A/N : I'm on fire! Yeah! Fast update, kawan-kawin! Kenapa bisa cepet, ya? Apa ini dampak baru nonton cerita pembunuhan di TV? Atau dampak liburan yang sangat menyenangkan? Ahahah! Sering-sering, deh, UI libur. Eh, salah. Sering-sering, deh, Obama ke UI biar saya libur lebih lama lagi. #plak
Disclaimer : Kepunyaan Hidekazu Himaruya. Sisanya silakan pilah-pilih sendiri mana yang punyanya siapa (ketauan males nulis disclaimer)
Warning : Sedikit mikir, mungkin? Sho-ai hint. Dan di bagian awal ada child abuse.
Listening to : "The Godfather Theme", "O Sole Mio" by Pavarotti, dan "Speak Softly Love" by Andy Williams. Intinya gue dengerin OST-nya 'Godfather' sepanjang ngetik ini. PENGEN NONTON GODFATHER LAGIIII! SAYA KANGEN DON CORLEONE! Gila, Al Pacino ganteng banget... #OOT #abaikan
"Dasar tidak berguna! Menjijikan!"
Tamparan keras mendarat di pipi dan meninggalkan bekas merah yang menyakitkan.
"Kalian berdua hina! Apa kalian sadar apa yang kalian lakukan, hah?"
Kembali pukulan dilayangkan tepat di perutnya.
"Menjijikan! Tak pantas kalian lahir ke dunia ini!"
Kali ini tendangan telak mengena di perut, membuat korbannya terjatuh dan tersungkur di lantai sambil merintih.
"Aku malu mempunyai anak seperti kalian! Kalian memalukan!"
Tanpa terasa air mata mulai bergulir menuruni pipi yang memerah karena tamparan keras.
"Apa gunanya aku merawat kalian berdua kalau hasilnya akan seperti ini? Kalian mengecewakan! Sampah! Menjijikan!"
Kata-kata yang begitu menusuk malah membuat hatinya semakin sakit dan perih.
"Sampah seperti kalian tak pantas hidup di dunia ini!"
Sesak dadanya menahan hinaan yang bertubi-tubi.
"Tahu kah kau siapa yang kau ajak untuk bercinta, hah! Dia adikmu! Adikmu sendiri mau kau nodai? Memalukan!"
"Ayah, sudahlah. Kasian Kakak..."
"Diam kau! Kakakmu ini harus diberi pelajaran! Dan jangan anggap kau bisa lepas begitu saja dariku! Sehabis kakakmu ini, aku akan menghajarmu juga, Razak!"
Kepalanya masih tertunduk malu dengan posisi tubuh bersimpuh di lantai. Enggan ia mendongak dan menatap lurus sosok tinggi tegap ayahnya.
"Kau ini kakak sulung! Seharusnya kau beri contoh yang baik bagi dua adikmu yang masih kecil! Kalau ini apa? Ajaran untuk incest? Untuk menjadi gay sepertimu? Menjijikan!"
Punggungnya bergetar menahan tangis saat dua adik balitanya disebut.
"Aku tidak pernah membesarkan anakku untuk menjadi gay, apalagi sampai incest sepertimu! Dasar anak durhaka!"
Ia tak bergeming dari posisinya. Terus ia terdiam, mendengarkan tiap caci maki yang dilontarkan ayahnya. Tiap pukulan, tendangan, dan tamparan ia terima tanpa perlawanan.
"Anak sepertimu seharus mati! Tak pantas kau hidup! Aku tak sudi menjadi ayahmu!"
Semua cacian dan rasa sakit itu ia telan bulat-bulat sebagai dampak penyesalannya.
"Kau dengar aku? Kau seharusnya mati!"
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia setuju dengan ayahnya.
"Mati!"
Ia seharusnya mati saja.
Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya
Commedia dell'Arte © anonymous
Godfather © are. key. take. tour
Sepasang mata abu-abu langsung terbuka lebar. Napasnya memburu dan jantung berdegup kencang. Dipandangnya suasana sekitar. Masih tetap sama seperti ia ingat terakhir kali. Ia masih berbaring di atas tempat tidurnya yang begitu familiar di dalam apartemen sewaannya. Sinar mentari menembus lembut dari balik sheer shade. Tirainya sendiri sudah dikesampingkan oleh seseorang. Mungkin oleh adiknya.
"Mimpi..." bisik Rangga pelan.
Sebuah ketukan pelan terdengar dari arah pintu yang kemudian diikuti sosok Razak muncul dari baliknya. Senyum cerah ia berikan kepada sang kakak yang baru terbangun. "Sudah bangun? Waktunya tepat sekali. Aku baru saja selesai membuat sarapan. Ayo, makan."
"... Iya. Aku segera kesana." sahut Rangga lemah. Pikirannya masih tak henti-hentinya memutar kembali ingatan mengenai masa lalu. Tentang mimpi itu.
Menyadari kejanggalan pada kondisi kakaknya, Razak berjalan memasuki kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Ditatapnya Rangga dengan penuh perhatian dan kasih sayang, serta dibelainya rambut hitam legam saudaranya itu. "Kau pucat. Mimpi buruk?" tanyanya.
Rangga mengangguk pelan. Tubuhnya masih sedikit gemetar akibat mimpi buruk yang dia lihat tadi. Seolah-olah ia terlempar kembali ke masa lalu dan menerima semua siksaan itu kembali. Semua seperti nyata, bahkan sakit yang ia lihat juga terasa menyengat di seluruh tubuhnya.
"Rangga."
Kepalanya mendongak dan melihat wajah penuh kekhawatiran Razak. "Ma... Maaf. Aku..."
Dengan gerakan selembut mungkin, Razak menarik Rangga dan memeluknya erat. "Selalu begini." bisiknya lembut. Tangannya bergerak naik dan turun di punggung sang kakak, berusaha untuk menenangkan sedikit kegundahan laki-laki yang ia cintai ini. "Kau selalu mendapat mimpi buruk setiap kali kita baru berhubungan intim."
