Chapter 4
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
"Shiho-chan. Senang melihatmu sudah sembuh," ujar Hakase begitu melihat Shiho turun ke bawah dan duduk di salah satu sofa.
"Thanks, Hakase. Kau sudah merawatku."
"Berterimakasihlah pada Shinichi. Dia yang merawatmu waktu kau demam tinggi dan dia tidak meninggalkanmu sama sekali setelah Dokter Araide datang. Dia juga bolos sekolah demi kau."
"Shinichi?" tanya Shiho heran.
"Benar. Kau tidak tau?"
"Tidak tau. Tapi aku tidak melihatnya beberapa hari ini."
"Dia hanya menemanimu pada hari pertama kau demam. Setelahnya dia tidak datang lagi. Tapi dia selalu meneleponku dan meminta untuk mengecek keadaanmu setiap saat."
"Benarkah itu?"
"Shiho-chan. Shinichi sangat memerperhatikanmu. Belum pernah kulihat dia secemas dan sekhawatir itu pada seseorang. Kaulah orang pertama yang bisa kuingat."
"Oh…" Cuma itu gumaman Shiho. Diam-diam hatinya merasa senang dan hangat. Mukanya kembali memerah ketika teringat ciuman itu. Dia sama sekali belum bertemu Shinichi semenjak 3 hari lalu.
Shiho tersenyum kecil.
"Kau kelihatan senang, Shiho-chan. Besok kau akan ke sekolah? Carilah Shinichi,"ujar Hakase lagi.
"Mencarinya? Untuk apa?"
"U—Uh, untuk apa lagi? Berterimakasihlah padanya."
"Aku tau. Aku akan menemuinya sekarang. Sepertinya sekolah sudah bubar sekarang," ujar Shiho sambil menatap jam.
Hakase mengangguk.
.
.
.
"Shinichi, kau tak apa-apa?" tanya Ran untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari ini. Raut wajahnya cemas.
Tak ada reaksi dari detektif itu. Mereka sedang berjalan bersama pulang dari sekolah.
"Shinichi!" Ran menepuk bahunya kuat. Detektif itu terlonjak dari lamunannya. Wajahnya pucat dan tampak begitu menyedihkan.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, Shinichi? Aku tak pernah melihatmu seperti ini…"
"Aku tidak apa-apa, Ran," desisnya. Langkah kakinya terhenti dan matanya membesar. Ran menoleh ke depan dan menemukan Shiho sedang berdiri menunggu di pintu gerbang rumah keluarga Kudo.
Ran berdiri nervous. Dia mengucapkan selamat tinggal pada Shinichi, yang tidak mendengar salamnya karena matanya menyipit memandang gadis lain di depannya. Shiho melihat Ran, menganggukkan kepalanya dan Ran membalasnya dengan senyum terpaksa. Dia ragu-ragu sebentar kemudian berjalan pulang menuju rumahnya sambil mengepalkan tangannya.
Dia tau kalau mereka, Shinichi dan Shiho, entah bagaimana sepertinya mempunyai jaring takdir yang sama, yang saling membelit dan mempertemukan mereka. Seperti magnet.
Tidak, dia belum akan menyerah.
…..
"Shinichi…" ujar Shiho heran karena detektif itu tidak berkata apa-apa hanya menatapnya dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
"Uh, itu… terima kasih telah merawatku," lanjutnya lagi.
Shinichi tak menjawab. Dia masih berdiri mematung menatapnya terus.
"Hakase yang memberitahuku kalau kau bolos sekolah demi merawatku…" Shiho gugup sekarang karena Shinichi tak meresponnya sama sekali.
"Kau kenapa? Tidak bisa bicara atau lupa bahasa Jepang?" tanya Shiho sarkastik.
Shinichi telah menemukan kesadarannya kembali. Ternyata pengaruh gadis itu lebih dalam dari yang dia kira. Tak terbayangkan hari-hari belakangan ini saat mendengar gumaman gadis itu membuat hidupnya nyaris berantakan. Dan anehnya dia kembali menemukan dirinya setelah tersesat sekian lama dengan hanya melihat sosok Shiho. Benar-benar aneh.
