Takdir Benang Merah
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Fantasy
Rate : T
Warning: Alur laju, typo atau miss typo, OOC.
.
.
.
.
"Ternyata tugasnya sangat mudah." Naruto menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar yang berada di pusat taman kota.
Hinata mengangguk menyetujui. "Yah, ini hanya survei sih…" ia melihat kembali kertas tugas tersebut.
Sudah dua jam berlalu semenjak Naruto dan Hinata bertemu di taman kota. Bahkan walaupun langit mulai tampak kemerahan, suasana taman tersebut tetap masih dipenuhi oleh banyak pendatang. Lampu-lampu jalanan mulai menyala dengan sendirinya, dan juga barisan toko-toko mulai dihiasi oleh lampu neon yang berkelap-kelip.
Tadinya banyak anak-anak yang datang bersama orangtua mereka, namun kini tempat itu kebanyakan dipenuhi oleh kumpulan remaja yang sebagian besar datang berpasangan. Melihat itu, membuat Hinata merasa sedikit tidak nyaman. Pemandangan seperti itu adalah hal yang tabu dalam hidupnya. Selama ini Hinata selalu berusaha menghindari hal-hal yang berbau asmara. Dan itulah kenapa ia begitu benci dongeng percintaan. Dan mungkin itu juga kenapa adiknya menyebutnya kuno. Pikirannya sama sekali tidak mengikuti perkembangan zaman.
Hinata benar-benar merasa risih.
Naruto yang tampaknya menikmati suasana senja saat itu pun akhirnya menyadari tingkah aneh Hinata. Gadis itu duduk dengan memeluk kakinya, membenamkan wajahnya dengan tubuhnya yang sedikit bergetar.
"Hinata?" Naruto mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak Hinata. Ah tidak—
Ia urungkan niatnya tersebut.
Apa Hinata tidak biasa berada diluar pada jam segini? Gadis itu tampak ketakutan.
Berusaha memalingkan semua rasa penasarannya. Naruto pun mendapat ide.
"Hinata, kau mau makan?"
"Huh?" Hinata mengangkat wajahnya perlahan. Tau-tau Naruto sudah berdiri dihadapannya.
Pemuda itu mengulurkan tangannya. "Tidak apakan kalau kau pulang sedikit lama untuk menemaniku makan?" terlukis senyum hangat dibibir Naruto.
Hinata sempat tak berkedip menatap pemuda pirang itu. Lagi-lagi senyum itu. Lagi-lagi tatapan itu. Apa-apaan pemuda yang ada dihadapannya ini? Kenapa sikapnya mendadak berubah dari yang tadi pagi?
Kenapa senyum itu, dan tatapan yang seperti itu…
Lagi-lagi mengobati hatinya yang gundah.
Lagi-lagi dengan mudahnya mengangkat beban yang sedari tadi mengusik ketenangannya.
Hinata tidak tahu. Ia hanya tidak tahu. Tapi juga tidak ingin menyangkalnya. Hinata akui ia menikmati saat-saat ketika senyuman pemuda itu membuat perasaannya bergetar. Membuat hatinya menggebu-gebu. Sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Sesuatu yang membuatnya kecanduan.
"Err…j-jadi kau mau tidak?" Naruto sedikit salah tingkah karena Hinata terlalu lama menatapnya. Ah, gara-gara gadis itu Naruto terpaksa menurunkan tangannya yang tadinya sengaja ia ulurkan agar Hinata meraihnya, agar Hinata menggenggamnya lagi. Tapi ya…Naruto sudah gugup duluan.
"Eh? Ma-maaf…" buru-buru Hinata berdiri dan kepalanya bertubrukan dengan dada bidang Naruto.
Huh? Apa ini?
Hinata sedikit kaget. Jantung Naruto…
Jantung Naruto…
Berdetak sangat cepat.
Menyadari itu dengan segera Hinata memindahkan posisinya. "Ma-maafkan aku lagi." Hinata menundukkan kepalanya. Gawat, ia tidak berani menatap Naruto.
