Hi minna!

Ada yang penasaran dengan POV Haruno bersaudara ini? kekacauan dimulai *evilLaugh

Disclaimer : Characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, Typo, OOC, Gaje, Yaoi, Alur kecepatan, dll…

# # # # #

Sakura POV

Aneh.

Sasuke mengantar Sasori-nii pulang. Ia pasti belum tahu kami bersaudara, bukan? Lihat saja wajahnya yang terkejut seolah tertangkap basah bak seorang pencuri saat melihatku. Itu sudah cukup membuktikan bahwa ia belum terlalu mengenal Sasori-nii.

"Sasori-nii, kau mengenal Sasuke?" tanyaku

"Kami kebetulan bertemu."

Bertemu dimana? Setahuku tadi Sasori-nii mengatakan ia akan keluar sebentar yang kenyataannya pulang jam dua dini hari diantar oleh Sasuke.

"Ehm, Sakura, Sasori, sudah larut. Sebaiknya kalian masuk dan aku pula-"

"Tunggu dulu! Sasuke, kau harus menjelaskan semuanya padaku besok dan aku tidak menerima jawaban tidak! aku akan menunggumu di taman belakang!" potongku cepat

Sasuke terlihat mematung dengan wajah tegang sedetik sebelum kembali ke wajah tenangnya kembali seperti biasa. Peguasaan ekspresi yang menakjubkan.

"Baiklah. kita bertemu sebelum bel."

Aku mengangguk dan Sasuke memasuki mobilnya kemudian mengemudikan mobil mewah miliknya yang sering dibawa ke sekolah itu pergi menjauh dari gerbang rumahku hingga tidak lagi terdengar suara deru knalpot miliknya.

Sasori-nii berjalan dengan tenang melewatiku dan memasuki rumah. Hidungku dapat mencium sedikit bau yang tidak asing dari tubuh Sasori saat ia melewatiku barusan.

"Sasori-nii! Kau minum alkohol?!" tanyaku tidak percaya

"Sedikit."

"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Sasuke? Kau mengenalnya?"

"Tentu saja aku mengenalnya. Ia terkenal."

Ya, tentu saja. Siapa yang tidak kenal Sasuke di KHS.

"Lalu, bagaimana kau bertemu dengannya?"

"Aku mengikutinya."

Mata hijauku membesar,"Kau menguntitnya?!"

"Mengikuti. Berbeda dengan menguntit, Sakura."

"Terserah. Intinya sama dan kau berani melakukannya pada teman sekelasku? Apa kau tidak berpikir ia akan menganggap kita kakak adik yang aneh setelah ini?!"

Sasori-nii menggelengkan kepalanya,"Aku rasa tidak."

Kulihat rasa percaya diri dari setiap kata-kata yang Sasori-nii lontarkan padaku seolah ia menyembunyikan sesuatu disana. Tentu saja aku curiga.

Sasori-nii tidak pernah pulang selarut ini bahkan meminum alkohol. Ia bahkan selalu pulang pergi menggunakan mobilnya karena tidak suka dilihat oleh orang-orang karena sering kali ia disangka wanita.

Ya, Sasori-nii memang sangat cantik untuk ukuran seorang pria. Wajahnya yang babyface, kulitnya yang mulus, matanya berwarna hazel menenangkan dan sikapnya yang tenang. Siapa yang menyangka jika ia berbicara baru terlihat bahwa ia seorang pria?

Aku beruntung memiliki kakak seperti dirinya.

"Aku harap kau tidak menyembunyikan apapun dariku, Sasori-nii. Aku adikmu, bukan?"

Sasori-nii berhenti berjalan. Ia berbalik dan tersenyum padaku meski sangat tipis. Ia membuka kedua lengannya dan memelukku dengan hangat di tubuhnya.

"Dan aku kakakmu."

Aku tahu itu.

Tapi jika kau terus menyembunyikan sesuatu dan memendamnya sendirian, apa gunanya aku sebagai adikmu?

# # # # #

Aku tiba terlebih dahulu di taman belakang dimana Sasuke menyetujui sebagai tempat bertemu. Aku memilih tempat ini karena lebih dekat dengan gudang yang sudah lama tidak dipakai dan jarang sekali orang kemari.

