chapter 3


Suasana ramai menyelimuti taman di desa kecil di Kanada. Seluruh orang baik anak-anak samai dengan orang tua begitu menikmati festival malam yang penuh warna ini. Andai saja Yifan membawa kamera digitalnya, ia pasti sudah memotret banyak sekali momentum yang menurutnya menarik untuk diabadikan. Ia berkeliling sendirian—meninggalkan paman dan bibinya berkencan—sambil melihat-lihat makanan dan dagangan lain yang tersedia. Matanya tertuju pada sebuah air mancur besar yang diduduki oleh banyak pasangan. Yifan mengambil senganggang kecil di pinggiran air mancur itu untuk duduk. Pemandangan indah, udara sejuk, sialnya hanya dia yang tidak mempunyai pasangan. Menyedihkan.

"Kau tahu?" ujar seorang pemuda pada seorang gadis. "Katanya jika kau melempar koin ke dalam air mancur ini sambil memejamkan mata lalu saat membuka mata kau melihat satu orang di hadapanmu, ia adalah cinta sejatimu."

Yifan hampir kejeledak. Mitos apa macam itu?

Gadis itu nampak antusias, "Kenapa kau tidak mencobanya?"

Pemuda itu pun melempar koinnya sambil memejamkan mata, kemudian memandang gadis itu. "Aku melihatmu!"

Lalu mereka berteriak ria bahagia, sedangkan Yifan hanya menggeleng. Tak lama beberapa pasangan mulai meninggalkan tempat itu.

Yifan yang hampir mati karena bosan pun mengeluarkan koin 10 sen dan melempar-lemparkannya. Nampaknya pemuda ini curiga dengan mitos yang baru saja ia dengar. Yifan memejamkan matanya dan melempar koinnya. Ia menahan matanya selama beberapa saat dan membukanya perlahan. Matanya sedikit melebar saat mendapatkan Huang Zitao yang tengah berjalan tak jauh dari posisinya.

"Aku tarik kembali kata-kataku, Mitos ini sungguhan." Gumam Yifan lalu mengikuti Zitao perlahan dari belakang.

Langkahnya terhenti saat ia melihat beberapa kursi terjejer rapi berhadapan dengan sebuah panggung. Yifan melangkah secepat mungkin mencari tempat duduk bersebelahan dengan Zitao. Dewi fortuna berada di pihaknya, ia berhasil duduk di sebelah Zitao, dan pemuda itu tidak menyadarinya. Yifan diam saja agar Zitao tidak menyadari dirinya, tapi…

"Aku tahu kau duduk di sebelahku, Wu Yifan."

Dia sudah tahu lebih dulu.

"Untuk apa kau duduk di sebelahku, Huang Zitao?" balas Yifan berpura-pura kesal atas kejadian tadi siang. "Mau mencoba mengais hartaku kembali?"

Zitao mencoba menenangkan dirinya. "Aku tidak membutuhkannya lagi sekarang."

"Benarkah? Wah, hebat. Kurasa kau sudah menemukan inang lain untuk kau serap sarinya."

Muka Zitao memerah karena marah, dengan cepat ia mencari tempat duduk lain tapi Yifan menahan pergelangan tangannya dengan erat.

Seharusnya festival malam menjadi hal yang paling menyenangkan, tapi kini semuanya canggung saat Yifan terus saja menginterupsi Zitao.

"Kumohon," pinta Yifan sambil menggenggam erat tangan Zitao. "Jangan pergi dariku lagi."

Zitao tidak mengerti, Yifan yang ini sangat sulit sekali ia terka. "Lepaskan aku!" serunya mencoba menarik tangannya.

"Bahkan kalimat 'Kumohon' dariku pun sekarang sudah tak mempan ya.."

"Persetan dengan itu!" bentak Zitao masih berusaha melepaskan tangannya sambil sesekali memukul tangan Yifan.

"Apa salahnya kau mengorbankan sedikit waktumu untukku setelah aku mengorbankan segalanya untukmu, Huang Zitao? Duduklah sebentar lagi pertunjukkannya dimulai."

