Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Story : V3Yagami

Genre : Angst, Romance, Tragedy, Hurt/comfort, Mystery

Rated : M

Notes : Tolong jangan meng-copy atau memindahkan cerita ini pada bentuk apapun (Blog, FP, FFN, LJ, DLL) tanpa se-izin aku.

.

.

Sasuke mencari sosok Sakura ditengah hujan yang sangat deras, pandangannya sedikit buram karena kabut yang tercipta. Tidak peduli dengan dirinya yang kini basah, Sasuke terus berlari ke tempat-tempat yang biasa Sakura kunjungi. Namun tidak ada di satu tempat pun sosok Sakura terlihat. Sasuke mulai frustasi, sampai akhirnya dia meminta bantuan Naruto dan anak buahnya untuk mencari sosok Sakura.

Sakura yang dari tadi berlari tanpa arah kini memperlambat larinya, pandangannya kosong dan air mata kini sudah tercampur oleh air hujan yang membasahi wajahnya. Orang-orang yang di dalam gedung bingung melihat Sakura yang tidak peduli derasnya hujan yang membasahi tubuhnya, disaat orang-orang memutuskan untuk berteduh... Sakura lebih memilih menerobos hujan yang deras.

Tidak punya tujuan... akhirnya Sakura mengikuti kemana langkahnya akan tertuju, dia tidak peduli akan kemana dirinya karena saat ini pikirannya sedang kacau. Mengetahui bahwa dirinya bukan lagi anak dari presiden, Sakura merasa sanget kehilangan... kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai, sosok Ino sebagai pengawal dan sahabatnya, serta sosok-sosok lain yang berada di dalam istana itu. Saat ini, Sakura pergi... siapa yang akan mencarinya? Sudah pasti tidak ada... itulah yang Sakura pikirkan.

Selain dikhianati oleh ayahnya sendiri, Sakura kembali dikhianati oleh Sai dengan memberi tahunya bahwa mereka adalah bersaudara. Mengingat ucapan Sai membuat Sakura menangis lebih kencang, bersyukur hujan deras menutupi suara tangisnya. Sakura berjalan dengan tangan yang terus menghapus air matanya. Sampai dia sadar kini dirinya berada di suatu tempat yang pernah dia kunjungi bersama Sasuke. Tempat dulu Sasuke pernah menunjukkan pemandangan matahari terbenam padanya.

Terlihat sangat kelam pantai yang Sakura lihat sekarang, mungkin sama kelamnya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sakura melangkahkan kakinya menuju pantai, untuk orang normal... siapa yang akan mendekati pantai disaat hujan deras? Namun disinilah Sakura, melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong pada ujung pantai yang entah dimana ujungnya.

"SAKURAAAA!"

Ya... Sakura mendengar seseorang memanggilnya, entah dia mengalami delusi atau memang itu yang dia harapkan? Seseorang memanggil namanya dan memintanya untuk kembali... tapi kembali kemana? Sakura sudah tidak punya tempat lagi untuk kembali. Menyingkirkan harapan yang tidak mungkin, Sakura kembali melangkahkan kakinya sampai ada sesuatu yang menarik lengannya.

"KAU GILA!?"

Sakura tertarik kebelakang oleh seseorang yang kini ia lihat sosok itu adalah...

"Shikamaru..."

"Kau berniat ingin mati? Sedang apa kau berjalan ke tengah pantai begini? Ayo pulang!"

Saat Shikamaru menarik lengan Sakura, gadis itu menahan dirinya, "Tidak... aku tidak mau~" tolak Sakura.

Shikamaru menatap Sakura dan melihat wajah gadis itu yang sangat kacau, air mata yang tidak berhenti cukup memberi penjelasan pada Shikamaru bahwa kondisi Sakura saat ini sangat tidak baik. Shikamaru mengangkat dagu Sakura sehingga gadis itu memaksa menatap sorot mata Shikamaru yang kini terlihat lembut, "Ada apa?"

Sakura tidak menjawab melainkan terus menangis, Sakura menggenggam tangan Shikamaru kemudian menangis kencang. Shikamaru yang masih bingung harus berbuat apa hanya bisa menepuk kepala gadis itu, akhirnya daripada memilih untuk berdiri di udara dingin begini, Shikamaru mengajak Sakura ke tempatnya untuk berteduh. Shikamaru mengajak Sakura naik ke motornya dan pergi meninggalkan tempat yang saat ini Sasuke lah yang mendatanginya.

"Tidak ada...," mata Sasuke mencari sosok Sakura ke seluruh sudut pantai, "Sakura kemana kau sebenarnya?"

.

.

Shikamaru yang kini sudah mengeringkan tubuhnya mulai mengeringkan rambutnya yang masih basah, rambut yang biasanya ia kuncir kini terurai. Dia melihat Sakura yang juga sudah mengeringkan tubuhnya namun tidak dengan rambutnya. Gadis itu duduk terdiam menunduk di sofa dengan baju Shikamaru yang dipakainya. Laki-laki yang kini hanya memakai celana panjang dan handuk yang melingkar di lehernya mulai mendekati Sakura dan berjongkok di hadapannya.

Sakura tidak bicara, tatapannya masih kosong, melihat beberapa air yang menetes dari rambut pink itu, Shikamaru beranjak dan mencari handuk kering, begitu ia menemukan handuk kering, Shikamaru mulai mengeringkan rambut Sakura.

"Kau akan masuk angin," ujar Shikamaru sambil mengeringkan rambut Sakura.

Sakura masih tetap diam, air mata kembali keluar dari emeraldnya yang kini terlihat kelam. Shikamaru tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun satu hal yang Shikamaru bisa tebak...

Shikamaru mendengar telepon apartemennya berbunyi, "Sebentar, kau keringkan dulu rambutmu," ujar Shikamaru mengangkat tangan Sakura menuju kepalanya sendiri. Begitu Shikamaru mengangkat teleponnya.

"Ya?"

"Shika, ini gawat! Sakura mengetahui bahwa dirinya bukan anak presiden dengan cara yang keterlaluan, sekarang dia kabur dari istana, apa kau bisa bantu mencarinya?"

Tidak perlu bertanya siapa pemilik suara berisik di seberang sana, Shikamaru sudah bisa menebaknya. Namun entah apa yang laki-laki itu pikirkan, dia menjawab, "Ya... akan kubantu sebisaku."

"Terima kasih, kalau sudah ketemu apa bisa kau beritahu Sasuke? Dia mencari Sakura dari tadi hujan-hujanan, aku tidak pernah melihat Sasuke se-khawatir ini."

"Aa... tenang saja, aku akan memberitahunya."

"Terima kasih, Shikamaru."

Shikamaru menutup teleponnya dan kembali menghampiri Sakura yang belum juga mengeringkan rambutnya sendiri. Shikamaru menghela napasnya, ini bukan waktunya marah pada Sakura yang tidak mau nurut. Kondisi Sakura saat ini sangat normal untuk ukuran remaja yang tahu kenyataan pahit. Akhirnya Shikamaru memutuskan untuk duduk di samping gadis itu.

"Sasuke mencemaskanmu," ujarnya pelan, "dia mencarimu kemana-mana."

Sakura menggenggam handuk yang kini berada di atas pangkuannya, "Aku... aku tidak... mau..."

"Tidak harus pulang ke tempat itu, cukup bertemu dengan Sasuke aku yakin dia punya solusi yang bagus untukmu, ya?" bujuk Shikamaru dengan lembut.

Akhirnya kali ini Sakura menatap Shikamaru dengan sorot mata yang sedikit hidup dibanding sebelumnya, Sakura tidak pernah tahu bahwa tunangannya ini begitu lembut. Tapi kenapa... padahal Shikamaru adalah tunangannya, tapi kenapa saat ini Sasuke lah yang lebih ia inginkan untuk berada di sampingnya. Anggukan-lah yang Sakura berikan untuk jawaban dari bujukan Shikamaru tadi.

Shikamaru mengambil hp-nya dan menekan nomor Sasuke.

"Yo, dia di apartemenku... jangan emosi dulu, datanglah dan akan kujelaskan detailnya." Saat Shikamaru menutup hp flip-nya, dia kembali menatap Sakura, "Sasuke akan datang, kau bisa bilang padanya kalau kita habis bercinta kalau ingin melihat reaksinya lebih banyak lagi."

Sakura tidak menanggapi candaan yang Shikamaru berikan saat ini, Sakura hanya mengerutkan keningnya karena masih kepikiran tentang hal presiden dan anak kandungnya. Merasa tidak enak dengan candaannya, Shikamaru bangkit dan menepuk kepala Sakura, "Aku hanya bercanda, aku buatkan coklat hangat."

Saat Shikamaru merebus air hangat untuk minuman, dia berpikir apa yang telah ia lakukan. Kenapa dia bisa dengan gampangnya membawa Sakura ke apartemennya sedangkan Shikamaru adalah tipe yang sangat anti membawa orang asing ke dalam apartemennya. Ah, mungkin karena dia tidak bisa melihat gadis rapuh yang seolah ingin mati sendirian di tengah pantai sana. Ditambah lagi... gadis itu adalah tunangannya... walaupun itu adalah pertunangan yang diatur... tetap saja Shikamaru merasa... Sakura adalah satu-satunya gadis yang pertama kali dekat dengannya.

Selagi menunggu air panas, Shikamaru memutuskan untuk memakai kaos putih yang sudah dia sediakan di atas kursi di ruang makan. Sesekali ia melirik ke Sakura yang masih menunduk, dia benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi perempuan yang sedang depresi, mungkin Naruto lebih ahli dalam hal ini.

Tidak lama kemudian, bel pintu berbunyi, sudah Shikamaru tebak bahwa itu adalah Sasuke. Sambil meletakkan coklat panas yang sudah ia seduh untuk Sakura di meja tempat Sakura duduk di sofa, Shikamaru berjalan membuka pintu. Matanya terkejut ketika melihat sosok Sasuke yang benar-benar basah dan ekspresi kacaunya... kalau saat ini Shikamaru membawa kamera, mungkin dia akan memotretnya. Sebelum Sasuke melangkahkan kakinya...

"Tubuhmu basah, keringkan dulu sebelum kau memeluk Sakura," ujar Shikamaru.

Namun Sasuke tidak mendengarkannya. Sasuke berlari menuju Sakura yang masih menunduk, "Sakura..." saat Sasuke memanggilnya, gadis itu menoleh... air mata kembali mengalir, namun kini Skaura mengeluarkan suara seperti merengek. Melihat kedua tangan Sakura terangkat seolah ingin dipeluk, Sasuke langsung memeluknya.

