Jadikan Aku Yang Ke Dua
Pair: Hunkai, /Hunhan/Chankai/slight
Chapter: 4
Rate: M(cuma nyrempet dikit :D)
WARNING: Yaoi, cerita pasaran dan alur yang sangat lambat, bahasa dan penulisan yang tidak sesuai, OOC.
Bagi yang tidak suka cast/pair di ff ini silahkan out dan gak usah dibaca, thank you :* BOW~~
Hope you enjoy this story ^^
.
.
Jongin masih berdiri disana, pikirannya terus melayang memikirkan Kris malam kemarin, Jongin masih bisa mengingat dengan jelas kejadian itu, kejadian dimana Kris ditinggalkan oleh kekasihnya.
''Seharusnya aku ingat lebih awal mungkin aku bisa sedikit menghiburnya dengan mengatakan, dia tidak sendiri ada aku yang nasibnya tidak jauh berbeda dengannya'' gumamnya. ''Walaupun sebenarnya punyaku jauh lebih menyedihkan karena harus patah hati dan menangisi seseorang yang hanya berstatus sahabatku, sedangkan Kris paling tidak mereka pernah menjalin hubungan hahh..''
Jongin kembali mengemut permen lollypop yang ada ditangannya setelah ia bergumam tidak jelas sendiri, dan dia kembali menghela nafasnya begitu menyadari kalau dia masih terdampar dipinggir jalan, tidak tahu bagaimana caranya untuk pulang,
Bukannya Jongin tidak tahu arah jalan pulang, hanya saja dia tidak mungkin berjalan kaki sampai rumah itu akan sangat melelahkan dan dia tidak mau melakukan hal itu.
''Arggh sial masa iya aku harus jalan kaki sih.. Oh sial Sehun setelah sukses membuat mata indahku sembab dan sekarang bocah sial itu akan membuat kaki jenjangku sakit'' teriaknya kesal.
Jongin mengalihkan pandangannya ke sekeliling berharap ada seseorang yang ia kenal diantara orang-orang yang berlalu-lalang itu, tapi kelihatannya Jongin harus kembali menelan kekecewaannya karena dia tidak menemukan orang yang ia kenal disana.
Dengan berat hati Jongin akhirnya melangkahkan kakinya tidak mungkin dia terus berada di sana sepanjang hari, apa lagi saat ini hari sudah beranjak siang dan sinar matahari sudah tidak bersahabat seperti pagi tadi.
Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit sudah kira-kira Jongin berjalan kaki, entah sudah berapa puluh kali Jongin menghela dan membuang nafasnya kasar, dia mulai merasa lelah, bahkan lengan kemejanya juga ikut menjadi korban karena terus ia gunakan untuk menyeka peluh di wajahnya.
Jongin akhirnya memutuskan untuk beristirahat sebentar setelah melihat halte bus yang berada tidak jauh didepannya, dia pun mendudukan diri di salah satu bangku di halte tersebut.
''Ughh sungguh sial hari ini kakiku rasanya sudah ingin patah padahal belum ada tiga puluh menit aku berjalan, Tuhan kirimkanlah salah satu malaikat Mu untuk menolongku hari ini huks'' mohon Jongin yang sedikit berlebihan.
''Do'a mu terkabul anak muda malaikatmu yang tampan dan baik hati sudah ada disini untuk menolongmu'' Jongin menajamkan pendengarannya, sepertinya dia mendengar suara seseorang, seingatnya tadi dia hanya seorang diri disana, dan sialnya lagi suara itu tidak asing ditelinganya.
''Shit sepertinya aku mengenal suara ini, jangan bilang kalau dia adalah.. damn it! Kenapa mahkluk absurt bertelinga lebar ini ada dihadapanku sekarang?''
''Hey hey, aku ini bukan mahkluk absurd sayang walaupun yeah telingaku memang lebar, tapi justru ini adalah salah satu daya tarik ku.. dan hey aku adalah malaikat tampan yang dikirim Tuhan untuk membuat harimu lebih indah'' ucap Chanyeol dengan mengdipkan sebelah matanya, Jongin mendecih melihat kelakuan dan mendengar ocehan Park Chanyeol.
