Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. However, this story purely of my deepest mind and I do not take any material profit from it.
Rated: T
Genre: Romance, Family, Friendship, Tragedy.
Pair: SasuFemNaru
Warning: Gender switch, OOC, typo(s), AU, etc.
My Story Life
Chapter 3: Memories of Melody
By: AirinaNatsu-chan
oOo
Sejak hari itu, Sasuke selalu dihantui kenangan-kenangan dari masa lalunya. Dia berusaha untuk bersikap seperti biasa, namun ternyata tidak mudah. Sikapnya yang semakin dingin dan sering melamun membuat para sahabatnya khawatir.
Minggu ini Sakura dan yang lainnya mengajak Sasuke untuk berjalan-jalan di Taman Pusat Kota Konoha. Mereka berpikir mengajak Sasuke jalan-jalan akan membuat hati serta pikiran pemuda berambut raven itu lebih rileks.
Sakura dan Ino menggiring para sahabatnya menuju sebuah pohon willow yang berdiri kokoh di tengah-tengah taman. Di sekeliling pohon tersebut terdapat beberapa kursi taman berwarna putih yang dapat diisi oleh dua orang. Keadaan di bawah pohon itu begitu teduh dan terasa menyejukkan, membuat Sakura merasa cocok untuk menjadikan area pohon willow itu sebagai tempat persinggahan mereka.
"Lebih baik kita beristirahat disini saja," usul Sakura yang disetujui semuanya.
Sasuke itu tipe orang yang tidak suka keramaian. Kalau bukan karena sahabat perempuannya, Sasuke tidak akan mau menginjaki taman ini. Terlalu ramai, itu yang dikatakannya saat Ino menanyakan alasan ia memasang air muka keruh.
Sakura sendiri yang ikut mendengar pernyataan Sasuke memutar bola matanya bosan. Tentu saja ramai, karena taman ini terbuka untuk masyarakat umum. Taman ini bukanlah taman pribadi yang hanya bisa dikunjungi oleh orang-orang tertentu. Taman pusat kota merupakan salah satu taman yang diminati orang-orang untuk berkunjung sekadar hanya sebagai pelepasan penat ataupun piknik. Jadi, wajar kalau taman itu selalu ramai.
Sasuke menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Mencoba menikmati pemandangan serta suasana yang tersaji. Matanya terpejam. Pikirannya ia biarkan melayang kemana pun.
Namun semuanya buyar ketika ia mendengar alunan melodi yang sangat ia hafal. Melodi yang telah menjadi kenangannya bersama sosok dia. Sasuke membuka matanya dan menajamkan pendengarannya. Tidak salah lagi! Itu memang melodi yang selalu ia dengar di masa lalu. Sasuke tersentak saat Gaara menepuk bahunya pelan.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Gaara khawatir. "Oh ya, apa kamu mau melihat siapa yang memainkan lagu ini?" ajak Gaara. Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Gaara langsung saja melanjutkan perkataannya.
"Dia ada di tengah-tengah kerumunan itu," Gaara menunjuk kearah kerumunan yang merupakan sumber alunan itu terdengar.
Sasuke langsung berdiri dan pergi menuju kerumunan. Disana ia melihat para sahabatnya kecuali Gaara yang ada di belakangnya berada di antara kerumunan itu.
"Ah... ternyata kau Sasuke! Kukira siapa tadi," kata Ino yang memang berada didekat Sasuke.
Sasuke dapat mendengar jelas lagu itu. Lagu yang sama yang dulu sering ja mainkan bersama dengan dia. Dia juga bisa melihat dengan jelas siapa yang memainkan lagu itu.
"Lihat! Gadis pirang itu bermain dengan sangat indah!" seru Kiba.
Ingatan Sasuke berputar. Ia mengingat saat pertama kali ia mendengar lagu ini.
Flashback on
Sasuke menatap anak perempuan pirang yang seumuran dengannya dengan tatapan kagum. Dia bertepuk tangan dengan keras saat anak perempuan itu berhenti memainkan biolanya.
