau mereka sudah dekat." Instruksi Pein terdengar lancar dan tegas.
"Ini sambutan yang hangat untuk kita, teman-teman. Ayo hunus pedan kalian. Kita tunjukkan kesenangan kita dalam penyambutan ini. Kita tunjukkan cara kita bermain." Itachi menyambung perkataan Pein. Ia menjilat bibir bawahnya –sensual. Seakan yang ada di hadapannya adalah mengeksekusi mati pasangan dengan tubuh telanjang yang ketahuan berzina. Matanya berkilat merah dengan tiga bulatan hitam berbentuk koma saling berputar –stabil.
Tanpa ba bi bu lagi mereka langsung melaksanakan instruksi Pein. Berhamburan mengambil posisi masing-masing. Tobi segera mengambil alih stir. Itachi, Kisame dan Sasori berpencar mencari target. Masuk ke semak-semak tinggi dan menghilang di dalam hutan. Pein dan Zetsu mengangkat dan mendorong Bus sekuat tenaga. Konan berancang-ancang –waspada- di belakang Pein dan Zetsu. Deidara dan Kakuzu memicingkan matanya, membidik dengan teliti. Deidara memperbesar teropong di mata kirinya.
.
.
Malam masih saja menangis keras seperti sedang menjerit-jerit. Itachi bergerak sangat cepat dari arah depan bus. Pandangannya sedikit menerawang. Ia memang terbiasa dalam hal membunuh. Perkara mudah baginya. Namun pembantaian ini serasa agak lain dari biasanya. Biasanya, ia membunuh karena menyelamatkan Sasuke yang di culik saingan bisnis orang tuanya atau musuhnya, atau sekedar ingin bersenang-senang saja. Tak pernah ada yang berani melawannya saat itu. Namun kali ini, untuk pertama kalinya Itachi merasa nyawanya benar-benar terancam. Dapat di rasakannya gemuruh yang membuncah. Menggelora. Nafsu membunuhnya jadi naik beberapa tingkat, dengan warna mata semakin darah, aura tubuh semakin pekat. Untuk pertama kalinya pula ia merasakan sensasi bertahan hidup pada dirinya sendiri. Ini berbeda. Dan dia menikmatinya. Sesekali Itachi masih menjilati bibir nya. Ia berlari menerobos hujan dan segera mendapati sekitar dua puluh orang bersenjata.
GREP!
CRATTTT!
Tanpa ragu. Itachi segera saja melompat tinggi hingga lututnya yang bebas di udara sejajar dengan tinggi kepala musuhnya. Itachi menangkap kepala yang terdefinisi sebagai pria itu dengan kedua telapak tangannya, lalu membenturkan kepala itu dengan lutut kanannya hingga hancur. Dengan sekali hentakan Itachi menghancurkan kepala musuh yang paling dekat dengannya. Hujan dan genangan darah menciprat dengan tragis, sebagian cipratan mengotori jubah 'awan merah' yang semakin pekat. Seonggok daging tanpa kepala ambruk seketika. Tanpa suara jeritan dan lolongan pilu. Pria itu tak sempat berteriak hingga meregang nyawa. Itachi segera mengeluarkan pisau dari Sasuke, dan melempar ke salah seorang musuh.
ARRRGGGHH!
Akhirnya raungan pertama bergema di malam berdarah ini. Seorang manusia dengan pisau tertancap di kening –menggenaskan, langsung menembus tengkoraknya. Itachi serta merta berlari dan mematahkan leher lawan ketiga. Dengan sangat di sadarinya dua orang di belakang mengayunkan parang panjang. Itachi melompat ke depan, lalu membalik badannya menghadap ke dua manusia pemegang parang itu, maju dengan sangat sangat cepat bahkan hampir tak terlihat.
GHOK!
BHUEK!
Dua orang bersenjata itu di tinju dengan telak di perut dan dadanya, hingga mereka mati dengan perut hancur dan tulang dada patah.
SREEEEET!
Itachi bersiap menghadapi musuh berikutnya….
.
.
.
Kisame berlarian ke kanan, pandangannya sangat buram karena hujan yang masih amat lebat. Tiba-tiba saja ia telah di kelilingi sekitar empat belas orang bersenjata.