"Tidak apa-apa. Ayo cepatlah, aku tahu tempat makan yang sangat enak!" Naruto membalikkan tubuhnya membelakangi Hinata, melambai-lambaikan tangannya.
Tapi sikapnya biasa saja. Hinata menatap punggung Naruto dengan heran. Apa jantungnya memang memompa darah lebih cepat ya…
Hinata menyentuh dadanya, mencoba memastikan detak jantungnya juga. Dan alangkah kagetnya Hinata, bahkan detak jantungnya sama cepatnya seperti Naruto. Ugh, efek keluar malamkah? Batinnya bertanya-tanya.
"Eh? N-Naruto, tunggu aku!"
.
.
.
Santai Naruto, tenanglah. Kau hebat bisa sampai sejauh ini. Naruto mengepalkan tangannya dengan kuat. Matanya menyipit. Berusaha menahan gejolak dihatinya. Ia merasa seperti akan terkena serangan jantung.
Semoga Hinata tidak menyadarinya.
.
.
.
"Ramen?"
"Yap, ramen!"
Naruto tersenyum sumringah. Sebenarnya ini pertama kalinya ia mengajak teman perempuan ke tempat makan favoritnya. Ah tidak, Hinata lebih dari sekedar teman perempuan biasa. Gadis itu sudah menjadi seseorang yang berbeda dipandangannya.
Suasana di kedai ramen itu sangat ramai akan pelanggan. Mata Naruto sibuk mencari-cari tempat duduk untuknya dan Hinata. Sialnya mereka, sudah tidak ada bangku yang kosong. Semuanya sudah penuh.
"Ah Naruto-niichan!" tiba-tiba seseorang memanggil Naruto dari arah kursi pelanggan.
Naruto menolehkan kepalanya dan melihat ada seorang gadis kecil yang tengah melambaikan tangannya. Disamping gadis kecil itu ada seorang lagi dengan kacamata besar.
"Oh kau ya Mugi! Dan juga Udon!" Naruto segera menghampiri kedua orang tersebut, dan Hinata mengikutinya dari belakang.
"Apa Naruto-niichan ingin makan? Kulihat niichan tidak kebagian tempat duduk." Gadis yang dipanggil Mugi itu merapatkan kakinya dan tersenyum dengan manis.
Naruto berdecak pinggang. "Yah begitulah. Sekarang aku ragu harus makan disini atau tidak."
Mugi pun memiringkan kepalanya. Ditatapnya Hinata yang tengah menundukkan kepalanya. Ia pun tersenyum lagi. "Baiklah, akan kuberikan kursi ini untuk Naruto-niichan dan kekasihnya. Ya kan Udon?" ucapnya seraya menyikut lengan anak lelaki yang duduk disampingnya.
"Wah kau ini baik sekali." Balas Naruto dengan tawanya yang renyah.
Heh?
Pendengaran Hinata tidak salah kan? Pemuda pirang itu sedang tuli atau apa? Barusan gadis kecil dihadapannya itu menyebut Hinata sebagai kekasihnya, dan reaksinya hanya seperti itu?
"Ayo kita pergi Udon. Setelah ini kita harus menemui Konohamaru di studio Paman Asuma."
"Tunggu dulu. Kita harus membayar ramennya"
"Ah tidak perlu. Malam ini, biar aku yang mentraktir kalian." Naruto merogoh sakunya dan barjalan ke arah kasir. Mugi dan Udon pun tersenyum lebar. "Terima kasih niichan!" seru keduanya senang.
"Tapi sebagai gantinya, bilang pada Konohamaru jangan datangi rumahku lagi. Anak itu benar-benar menggangguku kemarin. Dan bilang juga pada Paman Asuma, kalau keponakannya itu sedang mencoba kabur lagi dari rumah kakeknya. Mengerti?"
Mugi dan Udon mengangguk mantap. "Kami mengerti!" keduanya pun segera menjauh dari pandangan Naruto.
Naruto menghela napas, panjang. "Anak-anak itu sangat menikmati masa muda mereka." Ia pun memutar kepalanya dan melihat Hinata yang memasang wajah kebingungan.