Entah Park Chanyeol datang dari mana yang pasti sekarang dia ada disana, berdiri angkuh tepat didepan Kim Jongin dengan kedua tangannya yang bertengger manis dipinggangnya dan jangan lupakan senyum lebar Park Chanyeol yang penuh percaya diri. Sedangkan Jongin terus mendelik tidak suka pada Chanyeol, yang tentu saja diabaikan Chanyeol yang tetap mempertahankan wajah senangnya.
Perlahan Chanyeol berjalan mendekat dan berjongkok dihadapan Jongin, lalu mulai memijat kaki Jongin, mendapat perlakuan seperti itu tentu saja Jongin kaget walaupun dilain sisi sebenarnya dia senang karena memang kedua kakinya benar-benar terasa pegal dan dia butuh sentuhan tangan untuk memijatnya, tapi karena orang itu adalah park Chanyeol membuat Jongin harus tetap menjaga gengsinya jadi dengan kasar dia menampik tangan Chanyeol.
''Apa yang sedang coba kau lakukan Park?''
''memijat kakimu tentu saja''
''Aku tidak memintamu untuk melakukan itu jadi tolong jauhkan tanganmu itu, jangan menyentuhku''
Chanyeol sedikit mendesah kecewa, dia kemudian bangun dari posisinya semula dan Chanyeol memilih duduk disebelah Jongin.
''Aku hanya ingin sedikit menghilangkan rasa lelahmu'' Chanyeol berkata dengan pelan dia pun lalu membelai rambut, satu kali, dua kali, tiga kali belaian tidak mendapat penolakan dari Jongin membuat Chanyeol tersenyum kecil.
''Aku sudah peringatkan untuk jangan menyentuhku '' suara Jongin kembali terdengar dan menghentikan kegiatan Chanyeol.
''Hahh baiklah aku menyerah..'' Chanyeol mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
''Ayo aku antar kau pulang'' lalu dia berdiri dan menarik tangan Jongin untuk mengikutinya berdiri.
Jongin menengok kekanan kiri mencari sesuatu. ''Aku tidak membawa mobil jadi kita naik bus saja'' Chanyeol mengeluarkan senyuman bodohnya waktu mengatakan itu, Jongin mendecih kembali dan menjawab 'terserah'.
Bus yang mereka tunggu akhirnya datang, Chanyeol lalu menarik tangan jongin menaiki bus, disepanjang jalan memasuki bus itu chanyeol terus tersenyum pasalnya Jongin sama sekali tidak menolak genggaman tangannya, Chanyeol menuntun Jongin lebih kedalam tepat didekat pintu belakang bus. Memang bus yang mereka naiki tidak terlalu penuh sesak tapi disana tidak ada kursi kosong , jadi terpaksa mereka harus berdiri.
Diluar sana tidak jauh dari hate bus tepatnya didalam mobil mewah berwarna merah terdapat seorang pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua pria yang sudah dibawa pergi oleh bus yang mereka tumpangi.
''Oh mungkin Kim Jongin itu kekasihnya, dasar Park chanyeol bodoh! Jelas-jelas membawa mobil tapi malah mengajak kekasihnya pulang menggunakan bus'' pria itu menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Park Chanyeol. Lalu pria itu keluar dari mobil dan berpindah posisi, setelah memasang sabuk pengaman pria itu merogoh kantong celananya mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
''Halo Lu tunggu aku, dalam tiga puluh menit aku tiba dirumahmu'' dia langsung mematikan ponselnya setelah mengatakan itu karena tidak ingin mendengar penolakan dari seseorang yang ia ajak bicara diujung sana.
Pria itu pun merogoh sakunya yang lain mengeluarkan satu kotak kecil, dia tersenyum menatap kotak itu, ''Semoga kau suka ini Lu'' setelah memasukan kembali kotak itu dia pun mulai menyalakan mesin mobil dan pergi menuju rumah seseorang yang ia telpon sebelumnya.
.
.
Disebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup terlihat nyaman dan hangat terdapat pria mungil nan cantik sedang berkutat dengan kegiatannya didapur, menyiapkan beberapa menu makanan, dia pun mulai menata makanan yang sudah selasai ia masak itu diatas meja makannya. Pria mungil itu tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya , dia melipat kedua tangannya diatas meja senyumnya terus menghiasi wajah cantiknya.