"Huuu...huuuu~"

"Ssshhhh, aku tahu apa yang terjadi, kau tenangkan saja dulu dirimu," ucap Sasuke yang memeluk Sakura makin erat.

Shikamaru yang bersender di tembok kini menatap mereka berdua yang sedang berpelukan dengan tatapan datar. Kenapa... padahal dia tunangan Sakura... kenapa Sakura tidak bereaksi padanya saat dia mencoba menghibur gadis itu... dan kenapa pula hal ini sangat mengganggunya?

Sakura menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke, seolah tidak ingin lagi melihat dunia di sekitarnya. Masih dengan tangisnya yang terisak-isak. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Sasuke harus melakukan sesuatu.

"Aku tahu kau tidak akan mau pulang ke tempat itu, 'kan?"

Sakura mengangguk.

"Kita pulang ketempatku, kau mau?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk lagi.

Sasuke menoleh ke arah Shikamaru seolah meminta izin darinya untuk membawa Sakura pergi. Shikamaru hanya menghela napas dan menggerakkan kepalanya ke arah luar seolah mengizinkan Sasuke. Tapi Shikamaru bersumpah hanya kali ini ia mengalah.

Sasuke mengangguk pada Shikamaru seolah mengucapkan terima kasih.

.

.

Itachi... sejak dia mengingat pesan terakhir ibunya, dia menghabiskan waktunya di gudang yang penuh dengan catatan-catatan sang ayah semasa hidupnya. Itachi terus mencari sesuatu yang benar-benar membuat hatinya merasa ada yang aneh. Hampir berjam-jam Itachi mencari sesuatu yang tidak pasti dan itu membuatnya menjadi frustasi.

Konsentrasinya buyar saat dia mendengar suara pintu terbuka namun tidak ada yang bersuara, Itachi membuka pintu dan melihat Sasuke yang menggandeng Sakura menuju kamarnya. Bisa terlihat dengan jelas bahwa keadaan mereka begitu berantakan. Akhirnya Itachi memutuskan untuk mengikuti mereka dan setidaknya menyapa salah satu tamu kehormatannya.

"Sakura?" sapa Itachi saat mereka sampai di kamar Sasuke.

Sasuke menoleh pada Itachi dan memberi kode bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Sakura. Itachi mengangguk kemudian menutup pintu pelan-pelan. Sasuke berlutut di depan Sakura yang sudah duduk di kasur Sasuke yang berukuran king size, sambil menggenggam tanga gadis itu Sasuke menatap Sakura, "Aku mengeringkan tubuhku dulu, kalau ada apa-apa kau bisa meneriaki namaku."

Sakura mengangguk pelan pada Sasuke.

Sasuke memilih untuk mengeringkan tubuhnya di kamar Itachi, sekalian ingin membahas apa yang terjadi sekarang. Sasuke menjelaskan pada Itachi se-detail mungkin, dan itu membuat Itachi benar-benar tidak menyangka bahwa presiden bisa mengambil tindakan yang sangat sakral.

"Kenapa sangat tiba-tiba?" tanya Itachi.

"Dan ternyata Sai adalah kakak Sakura, Karin anak kandung presiden dan sudah tinggal di istana itu. Mana mungkin Sakura mau kembali ke tempat itu, kalau aku jadi dia aku pun tidak akan mau," ujar Sasuke sambil menggosok rambutnya memakai handuk.

"Aku akan segera mencari tahu, kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan Eagle," ujar Itachi.

"Menurutmu... apa Sai anggota Eagle?" tanya Sasuke.

"Itu sudah pasti, walaupun kita tidak ada bukti, tapi dia pasti anggota Eagle," jawab Itachi.

"Kaubilang Eagle mengincar nyawa Sakura, tapi kalau kuperhatikan... sepertinya tujuan mereka berbeda," ucap Sasuke.

"Ya... aku juga merasa begitu, ada sesuatu dibalik sesuatu... tapi aku masih tidak bisa menyadari apa itu," jawab Itachi.

"Satu-satunya cara mengetahuinya adalah dengan mengatahui apa yang terjadi di masa lalu antara kita Black Dragon dan Eagle yang menyebabkan Sakura menjadi anak presiden," kata Itachi sambil mengambil beberapa dokumen dari meja-nya.

"Kita hanya bisa bertanya pada ayah tentang hal itu atau ibu," jawab Sasuke yang tidak membantu menemukan solusi-nya.

"Atau..." ucap Itachi dengan ragu, "kita harus menemui pimpinan Eagle dengan resiko yang sangat besar."

"Kau gila? Kau pikir sudah berapa tahun perseteruan antara Black Dragon dan Eagle? Kita datang kesana sama saja menggali kuburan sendiri," ujar Sasuke ketus.

"Aku tahu... itu satu-satunya cara."

"..." Sasuke terdiam, begitu merasa tubuh dan rambutnya sudah kering, dia beranjak keluar, sebelum dia membuka pintu, "sekarang kita istirahat dulu, kita pikirkan lagi bagaimana jalan keluarnya bersama Shino, Naruto dan Shikamaru."

"Ide yang bagus."

Sakura masih dengan lamunannya, saat ini dia merasa sangat dikhianati, semua pergi meninggalkannya. Dalam waktu yang bersamaan... apa yang tadinya adalah miliknya kini diambil kembali oleh yang asli. Benar, Sakura merasa seperti orang palsu, dirinya yang dulu ceria, dirinya yang berusaha membuat sang ayah bangga... itu adlaah Sakura yang palsu. Lantas... Sakura yang seperti apa dirinya sekarang? Lamunannya terganggu saat dia mendengar pintu terbuka dan itu adalah Sasuke.

Melihat diri Sakura yang sudah agak tenang, Sasuke duduk disampingnya dan membuka pembicaraan.

"Ino mencemaskanmu," ucap Sasuke pelan, namun Sakura tidak bereaksi, bukan karena Sakura tidak mendengar hanya saja Sakura tidak percaya hal itu.

"Cemas? Dia bahkan tidak mengejarku..." ucap Sakura dengan nada yang pelan.

"Kau mengerti posisinya di istana, posisinya serba salah," ujar Sasuke berusaha membela.

"Serba salah?" ucap Sakura seperti meremahkan.

"Kalau dia mengejarmu, dia bisa kehilangan pekerjaannya, dia berhutang banyak pada presiden."

"Kau sendiri? Tidak takut kehilangan pekerjaanmu?" sindir Sakura.

"Aku berbeda, aku tidak mempunyai hutang budi apa-apa pada presiden itu, tapi Ino? Kau tidak melihat betapa dia memohon padaku untuk mencarimu," jelas Sasuke.

"Jadi... kau mencariku karena Ino memohon padamu..."

"Sakura... jangan buat hal ini semakin sulit," pinta Sasuke.

"Andai saja Shikamaru tidak menemukanku... aku pasti sudah damai dan tidak harus memikirkan apa-apa..."

"Sakura, jangan seperti ini."

"Semua meninggalkanku... ayah... Ino... Sai~" Sakura mulai menangis, dia menutup wajahnya memakai telapak tangannya, "aku bahkan tidak mengerti kenapa setuju dibawa olehmu."

"Aku tidak meninggalkanmu," ujar Sasuke, "Sakura lihat aku."

Sasuke merengkuh wajah Sakura yang kini ber-ekspresi pilu dengan air mata yang mengalir. Dengan pelan Sasuke menghapus air mata itu dari wajah Sakura, "Aku tidak meninggalkanmu, aku di sini, di pihakmu."

"Aku... bukan lagi anak presiden~ kau tidak lagi berkewajiban menjagaku..."

"Aku tidak peduli! Kau tahu, justru aku senang..."

Sakura mengerutkan dahinya, "Kau... senang di atas penderitaanku?"

"Bukan itu," jawab Sasuke yang kini melepaskan rengkuhan tangannya pada wajah Sakura, "kau bukan lagi anak presiden, itu artinya kau bisa memutuskan pertunanganmu dengan Shikamaru, 'kan?"

Wajah Sakura sedikit menunjukkan ekspresi bingung.

"Aku tahu, semua hal ini masih membuatmu merasa terpukul, kau boleh menangis... tapi aku mohon, jangan berlebihan, kau bisa sakit," ujar Sasuke lembut.

Sakura terdiam, setiap kata yang Sasuke katakan padanya membuat hati Sakura yang tadinya dingin menjadi menghangat.

"Saat malam itu... malam saat aku marah padamu, saat aku melakukan hal yang tidak pantas padamu... aku terus berpikir ingin meminta maaf padamu dengan benar," lanjut Sasuke, "aku menyesali perbuatanku yang membuatmu takut."

Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan ini," ucap Sakura, "sekarang aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri... semua yang kulakukan adalah untuk ayah agar melihatku... menyayangiku... namun semuanya... apa yang kudapat?"

Sakura mulai menangis lagi, namun kali ini tidak keras, hanya sisa air mata yang keluar dari emerald-nya, "Semua yang kulakukan sia-sia... aku bahkan ragu, diriku sendiri... yang mana sebenarnya diriku ini?"

"Dengan mengetahu bahwa orang yang kucintai adalah kakakku sendiri... aku menjadi jijik pada diriku sendiri, aku merasa seperti binatang yang sudah mencintai kakakku sendiri, sahabatku pun sekarang menjadi sahabatnya, kakakku menjadi kekasihnya? dan ayahku menjadi ayahnya. Aku melihatnya, wanita cantik itu... aku tahu dia tidak jahat... tapi kenapa aku membencinya? Apa karena dia telah mengambil semuanya dariku? Tidak... akulah yang mengambil semua dari dirinya... dia hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Sedangkan aku hany-"

Sasuke mencium bibir Sakura untuk menghentikan gadis itu berbicara dengan ekspresi yang makin pilu. Ciuman Sasuke kini terasa sangat lembut di bibir Sakura, begitu Sasuke melepaskan ciumannya, "Kalau begitu mulailah lagi... ciptakan dirimu yang baru, buat kembali kehidupanmu yang baru. Aku akan membantumu."

"Benarkan? Kau akan membantuku?" tanya Sakura pilu. Namun ekspresi pilu Sakura saat ini terlihat begitu cantik di mata Sasuke.

"Pasti, walau hanya untuk pengganti... aku tidak keberatan."

Sasuke kembali mencium Sakura, kali ini Sakura membiarkan Sasuke menciumnya dengan penuh kelembutan namun mengandung nafsu yang membara. Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke. Mereka tahu ini adalah hal yang salah, Sakura membutuhkan Sasuke untuk menghiburnya, di sisinya karena Sakura merasa dia tidak lagi mempunyai siapa-siapa, sedangkan Sasuke memanfaatkan situasi ini untuk perasaannya pada Sakura. Dia memanfaatkan perasaan sepi Sakura untuk menerima dirinya.