"Hinata, kau kenapa?" Naruto melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hinata. Sontak Hinata pun tersentak. "T-tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kalau relasi kehidupanmu itu menakjubkan." Ucapnya dengan terkekeh pelan.
Naruto memandang Hinata heran. "Relasi apanya, mereka itu sahabat dari sepupuku. Makanya aku bisa kenal mereka dengan dekat."
Hinata hanya terdiam. Ternyata Naruto memang berbeda darinya. Ia saja bahkan tidak kenal satupun sahabat adiknya. Bukan karena tidak tahu, itu karena memang ia tidak ingin tahu. Pantas Anko-sensei menyebut Naruto itu sosialis. Pemuda itu dikenal dan mengenal banyak orang. Sifatnya yang ramah juga membuatnya orang-orang senang terhadapnya.
Ramah ya…
Jadi, yang tadi itu hanya karena Naruto ramah padaku kan?
Ah, lagi-lagi hal itu menyerang pikiran Hinata. Hinata tidak yakin kapan ia bisa berhenti mempertanyakan kebenaran akan pemuda itu. Di satu sisi Hinata senang karena Naruto juga bersikap ramah padanya, tapi disisi lain ada perasaan kecil dihatinya yang seperti menginginkan lebih dari itu. Lebih dari sikap ramah Naruto. Sesuatu seperti diperlakukan beda dari yang lain.
Naifkah Hinata berpikir seperti itu? Tidak. Atau mungkin lebih tepatnya—
Entahlah.
Hinata sendiri bingung dengan kepastiannya. Belum pernah ia memikirkan hal yang rumit seperti ini. Dan Hinata masih belum tahu, kenapa, kapan, dan bagaimana bisa ia berani mengharapkan sesuatu dari seorang…Naruto?
Seorang pemuda yang baru ditemuinya tadi pagi. Ah, ia merasa hari ini berjalan sangat lambat.
"Berhentilah melamun dan cepat pesan ramenmu. Kau tidak ingin dimarahi oleh ayahmu karena pulang larut kan?" Hinata tersentak.
"I-iya. Kalau begitu, aku pesan ramen asin porsi sedang."
.
.
Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Hinata. Naruto bertanya-tanya dalam benaknya.
.
.
.
"Haah!"
Naruto menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran besar. Ia membenamkan wajahnya diantara bantal-bantal.
"Aku merasa hampir mati tadi…" lirihnya.
Dibalikkannya tubuhnya. Dan manik shappirenya menatap instens ke arah langit-langit kamarnya. Tangannya pun bergerak naik, menghalau cahaya lampu yang menerpa wajahnya.
Tatapannya berubah sendu saat melihat benang merah yang terikat dijari kelingkingnya. "Yang kulakukan…tidak salahkan?" Naruto mulai merasakan detak jantungnya mulai berpacu dengan cepat.
Naruto menggigit bibir bawahnya. "Tadinya kupikir menghindari Hinata dapat memutuskan benangnya." Matanya terpejam. "Tapi justru ketika lari dari itu semua, kenyataan malah akan terus mengejarku."
"Dan buktinya sudah ada. Semakin aku berusaha untuk menjauhinya, semakin kuat juga takdir itu menunjukkan keberadaannya. Takdir bahwa kami memang diputuskan untuk bersama." Segurat merah muncul dipipi Naruto, namun akhirnya ia terkekeh.
"Lagipula…apa gunanya menghindari takdir." Ia membentangkan tangannya.
"Takdir cinta sejati tidak akan bisa berubah. Bukankah itu yang selama ini aku yakini?" terlukis senyum lebar yang tulus diwajahnya.
Perlahan kelopak matanya terbuka. Menampakkan manik shappire yang cerah seindah bentangan samudera. "Tidak ada salahnya mencoba." Senyumnya semakin lebar.
"Yang perlu kulakukan hanyalah…memberikan Hinata tempat dihatiku."
.
.
.
"Naruto-niichan! Buka pintunya!"
Ah, suara itu.
Naruto dengan malas berjalan menuruni anak tangga. Tangannya membuka kenop pintu dan—
"Kumohon selamatkan aku!"
.
.
.
"Sudah kubilang aku tidak mau."
