Perubahan!

"Apa kau juga harus membawaku kesini?" keluh Sasuke. Wajah pemuda itu semakin terlihat muram dengan rambut hitamnya yang seperti pantat ayam. Kedua tangannya masuk ke dalam saku mantel hitam belelnya. Langkahnya masih mengikuti gadis berambut merah muda di depannya. Ia menghela nafas.

Sakura sibuk menerawang jalan. Sesekali tangan putihnya membalik-balikkan halaman buku mungil bersampul merah muda yang baru ia beli. Konsentrasinya jadi terbagi saat ia mencoba membacanya. Ia tergerak karena semua yang buku itu katakan. "Itu dia Sasuke-kun!" pekik gadis itu.

Telunjuknya mengarah ke sebuah etalase. Ia spontan menarik lengan Sasuke dan berlari menuju etalase sebuah toko di dalam mall. Sasuke tak sempat menolak. Badannya sudah tak bergeming karena tarikan gadis itu. Ia masih terlihat ogah-ogahan dengan Sakura yang seenaknya sendiri.

Mata Sakura langsung menjelajah antusias di jejeran produk-produk bermerek itu. Sasuke hanya berdecak dan memutar bola matanya. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu Nona?" seorang sales promotion girl yang sedang berjaga menyambutnya.

"Ah, ini peralatan make up ya?" tanyanya. Pandangan Sakura masih fokus pada etalase dengan badannya yang membungkuk, mengamati. Penjaga toko itu tersenyum dengan Sakura yang terlihat berbinar. Ia merasa akan segera mendapat pembeli.

"Benar, Nona. Mau yang mana?" ia berusaha sopan meski tanpa berbasa-basi. Pertanyaannya membuat tubuh Sakura menegak. Kini jarinya mengelus-elus dagunya. Dahinya mengernyit berpikir.

"Aku ingin membeli beberapa alat make up, tapi…," kepalanya sedikit tertunduk memandangi dagangan yang tersusun rapi. "…aku tak bisa memakainya."

Seseorang terkekeh di belakang gadis itu. Sakura reflek menoleh. Pemuda berambut hitam yang daritadi mengikutinya tertunduk menyembunyikan wajah pucatnya. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya yang hitam legam semakin menyipit. Bahunya sedikit bergetar. Ya, Sasuke tertawa.

"Siapa yang menyuruhmu tertawa?" tanya Sakura ketus. Tawa Sasuke lenyap entah kemana. Ia sedikit tersentak. Ia agak takut melihat mata Sakura yang sudah memicing begitu padanya. Ia menelan ludah. Wajahnya kembali tertunduk, takut kalau-kalau gadis itu jengkel padanya.

"Maaf. Hanya saja… aku baru lihat gadis seumurmu yang tak bisa pakai make up," ujarnya dengan nada datar. Ia mengatupkan rapat-rapat bibir tipisnya berusaha menahan tawanya. Mata Sasuke terlihat gugup saat wajah Sakura semakin terlihat jengkel. "Oh, lihat! Kedai makanan!" jurus pengalih perhatianpun ia keluarkan.

Secepat kilat pemuda itu melangkahkan kakinya menuju kedai makanan yang ia tunjuk. Bukan untuk makan, tapi untuk melarikan diri dari Sakura yang mulai berang.

xxx

Beberapa juru masak membalik-balikkan takoyaki dari cetakan bulat-bulatnya. Yang lain ada yang mengocok adonan dan mempersiapkan isian gurita potong. Mata Sasuke asyik mengamati mereka memasak. Sejujurnya ia cukup lapar apalagi dengan aromanya, tapi ia sedang menghemat. Kemungkinannya kecil untuk membeli makanan di dalam mall. Ia berpikir untuk membeli makanan di pinggir jalan yang lebih murah sepulang nanti.

"Hei," seorang gadis menegurnya dari belakang. Ia menoleh singkat. Kakinya melangkah bergeser ke samping.