Sesekali matanya menatap kearah pintu depan rumahnya seperti sudah tidak sabar menunggu seseorang untuk mengetuknya, dengan berlari kecil dia munuju pintu lalu mengintip keluar dari sela tirai jendela, dia kembali tersenyum dan tertawa kecil lalu menyentuh dadanya yang terus bergemuruh tidak beraturan, dia beralih menyentuh pipinya yang terasa memanas dan merona hebat.
''Hentikan Luhan! Kau bertingkah seperti anak remaja empat belas tahun yang baru merasakan jatuh cinta'' gumamnya pada diri sendiri, ya nama pria mungil itu adalah Luhan.
Luhan mendengar suara handphone berdiring dia pun langsung berlari menuju meja makan untuk mengambil handphonenya yang tadi ia tinggalkan disana.
''Halo'' dengan cepat pula menjawab panggilan itu tanpa melihat ID sang penelpon.
'Halo Lu tunggu aku, dalam tiga puluh menit aku tiba dirumahmu' Luhan menggigit bibirnya setelah mendengar sambungan telpon terputus sebelum Luhan sempat memberi respon, Luhan menatap telepon genggamnya dan pintu rumahnya secara bergantian, raut bahagia yang terlihat sebelumnya diwajahnya berganti dengan raut kegelisahan.
Kakinya tiba-tiba terasa lemas, kepalanya pun menjadi pusing Luhan agak terhuyung tapi beruntung tangannya masih bisa bertumpu pada meja hingga dia tidak terjatuh, nafasnya memburu Luhan menundukan kepalanya dengan kedua tangannya yang tetap bertumpu pada meja.
Beberapa menit ia lalui dengan posisi yang tetap sama dengan sebelumnya hingga ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya, Luhan menarik nafas dalam-dalam lalu mengambil segelas air dan meminumnya kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu depan dan membukakan pintu.
''Selamat siang hyung, apa aku membuatmu menunggu lama?'' tanya seseorang atau lebih tepatnya lagi adalah Oh Sehun yang kini berdiri dihadapan Luhan.
''Tidak, aku baru saja selesai memasak tepat sepuluh menit yang lalu'' jawab Luhan disertai senyum yang sebenarnya ia paksakan kemudian Luhan memeluk pria yang ada didepannya itu, matanya terus menatap lurus jalanan didepan rumahnya berharap seseorang yang lain tidak akan datang dalam waktu dekat.
''Ayo masuk Sehun kau pasti lapar kan? Kau harus mencoba masakanku Hunie'' ajak Luhan riang dia menggandeng tangan Sehun menuju meja makan.
''Wah.. ini terlihat sangat enak hyung'' ujar Sehun setelah melihat beberapa menu makanan yang sudah tersusun rapi diatas meja.
''Jangan memujiku terlebih dahulu sebelum kau mencoba rasanya'' timpal Luhan.
Luhan pun mulai mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk untuk Sehun, sementara Sehun hanya menatap pria cantik didepannya dengan tatapan memuja.
''Berhenti menatapku seperti itu dan mulailah cicipi makanan yang sudah aku sediakan untukmu, apa mereka benar-benar enak seperti yang bilang sebelumnya atau justru sebaliknya'' kata-kata Luhan menghentikan lamunan Sehun dan pria tampan itu pun kembali tersenyum lalu mulai menyantap hidangan yang sudah susah payah Luhan buatkan untuknya.
Moment dimeja makan itu mereka lewati dengan penuh canda tawa, karena Sehun terus saja memuji masakan Luhan dan itu sukses membuat wajah Luhan merona malu mendengarnya. Oh Sehun sangat menyukai moment yang seperti ini dimana mereka berdua tidak berhenti tertawa hanya karena hal-hal kecil, juga karena Sehun bisa melihat dengan jelas rona merah wajah Luhan setiap dia melontarkan gombalan-gombalan manisnya disela obrolan mereka.