"Waahh.. Kamu hebat!" puji Sasuke.
"Arigatou," ucap anak perempuan itu dengan senyum yang terpasang di wajah cantiknya.
"Kenapa aku merasa lagu itu lagu yang sedih? Apa lagu itu memang lagu yang sedih?" tanya Sasuke pada anak perempuan yang duduk disampingnya.
"Ya, lagu itu memang menyiratkan kesedihan. Aku selalu memainkannya ketika aku merasa kesepian," jelas anak itu sambil menunduk dalam.
"Kamu hebat! Kamu masih kecil bahkan sedikit lebih muda dariku tapi permainan biolamu seperti Violinist yang hebat. "puji Sasuke lagi.
Anak pirang itu hanya tersenyum mendengar pujian Sasuke.
Flashback off
"Sasuke!" teriak Ino membahana di telinga Sasuke.
Sasuke tersentak keras. Tanpa sadar ia celingak-celinguk untuk mencari sosok gadis pirang tadi.
"Apa yang kau cari?" tanya Sai.
"Mana gadis pirang tadi?" tanya Sasuke yang membuat para sahabatnya bingung.
"Dia sudah pergi sejak tadi. Kenapa kau menanyakannya?" tanya Temari dengan pandangan menyelidik.
Sasuke yang telah sadar memasang wajah datarnya dan berdeham.
"Tidak hanya saja aku sedikit menyukai permainan biolanya," kata Sasuke singkat.
Para sahabat Sasuke tiba-tiba memasang senyum penuh makna. Apa Sasuke menyukai gadis itu, ya? Batin mereka semua.
"Jangan berpikir yang macam-macam!" tukas Sasuke tajam saat melihat senyuman yang menurutnya aneh dari para sahabatnya. Dia melengos, dan pergi begitu saja meninggalkan para sahabatnya yang masih tersenyum penuh makna.
"Apa mungkin, Sasuke ..." ujar Sakura menggantung yang diangguki semuanya.
"Ternyata orang seperti Sasuke bisa merasa jatuh cinta, ya," celetuk Sai sambil memasang senyum palsu andalannya.
Ino menjitak kepala Sai yang selalu saja berbicara tanpa mengetahui situasi. Sejurus kemudian, Ino memberi kata-kata mutiaranya untuk Sai yang hanya direspon senyuman oleh kekasihnya itu.
Sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi Sai dan Ino.
"Kalian memang pasangan yang aneh," celetuk Kiba yang langsung mendapat delikan tajam dari Ino. Hingga jadilah Kiba yang mendapat yang selanjutnya mendapat kata-kata mutiara dari Ino.
Mereka menghela napas panjang dan termenung. Sebenarnya mereka tengah memikirkan ekspresi Sasuke yang berbeda yang dapat mereka lihat saat Sasuke melihat gadis pirang tadi memainkan biolanya.
"B-bagaimana kalau k-kita pulang saja?" usul Hinata tiba-tiba. Ino yang tadinya sibuk memberi kata-kata mutiaranya pada Kiba mengalihkan perhatiannya pada Hinata saat mendengar usulan sahabatnya itu.
"Kau benar Hinata. Aku perlu ke salon untuk merawat kuku-ku ini," timpal Ino.
"Ya sudah. Ayo kita pulang," ajak Tenten.
Mereka semua meninggalkan taman itu dengan arah yang berbeda.
.
oOo
.
Di sisi lain, gadis pirang tadi kini tengah diberi kata-kata manis dari sang Kakak yang sangat overprotektif padanya.
Usai memainkan biolanya di taman, tiba-tiba kakaknya sudah menyambutnya dekat dengan mobil yang ia gunakan bersama supirnya.
"Imouto, kenapa kau keluar sendiri 'hm?" tanya pria berambut merah dengan mata ruby yang tajam.
"Ayolah Kak Kurama, aku baik-baik saja." Gadis pirang itu memutar matanya jengah dengan sikap kakaknya yang protektif.
"Baiklah, yang terpenting kau baik-baik saja." Pria tadi menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, "Ayo kita pulang!" ajaknya.
