Jelujur Cinta chapter 4
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi ( dan sudah tamat TT )
Aomine (Daiki) x Fem!Midorima (Shinta)
Peringatan utama : Bahasa gado-gado tidak sesuai EYD, plot-less pisan, sisanya sama seperti sebelumnya.
.
.
Pesawat komersil milik maskapai dalam negeri itu sudah mendarat di tempat tujuannya.
Bandara Internasional Ngurah Rai Bali yang tidak pernah sepi kecuali di hari raya nyepi secara tidak langsung menyambut kedatangan sepasang suami-istri muda yang baru saja tiba disana.
Dengan udara panas khas kemarau di bulan Agustus.
"Akhirnya sampe juga yah neng," Ujar Daiki setelah mengambil barang-barang bawaannya dan istrinya, Shinta. Mereka berdua memutuskan untuk istirahat sejenak setelah perjalanan panjang di udara yang mereka alami begitu melelahkan dan menegangkan. Tapi 'frasa' mereka sepertinya agak keliru, karena hanya Shinta yang terlihat lemas menduduki koper merahnya dengan tangan menutupi wajah.
Ini yang pertama untuk Shinta, ya, pertama kalinya Shinta naik pesawat. Dari awal Shinta punya firasat tidak enak tentang rencana untuk melakukan bulan madu kedua mereka ke pulau dewata ini. Shinta memakan terlalu banyak sugesti dari berbagai sumber informasi tentang sesuatu bernama jetlag, dan Shinta lebih suka menyebutnya 'mabuk terbang'. Juga tragedi penembakan pesawat MH17 di Ukraina sana yang membuatnya merasa menjadi orang terparno di dunia.
"Mau aa beliin minyak angin di minimarket sekitar sini dulu nggak? Muka neng pias banget aa jadi nggak enak,"
"Nggak usah a, neng minta ambilin sendal crocs yang di goodie bag aja, pegel banget pake wedges ini,"
Daiki nurut mengambilkan istrinya sendal karet ber-sol datar itu, dipikir-pikir lebih bagus karena sepanjang keberangkatannya dari Bandara Husein ke sini Shinta hampir menyaingi tingginya gegara wedges 'Mibuchi Komaladi' kado lebaran dari Mama Shoichi pas silaturahim-mudik 3 minggu ke Cikeas.
Karena Shinta yang tidak enak menolak pemberian mama mertuanya yang selalu tidak boleh dilihat dari harganya itu, Shinta mau tidak mau mengenakan hak tinggi bahan kulit kualitas wahid untuk perjalanannya bersama Daiki ke Bali karena Mama Shoichi rela meluangkan waktunya yang berharga di pasar modal kala itu untuk mengantar putra semata wayang dan menantu yang dicintainya ke Bandara Husein.
Sebenarnya acara bulan madu kedua yang terkesan mendadak ini bukanlah opini dari Shinta maupun Daiki sendiri. Sekali lagi Mama Shoichi adalah dalang dari segala dalang, melihat Shinta yang perutnya tidak kunjung membesar tiap kali bertemu, secara satu pihak mensponsori perjalanan ini dengan fasilitas-fasilitas yang katanya sangat berkualitas. Daiki dan Shinta pun hanya tinggal menikmati, dan membawa hasilnya ke hadapan sang ibunda-mama mertua yang sungguh beliau harapkan.
"Nya atuh teu nanaon lah teteh teu uih enggal-enggal oge, kawajiban teteh pan ayeuna mah tos beda, teteh nyaah ka mertua teh pahalana sarua jeung nyaah ka umi sareng abah da, sok weh bade honeymoon kadua deui mah, ka lembur mah bisa iraha wae panan? Sing seneng di Bali na, iraha deui teteh naek kapal terbang, kade bisi jetleg, ngan awas tong nurutan make bikini! Oleh-olehna mah hasil honeymoon eta weh nya :) Kanggo Daiki jagaan anak umi di ditu, anak umi nu geulis di Bandung ge sok di ketrek komo di ditu bule hungkul!" ( Iya gak apa-apa lah teteh nggak pulang cepet-cepet juga, toh kewajiban teteh sekarang udah beda, teteh sayang sama mertua itu pahalanya sama dengan sayang sama umi sama abah kok, silakan kalau mau honeymoon kedua, ke desa mah bisa kapan aja kan? Yang senang di Bali nya, kapan lagi teteh bisa naik pesawat, awas nanti jetlag, tapi awas yah jangan ikutan pakai bikini! Oleh-olehnya hasil honeymoon itu aja yaa :) Buat Daiki tolong jaga anak umi disana, anak umi yang cantik di Bandung aja udah sering digodain apalagi disana banyak bule! )
Pesan 'singkat' via sms dari Umi Miyaji di Garut sana yang tidak bisa ikut mengantar karena tidak bisa meninggalkan hasil panen nanasnya yang belum diambil langganan dari kota, juga Abah Otsubo yang ditinggal pegawainya pulang kampung dan belum kunjjng kembali, terlalu sibuk mencari penggembala paruh waktu disekitar desa untuk mengurus ternak-ternaknya.