Mereka berdua menyadari hal ini satu sama lain, namun tidak ada yang mau menghentikan kegiatan penuh nafsu di kamar ini. Sasuke terus menjelajahi tubuh Sakura. Dia mencium bibir dan leher Sakura, bahkan Sasuke sudah membuka kaso Sakura dan menjamah dada kanan Sakura, bagian dada kiri gadis itu kini dilumat oleh Sasuke. Sakura hanya bisa mendesah namun air matanya tidak kunjung berhenti.

Sasuke mulai menurunkan ciumannya ke bawah perut Sakura, tangannya tidak lagi menjamah payudara Sakura, kini tangannya tengah memainkan benda sensitive milik Sakura yang tidak lagi tertutup kain.

"Aaahnn~ Sasuke-kun~" Sakura memejamkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, menikmati setiap jilatan yang Sasuke mulai di daerah sensitive itu.

Tangan kanan Sakura meremas rambut Sasuke dan tangan kirinya meremas seprai. Sasuke memasukkan tiga jari secara perlahan untuk memastikan bahwa lubang Sakura sudah bisa dimasuki. Merasa sudah terbiasa oleh gerakan keluar masuk jari-jari Sasuke, laki-laki itu kembali akan mencium bibir Sakura, saat dia melihat Sakura menggigit bibir bawahnya sendiri, Sasuke melepaskannya dengan lembut.

Sasuke menatap gadis itu dengan lembut dan mencium kening kemudian bibirnya. Sasuke memposisikan dirinya di hadapan kewanitaan Sakura. Tahu bahwa Sakura sangat takut, akhirnya Sasuke memutuskan merendahkan lagi tubuhnya sehingga bibir Sakura menyentuh bahu Sasuke. Sasuke tidak akan menghentikan kegiatan ini, kesempatan untuk membuat Sakura menjadi wanitanya ini tidak akan dia lepas begitu saja.

Sasuke mengangkat pelan kepala Sakura dan menempelkan bibir Sakura pada bahunya, "Jangan gigit bibirmu, gigit saja pundakku."

Sakura mengangguk, begitu Sasuke langsung menusuk lorong milik Sakura. Pemilik rambut soft pink itu dengan reflek menggigit pundak Sasuke dengan kencang sehingga menimbulkan luka dan darah yang mengalir di pundak Sasuke. Menyesuaikan kondisi Sakura, Sasuke mengatur napas dan makin memasukkan miliknya pada milik Sakura.

"Aahhn! Sa~kiitt..."

"Sshhhhh, aku akan melakukannya dengan pelan, jangan takut," ucap Sasuke.

Dan ajaib, ucapan Sasuke membuat Sakura lebih tenang. Memang membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Sakura untuk mengurangi rasa sakit itu. Tapi begitu merasa milik Sasuke kembali membesar di dalam tubuhnya, Sakura memutuskan untuk memberi aba-aba pada Sasuke agar meneruskan kegiatannya itu.

"Apa kau yakin?" tanya Sasuke dan Sakura mengangguk.

Sakura memeluk tubuh Sasuke saat Sasuke memaju mundurkan tubuhnya. Desahan demi desahan terdengar di kamar Sasuke. Itachi yang akan memasuki kamar Sasuke menghentikan langkahnya untuk membuka pintu kamar adiknya itu ketika mendengar desahan Sakura yang makin lama makin kencang. Itachi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Mereka saling memanfaatkan situasi, aku tidak ikut-ikutan kalau sesuatu yang buruk terjadi," ujar Itachi yang memutuskan untuk meninggalkan kamar adiknya.

Malam itu, menjadi malam yang benar-benar mengubah semua tentang Sakura. Saat kegiatan itu selesai, Sasuke tidak mengeluarkan benihnya di dalam. Dia membersihkan benihnya yang ia keluarkan di atas perut Sakura. Saat Sasuke membersihkan benihnya dan benih Sakura yang keluar dari kewanitaannya. Sakura tertawa geli.

"Hahaha, Sasuke-kun~ biar aku saja," ucap Sakura merebut tissu basah dari tangan Sasuke.

Sesudah membersihkan tubuh mereka masing-masing, Sakura kembali tidur dan kini lengan Sasuke yang menjadi bantalnya. Sakura memejamkan kedua matanya dengan cepat, suara tidur Sakura membuat Sasuke nyaman. Sasuke berani jamin bahwa Sakura sangat lelah lahir dan batin, Sasuke membelai kepala Sakura dan mencium kening wanita itu. Dalam hati Sasuke bersumpah, apapun yang terjadi, siapapun jati diri Sakura sebenarnya... dia tidak akan pernah meninggalkan Sakura.

.

.

Sasuke membuka kedua matanya, perlahan dia mencoba menoleh pada apa yang menindih lengannya. Begitu sadar bahwa Sakura-lah yang kini tidur di sampingnya, laki-laki itu tersenyum lembut. Mengingat Sakura kemarin begitu terpukul dan depresi, bisa melihat wanita itu tertidur lelap begini membuat Sasuke lega. Rasanya ingin sekali dia menghentikan waktu agar bisa terus tetap seperti ini, namun pada kenyataannya Sasuke harus bangkit dan bersiap-siap untuk melakukan sesuatu.

Sasuke bergerak sangat pelan agar Sakura tidak terbangun, begitu dia berhasil menggantikan lengannya dengan bantal, Sasuke pergi ke kamar mandi dan menyalakan shower. Saat air menyentuh tubuhnya, Sasuke meringis pelan. mencoba melihat apa yang membuatnya meringis di kaca, Sasuke sedikit terkejut ternyata gigitan Sakura di pundaknya meninggalkan bekas yang lumayan perih.

Mendengar suara shower membuat Sakura tersadar dari tidurnya yang lelap, tubuhnya sangat lelah karena mereka melakukan sex untuk kedua kalinya setelah yang pertama Sakura merasakan sakit yang luar biasa. menyadari Sasuke tidak ada di tempat tidur dan shower menyala, Sakura ber-asumsi bahwa Sasuke-lah yang berada di kamar mandi. Belum sempat Sakura memakai kembali bajunya, Sasuke sudah keluar dengan memakai celana jeans panjang dan handuk yang meililit di lehernya.

"Pagi," sapa Sasuke.

"Pa-pagi..." sapa Sakura balik sembari menutupi setengah wajahnya memakai selimut.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke sedikit canggung, "maksudku... tubuhmu dan suasana hatimu."

"Sakit~" jawab Sakura pelan dan terdengar sedikit manja, "itu hal tersakit yang pernah aku lakukan..."

Sasuke duduk di tempat tidur dan mengeringkan rambutnya memakai handuk, saat Sasuke sedang sibuk dengan kegiatannya, mata Sakura terbelalak dan mendadak dia menggenggam kedua lengan Sasuke.

"Pundakmu! Astaga... Sasuke-kun maafkan aku~"

"Masih banyak lagi yang kau lakukan padaku," ucap Sasuke sambil memperlihatkan punggungnya.

Mata Sakura makin terbelalak ketika melihat beberapa cakaran yang terdapan di punggung Sasuke, "Curiga jangan-jangan aku bercinta dengan monster."

"Enak saja!" sewot Sakura, "maafkan aku... pasti sakit~"

"Lumayan," jawab Sasuke singkat.

Melihat ekspresi Sakura yang masih sendu dan menatap pundak Sasuke yang terluka membuat suasana sedikit canggung. "Ehm... Sasuke-kun..."

"Hn?"

"Tentang ucapanmu kemarin... apa kau bersungguh-sungguh? Maksudku... tentang kau yang akan membantuku berubah?"

"Menurutmu? Dengar Sakura, aku bukan tipe orang yang mengatakan hal yang tidak akan bisa kulakukan," jawab Sasuke dengan nada sedikit ketus.

"Maaf... aku hanya ingin memastikan," ujar Sakura yang makin mengeratkan selimutnya, "jadi... apa aku boleh menjadi apapun yang kumau?"

"Apapun itu," jawab Sasuke.

"Aku boleh menjadi anak pembangkang yang tidak peduli apapun yang aku lakukan akan mencoret nama baik seseorang?" tanya Sakura yang mulai antusias.

Sasuke sedikit mencerna kalimat Sakura yang terdengar sedikit ambigu di telinganya, "Asal kau bisa membedakan mana yang pantas dan tidak."

"Ini menyenangkan," ucap Sakura dengan wajah yang mulai ceria. "Aku tidak lagi harus memathu peraturan yang kubuat sendiri untuk menghargainya... ya, walaupun aku sudah melanggarnya satu."

"Melanggarnya? Tentang?" tanya Sasuke penasaran.

Sakura menenggelamkan kembali setengah wajahnya dibalik selimut, "Melakukan sex dini... denganmu."

Sasuke tersenyum kecil dan menepuk kelapa Sakura, "Cepat pakai bajumu, hari ini kita beli semua keperluanmu. Kau sudah pasti tidak mau kembali ke istana itu, 'kan?"

Sakura menyengir dan menarik selimut ketika ia berdiri lalu melipat selimut itu pada tubuhnya, "Aku segera mandi!"

"Sasuke-kun! Sasuke-kun! Kau harus coba ini! Ini enaaakkk!"

"Aku sudah mencobanya berjuta-juta kali, kau makan saja sendiri."

Saat ini mereka sedang berada di tepi jalan sekitar daerah pembelanjaan, tangan kiri Sakura memegang beberapa kantong belanjaan, begitu pula dengan Sasuke. Mereka membeli keperluan Sakura dari baju, celana, pakaian dalam, kacamata, syal, sepatu dan dress. Tentu saja semua memakai uang Sasuke, janjinya Sakura hanya ingin membeli beberapa potong baju saja, namun begitu sudah sampai toko, Sakura langsung kalap.

"Memang naluri wanita itu belanja, tidak bisa dihilangkan," gumam Sasuke pelan.

Sasuke mengambil semua barang yang Sakura pegang dan mengganti dengan tangannya sendiri, "Sekarang ikut aku."

Sakura membalas genggaman Sasuke dan sedikit menyenderkan dirinya pada lengan laki-laki itu, "Kemana?"

"Kau akan tahu."

Dan di sinilah mereka berada. Tatapan Sakura terpaku pada sosok gadis pirang di hadapannya yang menatapnya penuh dengan kelegaan.

"Sakuraaa! Ya Tuhan Sakura... syukurlah kau tidak apa-apa~"

"Ino..."

