"A Life"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuFemNaru

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Yamashita Runa

.

Sebelum Sakura mengikuti Kakashi,Sakura sempat berbicara dengan Karin. "Laksanakan rencana yang telah kita buat tadi pagi. Aku ingin ketika aku kembali ia sudah berlutut dihadapanku." Bisik Sakura yang dibalas anggukan oleh Karin.

.

.

Kakashi menatap sengit Sakura yang tengah menunduk dalam. "Kau tahu kan apa kesalahanmu?" Suara berat Kakashi menggema ditelinga Sakura.

"Ya." Dengan entengnya pula Sakura menjawab singkat,tanpa terdengar takut sedikitpun.

"Jangan kira,karena kau telah menjadi seorang Namikaze kau dapat berbuat semaumu disini." Kakashi menghela nafas lelah. "Kalau aku boleh jujur,aku lebih menyetujui Naruto yang sebagai Namikaze daripada dirimu."

Blaarr..

Mata Sakura membulat. Kata-kata Kakashi memang sangat menusuk hatinya. Berarti dia tidak pantas menyandang gelar Namikaze? Guru sialan! Fikirnya.

"Cih,kau bermaksud menghinaku,hah? Kau tau? Aku bisa saja mengeluarkanmu dari daftar guru disekolah ini!" Gertak Sakura.

Kakashi diam. Sekali lagi ia menghela nafasnya. "Yang berhak mengeluarkanku dari sekolah ini hanya Tsunade-sama. Bukan dirimu ataupun keluarga barumu. Kau boleh keluar sekarang,kemungkinan aku akan mengirimkan surat untuk keluargamu." Ujar Kakashi dingin.

Dan Brakk..

Tanpa berkata apapun,Sakura langsung keluar dari ruangan Kakashi. Wajahnya terlihat merah padam karena menahan amarah. Satu-satunya yang ia inginkan untuk merubah moodnya adalah rencana untuk meyiksa Naruto akan berhasil.

"Kartu AS-mu telah berada dalam genggamanku,Naruto. Bersiaplah untuk menghadapi Queen yang akan menghancurkanmu." Gumam Sakura seraya tersenyum licik.

.

Istirahat sudah berdering sejak Kakashi keluar dari kelas. Namun Naru masih saja diruang kelas,alasannya? Karena Naru menolak kekantin saat yang lain mengajaknya kesana. Naru hanya menitipkan pesanannya pada Sasuke.

Entah kenapa,perasaan Naru hari ini buruk. Dan benar saja kejadian yang membuat jantungnya hampir keluar telah terjadi. Mulai dari marga Sakura yg telah berganti,perubahan sifat Sasuke yang tiba-tiba,dan yang positifnya ia mendapatkan teman dekat baru, Guren dan Yuukimaru.

Drt.. Drt..

Tiba-tiba suara handphone membuat Naru tersentak. ia segera merogoh kantong nya dan mengambil handphone itu.

Terlihat sebuah email masuk dari Karin. What? Karin?

'Jika kau tidak mau gelang dari mantan kedua orang tuamu ini hilang didasar sungai,cepatlah temui kami diatap dalam waktu 10 menit!'

Mata Naru membulat saat membaca isi email itu,dalam email itupun terlampir foto gelang milik Naru. Narupun sadar,ia melihat pergelangan tangan kirinya dan benar saja gelang itu sudah tidak ada. "Kuso!" Runtuknya lalu berlari menuju atap yang memang lumayan jauh dari kelasnya. Sepertinya gelang itu Sakura dapatkan saat Karin dan Yugao mencengkram kedua tangan Naru tadi pagi. Licik juga dia.

Nafasanya tersengal,hanya tinggal menaiki beberapa anak tangga hingga bisa mencapai atap namun dirinya sudah berasa lemas. 'Gelang itu berharga,aku tidak mau gelang itu hilang!' Naru berusaha menyemangati dirinya.

Namun,sesampainya diatap. Naru tidak menemukan siapapun.. tangan Naru terkepal,sia-sia saja ia berlelah-lelah ria ketempat ini.

Drt..Drt..

Handphone Naru kembali berdering. Email dari Karin!

'Ups,sepertinya kami lupa memberitahumu kalau kami berpindah tempat. Kami ada di perbatasan hutan belakang sekolah,kami tunggu kau dalam waktu 5 menit! Ingat kami tidak main-main,terlambat semenit saja,ucapkan selamat tinggal pada gelang tercintamu ini.'

Tanpa buang waktu,Narupun berlari kembali. Ia benar-benar tidak menggubris nafasnya yang memang sudah sulit itu. Bahkan ia tidak memikirkan jantungnya! Yang ada difikirannya saat ini hanyalah gelang itu,ya. Gelang yang diberikan kedua orang tuanya saat ia ulang tahun.

Flashback..

10 oktober,hari special bagi Naru. Dirinya yang tengah menginjak umur 7 tahun itu dengan santainya berjalan menuju meja makan. Terlihat disana sudah ada keluarganya,LENGKAP! Mereka tengah makan dengan tenang dan sedikit bersenda gurau. Naru mengerenyit heran,ia pun duduk disebelah kiri Kurama.

"Ohayou Naru-chan!" Sapa Kushina ramah. Yang lain pun ikut tersenyum kearahnya.

"Ohayou." Balas Naru singkat. Oh yeah,mimpi apa dia semalam? Atau mungkin ia memang belum bangun dari tidurnya?

"Um,Naru-chan. Otanjoubi Omedetou! Selamat ulang tahun.. Kaa-san menyayangimu." Ujar Kushina seraya memeluk Naru dengan erat.

