"Apa yang kau bicarakan dengan anjing penjagamu? Sepertinya serius sekali." Yamanaka Ino menyambut kehadiran Sakura dengan pertanyaan penuh selidik. Tepat disebelahnya, Tenten menyimak dengan tampang ingin tahu.

Menggelengkan kepalanya, Sakura tersenyum kecil. "Bukan masalah besar."

"Kau tak bisa membohongiku forehead!" cetus Ino kesal. "Aku tahu betul tanda-tanda kau berbohong. Hidungmu akan kembang kempis seperti yang kau lakukan barusan."

"Aku tidak seperti itu!" sangkal Sakura. Tanpa sadar menutupi sebagian wajah dengan tangan, seakan memperjelas kebohongan kecilnya.

"Kalau kau menutupi wajahmu begitu aku jadi yakin, kau baru saja membohongi kami." Tenten angkat suara dan bergabung dengan Ino untuk memojokkan Sakura.

Kedua gadis itu kini menggelayut di kedua lengan Sakura dan menuntunnya untuk melanjutkan langkah menuju kantin sembari memberikan pertanyaan retoris yang membuat gadis berambut merah muda itu tak berkutik. Hingga akhirnya Sakura menyerah dan menceritakan semua masalah yang menimpanya.

"Itu masalah yang cukup rumit," Ucap Tenten sembari mengusap dagunya dengan serius. "Tapi menurutku tak ada yang salah dengan itu. Wajar sih, kau menyukai Sasuke. Dia tampan, walaupun menyebalkan."

"Yeah, dan arogan," Tambah Ino yang dihadiahi dengan delikan mata tajam Sakura. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Sakura mendengus. "Kau juga pernah menyukainya, ingat?"

Ino nyengir. "Itu kan dulu sekali," ujarnya membela diri.

"Aku ingat sekali, kau tidak hanya menyukai tapi menggilainya. Bahkan kau sampai menjadi penguntit!"

"Aku tidak pernah menguntitnya!" elak Ino sebal.

"Kau jelas-jelas melakukannya, pig! Aku tahu itu." Ujar Sakura keras kepala.

"Hei sudahlah," Tenten menyela pertikaian yang menurutnya sangat tidak penting."Kau tahu Sakura, kurasa Sasuke memiliki prinsip yang sama seperti Neji. Tidak ingin persahabatan yang telah lama terjalin rusak karena ungkapan cinta. Dia pernah mengatakan kepadaku 'persahabatan dapat melahirkan cinta, tapi cinta belum tentu dapat memperbaiki persahabatan yang rusak karenanya."

Baik Ino maupun Sakura sama-sama menampilkan wajah terkejut yang tidak elit. Iris biru dan hijau sahabat itu bertubrukan, saling menyalurkan pikiran yang sama. "Astaga. Astaga. Jangan bilang kalau kau sendiri pernah menyukai Neji" pekik Ino tertahan. Sementara Sakura menatap Tenten dengan pandangan ingin tahu.

Tenten mendengus. "Menurutmu kenapa aku lebih suka menghabiskan waktu dengan kalian, para perempuan yang suka bergosip sedangkan aku lebih nyaman bermain sepak bola dengan para laki-laki?"

"Hei, aku bukan tukang gosip!" protes Ino dengan jutek. Wajahnya berubah masam dengan bibir mengerucut sebal.

"Terserahlah," Gadis keturunan Cina itu merotasikan matanya bosan. Mengabaikan Ino yang mengomel tak jelas, ia kembali melanjutkan. "Intinya aku ingin mengatakan kepadamu Sakura. Rasa nyaman sebagai sahabat akan menghilang ketika dia menolakmu. Dan jika dia menerimamu, ketidaknyamanan akan selalu menyertai hubungan kalian." Tenten mengakhiri petuahnya dengan menepuk halus jemari Sakura yang bertautan di atas meja.

Menyambut tepukan hangat Tenten, Sakura tersenyum hangat. "Trims, Tenten. Aku baru tahu kau bisa berkata bijak seperti ini." katanya jenaka. Ia tak lagi merasakan kesal, sakit hati, dan kekecewaan yang bersarang di hatinya. Terimakasih pada Tuhan yang telah memberikannya sahabat wanita yang pengertian.

"Apapun untuk sahabatku." Tenten tersenyum kecil sarat aura kedewasaan.

"Hei dekorin, kau melupakanku! Aku kan juga punya andil dalam menyelesaikan masalahmu" protes Ino merajuk.

Sakura tergelak. "Terimakasih juga untukmu, Ino."

"Kembali, my sweet catton candy."

"Ugh, menggelikan sekali, pig!"