"... Maaf. Aku tidak..."
Razak menjauhkan tubuhnya sebentar untuk kemudian mencium Rangga di bibir. Ciuman singkat dan penuh kelembutan. "Suatu hari nanti, akan kubuat kau lupa tentang masa lalu. Akan kubuat kau supaya terbangun dengan tenang di pagi hari. Akan kubuat kau lupa akan semuanya, Kak."
DAAK!
"ADUUUHH!" jerit Antonio ketika dahinya beradu dengan tepi meja. Akibat kantuk yang luar biasa, ia tak sanggup menahan mata dan otaknya untuk terus menyala. Akibatnya ia malah tertidur di kursinya dan kasus dahi menghantam kayu pun terjadi. Sekarang, sang detektif nomer satu ini sibuk mengaduh kesakitan sambil membungkuk tak jelas di kursinya dan memegangi kepalanya yang cedera.
Mendengar jeritan yang cukup kencang, Francis dan Gilbert langsung menyambangi kantor Antonio dan membuka paksa pintu kantor sahabat mereka. Raut wajah penuh kekhwatiran tampak jelas di wajah keduanya.
"Kenapa, Antonio? Ada apa?" tanya Francis panik.
"Apa ada maling? Ada barang yang hilang? Atau ada stalker di kantormu?" tanya Gilbert lebih tidak masuk akal lagi. "Kenapa, Antonio?"
"Bu... Bukan apa-apa, kok. Kepalaku hanya terantuk meja." jawab Antonio pelan, masih meratapi nasib naasnya. "Sepertinya aku ketiduran dan malah menghantam meja seperti itu..."
Kedua orang yang semula tampak luar biasa panik ini menghembuskan napas panjang, lega. "Kami kira kenapa." gumam Francis.
"Lagipula, ini salahmu, Antonio! Kau sengaja begadang sampai larut malam hanya untuk menyelidiki kasus baru ini." kata Gilbert dengan dahi berkerenyit. "Makanya kau mengantuk seperti itu. Coba kalau kau istirahat dulu. Pulang ke apartemenmu dan tidur sejenak. Kalau ketiduran seperti itu, kan, tidak awesome."
"Cuma buang-buang waktu, Gil. Lebih baik aku disini, menyelesaikan kasus ini. Semakin cepat kasus berakhir, semakin baik, kan?" sanggah Antonio. Ia bahkan kembali mengambil berkas-berkas penyelidikan dan membacanya. "Oh, iya. Ngomong-ngomong, apa sudah ada laporan dari Willem mengenai logistik apa saja yang ada di dalam gudang yang terbakar itu?" tanyanya.
"Sebagian besar adalah kokain yang dibungkus dalam kantung transparan seberat satu kilogram. Beberapa merupakan marijuana yang masih dalam bentuk lembaran dan berkantung-kantung pil ekstasi. Semuanya dimasukan ke dalam peti-peti kayu yang siap diangkut dan sudah tersegel." sahut Gilbert, membacakan ulang hasil penemuan Willem yang telah ia catat di dalam buku catatannya.
"Hmm... Lalu, Willem sendiri kemana? Kenapa bukan dia yang memberikan laporan langsung?" tanya Antonio curiga dan sedikit kesal.
"Ketiduran di depan komputer." balas Francis. Ia melirik sosok Willem yang tertidur pulas di depan komputer yang masih berpendar menyala. Berkas-berkas penyelidikan berserakan di bawah lipatan tangan sang pemuda berambut pirang jabrik itu. "Nasibnya sama sepertimu. Begadang semalaman suntuk dan kehabisan kopi. Berakhir dengan ketiduran di tengah penyelidikan ditemani berkas-berkas penting." kelakar Francis.
Antonio mendengus pelan sambil memutar bola matanya. "Lalu kalian berdua yang masih segar bugar. Ada laporan apalagi yang kalian temukan?" tanyanya.
"Tak banyak." gumam Gilbert seraya membolak-balik berkas-berkas yang ia bawa. Terbawa, sebenarnya. Dia terlalu kaget mendengar jeritan Antonio sampai lupa meletakan kembali dokumen apapun yang ia pegang. "Selain fakta bahwa sudah ada tiga gudang yang dibakar juga akhir-akhir ini dan salah satunya adalah gudang penyimpan narkoba, tidak ada yang lainnya."
"Dua gudang pertama yang dibakar terletak hampir sama terpencilnya dengan gudang ketiga yang kita datangi kemarin. Yang pertama terletak jauh dari pemukiman dan terletak sedikit ke dalam hutan. Gudang ini habis terbakar tanpa menyisakan apapun, sehingga polisi sulit mencari tahu apa yang ada di dalam sana. Ditemukan pertama kali oleh seorang penjaga hutan yang melihat asap hitam di tengah hutan. Ia kemudian segera memanggil pemadam kebakaran. Kondisi angin dan pepohonan yang cukup padat membuat truk pemadam butuh waktu lama untuk memadamkan api. Bahkan, api sempat merambat ke pohon-pohon di sekitarnya dan menimbulkan kebakaran yang cukup parah." Kali ini giliran Francis yang membeberkan hasil penyelidikannya. "Gudang yang kedua kali ini terletak dekat dengan pelabuhan tua yang sudah tak terpakai. Posisi gudang ini bahkan terlihat dari gudang ketiga yang kita datangi kemarin. Kali ini juga tidak menyisakan apa-apa. Gudang itu habis terbakar dalam sekejap."
"Persamaan dari keduanya," timpal Gilbert. "Adalah kenyataan bahwa dua-duanya tidak memiliki izin bangunan resmi. Aku sudah mengeceknya pada dinas pembangunan kota dan perpajakan. Di daerah itu tak pernah ada izin untuk membangun gudang. Tak ada surat tanah, surat pajak, tak ada apapun. Sama seperti gudang kita yang ketiga ini."
"Sama-sama tak mempunyai surat izin bangunan dan terpencil." gumam Antonio pelan. "Sepertinya gudang-gudang itu menyimpan barang-barang yang terlarang untuk diperdagangkan."