"Kau sudah sehat sepertinya," ujar Shinichi pendek. Tapi tak ada cengiran khasnya yang muncul biasanya kalau bertemu Shiho.
Shiho mengerutkan alisnya,"Ada apa dengan kau, Shinichi? Jangan-jangan kau sakit?" Dia maju sejenak ingin merasakan dahi detektif itu tapi pria itu lebih sigap, dia segera mundur dan tak membiarkan Shiho menyentuh keningnya.
Aku tak tau harus bagaimana lagi kalau kau menyentuhku.
Kau merekonstruksi hatiku dan…
…mau menghancurkan hatiku lagi, Shiho?
"Aku tidak sakit cuma lagi tidak enak badan. Sampai jumpa, Shiho."
Shinichi beranjak dan menghindari tatapan mata gadis itu. Dia memasuki rumahnya dengan cepat tanpa menunggu balasan.
Shiho berdiri dengan perasaan heran.
Ada yang aneh dengan Shinichi.
Jangan-jangan dia grogi dan merasa bersalah karena ciuman kemarin?
Ah, tak seharusnya kami terbawa suasana, jadinya seperti ini…
Gadis itu menyesalkan apa yang telah terjadi tapi dia tau tak ada yang bisa berubah lagi. Dia menipiskan bibirnya dan menekan bel pintu rumah Shinichi.
DING DONG
DING DONG
DING DONG
Pintu terbuka.
"Ada apa lagi, Miyano?" seru Shinichi kesal.
"UH" Shiho mengeryit mendengar nama Miyano lalu, "Aku tak tau apa yang terjadi, tapi aku tau kalau kau merasa bersalah karena ciuman itu kemarin, t—tapi… lupakan. Lupakan semuanya seakan tidak terjadi diantara kita," lanjut Shiho.
"Kau menyuruhku melupakannya?" tanya Shinichi tak percaya.
"Aku tak mau kau terbeban dengan itu. Lagipula tak ada terjadi apa-apa diantara kita. Jadi kau tak perlu seperti menanggung beban berat seperti itu."
Shinichi menyipitkan matanya.
"Masuklah dulu," ujarnya sambil membiarkan pintu terbuka.
Shiho mengikutinya dan menutup pintu. Rumah Shinichi sangat luas dan besar. Gadis itu berdiri dengan kagum memandang begitu banyaknya buku yang menumpuk di perpustakaan. Matanya membesar kemudian mendekati salah satu rak buku.
"Ahhh, segala macam buku forensic, criminal, dan misteri ada disini. Ada beberapa yang langka lagi," ujarnya senang.
"Kau bisa pinjam apapun yang kau inginkan, Shiho," ujar Shinichi sambil mengamati gadis itu.
Kalau saja aku tau kau sesenang ini, seharusnya aku membawamu kesini dari dulu.
"Umm… " gumam Shiho. Mata gadis itu berbinar menatap tumpukan buku kedokteran yang tebal-tebal.
"Kalau kau mau, kau bisa membacanya disini juga. Sesering yang kau inginkan…"
Shiho membalikkan wajahnya menatap Shinichi.
"Shinichi! Aku benar-benar tak ingin kau terbeban karena masalah kita. Aku minta maaf kalau itu-…"
"Jangan minta maaf! " sergah Shinichi cepat.
"Itu hanya ledakan emosi sesaat. Jadi kita sepakat melupakannya."
"Melupakannya? Segampang itu?" tanya Shinichi. Dia sekarang berdiri di depan Shiho, matanya menyipit memandang gadis itu.
"Itu…" Shiho kehilangan kata-kata karena tatapan mata detektif itu sangat dalam, dia takut tatapan mata itu mampu menembus hatinya.
