Sakura seorang wanita karir yang kaya raya dan sukses. Dia pintar, cantik, seksi dan sangat menarik, hanya saja dia sampai diusianya yang sudah begitu matang, 25 tahun belum menikah dan tak terlihat sekalipun dia menggandeng seorang kekasih atau sekedar gebetan. Semua orang disekelilingnya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan Sakura? Apa jangan-jangan dia menyimpang alias penyuka sesama jenis?

Tapi Sakura tidak akan pernah tahu kalau kehidupannya akan berubah dalam waktu semalam. Dia tidak akan pernah menduga kalau besok statusnya sebagai jomblowati yang bahagia akan segera berubah.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Warn : OOC, aneh, typo(s), perubahan bahasa dalam waktu-waktu tertentu (you can click back if you hate this).

Rate : M

Pair : Sakura X Sasori/Sakura X Sasuke

Genre : Romance/Drama/Humor/Hurt-comfort

xxx

HIMITSU DESU!.

(The Propose)

.

Sesuai dengan permintaan Sakura, malam itu Sasori datang ke rumah Sakura. Pemuda itu berdiri di depan pintu pagar rumah wanita itu sambil merapihkan lengan kemejanya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain sedang memegang sebuah parsel berukuran sedang. Dengan gugup pemuda itu memencet tombol pintu pagar dari rumah yang begitu mewah tersebut.

"Siapa?" terdengar suara dari bel pintu itu. Benar-benar rumah yang elite pikir Sasori.

"Akasuna Sasori. Aku datang atas permintaan Sakura Haruno," balasnya pada suara di sebrang.

"Oh, tuan Sasori. Nona Sakura sudah menjelaskan mengenai anda, silahkan masuk." Tampaknya Sakura sudah memberitahukan mengenai kedatangan Sasori sebelumnya. Terlihat reaksi dari suara di sebrang sana.

Tak lama pintu gerbang dari rumah itu terbuka otomatis. Sasori melangkah maju, masuk ke dalam meskipun sebenarnya dia enggan. Kalau bukan karena tahu Sakura hamil karena dirinya, dia tak akan mau melakukan apa yang diminta wanita itu.

Pemuda itu melangkah dengan penuh keraguan masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut. Di sekelilingnya terdapat beberapa pohon rimbun dan bunga-bunga. Pada tamannya Sasori dapat terlihat ada sebuah pohon Sakura yang berdiri kokoh di tengah-tengahnya. Sasori akhirnya sampai di depan pintu dari rumah megah tersebut. Sambil menelan ludah dia kembali memencet bel yang ada pada tembok bel tersebut. Setelah beberapa kali memencet bel, tak lama pintu itu terbuka.

Krieeeet...

Pintu besar berwarna coklat muda dengan ukiran khas itu terbuka lebar. Di dalamnya Sasori dapat melihat seorang wanita berambut hitam pendek sudah berdiri menantinya.

"Silahkan masuk, tuan Sasori. Anda sudah ditunggu di dalam dan biar saya yang bawakan parsel anda." Wanita itu mengambil parsel yang dibawa Sasori. Tentu dia sudah tau hadiah itu untuk majikannya. Dia mempersilahkan Sasori masuk dan kemudian mengantarkannya ke sebuah ruangan.

Sasori tak banyak bicara. Dia terus berjalan mengikuti langkah wanita di depannya sambil berpikir kenapa dia mau-maunya datang dan melakukan semua ini. Saat itu juga dia merasa seperti orang bodoh. Tapi tetap dia harus mempertanggung jawabkan 'kecelakaan' itu.

"Nona muda dan Nyonya besar sudah menunggu anda." Wanita itu mempersilahkan Sasori masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia membukakan pintu untuk Sasori.

"Terima kasih... " Sasori masuk ke dalam dan di sana dia dapat melihat dua orang wanita cantik. Yang satu sudah dapat dipastikan adalah Sakura. Dia menyanggul sebagian rambut panjangnya dan sisa dari rambutnya dibiarkan terurai. Lipstik merah menghiasi bibir sensual wanita itu. Tak lupa gaun berwarna merah dengan tali tipis yng menggantung pada kedua bahu mungilnya dan dress itu menutup sampai lututnya. Sementara wanita di sebelahnya terlihat lebih tua dari Sakura dan kemungkinan dia adalah ibu Sakura. Meski begitu, wanita itu masih mempesona dengan pakaian khas jepang, sebuah kimono yang berwarna hijau cerah yang sudah dimodifikasi.

