Tittle : Fifty Shades

Author : Baby Ziren

Main Cast :

Huang Zi Tao as Tao

Wu Yi Fan as Kris

Other Cast :

Find by yourself

Pairings : KrisTao

Lenght : Chaptered

Genre : Romance

Rating : T (for this chapter)

Summary : Tao, seorang mahasiswa jurusan sastra terpaksa harus melakukan wawancara dengan pengusaha muda yang sukses, Wu Yifan. Tao yang polos pun terkejut bahwa dia ternyata menginginkan Yifan, tapi Yifan menjauhinya. Yifan membuat rencananya sendiri untuk mendapatkan Tao. Dapatkah hubungan mereka melampaui gairah fisik semata?

Disclaimer : Cast diatas adalah milih Tuhan, Orangtua mereka, SMent, kecuali Tao adalah

Milik saya *digebukinCronics* dan cerita ini bukan milik saya. FF ini merupakan remake dari novel Fifty shades of grey by E.L James. Percayalah, novelnya keren abis dan membayangkan pemerannya adalah TaoRis, biking gw senyam-senyum nggak jelas kaya orang bego. ;)

Warning : OOC(Out of Character), BDSM, Miss Typo(s), Yaoi, BOYSXBOYS, BL,

Alur cerita GAJE, Zitao-aku, Taemin-GS

DON'T LIKE! DON'T READ!

NO BASHING!

Happy Reading^^

.

.

.


Ini sangat tenang, nyaman, tidak ada cahaya, ranjang yang membuatku nyaman dan hangat. Aku membuka mataku, dan untuk sesaat, aku meneliti lingkungan asing yang tidak ku kenal. Aku tidak tahu aku berada dimana. Kepalaku terasa sakit. Aku menyendarkan tubuhku ke sandaran ranjang yang berbentuk matahari besar. Kamar ini terlihat besar dan sangat mewah.

Ini dimana? Kenapa aku bisa ada disini?

Aku berusaha mengingat tempat ini. Ini seperti kamar yang di pesan oleh Baekhyun di hotel Paradise waktu itu.

Jangan-jangan?

Wajahku memucat, aku menggelengkan kepalaku cepat, berusaha mengusir kenyataan bahwa aku kini berada di kamar suite milik Yifan.

Kenangan samar dari malam sebelumnya datang padaku. Minum-minum, oh tidak. Mabuk, oh sialan. Ciuman Sehun, gezzz..aku akan menghajar Sehun nanti. Pukulan Yifan, mati. Aku langsung panic dan menjerit ngeri dalam hati.

Mulai sekarang aku berjanji tidak akan pernah minum-minum lagi.

Saat aku mengecek penampilanku di balik selimut, aku tidak tau harus bereaksi seperti apa. Aku bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam.

Sial, apa yang terjadi? Tidak mungkin dia?

Aku menggelengkan kepalaku frustasi.

Tidak ada yang berubah menurutku, tidak ada bekas ciuman, tidak ada bau aneh, tidak ada rasa sakit di pantatku. Untuk sementara aku aman dan masih perjaka.

Aku melirik meja di samping ranjang, terdapat satu gelas jus jeruk dan sepiring crumble pancake yang terlihat lezat.

Meskipun dia gila control, tapi dia memikirkan semuanya. Aku duduk dan bersiap memakan pancake yang ternyata sangat lezat. Setelah pancake habis dengan cepat, well.. aku kelaparan, aku menuntaskan dahagaku dengan jus jeruk. Aku menepuk kecil perutku.

Kenyangnya.

Ada ketukan di pintu. Aku langsung melompat kaget dan membeku. Dia langsung membuka pintu dan berjalan ke arahku. Dia melirik sekilas tubuh bagian atasku dan menyeringai, membuatku merona merah dan dengan tangan yang bergetar aku menaikkan selimut sampai batas dada.

Dia seperti habis berolahraga. Dia memakai celana training hitam beserta singlet abu-abu, yang basah dengan keringatnya. Melihatnya yang berkeringat malah membuat Yifan terlihat sangat sexy. Ingin sekali rasanya menjedukkan kepalaku ke dinding. Bagaimana bisa sekarang dengan mudahnya aku terpesona kembali padanya saat dia terang-terangan tidak menginginkanku? Aku menghalau fantasiku. Aku mengambil nafas panjang dan memejamkan mata. Tindakanku tidak lebih seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.