Ino menatap Sasuke dan menggerakan bibirnya membentuk kalimat 'terima kasih' dan usahanya itu tertangkap baik oleh otak Sasuke, laki-laki itu hanya menaikkan kepalanya sedikit seolah menjawab ini bukan masalah besar. Saat Sakura melepas pelukan Ino.

"Sakura aku sangat mencemaskanmu, kau tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa saat itu, aku-"

"Cukup Ino... jangan diteruskan..." potong Sakura, "aku mengerti kondisinya," lanjut Sakura sambil tersenyum.

"Oh syukurlaaah~"

"Apa tidak lebih baik kita duduk saja daripada berdiri di tengah-tengah begini?" usul Shino yang dari tadi sudah berdiri di belakang mereka.

Mereka menempati tempat yang nyaman, sofa yang rendah dan pesanan kopi serta latte yang mereka pesan sudah datang. Sambil menikmati minuman dengan santai, Shino mulai berbicara.

"Aku tidak menyangka kau menemukannya, Sasuke."

"Ah tidak, bukan Sasuke-kun yang menemukanku, tapi Shikamaru," jawab Sakura.

"Shikamaru? laki-laki berambut nanas itu?" tanya Ino.

"Ya, dia menemukanku saat aku... bisa dibilang bunuh diri di pantai?" ujar Sakura yang bingung dengan ucapannya sendiri.

"Kau apa?!" ucap Ino terkejut.

"Kemarin aku depresi, Shikamaru menarikku dan mengajaku ke tempatnya," ucap Sakura lagi dengan cepat.

"Mengajakmu ke tempatnya?" tanya Shino bingung, "waw, hal ini membuatku kaget, Shikamaru bukan tipe orang yang akan membiarkan orang masuk ke apartemennya. Bahkan kami tidak bisa masuk kalau bukan bersama dia."

"Mungkin saat itu dia kasihan melihatku," jawab Sakura.

Sasuke san Shino mencuri pandang satu sama lain, memberi kode bahwa ada yang aneh di sini. Namun Sasuke tidak terlalu lama bertatapan dengan Shino, karena itu Sasuke lebih memilih mengambil kopi dan meminumnya. Ino menyangga dagu-nya memakai satu tangannya, "Jadi sekarang kau tinggal di rumah Sasuke?"

"Ya," jawab Sakura.

"Berani macam-macam, kubunuh kau Uchiha," geram Ino yang membuat Sasuke sedikit tersedak.

Sasuke meletakkan kembali gelas seperti semula, "Jadi, ada kabar baru?" tanya Sasuke pada Shino.

"Sejak kedatangan Karin, presiden tidak pernah lagi meninggalkan istana, dia juga lebih sering memanggil Karin untuk pergi bersama. Sikapnya pada Karin jauh lebih lembut," jawab Shino.

"Sakura maafkan aku," ucap Ino lagi pada Sakura yang kini sedikit memurung.

"Tidak Ino, ini bukan salahmu," jawab Sakura lembut, "bagaimana dengan... Sai?"

Saat Sakura menyebut nama Sai, ada perasaan cemburu dalam hati Sasuke. Mereka memang sudah bercinta, Sasuke dan Sakura yang melakukan sex dengan memanfaatkan situasi keadaan. Sasuke memanfaatkan situasi Sakura yang butuh seseorang disampingnya, memanfaatkan perasaan wanita itu yang sedang terpuruk, namun Sasuke melakukan itu semua dengan perasaan sayang. Sedangkan Sakura... Sakura memanfaatkan ketulusan Sasuke untuk menemaninya, mendukungnya yang saat ini butuh seseorang untuk membangkitkan semangatnya.

Bisa dibilang... mereka melakukan Simbiosis Mutualisme.

"Sai tidak tinggal di istana, setelah kau pergi... Sai pun pergi," jawab Ino.

"Ooohh," Sakura kembali menunduk. Menyadari ekspresi Sakura kembali sendu, Sasuke menggenggam tangan wanita itu, "apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Sasuke.

Melihat tindakan Sasuke membuat Ino dan Shino sedikit kaget, sejak kapan hubungan mereka menjadi akrab begini?

"Ino," panggil Sakura dengan tatapan serius, "aku memutuskan untuk membuang diriku yang lama, aku ingin menjadi Sakura yang baru, bukan lagi Sakura yang dulu memathu semua peraturan dan melakukan segalanya demi membuat sang presiden bangga. Aku yang sekarang adalah aku yang baru."

Terlihat pancaran yang berbeda dari sorot mata Sakura, Ino tahu hal ini... Sakura, sebelumnya tidak pernah membuat suatu keputusan atas keinginannya sendiri. Tapi sekarang... gadis yang sudah menjadi wanita ini berubah total. Walaupun benci, tapi Ino harus mengakuinya bahwa perubahan Sakura ini salah satu pengaruh dari Sasuke.

"Ini keputusanmu, aku mendukungmu sepenuh hati," jawab Ino.

"Terima kasih."

Mereka melanjutkan percakapan dengan topik yang lebih ringan, seperti Sakura yang menggoda Ino yang semakin lama semakin dekat dengan Shino. Namun Ino mengelaknya dengan wajah yang benar-benar memerah. Mereka tidak tahu, sampai kapan masa-masa seperti ini bisa damai.

Itachi masih berkutat dengan beberapa dokumen dan laptopnya. Sudah beberapa hari ini dia berusaha mencari kenyataan yang belum juga ditemukan, dirinya hampir frustasi, sebenarnya apa yang terjadi dengan ayahnya dan Asuma dulu, apa hubungannya dengan Sakura yang bukan anak kandung presiden, kenapa sang ayah memberikan Memory Card yang merupakan identitas asli Sakura pada anak itu sendiri?

Seketika Itachi terpikir seseorang... seseorang yang dapat membantunya menyelesaikan masalah ini. Mau tidak mau, Itachi harus menghubunginya. Walaupun ada kemungkinan orang itu tidak akan mau memberi tahu hal yang sebenarnya, tapi Itachi yakin... dia pasti bisa membantu walau sedikit.

"Ada apa memanggilku ke tempat seperti ini?" ujar sosok laki-laki pada Itachi.

Kini mereka berada di suatu bar yang tidak terlalu terkenal di Tokyo, Itachi memakai kemeja biasa dan kacamata baca yang tidak minus.

"Aku membutuhkan bantuanmu, Sai," ucap Itachi.

"Lucu... Black Dragon meminta bantuan padaku," sindir Sai.

"Bisa kita kesampingkan dulu tentang latar belakang kita?" pinta Itachi dengan serius, "aku ingin tahu, apa hubungannya Sakura dan Eagle?"

Sai menatap tajam dan sinis pada Itachi, "Apa untungnya bagiku memberitahukan semua itu padamu?"

"Kau kuizinkan bertemu dengan Sakura... adikmu tinggal di rumahku sekarang."

Sai terdiam, dia bukan laki-laki bodoh yang tidak mengira kalau hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat, pihak Black Dragon pasti akan mengetahui hal yang sebenarnya... apapun itu caranya.

"Sakura..." Sai mulai berucap sambil menggoyangkan gelas yang berisikan martini itu, "dia orang penting bagi kami... bagi Eagle."

"Jadi dia bukan adikmu?" tebak Itachi.

Sai tersenyum dan memejamkan matanya, "Dia adikku... adik kandungku satu-satunya yang baru saja kuketahui kenyataannya."

Itachi menebak bahwa Sai juga baru mengetahui bahwa mereka mempunyai hubungan darah, Sai meminum martini-nya kemudian menatap Itachi, "Aku harus membawanya."

"Apa? Tidak bisa, kau tidak bisa membawanya ke tempat Eagle, mereka akan membunuh Sakura!"

Sai mengerutkan keningnya seolah bingung apa yang Itachi bicarakan, "Apa kau tidak mengerti ucapanku tadi? Sakura orang penting bagi Eagle, bagaimana mungkin Eagle ingin membunuhnya?"

Itachi terdiam kemudian menganalisa, satu hal kesimpulan yang bisa ia dapatkan dari percakapan ini, "Sakura... anak kandung Asuma?" tebak Itachi.

Sai tersenyum sinis, "Hampir benar."

"Hampir?"

"Sepertinya ayahmu tidak menceritakan apa-apa sebelum dia pergi, hah?" tebak Sai.

"Apa ada yang bisa kutukar dengan informasi yang ingin kudapatkan?"

Sai menyeringai, "Tidak perlu meminta... karena setelah kuceritakan ini... kau akan dengan mudah mengembalikan Sakura padaku."

Malam semakin larut, Sakura mondar-mandir di ruangan tempat Sasuke kini berhadapan dengan laptopnya. Menyadari tingkah wanita itu, Sasuke terkekeh kecil dan menghentikan kegiatannya, menutup laptopnya dan membuka kacamatanya.

"Masuklah."

Sakura menyengir kecil dan memasuki ruangan itu pelan-pelan. Menutup pintu kemudian berjalan menuju Sasuke. Sakura sudah memakai piyama tidurnya, entah kenapa Sasuke merasa saat ini mereka seperti... ayah dan anak?

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Ng... aku... hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk hari ini," ucap Sakura sambil memainkan beberapa benda yang terdapat di atas meja Sasuke.

Sasuke mengangkat bahunya dan memutar kursinya ke kanan dan kiri, melihat Sakura yang masih tidak memandangnya membuat Sasuke ingin menanyakan tentang perasaan wanita itu saat ini. Sasuke tahu, ini terlalu terburu-buru tapi jauh di dalam diri Sasuke... dia sangat takut kehilangan Sakura.

"Sakura."

"Ng?" Sakura menjawab dan akhirnya kini menatap Sasuke.

Sasuke tidak mengatakan apa-apa, dia hanya bisa memandangi wajah Sakura yang kini terlihat senang, sangat berbeda dengan apa yang dia lihhat kemarin. Sakura bagaikan mayat hidup saat itu, dan Sasuke tidak ingin melihatnya seperti itu lagi. Tidak akan pernah.

"Tentang malam itu-"

"Sasuke?" suara Itachi membuat Sasuke ingin sekali melempar laptop pada kakaknya itu, "oh, Sakura hai."

"Hai," sapa Sakura balik, "baiklah, aku tidur dulu. Selamat malam Sasuke-kun, Itachi-nii."

"Malam," sapa Itachi kembali, saat Sakura sudah pergi dan menutup kembali pintunya, "waw, seperti merasa punya adik perempuan."

"Ada apa kak?" tanya Sasuke dengan nada kesal.

"Kau sepertinya kesal, apa aku mengganggu sesuatu?" tanya Itachi yang menggoda sang adik.

