"Ibuu~"
"Hmm?"
"Solar sama Thorn mau ke taman ya~?"
Tangan Jingga yang sejak tadi membalik lembar buku bacaannya terhenti seketika. Matanya beralih dari kalimat-kalimat yang menjelaskan tentang wirausaha, ke Solar yang berdiri di hadapannya sambil nyengir. Tak jauh di belakangnya terlihat kembarannya, Thorn, menatap Jingga dengan ekspresi harap-harap yang sama. Tapi selain mereka, Jingga tak melihat anak-anaknya yang lain. Tunggu, mereka mau ke taman kota berdua aja nih? Eh, gak boleh lah! Mereka kan masih 5 tahun!
"Berdua aja? Kakak-kakak gak ada yang ikut?"
"Kak Halilintar masih di sekolah, kak Taufan pergi naik sepeda, kak Gempa ketiduran di kamarnya, kak Blaze gak tau dimana, dan kak Ice tiduran di kursi itu tuh." Solar mengucapkan alasan-alasannya dengan santai, seolah telah direncanakan sebelumnya, sambil menunjuk Ice yang memang sedang tidur di sofa tak jauh dari Jingga.
Sang Ibu menghela nafas, dan menutup bukunya.
"Hmm, tapi kalian berdua masih terlalu kecil untuk pergi sendiri ke taman." Jingga pura-pura berpikir. Tentu saja dia yang akan ikut anak-anaknya itu, kalau begini ceritanya. Tapi dia ingin melihat, apakah dia diberi ijin oleh mereka atau tidak(?). Memang, kedua putranya itu senang sekali ke taman kota sejak pertama kali diajak oleh sang Ayah setahun lalu. Solar senang bermain dengan teman-teman baru, sedangkan Thorn senang memperhatikan tanaman-tanaman yang ada disana.
"Ya udah, kalau gitu Ibu ikut aja." Ucapan kalem Thorn muncul dari belakang sang kakak kembar, dimana Solar mengangguk menyetujui. Wah, tumben nih gampang juga dapat persetujuan dari mereka. Jingga tersenyum lebar.
"Tapi jangan ganggu ya Bu."
Kalimat lanjutan dari Solar menjatuhkan senyum manis sang Ibu seketika.
.
.
Harmony Fear
A Family Drama (and failed romance)
And sorry in advance for the OOCness
Warning! Contain BoboiboyxOC pairing
Also, some crazy pairing… like, really crazy…
AU
AnonyNeko
2017
.
.
3. Quality Time 1: Park
Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, Jingga hanya bisa tersenyum kecil ketika kedua tangannya ditarik-tarik oleh kedua putranya sejak tadi. Tidak sabar menuju ke tempat tujuan, sepertinya. Currently mereka sedang dalam perjalanan menuju ke taman, yang tidak begitu jauh dari rumah namun tidak juga bisa dikatakan dekat.
Kenapa mereka tidak naik mobil saja?
Ah, nanggung, toh dengan jalan kaki kan lebih sehat, kata Jingga suatu hari. Sebenarnya sih, itu hanya karena wanita itu belum terlalu mahir menyetir mobil. Takut-takut kecelakaan kan lebih baik berjalan kaki.
"Cepat Buuu! Fang pasti udah disanaaaa!" Solar mengeluh lagi untuk yang kesekian kalinya, menarik-narik tangan kanan Ibunya. Rengekannya membuat Jingga menaikkan satu alisnya. Fang? Hmm, rasanya nama itu tidak asing deh… anak siapa ya…(?).
Mereka sampai di taman beberapa menit kemudian, karena mau tak mau Jingga jadi harus berlari kecil juga mengikuti kecepatan anak-anaknya. Solar langsung melesat ke tempat bermain, dimana dia ditegur Jingga, yang sedang susah payah menarik Thorn yang sibuk melihat-lihat flora agar tak terlalu jauh dari kakak kembarnya.
"Thorn mau disini aja Bu." Anak bungsunya menjawab sambil tersenyum. Dia sudah berjongkok di hadapan sebuah pohon berbunga kecil. "Enggak apa-apa kok. Thorn bisa cari kak Solar sama Ibu nanti."
Jingga menatapnya sedikit panik, melirik ke Solar yang semakin menjauh, menatap Thorn lagi, menatap Solar lagi, begitu deh diulang-ulang. Aduuh kalau dia diam disini, bisa-bisa Solar yang ngilang. Kalau dia tinggal Thorn disini, nanti dia diculik gimana(?).
