Empat : Salju
.
.
"Ouch!"
Hinata menatap tangannya yang terluka akibat tertusuk jarum saat sedang belajar menyulam. Setitik darah menggenang di ujung jarinya, warna merahnya terlihat kontras diatas jarinya yang putih bersih.
Ini sudah kesekian kalinya jarinya terluka karena menyulam.
"Okaa-san, aku ingin berhenti." Kata Hinata sambil berpura-pura merajuk.
"Tinggal sedikit lagi, Hinata. Sulamanmu sedikit lagi akan selesai, jangan menyerah." Kata Hikari dengan sabar.
"Tapi tanganku sakit…" Hinata lalu memasang ekspresi memelas agar dikasihani.
Hikari menghela nafas.
Usahanya masih kurang huh? Baiklah, saatnya mengeluarkan kartu andalannya.
"Kalau tanganku sakit nanti aku tidak bisa memegang kuas dengan benar. Okaa-san, aku takut kakek memarahiku nanti."
"Baiklah Hinata, pelajaran menyulam untuk hari ini kita akhiri cukup sampai disini." Kata Hikari sambil menatap Hinata dengan penuh arti. Heheheh… sepertinya Hikari tahu jika Hinata sengaja membawa-bawa nama kakeknya agar keinginannya bisa dituruti.
"Terima kasih Okaa-san!" Kata Hinata dengan ceria. Ugh, tubuh dan kakinya pegal karena sudah berjam-jam ia duduk dan menyulam.
"Hinata…" Panggil Hikari ketika Hinata hendak beranjak pergi.
"Ya Okaa-san?"
"Haruskah pelayan laki-laki itu juga tinggal di area kediaman pribadimu?"
Ah, ternyata Hikari sedang membicarakan Kei. Di era kuno seperti ini, pria dan wanita diwajibkan untuk menjaga jarak, pelayan laki-laki tabu tinggal di kediaman pribadi majikan wanita untuk menghindari timbulnya gosip. Bagi anak gadis yang belum menikah, reputasi dan nama baik adalah segala-galanya, keperawanan adalah hal yang dijunjung tinggi. Jika seorang anak gadis terlibat skandal yang mencemari reputasinya maka tidak ada yang mau menikahinya.
Tapi…
"Okaa-san, dia bukan laki-laki, dia masih bocah. Usianya baru delapan tahun." Kei dan Hinata masih bocah, oke?! Memangnya apa yang bisa terjadi?!
Hikari tersenyum. "Cara bicaramu seolah-olah kau sudah dewasa. Kau juga baru berusia delapan tahun, Hinata."
Ah, Hinata lupa bahwa dia juga masih bocah saat ini.
"Okaa-san, aku ingin Kei tinggal disini agar aku bisa bermain dengannya."
Hikari mengerutkan dahinya. "Jika kau ingin teman bermain, Okaa-san bisa mencarikan beberapa orang gadis pelayan yang seumuran denganmu."
Hinata menggeleng. "Pokoknya harus Kei!" Kata Hinata dengan keras kepala.
Hikari menghela nafas pasrah, namun Hinata tahu ibunya pasti akan menuruti keinginannya.
Heheheh… saat ini Hinata menjadi salah satu orang yang paling berkuasa di kediaman Hyuuga, siapa yang berani menentang keinginannya?
.
.
Hinata mengamati Kei yang sedang berjongkok sambil mencabuti rumput liar di tamannya. Gerakannya yang kaku dan tidak bertenaga menunjukkan jika Kei adalah seorang yang tidak terbiasa melakukan hal-hal berat.
"Kei, apa kau capek?" Tanya Hinata sambil berjalan mendekatinya. Saat ini Hinata sedang menjalankan peran sebagai seorang anak yang antusias mengajak teman barunya bermain.
Anak itu tidak menjawab, namun mata hitamnya melotot ke arah Hinata. Hey, hey, apa maksudnya itu? Hinata bertanya secara baik-baik, mengapa ia justru dipelototi?
"Kei, ayo kita bermain." Kata Hinata sambil tersenyum. Dasar bocah, Hinata tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Bocah berambut hitam itu tetap bungkam.
"Aku juga membawa gula-gula. Apa kau mau?" Tawar Hinata sambil memperlihatkan sekantung permen madu yang ia bawa.
