Lantunan melodi bersuara kecil menyadarkan Jaejoong dari sesi menangis. Ia segera menyeka kedua belah pipinya menggunakan punggung tangan dan menarik napas dalam kemudian menghembuskannya; mengatur deru napas yang sempat sesak. Merogoh saku blazer yang ia kenakan mengambil benda yang masih membunyikan nada khusus yang dipilih Jaejoong sebagai penanda pesan masuk.
Dari seseorang bernama Yoochun samchon,yang berisi; aku ada di cafè lantai dasar. Kemarilah.
Dahi Jaejoong mengerut. Yoochun? Disini? Ada apa? Lantas menatap sebuah benda penunjuk jam berukuran kecil di sudut meja yang menunjukkan kini waktunya istirahat. Ah, ia paham seketika, namun tetap tak menemukan alasan mengapa Yoochun sampai datang kemari.
Menoleh memandang sebuah pintu tak jauh dari tempatnya sembari berpikir; tidak apa-apa 'kan? Ini jam makan siang, sajangnim pasti mengertiㅡwalau tak yakin. Jaejoong merapikan meja kerjanya sejenak, menyimpan baki di atas tumpukan kertas yang pasti nanti akan diambil petugas kebersihan dan berdiri.
Tak apa-apa, ia meyakinkan diri. Perasaan takut sebab dibentak tadi masih membekasㅡwalau bukan yang pertama, tetap saja itu mengerikan. Melangkah menuju lift dan turun ke lantai dasar. Cafè umum sehingga orang luar yang tak berkaitan dapat berkunjung. Para staff juga sering menghabiskan waktu makan siang, selain cafè yang berada di lantai tiga dan lima.
Jaejoong menyapu seluruh sudut mencari orang yang meminta ia datang. Suasana cafè cukup ramai dan ia hampir mengumpat karena ditubruk pengunjung yang berlalu lalang. Memasuki cafè lebih dalam akhirnya menemukan Yoochun duduk di meja dekat etalase makanan. Ia segera menghampiri pemuda tersebut dan duduk di kursi di hadapan Yoochun.
"Hai," sapa Jaejoong sembari tersenyum; yang juga dibalas senyum oleh Yoochun, "ada apa samchon menyuruhku kemari?"
"Aniyo. Hanya ingin makan siang bersamamu."
Oh. Si pemuda berperawakan manis tersenyum kikuk. Makan siang bersama, hm? Dia tak membawa dompet dan tidak yakin uang yang tersimpan disana cukup untuk membayar. Jaejoong cukup tahu diri dengan tidak royal. Berusaha menghemat sehingga sering membawa bekalㅡnamun hari ini ia tak sempat membuat karena bangun terlambat. Belum lagi ancaman yang baru ia terima beberapa menit lalu. Menyedihkan sekali hidupnya.
"Waeyo, Joongie? Kau tidak mau memesan makanan?"
Suara Yoochun terdengar mengembalikan pikiran Jaejoong ke keadaan sekarang. Ia baru menyadari ada seorang pelayan berdiri di dekat mereka memegang note untuk mencatat pesanan. Jaejoong menggigit bibir bagian dalam, haruskah ia jujur? Tapi tak enak menolak ajakan seseorang yang telah banyak membantunya selama ini.
Namja bernama lengkap Park Yoochun tersebut dapat menangkap raut gelisah di wajah Jaejoong. Hah.. ia mengerti apa yang dipikirkan namja cantik itu. Kadang Yoochun menyayangkan Jaejoong bertahan di perusahaan ini dengan gaji kecil, terlebih menjadi asisten dari orang yang menjadi tersangka penderitaan si namja cantikㅡJaejoong menceritakan semuanya, tak menyimpan rahasia diantara mereka; bertiga, Yoochun, Ahra dan si namja cantik sendiri.
Namun ia tidak bisa menahan atau melarang, Jaejoong memiliki hak atas hidupnya. Juga dia tak tahu bagaimana menolong lelaki itu untuk menemukan pekerjaan dikondisi hamil tua.
Yoochun menatap Jaejoong, "kau tak lapar? Aku menraktirmu, Joongie." Katanya menarik perhatian si namja cantik, "padahal aku ingin kau menemaniku makan siang."
"Ta-tapi.." Jaejoong ragu menyuarakan isi hati. Ia tak enak hati menolak atau menerima. Ia terlalu banyak dibantu. Jaejoong mengerti jika Yoochun paham kondisinya kini, apalagi namja tersebut sering membaca ekspresinya.
Wajah Jaejoong terlalu transparan katanya. Sehingga dapat dimengerti dengan mudah.
"Buatkan jadi dua saja." Yoochun berkata pada pelayan yang senantiasa menunggu.
Jaejoong diam. Lelaki tampan di depannya langsung mengambil keputusan untuk memesan makanan untuk dirinya. Si pelayan mencatat cepat kemudian undur diri.