Sasuke tidak menjawab dan menatap Itachi dengan tatapan kesal, "Hahaha, baiklah langsung pada intinya saja," ucap Itachi yang menduduki meja, "tadi aku bertemu dengan Sai." Melihat wajah Sasuke mengeras dan akan berteriak, "jangan marah, aku punya banyak informasi yang sangat penting."

Sasuke menyenderkan tubuhnya di kursi, menunggu Itachi melanjutkan ucapannya, "Sakura... dia anak kandung Asuma, mantan sahabat ayah dulu yang berkhianat pada Black Dragon."

Mata Sasuke terbelalak, "Apa?!"

"Dan Sai adalah kakak satu ayah beda ibu dengan Sakura," lanjut Itachi.

Sasuke mengerutkan keningnya, "Jadi... mereka beda ibu?"

Itachi mengangguk dan menatap Sasuke dengan seksama, entah apakah dia harus mengatakan hal ini atau tidak, "Dan misteri dibalik kenapa ayah menyerahkan memory card pada Sakura, mengapa dulu ayah sering mengunjungi Sakura... mengapa ibu terbunuh dan siapa yang menyuruh membunuh ibu... itu semua terjawab malam ini."

"Woah, woaah, woaah! Satu-satu kak, pelan-pelan agar aku bisa mencerna semuanya dengan baik," pinta Sasuke.

Itachi menghela napas dan mengubah posisinya menjadi duduk di tepi jendela, "Sasuke, dengarkan apa yang kuucapkan hari ini, apapun yang kukatakan... aku harap kau bisa mengambil keputusan sesuai apa yang kupikirkan."

Sasuke mengangguk dan Itachi meneruskan, "Eagle mengincar Sakura, karena mereka membutuhkan kornea mata Sakura dan sidik jarinya untuk membuka sebuah pintu di Italy. Saat Sakura bayi, kakeknya yang sangat menyayanginya itu membawa Sakura ke tempat itu dan membuat sebuah ruangan dengan isi harta yang luar biasa tak ternilai. Harta itu adalah miliknya, Ayah... dan presiden."

Sasuke mendengarkan dengan baik setiap kata yang diucapkan oleh Itachi, "Sebelum Black Dragon pecah dan lahirnya Eagle, hubungan antara Asuma, ayah dan presiden sangat dekat. Sampai akhirnya terpecah karena..."

"Karena apa?"

"Karena Asuma telah menghamili seorang wanita yang pada akhirnya dibunuh karena tidak mau menyerahkan anaknya, wanita itu adalah istri dari sahabatnya sendiri."

Mata Sasuke terbelalak, tubuhnya sedikit bangkit dari duduknya, "Kau bercanda, 'kan?!"

Itachi menatap pilu pada adiknya, "Ibu adalah ibu kandung Sakura. Dan kenapa Sakura bisa berada di tangan presiden... mereka bertiga, Asuma, ayah dan sang presiden mempunyai perjanjian sendiri."

"Sang presiden sangat ketakutan kalau putrinya nanti akan dalam bahaya, maka dari itu dia menitipkan putri kandungnya di panti asuhan, atas kesepakatan... akhirnya Sakura dirawat oleh presiden, Asuma menyetujuinya karena berpikir suatu saat bisa menggantikan posisi presiden itu."

Sasuke masih mencermati setiap kata yang Itachi lontarkan, dirinya menegang, matanya mengeras seakan ingin sekali menghancurkan barang disekitarnya.

"Siapa yang membunuh ibu?" tanya Sasuke sambil menutup matanya.

"..." Itachi sempat ragu, namun pada akhirnya ia memberitahu adiknya, "pesuruh presiden."

Mendengar jawaban Itachi membuat Sasuke semakin panas, "BRENGSEK!"

"Pelankan suaramu," pinta Itachi, "ibu terpaksa harus dibunuh agar mau menyerahkan Sakura. Sasuke, ingat saat hampir setahun ibu diasingkan oleh ayah dengan alasan mengidap penyakit menular?"

Sasuke terdiam, sorot matanya penuh dengan amarah, "Itu hanya alasan belaka agar kita tidak tahu bahwa ibu sedang mengandung?" tebak Sasuke.

"Tepat sekali, dan sekarang... kenapa Eagle meminta kembali Sakura itu karena sang kakek sedang sekarat, mereka membutuhkan tubuh Sakura untuk-"

"Tidak akan! Tidak akan kuserahkan! Tidak akan pernah!"

Itachi menyeringai, "Itu baru adikku. Aku juga tidak akan menyerahkannya, sekarang kita tahu ternyata pihak presiden yang mengutus pembunuh untuk membunuh ibu, Asuma ayah kandung Sakura yang juga anak dari ibu kandung kita... rumit, ya?"

"Apa kau yakin ini semua bisa dipercaya?" tanya Sasuke.

"Aku yakin, tidak ada kebohongan dari sorot mata Sai saat mengucapkannya," jawab Itachi, "hanya saja... kita bisa mengatakan tidak akan menyerahkan Sakura... tapi bagaimana dengan Sakura sendiri?"

"Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan mengurungnya di sini bila perlu!"

"Kau ingin Sakura merasakan hal yang sama seperti saat dia di istana itu?" ujar Itachi ketus, "bagaimanapun juga kita harus mendiskusikannya dengan Sakura."

"Tapi-"

"Sasuke, aku punya rencana bagus," potong Itachi, "kau tahu sendiri... kita berasal dari keluarga yang penuh dengan tumpah darah. Perbuatan presiden dulu pada ibu... kita tidak mungkin membiarkannya tenang begitu saja bukan?"

"Balas dendam?" tebak Sasuke.

"Harus lebih kejam," sambung Itachi.

"Caranya?"

Itachi menyeringai kembali, "Cara ini... kita hanya bisa bertaruh pada takdir. Tadi aku bernegosiasi pada Sai, imbalannya karena telah memberikanku informasi ini adalah... mengizinkannya untuk membawa Sakura pergi ke hongkong."

Mata Sasuke terbelalak dan kini tubuhnya beranjak dari duduknya dengan gebrakan meja yang kencang, "KAU GILA?!"

"Sasuke... ini demi balas dendam ibu," pinta Itachi.

Sasuke menjambak rambutnya sendiri, tidak mungkin dia membiarkan Sakura pergi ke Hongkong begitu saja dengan Sai. Dengan mengetahui dirinya adalah satu rahim dengan Sakura cukup membuat Sasuke stress, apalagi mereka sudah melakukan sex. Tapi yang benar-benar membuatnya cukup tertekan adalah keputusan Itachi yang mengizinkan Sai membawa Sakura pergi. Hal itu... bisa sangat membuat Sasuke kehilangan Sakura.

Sakura kini termenung di dalam kamarnya, sejak terjadinya hubungan intim dengan Sasuke, wanita yang kini memeluk bantalnya tersenyum dan makin menenggelamkan wajahnya di dalam selimut. Belum pernah ia merasakan perasaan ini sebelumnya, memang dulu dia berpacaran dengan Sai... tapi perasaan nyaman dan hangat ini baru pertama kali Sakura rasakan.

Dan perasaan itu muncul setiap kali Sasuke berada di dekatnya.

"Apa aku menyukainya?" gumam Sakura pelan.

Tapi ini terlalu cepat bukan? Itulah yang Sakura rasakan... dia tidak mau perasaannya ini hanyalah sesaat atau terbawa suasana. Sakura ingin meyakinkannya besok, dengan caranya sendiri.

.

.

Sejak terkuaknya identitas Sakura saat itu, Sasuke mencari waktu yang tepat bagaimana cara memberitahu wanita yang kini tinggal di tempatnya. Setiap kali dia ingin memberitahunya, selalu ada halangan atau Sasuke yang tidak tega ketika melihat wajah ceria Sakura yang menatapnya. Itachi mengatakan, apabila Sasuke tidak sanggup mendiskusikan ini semua dengan Sakura, maka dialah yang akan turun tangan, namun Sasuke menolaknya, dia lebih ingin memberitahu sendiri pada Sakura daripada Itachi yang harus angkat bicara.

Sasuke membuka kamar Sakura, namun dia tidak menemukan sosok wanita itu dimana-mana. Kamar mandinya pun terbuka, sekarang sudah siang dan lagi-lagi Sakura bolos sekolah, sejak kejadian yang menimpa dirinya Sakura bersi keras menolak apabila Sasuke atau Itachi menyuruhnya untuk pergi sekolah. Saat Sasuke ingin mencari ke tempat lain, dia berpapasan dengan salah satu pelayan.

"Apa kau melihat Sakura?" tanya Sasuke pada pelayan wanita yang baru saja membersihkan kamarnya.

"I-iya tuan... tadi aku melihatnya di halaman belakang bersama tuan Shikamaru."

Kening Sasuke mengerut, sedang apa Shikamaru di sini dan kenapa Sakura tidak memberitahunya tentang kedatangan laki-laki itu. Sasuke berjalan menuju halaman belakang, saat itu darahnya mulai memanas ketika dia melihat adegan apa yang sedang terjadi di halaman.

Shikamaru yang sedang mengajari Sakura menembak, merangkul bahkan bisa dibilang sudah dalam posisi memeluk dari belakang. Shikamaru berbisik di telinga Sakura dan wanita itu hanya mengangguk lalu melepaskan tembakan ke sasaran. Melihat tembakannya berhasil, terlihat Sakura melompat kegirangan dan memeluk Shikamaru sambil terus menerus mengucapkan terima kasih.

Okay, adegan itu sudah cukup. Kini Sasuke harus menghentikan mereka sebelum mereka merubah pelukan itu menjadi tahap bercinta di taman.

"Sedang apa kalian?" tanya Sasuke ketus.

"Sasuke-kun," sapa Sakura riang, "coba tebak! Shikamaru mengajariku bagaimana cara menggunakan pistol ini, aku senang sekali, dia bahkan-"

Ucapan Sakura terputus saat Sasuke merebut pistol di tangan Sakura, "Ini bukan mainan anak kecil! Ini bahaya! Kautahu itu!"

"Iya... tapi-"

"Masuk ke dalam!"

Sakura menatap Sasuke dengan tatapan kesal, karena tidak bisa melawan Sasuke yang terlihat marah maka dari itu Sakura berlari meninggalkan Sasuke dan Shikamaru.

"Kau terlalu keras padanya," ujar Shikamaru.

"Apa-apaan kau! Mengajarinya menembak?! Kau ingin membuat Sakura menjadi salah satu dari kita?!" geram Sasuke.

"Lebih bagus kan? Dari pada dia berpikir dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik aku mengajarkan sesuatu yang dapat dia lakukan nantinya... sesuatu yang berguna," ucap Shikamaru penuh dengan nada sindiran.