"Ap—"

"Otanjoubi Omedetou,Naru." Kurama juga ikut menghampiri Naru dan ikut memeluknya.

"Naru-chan,kami harap kau menyukai apa yang kami berikan ini untukmu." Ujar Minato seraya memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru laut pada Naru.

Masih dengan keheranannya,Naru membuka kotak itu dengan perlahan. Dan terlihatlah gelang emas yang sangat indah. "I—Ini untukku?" Tanya Naru gugup.

"Hn,tentu saja untukmu baka-imoutou!" Jawab Kurama seraya menepuk pelan kepala Naru.

Merekapun akhirnya tertawa bersama. Entah apa yang terjadi hari itu,namun Naru benar-benar sangat bersyukur.

.

Keesokan harinya..

Naru berjalan menuju meja makannya dengan bersenandung kecil. Ia berharap keluarganya akan ada seperti kemarin lagi. Namun harapannya ternyata tidak terwujud. Mereka tidak ada disana.

"Iruka! Kaa-san,Tou-san,dan Kurama kemana?" Tanya Naru saat Iruka mendekatinya.

"Mereka melakukan aktifitas mereka seperti biasa,Naru-sama." Jawab Iruka singkat.

"Um,Iruka. Kira-kira maksud mereka memberikanku gelang ini untuk apa ya?"

Iruka mengerenyit. Segitu tidak percayanyakah Naru? Ia menghela nafasnya lalu tersenyum. "Tentu saja untuk membuktikan kalau mereka menyayangi anda,Naru-sama."

Mata Naru berbinar. "Benarkah?"

Iruka mengangguk,ia segera menyiapkan sarapan untuk nyonya muda nya ini.

Dan mulai saat itu,Naru percaya bahwa keluarganya akan menyayanginya sampai kapanpun. Gelang itu juga menjadi benda keramat yang tidak boleh Naru lupakan.

Flashback off..

Setetes airmata Narupun tumpah. 'Aku harus kuat!' Ucapnya dalam hati. Sesekali ia menabrak beberapa siswi yang tengah melintas. Lihatlah dia,terlihat sangat berantakan dan menyedihkan.

Sesampainya diperbatasan hutan belakang sekolah,Naru berhenti sejenak. Cukup! Ia tidak bisa berlari lagi sekarang,ia memejamkan matanya sesaat seketika itu juga tubuhnya lunglai dan ia jatuh terduduk.

"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk,Baka?!"

Naruto mendongak,wajah Sakura yang tengah geram terpampang jelas disana. "Aku lelah." Jawab Naru pelan.

Sakura mengerenyit,ia segera menarik kerah Naru. "Lihat dirimu! Kau benar-benar membuatku muak! Semua orang telah berpihak padamu,kau pakai pelet apa,hah?! Dasar murahan!" Maki Sakura seraya mendorong Naruto.

Naruto kembali jatuh terduduk. Ia menggeram,berani sekali dia memanggilnya murahan! Dia fikir dia itu siapa?! Dia tidak lebih dari seorang parasit! "Kembalikan gelangku!" Desis Naru.

"Ah—gelang? Ups,maaf aku lupa menyimpannya dimana." Pekik Sakura.

"Kembalikan!" Naru bangkit dan menarik kerah Sakura. Namun Sakura hanya tersenyum sinis. Dengan cepat,Karin dan Yugao mencengkram kedua tangan Naruto. Narutopun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menggeram.

"Kau mencari ini kan?!" Gertak Sakura seraya memperlihatkan gelang milik Naru. "Kau mencari gelang pemberian keluargaku ini kan?! Kau tau? Kenapa aku bisa mengetahui gelang ini pemberian Namikaze?"

Naruto masih menahan amarah,tidak menjawab apapun. Tapi tidak bisa dipungkiri pula kalau dirinya pun penasaran.

"Kau pasti lupa membawa buku harian bodohmu itu kan?!"

Mata Naru membulat,"Jadi kau membuka buku harianku?! Dasar tidak sopan!" Bentak Naru.

"Huft,semua yang kau alami sudah kuketahui,Naru-chan. Penyakitmu,gelang ini,bagaimana sikap orang tuamu,dan yang terakhir SIAPA YANG KAU SUKAI!"

Oh tidak,semua rahasianya benar-benar telah berada dalam genggaman Sakura. Tamatlah dia.

"Apa yang kau inginkan,hah?!"

Sakura semakin tertawa keras. "Apa yang kuinginkan?" Ulangnya. "Aku menginginkan kau menjauhi Sasuke! Dan membuat Kurama melupakanmu!"

"Ap- Tidak akan! Dan untuk apa aku membuat Kurama melupakanku? Toh Kurama memang sudah melupakanku!"

"Kheh,Kurama belum bisa menerimaku sebagai adiknya!"

Flashback..

Sakura tengah berjalan pulang dari sekolah. Ia termenung. 'Kapan aku bisa seperti Naruto?! Cih sial,anak itu benar-benar mengalahkanku!' Ucapnya dalam hati. Sesekali ia menendang kaleng kosong yang tergeletak dipinggir jalan.

'Ia memiliki keluarga lengkap,kaya,dan apa tadi yang kulihat? Ia tengah digendong Sasuke?! Baka!'

Clang..

Sekali lagi ia menendang kaleng kosong itu. 'Dan lihatlah aku! Ayahku mati,dan ibu? Beruntung aku memasukkannya kepanti jompo jadi aku tidak perlu repot lagi untuk mengurusnya.' Ucapnya didalam hati lagi. 'Takdir yang menyebalkan! Lihat saja,aku pasti akan-"

Ckiiiittttt...