Zitao hanya mengerang mencoba sekuat tenaga melepas cengkraman Yifan yang semakin kuat, bisa dipastikan tangannya akan lebam setelah ini. "Aku sama sekali sudah tidak punya urusan denganmu lagi, jadi tolong lepaskan tanganmu ini atau…"

Yifan mempertajam tatapannya pada Zitao seakan ia dapat menusuk pemuda iu hanya dengan tatapan matanya.

"Mau membantah?"

Zitao kalah, dengan takut-takut ia duduk di samping Yifan sambil menunduk. Jemari Yifan bergerak mengusap pergelangan Zitao. Menyalurkan rasa penyesalannya setelah melukai pergelangan tangannya. Zitao memfokuskan diri ke panggung mencoba menghiraukan apa yang Yifan lakukan dengan tangannya.

"Penampil berikutnya kami panggil Jongdae!"

Zitao sontak langsung berdiri sambil bersorak mengejutkan Yifan karena pergelangan tangan Zitao yang terlepas dari genggamannya.

"Jongdae!" ujar Zitao kembali bersorak.

"Temanmu?" tanya Yifan pada Zitao.

"Dia sahabatku." Ujar Zitao duduk kembali dengan sebuah senyuman yang begitu lebar.

"Permainan Pianonya hebat sekali, suaranya juga sangat merdu! Apalagi kalau sedang berkolaborasi dengan Minseok!" Yifan tersenyum mendengarkan cerita Zitao.

"Begitu?" ujar Yifan ikut antusias.

Zitao mengangguk semangat, "Oh iya selain itu dia…."

Kalimat Zitao terhenti. Senyum keduanya meluntur saat menyadari atas sikap mereka. Zitao sontak langsung memalingkan wajahnya dan memandang panggung sedangkan Yifan hanya berdehem canggung.

(Now playing, There's a place )

I can see your eyes gazing at the horizon

An empty street corner, a silent embrace, love is quietly ablaze

Yifan dan Zitao awalnya mefokuskan diri memandang Jongdae yang berada di panggung.

Woo~ I can hear your voice

Woo~ I can hear you in my mind

Sesekali, Zitao melirik ke arah Yifan yang fokus menonton Jongdae di panggung. Entah, Zitao sama sekali merasa tidak nyaman saat Yifan berada di sampingnya.

I think back to my first sight of you, think back to those mottled times

With you by my side, I finally stopped wandering aimlessly

Anehnya, Zitao tak dapat berhenti melirik ke arah Yifan. Dan kini ia menerawang Yifan dari ekor matanya.

I think back to those familiar streets

Think back to the beautiful days that flew away

Wajah Yifan tidak berubah, yah setidaknya Zitao mengakui wajah Yifan semakin tampan ketimbang terakhir ia bertemu dengannya. Tubuhnya semakin tinggi, rambutnya dulu berwarna kecokelatan kini berubah hitam.

There is a place

Only you and I know

Yifan tiba-tiba memalingkan wajahnya, mata mereka bertemu selama beberapa nanosekon hingga Zitao langsung membuang mukannya canggung lalu kembali mefokuskan diri ke depan.

I think back to my first sight of you, think back to those mottled times

With you by my side, I finally stopped wandering aimlessly

"Apa yang aku lakukan?" gerutunya dalam hati sambil mengigit bibirnya dan lagi, ia melirik Yifan yang kini tersenyum kecil melihat Zitao sekilas. Zitao semakin merasa malu. Yifan tahu ia memperhatikannya.

I think back to those familiar streets

Think back to the beautiful days that flew away

Zitao kembali mengintip dari ekor matanya, Yifan sedang melihat ke arahnya, tersenyum.

"Apa Yifan-ge juga memperhatikanku? ujar Zitao yang langsung ia tepis di dalam pikirannya.

"Get your shit together, Huang Zitao! What the hell did you thinking? He's just playing with you!" upatnya dalam hati kini ia tak hanya mengigit bibirnya, ia juga mulai mencubit jarinya sendiri.