"Selamat pagi, Zitao. Bagaimana perasaanmu?"

Buruk. Sangat buruk !

"Aku baik-baik saja."gumamku.

Aku melirik ke arahnya. Dia memegang kedua ujung handuk yang ia taruh di leher. Dia menatapku tajam, dengan mata coklat jernihnya. Seperti biasa, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Dia menyembunyikan pikiran dan perasaannya dengan sangat baik.

"Bagaimana aku bisa berada disini?" suaraku mencicit.

Dia mendudukkan dirinya di sampingku. Dia cukup dekat bagiku untuk ku sentuh, dia cukup dekat bagiku untuk menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan, tapi harga diriku tidak mengizinkan aku melakukan hal yang bodoh kembali.

"Kau pingsan semalam. Apartemenmu terlalu jauh, jadi aku membawamu ke hotelku."

"Apa aku tidur di ranjang?" tanyaku hati-hati.

"Tentu saja. " wajahnya tanpa ekspresi.

Aku meneguk ludahku, memberanikan diri menatapnya. "Apa kau- menanggalkan pakaianku?"

Matanya menyipit tajam, aku buru-buru menundukkan wajahku menatap ranjang.

"Tentu saja, Zitao. Siapa lagi memangnya yang melakukannya. " dia mengangkat alisnya saat aku menggigit bibirku.

"Apa kita-" aku melirik perlahan menatapnya.

"Tidak, Zitao. Sudah ku bilang kalau aku bukan gay. Kalaupun aku gay, aku adalah orang yang tidak akan melakukan sex saat partnerku sedang tertidur atau pingsan."

Penjelasannya kembali menohok hatiku. Kembali membawa luka yang ia toreh seminggu yang lalu. Seharusnya aku tidak berurusan lagi dengannya.

"Aku minta maaf." Ujarku dingin. Mataku menatapnya kosong saat dia menatapku tajam.

Tubuhku bergetar di bawah tatapannya, rasanya ingin pergi dari hadapannya sekarang juga.

"Tadi malam sangat menyenangkan. Tidak aku lupakan untuk sementara waktu."

Aku menggigit bibirku, menatap tajam ke arahnya. Tiba-tiba, entah kenapa aku merasa sangat marah padanya.

"Aku tidak memintamu untuk datang menjemputku, tuan Wu. Kau juga tidak perlu melacakku dengan alat canggihmu itu. Aku bukan orang yang harus kau khawatirkan." Bentakku padanya. Dia merasa terkejut, dan entah aku salah, aku merasa melihat matanya yang terluka.

"Pertama, perusahaanku tidak berinvestasi terhadap alat canggih, no-na can-tik. Kedua, untuk melacak seseorang, kau hanya perlu gps lewat ponselmu. Ketiga, kalau kau tidak ku jemput malam itu, sekarang kau pasti terbaring di ranjang si fotografer itu, dan setauku hubungan kalian tidak lebih hanya sebatas sahabat." Bentaknya dengan suara yang tak kalah keras.

Aku melirik Yifan, matanya berkobar marah, tersinggung lebih jelasnya. Aku mencoba menggigit bibirku, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk melawannya.

"Aku bukan seorang no-na, Wu Yifan. Aku seorang laki-laki!" tekanku padanya, yang hanya ia tanggapi dengan seringaian mencemooh.

"Hmm.. kelihatannya aku seperti ksatria kuda putih yang menyelamatkan tuan putri dari bahaya, bukankah begitu?" matanya mengerling padaku. Ekspresinya telah berubah menjadi lembut dan aku melihat jejak senyum kekanakannya di bibirnya yang indah.

Aku berusaha menahan senyumku, menahan ekspresi dinginku."Kau lebih terlihat seperti pangeran kegelapan." Ujarku sinis

Dia kembali tertawa, tidak mengacuhkan ucapan sinisku.

"Apa kau sudah makan?" nadanya menuduh. Aku menggelengkan kepalaku, membuat dia terlihat marah, rahangnya mengeras dan ekspresi wajahnya berubah menjadi dingin.

"Kau harus makan! Itu sebabnya kau tampak terlihat pucat." Dia mengacak rambutnya, frustasi.

Memangnya kenapa kalau aku belum makan? Kenapa dia yang repot?

"Apakah kau akan terus memarahiku sepanjang hari?" tanyaku menyelidik. Dia menatapku garang dan aku menatapnya dengan tak kalah garang.

