Pairing : sasunaru

Rating : T

Warning :Yaoi…chap senang-senang..lagi?

Disclaimer : Masashi Kishimoto yang dicurigai fujoshi!

A/N : Rupanya di chapter kmarin saya salah mengetik Tsunade jd Hokage ke-empat.Huwaa!! mata ini sudah rabuuun… Maaf, n trimakasih reviewer karena telah memberi tahu.

Prakiraan umur:

Sasuke 27

Naruto 26

Minato, krg lebih 10…

"…" speech -- bicara

'…' though – dalam hati

Walking on the Thin Ice

By Raven-Zala

Chapter 4

Hari itu sebenarnya Sasuke enggan bertemu dengan Naruto, namun ia harus menyerahkan laporan pertanggung jawaban anak buahnya selama misi. Tetapi ketika ia sampai di kantor Hokage, ia menemukan kantor itu kosong. 'Kabur lagi', pikirnya malas.

Kejadian beberapa hari yang lalu masih mengusik pikirannya. Entah kenapa Naruto tiba-tiba bertanya perihal ibu dari Minato. Mengingat akan hal itu membuat lubang kepedihan dalam hati Sasuke kembali ternganga. Cukup baginya mati-matian menjaga rahasia keberadaan ibunya dari Minato. Walaupun setelah itu Minato tak mengungkit masalah tersebut, entah mengapa rasa khawatir dalam diri Sasuke tidak menghilang. 'Jika rahasia ini bocor sedikit saja, maka apa yang aku pertahankan selama sepuluh tahun ini akan sia-sia'.

Sinar mentari siang itu cukup menyengat. Selama beberapa belas menit, Sasuke berputar-putar mencari Naruto. Dari tempat biasa ia makan Ichiraku ramen, sampai atas Gunung Hokage, namun Hokage muda berambut pirang itu belum juga nampak. Akhirnya, sampailah Sasuke di tempat dulu ia dan Naruto biasa berlatih ketika masih Genin, Lapangan latihan, yang terletak di pinggir Konoha.

Sebuah tanah kosong yang diselimuti rumput dan potongan pasak kayu berjumlah 3 buah tertancap di tengahnya. Sembari kakinya melangkah memeriksa, pandangan mata Sasuke menyapu lapangan tersebut. Dari kejauhan dilihatnya sebuah jubah putih tersembul di balik pohon. Mulut Sasuke sudah bersiap mengeluarkan komentar pedas terhadap Hokagenya yang melalaikan pekerjaan. Namun setelah ia berdiri di depan sang Hokage, ia mengurung tindakan itu. Dalam posisi menyandar pada batang pohon, Naruto tertidur. Beberapa kunai tergeletak berantakan tak jauh dari tempat ia berdiri. 'Habis latihan rupanya', pikirnya lega.

Sasuke berjongkok di depan Naruto, hendak membangunkan. Sebelum tangannya mencapai Naruto, sebuah gumaman menghentikannya.

"…kenapa Sasuke…"

Sasuke tersentak kaget. Dilihatnya sebutir air dari matanya yang tertutup jatuh melewati pipi bergores itu. Perasaan galau Sasuke langsung membuncah. Rasa panik dan khawatir menyelimutinya. Tangannya yang sempat terjulur, ditariknya kembali.

"Na..", Sasuke tidak dapat melanjutkan. Panggilan yang ingin dikeluarkan tertahan di tenggorokannya. Tapi secara tidak sadar, semakin lama tubuhnya makin mendekati tubuh Naruto. Seakan ingin memberikan perlindungan pada pria yang tubuhnya lebih kecil di depannya itu.

Sasuke berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Naruto. Sekali lagi ia mencoba membangunkan Rokudaimenya. Dengan perlahan ia menepuk bahu Naruto, "Naruto.."

Tiba-tiba sebuah tangan berkulit coklat menggenggam pergelangan tangannya yang masih menempel di bahu Naruto. Belum sempat Sasuke menarik tangannya, sepasang mata dihadapannya terbuka. Namun bukan warna biru langit yang nampak pada sepasang mata tersebut, tapi warna merah.

"Kyuubi…?", Sasuke menahan nafas.