"Kau terlalu lama," Yoochun berkata, "kau tidak perlu merasa tak enak padaku."
Membuat si pria manis mengalihkan pandangan. Menyembunyikan perasaan tak enak yang kian besar. Ada juga rasa malu. Ia sebagai lelaki malah dibiayai, seakan tak memiliki harga diriㅡoh, bukan harga diri, tetapi sesuatu yang berhubungan dengan jati dirinya sebagai seorang laki-laki.
"Senggakhajima, kau sudah ku anggap seperti keponakanku." Kata Yoochun berusaha memperbaiki mood Jaejoong. Yah, sampai sekarang mood namja cantik itu belum stabil.
Kalimat itu menyentak Jaejoong sehingga menilik si namja tampan dengan sudut mata berkedut. Lihat, moodnya langsung berubah. Yoochun tersenyum kecil. Kata-kata yang sebenarnya tidak menyakiti hati tapi tampak menyentil si namja cantik.
"Wae?" Yoochun bertanya diselingi senyum jahil yang makin meruncing empat sudut siku-siku yang terbentuk di kening bagian kanan si namja cantik.
Menggoda Jaejoong yang dalam mode sensitif dan moodswing sedikit menghibur. Mereka tak akan berakhir bertengkar, hanya saling menghujat satu sama lain kemudian tertawa geli. Hubungan yang baik, eoh?
"Ne, ne.. ahjussi." Balas Jaejoong jengkel. Wajahnya terus terang menunjukkan ekspresi kesal.
Ketika si namja bermarga Park bersiap membalas lagi ucapan Jaejoong, dua pelayan menghampiri meja mereka dan meletakkan dua porsi makanan sejenis di atas meja beserta minuman. Menata dengan rapi lalu pergi. Jaejoong yang awalnya tidak lapar mendadak ingin melahap semua yang ada di atas meja. Matanya memancarkan napsu bergelora dengan bibir yang berkedut menahan gejolak.
Ekspresi itu tentu tertangkap mata Yoochun. Ia sedari tadi memang memperhatikan si namja cantik, "nah, Joongie makan yang banyak. Kau harus ingat bayimu butuh nutrisi." Katanya seraya menarik seporsi miliknya mendekat.
Doe eyes si namja cantik mengikuti gerakan Yoochun yang memindahkan makanan. Tidak rela. Ia juga ingin yang ada di hadapan si namja tampan. Menelan saliva agar Yoochun tidak menyadari keadaannya yang tiba-tiba sangat lapar. Seporsi itu tidak cukup bagi Jaejoong yang jika tengah kelaparan. Menarik piring makanannya dan mulai menyumpit sedikit dengan bibir maju. Sesekali melirik Yoochun yang asik mengunyah lalu piring di depan namja itu.
Sedikit demi sedikit berkurang. Uh.. dia mau. Kenapa sekarang Yoochun tidak peka. Menggigit sendok di dalam mulutnya sembari memandang piring Yoochun yang hampir kandas; cepat juga makannya.
"Akan ku pesankan salad untukmu."
"Huh?" Jaejoong mendongak masih menggigit sumpit serta raut ngiler bertatapan dengan Yoochun yang juga menatapnya diiringi senyum kecil. Seketika namja cantik ini sadar akan mimik wajahnya yang memalukan. Ia cepat-cepat mengeluarkan sumpit dan mengambil makanan kemudian memasukkan sembarangan ke dalam mulut hingga menggembung; terlalu banyak.
Yoochun yakin ia bakal tertawa terbahak-bahak mendapati reaksi lucu ibuㅡya, katakan saja ibuㅡhamil di hadapannya jika tak segera menutup mulut dengan tangan. Menyembunyikan semua keinginan tawanya. Jaejoong di seberang merengut. Memalukan, memalukan! Ia berteriak dalam hati.
"Hem." Yoochun mereda ledakan tawa menyisakan sunggingan kecil, "kenapa tak bilang saja? Aku tidak akan melarangmu, Joongie."
Bibir Jaejoong mempout, "aku tidak mau merepotkan, samchon."
"Haish. Sudah kubilang jangan pikirkan. Kau harus mengutamakan baby. Dia butuh asupan. Keinginanmu atas makanan adalah reaksi jika tubuhmu membutuhkan nutrisi dari makanan itu." Yoochun menjelaskan panjang lebar; kalimat yang hampir tiap hari berdengung di telinga Jaejoong.
Laki-laki berperawakan manis tersebut menggerutu, "ye ahjussi~ yang tahu segala hal."
"Yah! Aku ini euisa! Euisa pribadimu!" pekik si namja cassanova mulai tersulut emosi. Di seberang Jaejoong mencibir, "hei, berhenti.."