Dia pikir aku tidak berani melawannya?

"Apakah aku begitu?"

"Yahh.. sepertinya begitu." Ujarku malas. Memutar mataku-bosan.

"Kau beruntung aku hanya memarahimu."

"Apa maksudmu?" cepat-cepat aku menoleh padanya.

"Yeah, jika kau adalah milikku, kau akan ku buat tidak bisa berjalan selama seminggu. Kau menempatkan dirimu dalam bahaya." Dia menutup matanya, ada rasa takut tergores di wajah tampannya, dan ia sedikit bergetar. Ketika ia membuka mata, ia kembali melototkan matanya kepadaku. "Aku benci hal yang buruk terjadi padamu."

Astaga. Laki-laki ini? Apa yang dapat aku katakan? Jika aku miliknya? Tidak dapat membuatku berjalan selama seminggu? What the? Apa maksudnya itu? Kenapa dia ketakutan jika aku sakit?

Segala macam jenis pertanyaan yang tidak dapat aku mengerti bersarang di otakku.

"Aku baik-baik saja, tenanglah. Ada Baekhyun di sampingku."

"Lalu, bagaimana dengan si fotografer itu?"

"Namanya Oh Sehun, ge."

"Persetan dengan namanya. Aku tidak peduli. " bentaknya padaku.

Dia ini kenapa sih?

"Well," aku mengedikkan bahu. "Itu hal yang biasa kan. Mungkin, karena dia mabuk."

Dia menatapku dengan tajam, terlihat berbahaya. Sesaat aku berpikir, dia kan meledak.

"Kalau begitu harus ada yang memberinya pelajaran saat dia melangkah terlalu jauh lagi." Ujarnya memperingatkan.

"Kau cukup disiplin." Desisku padanya.

Dia mengerang marah, beranjak dari kasur dan menatapku liar.

"Huang Zitao, tidakkah kau merasa kalau aku tidak menyelamatkanmu, dia telah membobol ehm- " dia berdeham kecil, aku melihat wajahnya memerah.

"Apa yang dia bobol?" tanyaku bingung."

Dia mengacak rambutnya frustasi, dia seakan kehilangan kata-kata.

"Lupakan! Intinya, jika aku tidak menyelamatkanmu, kau berada di atas ranjangnya sekarang."

Aku memutar mataku kembali-malas.

"Tuan Wu Yifan yang terhormat, aku juga berada di atas ranjangmu sekarang, bahkan nyaris tanpa benang sehelai pun kalau aku boleh mengingatkan." Aku melempar senyuman menggoda ke arahnya.

Dia tersentak, wajahnya kembali memerah, dia seperti ingin membentakku tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Aku mengedikkan bahu cuek. "Yifan ge, aku mau mandi. Badanku terasa lengket semua. Kau dulu atau aku?"

"Kau saja." putusnya.

"Baiklah."

Aku menyibakkan selimut yang menutup tubuhku, dan turun dari ranjang dengan hanya memakai celana dalam, kemudian berjalan dengan santai ke kamar mandi seakan aku melupakan keberadaan Yifan.

Dia tampak terkejut dan menatap tubuhku dari atas ke bawah. Rahangnya mengeras dan matanya berubah menjadi gelap. Sesaat sebelum mencapai kamar mandi, dia menggeram layaknya binatang buas. "Zitao." nadanya berat memperingati.

"Ada apa, Yifan ge? Kau tidak masalah kan bila aku telanjang sekalipun? Kau kan bukan gay."Ujarku menekankan, lalu mengedipkan mataku padanya. Cepat-cepat aku membuka pintu kamar mandi dan memasukinya.

Aku bersandar di pintu kamar mandi, memegang dadaku yang berdebar kencang dan tubuhku yang gemetar. Mukaku memerah seperti tomat. Aku meringis malu dan menggigit bibirku kencang-frustasi.

Apa yang telah kau lakukan Huang Zitao?

Aku dengan cepat masuk ke dalam shower, membilas seluruh tubuhku dengan aliran air yang deras. Aku mengangkat wajahku ke atas menerima air pancuran yang hangat. Aku sangat menginginkannya,tapi dia menolakku, dan aku harus melupakannya. Tapi sekarang, bagaimana bisa aku melupakannya, bila dia selalu memberiku perhatian yang tidak dapat aku tolak?

