Qora Farishta
Genre : Romance ,Little Angst ? , Action, Drama
Cast : Baekhyun, Chanyeol , Sehun
Rating : T to M
Authoe Note : Welcome Back! Aku mau mengingatkan kalau chapter ini mengandung hal-hal berbau NC atau 17+ , jadi harap bersiap-siap. Dan jangan lupa tinggalin review kalian ya! Sorry for typos dan mistakes saya . Happy reading!
.
.
.
.
.
Setelah mendapat anggukan kecil dari Baekhyun, Chanyeol mulai memainkan gitarnya. Jarinya yang panjang dan besar, sangat cocok memainkan gitar tersebut. Dengan urat yang terlihat di punggung tangannya, membuat karismanya keluar berkali lipat.
Baekhyun tau lagu yang sedang dimainkan Chanyeol. Lagu yang berasal dari band favoritnya ketika SMA dulu.
" Call it magic, call it true, I call it magic when I'm with you." Baekhyun sedikit terkejut ketika Chanyeol mulai bernyanyi. Sejujurnya ia tak menyangka pria yang duduk dihadapannya ini memiliki suara yang merdu dengan suara beratnya. Suaranya serak namun tetap memanjakan pendengaran Baekhyun.
" No I don't , no I don't want anybody else but you. Call it magic, cut me into two." Baekhyun menyenderkan badannya di tembok sebelah pintu masuk studio mini milik Chanyeol. Wajahnya menyiratkan dirinya menikmati lagu yang dibawakan Chanyeol.
" And all with your magic, I disappear from view. " tanpa sadar Baekhyun mulai bersenandung pelan mengikuti iringan Chanyeol dengan lirik yang ia hapal diluar kepala. Dirinya dipenuhi sensasi yang ia pun tak tau menjelaskannya bagaimana, sensasi yang membuatnya serasa berada di dunia lain.
" Wanna fall, I fall so far " Baekhyun kembali kedalam kesadarannya ketika ia tersadar ruangan tersebut hanya ada suaranya dengan suara gitar dari Chanyeol. Baekhyun malu dan hampir menghentikan nyanyiannya, namun Chanyeol menatapnya untuk tetap melanjutkan nyanyiannya.
" Woahh, aku tidak tau kamu punya suara merdu, Bi. Kamu bisa mengalahkan Kyungsoo. " ucap Chanyeol dengan tepuk tangan yang masih tidak berhenti semenjak lagu yang dinyanyikan berakhir.
" Suaramu juga sangat bagus. " puji Baekhyun.
" Ya, tentu saja. Aku tau itu ko, hahaha " Baekhyun hanya bisa ikut tertawa geli melihat tingkah kelewat percaya diri Chanyeol.
.
.
.
.
.
Suara dentuman musik, obrolan sana-sini, dan suara gelas kaca memasuki indra pendengaran Baekhyun. Sedangkan matanya sedang mencoba menyesuaikan dengan ruangan yang remang dengan cahaya warna warni yang menghiasi tempat itu. Ya, Baekhyun sedang berada di salah satu club malam di kota itu. Dia datang bersama Chanyeol, namun pria itu telah izin pergi untuk menyiapkan penampilannya di belakang panggung. Baekhyun memutuskan untuk duduk di kursi yang terletak dekat meja bartender.
Baekhyun memakai tudung hoodie yang sedang ia kenakan setelah ia merasa tidak nyaman karena beberapa tatapan yang diarahkan kepadanya.
" Mau pesan sesuatu? " tanya seorang bartender yang menghampirinya. Walaupun Chanyeol mengatakan ia dapat memesan apapun yang ia inginkan tapi ia hanya ingin melihat penampilan Chanyeol malam ini sehingga ia menolak tawaran bartender tadi.
" Disini telah hadir , our beloved DJ , yang sudah lama tidak kita saksikan di panggung kita. DJ Loey!" Chanyeol menaiki panggung dan segera memposisikan dirinya dengan peralatan DJ-nya.
" Lets have fun tonight, baby" seru Chanyeol yang dibalas teriakan semangat dari para penonton yang siap menikmati penampilan Chanyeol dari dancefloor.