Bibir merah itu maju ke depan, membentuk pout kekesalan, "apanya euisa pribadi. Setiap check kandungan selalu euisa bersuara nyaring itu yang menanganiㅡ"
"Aku mendengarmu, Kim."
"ㅡseenaknya. Mengaku-ngaku, tapi tidak terbukti." Dan terus melanjutkan; tidak memperdulikan kepulan asap dari kepala Yoochun.
Si lelaki bermarga Park menghembuskan napas. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Walau terpancing, ia tidak akan mendebat. Bakal makin panjang. Ia memilih diam mendengar keluh kesah si namja cantik yang tak disadari sedang di ungkapkan. Ah, kalau bukan karena ikatan keluarga, mungkin ia sudah bertanggung jawab atas diri Jaejoong. Tak dipungkiri namja manis tersebut memiliki aura yang kuat untuk menarik seseorang jatuh dalam pesonanya, namun seseorang yang seharusnya mengemban tanggung jawab mengabaikan itu.
"Hentikan ocehanmu. Cepat habiskan makanan dalam piringmu, sebentar lagi jam makan siang selesai." Yoochun mengakhiri perdebatan aneh mereka.
Jaejoong sontak mengangkat tangan kirinya guna melihat waktu di jam tangan yang ia kenakan. Oh, benar, jam makan siang tinggal lima belas menit lagi. Melahap makanan dalam piringnya melupakan tawaran Yoochun untuk memesan lagi. Ia berfokus menghabiskan yang ada di piring. Memasukkan banyak-banyak hingga pipinya membulat gembung.
Di seberang Yoochun menggeleng. Ia juga menghabiskan makanan miliknya kemudian menyesap minuman hingga tandas. Beberapa menit kemudian si namja cantik telah selesai menghabiskan makanannya. Piring lelaki berperawakan manis itu bersih, bahkan hanya tersisa sedikit noda. Wah, nafsu makan yang sangat besar.
"Ah!" desah lega Jaejoong setelah meletakkan gelas minuman. Puas dan kenyang. Ah, ia akan bekerja dengan baik sehabis ini. Tenaganya telah penuh. Bakal tahan banting dan kuat menghadapi bentakan si Tuan Presdirㅡuh~
Yoochun memanggil pelayan lalu membayar makanan mereka.
"Jja, temani aku sampai lobby." Katanya sembari beranjak dari kursi diikuti Jaejoong.
Si namja cantik sedikit kesulitan bangkit sebab perutnya yang besarㅡusia kandungan Jaejoong hampir mendekati harinya. Seharusnya ia beristirahat di rumah, namun memikirkan biaya persalinan yang mahal Jaejoong memtuskan untuk tetap bekerja. Mereka berjalan bersama keluar dari cafe yang mulai sepi.
"Jadi, kenapa tiba-tiba samchon mengajakku makan bersama?" tanya Jaejoong teringat akan kebingungannya atas kedatangan Yoochun yang tiba-tiba.
Yoochun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana; tampak keren, "aku baru dari rumah pasien. Teringat dirimu, kuputuskan untuk singgah sebentar."
Si lelaki manis mengangguk, "gomawo."
"Tak masalah. Aku senang menghabiskan waktu bersamamu." Senyum tercipta di bibir si namja cassanova.
Jaejoong mendengus jijik, "kalimatmu menggelikan."
"Ya! Itu ucapan tulus!" Yoochun menggeplak kepala Jaejoong.
Meringis kecil seraya mengusap puncak kepalanya, namun Jaejoong tidak membalas. Ia justru tertawa yang kemudian mengundang gelengan kepala Yoochun. Mereka sama-sama terkikik setelahnya.
Tiba-tiba pandangan Jaejoong menangkap siluet tubuh seseorang berjalan di depannya. Sedikit memicing, ia dapat melihat sang presdir berjalan tergesa menuju pintu lobby. Huh? Kemana? Seingatnya tak ada janji bertemu client atau janji lain di jam kantor. Ada apa ya?
Uh, itu bukan urusannya. Mungkin pribadi. Jaejoong mengangguk membenarkan pemikirannya.
"Ada apa?" suara Yoochun terdengar. Ia memperhatikan gelagat aneh Jaejoong tadi.
"Ah, tidak." Jawab Jaejoong segera. Hal itu tak perlu ia ceritakan 'kan?
Yoochun berhenti. Pun Jaejoong yang keheranan. "Baiklah, kau langsung naik saja. Aku akan kembali ke Rumah Sakit. Jja, aku pergi dulu."
Namja tampan itu melambai lalu berjalan meninggalkan Jaejoong yang berdiri di tengah-tengah lobby. Ia ikut membalas lambaian itu. Setelah Yoochun menghilang di balik pintu kaca di sana, ia berbalik melangkah menuju lift.