Hei, hei, penculikan anak kan lagi marak tuh. Lihat saja di berita televisi. Apalagi kedua anaknya kan manis-manis(?), bisa bahaya!
"Thorn, gimana kalau kita ke tempat yang lebih deket sama tempatnya kak Solar main, oke? Supaya Ibu bisa ngawasin kalian berdua… ya?"
"Hm?" Thorn menatap Ibunya lagi, masih tersenyum. Sepertinya sedikit-banyak dia mengerti kekhawatiran Ibunya. "Tapi ini tanaman apa Bu?"
"Me-memangnya kenapa?"
"Thorn bisa aja ikut Ibu kesana, tapi Thorn ingin tau tentang tanaman ini dari dulu. Jadi kalau Thorn kesana, nanti di rumah Thorn mau cari tau aja di internet pakai komputernya kak Hali."
Oke, Jingga mengernyit tajam. Siapa yang mengajari Thorn memakai internet? Ada aturan strict di kediaman mereka, dimana para anak boleh memakai playstation dan internet jika dan hanya jika mereka sudah menginjak usia 7 tahun ke atas. Terdengar seperti aturan matematika(?), pencetusnya Jingga. Hal ini dicetuskan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan yang rentan di internet dan game-game dewasa yang tak cocok untuk anak kecil.
Setelah sang Ibu bertanya, Thorn menjawab dengan polos kalau sebenarnya ini rahasia, tapi yang mengajaknya—dan Solar, ternyata—memakai internet adalah Blaze. Aduh, anak kecil satu itu, Jingga berdecak-decak. Sampai rumah nanti dia harus menyiapkan ceramah panjang untuk putranya yang paling *liar* itu.
"Nah, nah, kamu jangan pakai internet sering-sering ya? Harus diawasin. Nanti Ibu yang cariin tanamannya deh, kamu boleh liat."
Sepertinya saran sang Ibu cukup memuaskan di pihak Thorn. Putranya itu mau bangkit berdiri, dan mengikuti Ibunya mencari Solar. Kalau Jingga tidak salah terka anaknya yang satu itu ada di tempat bermain. Dan sepertinya Jingga memang tidak salah terka, dia bisa melihat Solar bermain dengan happy bersama beberapa anak lain disana. Lalu dia melihat Solar mendorong seorang anak berambut hitam keunguan hingga terjatuh ke atas pasir, menyebabkan acara kejar-kejaran(?).
Jingga melihat ada tempat duduk tak jauh dari lokasi, dan dia memutuskan untuk duduk disana. Setengah menebak kalau anak bungsunya akan ikut bermain, tapi dia malah terlongo melihat Thorn ikut duduk bersamanya. Kelihatannya putranya yang satu itu malah menikmati kedamaian di taman. Hmm.
"Lho, Thorn? Kamu gak ikut main, sayang?" tanya sang Ibu, menatap bocah yang duduk disampingnya. Dijawab dengan sebuah gelengan kepala dan senyuman manis.
"Enggak deh Bu. Rame dan ribet sekali kelihatannya."
Wah, wah, gak bisa begini, Jingga berdecak-decak dalam hati. Thorn masih kecil, harus menikmati masa kanak-kanaknya dengan maksimal sebelum dia harus menempuh bangku sekolah. Nanti jadinya kayak Gempa(?), terlalu dewasa sebelum umurnya, kan kasihan. Padahal dulu Gempa aja suka bermain kok, bisa jadi bertanggung jawab seperti itu padahal masih 11 tahun. Kalau Thorn dibiarin begini, bisa lebih parah…
"Waah, jangan gitu dong sayang~ Pasti asik kan. Lagipula, jarang-jarang kamu main, siapa tau dapat teman baru, kayak kakakmu tuh~" Sang Ibu berusaha membujuk putranya, dia menunjuk ke arena bermain. Dia melihat Thorn memikirkan hal ini, kemudian menunduk sedikit.
"Tapi Bu, err…"
Melihat ekspresi sang anak, Jingga mengerti. Thorn memang sedikit penyendiri, dan lebih suka melakukan semuanya sendiri—hal ini nyaris membuatnya jantungan saat Thorn masih kecil. Bahkan mungkin juga sedikit pemalu, meski tidak begitu kentara. Yang pasti, Thorn bukan tipe orang yang bisa berjalan begitu saja ke suatu kerumunan dan langsung bergabung di dalamnya, tidak. Dia perlu bantuan!