"Arrgghh.."

Mata Sakura terpejam.

1 detik..

2 detik..

"Eh? Kok tidak sakit?" Sakura melihat sekeliling. Ia terduduk diaspal,dan tepat dihadapannya ada mobil mewah!

"Kau tidak apa-apa nak?" Ucap seseorang yang membuat Sakura terhenyak.

"Eh, Iy—iya,Namikaze-san." Jawab Sakura gugup. Bagaimana tidak gugup,orang terkenal tengah berada dihadapannya dan tersenyum! 'Cih,baru saja aku merutuki anaknya,dan lihat sekarang aku bertemu dengan induknya!' Ucap Sakura dalam hati.

"Benar kamu tidak apa-apa? Maafkan kami ya,kami tidak sengaja. Ah—ya bagaimana kalau aku antar kamu kerumah?" Tawar Khusina seraya memapah Sakura untuk bangun.

"Um—Ano,tidak usah. Saya tidak apa-apa kok."

"Tidak bisa begitu. Supir saya sudah hampir menabrakmu,dan saya harus bertanggung jawab. Ayolah." Pinta Khusina.

"Um,baiklah."

Sakura pun menaiki mobil mewah itu. Sesekali ia bercengkrama dengan Kushina.

"Ah iya Sakura,ayah dan ibumu apa ada dirumah?" Tanya Kushina.

Sakura terdiam. "Orang tua saya sudah tidak ada,Kushina-san."

"Hah? Gomen'nasai. Saya tidak bermaksud."

Sakura tersenyum. " Tidak apa-apa,Kushina-san."

'Terkadang dibutuhkan sedikit bumbu kebohongan untuk membuat hidupmu berubah.' Ucap Sakura dalam hati.

.

Sesampainya dirumah Sakura..

"Benarkah ini rumahmu,Sakura?" Tanya Kushina seraya memandang sekelilingnya.

"Ya,ini rumah peninggalan orang tua saya. Maaf jika berantakan dan kecil." Sakura sedikit tersenyum.

"Ah,tidak apa-apa. Kau gadis yang kuat ya. Tinggal sendiri,dan tetap mudah tersenyum. Coba saja Naruto dapat bersikap sepertimu."

Bingo! Sedikit lagi Sakura akan mendapatkan perhatian dari nyonya Namikaze. Congrats Sakura,kau memang aktris terbaik. "Jangan memujiku,Namikaze-san. Aku bisa melayang nanti." Ucap Sakura seraya terkikik.

"Kau memang anak yang menarik,Sakura." Ujar Kushina seraya terkikik juga.

.

.

Setelah kejadian Minato mengeluarkan Naruto dari klan,Minato dan Kushina sempat kelipungan untuk mencari penggangti posisi Naruto. bagaimanapun juga mereka membutuhkannya,karena tidak akan ada yang menjalankan beberapa perusahaan mereka. Kuramapun sudah memegang separuh dari perusahaan yang Namikaze punya,tidak mungkin juga kan kalau Kurama memegang seluruh perusahaan yang ada? Bisa tua sebelum waktunya dia.

Akhirnya,Kushina menyarankan Sakura untuk menjadi anak mereka. Kurama sempat menolak,bagaimanapun juga ia tidak pernah mempercayai orang luar untuk menjadi adiknya,apalagi menjadi salah satu penerima hak waris yang sah.

Dari awal pertemuan Sakura dengan Kurama pun tidak baik. Kurama hanya memandang datar Sakura tanpa berniat menjabat uluran tangan Sakura. Dan dengan datarnya pula Kurama berkata. "Manusia pink ini yang menjadi pengganti Naruto?" Kurama mendelik lalu berbalik menuju kamarnya. "Kukira kalian salah pilih,dia tidak cocok dengan nama Namikaze." Lanjutnya.

Kurama menyesal? Ya,tentu saja. Jujur ia menyayangi adik kecilnya. Ia merindukan sosok pirang yang selalu ia temui ketika pulang dari kantor. Memang,ketika ia pulang sosok itu telah terlelap. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk menengok dan mencium kening sang adik ketika ia baru sampai rumah.

Sosok pink itu bahkan telah menggantikan posisi adik pirangnya dengan mudah. Dengan gaya sok perhatian yang membuat Kurama muak melihat semua itu. Namun apa daya? Kaa-san dan Tou-san nya sudah percaya dengan Sakura,dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun ia cukup bersyukur,Naruto diterima dengan baik oleh keluarga Uchiha. Kurama sempat tau berita itu dari Itachi,teman akrab nya.

Beberapa kali Itachi memberinya kabar tentang Naruto. yah bisa dibilang,Itachi adalah penghubung antara dirinya dengan Naruto. tanpa adanya Itachi,ia tidak mungkin tahu soal kabar Naruto. Kurama pengecut? Terserah kalian mau berfikir apa. Ia memang terlalu pengecut untuk bertemu langsung dengan sang adik. Ia terlalu takut kalau sang adik sangat-sangat membencinya walaupun dia tau,sang adik memang sudah sangat membencinya.

Mulai saat pertama kali bertemu Kurama,Sakurapun bertekad. Ia akan melakukan apapun agar ia diterima oleh Kurama sebagai seorang Namikaze.

Flashback end..

Naruto terdiam. Kurama menyayanginya? "Huft,kau bercanda,heh?" Naruto tersenyum sinis.