"Aku tidak suka manis." Jawab bocah itu dengan ketus.
Dasar anak ini! Tak heran kakek Hiroshi menyuruhnya untuk melindunginya. Dengan sikapnya yang seperti ini, mustahil Kei bisa beradaptasi di kediaman Hyuuga. Bayangkan saja jika Shion melihat sikapnya ini, sudah pasti bocah kurus ini akan dicambuki hingga tulang-tulangnya hancur.
Hinata lalu berlutut sambil menatap Kei dengan serius. "Kau tidak perlu mencabuti rumput-rumput itu. Ah, kau juga tidak perlu bekerja sebagai perawat taman." Kini Hinata tersenyum. "Namun sebagai gantinya kau harus menjadi teman bermainku."
Kei tampak berpikir sebentar. Kemudian ia melemparkan tatapan tidak bersahabat pada Hinata. "Aku tidak sudi menjadi budakmu!"
Ujung mata Hinata berkedut. Anak ini benar-benar menguji kesabarannya! Memangnya siapa yang mau menjadikannya budak?! Pelayan yang selalu setia membuntutinya sudah lebih dari cukup, oke?!
Hinata lalu bangkit berdiri. Kini tangan mungilnya mencengkeram kerah atasan yang dikenakan Kei. "Dengar baik-baik ya, dasar bocah kecil." Bisik Hinata dengan penuh ancaman. "Aku menawarkan kebaikanku padamu, tak masalah jika kau menolaknya. Namun haruskah kau bersikap kurang ajar seperti itu padaku? Aku yakin kau ini anak yang pintar, seharusnya kau bisa tahu mana yang baik untukmu dan mana yang tidak."
Wajah Kei memucat. Hinata mengangguk dalam hati, sepertinya Kei sudah sadar dengan posisinya saat ini. Seorang pelayan yang bersikap kurang ajar pada majikannya akan langsung menerima hukuman, seperti yang hendak dilakukan Shion tempo hari.
"Apakah kau akan menghukumku?" Tanya Kei dengan perlahan.
"Jika kau mengulangi perbuatanmu ini lagi maka ya, aku akan menghukummu. Ah, bukan aku, tapi saudari sepupuku Shion yang akan melakukannya dengan senang hati." Kata Hinata sambil melepaskan cengkeramannya.
Hinata lalu melirik ke arah deretan pelayan pribadinya yang berada jauh darinya. Sejak awal Hinata meminta mereka menjaga jarak darinya selama ia 'bermain' dengan teman barunya ini. Semoga saja mereka tidak mendengar kelancangan Kei, bisa gawat jika Kei dihukum Hiashi atau Hikari.
"Maaf." Bisik Kei perlahan sambil berusaha berdiri.
"Mm. Jangan diulangi lagi. Aku tidak ingin ada yang mencambukimu karena sikapmu ini."
"Baik, nona."
Ah, anak ini belajar dengan cepat.
"Panggil saja aku Hinata saat tidak ada orang lain. Ah, tak perlu bersikap sopan padaku, kecuali jika memang ada orang yang memperhatikan."
Kei menatap Hinata dengan sedikit curiga. "Kau benar-benar ingin menjadikanku teman bermainmu?"
"Mm." Hinata kembali menawarkan gula-gulanya. "Apa kau mau?"
Kei menggeleng.
"Kau tidak suka gula-gula?"
"Aku tidak suka manis." Kali ini tidak ada nada ketus dari perkataannya.
"Oh…" Ternyata anak ini benar-benar tidak menyukai makanan manis. "Lalu apa yang kau sukai?"
Sebelum Kei sempat menjawabnya, perut bocah lelaki itu berbunyi nyaring.
"Ayo kita makan." Ajak Hinata.
.
.
Hinata adalah orang yang aneh.
Itu adalah kesan yang ditangkap oleh Sasuke sejak pertama kali melihatnya.
Entah apa yang diinginkan Hinata, namun si nona Hyuuga itu memperlakukannya dengan aneh. Hinata tidak memandangnya sebagai bocah pelayan, dia memperlakukan Sasuke seolah-olah mereka adalah teman. Saat pertama kali mereka bertemu, Hinata melindunginya dari hukuman cambuk yang nyaris menimpanya. Sasuke masih mengingat tubuh kecil Hinata berdiri tegap dihadapannya dan menantang Shion dan para pelayan dengan tegas.
