Chapter 4: Reaksi
Ino berlari, lagi. Tapi kali ini untuk mencari Shikamaru, dia hendak menjelaskan kesalahpahaman tentang 'kencan' Temari dan Itachi.
"Aku tidak percaya! Selama ini aku memanggilnya 'Temari-san' karena pembawaannya yang begitu tenang, kalem dan dewasa. Siapa sangka, ternyata dalam percintaan Temari-san itu begitu polos," Ino menghela nafas, "yah, kakak-adik sama saja," Ino menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya, mengingat kembali pembicaraannya dengan Temari dan Itachi tadi…
Flashback…
"Jadi Temari-chan, 'kencan' itu sebenarnya, ketika kamu pergi berdua dengan pacarmu," jelas Itachi. Dia terdiam untuk beberapa saat, tampak sedang berpikir sebelum menambahkan, "Atau calon pacarmu,". Temari hanya menatap Itachi dengan wajah blank.
"'Pacar'?" ulang Temari, memiringkan kepalanya ke samping. Dia tampak benar-benar bingung, seakan Itachi berbicara dalam bahasa alien. Itachi hanya balas menatap Temari, tidak percaya, sebelum akhirnya dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, untuk menenangkan diri. Kemudian dia mulai menerangkan, atau lebih tepatnya, mencari sinonim kata 'Pacar' yang familiar di telinga Temari.
"Pacar, partner, pasangan," jelas Itachi. Temari mengangguk-angguk mengerti. Itachi tersenyum puas. Dia adalah jenius Uchiha, tentu saja bisa menjelaskan dalam waktu singkat. Tapi lalu Temari berkata,
"Seperti Itachi-kun dan Kisame-san?" tanya Temari dengan wajah polos. Itachi yang sedang meminum tehnya nyaris tersedak. Nyaris. Seandainya tersedak teh bukanlah hal yang terlalu memalukan untuk dilakukan oleh seorang elit Uchiha. Sementara Ino menatap Itachi dengan tatapan 'Apa? Jadi kau dengan ikan hiu itu pacaran?'.
"Bukan, bukan," Itachi menggelengkan kepala, membantah cepat, tidak ingin rumor salah tentang hubungannya dengan Kisame. Entah apa yang akan dilakukan adik overprotektifnya kalau dia mendengar kabar seperti itu. Tangan di dagu, Itachi memikirkan sinonim lain, "pendamping, belahan jiwa," kata Itachi.
Temari masih menatap Itachi seakan cowok bermata hitam itu bicara dalam bahasa alien.
"Orang yang ingin kamu jadikan suami," kata Itachi, tidak tahu lagi harus berkata apa. Di luar dugaan, Temaqi menepukkan tinju kanannya ke telapak kirinya, mulutnya membulat menbentuk 'o'.
"Calon suami. Seharusnya Itachi-kun bilang dari tadi!"
Pada saat itu, Itachi benar-benar tergoda untuk membenturkan kepalanya ke meja. Itachi menatap Temari, lama. Senyum mengembang di bibirnya, sebelum berubah menjadi seringai khas Uchiha.
"Yang kamu harapkan jadi suamimu tentu bukan aku kan?" seringai Itachi melebar, "Seseorang dari klan rusa, mungkin?" goda Itachi. Dan wajah Temari memerah dengan segera.
"Aku dan Shika tidak..." Temari membantah lemah.
"Kena kau!" mata Itachi berkilat.
"Aku tidak bilang apa pun tentang Shikamaru-san," Itachi tersenyum, mata hitamnya bersinar penuh kemenangan.
"Oh sial," gerutu Temari, menyadari kesalahannya. Itachi tersenyum puas.
"Tu-tunggu dulu! Kalau begitu, selama ini Temari-san menganggap Shika sebagai apa?"
tanya Ino, keningnya berkerut.
"Teman?" jawab Temari tidak yakin.
"Kalau hanya teman, kenapa kalian kencan??" lanjut Ino, setengah frustasi.
"Yah, aku benci mengakui ini, tapi kurasa aku telah salah mengerti konrep kencan selama ini," Temari mengangkat bahu cuek. Ino kesal. Dia tidak habis pikir, bagaimana Shikamaru dan Temari bisa secuek itu.
"Lalu kalau hanya teman, kenapa berpelukan segala??" Ino masih belum menyerah.
"Oh, aku juga sering peluk adik-adikku kok," mata Temari melembut mengingat kedua adiknya, "terutama Gaara," Temari tersenyum lebar.