Mata merah naruto a.k.a Kyuubi berubah tajam, "Uchiha…", Kyuubi melonggarkan genggamannya, "sudah kubilang untuk berhati-hati".

"Apa maksudmu?", tanyanya penasaran.

Kedua tangan Kyuubi langsung mencengkram kerah baju Sasuke, ditariknya Captain ANBU itu mendekatinya, "Uchiha kecil itu…dan kejadian saat di Gunung Hokage…membuat pintu yang tertutup menjadi bercelah…".

"Aku tak butuh bantuanmu", ujar Sasuke dingin.

Kyuubi tersenyum sinis, "Jangan lupa, akulah yang menyelamatkan Uchiha kecil itu dari kematian. Jika Naruto mengetahui ibu Minato yang sebenarnya, seumur hidup ia tidak akan memaafkan'nya'…", lanjut Kyuubi.

Sasuke mengangguk pelan. Tanpa penjelasan lebih lanjut pun ia mengerti.

"Tangkap", mata Kyuubi tiba-tiba kembali terpejam, ia melepas kendali atas Naruto.

Tubuh Naruto langsung lunglai, jatuh ke pelukan Sasuke. Dilihatnya Hokage ke-enam itu masih dalam keadaan tertidur. Sasuke menghela nafas, diputuskannya ia tidak jadi membangunkan Naruto. Perlahan Sasuke menempatkan salah satu tangannya di bawah lutut kaki naruto dan sebelahnya lagi di punggung. Dengan hati-hati, dibopongnya Naruto yang tertidur pulas menyandar ke dadanya.

Selang beberapa menit, Sasuke membawa Naruto kembali ke Menara Hokage. Sesampai di kantor, Sasuke menurunkan badan Naruto ke atas sofa. Terdengar suara pintu terbuka. Sasuke menoleh ke arah sumber suara, ia tidak sadar akan Naruto yang terbangun tiba-tiba. Dan…

DUAGG!!

Sebelah kaki Naruto tepat menghantam perut Sasuke, menyebabkan Captain ANBU itu terpental beberapa langkah ke belakang. Orang yang membuka pintu terkejut melihat kejadian tersebut. Rupanya Iruka yang datang.

"Lho? Ada apa ini?", mata Iruka memandang bolak-balik kedua mantan muridnya.

Sasuke yang meringis kesakitan menjawab, "aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia…". Namun begitu melihat Naruto yang terbangun dengan muka horor, Sasuke terdiam.

Mata Sasuke terpejam sejenak sebelum berbicara, "Tampaknya kondisimu lagi jelek. Aku akan kembali nanti". Ia keluar ruangan meninggalkan mantan guru dan Hokage berdua.

Iruka yang masih bingung hanya bertanya pelan, "Naruto?"

--

"Silahkan Minato-kun", kata wanita itu sambil menyodorkan secangkir teh.

Minato menerima dan perlahan diseruputnya teh tersebut, "bibi Hinata tidak bekerja?"

Hinata tersenyum, "Tidak, akhir-akhir ini aku harus bergantian mengurus anak. Soalnya belum biasa ditinggal".

'Kesempatan!', pikir Minato tiba-tiba.

"Bibi Hinata benar-benar istri baik ya. Anak-anak bibi sungguh beruntung".

Dipuji seperti itu membuat muka Hinata bersemu merah, "o..ohya? a-aku pikir se-semua ibu se-seperti itu, Minato-kun", katanya terbata.

Minato mengernyitkan alis, "tapi ibuku tidak". Kepalanya sedikit tertunduk, "selama ini sebenarnya aku khawatir". Minato kembali menatap Hinata, pandangannya berubah sedih, dan air mata sedikit tergenang di kedua pelupuk mata Minato. 'Biasanya dengan sedikit air mata buaya bekerja pada setiap wanita', pikirnya percaya diri.