"Mau pergi sekarang neng? Taksi tinggal beberapa langkah lagi ke depan udah nungguin disana,"
Shinta hanya membalasnya dengan anggukan.
Seperti biasa mereka-khususnya Daiki- tiba-tiba menjadi pusat perhatian turis asing yang berada di sekitar bandara. 'Gadis-gadis' pirang yang begitu percaya diri dengan atasan mereka yang tidak beda jauh dengan kaos singlet milik Shinta ada yang sampai menanggalkan kacamata hitam mirip mata capungnya demi melihat secara blu-ray pria tan ber t-shirt 'armany' warna khaki yang dilewatinya itu.
Daiki menaruh barang-barang bawaan ke bagasi taksi khusus dari bandara sementara Shinta sudah duduk santai di jok belakang, tentunya dengan dengkul yang pas-pasan mentok di jok depan sopir. Setelah itu Daiki menyusul masuk.
Wangi apel dan sejuknya AC sedikit memberikan rasa rileks untuk Shinta. Shinta menengok ke jendela di samping kanannya, gapura-gapura warna kelabu tidak pernah lepas di sepanjang horizon kualitas 720p-nya. Tidak terlalu indah di mata Shinta berhubung ukiran gapura itu motif outentik Bali dengan makhluk-makhluk bertaring bermata belo.
"A," Shinta berinisiatif untuk memulai obrolan ditengah sepinya suasana, meski dengan malu-malu gemas.
"Hmmh?" Daiki yang sedang asyik mengurus kebun virtualnya di Galaxy S5 mempause sejenak pekerjaannya dan menoleh pada istrinya yang masih melihat ke arah perkebunan milik masyarakat setempat.
"Menurut aa, apa mamih gak terlalu berlebihan ngasih semua ini buat kita?"
"Dari dulu aa juga nggak pernah ngerti jalan pikirannya mamih, yah mungkin ini caranya mamih nunjukin kasih sayangnya,"
"Neng bener-bener nggak enak sama keluarga aa, terutama mamih, mamih itu udah sibuk banget sama kerjaannya di Jakarta, dan mamih masih bisa ngurusin suami di Bogor, ngurusin aa di Bandung,"
"Aa juga nggak tau, waktu aa belum nikah sama neng mamih gak pernah sibuk-sibuk cari kabar aa,"
"Apa mamih tau kalau neng itu nggak becus ngurus keluarga?"
"Isshh tong lalawora ah neng!"( jangan gegabah ah neng! )
"Atuh da tadi aa bilang sebelum nikah, itu teh namanya firasat ibu, mamih tau anaknya salah pilih perempuan jadi mamih khawatir anaknya gak bisa keurus dengan baik sama istrinya sendiri,"
"Neng ngomongna asa beuki ngacapruk, udah ahh sigana kamu teh masih jetlag, sini tidur aja," ( neng ngomongnya makin ngelantur, udah ah kayaknya kamu masih jetlag, sini tidur aja )
"Gimana kalau mamih nggak dapat apa yang dia mau sepulang kita nanti a?"
"Nggak perlu di Bali juga bisa kok, pokoknya neng jangan stress sama apa yang mamih sama umi omongin, ini liburan bukan tugas,"
"Mamih pasti kecewa sama neng, umi juga pasti sedih kita pulang ke Garut nggak bawa cucu yang diimpikannya,"
"Udah ahh neng, kalo udah waktunya juga pasti kita dapet, udah sok tidur lah,"
"Tapi a-,"
"Ssstt,"
Daiki merangkul Shinta untuk bersandar di dadanya dan Shinta tidak melawan. Tidak lama ia jatuh ke alam bawah sadar sesudah Daiki mengecup pucuk kepalanya dan membelai rambut hijau kepang samping itu dengan lembut. Pemandangan yang mungkin membakar hati dan gejolak rasa pak sopir di depan mereka ditengah fokusnya terhadap jalan.