SYUT!
SYUT!
Dua orang di samping Kisame jatuh dengan darah mengucur dari kepala masing-masing.
'Oh… hebat juga si Deidara dengan Kakuzu itu… mengerti saja mereka kalau aku tidak terlalu paham dengan cara membunuh seperti ini,' Kisame membathin.
"UWOOOOO!"
Semua musuh menyerang Kisame secara bersamaan. Kisame pasang pose siaga dua. Sesekali terlihat satu-persatu manusia yang tewas, baik karena tembakan sniper maupun karena gorokan pisau Kisame.
Setelah berapa lama bergelut dengan kematian, Kisame mulai kelelahan. Kini musuh tinggal tiga orang, dan tampaknya musuh ini sangat kuat dan licik.
.
.
.
Dengan gerakan seperti terbang Sasori melampaui jurang yang tertutup asap tebal. Masuk ke hutan belantara. Sosok-sosok manusia mulai menampakkan surai lepek nya, di sambut dengan ayunan pedang Sasori dengan brutal menebas kepala tiga orang di hadapannya sekaligus.
Kejam!
Sasori memang paling kejam kalau sudah menyangkut misi, terutama misi pembantaian –yang tampaknya sepihak- ini. Mata nya merah dan tajam. Darah segar mengucur di tiap sisi dua bilah pedang bermata dua miliknya, dan jangan lupakan jubah yang di dominasi dengan warna hitam itu kini telah berubah warna. Bau amis darah yang begitu busuk dan pekat membuat Sasori fly, horny, senyum nya mengembang seperti maniak. Sasori bergerak lihai menari-nari di kelilingi hujan darah dan potongan tubuh manusia. Oh! Perintah mutlak Pein yang telah ditunggu-tunggu terdengar begitu indah ketika pria orange itu melantunkan bunyi-bunyi dengan suara berat dan sensual. Sekali-kali Sasori mengulang-ngulang lantunan kata-kata itu di balik bibir tipisnya, setengah berbisik dengan seringaian berbahaya,
'bantai….bantai tanpa sisa'
'bantai….bantai tanpa sisa'
Kali ini dia mungkin tak akan dapat menahan dirinya.
"KHAHAHAHAHA"
Sasori tertawa sadis seperti orang gila. Ia sedikit jongkok dan segera menusuk jantung lawan di hadapannya.
.
.
Pein dan Zetsu mendorong bus penuh muatan itu sekuat tenaga. Jangan lupa bahwa mereka akan mendorong bus kira-kira sejauh lima puluh meter kedepan, dengan kondisi ban telah tenggelam dalam genangan lumpur. Hujan yang kian parah dan lutut yang tenggelam dalam benda coklat itu mempersulit pekerjaan mereka.
"Minggir Zetsu. Biar aku saja yang mendorong bus ini, kau yang menggantikan posisi ku," Konan menarik kerah jubah Zetsu dan menatap Pein tajam.
Pein mengangguk sambil bergumam, "yahhh… kekuatan seratus badak mu mudah-mudahan berguna, sayang…"
"Tenang saja SAYANG, aku akan mengalahkan kekuatan Gorilla –mu," Konan menimpali ucapan Pein –yang dianggapnya sebagai gombalan- dengan dingin.
"Dorong! Dorong!" teriak Zetsu pake toa, maksudnya sih mau ngasih semangat gitu.
"BERISIIIKKK! Kau konsentrasi saja pada musuh yang mendekat, bodoooh! Kau mengganggu kami yang sedang pacaran!" sembur Pein.
Zetsu kicep.
.
.
Tak ada yang menangisi banyaknya manusia –atau lebih tepat disebut binatang- yang tewas. Perpotongan tubuh bergelimpangan, namun tampaknya para manusia yang sebentar lagi akan bermukim di daerah mereka selama dua bulan itu sama sekali tak menunjukkan raut wajah prihatin –atau kasihan.
Sudah lima belas meter bus merengsek perlahan. Tobi masih berusaha mengecek kondisi mesin bus. Di tempat lain, Sasori dan Itachi sudah menghabisi seluruh lawannya. Mereka segera berlari menuju bus –dengan waktu bersamaan.