"Jangan libatkan dia dari perkumpulan mafia ini," ujar Sasuke.

"Mau tidak mau, dia sudah terlibat," jawab Shikamaru.

Sasuke menghela napas, tidak ada gunanya berdebat dengan Shikamaru yang kepintarannya melewati manusia biasa, "Ada perlu apa kau datang ke sini?" tanya Sasuke.

"Tidak ada, hanya ingin menjenguk tunanganku," jawab Shikamaru menyeringai kecil. Saat Shikamaru mengucapkan kata 'tunangan' Sasuke merasa ada sesuatu yang mengantam kepalanya. Ingin sekali rasanya dia berteriak bahwa Sakura ingin membatalkan tunangan itu dan ingin menjadi Sakura yang baru.

"Shikamaru... tentang Sakura..."

"Aa... dia sudah menceritakannya padaku," potong Shikamaru sambil mengambil rokok di saku-nya, setelah dia menyalakan rokok itu dan menghembuskan asapnya, "makanya aku membantunya mencari jati dirinya yang baru."

Sasuke memejamkan kedua matanya, mengatur emosinya agar tidak terbakar cemburu, "Tidak perlu, cukup aku saja."

Shikamaru menaikan satu alisnya, "Dengan cara mengurungnya?" sindirnya dengan pelan.

"Kau tidak usah ikut campur!" geram Sasuke mencengkram baju Shikamaru.

"Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Sasuke," ujar Shikamaru dengan nada pelan dan dingin, "kau mulai jatuh cinta padanya, kau mulau menyayanginya dan ingin memonopoli dirinya untuk dirimu sendiri, kau bahkan rela mengurungnya agar tidak ada orang yang mengambilnya."

Sasuke tertegun oleh ucapan Shikamaru yang seratus persen benar, Shikamaru hebat... dia bahkan bisa menebak rencana Sasuke tentang Sakura, "Katakan kalau aku salah," sindir Shikamaru.

Sasuke melepaskan cengkramannya, "Jangan kaupikir aku tidak tahu tujuanmu."

Shikamaru hanya diam dan merapikan baju yang baru saja dicengkram, "Kaupikir aku tidak tahu... kau bermuka dua, masih abu-abu antara pihak Black Dragon... atau Eagle."

"Aku tidak peduli tanggapan-mu... atau kalian padaku, loyalitasku hanya kutujukan pada Fugaku-san. Tidak kurang dan tidak lebih," ucap Shikamaru yang kemudian meninggalkan Sasuke.

Ingin sekali Sasuke mengacak-acak tempat itu sekarang juga, namun dia teringat akan Sakura yang tadi dia bentak. Dan Sasuke merasa harus meminta maaf pada wanita itu, karena Sakura kalau marah sangat susah untuk kembali normal.

Sasuke membuka pintu kamar Sakura dan menemukan Sakura sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Dia tidak tidur, hanya berbaring sambil melamun, entah apa yang ia lamunkan.

"Sakura," panggil Sasuke.

Mendengar namanya dipanggil Sakura menoleh, namun begitu melihat sosok Sasuke... Sakura membalikkan tubuhnya sehingga kini dia membelakangi Sasuke. Sasuke hanya menghela napas kecil melihat kelakuan Sakura yang sedang marah padanya. Sasuke mendekati Sakura dan duduk di kasur wanita itu, Sakura tahu dan dia merasa bahwa Sasuke duduk di sampingnya, namun dia tetap tidak mau membalikkan tubuhnya.

"Maaf aku membentakmu tadi," ucap Sasuke.

Mendengar Sasuke meminta maaf ini cukup membuat Sakura terkejut, karena seingat Sakura... Sasuke itu bukan tipe orang yang bisa minta maaf walaupun dia punya kesalahan. Sakura membalikkan tubuhnya dan mengubah posisinya mnejadi duduk.

"Kau sungguh-sungguh minta maaf?" tanya Sakura seolah tidak percaya apa yang dia dengar.

"Jangan buat aku mengatakan untuk kedua kalinya," ujar Sasuke kesal.

"Aku tidak suka kau membentakku di depan orang seperti tadi, itu sama saja kau mempermalukanku," ucap Sakura dengan nada sedih.

"Aku... hanya kesal melihatmu begitu dengan dengan Shikamaru," jawab Sasuke pelan.

Sakura menatap Sasuke dengan tatapan sedih dan menggenggam tangan laki-laki itu, "Tapi dia tunanganku."

Lagi... mendengar kata 'tunangan' membuat Sasuke emosi... sangat emosi.

"Putuskan saja! Lagipula kau tidak ada hubungan lagi dengan anggota presiden, buat apa melanjutkan pertunangan itu?!" ujar Sasuke dengan nada yang sedikit meninggi.

"Sudah akan kulakukan... tapi entah kenapa aku tidak bisa mengatakannya," jawab Sakura.

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu."

"Kau pasti tahu!"

"Sasuke-kun... "

"Kau menyukainya?"

"Sasuke-kun!"

Mereka saling debat, dan semakin lama mereka berdebat, Sasuke semakin emosi namun ekspresinya terlihat pilu... dan Sakura benci melihat laki-laki di hadapannya ber-ekspresi seperti itu.

"Lalu kenapa kau tidak bisa menolaknya?!"

"Sasuke-kun, aku tidak ingin bertengkar denganmu."

"Kaupikir aku menginginkannya? Kau harus tegas! Kalau tidak bisa-bisa kau benar-benar menikah dengannya!"

"Aku tidak berniat..."

"Lalu apa susahnya?!"

"Sasuke-kun kau tidak mengerti..."

"Apa yang tidak kumengerti? Yang kutahu di sini adalah kau yang tidak bisa menolak Shikamaru... kenapa?! Oh, biar kutebak, kau mulai menyukainya karena dialah yang telah menyelamatkanmu saat itu, benar 'kan?!"

"Tidak... Sasuke-kun jangan begini..."

"Kalau kau memang begitu berat untuk menolak, maka-"

Sakura menarik kepala Sasuke dan mencium laki-laki itu untuk menutup mulutnya yang terus berbicara menuduhnya macam-macam, Sakura sangat tahu, walaupun Sasuke berkata kejam seperti itu, namun Sasuke tidak berniat menyakiti Sakura karena bisa dilihat dari ekspresi Sasuke yang seolah takut kehilangan Sakura. Begitu ciuman itu Sakura lepas, Sakura menatap Sasuke dengan tatapan lembut.

"Aku tidak menyukainya..." ucap Sakura yang kini menempelkan keningnya pada kening Sasuke, "jangan ber-ekspresi seperti tadi lagi~"

Sasuke terdiam, merasakan setiap sentuhan yang Sakura berikan di wajahnya, "Lalu... siapa yang kau suka?"

Sakura memalingkan wajahnya yang memerah, melihat ekspresi Sakura... Sasuke sudah mengerti dan dirinya hanya bisa tersenyum tanpa harus Sakura melihat senyumannya. "Kau berani sekali menciumku," ledek Sasuke.

.

.

Sosok laki-laki itu mencium gadis berambut pirang dengan sangat lembut, terlihat bagaimana sang gadis merespon ciuman lembut itu dengan menjambak pelan rambut sang laki-laki yang kini membaringkan tubuh gadis itu di atas kasur.

"Eenngh~" gadis itu mulai mendesah saat laki-laki itu menjilat telinga sampai lehernya.

Laki-laki itu mulai meraba dada sang gadis dan membuat gadis itu makin mengeluarkan desahannya.

"Aahhh~"

Namun sayang kegiatan itu harus terhenti karena ponsel sang gadis berdering. Saat gadis itu akan mengambil ponselnya, tangan yang sudah terarah ke benda kecil itu, sang pemuda yang biasanya memakai kacamata hitam itu menarik kembali tangan gadis di bawahnya dan menahannya ke atas kepala gadis itu sendiri. Pemuda itu mulai membuka kancing seragam gadis itu satu persatu... sampai ponselnya sendiri lah yang berdering.

"Arrghh!" Pemuda itu menggerang dan mengangkat ponselnya.

"Ada apa, Sasuke?"

"Shino, ini aku Sakura. Apa Ino ada bersamamu? Aku telepon ke ponselnya tidak dijawab."

Shino memutar kedua bola matanya dan menyerahkan ponselnya pada gadis yang sedang berbaring di bawahnya, "Y-ya Sakura, ada apa?" sapa Ino sambil mengatur napasnya.

"Ino, mau temani aku ke toko buku? Aku ingin membeli novel, Sasuke tidak bisa menemaniku karena ada urusan dengan Itachi-nii."

"Oh, iya bisa... aku dan Shino akan menemuimu di toko buku biasa atau kau mau kami jemput?" tanya Ino sambil menatap Shino yang kini memakai kacamatanya kembali.

"Oh kita bertemu langsung di sana saja."

"Tidak! Suruh mereka yang menjemputmu."

"Tapi Sasuke-kun, jaraknya lebih dekat kalau mereka langsung kesana."

"Turuti aku atau kau tidak boleh pergi."

"Ish! Kau jahat!"

Mendengar mereka berdebat membuat Ino terkekeh kecil, "Baiklah Sakura, kami jemput kau saja, aku siap-siap sekarang ya."

"Ng, terima kasih Ino, dan maaf merepotkanmu."

Ino menutup ponselnya dan menatap Shino dengan tatapan minta maaf, "Aku janji lain waktu tidak akan ada yang ganggu."

Shino bangkit setelah mencium kening Ino dengan lembut, "Ayo siap-siap sebelum raja iblis itu mengamuk."

"Akhir-akhir ini Sasuke sangat overprotektif, dia bahkan gampang sekali cemburu. Jangankan sama orang lain, aku berada di kamar Itachi-nii saja dia marah-marah!"

"Hahaha, sepertinya dia sangat mencintaimu ya," ujar Ino sambil menikmati green tea-nya.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe, sehabis Sakura membeli beberapa novel kesukaannya mereka memutuskan untuk mengobrol di cafe sampai Sasuke selesai dari urusannya dan menjemput Sakura di situ.

"Tapi dia tidak pernah bilang begitu padaku," ucap Sakura.

"Sasuke bukan tipe orang yang bisa meng-ekspresikan perasaannya," sambung Shino.

"Tapi kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah loh melihat Itachi-nii membawa perempuan, dia itu punya pacar tidak sih? Bagaimana kalau Itachi-nii aku jodohkan saja dengnmu, Ino," usul Sakura.

"Uhuk! UHuk!" Shino tersedak minumannya.

"Aahh-Hahaha.. Sakura... tidak perlu," ucap Ino canggung sambil melirik Shino.

