DAY: 3

Another mess

XXX

Masih pagi, tapi sepertinya rumah Baekhyun tidak pernah sepi dari segala hal berbau kerusuhan. Contohnya pagi ini—dengan pelaku utamanya Park Chanyeol dan Oh Sehun.

"Aku tidak mau," Elak Chanyeol malas.

"Heh, memangnya aku mau?!" Seru Sehun membalas Chanyeol.

Sedangkan Baekhyun yang sudah dengan seragam polisinya membalut tubuhnya siap berancang memukul kedua pria didepannya dengan tongkat polisinya.

"Kalian ingin aku dipecat karena terlambat ke kantor, ya? Cepat sana kalian berdua berangkat!" Seru Baekhyun setengah membentak kesal. Tapi kedua pria yang tingginya jauh diatasnya ini malah memilih saling menatap tidak mau kalah.

"Aku bisa naik bus," Ujar Chanyeol.

"Tidak bisa, kau sedang dalam masa hukuman. Kau bisa kabur," Tolak Baekhyun, kini beralih menatap Sehun. "Lalu, kenapa kau menolak permintaanku untuk mengantarkan Chanyeol ke sekolahnya?"

"Baek, mobil porsche-ku terlalu bagus untuk mengantarkannya. Bagaimana kalau didalam perjalanan dia mencekikku hingga pingsan, melempar tubuhku disemak-semak pinggir jalan dan membawa kabur Sarah?" Sehun berkata dengan gaya khasnya—selalu membuat hal menjadi dramatis. Membuat Baekhyun benar-benar melayangkan tongkatnya untuk memukul pantat Sehun.

"Aw—Baek! Kau memiliki kink terhadap pantatku, ya?!"

"Siapa Sarah?" Tanya Chanyeol setelah berpikir keras beberapa saat.

Baekhyun mendesah. "Itu mobilnya." Ia melihat kearah jamnya yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Membuatnya dirinya mengerang dan cepat-cepat mengambil kunci mobilnya.

"Aku benar-benar tidak peduli dengan mobilmu Sehun, pokoknya antarkan Chanyeol ke sekolahnya atau Sarah akan aku tahan di kantor polisi karena kau memodifnya secra ilegal!" Setelah berseru seperti itu, pintu ditutup—tak lama setelahnya suara mesin mobil dinyalakan dan melaju juga terdengar.

Sehun berdecak, menatap kesal Chanyeol. "Kalian benar-benar berselingkuh dibelakangku, ya?"

Chanyeol hanya meliriknya malas. "Ya, selamat untuk itu."

XXX

Baekhyun langsung menghela nafas lega setelah bunyi beep terdengar. Ia tidak terlambat, syukurlah. Jika saja ia memilih membeli mandu di jalan, sudah bisa dipastikan ia terlambat.

Baekhyun berjalan menuju mejanya, menghempaskan dirinya di kursi kerjanya. Sedikit cemburu melirik divisi kejahatan berat dan divisi cyber crime yang tengah sibuk. Sedangkan orang-orang di divisinya—divisi keamanan dan lalu lintas terlihat santai. Bahkan ia bisa melihat rekannya ada yang sedang bermain the sims di komputer atau yang lain sedang sibuk menonton TV yang menampilkan iklan susu bayi sekarang.

Baekhyun tau-tau cemberut, menempelkan wajahnya di meja kerjanya. Divisi kejahatan berat terlihat sangat keren. Mereka detektif, memiliki kemampuan bela diri jauh lebih unggul dari pada yang lainnya. Mereka menguasai hapkido, judo, kendo, karate mungkin masing-masing minimal pada tingkat dua puluh. Mereka jarang memakai seragam, hanya digunakan saat acara formal saja. Tugas mereka melakukan pengintaian, menyelidiki kasus, menginterogasinya, dan menangkapnya. Mereka juga suka menyamar menjadi segala macam dan sering melakukan hal-hal keren seperti di drama.