"Sasori, silahkan duduk," kata wanita itu sambil tersenyum ramah mempersilahkan Sasori untuk duduk.

Keadaan hening sesaat. Sasori hanya diam menatap kedua wanita yang duduk di depannya dengan tegang. Rasanya dia seperti mau dieksekusi mati. Sementara Tsunade, hanya memperhatikan Sasori dari kepala sampai ujung kaki. Hanya dalam sekali lihat dia sudah dapat menebak pemuda di depannya masihlah sangat muda. Kemungkinan umurnya baru belasan tahun. Tsunade menghela napas sesaat begitu mengetahui Sasori yang masih sangat muda. Tiba-tiba saja dia merasa tidak yakin kalau Sasori dapat bertanggung jawab penuh atas Sakura dan anak yang sedang dia kandung.

"Jadi, kau kemari ingin melamar Sakura?" tanyanya dengan nada tegas. Sasori langsung mengangguk cepat.

"Sebelumnya aku ingin bertanya. Apa benar kau yang telah membuat anakku hamil?" tanyanya lagi untuk memastikan. Dia hanya heran bagaimana mungkin Sakura bisa melakukannya dengan Sasori. Bukannya mau meremehkan tapi Sakura wanita tangguh yang tak akan diam saja kalau dilecehkan, apalagi anaknya itu pemegang sabuk hitam karate, kalau ada yang berani macam-macam sudah dapat dipastikan pelakunya bisa masuk rumah sakit.

"I-iya... Aku minta maaf... " balas Sasori yang mukanya berubah sedikit merona saat mengingat kejadian itu. Dia tidak tahu harus bicara apa selain meminta maaf atas perbuatan yang tak sengaja dia lakukan, meskipun yang menjadi pemicunya adalah Sakura sendiri.

'Dia anak baik dan... Terlihat masih sangat polos,' Tsunade tersenyum. Dalam hati dia terkekeh saat melihat reaksi Sasori yang dianggapnya terlalu polos.

"Lalu berapa usiamu? Apa kau sudah memiliki pekerjaan atau masih sekolah?" tanya Tsunade lagi yang sepertinya sudah bisa menduga apa yang akan dijawab oleh Sasori.

"Aku masih sekolah dan usiaku enam belas tahun. Tapi aku sudah memiliki beberapa pekerjaan," jawabnya sedikit merasa risih saat membicarakan pekerjaan. Ayolah, dia masih enam belas tahun dan pekerjaannya yang sekarang tidak bisa menandingi Sakura.

"Apa kau yakin bisa menjaga Sakura dan anaknya?" tanya Tsunade lagi seperti ingin mengetes pemuda itu.

"Aku akan menjaganya dengan baik. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk menjaga keduanya," jawabnya dengan mantap tanpa keraguan. Biar bagaimanapun anak yang ada dalam kandungan Sakura adalah anaknya. Dia tak ingin anaknya tak lahir ke dunia karena digugurkan oleh Sakura.

"Baiklah, aku terima lamaranmu. Mulai sekarang kalian resmi bertunangan dan minggu depan kalian akan menikah." Tsunade memutuskan untuk menerima Sasori dan akan segera menyelenggarakan pesta pernikahan pada minggu depan.

"Tu-tunggu sebentar! Apa aku tidak salah? Menikah secepat itu?" sela Sakura cepat. Sepertinya gadis itu terlihat keberatan.

"Ada apa Sakura?" tanya Tsunade sambil melirik putrinya yang sedang memasang raut cemberut.

"Itu terlalu cepat! Aku tidak mau!" protes Sakura. Dia belum siap, apalagi kalau harus menikah minggu depan.

"Sigh... Tunggu apalagi? Perutmu akan semakin besar dan akan menjadi perbincangan orang kalau sampai kau hamil tanpa ada ikatan pernikahan!" balas Tsunade yang berusaha bersikap sabar menghadapi anaknya.

"Kalau begitu aku ingin mengajukan beberapa syarat!" ucapnya dengan lantang. Rasanya dia tidak akan bisa menerima semua begitu saja dengan mudah.

"Kau mau mengajukan syarat apalagi?" dengus Tsunade yang tak habis pikir apa yang diinginkan putrinya sampai mau memberikan syarat dengan kondisi yang sudah seperti itu.

"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha untuk memenuhi syarat itu selagi aku bisa," sambar Sasori cepat yang tak keberatan dengan keinginan Sakura. Tsunade diam-diam memuji sikap Sasori yang mau dengan sabar meladeni Sakura meskipun umurnya jauh di bawah Sakura. Dia begitu tenang dan terlihat yakin.