Tapi ada yang Sehun tidak sadari raut gelisah Luhan yang tidak berhenti menatap jam tangannya juga sesekali dia melirik smart phonenya yang terus ia genggam. Yeah Oh Sehun benar-benar melewatkan hal itu, mungkin karena cinta sudah membutakan hatinya hingga membuatnya tidak peka dan yang dilihatnya hanyalah cinta dimata Luhan.
''Sehun aku baru ingat kalau aku ada janji penting sebentar lagi dan tidak bisa menemanimu lebih lama, maafkan aku'' Luhan menggigit bibir bawahnya lalu menundukan kepalanya setelah mengatakan itu, dia tidak berani untuk melihat raut wajah Sehun.
Tak lama Luhan dapat mendengar Sehun menghela nafas panjang lalu Luhan merasakan tangan Sehun yang membelai rambutnya dengan sayang.
''Aku mengerti hyung.. tidak usah memasang wajah bersalah seperti itu kita masih punya banyak waktu lain kali, dan aku sudah cukup puas dengan hari ini'' Sehun pun segera menarik Luhan kedalam pelukannya yang tentu saja Luhan membalas pelukan sehun.
Setelah berbincang-bincang sebentar Luhan pun akhirnya dengan berat hati mengantar Sehun keluar, Sehun kembali memeluk Luhan dan tidak lupa memberikan satu kecupan singkat dibibir kekasih cantiknya itu sebelum memasuki dan melajukan mobilnya. Luhan masih setia tersenyum dan melambaikan tangannya sampai mobil Sehun tidak terlihat lagi dimatanya, Luhan lega karena Sehun sama sekali tidak menaruh curiga atau melihat kegelisahan yang dirasakannya. Apa lagi saat mereka baru saja keluar rumah beberapa saat lalu, sebenarnya Luhan gugup setengah mati karena dia melihat satu mobil yang terparkir tepat diseberang jalan rumahnya, dia tahu siapa yang berada dalam mobil itu.
Luhan tetap berdiri dihalaman rumahnya dan dia terus menatap lurus kearah mobil yang sejak tadi mengusiknya, tak lama seorang pria terlihat keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri Luhan. Pria itu semakin mendekat dan sekarang sudah berada beberapa langkah tepat didepan Luhan.
''Jadi bocah yang baru saja pergi dari sini itu kekasihmu Lu?'' pertanyaan pria itu terdengar sangat dingin.
''Iya dia memang kekasihku'' kata-kata Luhan terdengar tak kalah dingin.
''Lu.. aku mohon pertimbangkan lagi keputusanmu untuk menikah dengan bocah itu''
''Berhenti menyebutnya bocah Kris dan kau harus tahu kalau dia jauh lebih dewasa dari pada dirimu''
''Aku mencintaimu sangat mencintaimu dan aku tidak bisa hidup tanpamu, aku berjanji akan perbaiki semuanya maafkan aku Lu maafkan aku''
''Semua sudah berakhir tidak bisakah kau terima itu? Bersikaplah layaknya orang dewasa Kris dan jangan ganggu hidupku lagi dengan bebagai macam janji-janji manismu aku sudah bosan mendengarnya''
''Demi Tuhan Luhan kau salah paham dan biarkan aku meluruskan semuanya berikan satu kesempatan lagi padaku Lu..''
''Tidak bisa Kris seperti yang kau tahu tidak lama lagi aku akan menikah dan aku mohon kali ini jangan rusak rencana pernikahanku, aku hanya ingin bahagia. Pergilah Kris tempatmu bukan disini, hubungan kita sudah berakhir dan aku sama sekali tidak ingin mengulangnya karena aku tahu pada akhirnya akulah yang akan terluka''
Kris terdiam setelah mendengar kata-kata Luhan, hatinya terasa sakit dia ingin menyangkalnya dan terus meyakinkan Luhan tapi dia tahu itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan saat ini karena yang akan ia dapat hanya penolakan dari Luhan yang memang sangat keras kepala dan tidak ingin mendengar penjelasan apapun jika pemuda manis itu sudah merasa tersakiti. Kris menghela nafasnya panjang mungkin mengalah untuk saat ini adalah pilihan yang terbaik dia pun menggenggam kedua tangan Luhan dan menatap mata pemuda yang dicintainya itu dalam.