"Jangan-jangan ibuku itu orang jahat ya?...atau dia itu missing-nin?", Minato membuat suaranya sedikit bergetar, "makanya dia pergi meninggalkan aku dan tousan. Dia tidak sayang pada kami"

Mendengar pengakuan dari Minato, Hinata jadi panik, "bu-bukan seperti itu Minato-kun! Ibumu itu orang yang dihormati di Konoha. Dia tidak mungkin orang jahat"

"Tapi buktinya dia tidak ada disini! Kalau dia bukan orang jahat terus kenapa? Atau jangan-jangan tabiatnya begitu buruk dan wajahnya begitu jelek makanya ayah menyuruhnya pergi?"

Hinata terdiam berpikir, "err…Minato-kun. Aku rasa untuk ukuran seorang istri, ayahmu tidak akan memilih yang jelek atau tabiatnya buruk".

Uchiha kecil itu baru sadar, pikirannya kembali teringat peristiwa bersama ibu-ibu gendut nan jelek itu, wajah Minato sedikit meringis, 'eh iya, benar juga'.

Belum sempat Minato membalas, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Di depannya munculah dua orang pria, yang satu berambut hitam panjang dengan kedua matanya berwarna putih, dan yang lain berambut hitam nyentrik dengan baju keseluruhan hijau.

"Paman Neji!", sapa Minato, "kapan balik dari Suna?"

"Halo Minato", balas Neji tersenyum, "baru sampai hari ini".

"Minato-kun!!", tiba-tiba pria di sebelah Neji, yang tak lain adalah Lee, memeluk Minato erat-erat, "sungguh semangat masa muda!! Aku tak menyangka kita bertemu disini!!".

Minato berusaha mati-matian mengumpulkan udara untuk bernafas, "pa..paman Lee…ga bisa nafas…lepaskan aku.."

Lee langsung melepaskan Minato, paman satu itu hanya nyengir tanpa merasa bersalah.
Setelah dapat bernafas dengan lega, Minato melanjutkan, "lalu kenapa paman ada disini? Paman Gaara ikut?"

Jounin berbaju hijau ikut menimbrung pembicaraan, "eh benar. Jadi keluargamu ditinggal di Suna?".

Neji mengangkat bahu, "apa boleh buat. Akhir-akhir ini Gaara sangat sibuk. Pekerjaannya sebagai Kazekage menumpuk. Apalagi ia hampir meninggalkan pekerjaannya hampir setahun".

Minato teringat akan paman berambut merah yang juga sama-sama Jinchuriki itu. Ia sudah lama mengetahui hubungan pria keturunan Hyuuga di depannya dengan Kazekage yang berada di Suna. Tidak dapat dipungkiri, Kazekage muda itu juga memiliki wajah tampan –jika tidak mau dibilang cantik oleh Minato- dan pasangan hidup yang baik. Tidak seperti hokagenya yang ramai, pembawaan Gaara diam dan cukup kalem. Tidak aneh keduanya sering dilirik oleh wanita dan juga pria. Namun rupanya Kazekage Suna lebih beruntung karena mendapatkan seorang Neji Hyuuga, dan mereka bersama hingga sekarang. 'Ah, andai saja tousan bersama-sama dengan Naruto-san…seperti mereka. Padahal tousan tinggal sedikit lagi…sedikiiit lagi mendapatkan Naruto-san', Minato menghela nafas panjang, 'Apa semua pria Konoha seberuntung ini? Bahkan yang memiliki wajah di bawah garis kemiskinan pun…', pikir Minato sambil memandang Lee.

--

Raut wajah Minato kesal. Lagi-lagi ia gagal mendapatkan informasi. Seandainya kedua orang itu tidak tiba-tiba datang, mungkin rencananya akan berhasil. Minato melanjutkan perjalanan kembali ke Uchiha Mansion. Sesaat langkahnya terhenti, dilihatnya ada sebuah kaleng kosong berada di tengah jalan. Berhubung suasana hati Minato sedang tidak baik, ditendanglah kaleng itu sekuat tenaga hingga melayang ke balik pagar sebuah rumah.

NGIIING…..GOMPRYANG!!

'Waduh! Nabrak apa tuh?', sempat Minato mematung sesaat sampai suara marah seseorang menggelegar.

"TIDAAK! BONSAIKU! SIAL, SIAPA YANG MELEMPAR KALENG INI?!"