"Shiho…a—aku…"
"Jangan. Uh… maksudku jangan campur adukkan emosi dengan kedekatan kita. Kau tau aku hanya sebentar di sini, aku akan pergi begitu umurku 18 tahun. Dan itu dua minggu lagi…"
"Kau akan pergi secepat itu?"
"Sayangnya aku tidak bisa meminjam buku-bukumu, Shinichi, aku tak menyangka kau punya koleksi buku yang sangat lengkap…" matanya masih mengedar mengelilingi perpustakaan pribadi Shinichi dengan tatapan mata iri.
"Dengarkan, Shiho. Tak bisakah kau tinggal disini saja?"
"A—ah, apalagi karangan Stevenson yang sangat langka pun kau miliki, bagaimana kau bisa memiliki buku-buku yang bisa membuat semua mahasiswa Harvard iri?"
"Shiho!" dia mengguncang bahu gadis itu dan berhasil. Gadis itu menatapnya sekarang.
"Bukankah kau sudah tau kalau aku akan segera pergi begitu umurku legal secara hukum di Amerika?"
"Aku tau, tapi tak bisakah kau tinggal disini?"
"Lagipula aku tidak mempunyai teman disini toh tidak ada yang akan merindukanku. Aku sudah lama menanti-nantikan pergi ke Harvard."
Shinichi mendengus kesal.
"Kau punya aku. Aku akan merindukanmu…" ujarnya pelan.
Shiho menatapnya kemudian tersenyum kecil.
"Shinichi, aku tersanjung. Kaulah teman pertamaku. Selama ini aku tak punya teman di Amerika karena aku blasteran dan mereka selalu menghindariku karena… mungkin… aku memiliki kepandaian yang tidak dimiliki mereka."
Kau juga memiliki kecantikan yang tidak dimiliki orang-orang biasanya, Shiho.
"Kau tak punya teman? Jadi siapa itu Shuichi Akai?"
Shiho berhenti berbicara, dan tergagap melanjutkan,"Apa maksudmu?"
"Shuichi Akai. Dia pria yang bertemu denganmu waktu di Nomate kemarin."
"Itu bukan urusanmu, Shinichi"
"Itu urusanku, Shiho"
"Sudah kubilang berulang kali, jangan ikut campur urusanku karena aku hanya menganggapmu teman."
Shinichi memandang Shiho dengan perasaan campur aduk.
Bagaimana dia bisa menyukai wanita yang sulit seperti dia?
Wanita yang sulit untuk dimengerti. Dia berjuang sekuat tenaga untuk memahami perasaannya dan gadis itu menolaknya dengan begitu jelas kalau dia mendekatinya.
Kenapa wanita itu selalu membuat segalanya lebih susah? Kenapa dia tak bisa seperti Ran atau gadis lain saja?
Tentu saja tidak, bodoh. Kalau dia gadis biasa, tentu saja dia tak bisa merebut hatimu begitu gampang.
Hanya gadis yang luar biasa yang mampu membuat hidupmu begitu indah dan menghancurkan hatimu sekejap.
"Kau mencintai Shuichi Akai itu?" tanya Shinichi hati-hati.
Akhirnya pertanyaan yang selama ini berputar-putar di otaknya berhasil dikeluarkan Shinichi. Dia menatap Shiho dengan cemas.
"Cukup. Kau tidak boleh bertanya lagi," ujar Shiho marah.
"Apa karena dia pacar mendiang kakakmu?" tanya Shinichi lagi ragu-ragu.
"CUKUP! BERHENTI!" jerit Shiho.
Dia menutup telinganya dan kakinya ambruk melemah. Gadis itu jatuh terhentak di lantai. Mukanya pucat pasi dan air matanya mulai mengancam keluar.
Hati Shinichi mencelos begitu melihat keadaan Shiho. Dia segera menghambur dan memeluk gadis itu.
"Maafkan aku, Shiho… Maafkan aku…aku tak bermaksud begitu. Aku tidak akan bertanya lagi…"
Gadis itu terisak di pelukannya. Isakannya terasa sangat pedih dan meyayat hati. Padahal Shinichi telah berjanji dalam hatinya untuk tidak membuat gadis itu menangis lagi. Padahal dia telah bersumpah akan selalu membuat dia bahagia. Dia memeluk dan membelai punggung gadis itu dengan lembut.