Divisi Cyber crime juga sama kerennya. Mereka jarang keluar dari ruangan dengan pendingin udara mahal itu. Didalam sana banyak tersedia selimut dan bantal. Mereka boleh memesan makanan dengan jasa pesan antar. Mereka selalu berkuta dengan komputer dan alat-alat keren lainnya. Mereka kadang juga suka berbicara dengan bahasa aneh—sebenarnya itu hanya istilah yang mereka sering gunakan di teknik komputer tapi Baekhyun 'kan tidak mengerti.

Sedangkan divisinya? Menilang pelanggar lalu lintas, memberikan kartu denda bagi yang parkir sembarangan, membantu anak sekolah menyebrang atau menghalau anak-anak sekolah tawuran.

Ya beberapa kali ada, sih, yang sebenarnya terlihat keren. Seperti disaat mereka mengejar-ngejar pencuri di minimarket dan dengan kerennya meringkus pencuri itu dengan borgol.

Salah Baekhyun juga yang memilih divisi ini. Ia tersenyum miris mengingat bahwa mantannya—Jongin yang membuatnya memilih divisi ini. Tapi pria itu malah dipindahkan ke divisi kejahatan berat, naik pangkat, hingga akhirnya dipindahkan kantornya sebelum akhirnya memutuskannya via pesan.

Bajingan.

"Ada apa dengan wajah kusutmu? Apa Chanyeol membuat masalah?" Baekhyun sedikit tersentak saat tiba-tiba Kris mengambil tempat duduk disebelahnya.

"Tidak, anak itu berlaku selayaknya anak normal. Terlalu normal untuk ukuran anak yang sedang ditahan oleh kepolisian." Kris terkekeh mendengarnya, mengusap-ngusap rambut Baekhyun.

"Ayo Baekhyun, semangat. Demi kenaikan gaji dan pangkat!"

Baekhyun mengangguk, seperti mendapatkan dorongan energi positif dari kalimat Kris. "Tentu saja, demi kenaikan gaji dan pangkat!"

"Nah, karena kau sudah semangat lagi, tolong patroli, ya. Berikan kartu ini bagi mobil-mobil yang sembarangan parkirnya." Senyum Baekhyun langsung luntur begitu Kris melemparkan seplastik kertas berwarna merah—itu tiket pelanggaran yang akan dia selipkan di sela pembersih kaca mobil.

"Aku benci kau."

XXX

"Jadi kau memperdaya Baekhyun?"

"Tidak."

"Kau memiliki niat buruk terhadapnya?"

"Tidak."

"Kau ingin menculiknya lalu menjualnya di pasar gelap?"

"Tidak."

"Kau ingin mendorongnya ke jurang lalu mengambil seluruh aset hidupnya?"

"Bisakah kau diam dan hanya fokus menyetir?" Chanyeol berujar jengkel, akhirnya melirik Sehun tidak suka.

"Aku ini seorang psikolog, aku bisa mengetahui ada motif yang tidak beres dari statusmu sebagai tahanan dirumah Baekhyun," Balas Sehun dengan decakan diakhirnya.

"Baru pertama kali aku melihat ada seorang psikolog yang paranoid. Satu-satunya yang memiliki motif tidak beres dirumah petugas Byun adalah kau," Kata Chanyeol sengit, namun tetap tenang. Sebenarnya percakapannya sekarang cukup menyenangkan.

"Hah, susah bicara dengan anak remaja," Keluh Sehun pada akhirnya—tidak mendapatkan informasi apa-apa dari Chanyeol.

"Iya, susah bicara dengan orang dewasa yang isinya anak-anak usia dua tahun."

"Hei, kalau begitu aku masih merangkak!"

"Memang, otakmu juga masih merangkak untuk naik dari dengkul menuju kepalamu, kan?"

"Yak! Kau—"

"Oh, lihat! Sekolahku disini. Terimakasih atas tumpangannya dokter Oh." Sehun terpaksa mengerem mendadak karena tiba-tiba Chanyeol memencet tombol membuka kunci mobil lalu dengan kecepatan nano detik membuka pintu mobil dan melompat keluar sebelum langsung berlari menuju sekolahnya.