Ah.. kembali pada pekerjaan yang menumpuk. Tapi tadi sajangnim pergi, artinya ia tak perlu menghadap. Baiklah, ia makin bersemangat untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan hari ini.
xXx
Mendapati pintu tidak terkunci Jaejoong tahu ada orang di dalam rumah. Jika bukan Ahra, pasti Yoochun. Hanya kedua orang itu yang memiliki kunci rumah selain dirinya dan suka datang tanpa pemberitahuan. Ia melepas sepatu kerja yang ia kenakan dan mengganti sandal rumah. Blazer serta tas jinjing ia pegang erat. Hari ini Jaejoong pulang tepat waktu; sebab Presdir pergi dan tidak kembali. Kesempatan bagi Jaejoong.
Di ruang tamu ia menemukan seorang pria duduk di sofa tengah fokus pada notebook di hadapannya. Jaejoong melangkah masuk kemudian menjatuhkan tubuh di sofa single dekat lelaki itu.
"Oh, kau sudah pulang, Joongie." Seunghyunㅡsi priaㅡmengalihkan perhatian pada si penghuni rumah yang baru tiba.
"Hm." Jaejoong menggumam. Menyandar pada kepala sofa dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Gerah dan lelah. Poninya tampak basah. "Apa kau bersama Ahra?"
"Ya. Dia sedang di dapur."
Ah, Jaejoong kagum dan iri dengan kedua orang itu; Seunghyun dan Ahra. Mereka masih menjalani hubungan hingga kini. Hubungan yang serius yang berujung pernikahan. Dan lelaki itu tidak memandang sebelah mata keadaan Jaejoong sekarangㅡmeski kisah lengkapnya tidak ia ketahui, Seunghyun tetap menerima Jaejoong sebagai teman dan sahabat kekasihnya.
Pria yang pengertian, eoh?
Hm, ia jadi ingin memiliki kekasih seperti Seunghyun; dalam sikap atau kepribadian. Ahra beruntung sekali mendapatkan Seunghyun. Ah, tidak. Ia akan memiliki baby. Itu sudah cukup. Hanya berdua. Jaejoong sudah mempunyai keluarga yang ia sayangi. Jadi tidak memerlukan seorang kekasih.
"Aku ke dalam dulu." Jaejoong bangkit. Seunghyun membalasnya dengan senyum kecil dan fokus lagi pada notebook.
Jaejoong masuk ke dalam kamarnya. Meletakka tas serta blazer di atas ranjang kemudian mengganti pakaian kantor dengan pakaian santai. Di rumah ia selaku mengenakan kaos longgar yang berukuran XXL agar perutnya tak tertekan dan celana hawai besar. Selain ia bisa bebas bergerak, perutnya nyaman.
Pakaian kantor tadi ia masukkan ke keranjang pakaian kotor dan keluar dari kamar. Tujuannya ke dapur untuk menemui Ahra. Sudah beberapa hari gadis itu tak berkunjung, sibuk di kampus. Banyak tugas katanya.
Jaejoong langsung memeluk seorang gadis yaang berdiri di dekat washtafel membuat Ahra terkejut. Sedang Jaejoong kemudian terkekeh setelah melepas pelukannya.
"Ish, kau menyebalkan." Katanya lalu melanjutkan aktivitas mencuci sayuran.
"Jam berapa kau datang?"
"Sekitar setengah jam yang lalu," katanya, "yah! Ibu hamil tidak boleh banyak beraktivitas." Ahra segera menghalau tangan Jaejoong yang hendak menyentuh sayur di washtafel. Ia mengeringkan kedua tangan lalu mematikan keran air.
Gadis ini langsung mendorong Jaejoong menjauh dan mendudukkan si pria manis di kursi meja makan. Ia berkacak pinggang, "kau disini saja. Biar aku yang memasak."
"Tapi aku ingin membantu~" bibir semerah cherry itu mengerucut.
"A-ni-yo." Jari telunjuk Ahra bergoyang di depan wajahnya. Mengabaikan raut muka menggemaskan Jaejoong yang biasanya dapat membuatnya luluh, Ahra kembali menekuni pekerjaan yang tertunda.
Bunyi aliran air segera menemani mereka di ruang dapur. Ahra mencuci sayuran.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
Jaejoong meraih serbet yang ada di dekatnya lalu membersihkan permukaan meja yang tidak kotor; mencari kegiatan sembari menemani Ahra, "baik-baik saja."
Selesai mencuci sayuran, gadis itu bersiap mengolahnya menjadi makanan untuk makan malam mereka. "Apa Presdir brengsek itu mengganggumu hari ini?"
Ahra tidak sudi menyebut nama orang yang ia maksud. Dengan mengatainya begitu, Jaejoong pasti mengerti.
Genggaman tangan Jaejoong di serbet mengerat. Meski tidak ada rahasia diantara mereka, tetap saja ia tak bisa menceritakan seluruh apa yang ia alami. Apalagi hari ini. Mencoba tersenyum melupakan semua sakit dalam hati.