Tanpa pikir panjang, Minato mengambil langkah seribu…

Setelah berlari sekian lama, ia menghentikan laju larinya. Ia menyandar pada sebuah pagar kayu untuk mengatur nafas. 'Gawat, hampir saja. Aduh, jadi ga enak….gimana nih', Minato terdiam beberapa saat untuk berpikir, kemudian..

'Yah, sudahlah', pikirnya sambil menghela nafas. Pandangan Minato teralih pada langit, sinar matahari sudah tidak terlalu panas, menandakan hari akan sore. Kakinya kembali berjalan pulang. Baru beberapa langkah tanpa sadar ia menginjak sesuatu…sesuatu yang panjang dan berbulu.

"Grrrr…"

'Kenapa perasaanku ga enak..', pelan-pelan dilihatnya sesuatu yang terinjak itu di hadapannya. Sepasang mata memandangnya dengan penuh amarah dan suara geraman sampai di telinganya. Di hadapannya berdirilah seekor anjing besar berwarna hitam yang sudah bersiap-siap menerkam dirinya.

'Ups', Minato mundur selangkah, tapi anjing di hadapannya maju dua langkah. Melihat ada celah untuk kabur, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk kedua kalinya, diambilnya lagi langkah kaki seribu. Tapi rupanya sang anjing tidak tinggal diam, dikejarlah Minato dengan kecepatan maut.

"HIYEEE!", teriak Minato ketakutan. 'Kenapa setiap mau menyelidiki ibu selalu saja aku sial!'. Minato berlari sekuat tenaga menyusuri jalan. Belok ke kanan, belok ke kiri, sampai lompat selokan. Ia menoleh ke belakang, namun ternyata sang anjing masih mengejarnya dengan jarak yang tidak berubah, juga dengan gonggongan menyeramkan. 'Nafsu amat sih nih anjing!'.

"Hush! Hush! Bun-bun…sana pergi!", si anjing malah tambah marah dipanggil seperti itu (memangnya dia mengerti?!). Sudah beberapa kali gigi tajam dari si anjing nyaris menerkam kakinya. Dalam pandangan Minato, ia menemukan pohon besar berdiri. Dengan secepat kilat Minato memanjatnya sampai ke dahan terdekat.

Dari atas Minato hanya bisa memandang sang anjing yang berusaha ikut memanjat. Beruntunglah ke-empat kaki anjing tidak dirancang untuk memanjat pohon, kalau tidak mungkin ia bisa dihabisi di atas. "Hush! Sana pergi Paulo!!", pintanya desperet. Si anjing menggonggong karena ia tidak bisa mencapai mangsanya di atas. Setelah beberapa lama, akhirnya binatang binal itu menyerah juga. Ditinggalkannya Uchiha kecil itu bertengger ketakutan di atas pohon.

Minato menghela nafas lega. Ditunggunya si anjing sampai menghilang dari pandangan. Merasa sudah aman , Minato bersiap untuk turun, namun…

"Krek.."

'Krek?', pemandangan di depannya membuat air muka anak laki-laki tampan itu berubah pucat. Rupanya dahan yang ia singgahi adalah dahan muda yang tidak begitu kuat menopang tubuhnya. Minato melirik ke bawah, saat ini ia sedang berada empat meter di atas tanah. Jika jatuh, cukup membuatnya terluka…minimal patah kaki atau tangan.

"Kreek", 'ini tidak lucu'. "Krek..kreek", '..tungguu..!. "Kretek…KRAKK!!", 'KASAAAN!', batin Minato teriak dalam kepasrahan. Matanya terpejam, tubuhnya siap-siap menghantam tanah.

"BRUGG..!!"

Hanya dalam hitungan detik, tubuh Minato sudah di atas tanah. Terbaring di atas tanah yang empuk dan hangat…'Empuk?', pikirnya bingung. Minato membuka mata, yang terlihat di depannya adalah dua tangan dengan lengan baju berwarna putih, melingkar memeluk badannya. Tanpa melihat, ia sudah dapat menebak orang yang menangkapnya ketika jatuh barusan.

Uchiha kecil itu mengangkat kepalanya. Ia menemukan sepasang mata langit dan wajah khawatir berada tepat di depan wajah. "Naruto-san..".