Mereka bertiga tertawa lepas. Kembali menyantap makanan yang terhidang dengan raut wajah puas. Satu masalah terselesaikan dan semua berjalan dengan tenang hingga Ino mulai membuka mulutnya dan membuat kericuhan dengan Tenten.

"Jadi bagaimana Neji menolakmu?"

"Diam kau, Ino jelek!"


Dua kepala berambut pirang dan biru gelap tengah duduk di bawah rimbunnya pohon tak jauh dari lapangan sekolah. Mereka—Naruto dan Sasuke mengambil waktu istirahat setelah lelah bermain sepak bola bersama kawan sejawat. Naruto membuka seluruh kancing kemeja seragamnya, menampakkan kaus putih yang melekat di tubuh. Sebelas-duabelas dengan Naruto, Sasuke membuka tiga kancing teratasnya karena panas yang ia rasakan.

"Huh, biasanya disaat-saat seperti ini Sakura akan menghampiri kita dengan handuk dan beberapa botol minuman dingin, bukan begitu Sasuke?" Naruto berkeluh kesah dengan wajah murung. Tangannya terus mengibas, berharap gerakan itu melenyapkan rasa gerahnya.

Sasuke diam. Tidak berminat menjawab maupun berkomentar. Dalam hati ia menyetujui perkataan Naruto, dan entah mengapa ketiadaan gadis itu membuatnya merasa ada sesuatu yang kurang.

Hembusan nafas kasar dikeluarkan oleh Naruto. Matanya memicing sebal pada sosok pria berwajah datar yang sedari tadi larut dalam keheningan. "Kau menyebalkan sekali. Aku bisa gila jika terus begini. Bicara dengan patung dingin sepertimu. Aku rindu Sakura-chaaann…"

Rengekan Naruto dihadiahi tatapan dingin dari Sasuke. Dan itu tidak bekerja sebagaimana mestinya—Toh, Naruto dan Sakura sudah terlalu kebal dengan tatapan Uchiha bungsu itu.

"Kau harus bertanggung jawab, Sasuke. Pokoknya kau harus membuat Sakura kembali. Kalau tidak, aku juga akan menjauhimu seperti yang dilakukan Sakura padamu. Dan bicaralah! Astaga—kenapa aku seperti bicara dengan batu?!" Rambut pirang Naruto yang berantakan makin tak beraturan seiring kelakuannya menjambaki rambut sendiri.

"Hn."

"Argh. Kau menyebalkan sekali, Sasuke!"


"Menyebalkan! Woi Shikamaru!"

"Shikamaru!"

"Hei, Shika, kau mendengarku tidak?"

Menahan diri agar tidak menjewer telinga Shikamaru sampai lepas, Sakura berdiri dengan pose bersedekap. "Aku kan sudah bilang tadi, kita akan pergi les bersama-sama. Kenapa kau malah meninggalkanku?" Tak jua mendapat respon, iris viridian Sakura memicing tajam. Memandang sinis pada remaja laki-laki didepannya yang jelas-jelas menampakkan wajah terpesona.

Bukan. Bukan terpana pada Sakura, tentu saja.

Gadis itu menelisik pandangan Shikamaru. Beberapa meter dari mereka berdiri sosok gadis berambut pirang brunet yang sibuk memainkan ponsel.

"Siapa dia?"

"Temari."

Jawaban singkat Shikamaru membuat Sakura kembali melemparkan pandangannya pada Temari. Mengamati gadis itu dengan jeli. Temari bukan tipe gadis yang suka menyetel raut senyum manis. Dari wajahnya terbaca kesan cuek, jutek, dan juga sedikit kepongahan. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran seorang gadis. Dan, apa dia serius dengan model rambut kuncir empat itu? Jika Ino melihatnya, dia pasti akan berkomentar pedas.

Tak mendapati sesuatu yang menarik, Sakura mengembalikan atensinya pada Shikamaru.
"Apa kau akan menatapnya terus seperti itu?"

"Memang apa yang harus kukatakan padanya?" Mendengus lelah, Shikamaru mengalihkan tatapannya pada Sakura setelah Temari memasuki gedung tempat mereka belajar.

"Banyak hal," Sakura mengetukkan jemarinya di dagu, pose andalan saat ia sedang berpikir. "Kau bisa menyapanya lebih dulu. Kemudian, bicarakan topik-topik ringan seperti cuaca, musik, atau semacamnya."

"Kenapa itu terdengar merepotkan?"