"Silahkan," jawabnya sekilas menatap gadis di belakangnya tadi. Ia kembali menonton acara memasak koki-koki itu. Ia merasa tak enak sudah menghalangi pandangan pelanggan pada kedai takoyaki ini. Ia berdiri terlalu lama disana, menonton. Menghalangi pelanggan yang akan membeli itu kurang sopan, apalagi ia tak membeli.

Gadis itu menepuk bahunya. "Sasuke-kun, kau sedang apa sih?" tanyanya. Pemuda itu kembali menoleh. Kini ia balas menatap gadis itu. Sasuke menatapnya lama. Alisnya saling mengait bingung. Seperti pernah lihat. Tapi dimana? Ia tak ingat.

"Siapa ya?" ia masih memandangi gadis itu lekat-lekat. Tangan gadis itu spontan menepuk dahinya yang agak lebar.

"Kau ini bagaimana sih?! Aku Sakura!" ucapnya agak kesal. Sasuke tersentak. Tubuh jangkungnya berjengit. Mata sipitnya terbelalak. Ia memundurkan sedikit tubuhnya saat terkejut.

Telunjuk pemuda itu terangkat bergetar pada gadis di depannya. "K-Kau… Tidak mungkin!" sanggahnya. Gadis yang mengaku Sakura itu mendengus melihat Sasuke terkejut seperti melihat setan. Sasuke masih telihat terkejut menerima kenyataan bahwa gadis itu adalah Sakura.

"Bagaimana?" tanya Sakura. Kini gadis itu terlihat lebih tenang tak lagi membentak. Namun sekarang ia merasa sangat gugup. Sasuke berusaha tenang dan fokus pada pertanyaan gadis itu.

Ia berdiri diam cukup lama menatap gadis itu. "Bagaimana apanya?" Sasuke malah balik bertanya.

Kaki kanan Sakura menghentak kesal. "Kau ini tidak peka sekali!" Sakura meruncingkan bibirnya. Kini tangannya terlipat di depan dadanya. Ia mendengus. "Aku sudah beli alat make up. Tadi penjaga tokonya mencoba meriasku. Dia juga mengajarkanku sedikit," tukasnya agak dingin.

Sakura menyudutkan bola matanya di pelupuk. Ia tak sanggup jika harus menatap mata Sasuke. Pemuda itu kini memperhatikan wajahnya seksama berkat ucapannya tadi. Sakura merasa sangat gugup karena Sasuke sangat mendalam memandanginya. "J-Jadi bagaimana?"

"K-Kau… sama saja," gumamnya agak gugup. Sasuke kembali mengalihkan pandangannya. Hampir saja ia mengatakan hal bodoh. Ia merasa gengsi untuk terang-terangan memuji gadis itu. Entah kenapa ia pun tak tahu. Yang jelas 'sama saja' sudah mewakili pendapatnya. Karena bagaimanapun juga Sakura itu sama saja. Walaupun dirias atau tidak, ia sama saja. Sama-sama cantik. Ia jadi agak takut Sakura akan menyadari kebodohannya. Karena jelas-jelas ia tadi tak mengenali Sakura sama sekali.

Sakura melenguh pasrah mendengar jawaban itu. Gadis itu tak merasa puas dengan jawaban Sasuke. Ia tak bisa menyangsi pendapat seorang pria padanya. Ia mulai mengoreksi apa yang salah padanya. Yah, tak ada salahnya menimang-nimang pendapat Sasuke. Lagipula ia seorang pria. Sakura membutuhkan pendapat pria tentangnya. Ia sangat berharap langkah pertama di buku itu bisa ia lewati dengan baik karena adanya pendapat Sasuke.

"Kau lapar Sasuke-kun?" kini Sakura melongok koki-koki yang sedang memasak takoyaki.

"Sedikit. Aku akan beli nanti. Kau sudah selesai?" mata Sasuke menunjuk ke arah kantung plastik putih yang ada di genggaman gadis itu. Ia bisa menebak kalau itu alat make up yang ia beli tadi.