"Minato-chan! Kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?", ujar Naruto panik. Diperiksanya Minato berulang-ulang dari wajah, tangan, badan, dan kaki. "Wah! Kakimu terluka!".

Minato melirik kakinya, ternyata lututnya terluka ketika terjatuh. "Cuma lecet…Naruto-san tidak usah khawa…".

Belum sempat Minato menyelesaikan kalimatnya, badannya sudah dibopong oleh Hokagenya itu. "Gawat! Harus cepat diobati!"

Minato hendak menolak, "tidak apa-apa…"

"Kakimu terkilir?!"

"tidak...", jawabnya seraya menenangkan pria di depannya

"Atau jangan-jangan patah?!", hokage ke-enam itu malah tambah panik.

"..tunggu Na…."

"Sakura-chaaan", teriak Naruto panik sambil menggendong Minato ke hokage tower.

"…rokudaime-sama…"

--

"Dasar…kukira ada apa sampai kau memanggilku heboh seperti itu", omel ninja medis berambut pink itu. Tangannya tak berhenti mengobati kaki Minato yang terluka.

"Maaf Sakura-chan..", wajah Naruto tertunduk merasa bersalah.

Minato mencoba membela hokage tersayangnya itu, "jangan khawatir bibi Sakura", ujarnya tersenyum, "kata orang kalau mendapat tiga kesialan dalam sehari maka selanjutnya ia akan mendapatkan satu keberuntungan".

Sakura sweatdrop mendengarnya, "teori dari mana itu?". Minato hanya nyengir.

Sakura menyelesaikan pekerjaannya. "pergelangan kakimu agak terkilir sedikit Minato-kun. Tapi kurasa besok akan sembuh". Sakura tersenyum, ia menoleh pada hokage yang sedang duduk di sampingnya dan mengomel. "Dan kamu! Jangan tiba-tiba datang dengan wajah heboh…aku kira ada serangan musuh".

Sakura menghela nafas, untungnya ia sudah biasa. Bukan Naruto jika pria berambut pirang itu tidak berisik atau ramai. "Ya sudah aku balik dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan", ujarnya sambil pergi meninggalkan kantor Hokage.

Setelah Sakura pergi suasana ruangan kembali sepi, entah mengapa ada rasa canggung di antara mereka. Minato mau membuka mulutnya namun sudah keduluan Naruto yang memulai percakapan.

"Kenapa tadi kamu bisa di atas pohon?", tanyanya khawatir.

Minato menjawab sambil tersipu, sebelah tangannya menggaruk belakang kepalanya, "hehe, tadi aku dikejar anjing besar…"

"Kurang ajar sekali Akamaru!", sela Naruto tiba-tiba.

Minato mengibas-ngibaskan tangannya, "bukan…bukan Akamaru…anjing liar kok"

"Oh?", Naruto cengok.

Uchiha kecil itu tersenyum, namun beberapa saat senyumannya berubah menjadi seringai ala Uchiha, "aku senang sekali ditolong sama Naruto-san"

Naruto menghela nafas, "tadi kamu nyaris terluka parah".

"Segitu khawatirnya?", tanyanya seraya sebelah tangannya menyentuh pipi rokudaimenya itu.

'Kok rasanya aku kenal perlakuan seperti ini', batin Naruto mencelos.

Naruto menurunkan tangan kecil Minato, namun dilihatnya ada goresan panjang di punggung tangan tersebut.

Minato melihat ke arah hokage ke-enam itu memandang, "oh, mungkin tergores oleh dahan tadi", ia kembali tersenyum manis, "tidak apa-apa"

Tanpa diduga, Naruto membawa tangan Minato ke bibirnya dan mencium goresan yang ada di punggung tangan dengan lembut.

Mata Minato membesar melihat perlakuan tiba-tiba hokagenya, 'Uwaah, aku beruntuuung…', soraknya dalam hati.

Naruto kembali memandang Minato yang masih di awang-awang. "Sini, kucium sakitnya supaya hilang…mana lagi yang sakit?", tanyanya dengan senyuman lembut.

Sadar dari linglungnya, Minato langsung berpikir cepat, 'mana ya..pipi? dahi?'. Tanpa sadar tangannya menunjuk dahinya yang tidak ada hubungannya ketika jatuh tadi.