"Itu juga yang kami pikirkan."
"Yang pertama di hutan, yang kedua di pelabuhan, dan yang terakhir di atas bukit." Antonio menarik sebuah peta kota dan membeberkannya di atas meja. Diambilnya sebuah spidol merah untuk menandai ketiga tempat tersebut.
"Apa yang kau dapat, Antonio?" tanya Francis. Ia dan Gilbert ikut memperhatikan peta yang telah ditandai tersebut.
"Entahlah..." sahut Antonio tak yakin. "Padahal aku berharap bisa menemukan pelakunya dengan menemukan posisi tempat kebakarannya ini."
Di saat tiga orang ini sedang sibuk mengamati peta, muncullah Rangga dari balik pintu. Dahinya berkerut bingung saat melihat tiga orang seniornya itu sibuk berdebat di atas sebuah peta. "Sedang apa kalian?" tanyanya seraya menghampiri meja seniornya itu.
Antonio mendongak dan tersenyum cerah saat melihat partner-nya berdiri disana. "Hai, Rangga!" sapanya ceria. "Bagaimana adikmu? Sudah bertemu dengannya?"
"Ya. Dia malah sampai lebih dulu dari aku. Kalian sedang apa?" tanyanya lagi.
"Ini. Kami sedang mencoba untuk menyelidiki kebakaran yang kemarin. Ternyata, ada dua gudang lainnya yang dibakar seperti kasus kemarin. Sialnya, dua gudang itu terbakar habis sehingga tidak ada bukti yang tertinggal." kata Francis menjelaskan pada rookie baru itu.
Rangga sendiri hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Sekarang, kami sedang mencoba untuk mencari motif dan kemungkinan lainnya dari posisi gudang-gudang ini." kata Antonio. Mata hijaunya masih menatap lekat peta yang terhampar di bawahnya. "Mungkin, dari informasi ini kita bisa menemukan—"
"Seperti segitiga, ya."
Mendengar omongan Rangga yang tiba-tiba dan agak di luar konteks membuat tiga orang polisi lainnya mendongak dan memasang tampang super bingung. Sementara yang menjadi pusat perhatian mereka masih cuek bebek dan menatap peta di depannya.
"... Seperti... segitiga?" ulang Gilbert bingung. "Apa maksudmu dengan 'seperti segitiga'? Tidak awesome sekali omonganmu, Rangga."
"Ini. Kalau ditarik garis penghubung, bisa jadi segitiga." jawab Rangga sambil mengarahkan telunjuknya dari satu titik ke titik merah lainnya. Melihat ekspresi bingung dan tak mengerti dari tiga orang seniornya membuat Rangga mendesah kesal. "Mana spidol?"
Tanpa basa-basi, Rangga langsung menyambar spidol yang disodorkan oleh Antonio dan mulai menghubungkan tiap titik. "Dari hutan lalu ke pelabuhan," Satu garis terbentuk. "Lalu berlanjut ke bukit yang kemarin." Garis kedua terbentuk. "Lalu yang terakhir, hubungkan ke tempat pertama dan jadilah segitiga sempurna." katanya bangga saat segitiga itu tercipta.
"Kau benar juga..." gumam Francis.
"Berarti, kasus kemarin itu memang yang terakhir, ya?" tebak Gilbert, tak yakin.
Belum sempat Antonio mengungkapkan hipotesanya sendiri terdengar dering telepon berbunyi dengan cukup nyaring. Sebuah telepon dari Gupta yang mengatakan ada gudang lainnya yang terbakar. Kali ini memakan korban jiwa.
"Korban bernama Im Yong Soo, seorang berkebangsaan Korea Selatan. Tubuhnya ditemukan tewas terbakar bersamaan dengan gedung. Wang Yao, kakak korban, adalah orang pertama yang menemukan adiknya ini." kata Berwald Oxsentierna.
Antonio terdiam menatap mayat yang sudah terbakar di depannya. Tubuhnya sudah hitam legam, sulit untuk mengidentifikasinya. Kilatan lampu blitz dari kamera tim forensik terus sahut menyahut mewarnai gudang yang menghitam karena api dan asap. Di sekitar korban terdapat bertumpuk-tumpuk peti kayu yang sudah terbakar dan sulit diidentifikasikan isinya. Beruntung beberapa peti lainnya masih terselamatkan dan sekarang sedang diperiksa oleh Gilbert dan Willem. Sepertinya lagi-lagi berisi obat-obatan terlarang.
Sang detektif berambut cokelat ini berjalan pelan mengitari ruangan tempat mayat ditemukan. Dengan adanya peti-peti besar ini, ruang gerak bagi korban cukup terbatas, bahkan hampir sulit. Antonio menunduk dan melihat adanya bekas dorongan dari bawah masing-masing peti. Sepertinya pelaku ingin mengurangi ruang gerak korban. Pintu masuk satu-satunya adalah sebuah pintu besi dengan sistem penguncian yang rumit. Terlihat pula pintu itu masih tertutup rapat. Selain pintu, satu-satunya bukaan yang ada di gudang itu adalah sebuah teralis besi tak jauh dari posisi korban tewas.
'Di bawah sini tumpukan petinya lebih sedikit.' pikir Antonio sambil berdiri tepat di bawah jendela berteralis itu. 'Lagipula, teralis itu tinggi juga. Tak mungkin sampai kalau tidak menggunakan pijakan. Apalagi diteralis seperti itu. Tidak mungkin bisa dilewati.'
"Kau menemukan sesuatu, Carriedo?" tanya Inspektur Oxsentierna. Inspektur berambut pirang itu berjalan mendekati Antonio.
"Belum. Bagaimana dengan timmu?" balas Antonio.