"Kalau begitu aku ingin pernikahan dilakukan secara rahasia. Tidak boleh diketahui pihak manapun atau siapapun dan hanya boleh diketahui dari pihak dua keluarga saja. Kedua, setelah menikah tak akan ada malam pertama. Ketiga selama aku hamil, aku ingin kau menuruti semua keinginanku terutama saat aku ngidam!aku ingin kau yang mempersiapkan baju pernikahan serta cincin pernikahan kita, karena aku ingin tahu sampai di mana kemampuanmu." Sakura menyebutkan empat syarat yang dia inginkan kepada Sasori.

"Sakura, yang terakhir itu sejujurnya aku sudah mempersiapkannya. Jadi tak usah pusing memikirkannya," sela Tsunade yang merasa permintaan Sakura sedikit berlebihan terutama pada point nomor empat. Mereka sama-sama tau Sasori masih sekolah dan pastinya belum memiliki pekerjaan yang benar-benar mapan.

"Dia harus bisa! Karena kalau hal itu saja dia tak bisa menyanggupinya, bagaimana nanti dia jadi kepala rumah tangga?" sambar Sakura tetap mempertahankan egonya, "kalau kau tak bisa melakukannya kita tak perlu menikah!" timpalnya lagi dengan seenak jidat.

"Aku mengerti. Tenang saja aku akan melakukannya," balas Sasori menyanggupi semua permintaan Sakura. Sementara Tsunade hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Sakura.

Setelah pertemuan dan melakukan pembicaraan singkat yang cukup serius akhirnya Sasori berpamitan. Kedua belah pihak sama-sama puas dengan hasil pembicaraan. Sakura dan Sasori sama-sama mendapatkan apa yang diinginkan, begitu juga dengan Tsunade yang merasa sangat lega.

Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama karena Sasori mendapatkan kabar yang kurang baik. Setelah pulang dari rumah Sakura, dia mendapat telepon dari Suigetsu yang mengatakan kalau dia dipecat dari diskotik tempatnya bekerja. Sasori yang merasa tidak pernah berbuat kesalahan apapun akhirnya memutuskan untuk mencari tau apa alasannya dia diberhentikan.


Esok paginya di dalam diskotik...

"Aku ingin tahu alasannya kenapa aku diberhentikan?" tanya Sasori pada manager diskotik tersebut.

"Aku mendapat keluhan dari seorang pelanggan yang mengatakan kau mencuri barang dan uang darinya," balas wanita cantik berambut panjang warna coklat muda bernama Mei Terumi.

"Apa?" Sasori menganga tak percaya. Dapet info abal dari mana si Mei itu. Dia berani bersumpah demi kepala merahnya kalau selama bekerja dia tidak pernah mencuri barang ataupun uang milik orang lain.

"Intinya, kami mengeluarkanmu untuk menjaga nama baik tempat ini," kata Mei yang sepertinya setengah hati juga mengeluarkan Sasori. Anak itu termasuk pelayan yang rajin dan ramah pada pengunjung, sayang sekali kalau dia harus kehilangan pekerja seperti Sasori. Tapi apa boleh buat?

"Tapi aku tidak pernah melakukan perbuatan yang kau sangka itu!" Sasori membela dirinya dengan setengah berteriak. Baiklah dia sedikit terpancing emosi karena merasa ada yang memfitnahnya.

"Sigh... " pemuda itu memijit keningnya sendiri mencoba untuk tenang, "boleh aku tau siapa yang melakukan pengaduan itu?" tanyanya dengan kalem.

"Seorang pelanggan yang mengaku kehilangan uang dan barang, yang kalau ditotal jumlah kehilangannya sebesar 50 juta datang kemari. Kejadian itu terjadi satu bulan lalu, saat itu dia sedang mabuk berat dan mengatakan kalau kau yang mengantarnya keluar dan masuk ke dalam mobil." Mei menjelaskan duduk persoalannya yang dia dengar dari Anko.

'Hah? Satu bulan lalu? Tunggu dulu... Rasa-rasanya saat itu aku... ' Sasori merasa ada yang janggal dari cerita Mei. Sekilas dia teringat kejadian itu kembali. Di mana saat itu dia bertemu dengan Sakura dan membantunya keluar, namun malah terjadi hal yang tak terduga. Tiba-tiba saja dia paham apa yang sedang terjadi di sini.

"Baiklah. Aku mengerti... " Sasori memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan dan menerima keputusan Mei karena dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Sasori segera berpamitan pergi dari sana dan langsung meluncur menuju Konoha high school.


Konoha High School...