Namun tampaknya hokage di depannya tidak begitu perduli. Badannya agak maju sampai bibirnya menyentuh dahi Minato.

Minato memejamkan mata. Untuk beberapa saat ia menikmati perhatian khusus dari rokudaimenya. Di bibirnya tersungging senyuman kecil. Bagi Minato, rasanya saat itu dunia sedang berhenti berputar. Sebuah perasaan hangat mengalir dalam hatinya. 'Tidak mungkin kan tousan mendapat perlakuan seperti ini', pikirnya bangga.

Entah ada dorongan apa yang membuat Naruto berbuat seperti itu. Sekilas bayangan masa lalu kembali hadir di benaknya.

-flashback-

"Wah, dia manis sekali", puji Naruto melihat jarinya digenggam erat oleh Uchiha termuda yang masih bayi di depannya.

"Hn", jawab Sasuke singkat.

Naruto melirik Sasuke, setelah beberapa hari ia mengetahui keberadaan Minato. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan anggota baru keluarga Uchiha itu.

"Hei teme, berapa umur Minato?"

Sasuke menoleh pada Naruto, dijawabnya pertanyaan Naruto dengan wajah datar, "sebulan lebih".

"Eh, semuda itu? Aku kira dia sudah beranjak beberapa bulan, sebab katanya kau tidak lama baru kembali ke desa ini"

Sasuke kembali memalingkan wajahnya dari Naruto, "dobe, dia lahir di konoha".

Mendengar kenyataan tersebut mata Naruto terbelalak kaget, "Konoha?! Berarti ibunya masih disini?!"

Mendengar pertanyaan Naruto, tubuh Sasuke terdiam kaku, "tidak, ibunya sudah pergi".

Jawaban singkat Sasuke membuat Naruto ikut terdiam. Dalam hatinya ada perasaan sedih, senang, dan menyesal. Sedih karena dalam umurnya yang masih muda, Minato ditinggalkan begitu saja oleh ibunya, membuat Sasuke harus mengurusnya sendirian. Senang karena dengan kepergian istrinya, maka tidak ada penghalang bagi dirinya dan Sasuke. Mungkin jika ibu dari Minato masih ada, mereka berdua tidak akan bisa berbicara sesantai ini. Malah mungkin Naruto akan menjauh daripada melihat kebahagiaan kecil dari orang yang selama ini diam-diam dicintainya. Dan menyesal karena tanpa sadar ia memiliki perasaan senang di atas penderitaan Sasuke.

'Aku ini benar-benar hina', kutuk Naruto pada diri sendiri.

Tiba-tiba raungan tangisan memecahkan keheningan. Minato menangis. Spontan, Sasuke dan Naruto berdiri di sisi tempat Minato tidur.

Naruto menjulurkan tangannya hendak menyentuh Minato, "Minato-chan…". Kedua tangan mungil Minato segera menggenggam jari kelingking Naruto yang terjulur dan menghisapnya dalam mulut. Tangisan Minato langsung berhenti.

Sasuke yang melihat kejadian barusan beranjak dari kamar, "tampaknya dia lapar, aku akan membuatkannya susu".

Melihat punggung Sasuke yang menghilang dari balik pintu, pandangan Naruto kembali teralih pada bayi mungil di depannya. Minato menghisap kelingking Naruto dengan wajah damai. "Kau tahu", Naruto berbicara pada Minato, "bisa saja aku membencimu...". Sejenak Naruto memejamkan mata, dan kembali terbuka dengan senyuman sedih terukir di wajah.

"Namun, aku tidak bisa…takdir telah merampas ibumu dari ayahmu. Kalau aku sampai membencimu…itu kejam namanya". Wajah polos Minato kembali dipandangi Naruto. Pria berambut pirang itu berusaha merekam memori wajah bayi tampan di depannya.

"Anak siapapun kamu, aku tidak perduli. Mulai sekarang aku akan membantu Sasuke untuk sama-sama membesarkanmu". Naruto agak menunduk, volume suaranya berubah kecil yang jika orang lain mendengarnya, hanya terdengar seperti bisikan. "Mungkin ini salah satu cara agar aku tetap dapat berada di samping Sasuke". Senyuman miris kembali tersungging di bibir Naruto, 'jika Minato tahu alasan yang sebenarnya. Apa dia akan membenciku?'.