Tempat yang cocok untuk menanyakan sesuatu pada pria itu.

Mata hijauku melirik jam yang berada di tanganku. Sudah sepuluh menit aku berdiri disini menunggu Sasuke dan tidak tampak sedikitpun tanda-tanda pria itu akan kemari. Mungkin ia terlambat?

"Ayolah Sasuke, bel masuk akan segera berbunyi," gumamku

"MENJAUH DARIKU, SAKIT JIWA!"

Aku terkejut mendengar suara keras yang sepertinya dari balik dinding taman terlebih aku mengenal suara yang sangat khas itu. dengan rasa penasaran, aku berusaha tidak membuat suara dan mengintip dari balik dinding.

"Sssh, tidak bisakah kau kecilkan suaramu?"

"Aku akan terus berteriak jika kau tidak segera menjauh dariku!"

Mata hijauku membulat melihat siapa yang berada disana. Temari si ketua osis dan Shikamaru si pemalas jenius! Dan posisi mereka saat ini yang membuatku lebih terkejut. Shikamaru menahan kedua tangan Temari di atas kepalanya dan tangan lainnya berada di dagu mungil Temari. Pria itu memojokkan Temari karena dibelakangnya hanya ada dinding.

Apa yang mereka lakukan?!

"Kau kejam, kau tahu?" ucap Shikamaru

Temari tidak menjawabnya. Ia menatap tajam mata Shikamaru dengan rahang mengeras. Sepertinya Temari akan mengalami hal yang lebih buruk lagi daripada ini. Aku harus membantunya!

"A-,"

"Sakura!"

Aku merasakan sebuah tangan menahan kedua bahuku dan menarik tubuhku sebelum akhirnya membentur dada orang yang menarikku hingga terjatuh.

"Ow," aku meringis dan melihat orang yang menarikku,"Sasuke?!"

Ia tersenyum,"Maaf aku terlambat, Sakura."

"Lupakan! Kenapa kau menahanku? Tidak bisakah kau lihat Temari sedang kesusahan oleh Shikamaru?! Kita harus menolongnya!" ucapku panik

Sasuke tertawa meski ia berusaha menahan suara tawanya. Ia bahkan menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar keluar.

"Kenapa kau malah tertawa?!"

"Tidak, tidak. apakah kau tidak tahu jika kau kesana, kau hanya akan menggangu mereka?"

"Tentu saja aku akan menggangu Shikamaru! Ia seda-,"

"Kau lihat sendiri mereka sedang apa," potong Sasuke

Aku menoleh ke arah dinding dan mengintip lagi apa yang dimaksud oleh Sasuke. Untuk kesekian kalinya, mata hijauku membesar menatap tidak percaya pada apa yang kulihat saat ini.

Mereka berciuman!

"Kau lihat?"

Aku tidak menjawab Sasuke karena tahu ia benar. Dan kini, Temari terlihat seolah tidak merasa dipaksa atau semacamnya. Sebaliknya, ia terlihat menikmatinya.

"Mereka … sepasang kekasih?"

Sasuke menggelengkan kepalanya,"Kurasa belum."

"Belum?" tanyaku penasaran

Sasuke mengangkat kedua bahunya. Sepertinya ia tidak tertarik tentang hubungan mereka. ia bahkan meringis saat melihat mereka berciuman dengan romantis. Entah ada apa dengan pria itu.

"Jadi, kau ingin bertanya … tentang Sasori?" tanya Sasuke

Benar juga. Aku kembali teringat dengan tujuanku memanggil Sasuke kemari. Semoga tidak ada penggemar fanatik Sasuke yang mencarinya sampai sini dan melihat kami.

"Ya. Dan … aku mau minta tolong juga," ucapku

Ia menaikkan satu alisnya,"Minta tolong apa?"

"Nanti saja. Sekarang, aku ingin bertanya padamu. Apakah benar kalian baru saling kenal semalam? Di klub malam, mungkin?"

Sasuke diam selama beberapa detik memandangku hingga ia duduk di rerumputan dan mengadahkan kepalanya padaku yang semakin memperjelas warna hitam pada manik matanya.