"Tapi niichan, apa kau tidak kasihan padaku?"
"Tidak."
"Aah ayolah niichan."
"Konohamaru, HENTIKAN!"
Anak lelaki yang dipanggil Konohamaru itu terdiam. Air mata yang menggantung di ujung matanya pun menetes seketika.
Naruto menghela napas, panjang. Sabar Naruto, sabar. Jangan sampai amarah menguasai dirimu.
"Kenapa niichan?" tanya Konohamaru takut-takut.
Naruto memijit keningnya. "Itu karena kau sudah termasuk kedalam daftar anak nakal dari semua anak-anak yang pernah kutemui seumur hidupku. Kau bahkan lebih liar ketimbang Mugi dan Udon!" Naruto mengacungkan telunjuknya tepat dihadapan wajah Konohamaru.
Konohamaru melonjak kecil. Kakak sepupunya itu benar-benar tega mengatainya seperti itu. "Aku tidak senakal itu…" Konohamaru memanyunkan bibirnya.
Alis Naruto berkerut. "Apanya yang tidak! Kau kabur dari rumah lalu mengganggu ketenanganku. Dan sekarang kau kabur lagi dari Paman Asuma lalu mengganggu ketenanganku lagi!"
"Baiklah…kuakui yang itu…" "Tapi niichan akan memperbolehkan aku menginap disini lagi kan?" pinta Konohamaru dengan mata yang berbinar-binar.
Naruto diam sejenak. "Tidak." Jawabnya ketus. Lalu—
BAM!
Naruto menutup kembali pintu rumahnya dengan kasar.
Konohamaru menatap itu dengan tidak percaya. Kakak sepupunya itu benar-benar kejam.
"Niichan…ayolah…" "Niichan tinggal sendiri kan? Apa salahnya menerima satu orang di rumahmu yang besar ini."
Sekilas Naruto tersentak. Dan wajahnya mendadak sendu. Naruto tahu ia tidak boleh keras kepala seperti ini. Dan fakta bahwa ia hanya tinggal seorang diri itu…benar.
Konohamaru bodoh. Bisa-bisanya ia membicarakan hal itu lagi dihadapannya. Tidak tahukah ia kalau Naruto sebenarnya…sedikit…
Trauma?
"Eh? Ma-maafkan aku niichan! Aku tidak bermaksud berkata begitu!" buru-buru Konohamaru berteriak kembali dibalik pintu.
Naruto berdecih kesal. Sial. Umpatnya.
"Baiklah kau boleh menginap disini."
Wajah Konohamaru berseri-seri. "B-benarkah?" Ia menangkupkan tangannya dengan menatap kagum ke arah Naruto yang baru saja membuka pintunya lagi.
"Iya iya…cih kau ini mau membuatku berubah pikiran ya?" Naruto membalas tatapan Konohamaru dengan wajah bosan.
"T-tidak kok, heheh."
.
.
.
Semilir angin sejuk menemani langkah kaki Hinata. Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur. Hinata memasukkan tangannya kedalam saku seragamnya. Hidungnya yang memerah bersentuhan dengan kepulan uap udara dingin yang baru saja keluar dari bibir ranumnya.
Pagi itu, entah apa yang membuat seorang Hyuuga Hinata tiba-tiba mendapatkan ide untuk berjalan kaki menuju sekolahnya. Ia hanya sedang tidak mood untuk pergi menaiki bus. Bukannya ingin melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin. Tapi ia hanya ingin jalan kaki. Itu saja.
Atau bisa dibilang Hinata masih sedang mempersiapkan hatinya. Jadi dipikirnya dengan berjalan kaki bisa mengulur waktu sedikit lebih lama. Yah walaupun dia juga berangkat cepat pagi itu.
Uzumaki Naruto benar-benar pemuda yang sialan. Itu menurutnya.
Sekarang Hinata yang harus mengalami kegundahan hati yang terdalam. Gah! Demi jagad raya, Hinata ingin sekali membuang perasaan ini jauh-jauh.