There is a place

Only you and I know

I know, somewhere only we know

Semua penonton bertepuk tangan setelah menyaksikan penampilan Jongdae, termasuk Zitao.

"Acara selanjutnya adalah acara dansa bersama di Bungalow utama, para pemain music harap segera bersiap dan para hadirin dipersilakan untuk ke tempat acara."

Zitao langsung berdiri dari tempat duduknya, "Nah pertunjukkan sudah selesai. Selamat tinggal!" Zitao segera melangkahkan kakinya meninggalkan Yifan. Tapi, ia tidak tinggal diam dan menyandung kaki Zitao yang kemudian terjatuh dan dengan mudah Yifan menangkap tubuhnya, lebih tepatnya memeluk, dan wajah mereka sangat dekat, hampir menempel.

"Kau terlalu terburu-buru, pertunjukkan sama sekali belum selesai." Ujar Yifan di hadapan muka Zitao yang memerah dan langsung membenturkan keningnya dengan kening Yifan kencang.

Saat Yifan mengerang menyentuh keningnya Zitao berlari menjauhinya. "Itu balasan karena sudah menyandungku, Wu Yifan brengsek!" bentaknya lalu kembali meninggalkan Yifan sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Yifan mengerang sambil mengelus keningnya seraya mendecak, "Tenaganya memang seperti panda sesungguhnya."

Sambil mengusap keningnya, sebuah ide terlintas di benaknya.

"Akh!" Yifan mengerang kencang hingga Zitao mendengarnya dan menghentikan langkahnya.

"AAAKH!" Yifan kembali mengerang dan kali ini dia menjatuhkan dirinya ke tanah.

Zitao yang melihatnya langsung berlari menghamipiri Yifan yang masih mengeranng kesakitan.

"Kau baik-baik saja? S-sakitkah?" paniknya memegang kepalanya Yifan. "Aku tidak tahu kepalaku bisa lebih keras dari bata." laturnya semakin panic melihat wajah yifan yang terlihat sangat kesakitan.

"Ayo kuantar kau ke klinik."

"Tidak, usah lagipula ini tidak bisa di sembuhkan."

Zitao yang tengah membopong Yifan pun semakin panik mendengar ucapannya. "m-maksudmu?"

"Aku menderita kanker otak, sepertinya benturan itu memperparah sakitku."lirihnya.

Zitao makin ketakutan sekarang, "B-benarkah?"

"Tidak." Ujar Yifan datar lalu langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Zitao, berdiri tegak dan menyeretnya berjalan, sedangkan Zitao terkejut dan bingung.

"Wu Yifan, kau—!"

"Tidak hanya kau yang bisa berakting, Huang Zitao." Ujar Yifan sambil memeletkan lidahnya.

Zitao ingin sekali menjotos wajah Yifan tapi, sebelumnya ia mencerna terlebih dulu kalimat Yifan. "Jadi—"

"Ya, Aktingmu sangat buruk." Ucap Yifan datar. Zitao ingin kabur rasanya, hanya saja, andai tangan Yifan tidak mencegat pinggangnya.

"Ngomong-ngomong aku sama sekali tidak tertarik dengan acara dansa itu, apa kau tahu tempat yang tidak terlalu banyak orang agar kita bisa berbicara berdua saja?"

Zitao menghela nafasnya, "Ikuti aku." Ujarnya lalu menuntun Yifan ke pinggiran taman yang ternyata adalah ujung jurang yang ditutupi seperempatnya agar bisa duduk di pinggiran sambil memandang keindahan kota.

"Jika kau masih ingin mendapat jawaban atas pertanyaan yang tadi, sebaiknya kau menyerah—?!"

Zitao terkejut saat Yifan mendadak merangkul pinggang dan menggenggam tangannya. Tubuhnya refleks mengikuti gerakan Yifan yang sedari tadi memandangnya intense.