"Tapi kalian tidak berciuman kan!?" Ino berteriak, naik darah. Dan ketika Temari membuka mulut untuk membantah, entah kenapa Ino yakin Temari akan berkata 'Aku sering cium pipi mereka kok!', karena itu, sebelum hal Temari berkata apa pun, Ino cepat melanjutkan, "bibir! Cium bibir!"
Temari segera menutup mulutnya, wajahnya merona, "Oh, yah... Aku memang hanya pernah ciuman, erh... bibir ke bibir dengan Shika saja sih," Temari
kelihatan salah tingkah. Ino menghela nafas, lega. Itachi menyeringai.
"Nah itu dia! Itu tanda bahwa kalian 'pacaran'!" kata Ino, tangan tersilang di depan dada, senyum kemenangan terpampang di bibirnya.
Tapi kemudian Temari nyeletuk, "Tapi dia tidak pernah bilang apa pun tentang hubungan kami tuh."
… End of Flashback.
"NARA SHIKAMARU!!!" Ino berteriak, melepaskan amarah dan rasa frustasinya yang menumpuk. Beberapa pejalan kaki melihat ke arahnya, menatapnya seakan dia orang aneh, Ino melotot balik, membuat orang-orang itu segera mengalihkan pandangannya. "Awas saja kau nanti, Shika! Kalau kau kutemukan nanti, kau akan ku..."
Ino meremas sebelah kepalan tangannya dengan tangan yang lain, matanya berkilat berbahaya, bibirnya terangkat membentuk seringai.
"Kaa-san! Kakak itu ngeri!" seorang anak kecil menunjuk Ino.
"Ssh... Jangan lihat." ibu anak itu segera menutupi mata anaknya.
Ino melotot.
"Oh, kau akan membayar mahal, sangat mahal, Shika!" pikir Ino agak sadistik.
--
Sementara itu, dengan Temari dan Itachi...
"Temari-chan... Tadi itu temanmu...?" tanya Itachi.
"He-eh," Temari mengangguk.
"Dia... Kuat..."
Flashback…
"Tapi dia tidak pernah bilang apa-apa tentang hubungan kami tuh."
Ino hanya bisa menatap Temari dalam diam untuk beberapa saat, "Dia tidak berkata apa-apa...?" tanya Ino pada akhirnya, mata membulat tidak percaya. Menolak untuk percaya.
"Tidak," jawab Temari.
"Sama sekali...?" Ino masih tampak tidak percaya.
"Na-ah," Temari menggeleng.
"Satu kata pun tidak...?"
"Satu kata pun tidak," tegas Temari.
Ino diam, kepalanya tertunduk. Baik Temari atau Itachi tidak bisa melihat ekspresinya, karena rambut panjangnya membayangi wajahnya. Badan Ino gemetar.
"Ino-chan...?" Temari bertanya hati-hati.
"Na-ra-Shi-KA-MA-RU...!!" Ino nyaris berteriak, menggeratakkan gigi, aura membunuh memancar dengan kuat, "SUDAH KUBILANG MERESMIKAN HUBUNGAN ITU PENTING!!!" teriak Ino sekuat tenaga.
Temari dan Itachi diam, tidak mau mdnjadi sasaran kemarahan Ino. Tapi tampaknya keberuntungan belum berpihak pada keduanya, karena Ino mendadak mengalihkan pandangannya, menatap Temari dan Itachi bergantian dengan tatapan menyelidik.
"Di antara kalian tidak ada apa-apa... Kan...?" Ino menatap dua orang itu dengan tatapan tajam nyaris mengancam, seakan menantang keduanya untuk mengakui bahwa ada 'apa-apa' di antara mereka.
"Tidak," jawab Temari dan Itachi berbarengan. Alis Ino terangkat.
"Benar?" tanya Ino lagi, masih tampak tidak percaya. Temari mengangguk. "Lalu kenapa kau," Ino menatap Temari galak, "mau dipanggil Temari-chan," Ino mengatakan 'chan' dengan penuh kebencian, "oleh dia," Ino menunjuk Itachi. Temari menghela nafas.
"Karena 'sama' dan 'san' terlalu formal. Dan walau pun aku tidak keberatan dengan 'kun', tapi itu kan untuk cowok. Jadi... Apa boleh buat," jelas Temari, mengangkat bahu. Ino memicingkan mata.
"Lalu kenapa tidak panggil nama saja?" tanya Ino lagi.
"Karena hanya keluarga dan orang tertentu saja yang boleh memanggil nama saja."
Ino terdiam, "... 'Orang tertentu'..." dia menggumam, "Lalu kenapa kalau Shika boleh memanggil nama saja?" tanya Ino. Kening Temari berkerut, dia tidak segera menjawab.