"Dia pergi saat jam makan siang dan tidak kembali."
Ahra menghela napas, "aku tetap tidak mengerti kenapa kau bertahan di sana."
Terukir senyum kecil di bibir Jaejoong. Semua memang menyayangkan keputusan yang ia ambil saat di terima bekerja. Waktu itu mereka belum tahu jika orang yang memimpin perusahaan adalah Jung Yunho. Setelah tahu, Ahra makin melarang Jaejoong bekerja. Tapi ia tidak mau berhenti. Ia butuh pekerjaan dan hanya perusahaan itu yang mau menerimanya meski dalam kondisi sedang hamil.
Tidak mungkin Jaejoong terus bergantung pada Ahra maupun Yoochun. Kedua orang itu memiliki kehidupan masing-masing, apalagi ia pun bakal mempunyai suatu tanggung jawab besar ketika baby lahir. Jadi ia ingin berdiri sendiri. Ia ingin mampu berjuang demi anaknya.
"Biaya persalinan sangat mahal, jadi aku tak mau merepotkan kalian." Jaejoong berkata pelan.
Ahra yang tengah memasak berbalik dan menatap lelaki cantik yang tengah duduk di kursi meja makan, "kau tahu kami selalu ada untukmu. Kami akan membantu sebisanya."
Balas menatap gadis cantik itu dan tersenyum, "arayo. Tapi aku ingin berusaha sendiri. Aku ingin merasakan perjuangan seorang ibu untuk anaknya."
Mendengar itu Ahra menghela napas. "Baiklah bila itu maumu." Menyerah. Ia kembali fokus pada masakan yang tengah ia masak di atas kompor.
Senyum Jaejoong melebar. Ia tahu Ahra sedikit tak senang dengan keinginannya, namun peran gadis terlalu baik dalam kehidupan Jaejoong. Ia tak ingin lebih merepotkan.
"Ah ya.. apa kau akan menginap?"
Tangan Ahra yang memegang spatula berhenti bergerak. Ia berpikir sejenak, "ani. Tugasku masih banyak. Kau tahu, akhir semester."
"Baiklah. Gwenchana.. semoga berhasil." Balas Jaejoong.
Ahra berbalik dan menunjukkan senyum cerah pada si lelaki cantik.
xx
Hari ini presdir tidak masuk.
Sebenarnya Jaejoong sudah hapal hari apa saja sajangnin tidak datang. Ia juga tahu jika Yunho masih harus menyelesaikan studynya di DongBang University. Ia dengar desas-desus dari para staff, Yunho diminta presdir utama untuk menjalankan perusahaan ini sementara sang presdir utamaㅡayah Yunhoㅡmengurus cabang yang berada di luar negara.
Alasan mengapa seseorang yang seharusnya belum menduduki kursi presdir, meski perusahaan memang akan tetap di berikan padanya. Tapi dilihat dari kinerja si presdir muda cukup cekatan ditambah sikap kepemimpinan yang sangat kentara.
Mereka keluarga yang sangat kaya. Apalagi Jaejoong pernah masuk ke dalam rumah mirip istana yang ia yakini adalah kediaman Jung di Seoul. Ah, pantas saja jika si Jung muda memiliki sikap arogan dan sombong.
Jangan pikirkan Joongie, batinnya.
Karena presdir tidak masuk ia jadi tak mempunyai banyak pekerjaan. Hanya meneliti ulang berkas, menerima surat masuk, memilah-milah map berdasarkan golongannya dan mengetik beberapa arsip yang mesti memiliki salinan. Pekerjaan yang tidak menguras tenaga. Ia pun tak perlu beranjak dari kursinya.
Ting!
Suara lift terdengar disusul bunyi pintu benda itu terbuka dan roda bergerak. Jaejoong menoleh; melihat seorang office boy berjalan menghampiri dengan trolley bucket berisi alat kebersihan.
"Jae hyung." Sapa si office boy ceria. Ia berdiri di depan meja Jaejoong, "sajangnim tidak masuk?"
Jaejoong melirik pintu ruangan sajangnim lalu menggeleng. "Kau ingin membersihkan ruangannya?"
"Tadinya.. tapi, ya sudahlah." Katanya tenang lalu menarik kursi di hadapan Jaejoong dan duduk. Membiarkan bucket miliknya berada di dekat meja. "Hyung banyak pekerjaan?"
"Tidak."
Office boy bernama Lee Seungri ini memandang kegiatan Jaejoong yang sedang mengetik. Tak lama ia bangkit berdiri, "karena presdir tidak datang, aku membersihkan arealmu saja hyung."
Jaejoong mendongak, "eoh? Tidak apa-apa?"
"Gwaenchana. Lagipula tugasku memang membersihkan ruangan." Ia pamer senyum dan mengambil peralatan kebersihan dari bucket; chemical pembersih kaca dan squeze.