Sasori dengan santainya masuk ke dalam sekolah padahal dengan sangat jelas dia itu sedang bolos. Masuk ke dalam dengan pakaian casual dan tanpa mempedulikan semua mata para guru yang memandangnya, pemuda itu langsung berjalan menuju kantor kepala sekolah, tempat di mana Sakura berada. Dengan sedikit jampi-jampi dan berdoa dalam hati, dia berharap wanita itu ada di dalam sana.

BRAKH!

Dengan kasar dia membanting pintu ruangan yang tidak terkunci itu. Hinata yang sedang bicara dengan Sakura langsung melompat kaget. Sementara Sakura hanya menatap Sasori heran.

'Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat marah?' batin Sakura yang melihat Sasori tak seperti biasanya.

"Ada urusan apa, Sasori?" tanya Sakura dengan tegas.

"Aku perlu bicara denganmu berdua saja di sini," balas Sasori sambil melirik Hinata.

"Hinata, tolong tinggalkan kami sebentar." Sakura akhirnya meminta Hinata untuk meninggalkan mereka.

"A-ah, ba-baiklah! Permisi." Hinata bergegas meninggalkan ruangan tersebut dengan sedikit tergesa. Dia membuka dan menutup pintu ruangan itu kembali.

"Sekarang bicaralah. Ada perlu apa?" balas Sakura meminta Sasori untuk segera bicara.

"Katakan padaku. Apa kau pergi mencariku ke diskotik dan mengarang cerita kalau kau mengalami pencurian?" tanya Sasori langsung ke inti persoalan. Dia yakin sekali kalau pelanggan yang dimaksud managernya adalah Sakura.

"Yah, itu benar. Aku memang ke sana dan mengarang cerita soal itu, memang kenapa?" Sakura membenarkan semua itu tanpa ada rasa bersalah.

"Kenapa kau lakukan itu semua? Kenapa kau harus mengarang cerita seperti itu?" tanya Sasori dengan kesal.

"Habis mau bagaimana lagi? Kalau tidak seperti itu, aku tidak akan bisa menemukanmu! Selain itu, tidak mungkin kan aku berkata 'hey! Sebulan yang lalu aku bercinta dengan salah satu pelayan di sini dan sekarang aku hamil dan minta tanggung jawabnya'!" dengus Sakura sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.

"Sigh... Kau ini, benar-benar... " Sasori sudah tidak tau harus mengatakan apalagi. Dia sendiri juga tak bisa menyalahkan Sakura hanya saja wanita itu terlalu ekstrim.

"Apa kau tau, karena cerita konyolmu itu aku jadi dipecat?" Sasori menjelaskan masalah yang dia alami akibat cerita karangannya Sakura.

"Oh, jadi itu masalahnya?" balas Sakura dengan cuek bikin Sasori geregetan.

"Kau tau, aku membutuhkan pekerjaan itu!" sambarnya dengan nada sedikit frustasi.

Sakura terdiam sejenak, namun tak berapa lama gadis itu sedikit menyeringai dan Sasori tau kalau gadis itu pasti merencanakan hal yang bukan-bukan di otak lebarnya.

"Ingat, Sasori. Kalau kau tidak bisa menyanggupi permintaanku maka pernikahan kita batal!" ucapnya dengan tegas. Dengan begitu Sakura jadi punya alasan untuk lepas dari ikatan pernikahan dengan Sasori. Jujur saja dia sama sekali tidak ada hati pada pemuda yang ada di depannya.

"Aku tau, kau tidak mencintaiku begitu juga aku. Tapi, aku akan berusaha dan berjuang demi anakku dan kau jangan khawatir karena kau salah menduga kalau berpikir aku tak bisa menyanggupi permintaanmu itu," balasnya dengan tenang. Dia tau Sakura tak pernah mengharapkannya begitu juga dirinya. Diantara mereka tak pernah ada cinta atau ikatan apa-apa sebelumnya. Mereka hanya dua orang asing yang terjebak dalam suatu rencana takdir.

Sakura sedikit terperanjat mendengar ucapan Sasori. Dia bagai seorang prajurit yang siap mati di garis depan hanya untuk anak yang sedang dia kandung.

"Apa... kau melakukan semuanya demi anak ini?" tanya Sakura sambil memegang perutnya di mana calon anak mereka berada. Sasori hanya mengangguk. Hal itu malah membuat Sakura penasaran.