"Loh? Kenapa? Kau juga sedang tidak berkencan dengan seseorang kan?" tanya Sakura tanpa menyadari ekspresi Shino yang kini mulai jengkel.

"Sakura... aku tidak menyukai Itachi, lagipula aku sedang menyukai orang lain," jawab Ino canggung.

Bukannya mereka ingin merahasiakan hubungan yang terjadi pada Ino dan Shino. Hanya saja, Ino tidak mau kalau sampai Sakura merasa kesepian kalau mereka memberi tahu Sakura bahwa mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.

"Siapa? Siapa yang kau sukai? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Sakura penasaran.

"Itu..." sebelum Ino menjawab, mata Sakura terbelalak saat melihat dua sosok yang sangat dia kenal masuk ke dalam cafe yang mereka singgahi.

Sakura langsung menunduk secara reflek, melihat Sakura yang tiba-tiba menunduk membuat Ino dan Shino bingung, "Sakura, ada apa?" tanya Ino.

Melihat kemana arah mata Sakura tertuju, Shino mengikutinya. Ternyata Sakura melihat Sai dan Karin yang kini memesan minuman pada pelayan yang menghampiri mereka, Shino menatap Sakura kembali, "Mau pindah?"

Sakura menggelengkan kepalanya dan kembali pada posisi duduk sampai akhirnya mata Sai mendapatkan sosok Sakura yang sedang menatapnya.

"Sakura..."

Sakura memalingkan wajahnya, eksrepsi Sakura terlihat pilu dan Ino tidak suka melihatnya. Karin yang melihat Sai memandangi Sakura akhirnya memutuskan untuk bangkit dan berjalan ke arah wanita berambut soft pink itu, dan tentu saja hal ini membuat Sai panik.

"Boleh aku gabung di sini?" tanya Karin pada Sakura.

Sakura menatap KArin dengan tatapan bingung, sampai akhirnya Sakura mengangguk. Karin duduk di samping Sakura sedangkan Sai mengambil kursi tambahan untuk berada di dekat mereka.

"Tidak menyangka kita bertemu di sini," ucap Karin pada Sakura.

"Ng," jawab Sakura singkat.

Karin tersenyum ramah dan menggenggam tangan Sakura, "Sakura... maafkan aku, maaf aku belum sempat minta maaf secara benar padamu."

"Tidak apa, tidak ada yang harus dimaafkan," jawab Sakura yang sedikit melepaskan genggaman Karin.

"Aku sudah bicara pada ayah untuk membatalkan pertunanganmu, tapi sepertinya dia tidak bisa melakukan itu. Katanya dia sudah berjanji pada seseorang untuk menikahkanmu dengan Shikamaru," ucap Karin.

"Janji pada seseorang?" tanya Sakura bingung.

Karin menatap Sai untuk memberitahu Sakura yang sebenarnya.

"Sakura..." Sai berucap dengan tatapan serius dan itu membuat Sakura merasa tidak nyaman, "ikutlah bersamaku ke Hongkong."

"Apa?!" saat ini Ino-lah yang teriak.

"Ini sangan penting... kakek ingin menemuimu," ujar Sai.

Sakura mengerutkan keningnya, "Kakek? Aku bahkan baru tahu kalau aku punya keluarga selain dirimu," sindir Sakura ketus.

"Beliau sakit parah," sambung Sai yang kini benar-benar seperti memohon, "dan permintaan yang selalu dilontarkannya adalah ingin bertemu denganmu."

"Tunggu dulu Sai, kau tidak bisa meminta Sakura tentang hal itu begitu saja!" protes Ino.

"Tadinya Sai ingin mengabaikannya," ucap Karin, "namun ayah mereka saat ini kebingungan dengan tingkah kakek yang semakin lama semakin aneh."

"Aku tidak mengenal mereka," ujar Sakura ketus.

Melihat tingkah Sakura yang egois membuat Sai sedikit kesal, akhirnya dia beranjak dari duduknya, namun sebelum pergi Sai kembali memandang Sakura yang kini juga memandangnya, "Baiklah kalau itu ego-mu, hanya saja sudah seminggu lebih kakek menyebut namamu sampai menangis dan ingin bertemu denganmu. Ayo Karin, kita pulang."

Karin beranjak dan sedikit membungkuk pada Sakura, "Tolong dipertimbangkan, Sakura."

Sakura terdiam dan kini menutup wajahnya memakai kedua tangannya.

"Sakura... " Ino menggenggam tangan Sakura, "apapun keputusanmu, aku akan selalu ada di pihakmu."

"Aku benci mereka," gumam Sakura pilu, "aku benci presiden, aku benci Sai..."

Saat Ino akan bangkit dan pindah ke samping Sakura, tubuhnya dihentikan oleh Shino karena saat ini Sasuke sudah datang dengan mobilnya dan memasuki cafe tersebut.

"Sasuke," sapa Shino.

Sasuke duduk di samping Sakura, sadar akan keadaan Sakura yang terdiam dengan wajah yang sedih dan kesal membuat Sasuke melirik Ino dan Shino seolah bertanya ada apa dengan Sakura.

"Ada apa?" tanya Sasuke pada Sakura, "dan jangan coba-coba membohongiku."

Sakura menatap Sasuke dan menarik lengan jaket hitam yang dia kenakan, "Tadi Sai datang kesini bersama Karin."

"Apa? Lalu apa mereka mempermalukanmu? Apa aku harus menghajar mereka?" tanya Sasuke sambil memegang pundak Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Sai bilang..." Sakura memejamkan matanya, "Kakek ingin bertemu denganku."

"..." Sasuke terdiam, ini sama dengan apa yang Itachi katakan padanya saat itu. Suatu saat nanti... Sakura akan pergi dari sisinya, dari dunianya.

"Tidak! Kau tidak boleh pergi kemana-mana, aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke Hongkong bersamanya!" geram Sasuke.

Sakura merengut dan menatap Sasuke bingung, "Tapi aku tidak bilang padamu bahwa Sai mengajakku ke Hongkong."

Sasuke membatu saat Sakura mengatakan itu. Ketahuan... apa yang Sasuke sembunyikan akhirnya terbongkar.

"Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sakura.

"Sasuke, aku harap kau tidak menutupi apa-apa dari kami," ucap Ino.

Dengan berat hati, akhirnya Sasuke mulai menceritakan apa yang terjadi pada Itachi dan Sai di club malam saat itu. Mendengar cerita Sasuke membuat Ino, Shino dan Sakura terbelalak. Ditambah, Sasuke menyembunyikannya selama seminggu dari Sakura. Mengetahui bahwa mereka satu ibu... Sasuke tetap membiarkan Sakura menciumnya... Sakura merasa seperti orang bodoh sekarang.

Saat Sasuke selesai menceritakan semuanya, Sakura tidak berbicara apa-apa, dirinya tetap terdiam seolah menjadi boneka hidup. Kenyataan yang Sasuke berikan padanya saat ini benar-benar membuatnya shock. Kemarin dia mengetahui Sai adalah kakaknya, sekarang dia mendapatkan berita lagi bahwa Sasuke dan Itachi adalah persaudaraan satu ibu.

Sampai Sasuke dan Sakura pulang, sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka satu kata pun. Shino dan Ino pun yang pisah jalan tidak berkata apa-apa. Masalah ini terlalu rumit.

Sesampainya di kediaman Uchiha, Sakura membuka pintu mobil dan berlari menuju kamarnya tanpa mengucapkan satu katapun pada Sasuke. Melihat Sakura yang menjadi dingin padanya membuat Sasuke risih dan takut. Dan benar saja, apa yang dia takutkan itu benar-benar terjadi, saat ini Sasuke datang ke kamar Sakura dan melihat wanita itu tengah membereskan pakaiannya.

"Mau kemana kau!" bentak Sasuke.

"Pindah, setidaknya ke tempat dimana aku tidak dibohongi ataupun dibodohi," jawab Sakura sarkastik.

"Kau tidak boleh pergi dari sini, bahaya di luar sana!"

"Aku tidak peduli," jawab Sakura, "aku tidak peduli."

Sakura kembali memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar. Sasuke menarik tas Sakura dan melemparnya ke sembarang arah, "Kau dengar kata-kataku!"

"Kau yangd engar kata-kataku! Mau sampai kapan kau selalu menyembunyikan kenyataanku?! Apa aku tidak berhak mengetahui siapa diriku sebenarnya?! HAH!"

"Aku mencari saat yang tepat, Sakura."

"Dan sekarang adalah saat yang tepat?! Setelag Sai mengatakan bahwa kakekku sekarat! Kau yang membuatku berpikir aku tidak punya keluarga, kau yang membuatku berpikir untuk membenci mereka!"

"Aku tidak bermaksud!"

"Sudahlah! Aku muak!" Sakura mengabaikan Sasuke dan meninggalkan Sasuke sendiri.

"Sakuraa!"

Panggilan Sasuke diabaikan oleh Sakura. Wanita itu kini keluar tanpa mempedulikan cuaca yang akhir-akhir ini selalu mendung. Sakura berjalan keluar menuju jalanan, dia butuh menjernihkan pikirannya. Dulu saat dia mencintai Sai, ternyata Sai adalah kakaknya. Dan saat bertemu dengan Sasuke, akhirnya Sakura berhasil membuang perasaannya pada Sai jauh-jauh.

Namun kini setelah Sakura sudah mulai menyukai Sasuke... dengan entengnya dia mengatakan bahwa mereka adalah saudara satu ibu. Sakura sangat stress memikirkan semua ini. Sepanjang Sakura berjalan, akhirnya Sakura tiba pada suatu tempat yang penuh dengan perkumpulan laki-laki bertato, minuman keras dan wanita yang sedang mereka jamah.

"I-ini dimana?" gumam Sakura.

"Sakura-chaann?!"

Sakura menoleh pada sosok yang memanggilnya, "Naruto?"

"Kau sedang apa disini? Ini bukan tempatmu, ayo pulang... kalau Sasuke tahu-"

"Aku tidak mau pulang!" tolak Sakura saat mendengar nama Sasuke keluar dari mulut Naruto.

"Kenapa?" tanya Naruto lembut.

Sakura menahan dirinya agar tidak menangis, "Aku benci pada mereka, aku benci mereka semua," ucap Sakura, "dengan seenaknya mereka bilang bahwa aku adalah sudara mereka, bahwa aku mempunyai keluarga yang menungguku, bahwa aku ini bukan anak ayahku, aku ini adiknya, aku ini-"

"Woaah, wooah, wooah. Sakura pelan-pelan, ayo ceritakan padaku, kita ke taman," ajak Naruto.