Aku meraih body wash, saat aku menciumnya, aku tau ini aroma dari dirinya. Sangat memabukkan, dan terlihat lezat. Aku menggosok seluruh tubuhku dan membilasnya dengan cepat.

"Sarapan telah tiba." Dia mengetuk pintu kamar mandi, membuatku berjengit kaget.

"Ia, sebentar." Aku tergagap.

Aku keluar dari shower dan mengambil dua handuk. Satu untuk rambutku yang ku taruh di atas kepala begitu saja. Satu lagi, aku lilitkan di pinggangku.

"Aku telah membelikanmu pakaian baru, kau harus memakainya. Aku tidak terima penolakan." Teriaknya dari ruang tamu suite.

"Baiklah." Ujarku malas. Aku sedang dalam keadaan tidak mood untuk melanjutkan pertengkaran kekanak-kanakan kami.

Aku segera berpakaian cepat. Dia membelikanku pakaian rajut dengan leher lebar yang membuatku tidak nyaman, karena leher dan bahuku sangat terekspos, celana dalam Calvin-Klein, dan celana jeans gelap. Setelah aku memakainya, aku mengeringkan rambutku cepat, walau tidak kering sepenuhnya. Aku menghela nafas dalam, waktunya untuk menghadapi tuan gila control.

Aku melirik ke arah Yifan yang menatapku aneh.

"Kalau begitu, giliranku untuk mandi." Ujarnya gugup.

"Ya, silahkan."

Aku memasuki kamar tidur, berusaha mencari tasku, tapi tak dapat menemukannya. Mengambil nafas dalam-dalam, aku memasuki ruang tamu suite. Ruangan ini terlihat besar. Ada area tempat duduk mewah, beberapa sofa merah empuk dengan bantalnya yang lembut, sebuah meja segi empat dengan ukiran yang rumit dan tersusun tumpukan buku tebal di atasnya, layar tv plasma keluaran terbaru yang sangat besar menggantung di dinding, ini seperti luas lapangan tenis yang aku sering kunjungi bersama Baekhyun.

Astaga, Baekhyun!

Aku menjerit panic. Saat aku memutar balik tubuhku menuju ke kamar tidur, Yifan tepat berada di belakangku. Hanya memakai handuk yang ia lilitkan di pinggangnya, mengekspos perut sixpack-nya yang membuatku sulit bernafas.

Bernafas, Zitao. bernafas !

"Dia tau kau ada disini dan masih hidup. Aku telah menelepon Chanyeol." Katanya menenangkan ku.

Dia memasuki ruang kamar tidur, lalu muncul kembali dengan memakai kemeja putih berkerah yang pas di tubuhnya.

"Duduk." Dia memerintahku, sambil menunjuk sofa merah. Aku berjalan menyebrangi ruangan, dan duduk di depannya seperti yang ia perintahkan. Mejanya penuh dengan makanan yang menggugah selera.

"Aku tidak tau apa yang kau suka, jadi aku memilih semua menu sarapan di hotel."

"Kau sangat boros." Gumamku. Bingung mana yang akan ku makan, meskipun aku lapar, dan dia hanya tersenyum memelas.

Aku memilih cramble pancake kembali, dengan sirup maple, omelette, dan bacon. Yifan mencoba menyembunyikan senyumnya saat aku melahap semua makanan. Makanan ini sangat lezat.

"Mau teh?" tawarnya padaku

"Ya, terima kasih." Aku tersenyum lembut ke arahnya, mengabaikan fakta kejadian aku menggodanya beberapa jam yang lalu.

Dia menuangkan teh dari teko kecil ke cangkir bermotif daun di tengahnya.

"Rambutmu basah." Ujarnya, suaranya terdengar berbeda, lebih rendah.

Aku menggigit bibirku, dan meringis ke arahnya.

"Aku tadi sudah mengeringkannya, tapi masih saja lembab." Gumamku, malu.

Dia tidak mengatakan apapun, hanya terdiam sambil menyantap sarapannya.

"Terima kasih telah membelikanku pakaian."

"Ini menyenangkan, Zitao. Pakaian itu sangat cocok untukmu. Tapi, ada satu hal yang harus kau ketahui."

Aku mendongak, menatap wajahnya, penasaran. "Apa?"

"Pakaian itu hanya boleh kau pakai saat bertemu denganku." Tegasnya.

Aku hampir saja tersedak tehku sendiri. Aku menatapnya tak percaya.

"Kenapa?"