Dari kemarin hatinya bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang Uzumaki Naruto yang baru ia temui itu memberikan semacam tusukan pada perasaannya. Rasanya seperti ada racun yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Dan ia merasa kalau racun itu tidak ada penawarnya.
"Ini semua karena Naruto kan? Ini salahnya karena bersikap sok ramah padaku." Umpat Hinata.
"Naruto itu…maksudmu Uzumaki Naruto?"
Hinata tersentak. Suara seorang pemuda baru saja menyapa pendengarannya. Ah, gawat. Hinata kenal dengan suara ini. Dengan takut-takut Hinata menolehkan kepalanya.
"Yo Hinata!" seru pemuda itu dengan riangnya.
Hinata membatu seketika. Matanya melebar hebat. Bagaimana tidak? Ia baru saja mengumpat seseorang. Dan gilanya orang yang barusan ia umpat itu sekarang berdiri tepat dihadapannya. Tuhan. Apa lagi ini?
"N-Naruto?" Hinata menatapnya tidak percaya.
Sialnya. Naruto malah semakin melebarkan senyumnya. "Ada apa?"
Hinata bergidik ngeri. Apa-apaan Naruto ini? Tersenyum seperti itu ketika ia tertangkap basah malah terkesan mengerikan. Naruto masih waras kan?
"Hinata?"
"…"
"Oi Hinata."
"…"
"Hei kau kenapa?" Naruto mengguncang-guncangkan bahu Hinata. Dengan cepat Hinata melepaskan tangan Naruto darinya. Tapi sialnya—
Ia kehilangan keseimbangan, dan—
BRUK!
Hinata terjatuh dengan lututnya yang tertumpu pada jalanan aspal.
"Hinata!" Naruto pun mendekati Hinata yang tampak meringis kesakitan. "S-sakit sekali…" ia bahkan tidak berani untuk bangkit.
Naruto merendahkan posisinya. Ia menatap Hinata dengan raut wajah khawatir sekaligus dengan perasaan bersalah. Tidak seharusnya tadi ia biarkan Hinata melepaskan tangannya…ah, tidak. Maksudnya tidak seharusnya ia mengguncang tubuh Hinata tadi.
"Apa sakit sekali? Biar kulihat lukanya."
"Ti-tidak!" Hinata mencoba menghalau tangan Naruto yang hampir menyentuh kakinya.
"Apanya yang tidak? Lihat, darahnya banyak sekali." Melihat itu, Naruto tak bisa diam saja. Dengan segera diambilnya sapu tangan miliknya, dan mencoba membersihkan darah segar yang mengalir hingga ke betis Hinata.
Hinata menghentikan pergerakan Naruto. "B-biar aku saja." Namun Naruto tak mau kalah. "Tidak, biar aku yang melakukannya." Hinata terdiam. Aish, Naruto terlalu ngotot. Mau tak mau Hinata pun pasrah.
Iris lavendernya tak mampu menatap si pemilik manik shappire dengan jarak sedekat ini. Wajah Hinata bersemu. Ia bisa merasakan hembusan napas Naruto yang menerpa permukaan kulit kakinya. Sial. Ia jadi gugup.
Tiba-tiba Naruto bangkit dan mencoba mengangkat tubuh Hinata dengan kedua tangannya. Sontak Hinata kaget. "A-apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" Hinata meronta-ronta dengan panik. Lagipula, siapa yang tidak akan malu ketika digendong dengan pose ala bridal seperti itu?
Naruto membalas tatapan Hinata dengan wajah polosnya. "Aku akan mengantarmu ke sekolah. Kau tidak akan bisa berjalan dengan kaki yang terluka seperti ini." Wajah Hinata memanas. "T-tidak! Turunkan aku!" Hinata memberontak sejadi-jadinya. Membuat Naruto hampir saja jatuh, namun ia berhasil menyeimbangkan kembali tumpuannya dengan mempererat pegangannya.
"Kau tidak mau telat lagi seperti kemarin kan? Jadi tenanglah. Aku akan mengantarmu dengan selamat." Walau Naruto menatapnya dengan pandangan serius, namun ia tidak pernah lupa untuk selalu memamerkan senyumannya.