"Ahaha, nggak apa-apa kok sayang~ Ibu panggilin kakakmu ya, kalau sama kak Solar gak apa-apa kan~?" Dia melihat perubahan ekspresi dari anak bungsunya, dan memutuskan untuk benar-benar memanggil anaknya yang satu lagi. "Heeii! Solar! Sini sebentar, ajak adikmu main nih!"
Yang dipanggil berhenti berusaha mencakar(?) wajah anak yang didorongnya tadi, dan menoleh ke arah Ibunya. Solar nyengir lebar dan langsung menghampiri Ibu dan adiknya.
"Wah~ Thorn mau ikutan? Tumben~!"
Thorn hanya tersenyum timid, sementara Jingga tertawa lembut. "Iya, sesekali kan. Ajak adikmu ya~ Jangan ditinggal~"
"Oke! Ayo Thorn! Kita kalahin si Pang itu~!" Solar menarik satu tangan adiknya dan menyeret Thorn ke arena bermain dengan ceria, tidak melihat kalau adiknya kesusahan mengikuti langkahnya. Sang Ibu memperhatikan mereka dengan senyuman lebar yang lembut, menghela nafas lega disaat bersamaan. Anak-anaknya manis sekaliii!
"Hmm. Mereka berdua mirip Ayahnya, ya."
Sebuah suara yang familier, meski jarang terdengar, membuat Jingga sedikit tersentak. Wanita itu menoleh ke penghuni kursi disebelahnya. Wajahnya langsung mencetak sebuah senyuman ramah begitu melihat kalau itu adalah Kaizo, temannya sejak dari masa SMA dulu. Ahh, dia terfokus di dunianya sendiri sampai tidak sadar kalau ada teman duduk disampingnya.
"Kalau maksudmu dari rupanya, tentu saja mirip Ayahnya, ahaha!" Jingga tertawa riang, mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Yang disambut dengan hangat. "Lama sekali tidak bertemu eh, Kaizo!"
"Kau juga, Jingga. Tapi kelihatannya kau tidak banyak berubah." Pria disamping Jingga tersenyum tipis, namun ramah. Yah, Kaizo memang bukan tipe orang 'happy-go-lucky' seperti Jingga, tapi dia cukup lepas dengan teman-temannya. "Itu berdua anak bungsumu?"
"Yap! Solar dan Thorn, kembar tuh, ahaha~"
"Kelihatan sekali mereka itu anakmu, sifatnya mirip, haha."
"Hei, hei, apaan!" keduanya tertawa ringan. "Kau juga, itu anakmu ya?" Jingga menunjuk ke teman bermain Solar sejak tadi—atau teman saling siksa(?).
"Hm. Ya."
"Siapa namanya? Lucu sekali!"
"Fang, 6 tahun. Aku kira Boboiboy sudah memberitahukannya padamu,"
"Mungkin… tapi aku kan lupa-lupaan." Jingga terkikik sekarang. Yah, mungkin saja suatu hari suaminya itu memberi kabar padanya, tapi bisa saja dia lupa. "Lagipula, kamu emang yang paling jarang ada kabarnya! Terakhir aku dengar, kamu menikah dengan Ying, itu saja!"
Kaizo hanya membenarkan, mendengus geli. Memang sih apa yang Jingga katakan benar juga. Itu dikarenakan tugas-tugas dari pekerjaannya yang semakin banyak, jadi dia sibuk dan tidak bisa in-contact dengan teman-temannya sejak dulu lagi. Ying juga sepertinya sibuk mengurusi Fang dan bergosip dengan tetangga(?), mungkin. Ditambah lagi karena mereka tidak tinggal di kompleks perumahan Pulau Rintis, jadi agak jauh.
"Artinya, kau mengurusi dua set kembaran nih, Jingga?" Kaizo bertanya sambil mengingat-ingat. Kalau tidak salah, Boboiboy punya 3 anak yang kembar juga, ya kan? Hm, pasti berat.
"Yaaah, begitulah! Tapi mereka anak-anak manis kok, jadi tidak terlalu terasa berat." Jingga masih merespon ceria, meski kali ini sedikit sweatdrop juga karena kalimatnya sendiri. Memang manis sih, tapi ada kalanya dimana mereka bertujuh itu benar-benar merepotkan, dia jadi ingin cerai dari Boboiboy. Tapi eh, tidak mungkin sampai seperti itu juga kok, ahaha(?)