Sasuke curiga Hiroshi membeberkan identitasnya sebagai Pangeran kepada Hinata. Namun ketika dipikir-pikir lagi hal tersebut tidak mungkin. Hiroshi telah bersumpah kepada Kaisar untuk menjaga rapat-rapat rahasia mengenai identitasnya, tidak mungkin pemimpin klan itu membocorkan hal ini pada Hinata. Terlebih lagi seandainya Hinata memang mengetahu identitasnya, maka Hinata akan bersikap hormat padanya, tidak menyeretnya kemana-mana dan memperlakukan Sasuke dengan sesuka hatinya.
Hinata selalu menyeret Sasuke kemanapun ia mau. Terkadang setiap sore Hinata menyeretnya untuk membuntuti Shion yang berjalan-jalan, lalu Hinata juga akan menyeretnya mengitari kompleks kediaman Hyuuga untuk mengumpulkan beberapa dedaunan kering yang dianggap 'menarik' oleh Hinata. Ketika Hinata membolos pelatihan, ia juga akan menyeret Sasuke untuk bersembunyi dengannya. Mereka berdua akan mengendap-endap di semak-semak, atau bersembunyi dibalik tembok agar terhindar dari para pelayan yang mencarinya.
Sasuke tidak bisa memahami Hinata. Sebagai puteri sulung pewaris klan Hyuuga sudah sepantasnya Hinata bersikap anggun dan terhormat, namun tingkah laku Hinata jauh dari kesan itu. Hinata selalu bersikap sesuka hatinya, ia selalu berlari, terkadang melompat-lompat, bahkan juga bersimpuh di atas rumput hingga memanjat pohon. Hinata juga terkadang berbicara saat sedang makan, cara bicaranya juga jauh dari sifat lemah lembut, selain itu Hinata juga membawa cemilan kemanapun ia pergi dan memakannya sambil berjalan. Itu bukan perilaku tepat yang dilakukan oleh gadis terhormat! Mengapa tidak ada seorangpun yang menceramahinya?! Terkadang Hinata juga mengatakan hal-hal aneh seperti roket, pesawat, internet, selebriti, mobil, dan banyak hal lain yang tidak ia mengerti.
Hinata benar-benar aneh.
.
.
"Kudengar kau selalu bermain dengan bocah pelayan itu." Kata Hiroshi sambil mengamati lukisan harimau yang telah diselesaikan Hinata.
"Iya kakek, bermain dengan Kei sangat menyenangkan."
"En." Hiroshi menganggukkan kepalanya perlahan.
Hinata memakan kue berbentuk bunga sakura yang disajikan di depannya. Sepasang mata lavendernya melirik si kakek yang mengamati lukisan harimau yang baru saja ia selesaikan setelah berminggu-minggu.
"Benar-benar sangat mirip dengan aslinya, terutama sepasang mata harimau ini." Kata Hiroshi dengan puas.
"Terima kasih untuk pujian kakek." Kata Hinata dengan santai. Ia sudah terbiasa mendengar pujian yang dilontarkan Hiroshi untuknya. Telinganya sudah kebal. Terlalu sering mendengar kata-kata pujian justru membuat pujian itu menjadi tidak efektif lagi.
"Kemarin kau membolos pelatihan lagi huh… kau juga menyeret bocah pelayan itu untuk bersembunyi denganmu."
Hinata menelan kue yang sedang ia kunyah. Sebenarnya si kakek menceramahinya karena ia membolos lagi ataukah menceramahinya karena telah menyeret Kei untuk bersembunyi dengannya?
"Saya tidak akan membolos lagi, kakek."
"Apakah para pengajar itu menghukummu karena membolos? Jika mereka menghukummu maka adukan saja padaku."
Ah, tentang Kei ternyata.
"Baik, kakek." Kata Hinata perlahan. Ternyata kakek Hiroshi menyuruh Hinata berhenti menyeret Kei ketika ia membolos. Sudah pasti Hinata tidak akan dihukum, tapi belum tentu Kei bisa lolos. Mungkin saja Kei akan disalahkan dan dihukum karena telah 'membujuk' nona Hinata membolos pelatihan.
Ugh, mengapa kakek Hiroshi selalu mengistimewakan Kei? Siapa bocah itu sebenarnya?