"Berhenti tersenyum seperti itu!" Gertak Karin seraya mencengkram semakin erat pergelangan tangan Naruto.

"Ugh." Naruto mengerenyit sakit. Bisa dibayangkan ketika kuku-kuku panjang Karin menembus kulit tangannya dengan mudah?

Sakura tersenyum ketika melihat tangan kiri Naruto yang mulai berdarah. " Lakukan apa yang aku inginkan,atau gelang ini- " Sakura mendekati Naruto dan mencengkram kedua pipinya. "Hanya tinggal kenangan untukmu." Lanjutnya.

Karin dan Yugao melepas cengkraman mereka sekaligus mendorong Naruto. "Lihat kuku cantikku harus ternodai darahmu! Cih,menjijikan!" Geram Karin.

"Sebaiknya kita pergi. Aku malas melihat wajahnya." Gumam Yugao. Sakura dan Karinpun menyetujuinya.

"Dan Naru-chan,kuharap kau menyembunyikan tentang ini semua. Atau ancaman soal gelangmu ini akan benar-benar terjadi." Ucap Sakura dingin. Merekapun meninggalkan Naruto yang tengah terduduk dengan memegang tangan kirinya yang berdarah banyak.

"Ugh,Kurama-nii." Gumam Naruto untuk pertama kalinya. Ya,pertama kalinya ia memanggil Kurama dengan sebutan kakak. "Apa yang harus kulakukan?" Lirihnya lagi. Ia benar-benar lelah,ia lelah hidup didunia ini. Takdir ini benar-benar mempermainkannya.

Naruto memandang kosong pohon besar yang berada dihadapannya. Ia masih memegang lengan kirinya. Lukanya yang terkoyak itu benar-benar menguras tenaganya,ia harus menahan perih disini. Ia lupakan jam pelajaran pertama yang sudah berdering beberapa puluh menit yang lalu. mungkin saja semua teman-teman mencarinya. Tapi ia tidak memikirkan itu. Ia hanya bingung,kejadian apalagi yang harus ia hadapi? Siapa lagi yang harus ia jauhi? Apalagi yang akan membuatnya terpuruk kembali? Dan sampai kapan ia akan bertahan menghadapi semua ini?

"Siapa yang harus aku salahkan sekarang,Kami-sama?" Lirihnya lagi. Airmata yang tadinya sempat berhenti,kini tidak terbendung lagi.

Beberapa kali pula ponsel yang ada dalam saku nya berdering. Sekali lagi,ia tidak menggubrisnya. "Kurama-nii.." Lirihnya lagi. Dengan perlahan ia berdiri,dan terlihatlah darah yang menempel dibaju seragamnya. "Harus—Kurama-nii." Gumamnya lalu berlari.

Naruto yang terlihat kusut itupun berlari,ia sempat melewati koridor dan menabrak beberapa siswa dan siswi yang melintas. Ada juga yang melihatnya dengan heran. Dan yang pasti beberapa dari mereka merasa khawatir,karena darah yang menetes dari lengan kiri Naruto benar-benar tercecer dilantai.

Yang ada difikrannya saat ini hanyalah Kurama. Terbesit rasa bersalah dan ingin memeluk kakak laki-laki nya itu saat ini juga.

Bruukk..

"Ugh."

"Dobe?" Mata Naruto membulat,Sasuke? Kenapa harus bertemu dengannya sekarang?!

"Hey,kenapa lenganmu? Kau terluka! Darimana saja kau,hah? Kami mencarimu daritadi!" Sasuke geram. Ia menghampiri Naru yang terduduk dihadapannya,mengambil tangan kiri Naru dan menatap Naru dalam. "Siapa yang melakukan ini?!"

Naru menepis tangannya. Dengan datar ia menatap Sasuke. "Bukan urusanmu." Ucapnya lirih lalu meninggalkan Sasuke yang terdiam.

"Setidaknya obati dulu lukamu,Dobe!" Ucap Sasuke. Namun tidak ada tanggapan dari Naru. Ia masih saja berlari.

'Ada apa dengannya?' Ucap Sasuke dalam hati. Sasuke mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kata disana. Lalu meninggalkan tempat itu. Ia tidak menyadari,bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik Naruto dan Dia.

"Hidupmu menyenangkan bukan,Naru-chan?" Gumam orang itu seraya menahan tawanya.

.

Naruto sukses melarikan diri dari penjagaan satpam. Ia terus saja berlari. Satu tempat yang ia ingin tuju sekarang. Namikaze one corp.Tempat dimana Kurama sedang bekerja sekarang.

Beberapa saat kemudian,Narutopun sampai didepan gedung besar itu. Wajah pucatnya terlihat senang meskipun matanya sedikit sayu. Dan jangan lupakan lengannya yang terluka. Luka itu semakin memilukan untuk dilihat. Bahkan darah yang tertempel dibaju Naru membuatnya seakan hantu yang banyak difilm-film horor (readers:yaiyalah film horor,masa iya film komedi.) *lupakan*

"Naru-sama." Pekik sang resepsionis—Tayuya. Lalu menghampiri gadis pirang itu.

"Kurama-nii—" Lirih Naru.

Tanpa banyak bicara,Tayuya pun menuntun Naru menuju ruangan sang direktur dilantai 20. "Apa anda tida apa-apa,Naru-sama?" Ucap Tayuya khawatir. Naru pun mengangguk lemah. "Aku hanya ingin bertemu Nii-san ku." Lirihnya.

Tayuya menatap khawatir gadis pirang ini,sebelumnya ia tidak pernah melihat Naru kekantor ini. Dan sekalinya ia kesini malah dalam keadaan yang mengenaskan seperti ini? Oh,Kami-sama..

