Title: Thorn Year (gashiyeon) - The First Part - Reduced Horizon
Original Author: Maio
Translated By: honeyiceblend
Genre: Romance + Smut
Rating: M
Pairing/s: Yunjae
Length: 4/12 Chapters
.
.
.
Don't Like
Don't Read
.
.
.
I told you before
.
.
.
Happy reading ^^
Yunho POV
Mereka terlihat asyik membicarakan sesuatu, seperti itu yang kulihat sekarang.
"Eunho hyung."
"…"
"Aku cantik kan…"
"…"
"Kau tidak akan menolak ku kan?"
Mereka berdiri, saling berhadapan, aku hanya bisa melihat Kim Jaejoong. Hatiku seperti ditusuk oleh ribuan jarum saat melihat mereka.
Kim Jaejoong, yang aku sukai, tidak, Kim Jaejoong yang aku cintai, menyiksa ku selama hampir 2 minggu, membuatku memikirkannya saat tidur; aku tidak berpikir itu hal yang aneh. Karena perasaanku kepadanya terlalu kuat sehingga aku memutuskan untuk mengikuti kata hati ku. Sekarang, dia adalah cinta pertamaku. Namun, sepertinya ia akan mengatakan perasaanya kepada hyung ku yang paling tidak ingin aku dengar
Hyung menatap Kim Jaejoong dengan lembut. Meskipun dia adalah hyung ku yang berhubungan darah dengan ku, kedua mata ku dibutakan oleh cinta, dan aku membenci bocah itu yang terlihat begitu lembut.
"Aku menyukaimu"
Bohong. Mengapa kau berada disini?
.
.
.
Keringat terus meluncur diwajahku, aku terus memukul samsak dengan marah, dan aku tidak bisa tenang seperti biasa. Meski si kurator merasa cemas terhadapku, aku merasa apa yang baru saja terjadi seperti sandungan dan hambatan; semuanya tidak bekerja dengan baik untuk ku lagi. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menenangkanku. Sendiri mungkin lebih baik, aku mengendarai motor ku, dengan kecepatang tinggi dijalanan tanpa berpikir apa-apa, mungkin setelah beebrapa saat perasaanku akan lebih baik.
Pada akhirnya, masih ada perasaan ganjal saat aku kembali ke apartemen pada malam harinya.
Aku melihat bayangan diruang tamu gelap sepertinya seseorang sedang menunggu ku.
Dia duduk disofa, menonton film prancis dengan tenang sambil menunggu ku datang sepertinya dia punya hal yang banyak untuk dibicarakan.
Aku melempar tasku dilantai, setelah menghembuskan nafas dengan tenang, aku berdiri didepan hyung dengan wajah datar.
Hyung mengangkat kepalanya dan tersenyum ke padaku.
Aku mendesah pelan dan menghempaskan tubuhku disofa. Aku menatap wajah hyung yang terlihat melamun. Untu beberapa alasan yang tidak aku ketahui, aku merasa kalau hyung yang sedang menonton televisi ini sedikit asing. Sejak lahir hyung memang kurus, ia bahkan semakin kurus beberapa hari ini, ulang pipi dan hidungnya terlihat menonjol. Meski ia belum mengalami sakit akan jantung yang tiba-tiba berhenti, ia harus bertahan dari penyakit yang tak kunjung sembuh ini. Kasihan sekali. Namun, hyung tau apa yang ingin aku katakan kepadanya, ia menunjukan ekpresi bosan, dia tidak gugup sama sekali. Bocah itu menyukai hyung, hyung mengalah demi aku, namun sepertinya tidak begitu, tidak peduli apa alasannya, hyung sekarang membuatku sangat marah.
"Jaejoong…"
"Ya ... Yunho."
Perasaan Kim Jaejoong tidak ada maksud apa-apa terhadapku tetapi terhadap hyung, dan ini sudah menjadi faktanya yang sukses membuatku hancur.
Ketika aku berbicara tentang bocah itu, hyung sama sekali tidak nampak terkejut. Hyung yang suka bereaksi cepatpastinya sudah tahu alasan kenapa aku marah dan menyebut Jaejoong.