Sakura memutar bola matanya. Jengah mendengar kalimat andalan Shikamaru; merepotkan. "Kau bahkan belum mencoba memulainya." Tukas Sakura sebal. Ia menyeret tubuh Shikamaru, mengikuti langkah Temari untuk masuk ke gedung bimbel. "Sebagai permulaan—mengingat moodnya hari ini terlihat sedang kesal kau bisa sok perhatian dengan melempar pertanyaan seperti, 'menunggu seseorang?' kemudian perkenalkan dirimu sendiri. Bukankah kau sekelas dengannya?—lalu puji dia. Sesuatu yang terlihat menakjubkan dan membuatnya berbeda dari gadis lain. Jangan lupa untuk minta nomer ponselnya, tapi kau dilarang untuk mengirim banyak pesan. Catat ini baik-baik: wanita menyukai sosok pria yang misterius. Kau bisa bermain permainan tarik ulur—"

"Saranmu tampak seperti seorang expert, tapi kenapa kau sendiri gagal?"

Secara otomatis mulut Sakura tersumpal benda kasat mata. Melirik garang pada sosok laki-laki disebelahnya dan tanpa basa-basi menendang tulang kering Shikamaru. "Dasar menyebalkan!"

Mendesis kesakitan karena sengatan nyeri yang menjalar membuat Shikamaru mengangkat kaki kanan yang menjadi korban keberingasan Sakura. "Kau menyakitiku."

"Seseorang harus melakukannya untuk menyadarkanmu." Balas Sakura tanpa rasa bersalah. "Kau juga harus memperbaiki cara bicaramu yang ceplas-ceplos itu."

"Kau marah?" Shikamaru menyeret kakinya menyusul Sakura yang berjalan cepat memasuki lobi.

"Menurutmu?"

"Jelas kau marah."

"Kalau kau tahu, kenapa bertanya?" Gadis itu menghentikan lajunya hanya demi memelototi laki-laki yang—astaga sangat menyebalkan dan tidak peka.

"Aku hanya tidak tahu dimana letak kesalahanku." Ia menjawab dengan raut wajah polos dan malas. Dalam hati mengomel mengapa perempuan selalu melakukan drama hanya karena masalah remeh.

"Apa kau sadar kalau kau baru saja mengejekku dan—oh, lupakan saja! Ini konyol untuk diperdebatkan." Sakura mengibaskan tangannya seakan mengusir sesuatu. Menahan emosi labilnya agar tidak keluar. Ia tidak ingin hubungan pertemanannya dengan Shikamaru rusak karena masalah sepele. Sakura bisa saja mengeluarkan sikap tsundurenya dihadapan Sasuke maupun Naruto tanpa rasa malu. Toh, dua cowok itu sudah biasa dengan sikapnya yang memang terkadang menyebalkan. "Sekarang kau harus maju, sapa Temari sekarang juga. Lihat disana? Dia sedang sendirian. Ini kesempatan yang bagus. Chop-chop!"

Dengan kekuatannya yang berlebihan, Sakura berhasil mendorong Shikamaru mendekat ke arah Temari. Membuat laki-laki itu berdiri dengan grogi saat gadis pujaannya menatap heran.

"Uhm, hai. Er.. kau ada di kelas Genma sensei?"

Temari mengangguk. "Dan aku ingat kau juga ada di kelas yang sama denganku. Ada apa?"

"Hanya ingin menyapa saja. Aku Shikamaru. Nara Shikamaru." Meski dilanda perasaan was-was luar biasa—sempat terpikir bahwa Temari akan menolak uluran tangannya—Shikamaru susah payah menyetel wajahnya agar terlihat biasa. Menahan urat-urat disekitar bibirnya untuk tidak tersenyum lebar seperti orang bodoh.

"Temari. Rei Temari." Ia menyambut uluran tangan Shikamaru dengan hangat. "Kurasa kau datang terlalu awal. Bukankah biasanya kau selalu terlambat untuk masuk kelas?"

"Mulai hari ini aku akan masuk lebih awal," Shikamaru tersenyum tipis, sadar akan adanya perhatian dari Temari mengingat kebiasaanya yang terlambat datang di kelas. "Akan ada seseorang yang selalu menyeretku untuk datang lebih cepat."

"Oh, gadis merah muda yang itu? Aku melihat kalian ngobrol tadi. Apa dia anak baru?" Temari menunjuk ke arah Sakura yang sedang bicara dengan Sasori di meja informasi.

"Yaps. Dia teman sekelasku di sekolah."

Berawal dari membicarakan Sakura, obrolan mereka berjalan semakin santai. Dari sana Shikamaru tahu bahwa Temari berusaha masuk ke Akademi Konoha untuk kedua kalinya setelah tahun lalu ia sempat gagal dalam tes masuk universitas tersohor itu. Akademi itu memang selalu menjadi pilihan nomer satu di kalangan pelajar. Selain dikenal sebagai universitas tertua, Akademi Konoha juga memiliki banyak fakultas unggulan yang mencetak alumni terkenal dan sukses.