Nggak ada yang bilang neng itu nggak becus jadi istri rumah tangga
Aa rela melakukan semua pekerjaan di luar maupun di rumah asal neng selalu dan tetap di samping aa
Mungkin bahasanya terlalu lebay dan puitis tapi memang neng-lah tulang rusuk aa dan kayaknya mamih bisa merasakan itu
Makanya mamih sayang kamu walaupun masih kalah sama sayangnya aku
Dan walaupun sayang kamu belum tentu untukku
Sayang itu pasti akan datang seiring dengan impian kita mendapat momongan
Cinta yang tulus ibarat sedekah, hasilnya tidak akan terlihat secara langsung tapi Tuhan yang akan membalasnya
Beban kantuk tak tertahankan yang menurut istilah pribumi pasundan bernama kebluk itu kini sudah lepas dari pundak Shinta. Terserah mau dibilang kampungan mau dibilang dusun mau dibilang oemji hello juga yang penting isi kepala Shinta terasa lebih ringan dan orang lain juga belum tentu merasakan kebahagiaan yang dirasakannya. Naik pesawat terbang menurut Shinta lebih melelahkan daripada elf di terminal cicaheum jurusan Bandung-Garut yang satu joknya bisa muat sampai tiga orang atau Bus Damri jurusan Leuwipanjang-Ledeng yang selalu laku meskipun bagian dalamnya tidak lebih baik dari gubuk derita dan tidak memiliki AC satupun.
Bayangan dibalik iris zambrudnya menampilkan view 3gp, artinya Shinta belum mengenakan alat bantu paling berharganya yang ia sendiri tidak ingat ditaruh dimana. Shinta hanya bisa melihat samar-samar warna coklat dihadapannya. Disebut Daiki tidak mungkin karena coklatnya lebih luas dan mata Shinta masih awas untuk menyebut itu dinding kayu.
"Aa!" Shinta menggumamkan panggilan kesehariannya pada suaminya, berhubung pria yang dicarinya tidak ada disisi lain ranjang seperti biasa. Kamar yang ditempatinya sangat asing dimata Shinta, tentu saja karena sekarang dia bukan berada di Bandung.
"Ditinggal bentar udah kangen banget sama aa neng?" Daiki muncul dari pintu di sudut kamar yang merupakan toilet. Handuk putih dari resort bintang 5 bertengger manis di pinggangnya sampai lutut sementara tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka begitu saja. Secara langsung memperlihatkan kotak-kotak di perut Daiki yang tidak berbeda jauh dengan coklat cadburry bedanya yang ini tidak mudah meleleh.
"A, kacamata neng mana?" Tidak mengindahkan godaan Daiki baik dalam bentuk ucapan maupun penampilannya karena dunianya masih berbentuk abstrak.
Daiki menghampiri istrinya dan duduk di tepi ranjang king size itu dekat dengan nakas jati ukiran tangan, diatasnya terdapat benda bening berbingkai gelap milik Shinta. Daiki mendekat untuk memakaikan kacamata itu pada si empunya.
"Masih pusing?"
Shinta merasa lebih baik dengan penglihatannya yang kembali naik kualitas tapi tidak dengan hatinya. Konser Metallica, Guns n Roses, Avenger Sevenfold, Lamb of God, Slank, Pantura dan sebagainya terasa menjadi kolaborasi dadakan satu panggung di jantung Shinta. Sejak kapan Shinta bisa merasakan genderang ini kala melihat suaminya pamer aurat? Pipi Shinta mendadak panas dan melihat ke arah jendela luar tidak memberikan efek berarti.
"Aa gak malu kamu teh keluar cuma pake handuk?"
"Har ngapain malu sama istri sendiri? Neng yang panggil aa yaudah aa pause dulu mandinya,"
"Ya atuh jawab aja lagi di kamar mandi kek!"
"Oh kalau aa jawab gitu neng bakalan nyusul kesana?"
"Aa cepet pake baju sanah!"
"Pake baju apaan? Mandi aja belum," Kali ini Daiki terkekeh, sadar kalau Shinta sudah hampir surut tsundere melihatnya.
"Yaudah atuh cepet sana! Kalau ada orang datang gimana?" Shinta menimpuki Daiki dengan bantal-bantal yang ada di sekitarnya, pipinya sudah sangat merona begitu menggemaskan.
"Aduh iya bentar, heheheh, jadi neng gak akan ikut sama aa?" Mencoba untuk menggoda istrinya lagi dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Teuing ahh! Aa pikasebeleun!" ( Tau ahh! Aa nyebelin! )
Daiki segera melesat menuju kamar mandi sebelum Shinta semakin ngamuk dan sanggup melemparkan nakas jati kepadanya.
Sementara Daiki sibuk menyejukkan seluruh permukaan kulit eksotiknya dengan air shower dingin di kamar mandi sana. Shinta kembali tiduran, kacamata sudah ia taruh di tempat yang sama dan dia tidak perlu memanggil suaminya lagi.