"Tak ada jejak kaki, tak ada pesan, dan tak ada yang lainnya. Hanya ada korban yang tewas terpanggang." sahut Berwald. "Tapi, kali ini kami berhasil menemukan tersangkanya. Ada empat orang, yaitu Wang Yao, seorang Russia bernama Ivan Braginski, Feliks Lukasiewicz yang berkebangsaan Polandia, dan Sadiq Adnan berkebangsaan Turki."
"Kenapa mereka berempat bisa jadi tersangka?" tanya Antonio dengan dahi berkerenyit.
"Mereka adalah empat orang yang belakangan ini berada di sekitar gudang antara pukul 7 sampai 9 pagi selain korban. Entah apa yang mereka lakukan." jawab Berwald santai. "Kau mau menginterogasi mereka?"
Antonio duduk di sebuah ruangan kecil kedap suara. Satu sisi dari ruang interogasi merupakan kaca satu arah yang tebal, membuat para polisi lainnya yang berada di ruangan sebelahnya bisa melihat jelas kejadian di dalam ruang interogasi. Sebuah meja kayu berwarna abu-abu dan tiga buah kursi tampak mengitari meja tersebut. Satu kursi diduduki oleh seorang pemuda bertubuh kecil berambut hitam panjang. Mata cokelatnya menatap bingung ke sekelilingnya.
"Tak apa-apa, kok." kata Antonio santai sambil tersenyum untuk menenangkan tersangka. Tersangka yang panik dan merasa tak nyaman akan sulit untuk diinterogasi. "Kami hanya ingin menanyakan apa saja yang kau lakukan selama jam 7 pagi hingga dua jam berikutnya sebelum adikmu ditemukan."
Wang Yao, sang pemuda berambut panjang itu hanya mengangguk kecil. Mata cokelatnya masih mengerling awas ke arah kaca satu arah di sampingnya.
"Nah, pertanyaan pertama. Apa yang kau lakukan disana?" tanya Antonio.
Rangga yang sedaritadi sibuk mengetik di laptopnya menghentikan gerakan jarinya dan melirik Yao dari balik laptopnya. Menunggu jawaban.
Sang tersangka terdiam sejenak, lalu kemudian membuka mulutnya. "Aku menyusul Yong Soo ke gudang itu karena khawatir. Ia sudah semalaman tidak pulang ke rumah dan melihat gelagatnya yang agak aneh akhir-akhir ini membuatku semakin khawatir, aru."
"Gelagatnya yang aneh? Apa maksudmu?"
"Seperti... Seperti ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa." sahut Yao lambat-lambat. "Awalnya aku pikir ia terlibat kegiatan geng; sesuatu yang berbahaya dan menantang maut. Aku tak menyangka kalau bisa jadi seperti ini, aru..."
"Apa adikmu bekerja disana?" Kali ini giliran Rangga yang bertanya.
"Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak, aru. Aku kurang yakin."
"Kenapa kau bisa kurang yakin seperti itu? Memangnya kau bisa tahu adikmu berada di gudang itu dari mana?"
"Dari ini, aru." Yao mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya. Sebuah alamat tertulis jelas di atas kertas lusuh itu. "Aku menemukannya di saku celana Yong Soo, tepat sebelum aku mencucinya, aru. Sepertinya ia lupa kalau ada kertas itu di saku itu. Awalnya aku bahkan tak tahu itu adalah gudang. Kukira itu alamat teman Yong Soo atau semacamnya."
Antonio mengambil kertas yang disodorkan oleh Yao. Memang di kertas itu tertulis jelas alamat lengkap gudang yang hari ini terbakar. "Jadi, ini yang membuatmu pergi ke gudang itu dengan harapan untuk menemukan adikmu?" tanya Antonio.
Yao mengangguk. "Aku tak menyangka saat datang kesana malah terjadi kebakaran besar seperti itu. Aku juga tak percaya kalau adikku berada di dalamnya..." bisiknya lirih. Rasa penyesalan terdengar sangat jelas dari suaranya.
"Ngomong-ngomong soal adikmu." kata Rangga cukup keras. Matanya masih tertuju lurus ke layar laptop yang duduk manis di pangkuannya. "Nama marga kalian berbeda, ya. Apa benar kalian kakak adik?"
Pertanyaan yang cukup menohok dan terlalu ke sasaran menurut Antonio. Tapi, mungkin bisa membantu mereka dalam penyelidikan. Siapa tahu Wang Yao ini berbohong mengenai statusnya dengan korban. "Benar juga. Apa kalian benar-benar saudara kandung?"
"Sebenarnya dia adik tiriku, aru. Kami mempunyai ibu yang sama, tapi beda ayah. Yong Soo tinggal denganku sejak ayahnya meninggal sekitar tiga tahun yang lalu. Bisa dibilang itu saat-saat yang sulit bagiku untuk merawatnya, mengingat kami berdua tidak terlalu dekat, aru. Mungkin itu juga alasannya kenapa bisa terlibat transaksi narkoba besar-besaran seperti itu..." sahut Yao penuh kesedihan. "Ayah dan ibuku sudah lama meninggal; jauh lama sebelum ayah Yong Soo meninggal."
Antonio mengangguk mengerti. "Lalu, bagaimana dengan tiga orang lainnya? Kau kenal mereka?" tanya Antonio sambil menyodorkan tiga foto tersangka lainnya kepada Yao.
Yao melihat tiga foto yang tersaji di depannya dengan dahi berkerut. "Tidak. Aku tak kenal siapa mereka. Yang aku tahu, mereka ada di tempat kejadian di saat bersamaan dengan kedatanganku."
"Begitu... Terima kasih kalau begitu. Kau boleh pergi."
"Tuan Braginski, apa yang Anda lakukan di gudang itu sekitar pukul 7 pagi hingga dua jam setelahnya?"
"Entahlah. Aku sedang jogging pagi di kompleks rumahku saat aku melihat asap mengepul di udara, da." sahut Ivan dengan senyum ceria merekah di wajahnya. "Lihat saja. Aku masih memakai baju training-ku karena aku tak sempat ganti baju." lanjutnya. Ia mengangkat kakinya untuk menunjukan celana training dan sepatu jogging yang ia kenakan.