''Baiklah Lu.. aku akan pergi sekarang tapi tidak berarti aku melepaskanmu, aku mohon pikirkan lagi semuanya dengan kepala dingin, aku tahu kau masih mencintaiku dan kau hanya akan bahagia bila hidup bersamaku''
Kemudian Kris merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu kotak kecil lalu memberikannya pada Luhan.
''Aku ingin kau menyimpan benda ini, kau harus memakainya jika nanti kau berubah pikiran tapi kalau kau tetap pada pendirian dan pilihanmu kau bisa mengembalikannya padaku. Tapi aku mohon pikirkan dengan baik.
Lalu Kris berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan Luhan yang masih berdiri disana, Luhan menggenggam kotak itu dengan kuat entah apa yang dirasakannya saat ini marah, kesal atau sedih dia tidak tahu yang pasti pemuda manis itu sangat ingin sekali menangis. Setelah lelah dengan pikirannya sendiri Luhan pun melangkah memasuki rumahnya, dia meletakkan kotak itu diatas meja dan terus menatapnya Luhan ingin membuka kotak kecil itu tapi dia takut untuk melihat isi didalamnya, dia takut itu akan menggoyahkan pilihan hatinya.
Tiba-tiba saja Luhan mendengar ketukan dipintu rumahnya, dia menggeram kesal siapakah orang yang bertamu saat pikirannya sedang kalut seperti ini. Dengan terpaksa Luhan pun membukakan pintu sebenernya dia ingin mengutuk siapapun itu yang berada dibalik pintu rumahnya tapi bibirnya hanya terkatup rapat setelah melihat sosok orang itu dan dengan cepat dia memberikan senyuman pada orang itu.
"Sehun untuk apa kau kembali lagi?''
''Tadi aku lupa ingin menunjukan ini padamu hyung..''
Luhan menerima sesuatu yang diberikan Sehun, setelahnya Sehun mencium pipi Luhan kilat dan berlari kembali menuju mobilnya dan pergi dari sana. Luhan mengerjapkan matanya melihat tingkah konyol kekasihnya itu tapi Luhan tertawa setelahnya, Luhan menghetikan tawanya setelah menyadari benda apa yang kini ada ditangannya dia lalu membawa langkahnya kembali kedalam rumahnya. Dia meletakan benda pemberian Sehun tepat disebelah Kotak pemberian Kris, Luhan menatap kedua benda itu dengan tatapan sendu, benda yang bahkan berbentuk dan berwarna sama. Luhan juga tahu benar apa yang ada didalam kedua kotak kecil itu, dia mengerang prustasi dan mulai menjambak rambutnya, Luhan juga mulai menangis meraung seperti anak kecil dia benar-benar sangat kalut dan tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan karena jujur saja Luhan sangat bingung dengan pilihan hatinya.
.
.
''Sial kenapa bus ini harus penuh sih aku kan lelah harus berdiri sepanjang jalan huft.. dasar Park Chanyeol juga sialan kenapa kau juga tidak membawa mobil katanya orang kaya cih! Tau begini tadi aku minta kau untuk menelpon Suho hyung saja untuk menjemputku ughh..''
''Kau lelah baby?'' Chanyeol berbisik ditelinga Jongin, karena posisi Chanyeol yang berada tepat dibelakang jongin dan juga bus yang mereka tumpangi sangat sudah sangat penuh berbeda dengan situasi waktu mereka baru menaiki bus ini yang masih cukup lenggang membuat mereka berdua benar-benar sangat dekat, punggung Jongin menempel didada bidang Chanyeol, juga karena tubuh Chanyeol yang lebih tinggi dari Jongin memudahkan dia untuk menunduk dan berbisik ditelinga Jongin, jika dilihat posisi mereka berdua saat ini sangat sensual.
''Jauhkan bibirmu dari telingaku Park.. ini sangat menjijikan'' Jongin mengusap telinganya, dan Chanyeol hanya tertawa mendengarnya. Karena kesal Jongin langsung menyikut perut dan menginjak kaki Chanyeol dengan sangat keras, Chanyeol pun menggeram kesakitan.
''Rasakan kau Park Chanyeol''
''Kau mulai nakal baby'' lagi, bukannya kapok Chanyeol malah makin merapatkan tubuhnya pada Jongin, tangan kirinya memeluk pinggang Jongin dan mulai meraba-raba bagian depan tubuh Jongin.