"Hmm." Gadis pirang itu mengangguk dan mengikuti kakaknya yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil sang kakak.
Skip time
Gadis pirang itu begitu gugup sesaat setelah sampai di rumahnya yang bagaikan istana. Kegugupannya diakibatkan saat hendak pergi, dia belum sempat meminta izin pada orang tuanya.
Dia mengikuti sang Kakak yang telah masuk mendahuluinya. Dan benar. Keluarganya telah menunggunya di ruang tamu dengan berbagai ekspresi.
Dia tersenyum kikuk saat mendapat tatapan tajam dari orang tuanya.
"Mama, papa," ucapnya pelan.
Gadis pirang itu mengira dirinya akan mendapat ceramah panjang dari sang Mama. Namun, ternyata dugaannya salah. Ia malah mendapat pelukan dari mamanya.
"Ruko-chan, kenapa tidak bilang kalau ingin pergi 'hm?" tanya wanita paruh baya yang memeluk gadis pirang itu.
"Ruko sudah besar, ma. Mama, papa, Kak Kurama, dan Kak Sara tidak perlu mengkhawatirkanku lagi," ujar gadis pirang itu lagi.
"Tapi tetap saja mama pasti khawatir padamu, sayang." sahut wanita paruh baya itu.
"Sudahlah Kushina. Lagipula putri bungsu kita baik-baik saja," timpal seorang pria paruh baya yang seumuran dengan wanita berambut merah dan mirip dengan gadis pirang tadi.
"Dan jangan pikir kalau papa membenarkan apa yang kau lakukan, Naruko!" ucapnya pada gadis pirang bernama Naruko itu.
Naruko atau yang sebenarnya Naruto menghela napas saat melihat mamanya dan kedua kakanya tersenyum puas setelah mendengar sang ayah berbicara.
Naruto adalah putri bungsu dari keluarga Namikaze. Tapi orang tua dan kedua kakaknya selalu mewanti-wantinya untuk tidak memperkenalkan nama aslinya pada orang asing. Naruto tidak tahu kenapa. Yang jelas saat ia bertanya alasan mereka, mereka hanya menjawab; untuk berjaga-jaga.
Papanya; Namikaze Minato merupakan pengusaha sukses yang terkenal di dunia. Perusahaan mereka bergerak dalam semua bidang dan menjadi perusahaan nomor satu di Jepang dan salah satu perusahaan terbesar di dunia. Mamanya; Uzumaki Kushina yang sekarang menjadi Namikaze Kushina adalah mantan diva terkenal bahkan sampai saat ini mamanya masih terkenal. Kakak laki-lakinya yaitu Namikaze Kurama, salah satu pengusaha muda di Jepang dan calon pengganti sang papa. Dan terakhir kakak perempuannya yaitu Namikaze Sara adalah mahasiswi di Tokyo University. Sara juga terkadang bernyanyi di acara-acara tertentu jika ada yang mengundangnya. Ia memiliki bakat bernyanyi seperti sang mama.
Itulah yang membuat Naruto sering keluar tanpa meminta izin. Karena kesibukan orang tuanya dan kedua kakaknya ia menjadi kesepian. Hingga peristiwa hampir tujuh tahun yang lalu mengubah semuanya. Yang membuat ia harus menggunakan nama 'Naruko' saat bersama orang lain selain keluarganya.
oOo
To Be Continued
Keterangan:
1. Violinist: sebutan untuk pemain Biola sedangkan Violist adalah sebutan untuk pemain Viola.
*sumber:
http/10-fakta-tentang-biola-yang-wajib-anda-ketahui.html
2. Diva: istilah yang digunakan untuk merujuk kepada penyanyi-penyanyi wanita di genre musik opera dengan bakat luar biasa.
*sumber:
https/id.m./wiki/Diva
Yooshhh!Akhirnya bisa update. Untuk chap kali ini, aku males ngeperbaikin kalimat-kalimatnya. Ribet sama tugas:v
Oke, deh.
Semoga terhibur, ya?
Regards,
AirinaNatsu-chan