"Leader, sisi depan telah ku habisi," lapor Itachi.
"Sisi kiri juga sudah ku habisi," Sasori menyambung perkataan Itachi.
"Manah! Kisameeh!?" tanya Pein sembari terus mendorong sekuat tenaga. Suaranya nampak kepayahan.
"Ah! Aku akan mencari nya," dengan antusias Sasori berlari lagi dan kembali menghilang dalam derasnya hujan. Belum puas dengan pembantaian yang sebelumnya ternyata.
"Itachih, bhantu doronggg…"
"Baik."
Itachi masuk kedalam bus dan mengambil tali tambang berukuran besar. Segera saja ia keluar menuju sisi depan bus, mengikat bus dengan tambang dan menariknya. Kini beban Pein makin merasa ringan. Dalam waktu sebentar mereka telah mendorong bus sejauh tiga puluhan meter.
"Leader, ada yang mendekat," lapor Zetsu.
"Bunuh saja sesuka mu, tak ada yang akan menangkap mu di sini,"
"Aku tak yakin kekuatan tinju ku berguna untuk moster, leader…"
"A-ap…"
.
.
.
Kisame terdesak. Tiga orang yang ternyata pemimpin gerombolan terkuat mengeroyok nya membabi buta. Kisame hanya bisa mengelak dengan sesekali balas menyerang.
CRAAAAT!
Tiba-tiba kepala dua orang pemimpin terpenggal secara bersamaan.
"Kau lama sekali, Assassin," kata Kisame setengah teriak.
"Mereka ini kau tidak bisa lawan?" Sasori bertanya dengan nada sedikit mengejek.
"Hei… aku ini hanya bodyguard rentenir, bukan pembunuh sadis seperti mu, tau."
"Kalau begitu serahkan saja pada ahlinya."
Sasori maju dengan cepat. Kembali, dengan tiba-tiba sebuah potongan kepala manusia bergulir begitu saja seperti bola merah.
Sasori menginjak-injak dengan beringas kepala manusia terakhir yang terpotong itu dengan raut wajah senang. Kisame yang melihat kejadian itu hanya tersenyum miring, lalu berujar "kau benar-benar maniak, Sasori. seperti tak ada beban sedikit pun. Aku ragukan eksistensi mu sebagai manusia yang punya hati di sini."
Sasori menghentikan pijakannya pada kepala yang telah hancur dan memburaikan isinya itu, menatap Kisame dengan wajah unyu, memajukan sedikit bibirnya, seolah-olah merajuk. " Uh. Kau belum tahu saja gimana sensasinya. Hei. Aku ini punya hati, tau. Cih." Sasori membuang muka. Ia me-lap sepasang pedangnya lalu menyarungkan benda yang telah banyak menjatuhkan korban itu. Kisame tak mampu menahan rasa geli yang menjalar di hatin melihat tontonan unyu seperti ini, hingga ia meledakkan tawa.
"Hahaha. Kau ini memang gila." Kisame segera mendekati Sasori, lalu menjitak kepala pria yang jauh lebih pendek darinya itu.
"Aduh! Hei. Sakit!" Jerit Sasori. mukanya kelihatan semakin imut kalau sedang kesal. Sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan muka maniak haus darah beberapa saat yang lalu. Ia mengelus kepalanya di balik hoodie dengan brutal.
Kisame lalu berkomentar, "kau tau rasanya sakit jika kepala mu di jitak seperti itu. Bagaimana dengan manusia-manusia yang kau bunuh, ha? Tak manusia sekali cara membunuh mu ini. Sehabis membantai bukannya menguburkan malah menginjak-injak."
"Mereka kan sudah mati. Toh tak akan terasa lagi sakitnya. Ini memang cara ku mengapresiasikan seni ku, aku tak pernah memang di berikan perintah untuk membunuh dengan keji seperti ini, hanya pekerjaan yang sangat rapi dan nyaris tanpa jejak. Aku kan di bayar untuk pekerjaan itu. Ku kira leader bakalan sama dengan klien-klien ku yang lainnya, ternyata pria bertindik itu seksi sekali," ujar Sasori lirih masih dengan wajah cemberut, namun tiba-tiba rengutan itu berubah menjadi sumringah.