Baekhyun tak bisa melepaskan perhatiannya dari sosok yang sedang menikmati pekerjaannya di atas panggung sana. Wajahnya menunjukan passion nya atas apa yang sedang ia lakukan. Ia sangat menikmato pekerjaannya. Baekhyun sesekali tersenyum ketika Chanyeol menyapanya secara tidak langsung dari sana.
" Baekhyun? " sebuah suara mengaggetkan Baekhyun dengan tepukan kecil di pundaknya. Baekhyun segera berbalik menatap orang yang memanggilnya.
" Sehun?!" Baekhyun hampir berteriak mengetahui siapa yang sedang berada di depan matanya.
" Hei! Ternyata benar kamu, Byun Baekhyun. " pria itu tersenyum. Senyum yang masih meluluhkan hati Baekhyun. Sehun mengambil duduk tepat disebelah Baekhyun.
" Kau tidak memesan apa pun? Hei, pesan 2 gelas whiskey."
" Kamu tau aku mudah mabuk. "
" Mungkin kamu lebih toleran sekarang? Malam disini tidak lengkap tanpa alcohol, Baekhyun. " Baekhyun hanya terdiam, membebaskan Sehun melakukan yang ia mau. Perasaannya masih terlampau senang dan terkejut karena Sehun yang selama ini ia cari, datang dengan sendirinya menampakan diri di hadapan Baekhyun.
.
.
.
.
.
Seingat Baekhyun, ia baru beberapa menit yang lalu bertemu kembali dengan Sehun. Namun pria itu sekarang sedang berdiri di antara kedua kakinya dengan bibir yang menempel dengan miliknya. Entah itu pengaruh alcohol atau karena ia juga menginginkan ini, ia hanya bisa terdiam membiarkan Sehun menyentuhnya.
Perlahan namun pasti ia merasakan sepasang tangan memegang kedua pahanya dan menggendongnya, dengan kesadaran yang mulai terambil alih Baekhyun mulai menjauh dari berbagai suara yang memenuhi telinganya. Termasuk suara lagu yang Chanyeol bawakan.
.
.
.
.
.
" Mhh" desah Baekhyun pelan ketika Sehun mulai beralih menuju leher jenjangnya yang putih dan lembut.
" Kau tau aku begitu merindukan tubuhmu, Byun Baekhyun. " bisik Sehun di telinga Baekhyun dengan nafas yang telah dipenuhi nafsu. Hawa panas telah memenuhi ruangan mereka sekarang. Tubuh Baekhyun lemas, ia hanya bisa menggeliat pelan sebagai reaksi apa yang Sehun lakukan pada tubuhnya.
Baekhyun hanya bisa melenguh ketika Sehun masih memberikan tanda di lehernya dan mulai melepas satu per satu pakaian yang melekat pada tubuh Baekhyun.
Sehun kini beralih dari leher Baekhyun menuju dada Baekhyun, dan memberikan banyak tanda juga disana.
" Ahh, stophh " lenguh Baekhyun ketika Sehun memasukan jari telunjuknya ke dalam manhole miliknya. Kepalanya pusing dan tubuhnya tidak dapat ia kendalikan. Entah mengapa bayangan Chanyeol terbersit ditengah ketidaksadarannya dan ia ingin Sehun berhenti.
" Aku tau kamu menginginkannya, sayang. Aku tau kamu menyukaiku. " ucap Sehun lalu menggigit kecil nipple Baekhyun dan menambahkan jarinya di dalam manhole Baekhyun.
" Nghh, Kumohon Berhenti , Ahh!" Perasaan tidak enak mulai berkumpul, namun tubuhnya tidak bisa menghentikan tindakan Sehun.