Sesuatu sepertinya menarik perhatian Kaizo, dia menatap Jingga lekat-lekat. "Kau sayang mereka semua?"
Pertanyaan itu seolah membawa sense déjà vu bagi Kaizo. Dia ingat dia pernah menanyakan pertanyaan yang sama sekian tahun yang lalu, tapi untuk Boboiboy.
"Eh, tentu saja!"
"Bahkan trio Hali-Taufan-Gempa? Anak-anak Boboiboy?"
Barulah Jingga sadar kemana arah pembicaraan ini. Wanita itu kehilangan senyum cerianya, digantikan dengan sebuah senyum kecil dan helaan nafas.
Sejak dulu, dia cukup sering mendapatkan pertanyaan yang seperti ini. Apakah dia sayang semua putranya? Apakah itu termasuk trio kembar dari Boboiboy?
Dan jawabannya selalu sama.
"Tentu saja, Kaizo. Meski aku bukan Ibu kandung mereka, tapi aku yang pretty much membesarkan mereka. Aku sudah merasa bahwa aku memang Ibu mereka, tentu saja aku sayang mereka." Jingga menutup matanya sejenak, mengingat-ingat masa lampau.
"Mereka anak-anak malang yang tak bersalah, tidak boleh menghadapi kejamnya dunia dulu. Mereka harus tumbuh sebagai anak-anak normal lainnya, tanpa masalah. Aku tidak mau ada satupun anak-anak dikeluargaku yang tumbuh dengan kepahitan, itu tidak boleh."
Jawaban itu membuat Kaizo terpaku sejenak di tempat duduknya. Pria itu kemudian tersenyum penuh pengertian, menghela nafas, dan kembali memperhatikan anak-anak yang bermain di hadapannya. "Kau memang pantas menikah dengannya, Jingga. Kalian berdua sama-sama kuat."
"Uuh, ahaha, apaan sih~ Enggak ah, jangan muji~" aura-aura mellow yang tadi mengelilingi Jingga langsung kandas, dia langsung bergaya ala gadis-gadis muda yang sok-sok tak mau dipuji. Membuat temannya sweatdrop. Memang ya, meski sudah dibanting-banting oleh takdir, wanita ini tak akan pernah berubah.
"Heh, dasar. Tapi kau akan memberitahukan ini ke mereka kan, suatu saat nanti?"
"Hm, hm, tentu saja. Rencananya sih tunggu cukup umur dulu, berapa lah, 17 atau 18."
"Bagaimana dengan adik-adik mereka? Diberitahu juga?"
"Un! Tidak ada rahasia diantara keluarga kami~"
Dan pembicaraan berlanjut diantara kedua teman lama itu. Jingga mendapati dirinya sesekali bernostalgia, mengenang masa-masa lalu, dimana semuanya juga terasa sebahagia ini. Sebelum dirinya dihempas takdir tentu saja.
Ahh, tidak, dia tidak pernah menyalahkan siapapun atau apapun atas apa yang menimpanya. Dia menerima semuanya dengan lapang dada, dan akhirnya dia mendapatkan imbalannya sekarang.
Pembicaraan mereka terputus ketika melihat tiga bocah berlari ke arah mereka. Oh, sepertinya anak-anak mereka memutuskan kalau mereka sudah lelah bermain. Thorn mendudukkan diri disebelah Jingga, sementara Solar meloncat dan duduk di pangkuan Ibunya. Oh, jangan lupa mengeluh lagi kalau dia capek. Jingga hanya tertawa dan mengacak-acak rambut putranya yang memang banyak komplain itu.
"Tapi setidaknya kita menang, kan kak?" Thorn angkat bicara sambil bersandar di lengan Ibunya.
"Ahahaha, kau benar Thorn! Kita menang lagi, kasihan deh Pang~" Solar tertawa happy, lebih ke mentertawakan Fang sih sebenarnya. Yang ditertawakan tadinya sedang bercerita kepada Ayahnya dengan semangat, tapi langsung banting setir jadi menjulurkan lidahnya sebal ke arah Solar.
"Awas saja kalian! Lusa aku kesini lagi! Dan panggil aku KAK FANG!"
"Oh? Nantangin lagi? Ya udah, boleh aja~ Mau ke rumah cari kami juga boleh aja, Ahahaha~"
"Iya, ahaha… Lagipula, siapa yang sudi manggil kamu kak Fang…"
Ucapan combo strike dari Solar dan Thorn membuat Fang menunduk galau(?) disebelah Kaizo.