Hinata membuang pandangannya dari wajah Naruto. Tidak. Jangan senyuman itu lagi. Jangan tatapan yang seperti lagi. Atau Hinata akan semakin kecanduan dengan gemuruh didadanya. "Kalau gitu…dipunggung saja. Jangan yang seperti ini." Mendengar itu membuat Naruto terkekeh pelan. Sikap gadis ini lucu sekali. Pikirnya.
.
.
.
"Hei."
"Hm?"
"Jadi si Naruto itu orangnya sok ramah ya?"
JLEB!
Hinata bisa merasakan jantungnya ditusuk oleh puluhan 'Iblis Naruto'. Ah, bagaimana ini? Apa pemuda itu akan memarahinya? Atau bahkan sampai membencinya? Mereka kan baru bertemu kemarin, dan ia malah mencari-cari masalah dengan mengumpat si pemuda itu. Hinata menangis dalam hatinya. Aku harus bagaimana?
Menyadari bahwa yang ditanya tidak menunjukkan respon apapun. Naruto mengulas senyum tipis. "Kurasa si Naruto yang kau maksud itu tidaklah seburuk yang kau pikirkan, Hinata." Hinata terkesiap. Matanya mengerjap beberapa kali.
Huh?
Naruto tidak marah? Tapi kenapa jawabannya aneh begitu? Batinnya bertanya-tanya.
Naruto berhenti sejenak. Ia memperbaiki pegangannya pada kaki Hinata agar gadis itu tidak jatuh. Menghela napas dalam diam, lalu berjalan kembali.
"Justru sepertinya, si Naruto itu tulus melakukannya." Hei,hei. Kenapa Naruto malah memuji dirinya sendiri? ia sedang mencoba menghibur Hinata atau malah membuat gadis itu—
"Pfft…hahaha." Tiba-tiba Hinata tertawa dibalik punggung Naruto. Membuat si empunya melonjak kecil karena kaget. "Aku serius tahu!" ah, sayang sekali Naruto tidak dapat melihat wajah Hinata saat itu. Hinata berusaha mati-matian menahan tawanya. Ya ampun, apa-apaan pemuda pirang ini. Mengatai dirinya sendiri seperti itu dengan nada yang serius pula.
"Hei, sudahlah. Aku sama sekali tidak ada maksud membuatmu tertawa." Lanjut Naruto dengan menggembungkan pipinya.
"Pfft…maaf…hahah…aku juga tidak bermaksud untuk tertawa. Hah hah…" tanpa sadar Hinata menyandarkan dagunya pada bahu Naruto. Ternyata tertawa pun bisa menguras tenaga juga. Pikirnya.
Mendadak Naruto menghentikan langkahnya. "Hei, jangan seenaknya menyandar di bahuku. Berat tahu." Ucapnya kesal, atau bisa dibilang ia berusaha membuat nadanya terdengar kesal agar Hinata tidak tahu bahwa ia sedang menyembunyikan rasa gugup dan malunya. Lihat saja, rona merah pada wajahnya menjalar hingga ke telinga.
Eh?
Sadar akan perbuatannya, sontak Hinata mengangkat kepalanya. "M-ma-maaf…" ah, ia malu sekali. Mau ditaruh dimana mukanya sekarang?
"Sudahlah, lupakan." Naruto bersyukur karena Hinata berada dipunggungnya, karenanya Naruto tak perlu mancari alasan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Hinata pasti berpikir kalau sikap Naruto biasa saja. Tapi sebenarnya ia tengah mati-matian menahan kegugupannya. Seorang gadis ada dipunggungnya! Kalian tahu apa itu maksudnya kan? Jujur, Naruto bisa merasakannya semuanya. Kecilnya tubuh Hinata, mulus kulitnya yang seputih porselen, detak jantungnya yang berirama rancu, dan juga sesuatu yang empuk—
yang menekan—
punggungnya.
BLUSH~
Kami-sama, hilangkan pikiran kotorku, HILANGKAN!
.
.
.
"Terima kasih, Shizune-san."
"Ya, sama-sama."