Antonio menoleh ke arah Rangga bertepatan dengan sang pemuda Asia itu memutar laptopnya menghadap Antonio dan menunjukan peta via satelit. Google Map, lebih tepatnya. "Dia tidak bohong, Antonio." kata Rangga. "Memang tak jauh dari gudang itu, ada satu kompleks perumahan yang cukup elit."
"Baiklah. Paling tidak, kami tahu kau tidak bohong untuk bagian jogging." gumam Antonio.
"Tapi aku memang tidak bohong, da. Untuk apa aku membunuh orang yang tak aku kenal dan membakar tempat yang aku sama sekali tak tahu tempat apa itu, da?" ucap Ivan. Masih tersenyum lebar.
"... Jadi, kau tidak tahu itu tempat apa dan malah jogging ke sana untuk melihat situasi?"
"Tentu! Ditambah lagi aku orang yang sangat penasaran, da. Selalu mau tahu urusan orang. Ufu!"
"... Rasanya interogasi kita sudahi saja sampai sini. Senyum psikopatmu itu mulai membuat buku kudukku berdiri..."
"Masa', da?"
"Tuan Sadiq. Dimana Anda antara pukul 7 hingga 9 pagi hari ini?" tanya Antonio pada pria bertubuh besar berkulit gelap di depannya.
"He? Aku? Hmm... Aku baru kembali dari 'Seven Eleven' dan melihat kepulan asap. Penasaran, aku coba hampiri. Eh, ternyata malah kebakaran besar. Aku bahkan baru tahu sekarang kalau ada orang terjebak di dalam sana." jawab Sadiq terlalu santai.
Antonio menatap ganjil sang om-om ini. "... Kenapa harus 'Seven Eleven', sih..." gumamnya tak jelas.
"Karena itu satu-satunya tempat yang buka 24 jam! Kau pikir bagaimana seorang pria single sepertiku bisa sarapan kalau bukan beli di toko terdekat? Memangnya kau mau datang ke rumahku dan memasakan sarapan? Kau mau jadi istriku dan mengurusku terus sepanjang hari?" tanya Sadiq balik.
Sudut bibir Antonio berkedut saat mendengar 'lamaran' yang diajukan Sadiq. Menyebalkan juga orang Turki satu ini. Mata Antonio menatap tajam Rangga yang terkikik geli di sudut ruangan. Rookie itu juga brengsek rupanya. Beraninya menertawakan senior.
"Kau punya buktinya?" Antonio kembali melanjutkan interogasi.
"Tentu." Sadiq membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah bon. "Ini bonnya. Aku selalu punya kebiasaan untuk menyimpan bon selama sebulan, baru setelahnya kubuang. Peristiwa menyebalkan ketika aku mendapatkan buku 'Harry Potter' yang tidak lengkap sudah cukup mengajariku."
Antonio hanya mengangguk pelan, mengiyakan informasi yang tidak perlu itu. Ia mengamati bon yang disodorkan Sadiq dan membaca apa saja yang ia beli. Satu hot dog, 'Slurpee' ukuran besar, kripik kentang, permen, dan obat pembersih lantai.
"Interogasinya sudah cukup. Terima kasih atas kerja samanya." kata Antonio dan mengembalikan bon belanjaan itu pada Sadiq.
"Eh, ngomong-ngomong tawaranku itu masih berlaku, lho. Bagaimana? Kau mau jadi istriku? Kau manis, sih."
"Keluar sekarang sebelum kutembak kau."
"Halo! Namaku Feliks Lukasiewicz, orang Polandia paling keren seluruh jagat raya! Umurku 23 tahun dan masih single. Agak aneh sebenarnya kenapa aku yang sangat tampan dan keren ini bisa single sampai sekarang. Apa para perempuan itu terlalu takut kalau pesonanya tertutupi olehku yang sangat sangat tampan ini? Dan ngomong-ngomong, aku ingin beli kuda poni Sialnya, tabunganku terus habis. Hiks."
Ingin rasanya Antonio menghantamkan kepalanya ke tembok terdekat begitu tersangka yang berikutnya masuk. Entah kenapa sedari tadi tersangka yang ia interogasi semuanya sinting. Ivan itu sangat sinting dengan senyum psikopatnya. Sadiq malah sibuk melamarnya tidak jelas. Dan yang ini malah asik membesar-besarkan dirinya. Hanya Yao saja yang tergolong normal. Kehadiran Rangga di ruang interogasi juga tidak terlalu membantu. Si pemuda Indonesia ini malah asik tertawa-tawa geli setiap kali tersangka mulai bertingkah. Bahkan ketika Ivan Braginski sibuk mengirim hawa-hawa membunuh ke Antonio, si rookie satu itu malah tertawa pelan. Sewaktu Sadiq dia terkikik geli. Sekarang, pemuda itu malah nyaris tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Feliks yang sangat berlebihan.
"Sebentar, Tuan Lukasiewicz. Anda tidak perlu memperkenalkan diri sampai segitunya, kok..." kata Antonio pelan. Tenaganya bisa terkuras habis kalau harus mengatasi tersangka yang ajaib seperti ini. Di saat seperti inilah Antonio menantikan kedatangan anggota Commedia dell'Arte di depannya. Siapa saja. Mau itu Arlecchino, Brighella, atau sang big boss, Il Capitano juga ia akan dengan senang hati meladeni. Tak sanggup ia berada satu ruangan dengan orang ajaib macam Feliks ini. "Cukup ceritakan saja apa yang Anda lakukan selama jam 7 hingga 9 hari ini."
"Hari ini? Hmm... Entahlah. Aku yang super keren ini lupa apa saja yang kulakukan. Yah, soalnya aku yang sangat keren ini terlalu banyak aktivitas sampai sulit otakku yang super jenius ini mengingat-ingat apa saja yang..."
"Jawab sekarang sebelum saya tembak Anda."