"Karena aku tak suka kau melibatkan dirimu dalam bahaya lagi."

"Ini hanya pakaian, tuan Wu Yifan." Aku menahan kekesalanku padanya.

"Coba kau ingat bagaimana pakaianmu yang terlalu terbuka itu membuat hampir dari semua laki-laki di bar kemarin menatapmu lapar, termasuk si fotografer itu."

Aku mengerjapkan mataku padanya, bingung akan sikapnya.

"Namanya Oh Sehun, gege."

"Aku tidak peduli."

Aku menyerah, angkat tangan atas sikap keras kepalanya yang luar biasa. "Baiklah."

Dia tersenyum puas kepadaku.

"Gege, soal buku itu, aku ingin mengembalikannya."

Matanya menyipit, berbahaya, kelihatan tersinggung." Tidak."

"Ge, kau sudah menghabiskan banyak uang untukku, kalau begitu, biarkan aku membayar bukunya."

"Zitao, percayalah. Itu untukmu."

"Gege."

"Aku adalah Wu Yifan, Zitao. Jadi, kau tidak usah merasa sungkan. Itu hanya sebagian hadiah kecil."

"Hanya karena kau bisa, bukan berarti kau harus." Bentakku padanya, matanya mengerjab berbahaya padaku.

"Aku bisa sesuka hati atas uangku, Zitao." ujarnya dengan nada angkuh.

Aku mencoba untuk melunak. "Kenapa kau membelikanku hadiah buku itu?"

"Emm.. itu, permintaan maafku. Kau ingat, saat kau hampir tertabrak, kau jatuh di pelukanku, dan matamu berkata.. cium aku, cium aku." Ada jeda sedikit dan dia melanjutkan. "Well, aku merasa bersalah.

Oh, tuhan. Kenapa dia harus membahas peristiwa yang ingin kulupakan seumur hidupku sih?

"Kalau begitu, kau tidak perlu merasa bersalah." Aku mendapati nada suaraku berubah dingin.

"Aku tidak bisa. Saat aku memerintahkan otakku untuk menjauh darimu, hatiku tidak mengizinkannya. Ada sesuatu dari dirimu, yang menarikku."

Nafsu makanku perlahan menghilang.

"Kalau begitu, jangan."

Oh, aku dengan mulut bodohku. Kenapa kau mengatakan hal yang membuatmu jatuh ke lubang yang sama, bodoh?

Dia terpengarah. "Kau tidak mengerti aku, Zitao. aku berbahaya untukmu."

"Kau memang berbahaya bagi kesehatan jantungku." Gumamku pelan.

Dia tersentak. "Apa?"

"Tidak, aku tidak mengatakan apapun."

"Jadi?"

Dia menyeringai ke arahku.

"Kalau begitu, apa rencanamu untuk beberapa hari kedepan?" dia bertanya, suaranya rendah.

"Astaga. Aku mulai bekerja hari ini. Jam berapa sekarang." Aku mulai panic.

"Jam berapa kau masuk kerja? Ini baru jam setengah Sembilan."

"Jam dua belas." Aku menghembuskan nafas lega.

"Jadi kau masih punya banyak waktu, lalu, apa rencanamu besok?" dia tersenyum kekanak-kanakan, sikunya di taruh di atas meja, dan kepalan tangannya menahan dagunya.

"Aku harus berberes dengan Baekhyun. Kami akan pindah ke Seoul akhir minggu ini."

"Kau sudah punya tempat di Seoul?"

Aku mengangguk kecil. "Hm.. sudah."

"Dimana?"

"Aku lupa dimana tepatnya, tapi disekitar daerah Cheongdam-dong, di Gangnam distrik."

"Benarkah? Kalau begitu, tidak jauh dariku." Bibirnya berkedut tersenyum senang. "Jadi, kau mau bekerja apa di Seoul?"

"Aku sudah mengajukan beberapa lamaran. Tinggal menunggu panggilan."

"Apakah kau mengajukan lamaran di perusahaanku seperti yang aku sarankan."

Aku memerah.

"Tidak."

Dia cemberut, melipat tangannya di dada. "Apa yang salah dengan perusahaanku?"

Bukan perusahaanmu yang salah. Kau-nya yang salah.

"Hanya tidak cocok untukku." Aku menyeringai ke arahnya.