Gelisah, sayangnya Shinta terus merubah posisinya tapi tetap tidak menemukan sesuatu bernama nyaman. Kamar resort yang terbilang luas dengan gaya semi klasik berdinding kayu tidak merambatkan bunyi sedesimalpun dari luar sana selain bunyi shower yang sedang dipakai Daiki. Kalau Shinta diam otaknya pasti akan mulai berakselerasi tentang sesuatu yang berhubungan dengan cipratan air yang jatuh ke lantai itu.
Menutup kepala pakai bantal pengap, TV terlalu malas untuk dijangkau, micro sd berisi lagu-lagu kesukaannya tertinggal di tempat cincin di rumah, sungguh menit-menit dengan fikiran terkotor tentang Daiki yang baru pertama kali Shinta lakukan. Shinta sangat malu pada dirinya sendiri.
Kenapa nggak pake sisiuk (gayung) aja sih?
Jam menunjukkan pukul 17.30 WITA, sebenarnya mereka sudah check in resort sejak tengah hari tadi namun apa daya Daiki benar-benar tidak tega mengusik tidur cantik sang istri sedikitpun. Daiki berhasil membopong Shinta dengan cukup susah payah, dengan tambahan tidak sengaja menjedukkan kepala istrinya ke pintu taksi yang baru terasa sakitnya sekarang. Beruntung Shinta punya poni yang bisa menutup keningnya yang lebam supaya tidak menambah rasa bersalah suaminya.
"Sekarang jam berapa a?"
"Eta jam payuneun ( itu jam di depan kamu), setengah enam,"
"Iya atuh da mata neng teh kayak aa!"
"Ari kamu nonton nggak pake kacamata?"
"Ini film horror korea kan?"
"Horror apaan ari eneng? Ini kan episode 5 full house tea,"
"Har, jadi neng nonton dua episode dengan burem begitu saja?"
"Kirain neng tau kita lagi nonton apa,"
Tidak di Bandung tidak di Kuta waktu yang kosong mereka isi dengan nonton DVD, Daiki sengaja membawa beberapa DVD film terbaru dan drama korea rekomendasi dari Kang Moriyama sebagai penawar bosan yang ternyata Shinta juga ikut suka. Seperti biasa sofa yang luas pun tiada gunanya karena Shinta sudah kecanduan duduk di pangkuan Daiki, tidak peduli dengan badannya yang kini sudah lumayan berbobot hasil cekokan segala jenis susu formula yang dibelikan dan dibuatkan Daiki.
"Bentar lagi maghrib neng, mau lanjut atau besok lagi?"
"Dilanjut juga percuma, jalan yang 2 episode tadi aja nggak tau kemana," Shinta pundung, beringsut dari lahunan Daiki untuk meraih kacamatanya yang ditaruh di meja.
"Ya atuh sori, nanti kita mundur lagi nontonnya, beres sholat maghrib sok lah,"
"Euhm, besok lagi aja lah a, neng tau perut aa udah bunyi dari tadi,"
"Heheeh, istri aa emang perhatian, kita cari makan di luar yuk neng!"
"Kan disini juga ada restoran a,"
"Aa mah pengen makanan outentik, makanan restoran mah KW,"
"Terserah lah,"
Benar saja setelah menunaikan kewajiban maghrib yang hanya dilakukan Daiki sendiri berhubung Shinta belum mandi wajib sesudah haid, Daiki membawa Shinta jalan malam sekitaran Kuta menikmati ramainya dunia malam yang baru saja mulai. Mekipun bar-bar kelas eksklusif belum seluruhnya buka, samar-samar sudah terdengar dentuman musik entah dari bar atau pedagang DVD.
Shinta tahu suaminya bukan orang baru lagi di area semacam ini, oleh sebab itu Shinta mau melakukan wisata malam ini hitung-hitung mengganti 4 jam di waktu siang tadi karena mencampakkan suaminya ke alam mimpi.
Mengenakan t-shirt couple oleh-oleh dari Mama Shouichi sewaktu kunjungan kerja ke Seoul sebelum ramadhan, Daiki warna hitam garis-garis merah setengah lengan sedangkan Shinta merah garis-garis hitam lengannya panjang. Shinta menguncir kuda rambutnya dengan ikat rambut berbandul strawberry kado ulang tahun dari Daiki 7 Juli kemarin, rambut hijau panjangnya terlihat lebih singset dan sedikit mengurangi panas.