"Begitulah. Kau tidak akan heran jika aku berada di klub malam, bukan?"

"Tidak. aku tidak perduli kau berada di klub waria sekalipun jika itu hobimu. Yang aku ingin tanyakan, kenapa dan dengan siapa Sasori-nii ke klub malam itu?"

Sasuke kembali diam. Sepertinya ia memikirkan jawaban dari pertanyaanku yang jawabannya sangatlah mudah jika tidak ada yang mereka tutupi dariku.

"Entahlah. Aku hanya melihat Sasori sendirian berada di meja bartender dan aku menyapanya."

"Hanya itu?"

Ia mengangguk. matanya menyiratkan kejujurannya.

"Baiklah. Sasori-nii tidak mau mengatakan apapun padaku. Jadi, kalian bertemu di klub malam itu dan akhirnya berkenalan?"

Sasuke kembali mengangguk,"Aku tahu ini seperti drama, tapi itu kenyataannya."

"Jadi, kau baru tahu saat mengantar Sasori-nii pulang bahwa aku adiknya?"

"Dia tidak menyebutkan marga, jadi, yeah, aku baru mengetahuinya."

Aku mendesah,"Kami sama sekali tidak mirip,"

"Tidak, menurutku kalian mirip."

Aku tertawa mendengarnya,"Benarkah? Oh, aku hampir lupa. Jadi, apakah kau bisa kuminta bantuan?"

Sasuke mengangkat bahunya,"Tentu, jika itu bantuan yang masuk akal."

Bagus. Tentu saja bantuanku masuk akal.

"Aku ingin kau berteman dengan Sasori-nii."

Sasuke mematung. Matanya terlihat tidak fokus dan sepertinya ia tampak tidak percaya dengan apa yang kukatakan atau mungkin lebih tepatnya ia terkejut?

"Apakah kau keberatan?"

"Tidak, tidak, tidak. tentu saja aku mau menjadi temannya. Kami bahkan sudah menjadi lebih dari teman."

Aku tersenyum lebar mendengarnya,"Benarkah? Selama ini Sasori-nii tidak mempunyai teman karena ia memiliki wajah feminim dan jarang berbicara. Aku takut jika ia begini terus, ia akan menjadi semakin menjauh dari keluarga juga."

Sasuke menatapku beberapa detik hingga tangan kanannya menyentuh kepalaku kemudian tersenyum manis. Senyuman yang pernah ia perlihatkan padaku. Senyuman yang membuat wajahku panas dulu.

"Aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjadi teman yang baik untuknya."

DEG!

Apa? Apa yang barusan itu?

Mata hijauku masih terpaku oleh senyumannya. Kenapa ia bisa terlihat begitu menawan? Baiklah, sekarang aku mengerti perasaan para wanita yang mengejar Sasuke termasuk fans fanatiknya. Pria itu memiliki sesuatu di dalam dirinya.

Karisma, mungkin?

KRIIIIINGGGG

Aku tersentak mendengar suara nyaring bel masuk. Dengan terburu-buru aku berdiri dan tersenyum pada Sasuke. Senyuman yang dipaksakan lebih tepatnya.

"B-baiklah. terima kasih sudah mau menjadi teman Sasori-nii dan bel sudah berbunyi, bagaimana jika kita kembali ke kelas masing-masing?" ucapku kacau dan panik

Sasuke tertegun sesaat dan tertawa setelahnya membuatku semakin panik. apakah pria ini selalu harus tertawa jika aku mengatakan sesuatu?

"Sakura, kita sekelas di kelas khusus. Bagaimana jika kita kembali ke kelas kita berdua?"

Aarggh!

Ini memalukan. Aku benar-benar terlihat bodoh sekarang di mata Sasuke. Kenapa aku bisa melupakan fakta dimana aku teman sekelasnya? Bodoh sekali.

"Tidak, bagaimana jika kita kembali ke kelas kita berempat?"

Aku dan Sasuke menoleh mendengar suara yang tidak asing itu. tampak dua orang yang kami kenali sudah berdiri dengan salah satunya menatap tajam ke arah kami tidak lupa dengan sebuah aura membunuh miliknya.