Beberapa orang yang sempat berpapasan dengan Narupun hanya terpekik memanggil namanya. Merasa iba dan kasihan melihat Naru seperti itu.

Tok..

Tok..

"Masuk."

Setelah mendengar perintah itu,Tayuya langsung membuka pintu dan terlihat gugup. "Em,Sumimasen Kurama-sama,Ino-sama,Dei-sama. Naru-sama ingin bertemu."

Deg..

Kurama terdiam. Apa dia tidak salah dengar? Naru,adik kecilnya?

"Naru-chan?" Pekik Ino dan Deidara saat Naru masuk ruangan khusus direktur itu.

"Nii-san.. Gomen'nasai,Naru menyayangi Nii-san." Lirih Naru seraya memeluk erat Kurama.

"Nii-san juga menyayangimu." Kurama memeluk erat Naru. Kemudian Kurama mendengar suara isak Naru. Begitu memilukan. "Maafkan Nii-san,Maaf." Lirih Kurama.

"Sa—kit." Lirih Naru. Sontak Kurama mengendurkan pelukannya dan melihat wajah sang adik sudah sangat pucat dan kedua tangannya menekan dada kirinya.

"N—Naru?" Panggil Kurama saat tiba-tiba Naru memejamkan matanya. "Hey,Naru.. Jangan bercanda!" Pekik Kurama.

Ino dan Deidara langsung menghampiri Naru yang tergeletak dalam gendongan Kurama. Ino memegang nadi yang ada dileher Naru. "Dia pingsan." Ucapnya.

"Apa yang terjadi sih?" Gumam Dei namun bisa didengar oleh Ino. Ino pun hanya mendelik dan menginjak kaki kanan Dei. "Baka!" Runtuk Ino.

Merekapun membawa Naruto kerumah sakit. Namun saat mereka berada di lobby,mereka bertemu Sasuke. "Naruto?!" Pekik Sasuke saat melihat Naruto dalam gendongan Kurama.

Kurama segera membawa sang adik. Tidak lupa pula ia meminta Sasuke untuk ikut bersama mereka.

.

.

Naruto sudah ditangani oleh para medis dirumah sakit Konoha. Namun wajah cemas masih terpantri disetiap oranag yang berada diruang tunggu itu. Kurama,tengah mundar-mandir dan beberapa kali menghela nafas. Sasuke,tengah bersender ditembok,melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap tajam pintu ICU tempat Naruto mendapatkan perawatan. Ino,berusaha menenangkan Kurama plus memarahi Deidara. Dan terakhir, Deidara yang tidak henti-hentinya bertingakah konyol dan polos entah dia sadar atau tidak.

Cklek..

Dan berhentilah setiap aktifitas mereka. "Bagaimana adik saya,Dok?" Suara Kurama terdengar lirih.

"Buruk." Sang dokter pun menghela nafas lelah. "Berhenti membuatnya lelah dan menguras emosi. Itu akan membuat jantungnya bekerja ekstra. Kalian ingat,jantungnya sudah tidak normal,ia tidak bisa terus menerus menggunakan jantung yang tidak normal."

"Dengan begitu,ia membutuhkan pendonor?" Tanya Ino.

Kabuto-Dokter- pun mengangguk. "Jika kalian tidak mau melihat Naruto terus menerus pingsan,ya hanya itu jalan keluarnya." Kabuto menepuk pundak Sasuke yang berada disamping kirinya. "Yang kutahu pasti,Naruto itu gadis yang kuat. Baiklah,saya permisi." Ucap sang dokter kemudia berlalu meninggalkan mereka.

"Aku memang bukan kakak yang baik untuknya." Lirih Kurama.

Ino tersenyum,lalu menepuk pundak sang kakak sepupu. "Hey,kukira Naruto ingin melihat senyummu,bukan sedihmu,Baka!"

"Huh,kufikir ia membutuhkan istirahat,bukan senyuman!" Pekik Deidara dan kemudian mendapatkan jitakan panas dari Ino.

Mau tidak mau Kuramapun tersenyum juga. "Ya. Kalian memang selalu bisa membuat mood orang berubah."

"Ah-kau pasti Sasuke-kun? Aku Ino,Aku sepupu Naruto." Ino memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan kanannya pada Sasuke.

Dengan cepat Sasuke langsung membalas jabatan tangan Ino. "Hn,salam kenal."

"Dan dia—" Ino menghela nafas (lagi) "Orang bodoh itu Deidara." Ucapnya pelan.

"Hey," Deidara hendak menjitak adik sepupu nya namun terlambat,adik sepupunya itu telah menarik Sasuke masuk kedalam ruangan rawat Naruto. "Huh."

Deidarapun masuk kedalam ruangan rawat Naruto. terlihat disana Naruto tengah terbaring,dengan wajah yang pucat tapi terlihat damai. "Ne,Kurama. Kenapa saat Naru datang tangan kirinya terluka?" Deidara membuka suara.

Sontak Kuramapun langsung menoleh ke Sasuke. "Bisa kau jelaskan ini,Sasuke?" Tanyanya.

Sasuke menghela nafas,sebenarnya ia sudah merasa sejak awal kalau dia akan diintrogasi oleh Kurama. "Aku juga tidak tahu,ia sudah menghilang saat kami kembali kekelas. Bahkan sampai bel masuk berbunyi,Naruto tidak juga kembali. Kami memutuskan untuk mencarinya,dan ketika aku bertemu dengannya ia sudah dalam keadaan seperti itu dan tidak menggubrisku sama sekali. Dia hanya berlari dan yang terakhir kulihat,dia masuk kedalam kantormu." Jelas Sasuke.