Jongin membelalakan matanya karena perbuatan Chanyeol, dia ingin sekali teriak dan memaki Chanyeol yang sudah melecehkannya tapi dia malu bus ini terlalu penuh dan dia laki-laki akan sangat tidak elit kalau orang-orang tahu dia sedang dicabuli didalam bus. Jongin yang hanya terdiam dan tidak memberikan penolakan membuat Chanyeol lebih berani melakukan yang lebih jauh, tangan kanannya yang semula berpegang pada tiang atas bus mulai merambat turun dan meraba punggung jongin sensual, Jongin bisa mendengar nafas Chanyeol yang memburu tepat dibelakang telinganya. Jongin menggit bibir bawahnya dan memejamkan matanya bukan, itu bukan karena dia terangsang atau menikmati apa yang sedang Chanyeol lakukan padanya saat ini tapi karena Jongin sangat marah.
Jongin mengepalkan tangannya saat dia merasakan Chanyeol sedang menjilat lehernya dan kini Chanyeol juga mulai menghisap lehernya seperti seorang vampire yang sedang menghisap darah korbannya, Chanyeol melakukannya tidak disatu tempat saja dia menandai beberapa tempat dileher jenjang Jongin. Kemudian tangan kiri Chanyeol mulai turun kebagian depan celana Jongin berusaha untuk memasukan tangannya kedalam sana tapi tangan Jongin dengan cepat mencekalnya tapi Chanyeol tidak cepat menyerah karena dia kini mengelus sesuatu yang berada didalam celana jongin dari luar, Chanyeol meremas bagian itu pelan dan terus melakukan aktivitasnya itu tanpa perduli dengan keadaan sekitar atau bagaimana perasaan Jongin.
Wajah Jongin sudah merah padam dibuatnya, habis sudah kesabaran Jongin, dia sudah tidak tahan lagi,. Dengan kasar Jongin menyentakan tangan chanyeol kemudian berbalik dan berteriak tepat didepan wajah Chanyeol membuat semua mata didalam bus itu kini tertuju pada mereka berdua.
''Yak! Dasar pria mesum sialan kau sedang melakukan apa padaku hah?! Ini pelecehan dan aku tidak akan tinggal diam aku akan menuntutmu untuk pelecehan sexsual yang sudah kau perbuat padaku''
Orang-orang disana mulai berbisik-bisik membicarakan mereka, Chanyeol hanya tersenyum kikuk dan beberapa kali membungkukan badannya sambil terus mengucapkan kata maaf.
''Sekali lagi maafkan kami berdua atas ketidak nyamanan ini, kekasihku memang agak sensitif akhir-akhir ini'' Jongin tambah kesal mendengar penuturan Chanyeol barusan.
''Siapa yang kau sebut kekasihmu Park? Dalam mimpi saja aku tidak akan sudi jadi kekasihmu! Pak supir tolong turunkan kami dikantor pilisi terdekat aku akan melaporkan lelaki berengsek ini''
Disepanjang jalan Jongin masih saja terus berteriak dan marah-marah pada Chanyeol, menyebutnya pria brengsek, pria mesum, pria kurang ajar, tidak tahu diri dan masih banyak lagi, sementara Chanyeol terus menyangkal dan membela diri dengan mengatakan mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar, Chanyeol hanya tidak ingin mati babak belur dikeroyok puluhan orang didalam sana. Akhirnya supir bus itu menurunkan Jongin dan Chanyeol didepan kantor pilisi seperti yang Jongin inginkan.
Keadaan didalam kantor polisi pun tidak jauh berbeda dengan situasi sebelumnya, Jongin yang masih terus mengatakan kalau Chanyeol sudah melakukan pelecehan padanya dan Jongin ingin polisi segera memenjarakan seorang Park Chayeol. Dan park Chanyeol yang terus berkelit kalau itu bukanlah pelecehan karena memang mereka adalah sepasang kekasih.
''Yak! Kim Jongin apa yang lakukan kali ini huh? Kau tahu aku sedang ada rapat penting saat kantor polisi meneponku dan menyuruhku untuk segera datang kemari''
Suho yang baru saja datang langsung memarahi Jongin adiknya.