"Shiho… a—aku… aku menyukaimu," ujar Shinichi gugup di telinga gadis itu.
Shiho membelakkan matanya, walau tangisannya masih belum berhenti, dia merasa gamang dan lemah.
"Aku tidak mengharapkan kau membalas perasaanku tapi… aku ingin kau tau, aku akan melindungimu sampai kapan pun," ujar Shinichi dengan wajah memerah.
"Maafkan aku, Shinichi…" isak Shiho pelan.
"Aku mengerti… Jangan minta maaf, Shiho." Shinichi mencoba untuk tersenyum pada gadis itu. Padahal, padahal hatinya hancur saat itu.
Shiho membiarkan pria itu menghapus air matanya. Matanya memerah menatap Shinichi, hatinya ikut menyesal melihat pria itu sangat baik padanya padahal dia memperlakukannya dengan begitu kasar sewaktu pertama kali mereka bertemu.
"Kau tidak boleh menyukai aku, Shinichi. Aku tak pantas untuk itu"
Shinichi mendengus,"Huh"
"Kau membenciku pada saat kita pertama kali bertemu."
"Aku tau… dan aku ingin tetap membencimu. Tapi kelihatannya susah," balas Shinichi nyengir.
"Kalau begitu, tetaplah membenciku. "
"Kenapa kau begitu bersikeras membuat semua orang membencimu?" Shinichi mulai kesal.
"Karena aku tak layak untuk dicintai."
"Siapa? Siapa yang bilang begitu?" tanya Shinichi keras. Dia benar-benar marah sekarang.
Shiho hanya diam. Posisinya masih tetap duduk di lantai. Dia mengalihkan pandangan matanya, tidak mau menatap pria di sampingnya.
"Kau tau? Semakin kau menginginkan aku untuk membencimu dan hasilnya adalah kebalikannya. Jadi berhentilah membuat dirimu sendiri susah."
Shiho tak menjawab.
"Tatap mata aku, Shiho,"perintahnya.
Dia tetap tak bergerak.
Shinichi menggamit dagu gadis itu pelan dan lembut sehingga tatapan mata mereka bertemu.
"Kau lihat, Shiho. Aku tak tau apa yang membuatmu selalu berpikiran negatif tetapi aku ingin kau tau, aku sama sekali tidak ingin membencimu terus menerus. Kau berhak untuk dicintai. Aku tak tau apa yang terjadi dengan masa lalumu tapi jangan biarkan kau terperangkap dalam kebencian yang kau ciptakan sendiri…" ujarnya perlahan.
Mata mereka masih bertemu.
"Kau tau, Shiho. Kau berhak untuk bahagia."
"Shinichi…."
Gadis itu menutup matanya. Tampak gurat kesedihan, keputusasaan, kesakitan masih terbayang di wajahnya. Shinichi tak tahan lagi, dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Memeluknya erat. Mencoba meyakinkan gadis itu, kalau masih ada orang yang memperhatikannya, menyukai, dan mencintainya dengan tulus.
Shiho membiarkan dirinya dipeluk. Badannya terasa lemah seperti telah berlari ribuan kilometer. Entah kenapa, dia merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan detektif ini.
Seperti menemukan kembali rumahnya yang hilang selama ini.
"Terima kasih, Shinichi.." gumam Shiho tulus.
Shinichi tersenyum untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini.
Sekarang dia tak peduli kalau gadis itu menyukai orang lain karena dia rela, rela memberikan seluruh hidupnya untuk gadis ini.
Dia akan sabar menanti, suatu saat nanti, Shiho pasti akan membuka hatinya untuknya.
.
.
.
Tokyo Narita International Airport.