Sakura melihat-lihat isi kantungnya dengan seksama. "Sepertinya sudah," gadis itu kembali mendongak menatap Sasuke. "Ayo kita beli makanan!" ajaknya. Ia merasa sedikit tak enak membuat Sasuke menungguinya.

xxx

Sakura masih menggerutu. Sementara Sasuke terlihat kesal. Setelah beberapa blok, mereka turun dari bus kota. Mereka tak mengeluarkan sepatah katapun saat di dalam bus. Kini mereka berada di jalanan yang sedikit lengang. Sasuke kembali mengikutinya dari belakang.

"Dasar manja" gumamnya.

Sakura menoleh kesal. "Hei! Aku bisa dengar ya!" lalu kembali menatapi trotoar. "Kau saja yang tidak higienis," ketusnya tanpa menatap Sasuke.

Tangan Sasuke masih bersembunyi di dalam saku mantelnya. "Enak saja! Aku ini sedang berhemat. Lagipula beli makanan di pinggir jalan tidak akan membuatmu mati tahu!" kilah pemuda itu agak jengkel.

"Makanan di pinggir jalan itu tidak bersih! Ibuku bilang makanan itu banyak kumannya. Kalau aku sakit, kau mau tanggung jawab?!" Sasuke berdecak.

"Makanya aku bilang kau itu manja," tuduh pemuda bermata hitam itu. Sakura mendengus. "Lagipula kenapa aku harus mengantarkanmu pulang, sih? Kau kan bisa pulang sendiri."

"Ini kan sudah malam. Naruto-kun tak pernah sekalipun membiarkanku sendirian di jalan." ucapnya datar.

"Jangan samakan aku dengan mantanmu itu ya," protes Sasuke.

Sakura membalikkan badannya menatap pemuda jangkung itu. Kini mereka saling berhadapan. Pemuda terhenti langkahnya karena Sakura yang sudah terlihat kesal. "Kau tega membiarkan aku pulang sendiri? Kalau terjadi sesuatu padaku bagaimana?!"

"Ya biarkan saja. Memangnya aku harus bagaimana?" jawabnya cuek dan dingin.

'Buugh!'

Tangan putih Sakura sukses mendaratkan bogemnya di pelipis kiri Sasuke. Spontan tangan pemuda itu memegangi kepalanya yang baru saja dihujam pukulan mantap Sakura.

"Akhhh! Apa-apaan kau ini?!" pekiknya sambil sedikit mengerang dan memegangi pelipisnya.

"Kau itu tidak punya perasaan! Laki-laki macam apa kau ini?!" sungut Sakura pada pemuda itu yang masih terlihat kesakitan.

"Kau sendiri tidak mengaca?! Perempuan macam apa kau ini? Kasar sekali," gerutu Sasuke sambil mengelus-elus pelipisnya berusaha mengurangi sakit.

Sakura kembali berbalik. Kali ini tangannya bersedekap jengkel. "Sudahlah! Ayo cepat! Apartemenku tinggal seblok lagi," tukasnya.

xxx

Pandangan mata hitamnya beredar di ruangan itu. Mewah. Berbeda dengan apartemennya yang kumuh dengan cat tembok yang mengelupas disana-sini. Mungkin karena yang menempati ruangan ini adalah wanita. Ruangan itu begitu rapi, tidak seperti di kamarnya dengan baju kotor yang berserakan.

Gadis berambut merah muda itu meletakkan dua piring lauk yang baru saja selesai ia masak. Wajahnya kini riang tak seperti tadi. "Aku biasa hidup sendiri, jadi aku harus pandai memasak," ujarnya sambil melepas celemek birunya dan menggantungnya di gantungan dekat jendela.

"Kau memasak untukku?" Sasuke masih bingung. Sakura bergabung dengan Sasuke di meja makan kecilnya. Gadis itu terkekeh menatap wajah pucat pemuda itu.

"Tentu saja. Kalau tidak mau pulang saja sana," candanya. "Ayo makan! Itadakimasu!" Sakura sudah memegangi sumpitnya. Tangannya luwes mengambil lauk dari piring putih itu.