Shinta memutuskan untuk berjalan di samping Daiki setelah mencoba untuk mendahuluinya dan langsung ciut saat beberapa turis asing pria mencoba untuk menempel padanya, bukan satu dua tapi kurang lebih sebanyak anggota Super Junior sekaligus.
"Udah nggak jualan lagi gitu?" Daiki menggumam sambil celingak-celinguk sekitarannya, mencari apa yang ingin dia temukan.
"Nyari apaan sih a?"
"Lapaknya si Teteh Araki,"
"Emang dia jual apa?"
"Baso tahu siomay,"
"Katanya nyari yang outentik, baso tahu di Bandung juga pabayatak(bertebaran) atuh,"
"Iya tadi lupa lanjutin, outentik Bandung maksudnya,"
"Oh si 'Teteh Araki' itu teh orang Bandung," Shinta memberi sedikit penekanan pada ucapan Teteh Araki.
"Iya, dia janda ditinggal cerai, mantan suaminya kepergok selingkuh tapi keukeuh minta balikan, merantau ke Bali biar nggak diteror terus sama istri baru mantannya,"
"Ohoh, janda, kuatka apal kitu..." (Sampe hapal gitu...)
"Dulu tiap aa main ke sini baso tahu itu yang suka jadi tujuan pertama, soalnya lain heureuy (bukan main) ya neng, si ikan tenggirinya teh kerasa pisan tapi nggak amis, bumbu kacangnya lekoh (kental), sambelnya najong pisan (nendang banget),"
"Heuheu, tujuan pertama, nyari batagornya apa yang jualnya,"
Daiki baru sadar beberapa ucapan yang dikeluarkan Shinta nadanya terdengar ketus dan jelas menyindir di bagian akhir meskipun dalam desibel yang kecil. Warna muka Shinta jelas berubah dan terus membuang pandangan ke arah yang tidak tentu. Cemburu, masa iya manusia paling susah move on seperti Shinta bisa cemburu Daiki juga sedikit heran tapi sekaligus cukup senang dan punya bahan baru.
"Udah lama juga sih nggak ketemu, terakhir rambutnya mirip-mirip istrinya Kang Mori,"
"Hmmh,"
"Mungkin sekarang si teteh udah punya restoran kali yah? Gak aneh juga soalnya dari dulu batagornya laku keras, mau makan disana mau dijadiin oleh-oleh rasanya nggak beda, bakat dari kecil mah memang beda,"
"Iya da neng mah apa atuh a? Masak air seteko aja jadi tinggal segelas," Gumam Shinta dalam hati.
"Neng mau apa atuh? Asa diem terus neng teh,"
"Neng ikut aa aja,"
"Yaudah atuh aa nge-line dulu Teh Araki," Daiki mengambil Galaxy S5 di sakunya.
"Jangan Teh Araki atuh a," Shinta berucap secara refleks setelah batinnya menjeritkan 'KAMU TERNYATA PUNYA KONTAKNYA JUGA AA?!'.
"Apa neng?"
Shinta tertunduk dan menghentikan langkahnya, kedua tangannya terkepal di samping menahan apa yang ingin ia jeritkan pada Daiki. Sulit mengatakan kalau Shinta hanya ingin Daiki mengenal satu perempuan, dekat dengan satu perempuan, dan tidak membicarakan perempuan lain. Terdengar cukup egois mengingat Shinta sendiri belum sepenuhnya mengabdi sebagai seorang istri, separuh hatinya masih ada di lain tempat.
"Jangan baso tahu atuh a, neng, neng penasaran pengen masuk ke bar, katanya bar di Bali bagus-bagus,"
"Bar yang mana?"
"Yang mana aja,"
"Euhh, hayu atuh siapa takut, asal jangan nge-oplos yah,"
"Iya atuh neng juga tau, emang siapa yang mau ibadahnya ditolak 40 hari?"
Daiki masih ingat jelas bar terbaik yang dulu selalu didatanginya tiap pelesir Bali sebelum bertaubat. Berhubung Shinta dulu dan sekarangnya masih seorang perempuan kuper, Daiki oke-oke saja memperkenalkan sedikit masa lalunya karena Daiki yakin istrinya tidak akan sekalipun kembali ke gudang dosa ini tanpa pengawasannya. Sekaligus mengalihkan pikiran Shinta tentang seseorang bernama Araki yang diceritakannya tadi karena Daiki melihat aura kegelapan disekitar istrinya.