Sehun melotot melihatnya, yang Chanyeol lakukan sama persis seperti adegan di film mission impossible yang kemarin Sehun tonton.

Ia menutup pintu mobilnya, kembali melaju menuju tempat kerjanya sambil mengeleng-geleng.

"Setidaknya dia memanggilku dokter, tadi."

XXX

Begitu Chanyeol melemparkan tasnya ke bangku sekolahnya dan duduk mengangkat kaki keatas meja layaknya seorang bos, mejanya langsung dikerubungi dua temannya.

"Hei, kau tidak apa-apa? Apa ayahmu marah?" Tanya temannya—Taejoon khawatir.

"Kenapa tidak mengabari kami setelahnya? Kami kira polisi itu menahanmu dibalik sel, tahu!" Kini Jiho menyampaikan protesnya. Namun Chanyeol terlihat tenang-tenang saja.

"Semuanya aman terkendali. Ayahku tahu tapi dia tidak marah walau aku harus tinggal selama seminggu di rumah polisi itu sebagai hukumannya."

"Oh syukurlah ayahmu tidak marah—APA? KAU TINGGAL BERSAMA POLISI ITU?!" Seru Jiho kaget, langsung menggoyang-goyangkan bahu Chanyeol dramatis. "Apa selama akhir pekan kemarin kau disiksa? Dicambuki? Diperbudak?"

Taejoon langsung menghentikannya aksi Jiho dengan memukul pelan kepala bocah itu. "Hei, berhentilah menonton film-film seperti itu."

Chanyeol tertawa melihat kedua temannya mengkhawatirkannya. Mereka lanjut mengobrol menunggu bel masuk berbunyi.

Tapi suara derapan kaki kencang terdengar, membuat seisi kelas Chanyeol menoleh penasaran kearah pintu menunggu siapa yang akan datang.

Lalu adik kelasnya datang, dengan wajah ketakutan.

"Kak Chanyeol, mereka ada didepan. Banyak. Sedang mencarimu."

Jiho dan Taejoon langsung bersiap akan berlari keluar begitu mendengarnya, namun tangannya langsung ditahan Chanyeol.

"Mereka hanya mencariku. Biar aku sendiri saja."

XXX

"Astaga, ini mobil yang ke dua puluh satu hari ini. Kenapa orang-orang suka sekali parkir sembarangan?" Baekhyun berdumel sebal, menarik tiket merahnya dan menyelipkannya disela pembersih kaca mobil.

Baekhyun kembali masuk kedalam mobilnya, tidak menemukan mobil yang parkir sembarangan lagi—syukurlah. Matahari bahkan belum tepat berada diatas kepalanya, tapi Baekhyun sudah mendapatkan dua kali makian hari ini. Yang pertama dari seorang ibu-ibu yang tidak terima harus bayar denda dan mengatai Baekhyun sebagai polisi gadungan yang hanya ingin uangnya dan seorang pria mabuk yang keluar dari dalam mobilnya begitu Baekhyun sedang menempelkan kartunya. Mengira Baekhyun adalah patner one night standnya yang sedang meninggalkan nomor telpon dan kabur begitu saja. Begitu Baekhyun bilang bukan, laki-laki itu malah mengamuk.

Gila.

Baekhyun memutuskan untuk menepikan mobil di mini market—parkir pada tempatnya tentu saja. Ia masuk hanya untuk membeli sebuah sosis dan sekaleng kopi dingin, namun begitu ia keluar suara gaduh terdengar dari ujung jalan.

Baekhyun melotot kaget melihat ada perkelahian antar anak sekolah. Banyak anak berseragam sekolah berwarna biru melawan satu anak sekolah berseragam warna merah.

Baekhyun menahan kesalnya begitu melihat siapa yang mengenakan seragam berwarna merah itu.