" Mari kita segera selesaikan saja, bagaimana? Ini bukan pertama kalinya juga, bukan? " Sehun membuka kancing dan resleting celananya, dan membebaskan penisnya yang sudah sesak di dalam,
" No, Please don't ,mphhh" Bibir Baekhyun kembali bertemu dengan milik Sehun. Sehun menciumnya dengan cukup brutal, menghentikan Baekhyun untuk berbicara. Tanpa disadari setetes air mata jatuh dari mata Baekhyun. Baekhyun merasakan ujung benda itu sudah bersiap masuk ke dalam manhole nya , Baekhyun tak bisa melakukan apa pun ketika kakinya telah dibuka lebar dan terangkat agar memudahkan Sehun.
BRAK!
Bugh
Baekhyun merasakan kakinya telah jatuh dari genggaman Sehun setelah seseorang mendobrak pintu untuk masuk ke dalam ruangan.
" Brengsek! " Sehun mengumpat setelah mendapat pukulan di wajahnya. Siapa yang berani mengganggu kesenangannya?
" Cepat pergi atau aku tak segan memecahkan isi kepalamu. " ucap orang yang mendobrak tadi dengan aura kemarahan yang menguar dari tubuhnya, tangannya memegang sebuah pistol yang diarahkan tepat ke tengah dahi Sehun.
" Fuck You. " umpat Sehun lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun senyum menyeringai tetap terpantri di wajahnya.
.
.
.
.
.
Jari Chanyeol mengepal melihat keadaan Baekhyun saat ini. Tubuh mungilnya terbaring tak berdaya dengan dipenuhi kissmark yang tidak ditutup sehelai benang pun. Ketika sedang tampil tadi, Chanyeol menyadari Baekhyun sudah tidak berada di tempatnya. Segera ia turun dari panggung dan mencarinya, walaupun dihadiahi kekecewaan dan kebingungan dari para penonton.
Chanyeol menyesal membawanya kesini. Tempat ini tidak pantas untuk Baekhyun.
Amarah Chanyeol bergemuruh di dakam dirinya. Ia nyaris membunuh pria yang membawa Baekhyun. Tapi amarahnya segera reda ketika melihat wajah tertidur Baekhyun. Dirinya mengambil semua pakaian Baekhyun yang berserakan di lantai ruangan itu, kamar yang disediakan oleh club tersebut. Dalam diam Chanyeol memakaikan Baekhyun pakaiannya.
Let's go home
.
.
.
.
.
Kesadaran Baekhyun perlahan mulai terkumpul dan ia merasakan dirinya berada di ruangan yang familiar baginya. Dengan aroma tubuh yang ia kenali, ia berada di kamar Chanyeol. Alisnya mengerut ketika merasakan seseorang berada diatasnya dan benda yang kenyal dan basah menempel di lehernya. Namun sensasi yang ia rasakan berbeda dengan sebelumnya, lehernya dikecup perlahan dan diberikan tanda dengan gentle.
" Mhh " sebuah desahan tak bisa Baekhyun tahan untuk lolos dari bibirnya. Orang itu seketika berhenti melakukan kegiatannya tadi. Orang itu mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangan yang mengurung tubuh Baekhyun. Mata Baekhyun perlahan terbuka dan meilhat siapa orang itu.
Loey
Chanyeol kini beralih menuju dada Baekhyun, yang baru Baekhyun sadari bahwa dia topless. Dia seharusnya memberontak, tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Jemarinya justru ingin memegang rambut Chanyeol dan menahannya untuk tidak berhenti.
" Bi, ingat bahwa akulah yang membuat tanda ini, kamu mengerti? " ucap Chanyeol sebelum menyatukan bibir mereka.
.
.
.
.
.
Kepala Baekhyun berdenyut nyeri dan ia merasakan mual. Perlahan Baekhyun bangun dari tempat tidur dan menyadari dirinya tidak memakai pakaiannya semalam tetapi memakai celana dan kaos yang nyaman. Baekhyun berjalan menuju kamar mandi sembari mencoba mengingat-ingat kejadian semalam yang sangat buram di otaknya.
Baekhyun terpaku melihat pantulan dirinya dari kaca yang ia lewati. Lehernya dipenuhi tanda keunguan, ia segera mengangkat kaosnya dan tanda yang sama berada di sekitar dadanya juga.