Ribuan orang berjalan hilir mudik. Suara-suara monoton berkumandang lewat pengeras suara. Papan monitor memutar barisan kata-kata yang bergerak cepat mengabarkan kedatangan dan keberangkatan.
Tentu saja pergi dan kembali.
Pertemuan dan perpisahan.
Shiho menemukan dirinya sedang duduk di salah satu bangku panjang bersama puluhan orang lainnya yang sedang menunggu penerbangan ke New York.
Shinichi duduk disampingnya. Mereka tak berbicara. Dan juga tak saling memandang.
Mencoba menikmati waktu tersisa yang terasa menyiksa.
Terdengar pengumuman pramugari dari pengeras suara. Orang-orang mulai sibuk mengambil tas dan barang-barang mereka.
Shiho masih belum bergerak.
"Itu pesawatmu sudah tiba, Shiho." gumam Shinichi hampir tak bersuara.
"Aku tau."
"Jadi…"
Shiho akhirnya memberanikan diri menatap Shinichi, yang anehnya pria itu juga melakukan hal yang sama, tatapan mereka bertemu.
Wajah Shinichi tampak pucat, dia mengeraskan rahangnya.
"Shiho…" gumamnya.
"Selamat tinggal, Shinichi. Selama beberapa minggu ini adalah saat-saat yang paling berbahagia selama aku berada di Japan. Aku bersyukur bertemu denganmu…" Shiho tersenyum tulus.
Shinichi tak menjawab, dia menarik tangan gadis itu dan meremasnya perlahan.
"Kita akan bertemu lagi, pasti!" ujarnya.
"Tentu saja." Shiho tersenyum lagi kemudian dia bangkit berdiri, tangannya terlepas dari genggaman Shinichi.
"Selamat tinggal… pastikan selalu menghubungiku setelah berada disana."
Suara pria itu terdengar berat dan serak.
"Aku tau," balas Shiho pelan. Bibirnya gemetar.
Tatapan mata mereka bertemu lagi untuk terakhir kalinya. Biru mata Shinichi yang penuh emosi dan iris mata lavender kehijauan Shiho berkilauan. Detektif itu tak yakin apakah dia melihat sekilas sebutir air mata yang jatuh di pipi pucat gadis itu atau karena pengaruh cahaya.
Shiho kemudian mengalihkan pandangannya, dia menarik tas kecilnya dan melambaikan tangannya.
Shinichi berdiri memandanginya sampai Shiho memasuki ruangan check-in dan menghilang dari ujung matanya.
Betapa inginnya dia menarik gadis itu dan menahannya, memeluknya, memohonnya supaya jangan pergi tapi dia tau kalau dia tidak boleh egois.
Shinichi berjalan menuju ruangan kaca dimana orang-orang berkumpul untuk melihat terbangnya pesawat sekaligus mungkin bisa melihat kepergian orang-orang tercinta untuk terakhir kalinya.
Detektif itu menghabiskan waktu sepanjang hari disana.
.
.
.
Shiho duduk di salah satu bangku pesawat dan menolak ketika pramugari menawarkan minuman dan makanan kecil. Dia ingin segera tidur, melupakan segalanya sejenak.
Dia teringat sesuatu. Tiga hari yang lalu.
"Miyano-san, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Shiho mengangkat alisnya melihat Ran Mouri mendekatinya dengan wajah serius. Dia sedang duduk di perpustakaan sekolah sambil membaca kamus kedokteran.
"Disini?" tanyanya pelan.
Ran menggeleng,"Ayo kita keluar sebentar, ini penting, Miyano-san. Maaf telah mengganggu waktumu…"
Shiho heran tapi dia mengangguk juga.
Mereka keluar menuju taman sekolah. Shiho memperhatikan kalau Ran tampak cemas. Kedua tangannya bergerak-gerak.
Setelah mengambil tempat duduk disalah satu bangku, Shiho diam membiarkan Ran memulai pembicaraan.
"Umm… Miyano-san. Pertama-tama aku ingin minta maaf karena telah ikut campur masalahmu… tapi karena ini menyangkut Shinichi, jadi aku memberanikan diri…"
"Lalu?"