Aku tidak perlu mengulainya lagi pagi nanti.
Pandangan kami berhenti di udara kosong.
Bahkan isi dari film itu tampak kabur.
"Aku benci hyung."
"Okay…"
"Fuck!"
Alasan kenapa aku berkoar-koar seperti ini bukan karena Kim Jaejoong yang mau aku ceritakan pada hyung, tetapi karena hyung terlihat tidak peduli dan putus asa yang membuat hatiku terluka.
"Hyung, jangan seperti ini… kenapa kau tidak bisa seperti orang-orang lain, eh? Cobalah bereaksi, marah, apa pun yang tidak kau suka, lepaskan semuanya!"
Hyungku tidak akan begitu lemah, meski dia kurus, dia masih terlihat sangat tampan, polos, dan segar. 19 tahun, umur yang akan aku isi dengan kehidupan baru.
Meskipun sakit-sakitan, dulu hyung tetap menganggap semua urusannya serius dan akan senang jika semuanya terselesaikan.
Sekarang, kematian terus menerus mengikutinya seperti bayangan, dan itu membuat hyung berperilaku seperti ini, menutupi dirinya.
Hyung tidak akan mati karena gagal jantung.
Tetapi karena penyakit serius yang merusak keinginannya untuk bertahan.
"Adikku sayang…"
"…"
"Aku harus menjadi hyung yang baik hati…"
Meskipun aku merasa melarangnya berbicara seperti itu, dia masih memikirkan soal kami di saat dia sakit, aku sangat berterima kasih dan tidak bisa menyanggahnya. Aku membencinya; aku benci dia memperlihatkan hatinya yang tulus, karena itu, aku menangis dan ini menggagalkan keputusan tegasku yang tidak akan menangis untuk ketakutan hyung.
Aku berbalik ke kamar dan menangis lama sekali, aku menutupi wajahku dengan bantal; terisak dan perasaanku perlahan-lahan mulai tenang. Kecemburuan dan kebencian membuatku kehilangan control dan menangis. Aku pikir hati yang hancur ini harus dibinasakan, baru aku akan bisa bernafas lega.
"Aku mau jalan-jalan keluar."
Karena aku terlalu berpikiran sempit, tidak mau menjawab apa pun darinya, aku bahkan tidak mau menoleh ke arahnya. Aku mendengar pintu terbuka lalu tertutup, meski aku sedikit cemas, tetapi aku tidak bergerak dari tempat untuk mengejarnya.
Karena jika aku mengikutinya, aku akan mengkhianati perasaan egoisku. Memikirkan si bocah itu—alasan kenapa aku bisa cemburu pada hyung, aku tidak perlu beranjak. Corak di wajahnya yang mirip susu, dan gambaran tentanya yang sedang tersenyum padaku, mengiang-ngiang di pikiran.
Setelah beberapa waktu yang sepi, hyung belum juga kembali.
Dan ketika suasana kamar semakin mencekam sampai-sampai aku tidak bisa bernafas, aku memutuskan untuk keluar dari apartemen.
Sebenarnya, aku sama sekali tidak memikirkan untuk mencari hyung, tetapi kedua kakiku dengan sendirinya berjalan ke arah jalan yang kemungkinan besar dilewati hyung. Setiap kali aku melihat bayangan kurus kecil, aku pikir itu pasti hyung.
Tetapi ternyata sulit sekali mencari hyung. Aku menyeret kakiku kembali pulang. Jalanan sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas cepat; udara sangat dingin dan suram. Ada sedikit jarak sebelum aku mencapai jalan penyeberangan, mungkin karena ini sudah tengah malam, aku merasa sangat lelah, dan mungkin saja hyung sudah sampai di rumah, kupikir.
Tepat ketika aku baru saja mau menyeberangi jalan, sebuah kilatan cahaya muncul dari jauh. Segalanya perlahan-lahan menjadi jelas; aku melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, si pengemudi terlihat sedang mabuk. Mobilnya menembus melewati garis tenang dengan kecepatan penuh.