'Apa yang sudah kulakukan? ' kepala Baekhyun semakin berdenyut ketika mencoba mengingat siapa yang melakukannya.
Bi, ingat bahwa akulah yang membuat tanda ini
' Loey?'
.
.
.
.
.
Baekhyun mencari hoodienya, yang ternyata telah berada di keranjang cucian kotor. Ia lalu memakainya untuk menutupi tanda-tanda itu untuk tidak terekspos secara jelas.
Baekhyun mendapati Chanyeol sedang berada di dapur dengan masakan yang menurut Baekhyun baru selesai ia buat.
" Duduklah, aku membuatmu makanan untuk meredakan mualmu. " Chanyeol meletakan semangkuk sup hangat di meja makan.
Baekhyun menuruti perkataan Chanyeol. Mulutnya ingin menanyakan kepastian akan spekulasinya tadi, namun ketika dirinya melihat Chanyeol, keberaniannya langsung hilang. Baekhyun mulai memakan sup buatan Chanyeol yang ternyata cukup enak walaupun selera makannya sempat hilang.
Di dalam pikiran Baekhyun, satu per satu ingatan mulai muncul. Ia mengingat sensasi pria yang menyentuhnya semalam, namun perasaan yang muncul bercampur aduk di dalamnya. Perasaan lega dan perasaan takut.
'Baekhyun?' mata Baekhyun membola ketika mengingat namanya disebut semalam. Bagaimana ia bertemu Sehun dan mengobrol, lalu ingatannya kembali buram. Baekhyun kembali larut dalam pikirannya, jadi siapa? Sehunkah atau Loey?
" Kalau supnya dingin, efek healing nya akan hilang loh." Suara Chanyeol menginterupsi lamunan Baekhyun. Ia duduk bersebrangan dengan Baekhyun dengan semangkuk cereal dengan susu.
" Merasa lebih baik? " tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk menjawabnya.
" Maafkan aku. Aku tidak akan membawamu kesana lagi. " ucap Chanyeol dengan ketegasan dalam perkataannya.
" Tidak usah meminta maaf, ini salahku minum padahal aku tidak kuat meminum alcohol. Dan aku tidak memberitahumu sebelumnya. "
" Katakan bila kamu masih merasa sakit, ok?" Baekhyun tersenyum dan mengangguk kembali menjawab perintah Chanyeol.
.
.
.
.
.
Baekhyun sedang terduduk di sofa dengan tangannya memegang dompet miliknya. Dirinya melihat foto yang terselip di dalam dompet itu. Salah satu fotonya menampakan wajah dua orang pria yang tersenyum di dalam photobox. Foto dirinya dan Sehun.
Mereka pertama kali bertemu di sebuah acara makan malam ketika Baekhyun berumur 7 tahun.
Flashback on
" Hahh, membosankan. " Baekhyun kecil berada di salah satu meja yang disiapkan di acara itu. Acaranya diadakan di rumah seseorang, namun luasnya seperti tidak pantas lagi dikatakan sebagai rumah. Orangtua nya sudah entah berada dimana, dan Baekhyun tidak memiliki satu pun yang menarik perhatiannya.
Baekhyun turun dari kursinya dan memutuskan untuk berkeliling di dalam rumah si pemilik acara.
Baekhyun tidak ingat jalan yang sudah ia lalui, karena ia sekarang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi lukisan dan barang seni lainnya. Mata Baekhyun terpaku pada sebuah benda yang terpajang di tengah ruangan tersebut. Sebuah piano yang dilapisi kaca bening, yang berkilau karena memantulkan cahaya dari lampu di atasnya. Baekhyun sangat terpukau akan keberadaan piano tersebut sampai kakinya tidak tahan untuk segera menghampirinya.
Jemari lentik Baekhyun telah menyentuh tuts piano itu, lalu memainkan lagu yang baru ia kuasai dan sering ia mainkan di rumahnya. River Flows in You. Baekhyun semakin jatuh cinta pada piano tersebut.
" River Flows in You? " Baekhyun tidak tau bahwa orang lain telah masuk ruangan itu juga dan sekarang berdiri di belakangnya. Baekhyun mengangguk dan tetap memainkan permainan pianonya, walaupun ia masih kurang lancar memainkannya.