"Aku tau kalau Shinichi menyukaimu. Sangat menyukaimu."
Shiho diam mencoba menerka kemana arah pembicaraan ini.
"Kau tau ayah dan ibu Shinichi ada profil terkenal di dunia ini. Ayahnya adalah penulis novel misteri terkenal dan ibunya adalah artis yang telah pensiun."
"Aku tak mengerti apa hubungan orang tua Shinichi dengan diriku," ujar Shiho tenang.
"Umm… kau tau kalau ayahku adalah detektif swasta dan mantan polisi. Dia masih memiliki akses untuk beberapa informasi rahasia yang orang biasa tidak mengetahuinya."
"…."
"Ibuku adalah pengacara yang juga memiliki akses untuk meneliti hal-hal yang ingin kuketahui… dan aku tau masalah keluargamu, Miyano-san."
"Apa maksudmu? Apa hubungan keluargaku dengan kau?" tanya Shiho dingin.
"Uh.. tidak.. Aku tau kalau keluargamu ternyata adalah anggota mafia paling berbahaya di New York. Black Organization. Walau orangtuamu sudah meninggal dan mereka tak bisa mengingkari kalau mereka pernah bekerja untuk agen kejahatan…"
"Hentikan, Mouri-san…" desis Shiho.
Ran merasa takut, tapi dia harus berani atau dia akan kehilangan Shinichi untuk selamanya.
"Tidak ada orang lain yang mengetahui masalah ini kecuali aku sendiri dan kedua orangtuaku. Shinichi juga tidak tau. Kau tau, dia bercita-cita menjadi detektif profesional… bagaimana kalau dia tau …. Kalau gadis yang disukainya mempunyai latar belakang yang begitu?"
"Mouri-san. Aku sudah memperingatkanmu. Jangan ikut campur urusanku," desis Shiho lebih tajam. Matanya menyala-nyala, amarahnya muncul.
"Miyano-san. Tolong, aku tau kau tidak menyukai Shinichi seperti dia menyukaimu. Tapi dia masih mempunyai masa depan yang cerah. Dan kau tak boleh berada dalam hidupnya lagi." Ran memohon dengan suara gemetar dan matanya berkaca-kaca.
"Kalau kau sangat menghargai persahabatan Shinichi, tolong dengarkan permintaanku… lagipula kau akan segera balik ke Amerika…" suara Ran menghilang. Dia mulai menangis.
Shiho berdiri dari bangkunya. Nafasnya terasa berat dan menyiksa.
"Tenang saja, Mouri-san. Aku mengerti," gumamnya pelan lalu dia pergi meninggalkan Ran sendirian.
.
.
.
Aku mengeri, Ran Mouri.
Sangat mengerti.
Kami adalah epitomi kejahatan dan kebaikan.
Aku tau.
Dimanapun aku pergi, dosa masa lalu akan selalu mengejarmu.
Kemanapun kau pergi.
Aku minta maaf, Shinichi.
Ini yang terbaik bagi kita semua.
Aku harus pergi sebelum perasaan kita semakin mendalam dan semuanya menjadi lebih buruk.
…..
Shiho membuka matanya. Penerbangan masih akan berlanjut dan dia tiba-tiba merasa kesepian.
Bisakah kau merasa sangat kesepian walau di dunia ini penuh dengan jutaan, bahkan milyaran orang?
Dia tau kalau masa lalu keluarganya mulai meminta balasannya sekarang.
Shuichi Akai.
Pria itu kekasih kakaknya dan salah satu anggota Black Organization.
Dan ternyata mendekati kakaknya sebagai mata-mata dari FBI untuk menyusup ke BO.
Segala sesuatu menjadi lebih buruk.
Kakaknya menangkap basah mereka sedang berpelukan dan melarikan mobilnya dengan kecepatan kencang.
Mobilnya jatuh ke jurang dan tubuhnya tidak ditemukan sampai sekarang.