''Hyung itu semua karena pria mesum ini dia melakukan pelecehan padaku ditempat umum, lihatlah tanda-tanda merah dileherku ini hasil perbuatan mesumnya padaku'' adu Jongin pada Suho,
Suho kaget melihat bercak merah dileher adiknya dia pun langsung mengalihkan pandangannya pada seseorang yang tadi ditunjuk Jongin. Chanyeol hanya memberikan cengiran tanpa dosanya pada Suho yang sedang melotot tajam padanya.
''Yak brengsek apa yang sudah kau lakukan pada adikku huh? Suho kini sedang memukuli Chanyeol dengan brutal, Chanyeol mengaduh sakit dan meminta Suho menghentikan pukulannya yang tentu saja tidak didengarkan oleh Suho.
Keadaan pun menjadi tenang setelah salah satu petugas polisi menggebrak meja dan menyuruh mereka diam. Petugas itupun mulai menjelaskan duduk permasalahnya pada Suho.
''Jongin apa benar yang dikatakan pria ini kalau kau adalah kekasihnya?'' tanya Suho.
''Itu tidak benar hyung.. aku saja baru bertemu dengannya dua kali ini'' kini Suho beralih menatap Chanyeol meminta penjelasan setelah mendengar penutura adiknya.
''Kau jangan percaya ucapannya dia memang kekasihku'' dengan percaya diri Chanyeol mengatakan itu.
''Hey hentikan omong kosongmu Park Chanyeol'' bentak Jongin.
Chanyeol menatap Suho lalu berkata ''Kau bisa bertanya pada sepupunya yang bernama Chen kalau kau tidak percaya''
''Chen?'' Jongin bergumam dan terlihat sedang berpikir keras.
''Iya Chen, kau lupa perjanjian kita diakhir pertemuan kita yang pertama baby?'' tanya Chanyeol dengan senyum miringnya. Jongin menggeram kesal saat dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh Chanyeol, Jongin menjatuhkan kepalanya dengan lemas keatas meja melihat itu membuat Chanyeol tersenyum senang dan mengedipkan matanya pada Suho sedangkan Suho hanya memutar bola matanya malas.
''Jongin jadi itu benar''
''Hyung.. tidak seperti itu, aku.. itu.. emm..'' Jongin bingung harus memberi jawaban apa untuk hyungnya.
Suho menghela nafasnya dan mulai berbicara dengan petugas polisi disana kalau masalah ini mereka akan menyelesaikannya secara damai dan tidak perlu diberakhir dimeja hukum, setelah menandatangani beberapa berkas persetujuan damai mereka pun segera keluar dari kantor polisi. Jongin masih kesal sebenarnya karena dia tidak bisa membuat Chanyeol mendekam didalam sana, tapi dia bisa apa? Ini semua karena kecerobohannya yang dengan mudah melakukan taruhan konyol itu dengan Chanyeol.
''Jongin cepat masuk aku akan mengantarmu pulang'' Jongin mengangguk lesu dan masuk kedalam mobil Suho.
''Bagaimana dengan aku? Kau tidak ingin mengantarkan aku pulang juga?'' pertanyaan Chanyeol menghentikan langkah Suho, Chanyeol menggaruk kepalanya karena mendapati Suho yang kini sedang memberikan tatapan membunuh padanya.
''Urusan kita belum selesai tuan Park Chanyeol.. kau berhutang banyak penjelasan padaku'' setelah berkata seperti itu Suho langsung masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan kencang. Chanyeol mengangkat bahunya acuh melihat kejadian itu dan setelah mobil Suho menjauh Chanyeol langsung menelpon seseorang untuk menjumputnya.
.
.
~TBC~
.
.
Hai annyeong.. maaf banget baru bisa update ff ini setelah berbulan-bulan, semoga masih ada yg inget sama ff ini hehe :D dan juga yg minta hunkai momentnya belum bisa aku tulis karena memang alur ceritanya begini, hunkai momentnya belum pas buat dimasukin smoga mengerti. Okai segini aja cuap cuapnya see yaa...^^ DEEP BOW !
Want to review? Thank you ^o^