Bar yang bisa dibilang mewah, seperti biasa nuansanya agak remang minim lampu yang terang. Namun masih bisa terlihat warna dindingnya adalah ruby plus sebenarnya original. Shinta tidak henti-hentinya ber-istigfar dalam hati tempat semahal ini sayang tidak digunakan untuk beribadah. Dentuman musik disko tempo cepat menggema sampai terasa bergetar di jantung Shinta, tidak lebih indah daripada lantunan ayat suci yang dilantunkan Musa Hafidz Indonesia. Tapi Shinta masih belum gentar melanjutkan perjalanannya, demi mengobati rasa penasaran akutnya ini yang sudah diderita sejak SMP.
Shinta duduk di samping Daiki di depan meja bartender, memerhatikan bagaimana suaminya bicara dengan sang bartender begitu akrab. Name Tag di seragam kerjanya bertuliskan Ogiwara Shigehiro. Ternyata teman main Daiki di lingkungan Cikeas semasa SD dan pindah ke Denpasar bersama pamannya setelah kedua orangtuanya cerai. Ogiwara mencari jati dirinya sendirian, sudah bisa men-jugling shaker selulus SMP, sampai akhirnya ditarik owner bar mewah ini dengan gaji meyakinkan.
"Kemana aja kamu ki?"
"Alhamdulillah masih hidup, lu juga kemana aja? Kirain beneran tobat balik ke Bogor,"
"Lebaran kemarin sih gue emang sempet balik, tapi yah kayaknya lebih betah disini,"
"Kalo disini terus kapan lu bisa lamar gebetan, bisi jadi bangke nungguin lu nggak maju-maju Gi!"
"Itu sebabnya gue balik ki, waduh jadi curhat deh, yaah gua keduluan, ternyata anaknya udah dua, kembar,"
"Seriusan Tetsu? Ahh bohong lu mah, dia nggak ngundang gue, dia nggak kasih kabar apa-apa,"
"Ya sama kayak lo kali! Beres UN ngilang, pelanggan ikut turun gegara katanya mereka kehilangan kharisma lo! Sekarang lo kesini lagi, juga nggak sendirian lagi, Alex lo keman-,"
"SODA GEMBIRA AJA GI DUA,!" Daiki memotong ucapan bartender yang Daiki panggil sejak kecil Ogi, karena Shinta langsung menoleh begitu mendengar kalimat terakhirnya.
"Wihh, turun pangkat juga, bentar yaa,"
Suasana hati Daiki terasa sedikit keruh, meski tetap tidak memperlihatkannya secara terang-terangan. Baru mendengar lagi nama yang sudah lama ia singkirkan, Daiki bukannya ingat kejadian manis yang pernah terjadi tetapi malah semakin ingat kejahatannya yang membuatnya hampir menelan permen mentos dengan coca-cola.
Di lain tempat bar yang luas ini ternyata sedang diadakan private party, Shinta baru sadar pantas saja dentuman musik terasa sangat kuat dari ruangan lain yang hanya diberi batas dengan layar bertuliskan invited guest only ini.
"Liat apa neng?" Daiki mengikuti arah pandang Shinta yang tertuju pada sekumpulan kaum jetset yang sedang menikmati dosa indah mereka. Bartender di sebelah sana terlihat lebih sibuk menampilkan atraksi menyajikan cocktail untuk tamu. Sementara orang-orang yang kastanya lebih tinggi lagi hanya duduk santai di sofa merah darah dengan kumpulan botol sampanye utuh dalam mangkuk kristal besar berhiaskan ice carping.
"Apa jadi orang kaya harus kayak gitu a?"
"Itu mah namanya kabina-bina (keterlaluan) atuh, orang yang sakit batinnya dengan rezeki tumpah meruah yah hasilnya gitu. Zakat, infak, sedekah mah jadi nomor berapa meureun (mungkin),"
Daiki serasa menggunjingkan dirinya sendiri di masa lalu, namun apalah daya itu adalah dirinya yang lalu. Pengalaman sebagai guru terbaik, anggap ini adalah metode Daiki dalam membimbing istrinya.
"Nih Ki, melon sama strawberry," Ogiwara menyodorkan dua gelas minuman pesanan Daiki kepada empu pemesan. Daiki dan Shinta kembali beralih pada gelas tinggi dihadapan masing-masing. Shinta memilih strawberry jadi Daiki mengalah dengan mengambil melon.
"Nggak ikut proyek disana lu Gi?"
"Hah? Kagak, shift gua sekarang emang disini, takutnya ada undangan yang anti alkohol, ehh taunya stand gua nggak laku,"
"Ngadain private party tapi bisnis masih jalan,"
"Yaah namanya juga bos yang ngadain, Raden Mas Pangeran Akashi Seijuurou Sadomangkubuwono Rakuzandiningrat Kusumadiharja XIV, haah akhirnya inget juga,"
"Raden Akashi? Si boncel songong?"