"Apakah kalian mengintip kami, Sakura?" tanya Temari menekankan kalimatnya

Aku menggelengkan kepala,"Ti-tidak, Temari. Aku benar-benar tidak tahu jika kalian sedang berciuman disana!"

Shikamaru mendesah,"Jadi kalian memang mengintip."

"Secara teknis, hanya Sakura yang mengintip adegan itu," timpal Sasuke

Temari menatap horor padaku, sedangkan Shikamaru dan Sasuke saling bertatapan seolah mata mereka bisa berkomunikasi yang hanya mereka sendirilah yang mengetahuinya.

Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan?

# # # # #

Sasori POV

Akhirnya hari ini tiba juga.

Mataku melihat penampilanku saat ini di depan cermin dengan malas. Aku menggunakan sebuah terusan dengan rok berlayer berwarna ungu muda dan cardigan feminim sebagai pelengkapnya. Aku menolak menggunakan bra berbusa. Aku gay, tapi tetap seorang pria.

Rambutku menggunakan sebuah rambut palsu yang menempel erat dan menjuntai indah menutupi punggung. Wajahku? Aku merasa tidak perlu menggunakan bedak, lipstik ataupun perona pipi. Aku sudah cukup putih dengan wajah mulus tak bercela apalagi bibirku pastilah terasa aneh jika ada benda asing disana. Pipiku bahkan sudah berwarna merah muda seperti rambut Sakura.

Intinya, aku benar-benar terlihat bagaikan seorang wanita di cermin itu. ini bukanlah hobiku berpakaian sebagai seorang wanita atau apapun itu. ini karena aku sudah terlanjur berjanji padanya yang tidak kusangka menyuruhku seperti ini.

Pantas saja ia melihatku sedemikian rupa saat itu.

"Sasori, kau sudah selesai berganti baju?"

Terdengar suara Sasuke dari balik pintu kamarnya yang kemudian aku buka. Sasuke melihatku takjub seolah ia melihat sebuah hal langka disini.

"Kau benar-benar terlihat bagaikan seorang wanita," gumamnya

"Aku mendengarnya."

Sasuke tersenyum,"Maaf aku menyuruhmu berpakaian seperti ini."

Aku mengangguk,"Kau sudah menjelaskannya."

tadi aku dijemput oleh Sasuke di rumah dengan meminta ijin pada Sakura jika ia ingin melakukan hal layaknya laki-laki dan berhasil mengelabui adikku itu. dalam perjalanan, Sasuke menjelaskan bahwa ia membutuhkan kekasih wanita palsu karena suatu hal.

Bagaimanapun aku sudah terlanjur janji padanya untuk mengabulkan permohonanya asal dia berkencan denganku meski aku tahu, ia tidak bisa membalas perasaanku. Kencan sudah lebih dari cukup bagiku.

"Jadi, kita berangkat?"

Aku mengangguk dan segera memakai high heels lima senti. Untungnya, kakiku mungil seperti wanita dan tidak berbulu. Tubuh yang kubenci, kini menjadi hal yang berguna untuk orang yang kucintai. Aku tidak menyesalinya.

"TEMEEEEE! Aku dataaaangg!"

Suara cempreng yang menggangu. Aku yakin itu adalah Naruto.

Sasuke mendesah,"Dobe, waktunya tidak tepat. Mungkin lain kali," ucapnya

Naruto tampak tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Sasuke. Ia lebih memfokuskan seluruh indera tubuhnya padaku. Khususnya mata birunya itu.

"Teme, dia siapa? Wow, aku tidak menyangka kau diam-diam akan menjadi hetero dengan berkencan dengan wanita cantik ini. apakah dia akan kau bawa ke hadapan Suigetsu?"

Idiot. Seperti biasanya.

"Dobe, kau mengenalnya. Dia Sasori," jelas Sasuke

"APAAAAA?!" teriak Naruto keras

Aku menghela nafas melihat reaksinya. Apa yang kuharapkan dari orang ini? lihat saja, mata birunya melotot tidak percaya dengan melihatku dari atas hingga kebawah. Dari ujung ke ujung. Dan itu benar-benar mengganguku.