"... Karena... Karena..." Temari bingung sendiri.
"Karena Shika termasuk orang 'Orang Tertentu' itu!" Ino menjawabkan untuk Temari, "Artinya, bagi Temari-san Shika memang orang 'Istimewa'!" Ino menyimpulkan, menjetikkan jari dengan puas. Temari diam.
"... Iya... Mungkin..." gumam Temari tidak yakin. Itachi sweatdropped. Tapi Ino terlalu puas dengan kesimpulannya sehingga dia tidak mendengar --dan tidak peduli-- jawaban Temari yang tidak jelas begitu.
"Tenang saja, Temari-chan, biar aku yang bicara dengan Shika!" Ino menepuk pundak Temari, tersenyum lebar.
"Entah kenapa aku merasa dia tidak akan hanya sekedar bicara," pikir Itachi.
"Awas saja kau Shika..." gumam Ino, mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Kalau kau kutangkap, kau akan ku..." Ino mulai tertawa maniak. Temari dan Itachi sweatdropped. "Nah, sudah dulu ya, Temari-san, Itachi!" Ino melambaikan tangan dan pergi, meninggalkan Temari dan Itachi yang masih agak shock.
… End of Flashback
"Cewek itu... Mengerikan..." gumam Itachi, "Tidak heran Pein-sama bertekuk lutut pada Konan-san..."
"Temari-san!" panggil seseorang. Temari dan Itachi menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Sasuke sedang berlari ke arah mereka. "Harap segera datang ke Kantor Hokage. Pertemuan antara Hokage-sama dan Kazekage-sama akan segera dimulai," Sasuke menginformasikan dengan formal.
"Ah! Pertemuannya!" Temari menepuk keningnya, sebelum segera membereskan barang-barangnya.
Sementara itu, Sasuke terus memandangi Itachi dan Temari secara bergantian. Keningnya berkerut dalam, tampak tidak suka.
"Maaf, Itachi-kun, aku pergi dulu. Dan terima kasih atas makan siangnya yang menyenangkan," Temari berkata sopan, tersenyum.
"Bukan masalah, Temari-chan," Itachi balas tersenyum.
"'Itachi-kun'? 'Temari-chan'?? 'Makan siang yang menyenangkan!!?" pikir Sasuke, alarm Kakaknya-Dalam-Bahaya aka Itachi-Tertarik-Pada-Seseorang dalam kepalanya berbunyi, "Mereka tidak..." tapi pikirannya tidak pernah terselesaikan, karena di depannya, Itachi --kakaknya, keluarganya yang tersisa satu-satunya-- menarik pergelangan Temari --cewek yang tidak dikenalnya (secara pribadi)-- DAN membisikkan sesuatu ke telinga cewek itu.
Sesuatu yang membuat kakaknya tersenyum nakal.
Sesuatu yang membuat wajah cewek pirang itu memerah.
Sesuatu yang membuatnya... sangat, sangat, sangat kesal.
"Hey! Itu kakakku!!" teriak Sasuke dalam segala keposesifan dan keoverprotektifannya terhadap kakaknya. Tapi tentu saja hanya dalam hati.
Di dunia nyata, dia hanya berkata, "Ayo bergegas, Temari-san!"
Dan keduanya pun pergi.
Di tengah perjalanan, Sasuke yang sebenarnya sudah (super duper teramat sangat) penasaran, akhirnya memutuskan, "Persetan dengan harga diri! Aku mau tahu apa yang Itachi katakan!"
Jadi, dengan wajah datar tetap pada tempatnya dan suara datar seakan tidak peduli, Sasuke bertanya, "Apa yang Itachi katakan padamu?" entah kenapa nada bicaranya jadi lebih galak dari yang dia mau.
"Ti-tidak... Bukan apa-apa," kata Temari. Wajahnya menjadi super merah begitu mengingat kembali kata-kata Itachi...
"Semoga beruntung dengan... calon suamimu."
--
Dengan Ino...
"Hey, kau lihat Shika?" tanya Ino pada Chouji yang --seperti biasanya-- sedang mengunyah chips-nya.
"Tadi aku melihat dia berlari ke rumahnya dengan terburu-buru," jawab Chouji, "Tidak pernah aku--" tapi kata-kata Chouji tidak pernah terselesaikan.
"Terima kasih," sela Ino sebelum berlari ke arah rumah Shikamaru. Chouji hanya menggelengkan kepala.
Entah masalah apa yang dibuat Shikamaru kali ini. Tapi tampaknya cukup gawat. Karena seperti yang hendak dia katakan pada Ino, tidak pernah dia melihat Shikamaru lari sekencang, sebersemangat itu.