"Eehh! Gitu-gitu juga presiden terpilih dodol!"
"Enggak, maksud gua sekarang dia owner disini?"
"Udah hampir 6 bulan sih, Bos Tora jual ini tempat lengkap sama pegawai-pegawainya, Bos Raden beli pake dollar sampai Bos Tora sendiri bisa bangun bar lagi di L.A,"
"Pantesan berubah sampe selega ini,"
Ditengah perbincangan Daiki dengan teman bermain masa kecilnya, Shinta diam-diam mendengarkan sambil menikmati 'soda gembira' miliknya yang langsung tersisa setengah. Telinganya masih sangat tajam untuk mendengar sebuah nama beserta gelarnya yang tidak akan muat daftar absensi yang disebutkan Ogiwara. Oleh sebab itu Shinta memperlambat minumnya untuk lebih konsentrasi.
Siapa yang tidak kenal seorang Akashi Seijuurou, konglomerat kaya pemilik jaringan megabisnis tersukes se-Indonesia Raya Akashi Group. Satu-satunya pengusaha masuk politik yang mendirikan partai, mencalonkan diri, dan mendapat koalisi dengan biaya pribadi. Presiden terpilih 2014 yang menanti pelantikkan dengan merayakan kemenangan semampu yang ia bisa.
Shinta, tahu dan sangat kenal Akashi Seijuurou tidak hanya karena kekayaan yang selalu mengikuti pria bersurai ruby itu. Oleh sebabnya tatapan Shinta menyayu teringat beberapa kenangan pahit manisnya semasa SMA. Akashi Seijuurou, ketua OSIS yang menjabat selama 3 tahun berturut-turut di sekolahnya. Peraih nilai UN tertinggi dengan nilai sempurna yang tidak pernah suka diekspos oleh media, dan salah satu pria berpengaruh di kehidupan Shinta selama bersekolah diluar kota asalnya.
"Aomine Daiki,"
Tubuh Shinta menegang, merasa tidak percaya suara itu memanggil nama suaminya dengan sangat jelas dan penuh kemutlakkan. Apakah Daiki punya suatu hubungan dengan sang kaisar Akashi Group?
Akashi menghampiri Daiki yang masih bersenda gurau bersama Ogiwara. Suami sah Shinta itu menghentikkan tawanya sejenak untuk menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya. Akashi mengenakan setelan warna hitam tanpa dasi, terlihat santai tapi tetap menunjukkan sisi kayanya. Rambutnya dulu bersurai hampir menusuk mata, kini panjangnya setengah dahi semakin mempertegas ke-absahan bangsawannya.
"Eh? Apa kabar pak presiden?" Daiki menyapa Akashi ramah dan santai, seperti biasa.
"Mendengar cerita Shigehiro tentang seorang pelanggan paling royal yang selalu membawa banyak wanita berbeda setiap hari sejak usianya saja masih belum cukup untuk KTP itu kau, aku sangat percaya,"
"Yaah mumpung masih muda cari bahan buat mendongeng apa salahnya kan? Ngomongnya biasa weh atuh Akashi! Siga lain ka babaturan wae (kayak bukan sama teman aja), kalem aja da gua bukan jurnalis!"
"Pacar?" Akashi menunjuk wanita di samping Daiki.
"Alhamdulillah ini pacar halal,"
Akashi mengangguk kecil, iris heterochrome merah-coklat madu itu beralih pandang pada sosok berkuncir kuda yang terlihat gelisah mencoba menyembunyikan dirinya. Rasanya masih terhitung jari perpisahan di SMA waktu itu, gelar siswa berprestasi 1 diraihnya disusul seorang gadis berkacamata dari kelas yang berada di kelas alfabet lain. Midorima Shintarou, gadis kos yang enggan dibelikan apartemen tipe presiden suit, menolak diantar-jemput range rover sport, setia menjabat sebagai wakil ketos 3 periode dan mendampinginya kini sudah mendampingi yang lain, menerima cincin dari yang lain, dan tidur satu ranjang dengan pilihan yang lain.
"Lama tidak bertemu, Shintarou,"
"Lu kenal sama istri gua Akashi?" Shinta bisa dengar nada bicara Daiki agak tinggi, terkejut.
"Teman SMA, wakil ketua OSIS, siswa terbaik kedua, kita beda kelas tapi lumayan kenal,"
"Neng kenapa nggak bilang Akashi temen SMA eneng? Akashi juga temen SD aa dulu, meuni kebetulan pisan,"
"Asa nggak terlalu penting juga sih a, soalnya Raden Akashi sekolah buat formalitas aja," Shinta menjawab sekenanya, menjadi satu-satunya makhluk feminim diantara pria-pria akrab dan saling mengenal satu sama lain bukan hal yang mudah. Salah berucap bisa menyerang satu diantara mereka.
