CHAPTER 4
Title : As Long As I Live
Disclaimer : Prof. J.R.R. Tolkien's.
Betareader : Thanks to HeastCliff, sisanya adalah kesalahan saya.
Rating : Akan lebih baik jika dikategorikan sebagai FanFiction 'R'.
Timeline : Awal musim semi, TA 151.
Summary : Erestor di tangkap oleh sekelompok Prajurit Peri yang di bayar mahal oleh seorang Penyihir Gelap di Greenwood bagian Selatan. (AU ; Angst-Friendship. No-Slash.)
Begitu pagi tiba, grup Peri yang menangkap Erestor kembali melanjutkan perjalanan. Semalaman penuh Erestor tetap terjaga untuk antisipasi jika ada sesuatu yang janggal dari grup Peri ini. Sebelum melanjutkan perjalanan, Chief Advisor itu diminumkan sesuatu yang rasanya seperti makanan busuk, setelahnya hanya pikirannya saja yang bekerja sementara badannya tidak mau bergerak. Saat itu Erestor baru sadar bahwa minuman yang di berikan oleh Peri itu adalah cairan untuk melumpuhkan syaraf.
Seperti karung bekas, Peri berambut hitam pekat itu dinaikkan ke kuda dengan cara di angkat sebelum akhirnya dilempar. Disamping seluruh rasa sakitnya, Erestor berusaha tetap terjaga karena ia harus tahu bagaimana medan yang di lewati oleh para Peri penghianat dari Rivendell ini. Dan Jika seandainya ia diberi kesempatan oleh Valar untuk kabur ia akan ingat jalannya. Pertama – tama mereka memaju kuda secara cepat sepanjang padang rumput sampai ke arah hutan Greenwood kemudian mulai sedikit mengarah ke Selatan dan dari situ sang Chief Advisor berpikir bahwa ia akan dibawa ke Mordor.
Namun dugaannya salah, rombongan itu mulai menurunkan kecepatan dan mulai masuk ke Greenwood the Great bagian Selatan di seberang Emyn-Nu-Fuin. Di situ, pikiran Erestor yang tidak setajam biasanya baru menyadari ada yang tidak beres dengan kecepatan kuda yang ada di rombongan itu. Seharusnya jarak yang barusan mereka tempuh bisa memakan waktu paling cepat tiga hari itu –dengan sangat mengherankan—dapat di tempuh dalam waktu kurang dari setengah hari.
Peri yang sebelumnya menyerang Erestor turun dari kudanya. "Kalian langsung ke pos jaga, aku akan menyusul setelah memberikan tikus ini kepada Tuan." Katanya yang kemudian menyeret Erestor sepanjang jalan menuju tempat Tuannya. Meskipun demikian, Erestor sama sekali tidak merasakan sakit dan dalam hati ia bertanya – tanya apakah hal tersebut merupakan efek cairan yang diberikan kepadanya tadi. Dari segi struktur, Peri Noldor itu menyadari dirinya berada di Greenwood bagian Selatan. Hal tersebut sangat terlihat karena meskipun ini adalah masa Damai Waspada, Greenwood bagian Selatan masih terikat dengan Bayang – Bayang yang berada di Benteng Tua Dol-Guldur. Bayang – bayang ini berakibat sangat buruk pada pohon yang ada di Greenwood.
Daerah dan suasana tempatnya berada sekarang mengakibatkan ingatan lama tentang pelarian dirinya dari tangkapan Orc yang sudah terjadi hampir empat ribu tahun lamanya itu muncul kembali dan membuatnya sedikit bergidik ngeri, jika waktu itu yang menangkapnya adalah Orc, sekarang yang menangkapnya adalah bangsanya sendiri dan ironisnya, Chief Advisor itu tidak melihat celah sama sekali bagi dirinya untuk kabur.
Setelah sekitar setengah jam diseret dengan sangat tidak sopan ke dalam hutan, Peri tersebut berhenti dan menggumamkan sesuatu seperti mantra atau semacamnya yang membuat sebuah pohon tiba – tiba saja memiliki jalan masuk berupa tangga spiral yang naik ke atas. Dari dalam pohon itu keluar dua manusia yang sepertinya merupakan orang Harad dilihat dari cara berpakaian mereka. "Kalian!" Bentaknya yang sontak membuat dua manusia yang sepertinya takut terhadap Peri itu langsung menatapnya. "Bantu aku membawa tikus ini ke atas." Katanya memerintah.