"Berandalan Park ini," Geram Baekhyun. Ia langsung masuk kedalam mobil polisinya, membunyikan sirine dan menyalkan speaker-nya.

"KALIAN YANG SEDANG BERKELAHI, HENTIKAN SEKARANG JUGA!"

Gerombolan itu langsung tersentak kaget. Buru-buru melepaskan dirinya dari cengkraman Chanyeol dan kabur begitu saja. Meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri disana, sedang memejamkan matanya kesal.

Baekhyun mematikan sirinenya. Tidak berniat mengejar gerombolan lain yang kabur. Prioritasnya adalah Chanyeol saat ini. Baekhyun keluar dan segera menarik Chanyeol untuk masuk kedalam mobilnya—Chanyeol hanya diam dan menurut.

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau bahkan tidak sekolah!" Bentak Baekhyun kesal, memcengkram kemudinya kuat.

"Mereka mendatangi sekolah, jika tidak aku tanggapi mereka akan melukai anak sekolahku," Balas Chanyeol pelan.

"Woah, berjasa sekali dirimu Park. Ada guru atau orang dewasa di sekolahmu, tidak perlu selalu turun tangan dan dengan sok pahlawannya menghajar mereka semua!" Bentak Baekhyun lagi kesal.

"Mereka tidak akan berhenti jika itu bukan aku." Chanyeol menjawab seraya menatap kearah jendela, sedikit takut melihat wajah marah Baekhyun.

"Ini baru hari pertamamu keluar rumah, dan kau sudah begini. Besok akan aku pastikan kau hanya pergi kedua tempat, sekolah dan rumah. Anak sepertimu memang tidak bisa diberitahu sekali."

Chanyeol menghela nafasnya. "Maaf."

Baekhyun melunak, ganti menatap Chanyeol prihatin. "Aku hanya tidak mau hukumanmu jadi jauh lebih lama, oke? Kau juga harus bermain keluar bersama teman-temanmu dan melakukan hal yang lain. Selama masa hukumanmu, kau tidak bisa berbuat banyak. Aku tahu itu memuakkan."

"Iya, aku tahu," Balas Chanyeol lagi.

"Apa kau baik-baik saja, ada yang terluka?" Tanya Baekhyun lagi, kini sesekali menatap jalanan dan mengecek kondisi tubuh Chanyeol.

Chanyeol menggeleng, tapi menunjukkan siku berdarah dan pelipis lebamnya. Membuat Baekhyun meringis melihatnya.

"Sebenarnya, apasih masalah mereka denganmu?"

"Yah pokoknya sebelum aku pindah kedaerah sini, sekolah mereka adalah sekolah yang terkuat. Pokoknya mereka selalu menantang sekolah lain untuk berkelahi dan mengalahkannya—ya istilahnya jagoan wilayah ini. Waktu itu aku melihat salah satu temanku sedang dipukuli oleh mereka, ya aku tolong. Aku menang saat itu, membuat mereka marah dan terus mengangguku. Tapi aku ketagihan juga."

"Hah? Kau ketagihan berkelahi? Apa aku harus meminta Sehun mengecek keadaanmu?" Sergah Baekhyun kaget, menatap Chanyeol tidak percaya.

"Bukan seperti itu. Aku ketagihan merasakan sensasi kemenangan. Ya memukul orang juga rasanya tidak buruk sih," Jawab Chanyeol diakhir tawa kecilnya.

"Kutarik rasa simpatiku. Pulang langsung kerumahku, aku akan memberikanmu hukuman tambahan karena telah melanggar peraturan." Chanyeol merasakan mobil berhenti, melihat kearah kaca mobilnya dan menyadari mereka berhenti di sekolahnya.

"Astaga kita kembali ke sekolah? Aku kira kita langsung pulang kerumah dan aku bolos hari ini." Chanyeol merengek, sudah tidak mood sekolah.

"Mau pulang sekarang? Tapi aku akan memberikan hukuman yang lebih kejam," Ancam Baekhyun, membuat gestur memotong lehernya sendiri dengan jempolnya.