Sementara Jaejoong melanjutkan pekerjaannya mengetik, Seungri mulai membersihkan kaca yang terpasang di dinding, sebagai penghias ruangan.
"Hyung." Panggil Seungri.
Jaejoong mengalihkan perhatian dari latar monitor, "ye?"
"Bagaimana pendapatmu mengenai sajangnim?"
Huh? Pendapat? Jaejoong berpikir; ia sama sekali tidak pernah memikirkan masalah itu. Bahkan ketika hampir semua staff menjelek-jelekkan sajangnim ia tidak ikut buka mulut. Pun tak ambil pusing bila sajangnim mulai menekannya dengan pekerjaan atau bentakan-bentakan yang ia terima.
Kini ia baru menyadari. Selama ini tidak pernah sekalipun berpikiran buruk mengenai Yunho; memendam rasa tak sukaㅡseperti para pekerja lainㅡatau membenci. Dia tak melakukan itu walau banyak sekali perbuatan kasar telah dilakukan si Jung muda padanya. Jaejoong tidak tahu juga tak mengerti. Dia adalah korban, berhak menuntut. Namun.. sampai sekarang ia memilih diam.
"Mourege.." jawab Jaejoong. [tidak tahu]
Seungri langsung menatap si asisten sajangnim. Matanya membulat kaget, "mourege? Sajangnim sering menyakitimu. Apa kau tak berpikir ia keterlaluan dan jahat?"
Sebagian kecil karyawanㅡpara cleaner serviceㅡmengetahui apa yang dialami oleh Jaejoong, sebab sajangnim tak segan-segan membentak, memarahi dan berkata kasar kepada si namja cantik di depan orang lain; lebih sering di depan mereka yang bekerja di bidang kebersihan karena mereka selalu berlalu lalang di tiap divisi, juga Jaejoong banyak menghabiskan waktu di pantry.
Staff yang lain tidak ada yang mengira Jaejoong adalah seorang pria, mereka memanggilnya dengan sebutan nuna karena perutnya yang besar dan mereka tahu bila si lelaki manis tengah hamil. Jaejoong sendiri tidak mempermasalahkan hal itu asal ia diterima dan yah, mereka memperlakukan ia dengan baik.
Ia pun tak tahu alasan pasti mengapa dapat diterima bekerja di sini. Mungkin karena satu universitas bersama sajangnim dan menganggap ia bisa menjadi assisten yang baik dikarenakan nilai-nilai yang ia peroleh. Entahlah.. Jaejoong tak mau memikirkan terlalu jauh. Yang terpenting ia punya pekerjaan dan tak terlalu merepotkan orang lain.
Dan tentang sikap Jung sajangnim. Orang lain sudah berpikir bila sikapnya sangat jahat, tapi Jaejoong tidak pernah memikirkan itu. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan baby.
"Hidupku tidak untuk mengurusi kepribadian orang lain." Balas Jaejoong kemudian fokus kembali pada layar monitor.
Seungri diam. Menatap lekat lelaki yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Ah, tidak baik mempengaruhi seseorang dengan pemikiran sendiri. Dia tidak bisa mengubah kepribadian seseorang. Jaejoong merupakan pribadi yang baik, semua senang padanya pun dia. Sebaiknya ia tak perlu bicara yang aneh-aneh tentang orang lain. Seungri bukan penggosip.
"Hm.. nanti siang hyung akan makan bersama kami?" tanyanya mengalihkan topik.
Jaejoong mendongak, menampilkan senyum kecil yang manis, "geureomyo."
Seungri balas tersenyum. Baiklah, banyak pekerjaan yang mesti di selesaikan sebelum jam makan siang.
xx
Pulang tepat waktu dimanfaatkan Jaejoong dengan berjalan-jalanㅡpulang berjalan kaki sambil memperhatikan sekitar. Sudah lama sekali rasanya ia tak menikmati waktu bersantai seperti ini. Memandang orang-orang yang juga pulang bekerja, anak-anak dan para remaja. Walau hanya begini, ia merasa sangat senang. Senyum sesekali muncul di bibirnya kala melihat pemandangan lucu atau bagus menurutnya; atau melihat barang-barang yang di pajang dalam toko.
Ketika melewati sebuah mini market Jaejoong berhenti. Menimbang-nimbang; masuk atau tidak ke dalam sambil mengingat adakah kebutuhan rumah yang habis. Bulan kemarin ia berbelanja sedikit, jadi pasti ada beberapa kebutuhan yang mesti di beli, berhubung ia di luar dan berdiri di depan mini market.
Jaejoong menarik tali tas yang panjangㅡsebelumnya ia hanya memegang tasㅡlalu menyampirkan di bahu. Masuk ke dalam mini market yang langsung di sambut kasir dengan senyum cerah dan ia balas kemudianenyusuri rak-rak. Kebetulan ia bawaa sedikit uang tunai hari ini. Karena tidak naik bus, dia bisa memakai uangnya untuk membeli kebutuhan rumah.