Saat mereka sampai di taman, Naruto membelikannya minuman kaleng rasa starberry. Sakura menceritakan semuanya dari awal sampai cerita yang Sasuke katakan di cafe tadi. Bahwa dirinya adalah anak dari ibu Sasuke dan Itachi, bahwa dirinya adalah adik Sai dan segala kerumitan yang terjadi di sekitarnya.

"Sakura-chan, boleh aku kasih pendapatku?" ujar Naruto dan Sakura mengangguk, "aku tahu kalau Sakura-chan sangat stress memikirkan hal ini, dan kau juga masih shock atas kejadiaan minggu lalu."

Sakura mendengarkan ucapan Naruto dengan seksama, "Kautahu? Dulu saat kau menghilang, Sasuke mencarimu kemana-mana ditengah hujan yang deras, dia sangat frustasi saat tidak berhasil menemukanmu. Aku... baru melihat Sasuke yang seperti itu, Sasuke yang benar-benar khawatir pada seseorang... dan orang itu adalah kamu, Sakura-chan."

"Tapi... dia seolah tidak apa-apa bahwa kita adalah-"

"Apa kau yakin dia tidak apa-apa? Kau sudah pernah dengar kalau Sasuke itu bukan tipe orang yang bisa meng-ekspresikan perasaannya?" tanya Naruto pelan-pelan pada Sakura, "aku sangat mengenal Sasuke... dan yang kutahu... Sasuke sangat amat mencintaimu, dia menyayangimu seolah kau adalah segalanya bagi dia."

Sakura terkejut ketike mendengar pendapat Naruto, bolehkan dia percaya pada apa yang Naruto katakan barusan? Bolehkah dia berharap bahwa Sasuke benar-benar mencintainya?

"Sekarang, bisakah kau berpikir berada di posisi Sasuke? Bagaimana die berpikir untuk memberitahumu tentang semua ini? Dengan urusan Black Dragon yang sangat berat, Sasuke harus memikirkanmu juga, dan bagaimana perasaannya saat tahu bahwa kau keluar dari rahim yang sama?" tanya Naruto sekali lagi, "aku yakin perasaanmu saat ini jauh lebih kecil dariapda perasaan Sasuke padamu."

Sakura mulai berpikir, ucapan Naruto ada benarnya.

"Namun bukan berarti kau harus menurut apa yang Sasuke ucapkan padamu," lanjut Naruto, "bagaimanapun juga kau masih punya keluarga, Sakura-chan... bersyukurlah akan hal itu."

Sakura kini berjalan pelan menuju rumah Sasuke, pikirannya terus menerus berputar pada apa yang Naruto katakan tadi. Sesekali Sakura menendang batu kecil yang menghalangi jalannya. Begitu ia merasa hujan sudah turun dan makin lama makin deras, Sakura berlari kencang sampai dia berada di depan gerbang rumah Uchiha. Begitu Sakura berhasil memasuki halaman Uchiha, sayang dirinya sudah kebasahan. Sakura melihat sekeliling, tidak ada satu mobil yang terdapat di halaman yang luas ini.

"Apa mereka semua pergi?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.

Sakura membuka pintu dan kaget ketika melihat sosok Sasuke dengan wajahnya yang sangat emosi berdiri di ruang tamu. Sakura sedikit gemetar antara takut dan dingin, namun Sasuke yang menghampirinya kini membuat langkah Sakura semakin lama semakin memundur dan akhirnya tubuhnya menyentuh pintu kembali.

"Dari mana kau!" bentak Sasuke.

Entah kenapa Sasuke jadi sangat mudah emosi.

"A-aku dari..."

"Tempat Sai? Atau Shikamaru? Hah! Segitu kau kecewanya padaku sampai-sampai kau meminta kenyamanan dari mereka," ucap Sasuke merendahkan.

Mata Sakura mulai berkaca-kaca, kalimat Sasuke sangat menyakiti hatinya. Merasa kesal pada kalimat Sasuke, akhirnya Sakura menjauhkan diri Sasuke dari tubuhnya.

"Ya, aku bertemu dengan Sai, puas?!"

"Sudah kuduga," geram Sasuke, "kau senang ,'kan aku tidak mengejarmu?! HAH!" Sasuke menarik lengan Sakura dengan kasar.

"Aahh! Sakit! Lepaskan aku!"

"Apa yang kauperbuat dengannya?!"

"Lepaskan aku!" Sakura mendorong tubuh Sasuke, Saat berhasil melepaskan genggaman Sasuke pada lengannya, Sakura berlari sekencang mungkin ke arah kamarnya, saat Sakura akan menutup pintu kamarnya, Sasuke menahannya.

Sasuke memaksa masuk dan menutup pintu Sakura, juga diam-diam menguncinya.

"Kau ingin menguji kesabaranku berapa lama, Sakura?" ucap Sasuke yang berjalan pelan menuju Sakura.

Saat ini Sakura sangat ketakutan, diirnya gemetar melihat ekspresi marah Sasuke. Sasuke mendekati Sakura dan mencengkram kedua lengan Sakura lalu menghimpitnya ke tembok.

"Akh!" rintih Sakura.

"Apa yang kaulakukan dengan Sai!" bentak Sasuke.

Sudah tidak tahan, akhirnya Sakura menangis, dia takut... sangat takut pada Sasuke... namun Sakura tetap harus menjawab pertanyaan Sasuke kalau tidak mau membuat laki-laki itu marah lebih lanjut, "Aku akan ikut dengannya ke Hongkong!" jawab Sakura sambil membentak.

Mata Sasuke terbelalak, cengkramannya semakin kencang.

"Aku akan ikut dengannya agar jauh darimu! Agar aku tidak lagi dibohongi olehmu! Karena aku benci-"

PLAK!

Sakura terdiam.

Tamparan yang Sasuke berikan padanya sangat keras sehingga membuatnya terdiam namun dengan air mata yang mengalir. Sakura memberanikan diri untuk menatap Sasuke... betapa kagetnya saat ini melihat Sasuke yang menunduk, dirinya berlutut dan menjambak rambutnya sendiri. Sakura menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangis yang kencang.

Ekspresi itu... ekspresi pilu yang sangat Sakura benci kalau terpasang di wajah Sasuke.

Sakura mensejajarkan tubuhnya dengan Sasuke, dia berutut juga di hadapan Sasuke. Namun laki-laki itu tidak mau mengangkat wajahnya, seolah menutupi sesuatu yang terjadi padanya.

"Sa-suke-kun..~" panggil Sakura lirih.

Sasuke tidak menjawab. Bisa Sakura lihat bahwa tubuh dan tangan yang habis menampar dirinya tadi gemetar, bahkan Sasuke menggenggam tangan yang ia gunakan untuk menampar Sakura sampai berdarah. Selintas Sakaura mengingat ucapan Naruto tadi.

"Apa kau yakin dia tidak apa-apa? Kau sudah pernah dengar kalau Sasuke itu bukan tipe orang yang bisa meng-ekspresikan perasaannya?"

"Sasuke-kun...~" panggil Sakura pilu.

"Aku sangat mengenal Sasuke... dan yang kutahu... Sasuke sangat amat mencintaimu, dia menyayangimu seolah kau adalah segalanya bagi dia."

"Sasuke-kun~" kali ini Sakura mencoba menyentuh pundak laki-laki yang masih menutup wajahnya memakai lengannya itu.

"Sekarang, bisakah kau berpikir berada di posisi Sasuke? Bagaimana die berpikir untuk memberitahumu tentang semua ini? Dengan urusan Black Dragon yang sangat berat, Sasuke harus memikirkanmu juga, dan bagaimana perasaannya saat tahu bahwa kau keluar dari rahim yang sama?"

"Sasuke...~" Sakura kini sadar, bahwa Sasuke sedang menangis dan menyesali perbuatannya.

"Aku yakin perasaanmu saat ini jauh lebih kecil dariapda perasaan Sasuke padamu."

Mengingat setiap ucapan Naruto tadi membuat Sakura sadar. Sakura sangat egois, terlalu mementingkan perasaannya sendiri, Naruto benar, seharusnya Sakura harus lebih mencoba berpikir pada posisi orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan melihat Sasuke yang hancur seperti ini membuat Sakura tersiksa. Sakura makin menangis kemudian memeluk tubuh Sasuke dengan tubuhnya yang kecil itu.

"Sasuke-kun maafkan aku...~" ucap Sakura lembut, "maafkan aku~ sudah... jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa~"

Sasuke menggerakkan lengannya dan membalas pelukan wanita itu. Sasuke masih tidak mau menunjukkan wajahnya pada Sakura. Namun Sakura sangat yakin, dengan merasakan basah di punggungnya... Sakura yakin bahwa Sasuke kini menangis.

"Maaf aku mementingkan perasaanku sendiri~"

"Jangan ucapkan itu... aku mohon," pinta Sasuke yang semakin erat memeluk Sakura, "jangan katakan kau membenciku."

Sakura melepaskan pelukannya dan memaksa untuk menatap Sasuke, saat melihat wajah Sasuke yang sangat kacau, Sakura tersenyum lembut, "Aku tidak pernah membencimu, Sasuke-kun."

Mereka kembali berpelukan, namun pelukan itu hanya sesaat karena saat ini Sasuke meminta lebih. Sasuke mencium bibir Sakura dengan lembut, Sakura pun membalas ciuman itu dengan lembut. Namun lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang panas. Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan meletakkan wanita itu di atas kasur. Mereka tidak peduli apa pendapat orang tentang tindakan yang nista dan hina ini.

Sakura dengan cepat membuka kancing seragam Sasuke, dan Sasuke pun membuka syal dan kemeja yang Sakura kenakan. Sesaat Sasuke menghentikan ciuman mereka, dan saling tatap kini adalah yang mereka lakukan. Sakura membelai pipi Sasuke dengan lembut, Sasuke memejamkan kedua matanya, merasakan setiap sentuhan yang Sakura berikan. Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menciumnya dengan lembut. Berganti Sasuke yang membelai pipi Sakura yang tadi ia tampar, Sasuke menciumnya.

"Maaf aku menamparmu," bisik Sasuke.

Suara Sasuke seperti obat untuk Sakura. Dirinya merasa candu dengan suara berat Sasuke yang terkesan menggoda itu. Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu," jawab Sakura tersenyum.

Kali ini... mereka melakukan hubungan sex bukan atas pemanfaatan situasi semata...

Mereka melakukannya karena mereka sama-sama memiliki perasaan terlarang...

Perasaan cinta yang belum pernah mereka saling ucapkan satu sama lain...

~TBC~


A/N : Terima kasih yang udah mau nunggu hehehee

maaf ya ngaret updatenya XD

XoXo

V3Yagami