"Siapa bilang tidak sakit? Kau ini… sudah lah ayo kita kembali ke bus." Kisame memulai langkah nya, di ikuti Sasori. Sasori bahkan tak menyadari darah yang menitik dari balik jubah Kiri Kisame. Tepat bersamaan dengan berhentinya hujan setelah sekian lama, hanya menyisakan langit yang masih kelabu dengan rintik-rintik hujan. Malam semakin larut.
.
.
.
.
GROAAAAA!
Monster-mutant-apapun itu mengamuk sambil berlari kencang ke arah bus. Konan berbalik. "Aku saja yang menghadapinya, leader." Belum sempat Pein membalas perkataannya, Konan telah menghilang bersamaan dengan menjauhnya suara sang monster.
Konan membawa makhluk itu hingga menjauhi bus. Meski dalam kegelapan, Konan masih mampu mendeskripsikan makhluk itu. Makhluk mengerikan itu bertubuh seperti Kambing, berbulu kuning kemerahan, dan kakinya seperti kaki burung Elang dengan cakar yang sangat besar dan kelihatan tajam. Memori dalam benak Konan ssaat terpacu untuk mengingat-ingat Kambing ini. 'Ooh! Ini Kambing yang waktu itu pak Naruto ceritakan.'
Tinggi –makhluk itu setinggi kira-kira dua meter. Konan sesaat tersadar dan melompat mudur. Kedua tangannya terkepal. Wanita itu menyergap. Otot tubuhnya yang terbentuk cantik semakin kekar seiring pergulatannya dengan makhluk absurd itu. Sesekali tinjuan Konan menghentak tubuh makhluk aneh hingga termundur beberapa langkah, dan beberapa kali pula Konan mendapat luka akibat sambitan cakar panjang.
Beberapa saat dalam posisi menangkis-mundur-maju-pukul, akhirnya Konan berhasil memanjati tubuh berbulu orange. Jari-jari kedua tangan Konan tiba-tiba bergerak tak stabil, memanjang dengan kuku jari yang sama memanjangnya. Urat-urat besar nampak menaungi seluruh permukaan telapak tangan, punggung tangan, sampai jari-jari.
Mata Konan menggelap-berkabut. Kambing itu masih saja meronta di bawah tunggangannya. Konan mengangkat kedua tangannya tinggi, lalu dengan tiba-tiba tangan itu menusuk tajam menembus kulit tebal dan keras si monster, melewati otot dan daging-daging, mengaduk-aduk isi tubuh itu sampai menemukan yang ia cari.
Tulang punggung.
Darah hitam pekat muncrat kemana-mana, memolesi wajah Konan yang cantik bak porselen bening mahal hingga berubah warna menjadi hitam dan berbau busuk. Namun ini bukan saatnya untuk muntah. Segera saja wanita bersuara lembut tapi sangar itu menarik paksa tulang punggung hingga keluar dari persemayamannya –sekuat tenaga. Sedikit demi sedikit tampak benda putih tertarik dari tubuh monster, di ikuti daging dan otot-otot yang ikut keluar.
Sang monster melolong kesakitan, meraung-raung, pedih menjalar keseluruh sendi-sendinya, hingga akhirnya ambruk tak bersuara lagi. Tulang punggung telah benar-benar tercabut seluruhnya dari tubuh makhluk itu. Sekarang diragukan siapa yang benar-benar moster di sini.
Sesosok tubuh berkaki Elang terkulai di tanah lumpur –mati. Di atasnya duduk seorang wanita dengan muka penuh cairan kental busuk barwarna hitam, di kedua tangannya -yang telah normal kembali-tergenggam seonggok kerangka tulang punggung monster dengan daging dan otot yang tampak merekah. Konan tak punya waktu merenungi perbuatannya. Di buangnya asal tulang itu, lalu dia berjalan menuju bus.
.
.
.