Sasuke berani bertaruh,itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan didepan Kurama.

"Naruto menjauhi mu? Hah? Kenapa?" Tanya Ino heran. Setau dia,Naruto itu tidak akan pernah mau menjauhi siapapun dikeluarga Uchiha. Ino pun hanya mengerenyit saat Sasuke menggedikkan bahunya pertanda tidak tahu.

"Ino,Dei. Kuharap kepindahan kalian kesekolah Naru benar-benar jadi. Aku membutuhkan kalian." Ucap Kurama lirih. sesekali ia melihat wajah sang adik yang tidak juga menampakkan iris shappire nya.

"Tentu saja,Ku. Aku akan masuk dikelas Naru,dan Dei-chan akan masuk dikelas XI. Satu tingkat diatasku." Ucap Ino semangat.

"Dan besok kami akan mulai masuk sekolah." Lanjut Deidara.

"Sejak kapan kalian menyiapkan ini semua?"

"Mudah saja,Sasuke-kun. Karena Tsunade,kepala sekolah kalian adalah nenek kami. Jadi mudah saja kami pindah kesekolah itu." Jawab Ino.

Drt..

Drt..

Ponsel Kurama berdering. Kurama meraih ponselnya dan melihat sebuah nama disana 'Minato'. Lihat,bahkan ia tidak mau memberi nama Minato dengan sebutan ayah diponselnya. Dengan ragu ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya dengan kuping kanannya.

"Hn."

"Kurama! Kau ada dimana?! Rapat akan segera dimulai,jangan lari dari tugasmu. Cepat kembali!" Oh yeah,terdengar dari nadanya,sepertinya Minato sedang marah besar.

"Tidak bisa."

"Apa?! Cepat kembali,Namikaze Kurama! Aku tidak mau menerima penolakan."

Kuramapun menghela nafasnya. "Hn,aku akan kembali."

PIP..

Bahkan Kurama tidak menunggu reaksi dari Minato. Ia langsung saja memutus percakapan mereka. "Aku harus kembali kekantor. Apa kalian bisa menjaga Naru untuk sementara waktu?"

Mereka semua pun mengangguk,dengan begitu Kurama bisa bekerja dengan tenang meskipun ia belum sepenuhnya tenang. Masih ada satu yang mengganjal dalam hatinya. 'Siapa yang rela mendonorkan jantungnya untuk Naru?'

Suasana setelah Kurama pergi sangat sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar. Jam juga sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Sasuke tengah sibuk membalas pesan dari Kaa-san nya. Kaa-sannya sangat khawatir ketika Naru dan Sasuke belum juga pulang,Sasuke juga lupa untuk mengabarkan Kaa-san nya kalau Naru tengah dirumah sakit. Ino tengah menatap Sasuke dengan lekat,seperti ada sesuatu yang hendak dibicarakan dengan pemuda reven itu. Sementara Dei,dia sudah terlelap disofa.

"Ne,Sasuke-kun." Suara Ino membuat Sasuke menoleh. "Terimakasih sudah menjaga Naru. Oh iya, Naru sering sekali bercerita tentangmu."

Sasuke mngerenyit. "Benarkah?"

"Iya,dia pernah bercerita tentangku kalau ia beruntung sekali bisa kenal denganmu. Kau itu orang yang special baginya." Ino terkikik. "Ne,jangan bilang-bilang padanya ya kalau aku menceritakannya padamu. Dia bisa marah besar."

Sasuke tersenyum. Bukan tersenyum sinis ataupun senyum palsu. Ia tersenyum tulus. "Special ya?" Ia menggumam.

"Dulu,Kaa-san pernah bercerita. Kenapa paman Minato dan bibi Kushina tidak menyukai Naruto." Ino menghela nafasnya. Sementara Sasuke,ia mulai memperhatikan setiap kalimat yang Ino ceritakan. "Saat Naruto kecil,ia sering sekali mengganggu bahkan menghancurkan setiap pekerjaan orang tuanya. Alasannya? Naruto kecil membutuhkan perhatian,tapi paman dan bibi salah mengartikan setiap tindakan Naru itu. Mereka menganggap,kalau Naru memang bukan anak yang benar."

Sekali lagi Sasuke mengerenyit. "Bukan anak yang benar?" Ulangnya.

"Ya,karena kami, Namikaze. Kami terlahir dengan sikap sopan dan tidak pernah mau mengacaukan apapun meskipun kami masih kecil. Tapi berbeda dengan Naruto,kami tidak tahu kenapa Naruto bisa bersikap seperti itu. Tapi seharusnya mereka memaklumi,bukannya tidak menyukai Naruto."

Ino menatap wajah Naru dengan sendu. "Aku dan Naru seumuran,ia selalu menceritakan apapun yang dialaminya kepadaku. Aku juga salah,seharusnya aku selalu berada disisi nya." Lirih Ino.

"Jadi,selama ini kau dan Dei ada dimana?" Tanya Sasuke.

"Kami tinggal di Suna. Dan baru tadi pagi kami sampai disini. Kurama yang meminta kami pindah kesini."

Hening.. sekali lagi suasana hening mendominasi diantara mereka. Sesekali Ino menguap,ia lelah sekarang. ia menaruh kepalanya diantara tangannya disamping Naru. Demi saudaranya ia rela berlelah-lelah ria dan tidur dengan duduk seperti ini. "Oyasumi,Sasuke-kun." Gumam Ino yang masih didengar oleh Sasuke.