Jingga tertawa melihat tingkah anak-anaknya. Aduuh, dia jadi ingat masa-masa SMA~ Dimana para bapak-bapak dari bocah-bocah ini juga sering adu mulut ahaha. Yap, Kaizo dan Boboiboy adalah rival sejak dulu, begitu sih yang Jingga ketahui. Mungkin, darah ini mengalir ke anak-anaknya. Kaizo sendiri hanya tersenyum geli melihat perdebatan ini, kurang lebih sama seperti Jingga, dia sedang bernostalgia.
Acara nostalgia harus diputus ketika handphone Jingga berdering tiba-tiba. Sebelum dia sempat mengambil benda itu dari saku jaket yang dipakainya, Thorn sudah mengambilnya duluan, dan diserahkan ke Solar. Yang diberikan handphone menatap layar handphone Ibunya, matanya menyipit sedikit.
"Ini kak Gempa, Bu! Bener kan?"
Eh? Astaga! Jingga cepat-cepat meraih handphonenya dari tangan Solar. Benar saja, itu sebuah panggilan dari anak ketiganya. Ya ampun, dia lupa meninggalkan pesan untuk mereka yang dirumah!
Ah, kenapa bisa Gempa yang menelponnya? Memang, ketiga anaknya yang tertua itu sudah diberikan ponsel oleh sang Ayah, dengan alasan mereka sudah mulai sibuk di sekolah hingga terkadang perlu memberi kabar orang tua mereka.
"Halo sayang~? Ahaha, iya, maaf ya… Ibu lupa menuliskan pesan…" Jingga terkekeh-kekeh. "Iya, Ibu lagi di taman kota… Iya sama adik-adikmu juga… iya… Iya, ini juga udah mau pulang…" Wanita itu tampak nervous dan terkekeh lagi. Kaizo menghela nafas melihat temannya, lagi-lagi pergi tanpa perencanaan. "Ahaha… suruh mereka tunggu ya, Ibu cepet-cepet pulang deeh."
Sambungan diputus, Jingga langsung menghela nafas. Menuai pertanyaan heran dari kedua putranya. Wanita itu menunjukkan cengirannya.
"Itu, kakak-kakak kalian pada bingung semua. Kak Taufan sama kak Blaze juga pada kelaparan tuh katanya, ahaha~ Ayo kita pulang sekarang ya~"
Jingga berdiri setelah menurunkan Solar dari pangkuannya, juga pamit kepada Kaizo. Menyapa Fang dengan sekedar juga, sebagai tanda kenal lah. Mereka bertukar salam lagi, dan berjanji akan saling mengabari, kemudian berjalan ke arah yang berlawanan.
Jingga tidak memperhatikan kedua anaknya yang saling tatap, dan membuat rencana hanya via tatapan mata. Keduanya kemudian menarik perhatian Ibunya.
"Ya sayang~?"
"Tapi kan kami capek Bu. Males jalan."
Jingga langsung cengo(?) mendengarnya. Aduuh, rencana apalagi kali ini?
Katakanlah, para penduduk perumahan Pulau Rintis mendapat kesempatan lagi untuk melihat kelucuan dan kemanisan tingkah keluarga Boboiboy di hari itu. Mereka melihat Jingga yang dalam perjalanan ke rumah menggendong dua putra bungsunya, satu gendong punggung, satunya bridal style. Entah bagaimana Jingga bisa melakukannya, tak ada yang paham.
Meski ekspresi kedua anaknya tampak ceria, ekspresi sang Ibunda justru kelihatan masam. Thorn bahkan tampaknya nyaris terlelap di punggung Jingga, sementara Solar memeluk Ibunya dengan ceria.
Yah, bukan pemandangan langka lagi sih, tapi tetap saja pemandangan yang manis dan menarik hati. Bahkan ada beberapa ibu-ibu rumah tangga yang mengambil gambar mereka, ufufufu.
.
.
A/N: Ceritanya santai ya? Iya. Nyaris gak kerasa drama ya? Yep. Masih gaje ya? So pasti. Emang cerita-cerita saya dari sananya udah gaje... Maka dari itu saya terima kasih, terima kasih banyak, kepada kalian yang sudah mau membaca cerita gak jelas gak cocok genre ini...
Dan alangkah senangnya saya kalau ada yang review ;) Mungkin saya ada salah-salah penulisan, atau EYD atau apa gitu, katakan saja. Susah nyari waktu luang untuk mengedit soalnya... *cry*
~AnonyNeko