"Ternyata kau bisa dansa juga." Ujar Yifan tersenyum tulus dan hal ini sama sekali tidak bisa Zitao lawan. Matanya terpana tapi Zitao dapat menahannya dengan menundukkan wajahnya.

"Tatap aku," ujar Yifan mengangkat dagu Zitao mempertemukan matanya dengan mata Yifan yang sedari tadi menatapnya. "Aku merindukanmu."

Yifan mengiring tangan Zitao yang membatu akibat kalimatnya untuk memegang pundaknya tanpa mengalihkan tatapan matanya. Seperti mantra, Zitao terpikat dengan mata itu dan tidak menolak apa yang Yifan lakukan padanya. Wajah Zitao mulai memanas saat Yifan semakin mendekatkan wajahnya. Adrenalinya memuncah saat wajah mereka semakin dekat, kening mereka hampir menempel. Yifan tersenyum lembut, semakin memacu adrenalin Zitao untuk memompa darahnya semakin cepat.

"Kau tidak banyak berubah," Ucapnya. "Yah, meski gaya rambutmu sedikit berubah." Kekehnya.

Zitao menepis tangan dan mendorong tubuh Yifan pelan kemudian mundur selangkah dan menatapnya. "Itu juga berlaku padamu." Balasnya kemudian kembali mundur satu langkah.

"Apa tujuan utamamu? Aku sudah cukup menahan rasa malu ku setelah berdansa denganmu tadi. It's kinda hurt my pride as a man."

Yifan tersenyum tipis, "Aku ingin bertanya padamu, Zitao."

"And what, is that?"

"Kenapa kau ingin aku membencimu?" tanya Yifan to the point. Tapi tidak dijawab oleh Zitao.

"Apa, karena sebelumnya aku memakai cincin ya?" tanya Yifan lagi sambil menunjukkan tangan kanannya.

Zitao mendengus, "You've gotta be kidding me, I don't give a shot to your damn ring. Dan, aku sama sekali tidak memperhatikan kau mengunakan benda itu di jarimu." Jawabnya kembali ketus membuat Yifan kembali menghela nafas.

"Jujur saja aku terkejut kau begitu ketus saat aku melihatmu, padahal dulu kau senang sekali bertemu denganku."

Zitao menghela nafasnya pelan, "Dengar, aku sudah melupakan segalanya tentang kita dulu." Ujar Zitao kesal.

"Tak ada gunanya mengingat masa lalu yang tidak akan membawa keuntungan apapun. Grow up Wu Yifan! Berhentilah mengikutiku, kau punya kehidupan sendiri, aku pun juga punya kehidupan sendiri yang harus kujalani." Lanjutnya lalu menatap bola mata Yifan. "Hidupku sudah sempurna tanpamu. Karena itu, menjauhlah dari kehidupanku."

"Benarkah semua yang kau ucapkan itu, Huang Zitao? Apa kau kembali berpura-pura?"

Zitao terdiam saat Yifan mencengkram bahunya dan mendekatkan wajahnya. "Kau pikir, karena apa aku menjadi seperti sekarang?"

Kalimat Yifan sukses membuat Zitao membatu. Kenangan dimana ia meninggalkan Yifan terputar jelas dalam benaknya. Zitao tidak ingin mendengar apapun lagi, ia menyeret kakinya paksa, ia ingin segera menjauh dari tempat ini.

"Kau pikir siapa yang meninggalkanku begitu saja, memaksaku untuk hidup seperti sekarang?" ujar Yifan lagi kini dengan nada yang di tinggikan. Hal itu membuat hati Zitao semakin perih. "Apa kau tidak melihat kesungguhanku saat itu, Peach? Apa kau tahu betapa tersiksanya aku memikirkan dirimu? Tidakkah kau bisa, setidaknya mengobati sedikit rasa sakitku hanya dengan mengatakan alasan mengapa kau meninggalkan ku?"

Zitao memalingkan wajahnya, "Aku tidak bisa mengatakannya."