"Kau Sasori?! Sasori yang itu?! kau benar-benar tampak seperti wanita,man! Tidak kusangka Sasuke serius akan memakaikanmu pakaian wanita. Kenapa kau terlahir sebagai pria?!"

"Sasuke, bisakah kita tinggalkan dia?" ucapku kesal

"Kau mengabaikanku?! Teme, dia benar-benar menyebalkan. Aku tidak akan merestui hubunganmu dengannya! Setelah ini, jika kalian masih berhubungan, aku akan memutuskan kalian!"

"Aku tidak butuh restumu," gumamku

"APA KATAMU?!"

"Berhenti, dobe. Kami harus pergi sekarang. Suigetsu sudah menunggu," ucap Sasuke menenangkan makhluk berkepala kuning itu

Aku berjalan melewati kepala kuning itu dan kudengar gerutuan tidak jelasnya pada Sasuke yang membuatku semakin ingin berada di mobil mewah Sasuke untuk menemui temannya itu. aku tidak nyaman menggunakan pakaian ini.

.

Sasuke menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang terlihat mahal. Ia membukakan pintunya padaku dan menjulurkan tangannya seolah aku adalah wanita. Atau memang inilah sikapnya jika ia bersama kekasih prianya?

"Jadi, namaku adalah Sakura?" tanyaku

Sasuke mengangguk,"Bukanlah nama yang jelek juga, bukan?"

"Itu nama adikku."

"Aku tahu. Karena itulah aku menggunakannya. Kalian hampir mirip, bukan?"

Ya, kami memang hampir mirip jika saja aku mempunyai rambut merah muda dan mata hijau. Tentunya dengan tubuh seorang wanita juga.

Kami memasuki restoran dan Sasuke menanyakan dimana temannya memesan tempat pada seorang pelayan yang kemudian mengantar kami. kurasakan sebuah tangan mengaitku dibawah sana.

"Kau tidak keberatan, bukan? Anggap saja ini bonus kencan kita," ucap Sasuke dengan mata mengerling seolah menggodaku

Aku mengangguk,"Baiklah."

Ini adalah bonus kencanku. Tidak ada salahnya menikmati dan membiarkan semuanya mengalir, bukan?

"Itu dia," bisik Sasuke

Aku melirik seorang pria berambut putih yang duduk dengan santainya memegang sebuah gelas di salah satu tangannya. Matanya memandang kami dengan sebuah kilatan disana. Senyumannya tampak melebar saat melihatku membuatku merinding.

Ia memakai sebuah blazer cokelat dipadu dengan kemeja bergaris berwarna hitam kemerahan dan jeans biru gelap. Gayanya cukup oke. Dia pasti bukanlah orang semnbarangan. Tapi tunggu, dimana aku pernah melihat pria ini sebelumnya?

"Maaf, lama," ucap Sasuke

"Tidak apa," ucap pria itu kemudian melirikku,"Namamu?" tanyanya

Aku menelan ludah sebelum merubah suaraku menjadi sedikit feminim,"Sakura."

"Kau cantik. Namaku Suigetsu."

Aku mengangguk. beruntung dia tidak menyadari bahwa aku adalah pria. Penampilanku sempurna untuk mengelabui seorang pria hetero, bukan?

Sasuke melepaskan genggaman tangan kami dan duduk tepat di depan Suigetsu dan aku berada di sampingnya. Aku merasa ada yang hilang karena Sasuke melepaskan tangannya dariku.

"Bagaimana jika kau berkencan denganku sesekali? Aku bisa memperlakukanmu lebih baik daripada Sasuke. Oh, tidak perlu khawatir tentang uang. Aku mempunyainya lebih dari cukup."

Apa maksudnya? Dia mengajakku kencan?

"Tidak, terima kasih. Aku setia."

Tentu saja aku setia. Jika aku benar-benar menjadi kekasih Sasuke, aku tidak akan berselingkuh. Aku akan menuruti semua ucapannya. Dan yang lebih penting lagi, aku akan bersamanya seumur hidup kami.