.
.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Hinata pada Hanabi.
"Mm." Hanabi kecil mengangguk sambil tersenyum. Deretan gigi susunya yang putih nampak tersusun rapi.
"Kau harus berterima kasih pada Neji nii-san, dia yang membelikan gula-gula ini."
"Baik, nee-san." Kata Hanabi dengan patuh.
"Apakah Hanabi menyukai Hinata nee-san ini?"
"Iya! Nee-san sangat baik, Hanabi menyukai nee-san!" Kata Hanabi dengan jujur.
"En." Hinata mengangguk puas. "Kalau Hanabi sudah besar nanti tidak boleh nakal pada nee-san ya?"
"Hanabi tidak akan nakal pada nee-san."
Hinata menepuk-nepuk kepala Hanabi. Bagus! bocah kecil ini sudah patuh dengannya. Dengan begini si kecil Hanabi tidak akan merepotkan Hinata saat ia tumbuh semakin besar nanti. Bisa gawat seandainya Hanabi bersikap nakal padanya.
Hikari tertawa perlahan. "Neji selalu membelikan gula-gula untukmu."
"Iya, Okaa-san. Itu karena nii-san sayang padaku." Kata Hinata sambil tersenyum lebar.
"En. Dia bahkan lebih menyayangimu dibandingkan dengan adiknya sendiri." Ujar Hikari perlahan sambil membelai lembut rambut Hinata.
"Adik tiri." Gumam Hinata.
"Hush!" Hikari menjitak kepala Hinata. "Adik tetaplah adik."
Aww… kepalanya dijitak.
"Tapi itu memang benar…" Protes Hinata. "Neji nii-san tidak menyukai adik tirinya."
Hikari kemudian tersenyum. "Hinata, kau harus kembali belajar menyulam. Kali ini kau tidak boleh pergi sebelum Okaa-san menyuruhmu pergi."
TIIIIDAAAAK!
.
.
Hinata menengadahkan tangannya, beberapa butir salju lalu mendarat di telapak tangannya.
Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Waktu bergulir dengan cepat.
"Nona, sepertinya udara semakin dingin, mengapa nona tidak masuk saja? Jika nona sampai sakit, nyonya Hikari pasti akan khawatir." Bujuk salah seorang pelayan.
Hinata menuruti bujukan si pelayan. Toh, berdiri terlalu lama di cuaca yang dingin seperti ini juga kurang baik untuk tubuh kecilnya yang rapuh.
Kini semua orang sudah terbiasa melihat bocah pelayan Kei berada di dekatnya. Mereka tidak lagi mempermasalahkan Kei yang selalu mendampinginya kapanpun Hinata mau.
"Apa kau bisa membaca dan menulis?" Tanya Hinata sambil memegang kuas di tangannya.
Kei nampak tersinggung. "Tentu saja!"
Hinata menatap kuas di tangannya, setelah berpikir sejenak ia lalu menyodorkan kuasnya ke arah Kei. "Kalau begitu tulis sesuatu, aku ingin melihat kemampuanmu." Hinata ingin mengetahui sampai dimana kemampuan Kei. Apakah bocah ini lebih pintar daripada Neji?
Kei lalu menerima kuas yang disodorkan Hinata. "Kau ingin aku menulis apa?"
"Puisi."
"Huh?" Kei mengerjap-ngerjapkan mata hitamnya.
"Tulis sebuah puisi. Um, puisi tentang salju."
Kei terlihat kikuk. "Uh… bagaimana jika kau yang mengatakan puisi itu sedangkan aku yang akan menulisnya."
Hinata tertawa. "Apa kau tidak bisa membuat puisi?"
"Memangnya kau bisa membuatnya?" Tanya Kei dengan garang. Akan tetapi pipinya yang merona merah menunjukkan bahwa Kei memang tidak bisa membuat puisi.
"Tentu saja." Kata Hinata dengan santai.
Kei lalu mencelupkan ujung kuasnya ke tinta. "Kalau begitu cepat katakan, aku yang akan menulisnya untukmu."
Hinata memutar matanya. Dasar bocah arogan. Kini Hinata perlahan mengucapkan puisinya.
"Tutup kedua matamu
Rasakanlah ribuan butiran salju yang jatuh perlahan-lahan ke hatimu
Tidakkah kau merasakannya?