"Kenapa?" Yifan kini tak dapat menahan emosi dan rasa ingin tahunya yang ia pendam selama beberapa tahun. "Kenapa kau tidak mau jujur padaku?" ujarnya lagi kini sedikit membentak.

Zitao mendorong tubuh Yifan sekuat tenaga dan mundur beberapa langkah. "Berhentilah memaksakan kehendakmu seorang diri tanpa memikirkan perasaan orang lain, Wu Yifan! Rasa egois mu itu jugalah kadang yang membuatku tidak tahan!" bentaknya dengan mata yang berkaca-kaca.

"And don't treat me like a fragile and weak little girl!" pekik Zitao untuk terakhir kalinya lalu lari sekencang mungkin meninggalkan Yifan yang hanya melihat kepergian Zitao juga dengan mata yang berkaca-kaca, penuh penyesalan.

.

.

.

.

Zitao terus berlari dengan nafas yang terengah hingga tidak sengaja menabrak seseorang di hadapannya.

"Ow!" erang Zitao saat menabrak orang itu yang menatapnya kesal. "Maafkan aku! Aku.."

"Zitao? Kau darimana saja?!" tanya orang itu yang ternyata adalah salah satu dari sahabatnya.

"Sehun?" panggilnya.

"Dan di festival semenyenangkan ini kau menangis?" kalimat yang diutarakan oleh Sehun sontak membuat Zitao mengelap air matanya. "Apa yang terjadi? Apa ada yang menyakitimu?"

"Tidak ada Sehun, aku—"

"Kita harus membicarakan ini bersama, ayo!" ujarnya lalu menuntun Zitao menuju sebuah kedai kopi terbuka dimana terdapat ketiga temannya yang lain sedang makan bersama.

"Kalian bertiga bersenang, senang ya. Lihat siapa yang kubawa!" ujarnya ksal sontak ketiga temannya yang lain menatapnya.

"Zitao?" pemuda berhoodie merah langsung menghampiri Zitao dan menghapus jejak airmatanya. Sedangkan keduanya lagi ikut menghampiri. "Kau kenapa?"

"Aku baik-baik saja, Sehun saja yang berlebihan Luhan-ge."

"Menangis itu pasti ada apa-apanya!" ujar Sehun sambil menyesap bubble teanya.

Zitao menggeleng, "Aku benar-benar tidak apa-apa. Maafkan aku, menghilang dan membuat kalian khawatir."

"Don't mention it, itu bukan salahmu." Ujar Sehun menepuk-nepuk kepala Zitao.

"Sehunnie modus!" ujar Luhan cemberut dan sama sekali tidak digubris oleh Sehun.

Jongdae menerawang area panggung sesaat, "Sepertinya sesi Karaoke sudah di mulai. Bagaimana kalau kita kesana untuk mencairkan suasana hatimu?" tawar Jongdae.

"Ide bagus!" sahut Sehun lalu melihat Zitao. "Aku juga sudah lama tidak mendengar suaramu."

"Sehunnie modus lagi!" kikik Luhan.

"Berisik!" bentaknya lalu menyeret Zitao menuju panggung.

Luhan hanya tersenyum tipis melihat kedua orang itu, sedangkan Jongdae dan Minseok malah menatap nya Iba.

"Apa tidak apa begini?" tanya Minseok pada Luhan yang sedang tersenyum.

"Mungkin, kau sudah lihat betapa ia tidak menyukaiku." Gumamnya menghela nafas lalu berjalan berdampingan bersama kedua temannya seraya menepuk punggung Luhan dan menyusul Zitao dan Sehun.

"Kau ingin menyanyi apa? Kau harus nyanyi yang bagus! Ada hadiahnya nih, kupon gratis makan-makan di 2 buffet ternama!" ujar Sehun menyemangati Zitao.

"Winner takes it all, mungkin." Jawab Zitao ragu.

Sehun merenyitkan keningnya, "ABBA? Kau suka lagu-lagu lawas?"

"Setidaknya lagu ini sedang mencerminkan suasana hatiku sekarang, Sehun." Ujar Zitao mengambil mic lalu menaiki panggung lalu berjalan sampai ke tengah kemudian member hormat pada penonton.