Suigetsu tertawa,"Oh, baiklah. kau mau makan apa, Sakura?" tanya Suigetsu

Aku melihat daftar menu sekilas yang kemudian direbut oleh Sasuke. Mata hazelku memandang kesal Sasuke sebelum ia tersenyum manis padaku membuatku tidak bisa membuka mulut. Senyumannya benar-benar berbahaya.

"Kau terlalu posesif, Sasuke. Biarkan dia memilih."

"Tidak, aku tahu apa kesukaan Sakura."

Hmph. Bagus sekali kebohonganmu, Sasuke.

"Baiklah," Suigetsu menoleh padaku,"Jadi, kau bersekolah di KHS juga?"

Aku mengangguk.

"Apakah kau tahu jika Sasuke adalah gay?"

Mataku membulat mendengarnya. Suigetsu yang melihatku terkejut hanya tersenyum disana. Bukan karena Sasuke gay yang membuatku terkejut, tapi bagaimana pria itu mengetahui bahwa Sasuke adalah gay? Ada hubungan apa pria ini dengan Sasuke?

"Aku tahu," ucapku menjaga nada bicara,"Dan aku mencintai Sasuke apa adanya."

Tentu saja aku tahu. Aku juga gay. Dan tentu saja aku mencintai Sasuke apa adanya. Itu karena aku benar-benar jatuh cinta padanya!

"Begitukah?"

"Hentikan, Suigetsu. Bisakah kau mempercepat urusan kita?"

Suigetsu tertawa,"Kenapa buru-buru sekali, Sasuke? Aku masih ingin melihat kemesraan kalian berdua."

Aku memang belum terlalu mengenal pria ini, tapi mendengarnya berbicara, aku bisa menilai bahwa pria ini menyebalkan. Kenapa Sasuke mau berteman dengan pria ini?

"Kemesraan kami bukan hiburanmu."

"Aku tahu. Tapi bi ini penasaran."

Apa? Dia bi?

Baiklah, sekarang aku ingat pernah melihat pria ini dimana. Pria inilah yang telah berciuman dengan Sasuke di bar gay malam itu! sial, ternyata pria ini sudah berciuman dengan Sasuke dan aku iri karenanya!

"Tidak perlu banyak bicara. Serahkan informasi yang kau miliki."

Aku melirik Sasuke. Mata onyx nya menatap tajam Suigetsu yang masih terlihat santai dan tidak terpengaruh oleh tatapan menusuk dari Sasuke. Pria itu benar-benar menyebalkan.

"Baiklah, jika kau memaksa."

Sasuke tidak menjawabnya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menunggu Suigetsu. Aku sendiri penasaran apa yang akan dikatakan oleh Suigetsu.

"Dia berada di Konoha. Dia sudah pulang."

Dia?

Grreekk

Aku menoleh pada Sasuke yang tiba-tiba berdiri. Matanya terlihat menakutkan dengan rahang mengeras dan kedua tangannya mengepal di meja. Ada apa sebenarnya?

"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Sasuke mendesis

"Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku."

Sasuke tampak antusias,"Dimana? Kapan?!"

Suigetsu mengangkat kedua bahunya,"Kira-kira sebulan yang lalu. Di salah satu restoran hotel milik kalian. Kau pasti tahu."

Milik kalian? Milik Sasuke dan dia?

Adakah seseorang yang bisa menjelaskan disini?

"Baiklah. Sakura, kita pulang. Terima kasih informasinya, Suigetsu."

Aku mengikuti Sasuke yang menarikku untuk meninggalkan meja kami tanpa berbalik lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku berharap ini semua tidak merubah sikap Sasuke ataupun hubungan kami.

Perasaanku yang jatuh cinta padanya tidak mungkin salah. Pasti akan ada suatu alasan mengapa aku jatuh cinta pada Sasuke. Meskipun kami berdua adalah gay. Meskipun Sasuke tidak mencintaiku.

# # # # #

TBC

Fiuuhhh

Kenapa Sasuke malah menjadi lebih dekat ama Sasori daripada Sakura?

Itu ada alasannya tersendiri nanti.

Chap depan, tidak boleh dilewatkan dan Review please?