" Piano ini bagus sekali, dan kamu memainkannya dengan cukup baik. Yah walaupun ada beberapa yang kurang."
" Ya, aku tau itu. " Baekhyun sedikit cemberut mendengarnya, tapi ia menyadari dia memang masih kurang bisa memainkannya.
Baekhyun menyadari orang tersebut duduk di sampingnya dan ikut memainkan piano tanpa merusak permainan Baekhyun. Baekhyun melihat tangan dengan jas berwarna putih ikut menyempurnakan permainannya. Jika melihat dari ukuran tangannya, mungkin mereka seumuran.
Tiba-tiba permainan orang disampingnya berhenti dan orang itu pergi dengan sedikit berlari keluar ruangan. Baekhyun hanya menatapnya bingung dan berharap bertemu dengannya lagi.
.
.
.
.
.
.
Sepeninggal orang tadi, Baekhyun kehilangan minat untuk memainkan piano itu. Ia memutuskan untuk berkeliling kembali, dan perhatian barunya jatuh pada sebuah rumah kaca.
Baekhyun memasuki bangunan itu dan menemukan berbagai tanaman indah yang disusun sedemikian rupa sebagai tempat penghilang penat. Terdapat sebuah meja kecil dengan dua kursi diujung bangunan itu. Dan ada sebuah air terjun mini yang membuat suara menyejukan hati.
" Kamu yang bermain tadi kan? Kamu sangat mengaggumkan. " Baekhyun terkejut karena ternyata ia tidak sendirian di ruangan tersebut. Baekhyun membalikan tubuhnya dan melihat orang itu lagi dengan jas putihnya.
" Namamu siapa?" Tanya Baekhyun langsung. Memastikan ia tidak kehilangan orang ini lagi.
" Oh Sehun. Dan kamu?"
" Byun Baekhyun."
Semenjak perkenalan, mereka menjadi teman dekat di hari itu. Namun Baekhyun tidak pernah bertemu lagi dengan Sehun selain di acara itu. Tetapi Baekhyun tetap menyimpan nama Sehun di memori jangka panjangnya.
.
.
.
.
.
" Oh Sehun?"
" Ya?"
" Oh Sehun! Ini aku Byun Baekhyun, kau ingat aku?"
"Mmm. Ah, rumah kaca? "
" Ya! Astaga, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Terima kasih karena wajahmu tidak banyak berubah, hahaha!" Baekhyun tidak percaya teman masa kecilnya berada di hadapannya kembali.
" Apa kamu bersekolah disini juga? " tanya Baekhyun.
" Sepertinya seragam kita menjelaskan pertanyaanmu."
" Waaaaa! Aku tidak percaya ini! Mari kita terus bersama selama SMA ini!" ucap Baekhyun antusias.
" Byun Baekhyun si periang kembali lagi. Hahaha" tawa Sehun melihat tingkah Baekhyun dan tangannya terangkat untuk mengusak gemas rambut Baekhyun.
Dan inilah awal mula kedekatan Sehun dan Baekhyun selama masa sekolah mereka. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, walaupun kadang Sehun meminta agar kedekatan mereka tidak terlalu terlihat jelas. Mereka sering berinteraksi melewati pesan dan bertemu secara rahasia di luar sekolah. Sehun yang selalu ada untuknya, Sehun yang peduli padanya, dan Sehun yang berharga untuknya.
.
.
.
.
.
" Apa tidak apa melakukan ini?"
" Tidak apa, Baek. Kita tidak melakukan kejahatan. Ini yang dilakukan orang yang saling menyukai. "
" Eomma ingin aku menjadi orang yang baik, Sehun."
" Baekhyun, kau anak yang baik. Aku menyukaimu."
" Aku juga menyukaimu, Sehun."
Sehun yang menjadi ciuman pertamanya, Sehun yang menjadi cinta pertama, Sehun yang menjadi orang pertama memasukinya.
.
.
.
.
.
[ To Be Continued ]