"Um.." si lelaki manis berhenti di depan rak susu ibu hamil. Banyak pilihan. Susu yang Jaejoong komsumsi biasanya tak ada; mungkin karena harga yang terbilang mahal.
Yah, untuk baby, Jaejoong tak mau sembarangan. Ia ingin yang terbaik. Yoochun dan Ahra juga begitu. Mereka kadang diam-diam menyetok susu untuk Jaejoong. Kali ini ia ingin beli sendiri. Tapi, kalau tidak adaㅡ
Bruk!
"Jweisonghamnida."
Jaejoong sontak menoleh. Melihat dua orang pria bertubrukan di ujung lorong. Salah satu membungkuk sebentar kemudian pergi, sedang salah satunya lagiㅡomo! Doe eyes itu membola dengan mulut terbuka. Cepat-cepat Jaejoong berjalan ke ujung lorong yang lain dan bersembunyi. Ia bernapas lega saat berhasil menyembunyikan diri.
Jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak. Jaejoong melongokkan kepala sedikit untuk melihat keadaan; melihat seseorang yang membuatnya bersembunyi sedang memperhatikan rak yang dipenuhi kotak susu. Bukan susu hamil, susu yang memang diperuntukkan untuk umum.
Dia mengenakan kaos hitam berlengan panjang, celana jeans warna senada dan sepatu kets abu-abu. Terlihat tampan dan sangat muda. Tampaknya tengah bingung memilih susu yang akan diambil. Wajah berpikir yang sebenarnya biasa saja dan telah sering dilihat, namun lain di mata Jaejoong sekarang. Tak ada aura menyeramkan dan selayaknya seorang pemuda.
Tanpa sadar tangan Jaejoong bergerak mengusap permukaan perut yang membuncit, "kau merindukan appamu ya?"
Sedetik kemudian Jaejoong membisu. A-apa yang baru ia katakan? Huh?! Dia bicara tanpa dipikir? Keluar begitu saja?
"Haish! Mwo-e?! Tidak-tidak-tidak." Jaejoong menepuk pipinya beberapa kali, "apa yang kupikirkan? Hah! Lupakan..!"
Jaejoong melongokkan kepalanya lagi. Si pemuda berjalan meninggalkan rak juga si lelaki manis yang bersembunyi menuju kasir. Kaki Jaejoong ikut melangkah pelan-pelan agar tak menimbulkan suara di belakang. Mengikutu hingga rak pertama dan berdiam di baliknya seraya terus mengawasi si pemuda yang tengah membayar minuman susu dalam botol di kasir.
"Dia tidak kelihatan kejam," Jaejoong bergumam, "kalau saja dari dulu.."
Sekali lagi Jaejoong tersentak atas kalimat yang terlontar dari mulut tanpa ia sadari. Memukul kepalanya sambil menggerutu dan sesekali mengintip. Saat si pemuda berjalan keluar mini market, Jaejoong kembali mengikuti. Setiba di halaman ia melihat mobil berwarna hitam mengkilap melaju pelataran parkirㅡhalamanㅡmini market.
Termenung.
Matanya memandang arah kemana kendaraan beroda empat tadi melaju. Jantung yang berdebar masih terasa. Menyebab sesuatu yang aneh mulai menyebar ke seluruh tubuh. Keinginan melihat lebih lama, memperhatikan detil dan merasakan kehadiran di sisinya. Menyemarakkan sebuah harapan yang tiba-tiba melintas; harapan bersama.
Namun kenyataan yang ada seolah menyakiti hati Jaejoong. Menyadarkan dari angan-angan semu. Ah, betapa kejam kehidupan nyata. Jaejoong harus menderita sendiri, menanggung beban yang kalau tak dihadapi mungkin bakal membuatnya gila. Hah.. ini lebih menyakitkan dibentak dan dimarahi setiap hari; dimana kau tidak dapat mewujudkan impianㅡtunggu dulu.. impian?
"Haish!" Jaejoong menggeleng kencang. Menepuk-nepuk pipi lalu menggeleng lagi, "michigetta~"
Yah~ gila karena membayangkan yang tidak-tidak; berjalan bersama si Jung muda? Jung Yunho? Oh, otakmu sudah tak waras Kim Jaejoong. Ia menggerutu dalam hati. Ditambah tadi ia bicara sendiri. Uh, mungkin karena terlalu lelah maka ia tak bisa berpikir jenih.
"Jja, kita pulang saja." Katanya sembari mengusap perut. Melupakaan tujuan sebelumnya memasuki mini market.
xx
Lagi, presdir tidak masuk. Jaejoong tidak mendapat banyak pekerjaan. Para staff lain seakan mengerti bila ia tak bisa terlalu banyak bekerja sehingga ketika sajangnim tak datang mereka akan mengerjakan sendiri lalu hasilnya dikirim melalui email kepada Jaejoong. Ia tinggal menyalin dan simpan. Selesai.