"Hn."

.

.

Pagi yang hangat telah menyapa Naruto. Meskipun masih gelap karena masih pukul 04.00,tapi Naruto tidak bisa tidur lagi. Semua yang berada diruangan itu juga masih terlelap.

Kruyuk..

"Ugh,aku lapar." Gumamnya. Ia melirik kesamping kanannya. Ino masih tertidur dengan lelap disana. 'Tidak enak kalau aku membangunkannya.' Ucapnya dalam hati.

Iapun kembali melirik kesamping kirinya. Sasuke,sama seperti Ino ia masih tertidur dengan lelap. Tapi mata Naru tidak mau berpaling dari paras tampan Sasuke. Ia masih saja menatap lekat setiap gurat ketegasan dalam wajah Sasuke. 'Apa bisa aku menghindarinya?' Ucapnya lagi didalam hati.

"Sampai kapankau memandang wajahnya terus,Naru-chan?" Goda Ino. Sontak Narutopun kaget dan salah tingkah.

"Eh,apa sih! Ino—Aku lapar. Cari makan yuk." Ucap Naru.

"Hm,ayo."

Ino dan Naruto memutuskan ke cafetaria di rumah sakit. Mereka membeli beberapa makanan untuk sarapan. Setelah selesai membelinya merekapun berjalan kembali keruangan.

"Apa Sasuke menungguku dari kemarin?" Tanya Naruto seraya menunduk. Ino tersenyum melihatnya.

"Ya. Kau harusnya melihat bagaimana wajahnya saat cemas."

Naruto langsung mendongak dan menatap mata Ino dengan lekat. "Memangnya bagaimana?"

"Hmm,dia menatap pintu ruang ICU dengan tajam! Bisa diabayangkan kalau pintu itu manusia,pasti pintu sudah mati karena takut." Jawab Ino sedikit mendramatisir.

Narutopun tertawa. "Kau lebay,Ino." Ucapnya.

"Apa tanganmu masih sakit?" Tanya Ino. Naruto tau,Ino ingin tahu siapa yang melukai tangannya ini. Tapi,apa tidak apa-apa jika ia memberitahukan persoalan ini pada Ino?

"Hu'um." Naruto hanya mengangguk.

Saat mereka membuka pintu ruangan terlihatlah Dei yang menatap sangar mereka berdua.

"Kalian pergi begitu saja tanpa memberitahu. Kalian membuat kami khawatir tau!" Ucap Deidara

Ino dan Narupun hanya tersenyum. Mereka ber-4 langsung sarapan bersama.

"Ne,Naru." Ino membuka suara. "Apa kau mau masuk sekolah sekarang?"

Dengan mantab Narutopun hanya mengangguk. Tak sadar bahwa anggukannya itu membuat Sasuke mengerenyit. "Fikirkan kesehatanmu,Dobe." Ucap Sasuke dingin.

Naruto menoleh,ia tersenyum. "Aku sudah tidak apa-apa,Teme. Aku bosan kalau disini terus."

"Alasan,bilang saja kalau kau mau kesekolah karena ingin bertemu incaranmu." Goda Deidara.

Sontak perkataan Dei membuat empat urat dikepala Naruto muncul. Ia menatap garang Deidara yang sedang makan dengan polosnya dan tanpa dosa. Karena mengerti apa yang akan Naruto lakukan pada Dei,Ino hanya menghela nafas.

"Dei-nee—" Duaakk...

"Hee—Ittaii...!"

Naruto tersenyum senang dengan hadiah yang dia berikan untuk Dei-chan tercinta. Ia terlihat bahagia dan kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang. Namun,lihat Sasuke. Ia hanya memandang iba kearah Deidara yang tengah mengusap kepalanya yang sedikit benjol karena jitakan panas Naruto.

"Jangan kaget dengan semua ini kalau kau bersama kami,Sasuke-kun." Gumam Ino yang masih didengar Sasuke.

.

.

Pukul 06.00, Naru sudah siap dengan seragam sekolahnya. Beruntung Mikoto datang kerumah sakit dengan membawa seragamnya dengan sedikit paksaan halus dari Naruto tentunya.

"Kamu yakin akan masuk sekolah sekarang,Naru-chan?" Tanya Mikoto.

Naruto yang tengah mengenakan sepatunya hanya menghela nafas. "Aku yakin,Kaa-san. Ayolah Kaa-san,pertanyaan tadi sudah ke 10 kalinya kaa-san tanyakan padaku." Lirih Naruto seraya merengut.

Mikotopun tersenyum,ia menghampiri Naruto dan menepuk puncak kepalanya dengan lembut. "Ne. Gomennasai. Kaa-san hanya khawatir padamu,Naru-chan."

"Kaa-san tidak perlu khawatir! Kan ada Sasu-nii yang menjagaku!" Ucapnya riang seraya menunjuk Sasuke yang tengah berdiri menyender didekat pintu.

Mendengar teriakan bahagia Naruto,Sasuke hanya melirik tajam dan mendengus. "Memang aku bodyguard-mu,hah?!"

"Ih,tugas seorang kakak kan menjaga adiknya!"

"Siapa juga yang mau jadi kakak mu."

"Hie?! Sasu-nii jahaaaatt! Kaa-san,hueee." Naruto memeluk Mikoto.

"Sudah-sudah,cepat kalian berangkat. Tuh Ino-chan dan Dei-chan sudah datang." Lerai Mikoto.