-end flashback-

Naruto melepaskan bibirnya dari dahi Minato. Dipandangnya Uchiha kecil itu penuh kasih sayang sampai…ia merasa ada kehadiran lain dalam ruangannya.

Naruto menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah terbuka. Di depan pintu tersebut berdiri Shikamaru, Ino, dan Chouji.

"Hai, Naruto..", sapa Ino dengan senyum agak dipaksa. Sementara Chouji hanya mengernyitkan alis.

'Cih, pengganggu', Minato kesal.

"Naruto", tiba-tiba Shikamaru berbicara, "kamu diperlukan di bawah".

Seperti teringat akan sesuatu, Naruto langsung bangkit berdiri, "oh, iya..terima kasih Shikamaru", ujarnya sambil berlari keluar ruangan.

Namun ketika dirinya melewati Shikamaru, jounin jenius itu membisikkan sesuatu yang hanya terdengar olehnya, "sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Uchiha kecil itu".

Naruto tidak menggubris, ia pergi meninggalkan Shikamaru tanpa membalas apapun.

Suasana tidak enak hadir di antara mereka bertiga, sampai Minato memecahkan keheningan.

"Bibi Ino", panggilnya tiba-tiba.

Ino tersadar, ia tersenyum dan berjalan mendekati Minato. "Halo Minato-kun".

"Kok tumben pada kesini, lagi pada senggang?", tanya Minato santai.

"Harusnya kami yang bertanya seperti itu, kamu sendiri sedang apa?".

Minato memiringkan kepala sok berpikir, "tidak ada hal khusus. Naruto-san kemana?"

"Ada perlu di bawah…ia dipanggil untuk membicarakan kebijakan bagi keluarga ninja yang gugur selama misi", Shikamaru menjawab.

"Kebijakan?"

"Benar, misalnya bagaimana kelangsungan kehidupan keluarga mereka atau kelanjutan anak-anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya", kali ini Chouji yang menambahkan.

Mendengar hal tersebut, raut wajah Minato berubah sedih. Ia merasakan hal yang sama dengan nasib anak-anak yang ditinggalkan. Walaupun ia sendiri masih memiliki ayah, namun rasa kerinduan kepada ibu tidak dapat dipungkiri.

"Seperti aku ya?... Bagi yang tidak memiliki orang tua pasti kehidupannya berat", lirih Minato sambil menunduk.

Dug. Ino menjitak kepala Minato pelan. "Kamu bicara apa sih Minato-kun. Dengar, bukan berarti kehilangan orang tua menjadi beban seumur hidup. Kedua orang tuamu saja masih bisa bertahan hidup sampai sekarang, walaupun dengan tekanan berat".

"Ino..", Shikamaru memperingatkan.

"oh!", wanita berambut pirang itu segera menutup mulutnya yang keceplosan. Ia teringat akan peristiwa berdarah yang mengguncangkan seantero Konoha, pembantaian klan Uchiha. Walaupun telah lama berlalu, tidak ada satu pun yang mau mengingatnya. Apalagi sekarang di Konoha hanya tersisa dua Uchiha, yang salah satunya sedang duduk di hadapan mereka.

Chouji mendekati Minato, sebelah tangannya memegang bahu anak kecil itu. "Minato-kun, apapun yang akan kau lakukan, kau tidak perlu khawatir. Kami semua ada disini siap membantu".

Minato tersenyum dan mengangguk pelan, dari perkataan pamannya yang berbadan besar itu membuat beban di pundaknya sedikit terangkat. "Kau benar paman Chouji". Minato bangkit berdiri. "Baiklah, karena sudah sore aku pulang dulu". Pamitnya seraya menuju pintu. "Oh iya…tolong bilang pada Naruto-san. Terima kasih atas 'pengobatan'nya", lanjutnya pergi sambil bersiul.

Ketiga orang yang di dalam ruangan hanya bisa terbengong-bengong melihat perubahan sikap Minato yang cepat.