Seolah-olah semua kesedihan, amarah, kebencian dan dendam tertutupi oleh butiran salju yang perlahan jatuh menyelimuti hatimu…
Sedikit-demi sedikit…
Tidakkah kau tahu?
Setiap butir salju mengajarkan kita tentang cinta
Ia menyelimuti semua noda dan keburukan, menjadikannya indah karena tertutup ribuan butir salju
Ketika ia pergi, ia membawa semua noda dan keburukan itu
Membersihkannya… mensucikannya…
Membasuh luka-luka di hati…
Membuatnya terlahir kembali…"
.
.
Sasuke dapat merasakan tangannya gemetar. Ia lalu meletakkan kuas yang sedang ia pegang dan berusaha menghentikan gejolak di hatinya.
Setitik air mata lolos dari sudut matanya.
Ia lalu memalingkan wajahnya, ia tidak ingin membuat Hinata menyaksikannya saat sedang menangis.
"Kei? Ada apa?" Tanya Hinata dengan khawatir.
Sasuke berusaha menahan air matanya, sungguh… ia telah berusaha sekuat tenaga. Akan tetapi air mata itu jatuh susul menyusul di pipinya.
Hinata lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya. "Ada apa Kei?" Tanya Hinata sambil bersimpuh di depannya.
Sasuke menyembunyikan wajahnya di lengan kimono yang ia kenakan.
Ia merasa lelah…
Sasuke merasa lelah dengan semua kesedihan, amarah, kebencian, dan dendam yang ada di hatinya. Terkadang ia merasa tidak sanggup menanggung semuanya.
Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan keluarganya dibunuh. Para penjahat keji itu membantai semua orang tanpa ampun. Ia masih bisa merasakan dengan jelas darah ibunya yang membasahi tubuhnya. Ibunya mengorbankan dirinya sendiri ketika para pembunuh itu hendak menghunuskan pedang ke arah Sasuke. Ibunya telah melindunginya dengan cara menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng agar Sasuke bisa selamat.
"Kei…" Bisik Hinata sambil membelai kepalanya.
"Hinata…" Kata Sasuke sambil berusaha menghentikan isakannya. "Bisakah butiran salju menghapus luka-luka di hati?"
Sasuke lalu mengangkat wajahnya yang masih dihiasi jejak-jejak air mata. Biarlah Hinata menertawakannya, ia tidak peduli.
Hinata terlihat tertegun, namun tak lama kemudian sepasang matanya melembut. "Apa kau benar-benar ingin menghapus luka itu?"
Sasuke mengusap-usap air matanya yang masih tersisa. "Tentu saja." Jawabnya perlahan.
"Kalau begitu ikhlaskan semuanya sedikit semi sedikit."
Sasuke membeku. Mengikhlaskan semuanya? Bagaimana bisa ia mengikhlaskannya! Keluarganya telah meninggal dan hanya menyisakan ia dan Itachi nii-san, mana mungkin ia bisa ikhlas!
Hinata kembali berbicara. "Mengikhlaskan bukan berarti melupakan… kau tidak akan pernah bisa melupakan rasa sakit di hatimu, namun kau harus belajar menerima bahwa yang terjadi tetap terjadi dan kita tidak bisa mengubahnya. Luka itu memang membuat kita terpuruk dan sedih, namun kita harus mencoba bangkit kembali. Ikhlaskanlah semua yang terjadi, kemudian jadilah lebih kuat dan tegar."
Kini Sasuke mencoba menegakkan tubuhnya dan bersikap tegar. Ia memang tidak bisa menyelamatkan keluarganya, namun ia bisa menjadi lebih kuat lagi dan melindungi orang-orang yang ia cintai.
Hinata tersenyum sambil menghapus air mata Sasuke dengan lembut. "Aku memang tidak mengerti apa yang telah direncanakan Kami-sama. Namun apapun itu, aku yakin Kami-sama pasti akan menyediakan akhir yang bahagia untukmu."
Sasuke terpaku.
Hinata memang telah menarik kembali tangannya namun ia masih merasakan sentuhan lembut Hinata di pipinya.
Saat ini di luar sana salju masih turun perlahan, dinginnya sungguh terasa menusuk tubuh.
Sasuke menundukkan kepalanya.
Meski begitu… hatinya terasa hangat…
.
.