"Oke, oke. Aku yang keren ini sedang berada di rumah, sibuk memikirkan nasibku yang sangat luar biasa ini kenapa bisa sehampa ini. Kemudian, aku menemukan jawabannya! Aku butuh perempuan! Dan dia harus sempurna sepertiku yang super tampan dan sangat keren ini. Di saat hatiku gundah gulana dan..."
"Bisa tolong langsung ke inti masalahnya?" desak Antonio tak sabar. Sebelum ia kehilangan kesabaran, interogasi ini harus segera berakhir.
"Baiklah. Intinya, aku ada di rumah dan baru bangun pagi. Ketika membuka jendela kamar, terlihat api menyala-nyala dari arah gudang itu. Sempat takut juga kalau rumah kerenku tersambar apinya, maka aku berlari kesana untuk mencaritahu apa yang terjadi. Eh, ternyata gudang itu terbakar. Untungnya tidak sampai seluruhnya."
Antonio tersenyum kecil. Akhirnya, interogasi tergila ini akan segera berakhir. "Apa ada orang lain yang bisa membuktikannya?"
"Hmm... Aku tak tahu. Sepertinya tidak. Ya, tidak ada."
"Baiklah kalau begitu." Antonio berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu ruang interogasi. "Interogasinya sudah selesai. Terima kasih atas kerja samanya."
Antonio menatap sosok Feliks yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya menghembuskan napas panjang. Lelah sekali rasanya. Ia kemudian melirik Rangga yang serius menatap layar laptopnya. Tak terasa, senyum mengembang di wajah sang detektif. Ternyata partner-nya ini sangat berdedikasi pada pekerjaannya. "Apa yang kau kerjakan, Rangga? Laporan interogasi tadi, ya?" tanyanya penasaran.
"Eh? Ini? Bukan. Aku sedang main minesweeper."
Dan sebuah hantaman keras menghujam kepala Rangga dengan penuh rasa sebal.
Sementara itu diluar kantor polisi...
"Bagaimana interogasinya?"
"Berjalan dengan cukup lancar, da."
"Hmm... Carriedo tidak curiga apa-apa padamu, kan?"
"Tidak, tentu saja. Yah, walaupun dia sempat menyinggung masalah senyum psikopatku. Memangnya se-psikopat itu, da?"
"... Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Jadi, bagaimana menurutmu sendiri? Siapa yang melakukan kebakaran itu?"
"Entahlah, da. Aku juga tak tahu."
"Begitu. Pokoknya, pelakunya harus segera ditemukan! Aku tak terima kalau salah satu gudang penting kita bisa dibakar seperti itu! Dan apa-apaan itu dengan mayatnya? Kau sudah menghubungi dia sebagai penyuplainya?"
"Sudah, tadi. Dia salah satu dari tersangkanya, kok."
"Oh, begitu. Baguslah kalau begitu. Katakan padanya, Kita mau barang yang baru segera dikirimkan ke markas induk. Aku tak mau terima resiko seperti ini terjadi lagi. Kau mengerti, Pulcinella?"
"Tentu, Il Capitano. Akan kusampaikan pesanmu padanya, da."
Willem menjatuhkan berkas-berkas berat yang ia bawa ke atas meja penyidikan. Wajahnya tampak kusut, tanda belum tidur sama sekali. Rambut pirangnya yang jabrik tampak awut-awutan dan tak berkilau seperti biasanya. Bahkan, rayuan gombal yang bisanya ia tujukan untuk Rangga juga tak terdengar hari itu.
Rangga sendiri duduk sambil bertopang dagu dan mengamati sosok pria yang selama ini mengejar-ngejarnya. "Kau kenapa? Tidak dapat asupan darah tadi pagi?" tanyanya iseng.
Willem melemparkan pandangan kesal ke arah Rangga. Kalau bukan karena statusnya sebagai lelaki idaman Willem, sudah pasti bogem mendarat di pipi Rangga yang empuk itu. "Sembarangan saja kau bicara. Aku sibuk meneliti kasus ini, tahu. Aku dan Antonio begadang semalaman di kantor."
"Oh... Pantas ada kantung hitam di bawah matamu. Kau jadi semakin mirip vampir. Bedanya, kau sekarang lebih mirip vampir buatan Bram Stoker daripada Stephenie Meyer." ledek Rangga, kembali menggunakan istilah vampir yang entah sejak kapan sudah melekat pada diri Willem.
"Bisakah kau berhenti menyebutku sebagai vampir? Aku bukan vampir!"
"Kalau kau sangkal malah semakin mencurigakan."
"Kenapa memangnya dengan vampir, sih? Kau tergila-gila dengan vampir? Kau mau kugigit?"
"Ih. Tidak, terima kasih. Aku masih mau menjadi manusia normal. Terima kasih untuk tawarannya, Tuan Vampir."
"Sudah kubilang jangan panggil aku vampir. Kau benar-benar minta digigit, ya."
"Dan aku sudah bilang kalau aku tak sudi kau gigit."
"Bagaimana kalau dicium saja?"
"Bisakah kalian berdua tidak mesra-mesraan di kala kasus sedang dibahas seperti ini?" Teguran cukup keras diutarakan oleh Gilbert. Mata merahnya menatap jijik ke arah Willem dan Rangga yang asik berduaan di sudut meja penyidikan, sibuk berbisik-bisik. Benar-benar seperti pasangan yang sedang kasmaran. "Lanjutkan saja kemesraan kalian berdua itu kalau pembahasan kasus sudah selesai."
Kedua polisi itu langsung memperbaiki sikap duduknya dengan wajah memerah karena malu.
"Seperti yang kukatakan tadi sebelum terganggu oleh dua orang itu," Gilbert mendelik ke arah Rangga dan Willem. "Kali ini tak ada pesan tiruan yang ditinggalkan oleh pelaku. Tapi, tim forensik berhasil menemukan sebuah kode. Setelah diselidiki, kode itu menunjukan bahwa barang-barang terlarang yang ada di dalam gudang itu adalah pesanan langsung dari Il Capitano."