"Tidak terimakasih. Sekolah terdengar jauh lebih menyenangkan."

"Pintar. Sekarang masuk kedalam kelasmu dan belajar yang rajin."

XXX

Baekhyun meregangkan persendiannya. Dari pinggang hingga lehernya terasa pegal karena duduk terlalu lama. Ia baru saja selesai membuat laporan penilaian hari ini—maka tugasnya hari ini selesai sudah. Ia lapar, mengantuk, dan ingin cepat-cepat memberikan Chanyeol hukuman. Gudang lotengnya sudah lama tidak dibersihkan dan tenaga Chanyeol akan terasa sangat membantu.

Namun begitu ia akan berjalan keluar, ia bisa melihat semua tatapan menatapnya tidak percaya.

"Well, ada apa dengan semua tatapan ini?" Tanya Baekhyun heran sendiri.

"Aku tidak tahu Baek kau sudah menikah." Perkataan salah satu rekannya membuat dirinya makin heran.

"Aku? Menikah?" Baekhyun menunjuk dirinya sendiri tidak percaya.

"Suamimu menunggu didepan kantor. Menjemputmu dengan porsche silver. Aku tidak kau memiliki suami yang tampan dan kaya raya. Tahu begitu dari dulu aku berbaik hati padamu untuk urusan jam jaga." Ujar yang lain membuat Baekhyun menyadari apa yang sedang terjadi.

Dipojok ruangan, ia bisa mendengar suara tawa Kris yang menggelegar.

"Sialan, Oh Sehun." Baekhyun buru-buru berjalan keluar, langsung mendapati Sehun duduk di kursi tunggu—dengan kaos hitam yang dimasukkan kedalam celana pensil, sepatu airwalks berwarna biru dongker dan entah kenapa Sehun memakai kacamata hitamnya didalam ruangan. Tapi yang paling membuat orang-orang dikantir polisi menatapnya adalah jam tangan rolex yang melingkar di tangannya juga mobil mewah yang terparkir didepan.

Senyum Sehun langsung mengembang. Ia langsung melepaskan kacamatanya dan akan menyambut Baekhyun dengan sebuah pelukan.

"Maju selangkah atau kemaluanmu benar-benar kutendang," Ancam Baekhyun sudah siap dengan pose kuda-kudanya.

Langkah Sehun terhenti dan dia langsung merajuk. "Kenapa galak begitu? Aku sudah berbaik hati menjemputmu."

"Yeah, terimakasih juga sudah menjemputku dengan Sarah dan mengatakan kepada seluruh orang di kantor bahwa kau suamiku." Baekhyun memutar bola matanya malas. Berbanding terbalik dengan Sehun yang malah merangkul Baekhyun sambil terkekeh kecil.

"Hei kau suamiku oke. Kau mengurus makanku, mengurus pakaianku, tidur bersama—"

Mata Baekhyun langsung melotot. Tangannya dengan cepat menutup mulut Sehun, panik melihat semua orang dikantor yang sedang mengintip mereka memasang ekspresi terkejut.

"Kau akan habis malam ini," Desis Baekhyun penuh bahaya, sebelum menyeret Sehun keluar dari kantor.

"Apa mereka sedang bertengkar?" Kris tertawa mendengar rekannya bertanya dan hanya bisa menganguk.

"Iya, makanya jangan menikah di umur yang masih muda, oke?"

XXX

Pemandangan yang Chanyeol dapatkan setelah ia mendengar suara pintu dibuka adalah Baekhyun yang sedang marah-marah dan Sehun yang malah terus cengengesan. Pemandangan biasa.

"Syukurlah kau sudah pulang. Apa Sehun menjemputmu?" Tanya Baekhyun seraya berjalan ke dapur hendak mengambil air minum—tenggorokkannya terasa kering sehabis sibuk memaki.

Chanyeol baru saja akan menjawab tapi ia bisa melihat Sehun dibelakang Baekhyun memberikannya kode untuk menjawab iya. Tentu saja Chanyeol langsung mengabaikannya.