"Jadi kau ingin masuk ke pertanian? Kalau begitu kita sama-sama berjuang!"

"Ya. Dan semoga kau berhasil masuk ke jurusan hukum tahun ini."

"Tentu saja. Aku akan bekerja keras agar bisa masuk kesana." Temari kini bersikap lebih santai. Ia bahkan tak segan lagi melemparkan senyum manisnya kepada Shikamaru. Obrolan mereka sempat terhenti karena kehadiran sosok pria yang dikagumi gadis itu. "Selamat sore, itachi-sensei." Intonasi suara gadis itu melembut saat menyapa Itachi. Fokus matanya pun kini terpusat pada Itachi seorang.

Ah ya. Shikamaru lupa kalau Itachi merupakan pekerja magang di tempat bimbel ini.

"Sore Temari, dan… Shikamaru?" Itachi mengetahui nama Shikamaru dari nametag yang dikenakannya. Ia mengamati seragam Shikamaru yang terasa familier di matanya. "Anak KHS? Kenal Sasuke? Uchiha Sasuke?"

Shikamaru mengangguk malas sebagai jawaban. "Dia satu kelas denganku."

"Wah bagus sekali. Berarti kau juga kenal dengan Sak—"

"KAK ITACHI!"

Kalimat Itachi terputus karena seseorang memanggilnya dengan suara melengking. Sakura bergegas menghampiri perkumpulan mereka. Entah itu perasaan Shikamaru saja atau memang ia sempat melihat binar mata bahagia di mata Itachi?

"Sakura!" Itachi tersenyum lebar menyambut kehadiran sahabat adiknya. "Kau belajar disini?"

"Iya. Baru masuk hari ini. Kak Itachi sendiri kenapa ada disini?"

"Aku memang bekerja sebagai tutor freelance disini. Hitung-hitung sebagai pengisi waktu luang liburan."

"Itu terdengar keren. Ngomong-ngomong apa kau tahu letak kafetaria? Aku sedikit haus karena tadi berjalan kaku dari sekolah menuju tempat ini. Sekalian antarkan aku menuju kelas Genma. Aku masih merasa asing disekitar sini." Gadis itu menempelkan tangannya pada lengan kekar Itachi. Menyeretnya menuju arah yang dia tentukan dan berceloteh tanpa henti. Diam-diam memberikan kode berupa pada Shikamaru untuk meneruskan obrolannya dengan Temari karena dia berhasil menyingkirkan saingan utama.

Namun Shikamaru tidak tertarik untuk berbincang lagi. Bukan karena fokus Temari yang teralihkan menatap Itachi dengan pandangan merana, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak menyukai kedekatan antara Sakura dan Itachi. Dan sejujurnya, Shikamaru tidak menyukai dilema yang membelitnya kali ini.


Pojok author:

Entah hanya aku aja yang merasa atau mungkin kalian juga. Ada yang beda gak sih sama cerita ini dari chap pertama sampe sekarang?

Aku nulis chap ini ngulang baca dari chap satu. Dan alamaaak malu banget baca tulisanku yang menurutku rada amburadul (TT_TT). Tapi.. tapi.… aku nggak mau ngerubah chap awal. Bukan karena males ya, tapi karena ini bukti proses dari sebuah pembelajaran. Halah~~ :p

Maaf ya updatenya lama. Selain karena kesibukan kuliah dan organisasi, aku juga dilanda rasa mager tiada tara. Hahaha…

Uyeee.. dari chapter inilah hubungan Shikasaku akan dimulai. Ahaii! :D

Big thanks:

Kimhima11, xiuka07, Khoerun904, gakjelasdotcom, Hoshi Riri, hikari, mawarputih. albaficaaiko, Ichaichinomiya dan Kenma Plisetsky

juga buat yang udah follow, favorite cerita ini, maupun author sendiri :)

Berkat review kalian, aku jadi semangat lagi gerakin jari-jari buat nulis lagi.

Makasih semangatnya, dan yah... cerita ini emang mau aku buat singkat. mungkin sepuluh chap paling pol. makasih udah menunggu chap lanjutan, makasih saran-sarannya. Dan Ichaichinomiya, kamu sebenarnya yang jadi inspirasiku nulis shikasaku. aku suka cerita kamu juga :D

dan... maaf kalo ada salah-salah ketik, typo sana sini. aku gak ngecek ulang karena mager. *peace!*