"Mustahil kalau mereka membakar sendiri gudang persediaan mereka." timpal Francis.
"Lalu dari segi kebakarannya sama persis dengan kasus-kasus terdahulu. Pelakunya menyiramkan bensin dari luar dan membakarnya. Mungkin dengan semacam korek api." Giliran Gupta yang menambahkan informasi.
"Dan mengenai pembunuhannya dari bagian autopsi berhasil menemukan adanya luka pukulan pada bagian kepala korban. Sepertinya korban dipukul dari belakang dan dikurung di dalam gudang." kata Berwald. Dibeberkannya foto-foto yang didapatkan oleh tim forensiknya. "Tapi, pukulan itu tidak terlalu keras. Mungkin hanya membuat korban pingsan untuk sementara waktu."
"Itulah sebabnya pelaku mengatur peti kemasnya sedemikian rupa supaya korban tidak dapat kabur. Paling tidak, dengan kesadaran dan luka semacam itu akan membuat korban sulit mengorientasikan gerakannya." tambah Antonio. "Kemungkinan besar korban memergoki pelaku akan membakar gedung. Kemungkinan ini bisa saja terjadi, mengingat korban sudah menghilang sejak malam berdasarkan kesaksian kakaknya."
"Pertanyaannya sekarang apakah ini akan menjadi kasus yang terakhir atau masih ada kelanjutannya?" gumam Rangga dari seberang ruangan. Perkatannya berhasil membuat seluruh pasang mata menoleh ke arahnya, penuh tanya.
"Apa maksudmu masih berlanjut?" tanya Gupta.
"Begini." Rangga beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil peta dan spidol. Ia kemudian membeberkan peta tersebut di tengah meja dan meminta yang lainnya untuk mendekat. "Kalau berdasarkan posisi, ini adalah gudang pertama yang terbakar. Ini yang kedua, ini yang ketiga, dan ini yang keempat." Ditandainya keempat titik tersebut dengan spidol merah terang. "Bila dihubungkan sesuai dengan urutannya, akan menjadi seperti ini." Sebuah tanda silang dengan garis di sisi kanannya terbentuk. "Menurut kalian, apa yang mau dibuat oleh pelakunya?"
"Hmmm... Mungkin bentuk seperti jam pasir? Bukankah jam pasir bentuknya menyerupai ini bila kita tutup titik keempat dengan titik pertama?" usul Gilbert.
"Bisa jadi. Tapi, apa benar itu yang ingin dia buat? Apa tidak terpikir bentuk lainnya?"
"Bintang, mungkin?" tebak Willem.
"Benar sekali. Kalau kita berpikir ini akan menjadi sebuah jam pasir seperti kata Gilbert, berarti kasus keempat ini adalah kasus terakhir. Tapi, kalau kita ambil teori bahwa ini akan berbentuk bintang, masih ada satu titik lagi yang harus dibakar oleh pelakunya. Sesuatu di tempat ini." Rangga melingkari sebuah area di antara titik kedua dan ketiga. "Dia akan membakar sebuah gudang ilegal disini."
"Jadi, ini masih akan berlanjut?" tanya Francis ragu.
"Mungkin. Untuk jaga-jaga, bagaimana kalau kita kerahkan polisi untuk mengamankan area ini? Dengan begini, kita bisa mengambil langkah lebih awal dari pelakunya. Bahkan, kita mungkin akan bisa menangkapnya." lanjut Rangga dengan semangat.
"Analisamu menarik, Rangga. Tapi, memutuskan seperti itu terlalu dini. Kita harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lainnya." ucap Antonio. "Kita harus menelitinya lagi terlebih dulu."
"Tapi..."
"Selidiki lebih lanjut, baru kita akan bergerak. Itu perintah." ucap Antonio tegas.
Rangga sudah tak dapat berkata apa-apa lagi. Antonio adalah seniornya dan ia harus menurut apa kata sang detektif. Sedikit kecewa, ia kembali duduk di kursinya dengan kepala tertunduk.
Pembicaraan mengenai kasus terus berlanjut hingga akhirnya waktunya untuk pulang tiba. Semua orang sudah berkemas dan bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Semua, kecuali Rangga yang masih termenung di ruang penyelidikan.
"Kau tidak pulang, Rangga?" tanya Antonio pada rekannya itu.
"Iya. Aku baru akan bersiap-siap, Antonio." sahut Rangga pelan.
Merasakan adanya perubahan sikap yang cukup drastis dari Rangga, Antonio berkata, "Kau... Tersinggung dengan apa yang kukatakan tadi saat rapat?"
"Tidak. Tentu tidak. Kenapa aku harus tersinggung?"
"Karena analisamu kuanggap tidak akurat. Terlalu menebak-nebak."
"... Mungkin, sedikit..." bisiknya pelan sambil mengemasi dokumen-dokumen ke dalam tasnya.
"Begini, Rangga. Bukannya aku beranggapan analisamu pasti salah. Hanya saja sebagai polisi, kita terus berharap kasus ini akan berhenti. Lagipula, untuk mengerahkan pasukan dan melakuan patroli besar-besaran di tersebut justru akan membuat pelakunya mundur, kan?"
Rangga hanya mengangguk.
"Maaf kalau aku sudah menyinggung perasaanmu. Selamat malam. Tidur yang nyenyak, ya." Dan sang detektif pergi meninggalkan rekannya untuk bersiap-siap pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Rangga tak bisa melupakan kasus tersebut. Ia yakin betul kalau masih ada target berikutnya. Target terakhir yang harus dilindungi oleh kepolisian. Ia masih yakin dengan mendatangi tempat itu lebih dulu, maka tersangka akan tertangkap. Rasa penasaran yang terlalu membuncah membuatnya menepikan mobil dan mengambil peta. Diukurnya dengan teliti jarak antar titik untuk kemudian menentukan titik berikutnya berdasarkan skala.
Rangga melingkari area yang akan ia amati dengan pulpen birunya sebelum mengambil telepon genggamnya. Dipijitnya sebuah nomer telepon.