Mungkin terseret arus yang deras.
Makam di Nomate hanya sebagai formalitas terakhir yang diberikan BO padanya.
Hanya kenangan masa kecil yang samar-samar masih teringat karena setelah kematian orang tuanya, Akemi hidup normal di bawah asuhan orang tua angkat dan dia, dia terpaksa mewarisi penelitian orang tuanya yang belum rampung.
Perjanjian terakhir karena kematian kakaknya, atau sebagai pembebasan dirinya dari belitan masa lalu?
Dia, anggota keluarga Miyano yang terakhir, setelah berumur 18 tahun, akan bebas memilih jalannya.
Dan dia memilih keluar dari BO.
Untuk mengejar mimpinya yang lain.
Sebagai dokter
Dokter untuk menolong orang dari kematian, menyembuhkan, mereparasi organ tubuh yang rusak, mengobati orang yang sakit, baik fisik dan jiwa.
Bukankah terasa ironis dan bertentangan karena masa lalu keluarganya dengan BO?
Terasa sebagai permintaan maaf untuk semua yang telah terjadi di masa lalu.
Ini satu-satunya cara.
Dia percaya kalau dia selalu bernasib buruk karena masa lalu keluarganya dan dia harus membayarnya.
Shiho mencoba tidur, dia menggeser posisinya supaya lebih nyaman.
…dan terlelap dalam 10 menit.
Sementara itu pesawat masih terbang di balik awan.
.
.
.
To be continued…
A/N : thanks buat Renesmee, Kim taeyon, aishanara87, Elena miyano, Shinichi Miyano, marutaro, guest, ayunda, guest, q-kie bocils, recchan, isabella victoria, guest, guest, guest, eunike yuen, Aquos35 yang memberi review.
Aishanara87 : Tenang, fic ini bakal happy ending deh. Seperti kata pepatah : True love never runs smooth yang artinya cinta sejati selalu banyak hambatan jadi sebelumnya harus ada konflik-konflik dulu sebelum happy ending :P
Eunike Yuen : Thanks telah memberikan koreksi, berhubung kadang-kadang gw maunya cepat ngetik jadi kelewatan ngetik titik. haha.
Untuk guest yang barusan review di kumpulan oneshots gw "terlambat", gw uda jelasin itu one shot alternate ending yang gw buat dgn versi sendiri. Semua orang penggemar DC pasti tau kalau SHinichi dan Ran berakhir bersama, jadi versi gw, walau mereka bersama tapi Shinichi terlambat menyadari kalau sebenarnya soulmatenya itu Shiho bukan Ran. Shiho bahagia kok disemua fics gw. Dia yang memilih untuk meninggalkan Shinichi di fic terakhir dan dia tau kebahagiaan Shinichi adalah kebahagiannya juga. Shiho adalah tokoh favorit gw. Cintanya pada Shinichi adalah cinta yang tidak meminta balasan, cinta yang gak egois, dia bahkan mencintai Shinichi yang menyukai gadis lain. Buktinya dia rela membuat antidote walau setelah membuatnya, Shinichi tentu akan balik kepada Ran. Cinta yang luarbiasa dari Shiho tentu saja ga bisa dibandingkan dengan love story kekanak-kanakan lainnya di DC. Menurut gw, Shinichi terlalu bebal dan kekanak-kanakan untuk SHiho, jadi di fic gw, dia lebih dewasa dan keren. haha.
anyway, gw uda tulis chapter terakhirnya dan tinggal diedit aja. Tentu saja happy ending dan ada moment Shinichi-Shiho. Jangan marah yah karena mereka berpisah di chapter ini XD Moga-moga pertanyaan para reviewer terjawab disini.
Sampai ketemu lagi di chapter terakhir.
Oh ya, gw lagi nulis fic baru dgn Shiho-Shinichi-Saguru dengan tema yang lebih dark dan mgkn rate yang lebih tinggi. Ini lagi dalam masa liburan sekaligus nyari ide baru.
See yaa and happy holiday ! ^_^