"Diantar teman. Tadinya mau baik bus, tapi aku lupa tidak punya uang sama sekali," Jawab Chanyeol sambil meledek melirik kearah Sehun yang sedang melotot kepadanya.

"Sehun, kau bilang akan menjemputnya! Malah menjemputku!" Baekhyun mendelik menatap Sehun jengkel. "Astaga, seluruh uang sakumu ada di aku. Maafkan aku, aku buru-buru pagi ini. Kau belum makan siang berarti?" Tanya Baekhyun khawatir.

"Belum...Tapi kurasa itu bukan masalah besar—"

"Bukan masalah besar apanya! Kau baru saja terlibat perkelahian dan belum makan apa-apa dari siang. Kau tidak boleh sakit atau atasanku akan marah besar!" Baekhyun berseru memotong kalimat Chanyeol. Buru-buru membuka kulkas dan membuat makanan apa saja.

Chanyeol sedikit cemberut mendengarnya. Itu terdengar seperti Baekhyun khawatir akan tidak jadinya ia naik pangkat karena Chanyeol sakit bukan benar-benar mengkhawatirkannya. Tapi dia bisa merasakan Sehun duduk disebelahnya, menatapnya curiga.

"Apa?" Tanya Chanyeol tidak nyaman di tatap seperti itu.

"Kau terlibat perkelahian hari ini?" Tanya Sehun balik.

"Iya. Dan untuk apa kau penasaran untuk itu?" Balas Chanyeol lagi heran.

"Tapi aku kira kau anak yang patuh," Ujar Sehun lagi.

"Maksudnya?" Chanyeol tidak mendapatkan poin utama dari maksud pertanyaan Sehun.

"Kau tidak sedang berusaha untuk memperlama masa hukumanmu untuk tinggal disini kan?"

"Hei, darimana datangnya ide itu?" Protes Chanyeol tidak terima. Walau sebenarnya beberapa fakta benar, tapi perkelahiannya tadi siang sama sekali bukan kemauannya.

Wajah Sehun kian mendekat. "Benarkah?"

Wajah Chanyeol juga mendekat. "Iya benar."

"Baru saja tinggal memasak sebentar, dan kalian sudah hampir berciuman. Jangan lupakan pengaman Sehun. Aku keatas dulu ingin mandi, makananya sudah siap."

Chanyeol dan Sehun langsung menjauhkan wajahnya, menatap satu sama lain dengan pandangan horor sebelum menatap punggung Baekhyun yang sedang menaiki tangga.

"KAMI TIDAK BERCIUMAN!"

XXX

"Jadi ini hukumanku kali ini?" Chanyeol menatap keseluruhan loteng Baekhyun yang berdebu. Banyak barang-barang lama dan kardus-kardus yang tersusun agak berantakan. Banyak debu dan sarang laba-laba tapi untungnya dia belum menemukan yang sejenis tikus atau kecoak.

Setidaknya belum.

"Coba nyalakan lampu itu." Chanyeol kembali menatap Baekhyun yang sedang beridi di tangga lipat, mencoba memasang lampu sebelum akhirnya melakukan apa yang disuruh Baekhyun.

"Berhasil," Ujar Chanyeol begitu semuanya jadi terlihat terang. Baekhyun baru menyadari bahwa cat loteng itu berwarna biru muda yang cerah dengan gambar-gambar yang dilukis tangan.

Baekhyun turun dari tangganya, menatap sekitar—wajahnya terlihat berubah sedih tapi dengan cepat ia ubah kembali.

"Dulu, hampir setiap malam aku ke loteng ini. Dulu, ini tempat yang menyenangkan. Setiap malam kami akan kesini dan melihat benda langit dari sini." Baekhyun menarik kain yang menutupi suatu benda—sebuah teleskop. Terlihat masih baru untuk ukuran benda berdebu.