Dengan decakan pelan, laki – laki yang pertama bertanya kepada Peri berambut coklat kayu yang sudah berjarak beberap anak tangga darinya. "Tuan Peloron, mau di apakan 'Tikus' ini?" Tanyanya yang membuat –pada akhirnya Erestor tahu namanya—Peloron menyerigai lebar. "Kau akan tahu nanti, dan mungkin kau akan menyukainya." Katanya sebelum naik kembali ke atas meninggalkan dua manusia yang ditugaskan membawanya ke atas itu menyerigai lebar secara tiba – tiba seperti mengetahui apa rencana Morazon kepada Chief Advisor itu.
Laki – laki bermata hijau yang berjalan di depan mengencangkan tali yang mengikat pergelangan tangan Chief Advisor Imladris itu sebelum menggeretnya naik dengan cara menarik rambut Peri itu dengan tanpa rasa bersalah. Meski masih dalam pengaruh cairan yang sebelumnya ia minum, Erestor dapat merasakan sakit ketika punggungnya terbentur bentur anak tangga, barulah ketika manusia yang satu lagi menyusul naik dan mengikatnya di sebuah tiang kayu yang pada akhirnya di angkat oleh kedua manusia itu.
Ketiganya terus menyusuri anak tangga yang sepertinya tidak berujung itu hingga akhirnya mereka sampai di puncak pohon. Erestor sedikit mentenglengkan kepalanya untuk melihat dimana posisinya sekarang. Dan untuk kekagetan Penasihat itu, dirinya berada di atas sebuah Talan yang di hubungkan dengan jembatan kayu ke sebuah bangunan utama yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari tempatnya berdiri sekarang.
Penasihat itu kemudian dibawa oleh kedua manusia itu untuk menyebrangi jembatan tersebut. Ketiganya kemudian memasuki bangunan utama yang tidak terlalu besar tersebut, seperti tangga di dalam pohon tadi, begitu memasuki bangunan ini, anak tangga kembali menyambutnya. Hanya saja tidak sepanjang dan serumit anak tangga sebelumnya.
Erestor merasa kepalanya sakit sekali karena kejadian yang ia alami dalam waktu singkat tersebut sehingga tidak menyadari dirinya sudah sampai di sebuah ruangan besar seperti ruang takhta, di ujung ruangan duduk seorang Peri berambut coklat tua, Erestor sangat yakin jika Peri tersebut menyerigai. Mata merah Peri tersebut berkilat – kilat seperti menyembunyikan sesuatu, dan seketika Chief Advisor Elrond tersebut tahu siapa yang duduk di depannya; Morazon.
.
.
Glorfindel berjalan cepat bersama Asaren melintasi Lapangan Utama untuk pergi ke kamar kerja Elrond. Sepanjang jalan, tidak sedikit Peri yang menatap Asaren dengan wajah sinis seperti sudah tahu akan apa yang terjadi. Banyak pula yang hanya menatap Balrog-Slayer dan Sekertaris itu sebelum pada akhirnya berlalu begitu saja. Sejujurnya, Glorfindel sama sekali tidak peduli dengan hal itu; toh nantinya semua kejahatan yang dilakukan oleh Asaren, kakaknya Peloron serta Prajurit Peri yang berkhianat itu akan segera terungkap, atau setidaknya akan menemui titik terangnya.
Tanpa basa – basi, Glorfindel membuka pintu ruang kerja Elrond. Ia tidak heran ketika dirinya melihat Elrond sedang mengadakan rapat tertutup bersama Penasihat kepercayan Lord tersebut. Putra Earendil itu sempat menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk pada anggota Councilnya yang dengan rasa hormat segera meninggalkan ruangan Elrond, entah karena tidak ingin terlibat masalah, atau hanya takut menjadi korban kemarahan Elrond yang sudah tampak menyeramkan sepanjang rapat barusan.
Glorfindel menarik Asaren maju sampai kedepan Elrond yang berdiri di depan mejanya. Meski suda pernah melihat ekspresi yang satu ini, Glorfindel terkadang merasa ngeri ketika melihat raut wajah dingin Tuannya dengan bibir tertekuk kebawah dan mata menatap lurus kepada siapapun yang menjadi sasaran Tatapan Kematiannya itu. Asaren sendiri tidak berani menatap Tuannya, Peri berambut coklat kayu itu melemparkan pandangannya pada lantai ruangan tempatnya berada dan berharap dirinya tidak terkena amarah dari Tuannya itu.
"Asaren," suara berat Elrond menggema di seluruh ruangan yang tiba tiba saja serasa seperti kuburan. "Bisa beritahu aku apa maksud dari surat ini?" Tanya Elrond yang sudah membaca sekilas surat yang tadinya akan dikirimkan oleh sekretaris tersebut entah kemana. Sesuai dugaan Elrond dan Glorfindel, Peri bermata hijau itu tetap menundukkan kepalanya, bahkan mungkin semakin menunduk. "Asaren!" Kali ini Elrond menggebrak mejanya dan membuat Asaren –bahkan Glorfindel—menatapnya dengan segera.