Dari pagi Jaejoong cuma duduk di kursi, memutar musik dengaan suara pelan, membuat laporanㅡsudah selesaiㅡbermain game di komputer, berbincang dengan cleaning service, kadang ia menelpon staff yang di kenal hanya untuk bertanya apa ada yang bisa ia bantu; jawabannya, tidak perlu.
Fuuh~ ia menghela napas dengan bibir cemberut. Memang membosankan bila sajangnim tidak datang. Ia jadi tak melakukaan apa-apa. Melirik jam kecil di sudut meja masih menunjukkan pukul sebelas. Mesti menunggu satu jam lagi untuk makan siang. Rasanya dia langsung ingin kr pantry dan mengobrol bersama karyawan di sana.
Ting!
Suara lift di susul bunyi gesekaan yang menandakan benda besi itu terbuka. Jaejoong mematikan musik yang ia putar lalu mengamati lorong di dekatnya. Menebak-nebak siapa yang datang. Sajangnim tidak mungkin karena tengah kuliah, cleaning service beberapa jam lalu telah kemari. Orang lain? Siapa?
Muncul seorang pemuda berpakaian rapi; kemeja di lapis jas, sepatu dan celana kaij berwarna hitam. Bak eksekutif muda. Berjalan ke arah Jaejoong. Walau wajahnya tampak datar, tapi cara berjalannya membuat si pemuda kelihatan charming juga tampan dan menggoda.
"Nuguseo?"
Huh?
Jaejoong berusaha bangkit dari kursi, tapi sedikit sulit karena beban di perutnya. Ia membungkuk sebentat dan menjawab, "Kim Jaejoong imnida. Sekretaris Jung sajangnim."
"Oh." Mengangguk, "Jung sajangnim ada di ruangannya?"
"Eobseoyo. Jung sajangnim tidak masuk hari ini."
Dia mengangguk lagi. Mata pemuda ini lalu teralih ke perut Jaejoong yang sontak membuat si lelaki manis memeluk gundukan besar tersebut; bermaksud melindungi. Tatapan menyelidik begitu sangat tidak nyaman.
"Kau.. sedang hamil?"
Jaejoong mengangguk pelan. Menyembunyikan wajah. Tidak mau melihat reaksi lain dari orang di hadapannya.
Hening. Beberapa saat kemudian Jaejoong menengadah. Yang ia dapati hanya wajah tak berekspresi dari si pemuda. Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa, ia membungkuk dan pergi dari hadapan Jaejoong. Menyebabkan si lelaki manis terbengong tidak paham.
"Nugunde?" kata Jaejoong sambil berpikir. Dia tidak kenal pemuda tadi. Hm, reaksinya juga begitu. Siapa?
tbc
Halo semua.
Um, jangan marah ya karena lama banget baru di update. Soalnya aku sibuk banget, jualan. Juga kemaren ini filenya di flashdisk rusak padahal udah di ketik setengah. Disusul flashdisknya ikut rusak. Jadi semuanya hilang.
Ini ku ketik di hp. Kalau ada typo, harap maklum /senyum tiga jari/
Entah ada yang masih nunggu penpik ini. Atau udah lupa dan malas baca gegara telat update, yah.. masing-masing aja. Aku nggak memaksa.
Oya, kemaren banyak yang ngasih saran nama buat anaknya YJ. Makasih banyak yaah.. tapi, arti namanya nggak langsung menohok. Karena mesti dijabarin dulu biar paham. Makasih banget ya, udah mau apreasiasi. Dan aku lupa balas beberapa yang udah kasih nama TT maaf banget.
Mungkin, nama anak YJ kusamain aja dengan anak mereka di Silent Angel. Bagi yang lupa coba aja search Silent Angel di FFn, masih ada tapi versi HunHan. Aku memang ijinin di bikin versi HunHannya jadi jangan kaget.
Dan ini, masih dari sisi Jeje. Chap depan sisi Yun. Gimana sebenarnya pandangaan Yun terhadap Jeje.
Maaf juga singkat, soalnya aku rada kapok bikin panjang-panjang. Karena dari chap 1 wordnya lebih dari 6k aku jadi kaya punya tuntutan tiap chapter 6k. Padahal nggak harus juga.
Oya, aku juga mau bilang. Aku bukan Cassie. Aku memang YunJaeshipper dan suka DB5K, tapi aku bukaan Cassie. Aku cuma seorang Kpopers. Netral. Jadi jangan salah paham dan nuduh sembarangan aku pindah fandom. Karena aku sama sekali nggak masuk fandom. Aku udah pernaah bilang sebelumnya, kuharap jangan ada yang dalah paham.
Tengkyu..