"Ooo, berani sekali kau menyeringai padaku, Zitao." dia memiringkan kepalanya di satu sisi, terlihat senyum gelinya. Aku memerah, melirik sarapanku yang belum habis. Aku tak bisa menatap matanya saat ini. Dadaku bergemuruh cepat.

"Aku ingin menggigit bibir itu." Bisiknya, menatap jatuh ke bibir yang ku gigit, kebiasaanku saat gugup.

Mulutku terbuka lebar saat aku terkesiap. Tidak tahu harus berkata apa.

Dia ingin apa tadi?

Aku menundukkan kepalaku lagi, tak berani menatapnya. Dan lagi, tak berani terlalu banyak berharap. Aku tak ingin, laki-laki di hadapanku ini membuatku jatuh untuk kedua kalinya.

Dia berdehem keras, berusaha mengendalikan keadaan yang canggung seperti semula.

"Oke, jam berapa kau selesai bekerja?"

"Jam delapan malam, kenapa?"

"Ya, kita bisa pergi ke Seoul malam ini dan sabtu berikutnya untuk makan malam di tempatku, dan aku akan menjelaskan semuanya tentang kita."

Aku terkejut, menatap matanya. "Kenapa tidak sekarang?" suaraku merajuk.

"Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita sekarang."

"Oke, malam ini."

Dia terkejut,senang atas keputusanku. Mengambil i-phone miliknya, dia bergegas menghubungi seseorang.

"Kangin, aku perlu Charlie tango."

Charlie tango? Siapa dia?

"Dari Busan."

"Ya, mulai besok pagi. Aku akan menjadi pilotnya dari Busan ke Seoul."

Pilot?

Dia langsung menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih atau kata tolong.

"Apa mereka akan menuruti semua perintahmu?"

"Biasanya, jika mereka ingin mempertahankan pekerjaannya." Katanya, datar.

"Dan, jika mereka tidak bekerja untukmu?"

Dia mengedikkan bahunya. "Tergantung. Kau harus menyelesaikan sarapanmu. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang. Aku akan kembali menjemputmu di toko florist itu jam delapan saat kau selesai bekerja, dan kita akan terbang ke Seoul."

Aku berkedip padanya cepat.

"Terbang?"

"Ya. Aku punya helikopter"

"Jadi, kita naik helicopter?" mukaku terlihat seperti orang bodoh.

"Kita akan pergi ke Seoul dengan helicopter?"

"Ya." Ucapnya tegas, seakan tidak ingin dibantah. "Nah, sekarang, selesaikan sarapanmu!"

Bagaimana aku bisa makan sekarang? Aku ke Seoul dengan Yifan menggunakan helicopter miliknya? Rasanya perutku mual hanya dengan memikirkannya.

"Makanlah." Ujarnya tajam. "Zitao, aku punya masalah dengan seseorang yang tidak menghargai makanan, jadi makan!"

"Aku tak bisa makan semua ini, aku kenyang."

"Zitao." nadanya memperingati. Dia sekarang tampak marah padaku.

"Oke..oke, aku akan menghabiskannya. Puas." Bibirku mengerucut sebal.

"Good boy." Dia menepuk pelan puncak kepalaku. "Setelah itu aku antar pulang, jangan lupa mengeringkan rambutmu terlebih dahulu, aku tak ingin kau sakit."

"Cerewet." Bisikku mendesis. Dia menoleh ke arahku sambil menatap tajam.

"Zitao, aku mendengarmu." Gumamnya rendah.

Memutar mataku-malas.

"Aku melihatnya, hentikan memutar matamu, itu tidak sopan."

Aku mengerang frustasi dan itu membuatnya tertawa senang.

Dasar tukang perintah.

Aku berjalan menjauhi meja saat sarapanku telah habis. Aku kembali berjalan ke kamar tidurnya, sebelum sebuah pemikiran terlintas di kepalaku.

"Gege." Panggilku hati-hati.

"Hmm.. ada apa?" dia masih duduk di sofa merah sambil membaca koran. Aku mencari-cari bantal ataupun bekas selimut yang ia pakai, tapi tidak ada satupun.

Mungkin ia telah membereskannya.

Tapi aku masih penasaran, hingga aku memberanikan diri bertanya. "Kau tidur dimana semalam?"

"Di ranjangku."

.

.

.

.

TBC

sepertinya ini akan menjadi multi chap yang sangat panjang. ini dah update kilat kan?

okeh, mkasih untuk semua yang telah me-riview ff ini.

Riview, please ^^