Bus telah sepenuhnya keluar dari kubangan lumpur. Semua anggota pun telah membersihkan tubuh masing-masing. Tinggal menunggu makhluk berkelamin wanita satu-satunya diantara mereka yang baru saja menampakkan dirinya dari balik kegelapan. Pein yang agak jauh dari bus menatap Konan tanpa kedip. Ia cemas. Wanita itu belepotan. Pein terperangah. Ketika Konan berjalan pelan mendekatinya…
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi tembem si wanita yang pekat, di ikuti bola mata membesar. Pein menampar Konan dengan pelan, namun mampu membuat tubuh itu tersungkur di tanah. Konan meringis memegangi pipinya yang terasa amat pedih. Pandangannya teralih ke bola mata si pemimpin, mencari-cari jawaban apa kesalahannya. Namun yang tampak di manik pria bertindik itu hanyalah kepedihan dan takut kehilangan. Pein bergetar memegang telapak tangannya yang baru saja menampar gadis yang teramat dia cintai. Akhirnya pria itu membuka suara.
"Aku sudah berkata, keputusan ku adalah mutlak. Kenapa kau mengambil keputusan tanpa persetujuan ku!"
"Konan mencoba berdiri, sedikit terhuyung, lalu membalas ucapan Pein. "Kau bilang kalau keadaan mendesak aku boleh melanggar aturan mu, Pein. Aku merasa keadaan tadi sangat mengancam. Kenapa? Kau meragukan eksistensi ku? Kekuatan ku? Kau lupa aku ini siapa?"
BUGH!
Sebuah tinjuan melayang untuk kedua kalinya di wajah itu. Tak terprediksi. Terlalu cepat hingga Konan tak mampu menghindar. Tubuhnya terpelanting beberapa meter.
"Aku sendiri yang menghadapi makhluk itu. Bukan kau. Tapi kau sudah mengambil keputusan dengan menghilang seenaknya. Aku mencari mu kemana-mana. Suara mu dan makhluk itu terdengar jelas sampai sayup, tapi keberadaan kalian seperti berada di dimensi lain. Untuk apa ada pemimpin jika dengan otak kecil mu itu kau mengambil keputusan sepihak? Kau mengacaukan fikiran ku, perempuan!"
Konan berdiri dalam diam. Pein marah, dan Konan takut sekarang.
Pein lalu bertanya, "kau memakai kekuatan itu, Konan?"
Konan tampak terkejut. Sepertinya segala hal tentang dirinya telah diketahui oleh pria ini –tanpa harus bercerita apa pun. Dengan desisan pelan dan suara lembut wanita dia menjawab pelan, sedikit takut, "bagaimana lagi, itu cara paling praktis mengingat kita telah memakan banyak waktu di sini."
"Kau tak terluka?"
"Hanya sedikit goresan kecil, leader."
"Aku serius… kau… tidak terluka kan, Konan?" Pein menatap Konan intens. Matanya bergerak-gerak menyusuri seluruh tubuh yang dilapisi jubah itu. darah muncrat dimana-mana.
"Jangan tatap aku seperti itu, Pein. Sudah ku bilang aku hanya terluka sedikit, memang ada apa?"
"Jari kelingking kiri Kisame putus saat bertarung tadi. Sudah ku rawat. Aku sangat mencemaskan mu."
Pein berjalan mendekati Konan dan menepuk bahu bahu wanita itu, rahangnya masih mengeras. Ia berkata dingin. "Bersihkan diri mu. Aku membawa banyak cadangan jubah."
Konan hanya mengangguk pelan. Ketika Pein hendak berlalu, Konan menarik jubah laki-laki itu dan meremasnya kuat. Menjatuhkan kepalnya ke dada pria itu. Pein terkejut, namun segera saja sudut bibirnya tertarik ke atas –amat tipis. Raut wajahnya melembut. Kedua tangannya melingkari tubuh perempuan itu –merengkuh, menghangatkan. Di dalamnya, seorang perempuan mulai menangis terisak. Pipinya memerah.
"Jangan…"
Pein masih mendengarkan.
"Jangan marahi aku, Pein…hiks. Jangan marahi aku, aku minta maaf," ucap Konan pelan. Air mata semakin deras mengalir.
Pein mengeratkan pelukannya. Ternyata wanita ini sangat rapuh. "Well, jangan berbuat seperti ini lagi, sayang…"
.
