standard disclaimer apply
.
Namanya Lars Van Rijn, dan ia tidak percaya hal-hal supranatural. Hingga suatu saat kakeknya menunjuk seorang mahasiswa tak dikenal di kampus Lars, dan berbisik kepadanya, "orang itu vampir."
Athaulf Beilschmidt sudah tujuh dekade hidup di bumi dan mungkin sudah mulai pikun, namun Lars tahu bahwa ia adalah pria yang jujur. Hanya saja, ia tak pernah memercayai kisah bahwa keluarga mereka adalah pemburu vampir secara turun temurun. Konon beberapa orang dalam keluarga mereka dikaruniai penglihatan yang mampu memisahkan vampir dari manusia; Athaulf salah satunya. Ia beberapa kali mengatakan bahwa Lars juga mewarisi kemampuan yang sama, membuat Lars kecil merasa dirinya adalah pahlawan super.
Tetapi legenda itu hanyalah legenda, tak dimaksudkan untuk dipercayai lebih dari dongeng pengantar tidur. Lagipula, mahasiswa yang ditunjuk sang kakek dengan santainya berjalan di bawah sinar matahari. Sementara Lars sendiri enggan keluar dari bawah bayang-bayang pohon, tahu bahwa cahaya musim panas akan memerahkan kulitnya dalam beberapa menit. Lars tidak melihat ada yang aneh pada wanita muda itu, kecuali bahwa ia terlampau bersemangat dan berkenalan dengan para mahasiswa secepat kilat.
"Kakek bercanda, 'kan?" Lars meletakkan kunci mobilnya ke tangan keriput Athaulf. Satu lirikan dingin Athaulf mematahkan dugaannya. Ia tidak pernah bercanda, selalu serius seperti Sepupu Ludwig.
"Berhati-hatilah dengannya," pesan sang kakek sebelum ia berkendara pergi.
Lars hampir melupakan kejadian tersebut hingga akhirnya ia berjalan ke gedung kampus. Sesosok wanita muda menghampirinya, rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang liar setiap ia melangkah. Dengan berani ia mengulurkan tangan kepada pria itu. "Halo, aku peserta pertukaran pelajar musim panas ini," ia memperkenalkan diri, matanya yang cokelat gelap berbinar di bawah poni lurus yang rapi. "Nesia Notonegoro."
"Lars Van Rijn," ujarnya sopan sambil menggenggam tangannya. Gelenyar aneh mendadak menjalar dari telapak tangan Lars hingga ke dadanya. Seperti disetrum. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengenyahkan sensasi aneh itu, lalu menyadari bahwa udara di sekitar Nesia bergetar tak wajar. Dan tangan kecokelatan di genggaman Lars terasa hangat. Terlalu hangat.
Nesia menarik tangannya, tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya. "Sampai ketemu nanti!" ia melambai pergi, menaiki undakan hingga bergabung dengan kerumunan.
Sementara itu, Lars masih memegangi pergelangan tangan kanannya, terdiam di undakan tangga. Pikirannya dipenuhi oleh semua ciri-ciri vampir dalam legenda Athaulf. Kesimpulan yang ditariknya tak mungkin salah – kakeknya benar.
Namanya Nesia Notonegoro, dan ia adalah seorang vampir.