"Aku berangkat." Ucap Sasuke. Ia langsung saja pergi tanpa mengajak Naruto. Ino dan Dei yang sempat berpapasan dengan Sasuke hanya mengerenyit.

"Naru,kau ada masalah apa dengan Sasuke-kun?"

"Entahlah,Ino. Beberapa hari ini sikapnya berbeda."

Naruto menunduk. Ia berfikir,apa salahnya? Kenapa Sasuke berubah? Apa sebenarnya kehadirannya tidak diinginkan oleh Sasuke? Naru harus menyelsaikan ini semua,ia harus berbicara empat mata dengan Sasuke.

Merekapun berangkat bersama dalam satu mobil. Suasana hening mendominasi diantara mereka. meski sesekali suara Deidara yang tengah bernayanyi kecil terdengar. Naruto tidak mau menatap Sasuke,ia hanya melihat pemandangan luar dari kaca mobil. Sebenarnya ia gerah jika terus menerus diam,tapi—ah sudahlah.

Setelah sampai di KHS,Naruto mengantarkan Ino dan Deidara ke ruang kepala sekolah. Dan Sasuke lebih memilih kekelasnya.

Setibanya Naruto dikelas,ia langsung dihujani pertanyaan-pertanyaan mengenai hilangnya ia setelah istirahat,luka di lengan kiri nya,dan mengenai ia masuk rumah sakit kemarin. Namun dengan sabar Naru menceritakan semuanya,kecuali soal pem-bully-an yang Sakura cs lakukan.

Bel masuk berdering. Kakashi tidak lagi datang terlambat. Ia membawa anak baru,yaitu Ino. Pelajaran berjalan lancar,meski sering kali terdengar gaduh karena sikap Sakura.

.

Bel istirahat berbunyi. Naruto menatap bangku disebelahnya yang sudah kosong. 'Kemana dia?'Tanyanya dalam hati. Sedari tadi ia berfikir keras,dimana kira-kira tempat Sasuke menenangkan diri ketika ada masalah?

"Atap!" Pekiknya,seraya bergegas menuju atap. Namun lengan kirinya ditahan oleh seseorang yang membuatnya mengerenyit sakit.

"Jangan berlari,bodoh!" Ucap Ino penuh penekanan. Naruto segera mengangguk patuh. Inopun melepas genggaman tangannya.

"Kau menyiksaku,Ino." Lirih Naruto.

Ino hanya tersenyum dan berkata, "Selesaikan masalah kalian secepatnya."

.

Sesampainya diatap,Naru melihat Sasuke tengah menatap lagit biru yang cerah.

"Sasuke." Untuk pertama kalinya,Naruto memanggil namanya dengan lengkap tanpa embel-embel nii atau Teme.

Sasuke menoleh,terlihat wajah Naru yang sendu. Rambut pirangya berkibar mengikuti arah angin yang berhembus kencang.

"Ada apa denganmu?" Naruto berdiri disebelah kiri Sasuke.

".." Tidak ada jawaban apapun. Sasuke masih menatap langit biru yang membentang luas.

"Ternyata benar,kau tidak mau mempunyai adik sepertiku,kan?"

Dengan cepat,Sasuke menoleh kembali. Kini Naruto menunduk,rambutnya yang sengaja digerai menutupi wajahnya. Sasuke tidak dapat melihat jelas wajah Naruto sekarang.

"Jawab,Sasuke! Kau tidak mau aku menjadi adikmu kan?!" Naruto mulai emosi. Ia menatap tajam onyx yang berada dihadapannya.

"Ya,aku tidak mau kau menjadi adikku."

Tes..

Akhirnya,airmata yang sedari tadi ia bendung tumpah juga. Ia menatap tidak percaya. "Tapi—kenapa?" Lirihnya.

Sasuke memegang kedua pundak Naru dengan erat. Sekali lagi,Onyx dan Shappire itu bertemu. "Aku ingin kau menjadi Uchiha,bukan sebagai adikku. Tapi sebagai istriku,Naru."

Kedua mata Naru membola. "Ap—Apa?" Naru shock. Benar-benar shock!

TBC

Chapter 4 Update! Sepertinya chapter ini adalah chapter terpanjang yang pernah author buat. :D semoga kalian puas ya membacanya. Oh iya,gomennasai untuk para fans nya Sakura,Minato,ataupun Kushina! Runa ga bermaksud menjelek-jelekkan loh. Runa Cuma pinjem chara nya aja. Hihi.

Runa ucapkan Arigatou Gozaimasu buat yang sudah me review! Jangan lupa,setelah baca,review lagi yaa.. :D

Big Thanks to :

Naminamifrid, BlackRose783, Princessblue93, akbar123, Koura Fukiishi, hanazawa kay, Yasashi-kun, Hanako-chan45, gothiclolita89, minyak tanah, Angel Demon Ra TsukiNatsu, Yamashita Kumiko, Ara Uchiha, NuruHime-chan19, yuiko, azurradeva, Miss Ara Nightmare, Kizuna89, namikaze rizhan, Ymd, Guest, Chiarire, -chan, Qnantazefanya, sfsclouds, namikaze yondaime, Axa Alisson Ganger, dan HyuNami NaruNata.

Runa sampe ketawa sendiri membaca review kalian. Sekaligus nangis bombay juga. Runa seneng banget pas ngeliat yang me riview fic Runa ini banyak banget. :D oh iya,Runa disini masih baru. Runa masih belum pantes dipanggil senpai,karena Runa masih butuh banya belajar lagi :D panggil aku Runa aja,jangan senpai yaa minna! Arigatou.. jangan lupa Review nyaa..