"Tampaknya dia senang…", ujar Chouji dengan raut muka bingung.

"Benar, dia tampak senang", tambah Ino.

"Nyaris, menyusahkan…"

"Hah? Apa?".

--

Sasuke terdiam duduk dalam ruang kerjanya di Uchiha Mansion. Kejadian bersama Naruto…bukan Kyuubi tadi lapangan latihan terulang terus dalam pikirannya. 'Apa selama ini aku melewatkan sesuatu?', pikirnya galau. Sejak kejadian itu pikirannya terus resah, membuatnya tidak berkonsentrasi pada pekerjaan.

Sasuke memegang kepalanya yang sedari tadi sakit. Berbagai macam prasangka terus memenuhi benaknya, ditambah lagi dengan reaksi Naruto yang akhir-akhir ini tidak biasa. Baginya kata-kata Kyuubi merupakan suatu peringatan. Entah mengapa Sasuke merasa akan datang suatu bencana di kehidupan mereka. Yang jadi masalah, apakah ia sudah siap menghadapi itu semua. Selama ini ia dan teman-temannya berusaha menjaga semua keseimbangan. Namun bagaimana pun mereka bertindak, posisi mereka juga sudah berada di ujung jurang. Jurang dalam yang selama ini mereke belakangi.

Captain ANBU itu teringat ketika sore tadi Minato pulang. Tak ada tanda-tanda aneh dari anak satu-satunya itu. Bahkan ia pulang dalam keadaan ceria. Sasuke sempat bernafas lega. Setidaknya tidak terjadi sesuatu pada anak kesayangannya. Dari ruangannya di lantai atas Sasuke mendengar gumaman nyanyian Minato yang sedang berada di dapur.

Tok..tok…tok!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Minato segera membersihkan tangannya dan berlari menuju kesana. Minato sering lupa akan nasihat ayahnya untuk berhati-hati membukakan pintu bagi orang asing. Tak ada satupun kecurigaan di kepalanya akan bahaya di balik pintu. Daun pintu itu langsung dibukanya.

"Ya?"

Dengan kecepatan tinggi, sebuah makhluk menyerangnya.

"GYAAAA!!"

Dari ruang kerja, Sasuke mendengar teriakan Minato. Secepat kilat ia berdiri dan berlari keluar ruangan. "MINATO!", teriaknya khawatir. Sampailah kaki Sasuke di ujung anak tangga turun menuju lantai bawah. Namun terdengar lagi suara Minato.

"Eh, Pakkun. Jangan bikin kaget begitu…"

'Eitss', kaki Sasuke terpeleset dan kehilangan keseimbangan.

Di hadapan Minato muncul pula jounin senior dengan rambutnya yang berwarna perak dan senyuman di wajah, "selamat malam Mi-…"

BRUGG! GUBRAK..BRAK..BRUGG!!

"….Suara apa itu?"

Minato dan jounin tersebut yang sudah jelas adalah Kakashi, memeriksa memasuki ruangan. Dilihatnya Sasuke dalam keadaan tersungkur di anak tangga paling bawah.

"Tousan? Jangan akrobat di tangga", ujar Minato sambil ngeloyor pergi kembali ke dapur.

Sasuke yang masih terkapar di lantai, hanya bisa teriak dalam hati, 'Dia! Benar-benar ingin membunuhku!'

Kakashi menyentuh kepala Sasuke dengan ujung jari. Tuk..tuk..tuk.."Sasuke? kau masih hidup?"

Hanya dijawab dengan ringisan Sasuke yang kesakitan.

-to be continued-

A/N: Salah satu nama anjing yang disebutkan Minato di atas dan adegan 'cium yang sakit biar cepat hilang' itu diambil dari fanfic Naruto luar yang berjudul 'Naruto's Pet' karya BakaNekoSan. Abis maniiiiis banget..! (drooling…dengan iler tercecer dimana-mana). Tapi nama yang satu lagi sih dari Aria yang emang sense of naming-nya bermasalah. Maaf apdetnya lama.. kedepannya fic ini akan lebih diprioritaskan.

Review pliiis..biar mood saya tambah naik mengerjakan fic ini. Tararengkyuu…