.
.
Konan telah membersihkan diri dan bergabung dengan yang lainnya di dalam bus. Fokus utama pandangannya adalah Kisame yang sedang asyik bercerita dengan Itachi. Kelingkingnya di perban. Ketika pandangan mereka bertemu, tak tampak dari raut wajahnya rasa sakit atau penyesalan. Ia hanya tertawa renyah, dan mengcungkan jempolnya ke Konan.
Di dalam bus tampak begitu hidup bahkan setelah kejadian yang amat sulit dibayangkan barusan. semuanya merasa tertantang untuk semakin menyusuri daerah kejam ini. Dari balik kaca spion Tobi memberi aba-aba bahwa mereka siap melanjutkan perjalanan. Namun Pein berkata bahwa malam ini perjalanan tak akan di lanjutkan sampai pagi esok, semuanya harus tidur dengan sistem berjaga dua orang setiap jam.
Konan duduk di sebelah Sasori, dan tiba-tiba pria berwajah baby face itu berbisik lirih, "aku begitu kurang ajar selama ini, sekarang aku tahu rasanya sakit. Aku berjanji akan menghormati musuh-musuh ku."
Konan menatap Sasori. Bola matanya sedikit membesar, "apa yang sebenarnya terjadi sewaktu kau membantu Kisame tadi?"
"Hm… aku berkata mengenai prinsip ku dengan seenaknya. Aku bahkan tak menyadari kalau ia sudah kehilangan anggota tubuh. Ya begitulah. Aku sudah minta maaf padanya, tapi entah kenapa dia tak merasa kata-kata itu adalah kesalahan ku."
"Pemikiran setiap manusia memang berbeda, Sasori. Tapi dengan perbedaan itu kita saling berdampingan dan memahami. Kalau memang sudah terjadi, ya mau bagaimana lagi."
Sasori hanya diam, tak menyahuti. Konan pun tak memaksakan pembicaraan terus berlanjut.
.
.
.
Pukul delapan tepat. Hari ini cukup cerah. Mentari bersinar menembus hutan yang terdiri dari ribuan pohon-pohon besar. Setelah sarapan dan membersihkan diri, perjalanan Akatsuki berlanjut. Satu jam bus berjalan santai, akhirnya mereka sampai di perkampungan penduduk desa X. melihat benda besar yang datang, anak-anak kecil yang sedang bermain berlarian ke rumah kepala desa, menyampaikan kabar dengan antusias.
Bus berhenti di sebuah lapangan. Penduduk yang melihat bus itu berkerumunan penasaran, sosok seperti apakah yang mengunjungi desa mereka. Akatsuki turun dari bus, di sambut sorak-sorai dan senyuman lebar para penduduk yang telah menanti mereka sekian lama. Tiba-tiba saja kerumunan yang sangat ramai itu membelah seiring berjalannya sosok yang mereka hormati, kepala desa.
"Selamat datang, selamat datang di desa kami…"
Pria tua itu menyambut kedatangan tim Akatsuki yang terkejut dengan segala keramah-tamahan –berbeda sekali dengan kejadian tadi malam.
"Ah. Perkenalkan, nama saya Danzo. Saya adalah pemimpin di desa kecil ini." Di belakang tubuh pria tua itu menyembullah sosok kepala kuning dengan raut wajah khawatir. Oh! Pak Naruto telah sampai lebih dulu. Tapi bagaimana ceritanya? Akatsuki dilanda keterkejutan untuk kedua kalinya. Seakan mengerti, Naruto hanya berkata, "nanti ku ceritakan."
Akatsuki saling berpandangan, dan mulai memperkenakan diri masing-masing…
Bersambung…
Yah, saya menggalau. Fic ini nyaris discontinue karena keribetan saya di dunia nyata. Juga karena genre utama malah tak kelihatan di chapter sebelumnya, sesaat saya jadi kehilangan feel untuk melanjutkan –hanya sesaat loh ya-. Namun ternyata saya masih mempunyai tekad untuk menamatkan fic ini, hehe.
Mohon dukungan, kritik dan saran nya readers.
Sudikah pembaca sekalian me-review fic gaje ini?