"Razak, aku lembur hari ini. Tidak usah kau sediakan makan malam, ya? Terima kasih."
Setelah telepon ia tutup, dia putar mobilnya menuju area pengamatannya.
Rangga melangkah keluar dari mobilnya. Di depannya berdiri sebuah bangunan yang cukup tua di antara bangunan-bangunan tua lainnya yang tak digunakan. Area sekitarnya cukup gelap karena sebagian besar adalah bangunan kosong tak berpenghuni. Mungkinkah ini sasaran berikutnya?
Menarik napas panjang, Rangga mengeluarkan senter mungilnya dari saku dan berjalan memasuki bangunan tersebut. Menyelinap masuk ternyata tidak sulit, karena pintu bangunan sudah cukup usang. Di dalamnya, suasana ruangan terasa sangat pengap dan lembab. Benar-benar khas gedung yang sudah lama tak terpakai. Tapi kemudian mata abu-abu Rangga menangkap deretan peti kemas. Memang terlihat sudah cukup usang, namun label pengirimannya masih baru.
"Apa ini? Apakah isinya obat terlarang?" gumam Rangga pelan sambil meneliti ruangan sekitarnya. Begitu banyak peti-peti bertumpuk dan sepertinya tak pernah dibuka. Tiang-tiang tinggi yang sudah cukup tua menopang langit-langit bangunan yang sangat tinggi. "Apa ini tempatnya, ya? Tapi, aku tak lihat ada siapa-siapa disini."
Kembali Rangga mencoba untuk mengingat kembali hasil interogasi yang dilakukan oleh Antonio dan dirinya pada keempat tersangka. Empat-empatnya tidak mempunyai alibi yang meyakinkan. Mungkin, hanya Sadiq yang cukup meyakinkan dengan menyerahkan bon belanjanya. Tapi, sisanya tidak dapat dibuktikan. Bon tersebut juga sebenarnya bukan bukti pasti Sadiq berbelanja di sana. Bisa saja ia menyuruh orang lain untuk membelanjakannya dan bonnya ia minta. Tak ada bukti pasti dan tak ada saksi atas pernyataan mereka.
"Tunggu..." gumam Rangga pelan. "Kalau tidak salah, sewaktu interogasi dia berkata seperti itu."
Seseorang saat interogasi berkata hal yang ganjil. Rangga ingat betul.
"Astaga! Berarti, kemungkinan besar dia pelakunya! Karena sejauh interogasi hanya dia yang mengucapkan itu! Aku harus segera memberitahu Antonio!"
Rangga mengambil telepon genggamnya dan menekan nomer telepon Antonio. Ditunggunya dengan tidak sabar hingga akhirnya suara Antonio menyahut di seberang sana. "Antonio! Antonio, Antonio! Aku tahu! Aku tahu!"
"Tahu apa, Rangga?" tanya Antonio kebingungan.
"Aku tahu siapa pelakunya! Aku tahu siapa pelaku pembakaran itu!" kata Rangga bersemangat. Senyum sumringah tak bisa ia lepaskan dari wajahnya.
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Penjelasannya panjang. Bagaimana kalau kau segera tangkap orang yang kusebutkan ini?"
Tak ia sadari bahwa satu sosok hitam menyelinap di balik tubuhnya. Tangannya terangkat tinggi dengan sebilah kayu tergenggam erat, siap untuk memukul.
"Pelakunya adalah..."
DAAK!
Satu hantaman keras menghujam kepala Rangga, membuat polisi muda itu jatuh pingsan di atas lantai kayu yang berdebu. Telepon genggamnya terjatuh, terlupakan.
"Rangga? Hei, Rangga! Kau kenapa? Rangga!" panggil Antonio melalui telepon. Nada panik sangat kentara dalam suaranya.
Sosok yang telah menyerang Rangga mengambil telepon genggam itu.
"Rangga! Hei, kau kenapa? Jawab aku, Rang—"
TUUT TUUT TUUT...
Senyum sinis tersungging di bibir sosok misterius tersebut ketika jarinya mematikan hubungan telepon tersebut. Ia bahkan menjatuhkan telepon genggam itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur. Setelah yakin alat komunikasi tersebut hancur, ia mengalihkan perhatiannya pada sosok Rangga yang tergeletak tak sadarkan diri.
Kembali senyum sinis terbentuk di bibirnya.
To Be Continued
A/N : Yeaaah! Sebuah fast update dari sayaaa! Ahahahah! Enak juga, ya, fast update kayak begini? Entah kenapa, mendadak otak kriminal saya lagi jalan hari ini. Hahaha. Oiya, mau bales anon sama orang yang login tapi gak sempet saya bales. Hehehe.
Zukokke : Ahahah! Buat pemanasan MalayxNesia dulu aja. Hehehe. Mungkin suatu saat nanti si Nesia bakal nyeleweng dari Malay dan malah lemonan sama Nethere. Siapa tau? Hohoho. Kenapa banyak yang ngira Scapino itu Razak, sih? Hmm... Mungkin ya, mungkin juga bukan. #plak Makasih reviewnya! Ini fast update, lho! Hohohoh! #bangga #abaikan
Minazuki Zwei : Waaah! Reviewmu kedobel, tuh. Heheh. Tapi, gak apa-apa, lah. Berarti kalo update sekarang, dirimu masih ada pulsa, kan? Jangan lupa dibaca dan review lagi, ya. Hohoho. Brighella itu Vash? Mungkin aja. Mungkin. Tapi bisa jadi juga bukan. #jawabangaje Ehehe. Emang, Indo jutek sama Nethere soalnya hatinya udah ada yang punya. Aishh. Jangan minta diterusin. Nanti jadi dangdut. Iya, nih! HA masih lama banget. Banyak yang harus dikumpulin soalnya. Data, misalnya. (terus gue bikin ini kesannya kayak gak pake data. #plak) makasih reviewnya!
Yosh! Demikian balesan review! Masih ada yang mau review untuk chapter ini? Hehehe.