"Lukisan yang ada di dinding bagus, kau yang melukisnya sendiri?" Tanya Chanyeol, menyusuri dinding loteng berdebu itu. Sebelum tangannya berhenti disebuah tulisan.

KJI X BBH

Chanyeol berpikir. Apa itu yang dimaksud dengan kami oleh Baekhyun pada kalimatnya tadi?

Baekhyun hanya mengangguk, sebelum berjalan akan turun dari loteng. "Kau bereskan saja dulu yang ada dikardus-kardus. Aku akan mengambil vacum cleaner, sapu atau mungkin meminta Sehun membantu jika ia bisa diandalkan."

Begitu Baekhyun turun, Chanyeol mulai merapihkan kardus-kardusnya tanpa mengeluh. Ia cukup menyukai loteng ini. Jika ia memilikinya dirumah, mungkin sudah ia jadikan kamar. Apalagi dengan ada teleskop keren yang mengarah ke jendela. Itu sangat keren Baekhyun memiliki sesuatu yang seperti itu.

Chanyeol membuka kardus yang pertama, tersenyum melihat banyak foto-foto Baekhyun kecil dan buku diary usangnya. Ada satu foto Baekhyun kecil, ia mengenakan baju kodok garis-garis dan memegang raket kebalik dengan wajah lucunya.

"Astaga, aku tidak kuat. Dia terlalu lucu." Chanyeol melihat keadaan sekitar, memastikan Baekhyun belum naik. Mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Baekhyun kecil. "Akan kujadikan wallpaper," Lanjutnya sambil terkekeh.

Ia beres dengan kardus ini dan beralih ke kardus selanjutnya. Isinya banyak foto polaroid Baekhyun bersama seorang pria. Tapi Chanyeol tidak bisa melihat wajahnya karena wajahnya sudah dicoret-coret dengan spidol hitam—kemungkinan besar oleh Baekhyun. Padahal pose mereka sangat lucu dan romantis. Barang-barang lain yang ada didalam kardus itu juga berupa bunga mawar imitasi, boneka beruang dan sebuah boneka anak anjing yang saling berpelukan. Juga ada sebuah gembok dengan kunci. Membuat Chanyeol berspekulasi bahwa pria di foto adalah mantan Baekhyun. Orang yang sama yang memiliki inisial namanya di dinding bersama dengan inisial nama Baekhyun.

"Sudah beres?" Suara Baekhyun mengagetkan Chanyeol. Ia buru-buru menutup kardus itu dan menggeleng.

"Belum, aku baru akan mulai." Baekhyun hanya mengangguk mendengarnya. Chanyeol melihat Baekhyun datang dengan vacum cleaner, kemoceng, sapu dan lap. Tapi tidak dengan Sehun.

"Aku benar-benar tidak bisa mengandalkan Sehun. Pria itu sedang tidur sekarang." Baekhyun berdecak, membuat Chanyeol tertawa mendengarnya.

Baekhyun baru mulai akan membantu membersihkan sebelum sebuah notifikasi dari ponselnya terdengar.

LINE!

Kim Jongin: Hai Baekhyun, apa kabar?

Kim Jongin: Aku dengar kau sudah menikah, selamat.

Baekhyun mematikan ponselnya. Menyalakannya lagi sebelum mematikannya lagi.

Chanyeol menatap Baekhyun heran. "Petugas Byun, apa semuanya baik-baik saja?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak. Mantanku baru saja mengirimiku pesan setelah berabad-abad."

XXX

HAY TEMAN-TEMAN

SUDAH BERAPA ABAD NIH OWP GAK UPDATE WKWKWK

Aku kadang lupa punya cerita ini, berterimakasihlah pada drama two cops yang udah bikin aku inget dan lanjutin ff ini wkwkwk

Tapi aku jadi goyah sama Sehun gimana dong guys hnng :(

Jangan lupa rnr yaw!

Yang hari ini hari pertama masuk sekolah semangat ya wkwk untung aku masih minggu depan ehe/ganana

Adios! Chanpawpaw.