Mata Lord of Imladris tersebut beriklat – kilat tanda menahan amarah, dan sekali lagi ia memanggil Asaren dengan tajam. "Asaren. Segera beritahu aku, apa maksud dari surat ini, dan kemana kau akan mengirimnya?" ketika belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Peri itu, Elrond kemudian berbicara dengan nada yang diyakini dapat membunuh sepuluh Orc. "Atau mudah saja, kau akan aku keluarkan dari Lembah ini dan langsung kukirim ke Havens untuk mendapat penjurian dari para Valar sendiri. Bagaimana?" Tanyanya yang sontak, memuat Asaren bertambah pucat.
Dengan takut, akhirnya Asaren memberanikan diri menjawab pertanyaan Elrond itu. "Sa-saya hendak mengirim surat itu pada... kakak saya Peloron, Tuan." Gumamnya yang membuat Elrond pada akhirnya tersenyum meski itu adalah serigaian sekalipun, ia tetap menunggu Asaren untuk melanjutkan jawabannya. "Saya ditugasi untuk memata matai pergerakan di Imladris oleh... saya yakin anda tahu siapa.." katanya lirih.
"Hoo, begitukah, Asaren?" Tanya Elrond yang masih menatap Peri yang ketakutan di depannya. "Kemana kau akan mengirim surat ini kalau begitu? Dan kuharap kau menjawab dengan jujur. Karena jika tidak, aku akan dengan senang hati menyiksamu." Kata Elrond pedas yang membuat Glorfindel nyaris mengangkat sebelah alisnya, ia tahu Tuannya hanya menggeretak, namun untuk Peri seperti Asaren hal tersebut adalah ancaman serius.
Kali ini Asaren menatap mata Herald Gil-Galad itu dengan rasa takut luar biasa sebelum akhirnya menelan ludah dan memberitahu kemana ia akan mengirim surat itu serta tempat dimana Chief Advisor Imladris tersebut di sandera.
.
.
"Ah," Suara berat dan dingin bergema di seluruh ruangan. Suara tersebut mengingatkan Erestor pada masa peperangan ketika Morazon menghianati Rajanya sendiri dan menyebabkan High-King tersebut mati di tangan Sauron, semua itu hanya karena iming – iming berupa kekuatan sihir gelap untuk dirinya sendiri. "Akhirnya kau sampai juga disini... bagaimana perjalananmu, Erestor? Apa menyenangkan?" Tanyanya yang mulai berjalan ke arah Peri yang kini tinggal di Rivendell itu.
"Morazon," Desis Erestor penuh kebencian ketika tangan dingin Peri penghianat itu mengangkat dagunya. "Penghianat sepertimu seharusnya mati!" Kata Erestor dengan suara tinggi yang biasanya membuat para Peri penghuni Rivendell menjadi semakin ngeri kepadanya. Kendati demikian, Morazon hanya tertawa dengan nada aneh yang justru membuatnya merinding, namun bukan Erestor namanya jika tidak mengangkat dagunya dengan tatapan dingin dan kepala batu. "Begitukah menurutmu, Erestor?"
Dengan sebuah serigai, Morazon melepaskan tangannya dari dagu Erestor. "Bukannya kau yang membiarkanku pergi karena luka kecil di badanmu waktu itu, hmm?" Mantan Advisor Gil-Galad itu tertawa pelan sebelum duduk kembali di takhtanya. "Peloron," Panggilnya pada Peri yang tiba – tiba muncul dari belakang kursi takhtanya, dan sambil menatap Erestor dengan sinis dan tajam, ia berkata pada Peloron. "Berikan dia pada para Orc, beritahu mereka bahwa Peri itu adalah hadiah dan mereka boleh melakukan apapun sesuka mereka, hanya saja jangan sampai mati." Katanya yang menyerigai kembali.
Peloron mengangguk pada Tuannya sebelum memerintahkan dua manusia yang sedari tadi masih menahan Erestor untuk mengikuti Peri bermata hijau tersebut ke bawah tanah untuk memberikan *hadiah* kepada mereka. Erestor bergidik ngeri dan berusaha melepaskan diri, namun tentu saja hal itu sia – sia. Untuk kali itu, Erestor menyerah dan berharap Valar masih memberinya kesempatan hidup setelah ini.
tbc..
Emyn-nu-fuin : Mountains of Mirkwood.