"Hyung, hyung…!"
Aku memanggil hyung seperti orang yang sedang menemui ajalnya. Mobil terlempar dan di sanalah hyung berdiri.
"—!"
Sekarang kakiku tidak bisa bergerak, aku merasakan ada sesuatu yang menahan pergelangan kakiku kuat-kuat, mengikat semua gerakanku. Pada saat itu, aku merasakan itu adalah masalah kehendakku dan aku menggigil seketika. Aku ingin beranjak tetapi aku tidak bisa, aku tahu itu adalah saat-saat terakhir bagi hyung.
Di kedua mataku… dengan gerakan sangat pelan, kejadian itu terjadi seperti film fotografi tua, dari gambar satu ke gambar lainnya.
Hyung mengangkat kedua tangannya untuk menutupi matanya karena silau dari cahaya mobil… jarak antara mobil dan bayangan hyung semakin dekat… tubuh tinggi dan kurusnya bergetar.
Dengan seketika ketika aku memejamkan mataku sebentar, tubuh hyung terjatuh ke tanah seperti air mata yang mengalir turun dari ujung mataku. Tubuh hyung tergelinding selama beberapa saat.
Mobil yang menabrak hyung berhenti mendadak. Saat itu aku baru menyadari bahwa semuanya terjadi secara kilat. Meskipun pengemudinya telah menghentikan mobil, dia tidak membuka pintu mobil, mungkin dia ketakutan. Aku ingin sekali berlari ke mobil dan membuka pintunya, memelintir dan mematahkan lehernya. Hanya itu saja yang aku bisa lakukan untuk hyung yang terbaring di tanah seperti mayat. Hanya ada satu saksi mata, dan itu hal yang sepatutnya aku lakukan sebagai adik sedarah daging satu-satunya.
Aku bisa saja menyelamatkannya, aku bisa saja lari ke arahnya dan mencegah kematiannya. Tetapi kedua kakiku tidak mengikuti sesuai yang kupikirkan, kakiku tidak melangkah maju, justru aku melangkahkan kakiku ke balakang.
Di saat yang sama, air mataku tidak hentinya mengalir. Alasana kenapa aku terus menerus menggelengkan kepalaku untuk tidak percaya bukan karena apa yang terjadi pada hyung. Mungkin karena alasan kedua yang membuatku tidak ingin bergerak untuk menyelamatkan hyungku, aku membenci diriku sendiri, Tak disangka-sangka, aku teringat pada Kim Jaejoong saat di belakang gedung pagi ini.
"Aku menyukaimu."
Suara lembut dari pengakuannya dan kecelakaan hyung tercampur aduk di pikiranku. Seperti barisan gigi yang diracuni dengan sempurna, pikiranku berputar, memanipulasiku.
Aku bisa saja menyelamatkannya; bagaimanapun, pada akhirnya aku memilih untuk pergi. Aku pergi meninggalkan hyungku yang dibanjiri darah di seluruh tubuhnya dan aku berlari. Pedih sekali. Sisi jahat diriku ternyata ada hubungannya dengan bocah itu? Apakah perasaanku memang sedalam ini padanya? Hyung sedarah dagingku baru saja meninggal di depanku, aku justru berpikiran "Inilah kesempatanku, baguslah kalau kau mati." Hatiku yang keji, aku benci diriku, aku berlari ke rumah dan bersembunyi. Aku meringkuk di ujung ranjang. Aku terbenam dalam tuduhan diri, tetapi aku tidak bisa kembali lagi. Aku tidak sanggup melihat tubuh beku hyung sekarang, aku juga tidak punya hak. Aku tidak bisa kembali selamanya.
Sampai fajar, aku masih terendam dalam air mataku karena ketika wajahku terasa tertusuk-tusuk asin dari air mataku, telepon berbunyi. Dari Jinho hyung.
Kabar kematian hyung telah tersebar di keluarga, bahwa kematiannya disebebkan karena kecelakaan lalu lintas.