Hinata menghela napas lega. Ternyata lukanya tak begitu parah, dan rasa sakitnya perlahan menghilang. Itu berarti ia tak ada alasan untuk tidak masuk di jam pertama nanti. Lalu bagaimana dengan Naruto?
Pemuda itu masih menunggunya diluar ruang kesehatan sekolah. Ah, sebenarnya Hinata ingin kembali sendiri ke kelas. Ia tidak tahu ternyata dengan Naruto yang menggendongnya hingga ke sekolah adalah pilihan yang sangat buruk. Ribuan mata mengarah kepadanya. Dan ia yakin sekali, tadi ada sekumpulan gadis yang menyumpahinya.
Hinata bergidik ngeri. Apa Naruto sepopuler itu? Tapi kenapa ia baru tahu akan hal tersebut?
"Hinata, bagaimana keadaanmu?" Naruto mendatanginya. Pemuda itu mengambil posisi dengan duduk disamping Hinata.
"Badanku sedikit lemas, mungkin karena pendarahan tadi. Kurasa aku akan istirahat disini hingga bel pertama berbunyi." Hinata meremas lututnya. Tidak apakan kalau ia berbohong seperti ini?
Sejenak Naruto terdiam. 'Kau hanya takutkan?' batinnya. Ah, tidak. Naruto tidak mungkin berkata seperti itu.
"Kalau gitu aku akan ke kelas. Jangan sampai ketiduran hingga bel pulang ya, heheh." Naruto pun meninggalkan ruangan tersebut.
"Justru aku malah tidak bisa tidur." Bisik Hinata dalam diam.
.
.
.
"Baiklah. Hanya sampai disini saja. Kalian boleh istirahat." Kakashi-sensei mengakhiri pembelajarannya.
Jam istirahat sudah tiba. Banyak murid yang bergerombol keluar kelas. Namun tidak dengan Naruto. Pemuda itu sedari tadi bersikap tidak biasa. Matanya beralih ke bangku kosong yang ada di sampingnya.
"Heh, Hinata lama sekali." Gumamnya bosan.
"Oi Naruto." Tiba-tiba ada yang memanggilnya. Naruto menoleh ke asal suara. "Oh, kau ya Chouji. Ada apa?"
Pemuda dengan tubuh gempal itu melahap snack favoritnya. "Kau jadi pendiam sekarang." Ia melahap snacknya dengan antusias.
"Iya, tidak biasanya sikapmu beda seperti ini." Sambung seseorang yang muncul dari belakang Chouji.
"Benarkah?" tanya Naruto, pura-pura heran.
Kedua orang yang ada dihadapannya mengangguk bersamaan. "Biasanya kau akan mencoret-coren papan tulis dengan spidol permanen, atau memberikan lelucon menyakitkan yang membuat orang-orang memarahimu." Timpal teman sekelasnya itu.
Naruto hanya ber-oh ria. Ia tidak kaget, tentu saja. Ia tahu bisa bersikap begini karena apa, dan itu tak perlu dipertanyakan lagi.
Otak Naruto yang lemah itu seusaha mungkin mencari alasan yang tepat. "Tentu saja aku harus mulai menghilangkan kebiasaan burukku. Kita ini kan sudah kelas 11, aku tidak mau nilaiku bermasalah saat naik ke kelas 12 nanti." Jawab Naruto dengan percayanya. Walau sebenarnya bukan itu jawaban yang tepat.
Naruto harus mengunci rapat-rapat mulutnya agar rahasianya mengenai 'penglihatan benang merah' itu tidak diketahui siapapun. Tanpa terkecuali, termasuk Hinata sendiri.
"Ah, aku ingin ke kantin. Dah" buru-buru Naruto keluar dari kelasnya. Ia harus menghindari topik yang seperti itu.
"Dia itu kenapa sih?" Chouji memandang heran.
"Mungkin sedang menstruasi." Balas teman yang ada disampingnya. Chouji menatapnya bosan. "Sai, jangan becanda."
.
.
.
Sedari tadi Naruto hanya berkeliling tanpa arah. Ia sempat memeriksa UKS tadi, tapi Hinata tidak ada disana.