Ino berlari ke rumah Shikamaru secepat mungkin, tapi tetap kurang cepat. Karena ketika sampai di sana, Ino hanya menemukan ibu Shikamaru. Tanpa buang waktu, Ino segera menanyakan ke mana Shikamaru pergi.
"Shikamaru? Tadi katanya mau pergi ke rumahmu," jawab ibu Shikamaru. Setelah mengucapkan terima kasih, Ino segera berlari menuju rumahnya.
"Kaa-san! Lihat Shika?" tanya Ino.
"Tadi dia datang," jawab ibu Ino. Ino merutuk karena terlambat lagi. "Dia bilang mau ke Choco Latte," tambah ibu Ino, berharap bisa membantu putrinya, "Ngomong-ngomong--"
"Maaf, aku tidak punya banyak waktu! Terima kasih!" kata Ino sebelum berlari keluar.
Ibu Ino bertolak pinggang, menggerutu, "Huh. Aku kan cuma mau tahu siapa cewek beruntung yang Shika-kun akan beri mawar!"
Ino pun berlari ke Choco Latte.
"Kenapa Shika pergi ke sana? Bukannya itu toko cokelat? Kupikir Shika nggak suka cokelat..." pikir Ino.
"Paman, lihat Shika?" tanya Ino pada penjaga toko.
"Ya. Tadi dia bilang mau ke Silvery," jawab penjaga toko itu.
"Terima kasih!" Ino kembali berlari.
"Tidak sangka Shika-kun seromantis itu. Membelikan cokelat paling besar untuk ceweknya," penjaga toko itu berdecak, tersenyum.
"'Silvery'," Ino berpikir, "apa yang dilakukan Shika di toko perhiasan semewah ini...?"
"Ah, bibi, tadi bertemu dengan Shika tidak?" tanya Ino buru-buru.
"Ya, tapi dia sudah pergi," jawab bibi itu.
Ino tertunduk lemas, kecewa, "Terima kasih," katanya gontai, beranjak pergi, tapi tertahan oleh pertanyaan bibi penjaga toko.
"Kau mau tahu apa yang Shika-kun beli tadi?"
Ino diam, dia tahu itu hanya pertanyaan retorik, jadi dia hanya menunggu wanita separuh baya itu meneruskan.
"Sepasang cincin!"
Kepala Ino tersentak tegak, matanya bersinar, bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Toko bunga, toko cokelat, toko perhiasan, cincin..." otak Ino berputar cepat. Dan ketika sampai pada kesimpulan, senyumnya menjadi sangat lebar.
"Berarti Shika..." Ino menjerit senang, "Ah! Ini tidak bisa dilewatkan!" dan setelah mengucapkan terima kasih, Ino segera berlari mencari Shikamaru.
--
Sementara itu, dengan Shikamaru...
Setelah berlari-lari ke empat tempat dengan kecepatan yang akan membuat Temari bangga, Shikamaru pun kembali ke restoran dimana tadi dia bertemu dengan Temari. Shikamaru menoleh ke kanan-kiri, berharap bisa menemukan cewek pirang itu di sana. Tapi yang ditemukan hanya Itachi. Shikamaru menimbang-nimbang pilihannya, lalu memutuskan untuk bertanya pada Itachi, walau itu akan melukai harga dirinya. Bagaimana pun juga, Temari terlalu berharga untuk dilepaskan.
"Itachi-san," panggil Shikamaru sopan. Itachi menoleh. "Kamu tahu dimana Temari sekarang?"
Itachi tidak segera menjawab, dia memperhatikan kantong kertas di tangan kiri Shikamaru, di mana setangkai mawar merah dan kotak berwarna merah terbungkus rapi dengan pita --yang Itachi duga berisi cokelat-- berada. Dia setengah tersenyum setengah menyeringai.
"Tadi dia dipanggil ke ruang Hokage," jawab Itachi, "Tapi--" kata-kata Itachi terputus, karena Shikamaru sudah berlari pergi, "... Tapi sebaiknya kau tidak pergi ke sana sekarang," Itachi menggelengkan kepala, menghela nafas, "Oh, itu bukan urusanku."
-tbc-
- Ah! Akhirnya update juga! Maaf! Kemarin datanya kena virus, jadi kesel, jadi males ketik ulang. Maaf! Nanti kuusahakan supaya update lebih cepet.
- Yosh! Satu chapter lagi sebelum tamat. Akhirnya!! Hahaha.
- Banyak-banyak terima kasih untuk yang udah nunggu, baca, review, alert dan fave! Dan tentunya yang udah sabar nuggu.
Thanks!
Many hugs and kisses!!