Aku berpura-pura tidak gelisah, tetapi setelah mendengar kata-kata hiburan dari Jinho hyung, hatiku hancur. Setelah aku mematikan ponsel, aku menatap ke sekeliling ruangan dengan datar.
Dengan seketika, tampaknya semuanya telah berakhir, hari sudah kembali menjadi pagi. Mungkin air mata inilah yang telah mengusir kecemasan dan benci yang aku rasakan terhadap diriku; tidak mudah untuk berhenti memikirkan hal itu. Tetapi di dalam hati, aku tahu aku pantas mendapatkan penyiksaan berjam-jam.
Hari itu, film Perancis yang hyung tonton sudah tamat; filmnya membingungkan.
Aku mematikan televisi sebelum meninggalkan rumah.
Aku tidak punya keberanian untuk melihat wajah hyung di sepanjang pemakaman, aku hanya mengamati dari pinggir. Keluargaku mengira aku masih terbenam dalam kesedihan.
Untungnya, mereka tidak menanyakan apa yang terjadi malam itu secara rinci. "Hanya pergi jalan-jalan. Hanya itu." Semuanya melihatku seperti melihat seseorang yang kusut yang hanya bergumam pada dirinya sendiri, karena itulah mereka tidak menanyakan apa-apa lagi padaku. Di saat itu, aku sangat membenci aksi konyolku. Jika aku mau mengirim hyungku ke alam sana dengan tenang, aku seharusnya menahan semua rasa cemburu ini, kan? Aku tidak mengerti kenapa dia menyerah terhadapku seperti ini, dia masih tetap baik pada orang lain sampai akhir ajalnya.
Aku tidak merasa menyesal sama sekali, haruskah aku menyesal?
Pemakaman berlangsung sangat khidmat, bahkan tidak terdengar isakan sekali pun.
Hanya seperti itu, hanya keadaan patah hati karena kehilangan seseorang yang dicintai tiba-tiba. Hanya Kim Jaejoong yang menunjukkan luka dan kesedihan yang tidak bisa dikontrolnya, aku tidak menyangka dia bakal datang, aku sedikit khawatir.
Bocah itu berdiri tepat di depanku, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku memberikannya sapu tanganku, dan aku hanya bisa lanjut merokok sebelum dia berhenti menangis. Dia membasahi sapu tanganku dengan air matanya; tampaknya dia sangat menyukai hyung. Aku merasa cemburu lagi. Meski aku ingin sekali melepaskan kemurkaanku, dia menghentikan air matanya saat aku masih bisa menahan amarahku. Ketika air matanya berhenti, wajahnya menjadi tampak jelas, matanya merah, hidungnya juga dan bibirnya cemberut, justru membuatnya terlihat lebih manis.
Sekarang, inilah kesempatanku untuk memilikinya seutuhnya untuk diriku sendiri.
.
.
.
TBC
Yunppa jahat -_-
Bakal update lama soalnya udah mau ulangan -_-"
Tugas makin menumpuk eomma Joong juga marah-marah kalau Joong onlinenya lama
Jadi mohon maklum yah kalau Joong updatenya lama u,u
Call Me Baby/Joong aja nde~ gak usah panggil Author atau apalah ^^
Balasan riview :
nunoel31 : Jawaban mu ada dichapter ini ^^
Eh gak usah panggil kakak aku masih sekolah -_-"
Cathsp : Hasil terjemahannya gitu tapi udah berusaha perbaikin kata-katanya ^_^
Emang masih berantakan yah u,u
Hanasukie : Udah lanjut *-*
Hana – Kara : Jawabannya ada dichapter ini ._.
kim anna shinotsuke : Iyaa jawabannya ada dichapter ini
Jaejoong eomma dibuat misterius sama penulis novelnya xD
Daebakk penulisnya *-*b
: Iyaa favoritnya Jae eomma
dia sampai nangis lohh baca novelnya.
Terjemahannya jelek lohhh -_- Maklum baru belajar ^^v
PhantoMiRotiC : Gomawo m_-_m ini udah lanjut
Riview juseyo #puppy eyes
Follow My Twitter : JoongBaby
P.S : Bakal update ff-nya 1 minggu 2x