Sigh. Ia mendengus kesal. "Hinata kemana sih…"
Oh ya! Benang merahnya!
Naruto mendapat ide. Ia lupa kalau ia punya navigator yang istimewa. Benang merah yang terikat dijarinya itu bisa membantunya mencari dimana Hinata berada. Sial. Kenapa ia baru ingat sekarang?
Sama seperti ketika ia menemukan Hinata pada saat di taman kota waktu itu, ia akan melakukannya lagi.
Benang merah yang menghubungi mereka itu layaknya penuntun. Naruto bisa dengan mudah mengetahui keberadaan Hinata hanya dengan mengikuti arah benang merah tersebut.
"Kalau begini aku bisa tahu dengan cepat." Seru Naruto semangat.
.
.
.
"Perpustakaan?"
Naruto sedikit ragu untuk memasuki tempat tersebut. Sebenarnya perpustakaan merupakan tempat kedua yang paling ingin dihindarinya setelah laboratorium. Ia meneguk ludahnya. "Baiklah, demi bertemu Hinata." Lirihnya.
Naruto berjalan mengendap-ngendap. Ia merasakan lehernya menggigil. Lihatlah rak buku yang tinggi itu. Dan juga, kenapa suasananya sangat sepi begini?! Teriaknya histeris dalam hati.
"Terima kasih sudah membantuku Hinata-chan."
"Bukan masalah, Shiho-chan."
Pembicaraan dua gadis menyapa pendengaran Naruto. Tunggu dulu, itu suara Hinata kan? Buru-buru Naruto berjalan ke asal suara. Senyum lebar terbentuk dibibirnya.
"Shiho-chan. Kamu tahu kan kalau kamu itu adalah tempat curhat yang paling kupercayai?"
Naruto menghentikan langkahnya.
"Tentu saja Hinata-chan. Apapun itu, aku mau kok mendengarnya." Balas orang yang satunya lagi.
Naruto meneguk ludahnya. Hei, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menguping pembicaraan para gadis. Naruto tahu itu. Apalagi kalau sampai harus mendengar isi curhatan Hinata. Ah, ia akan merasa bersalah jika sempat mengetahuinya. Karena ia sendiri pun tak ingin jika ada orang lain yang mengetahui privasinya.
Naruto memutar tubuhnya. Dan baru saja ia ingin pergi dari tempat itu—
"Apa Shiho-chan percaya jika kubilang bahwa aku dapat melihat benang merah?"
DEG!
Suara Hinata menghentikannya.
Huh?
A-apa?
Naruto melebarkan matanya tidak percaya.
.
.
"Aku…tidak salah dengar kan?"
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Fiuh, UPDATE juga…
Seperti sebelumnya. Author mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang baik hati, sopan santun dan rajin menabung ini, huehehe.
Kayaknya ini cerita emang makin abal ya, gaje gitu…
Dari cerita ini memang lebih diutamakan konflik batin. Itu biar mereka bisa pahami perasaan masing-masing, dan biar pembaca juga bisa memahami perasaan mereka *ciee*ditimpuk*
Oke gini. Sebenarnya author udah menyelesaikan storyline dari cerita ini sampai tamat. Nah, masalahnya, setiap kali nulis pasti ada aja yang bakal diganti, diubah plotnya, atau bahkan ada adegan yang terpaksa dihapus. Makanya jadi lama. Gomenne…
Terus ini udah batas kemampuan author untuk nulis sepanjang ini. Setiap harinya author harus rebutan pegang komputer, yah adik author suka banget ngerusuh kalau author terlalu lama didepan komputer. Ditambah, selama bulan ramadhan ini waktu author ga begitu banyak untuk nulis. Sekali lagi, gomenne…
Untuk yang udah review, maaf ya masih belum sempat balas via PM.
Dan author usahakan akan update sekali seminggu. Jadwalnya ga jelas memang, tapi pokoknya dalam satu minggu author akan update kok.
Heheh, seperti biasa. Silahkan atuh reviewnya. Saran dan kritik sangat diterima. Jika ada pembaca yang kurang puas, lampiaskan saja, jangan ditahan.
Terima kasih.