"Namaku Huang Zitao. Mari bersenang-senang." Salamnya sebelum ia menaruh micnya ke penyangga mic lalu berdiri bertumpu pada tiang mic itu.

Diantara penonton, terdapat Yifan yang kini mengadahan kepalanya melihat pertunjukkan yang akan diberikan oleh Zitao.

I don't wanna talk

About things we've gone through

Though it's hurting me

Now it's history

Zitao memulai bait pertamanya dengan lembut dan penuh penghayatan. Ia memejamkan matanya guna meresapi lirik lagu dan memadukannya dengan perasaannya.

I've played all my cards

And that's what you've done too

Nothing more to say

No more ace to play

The winner takes it all

The loser's standing small

Beside the victory

That's his destiny

Sehun,Luhan,Minseok dan Jongdae tersenyum saat mendengar Zitao bernyanyi, terutama Yifan yang kini terpesona oleh Zitao yang sedang menunjukkan bakatnya.

I was in your arms

Thinking I belonged there

I figured it made sense

Building me a fence

Building me a home

Thinking I'd be strong there

But I was a fool

Playing by the rules

Yifan hanya tersenyum saat mendengar lirik lagu tersebut. Ia mengerti, karena itu, ia hanya diam membisu dan merasa bangga dalam hati melihat pemuda yang bekerja keras melatih hobinya kini sudah dapat berdiri di panggung.

The gods may throw the dice

Their minds as cold as ice

And someone way down here

Loses someone dear

The winner takes it all

The loser has to fall

It's simple and it's plain

Why should I complain?

But tell me does she kiss

Like I used to kiss you?

Does it feel the same

Zitao nyaris menangis saat menyanyikan lirik tersebut, ia tidak sengaja membayangkan Yifan yang sedang bercumbu dengan gadis lain. Ia menarik nafasnya sejenak menahan agar ia tidak menangis. Sedangkan Yifan mengerjapkan matanya sesaat dan menggeleng lemah seakan menjawab pertanyaan Zitao.

When she calls your name?

Somewhere deep inside

You must know I miss you

But what can I say?

Rules must be obeyed

The judges will decide

The likes of me abide

Spectators of the show

Always staying low

The game is on again

A lover or a friend

A big thing or a small

The winner takes it all

Zitao menghela nafasnya sejenak, menahan airmata yang kembali, hampir jatuh dari kedua bola matanya. Ia membuka matanya perlahan, matanya tertuju pada Yifan yang ternyata menyaksikannya. Ia mengeratkan pegangannya pada mic itu sesaat dan mengambil nafasnya dan mencoba tersenyum.

I don't wanna talk

If it makes you feel sad

And I understand

You've come to shake my hand

Yifan ikut tersenyum tipis saat Zitao menjulurkan tangannya, seakan mengajaknya berjabat tangan dari kejauhan.

I apologize

If it makes you feel bad

Seeing me so tense

No self-confidence

But you see

The winner takes it all

The winner takes it all...

Zitao menyelesaikan lagunya dengan nafas yang sedikit terengah, tenaganya memang tidak sekuat Jongdae sehingga tidak bisa berteriak seperti yang ia inginkan. Zitao turun dari panggung dan langsung disambut oleh teman-temannya yang berhamburan memeluk Zitao. Di tengah-tengahnya, Zitao mendapatkan Yifan yang berdiri dengan tatapan sendu kemudian beranjak entah kemana meski sebelumnya ia sempat memberikan seutas senyum pada Zitao.

"Cant you see it? We'll never be back again, to the place we used to be.."

(a/n : Jreng jreeeng~~ langsung update 2 chapterr \o/ di chapter 3 ada banyak lirik lagu ya? i dont know this is will be weird or not, tapi feelsnya nggak dapet kalau tidak pakai lirik lagunya (_ _) thank you for reading my story~ kalau ada kritik/saran apapun you can Review or PM me~ Thank You~~ \o/ )