"Kamu masih belum berubah rupanya Shin, apa kamu nggak kangen masa keemasan kita dulu?"
Shinta membesarkan matanya, ruangan ini ber-AC tapi kacamatanya terasa membuyar berkabut. Kalimat yang tidak ingin ia dengar terutama disaat ada suaminya lancar meluncur dari bibir sang kaisar. Shinta tidak bisa membayangkan raut wajah Daiki sekarang.
"Neng, kamu pernah ada affair sama Akashi?" Setali tiga uang, Daiki mengerti bahasa kiasan Akashi.
"Shinta itu perempuan yang elegan, tidak pernah merepotkan sekalipun dia tahu pacarnya bukan orang sembarangan, gengsi dan martabatnya kuat, lebih baik berusaha sendiri daripada dikasihani,"
"Maaf, saya baru tahu anda bisa lebih mengenal diri saya lebih dari saya sendiri, masa kini dan masa lalu tidak semuanya harus sama,"
"Oww, kalau begitu kenapa sekarang kau bersama pria yang tidak berbeda jauh denganku? Kenapa tidak dari dulu kau mengambil apartemen itu? Mobil, perhiasan, dan semua yang kau mau?"
"Saya tahu pilihan saya, dia sangat jelas berbeda dengan anda!"
"Oh ya? Aomine Daiki putra tunggal Presdir PT. Imayoshinori tbk. orang yang berbeda? Shin, shin, kalau saja kamu lebih kenal suamimu, apa kamu masih bisa berucap seyakin itu?"
"Saya bicara seyakin ini karena saya tahu! Maaf saja jika anda berharap saya merangkak kembali ke pangkuan anda, itu sama sekali tidak akan terjadi,"
Daiki tercengang, begitupun Ogiwara. Rasanya lebih menegangkan dari debat capres beberapa waktu silam, tidak ada rasa cemburu sama sekali tertanam di cinta suci Daiki pada Shinta. Meski rasa was-was sedikit Daiki rasakan takut kalau-kalau Akashi membeberkan masa lalunya pada Shinta yang belum sepenuhnya Daiki kisahkan.
"Neng, udah neng istigfar,"
Daiki mencoba menengahi begitu sadar warna muka istrinya meredup, kesal. Bertemu Presiden Terpilih sepertinya bukan waktu yang menyenangkan baginya dan bagi Shinta, sekalipun orang itu pernah menjadi bagian penting dalam kisah perjalanan hidup masing-masing. Lagipula pemilu presiden kemarin dirinya dan Shinta sama-sama sepakat memilih rivalnya Akashi meski pesimis.
"Udah nggak penasaran lagi kan isi bar kayak gimana? Sekarang mending kita cari Baso Tahu Teh Araki,"
"NGGAK MAU BASO TAHU!"
"Iya iya, Ayam Betutu Made Mitobe aja yuuk,"
Ternyata lucu dan kaget juga urusin Shinta yang tiba-tiba rusak mood, Daiki menarik istrinya yang masih menatap tajam sang Presiden Terpilih. Sepertinya masa lalu yang dimiliki Shinta bersama Akashi bukan kisah yang indah seperti kisah lain yang biasa Shinta ratapi, alangkah baiknya pergi sebelum Shinta nekat membuat semua cover berita di harian cetak bertuliskan Presiden Terpilih Disiram Sampanye oleh Wanita Cantik.
"Gi, balik dulu yaah, Pak Presiden, duit minum tadi gua transfer nanti oke!"
.
.
TBC
Aduuh Yaa Allah punten maaf gomen semuanyaa niatnya ini buat ultah si aa kemarin tapi jadinya kejauhan TT-TT, ini terang-terangan pisan plot-hole nya dan sepertinya rasa greget itu kurang didapat, tapi biarinlah selama cinta mereka masih melukiskan sejarah di hati saya everything is allright. Liburan mereka masih berlanjut dan karena kepanjangan saya potong sampai disini, semoga semua reader-san nggak bosen sama gaya tulis saya yang terlalu berurai. Sampai ketemu chapter 5 ^_^ (Masih di Bali)
Catatan kaki :
Tidak bermaksud memasukkan unsur politik
Males edit ( Ya ampun ini keterlaluan)
Dan disclaimer untuk lagu –lagu di chapter 2 sepenuhnya diserahkan kepada penyanyi dan pencipta masing-masing ^_^s