Tidak mau? Yang benar saja. Jarang-jarang ia bisa makan gratis seperti ini. Dan juga, masakan Sakura itu sangat enak. Mungkin karena bahan-bahannya yang mahal dan keahlian memasak Sakura. Ia sudah sangat lapar hingga tak mengindahkan apapun yang ada di sekelilingnya. Sakura senyum-senyum saat pemuda itu mulai makan dengan lahap dan tergesa.

Sasuke menghabiskan tegukan terakhir tehnya. Masakan Sakura sudah ludes. Mereka berdua sudah kenyang, apalagi Sasuke.

"Kau tinggal sendiri Sasuke-kun?" Sakura membuka topik setelah makan malam itu. Tangannya kembali membalik-balik halaman buku merah muda itu.

"Tidak. Aku tinggal dengan kakakku," jawabnya seraya menuangkan teh lagi ke dalam gelasnya. "Kau? Mengapa tak tinggal dengan orang tuamu saja?" tangan Sakura terhenti dari sisiran halaman bukunya.

Mata hijau gadis itu kini menatap hambar ada pemuda di depannya. Sasuke ikut menghentikan tuangannya melihat Sakura diam. "Orang tuaku sudah bercerai. Ayahku pergi dengan wanita lain saat aku masih kecil," ucapnya datar. Sasuke diam.

Ia merasa tak enak, sangat tak enak. Suasana terasa canggung. Sasuke kini menunduk perlahan. "Maafkan aku. Aku tak tahu kalau…," kalimat pemuda itu terpotong oleh tawa Sakura yang tiba-tiba pecah.

"Haha! Wajahmu lucu sekali! Tak perlu dipikirkan, Sasuke-kun. Aku sudah biasa dengan itu," ia masih tersenyum bekas tawanya tadi. Sepertinya ia hanya bermain-main dengan ekspresi Sasuke. Ia memang tak terlihat terbebani dengan hal itu.

Mata hijaunya kembali menatap tulisan di tiap helai buku kecilnya. Meskipun ia bilang tak perlu memikirkan hal itu, namun benak pemuda berrambut hitam itu merasa iba. Rencana Sasuke yang mau meminum teh hangatnya ia urungkan. Ia menatap diam pada Sakura yang kembali antusias membaca tiap kalimat di buku.

"Hei, Sasuke-kun. Sepertinya aku melewatkan yang ini," gadis berambut merah muda itu menyodorkan buku itu padanya. Renungan Sasuke pecah. Ia pun melihat sebuah paragraf yang ditunjukkan oleh Sakura.

Halaman lima belas. Masih di bab satu sepertinya. Bab pertama dari buku itu bertajuk 'Perubahan!'. Gadis itu daritadi hanya bergelut dengan bab itu mencoba mendalaminya. "Memangnya kenapa?"

"Buku ini bilang harus totalitas," ia mengernyitkan dahinya agak bingung dengan maksud buku itu.

"Itu artinya kau memang harus totalitas," jawab Sasuke santai. Punggungnya kembali bersandar di kursi.

"Jadi aku harus benar-benar berubah? Ber-make up saja sudah susah. Apa aku perlu mengubah gaya pakaianku juga?" ia bertanya pada Sasuke sambil sedikit mengeluh.

Sasuke meminum sedikit tehnya. "Katamu kau ingin mengikuti semua yang ada di buku itu kan?" Sakura mengangguk mantap. "Ya sudah, ikutilah," Sakura hanya melenguh. Jika jawabannya itu, ia juga sudah tahu. Ia kurang puas dengan jawaban pemuda itu. Sasuke tiba-tiba memicingkan matanya pada gadis itu. "Hei, kau ingin dengar pendapatku?"

Sakura agak bingung dengan pertanyaannya. Tapi ia begitu penasaran dengan apa yang ada di kepala Sasuke. "T-Tentu saja," jawabnya tergagap.

"Rubah dulu sikapmu. Mulailah menjadi wanita yang sedikit lebih lembut," ucapan Sasuke telak mengena pada gadis itu.


Ahh.. gomen karena lama ga update chapter baru.. -.- maklum, sibuk nge proofread proyek lain soalnya.. ^.^

mohon Review nya kk. ^.^