"Kenapa? Apa alasanmu mau berjuang demi anak ini? Kau masih muda dan memiliki masa depan yang panjang. Kenapa kau tidak melupakannya saja dan melanjutkan hidupmu?" Sakura sudah tak dapat menyembunyikan rasa herannya. Laki-laki biasanya akan selalu mengelak kalau diminta pertanggung jawaban. Termasuk Sasuke. Sakura masih ingat betul kejadian itu, masa di saat mereka masih bersekolah dulu.

Flashback

Sore itu setelah pulang sekolah, Sakura tidak langsung pulang ke rumah. Dia pergi bersama Sasuke ke taman. Keduanya sedang duduk di bangku taman sambil bermesraan membuat orang-orang di sekeliling mereka menjadi iri.

"Sasuke-kun... " Sakura memanggil Sasuke dengan nada manja sambil bersandar pada dada bidang pemuda tersebut.

"Hm?" balas Sasuke singkat.

"Setelah lulus sekolah nanti, apa kau mau menikah muda? Bukankah menyenangkan memiliki anak-anak yang lucu di usia muda?" tanya Sakura penuh harap. Jujur saja dia ingin segera menjadi ibu muda dan memiliki anak-anak Uchiha.

"Kau... Tidak sedang hamil, kan?" tanya Sasuke yang segera menggeser duduknya dan menatap lekat pada Sakura.

"Tentu saja tidak! Aku, kan hanya bertanya pendapatmu saja!" dengus gadis berambut pink itu sambil menekuk wajahnya.

"Hah, baguslah... " gumam Uchiha muda itu dengan lega dan hal itu malah membuat Sakura kesal, seolah-olah si Uchiha itu tidak akan mau tanggung jawab kalau seandainya dia benar-benar hamil. Tapi saat itu terbesit ide jahil di kepala merah mudanya.

"Tapi... Aku benar-benar hamil... " katanya yang berusaha memasang wajah meyakinkan.

"Gugurkan saja," kata Sasuke dengan datar.

"Kenapa? Ini anakmu. Kenapa kau meminta untuk digugurkan?" tanya Sakura yang merasa sangat kecewa dengan jawaban Sasuke.

"Saat ini bukanlah saat yang tepat. Lagipula aku belum siap. Kau tau, kan kalau setelah lulus nanti aku mau kuliah dan bekerja di Amerika. Jadi bayi itu hanya akan menjadi penghalang buatku." Hancur sudah hati Sakura saat mendengar perkataan Sasuke. Pemuda yang dia cintai bahkan tak siap untuk menerima anak mereka meskipun saat ini dia sedang berpura-pura hamil.

"Hahahaha, dasar bodoh! Mana mungkin aku hamil?" Sakura kemudian tertawa meski sebenarnya dia menangis dalam hati.

"Apa maksudmu?" balas Sasuke yang tidak mengerti kenapa Sakura malah tertawa.

"Kita baru melakukannya sekali dan tidak dalam masa suburku, jadi ya kemungkinan untuk hamil itu kecil! Aku hanya bercanda mengerjaimu!" jelas Sakura kalau saat ini dia hanya menggoda Sasuke saja.

"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung! Jangan bicara yang aneh-aneh seperti itu lagi!" Sasuke membalas Sakura dengan mencubit gemas pipi mulus dari kekasihnya itu.

End Flashback

"Karena di dalam diri anak itu ada darahku yang mengalir dan aku menginginkannya lahir ke dunia," jawab Sasori yang pastinya akan merasa sangat bersalah kalau dia melepas tanggung jawabnya begitu saja.

Sakura sempat tertegun saat mendapati jawaban seperti itu yang keluar dari mulut seorang bocah yang bahkan umurnya belum menginjak 17 tahun. Saat itu tiba-tiba saja Sasori menunjuk dirinya.

"Ada satu hal yang ingin aku tekankan padamu pinky. Jangan berani-beraninya KAU menggugurkan anak itu. Karena bila itu kau lakukan, aku akan mengejarmu meskipun kau bersembunyi di ujung got sekalipun!" katanya dengan lantang. Demi langit dan bumi dia tak akan pernah rela kalau Sakura berani mengarbosi anak dalam perutnya itu.

Ctak!

Urat saraf kepala Sakura berkedut saat mendengar sebutan 'pinky' yang baginya merupakan sebuah penghinaan (meskipun kenyataannya dia memang pink ngejreng abis hari ini).

"KELUAAAAR!" dalam satu depakan Sakura sukses membuat Sasori mental keluar dari dalam ruangannya.

Blam!

Dengan kasar wanita itu menutup pintu ruangannya kembali setelah menendang pemuda itu keluar.

"Argh! Dasar perempuan kasar! Monster! Pinky head freak!" umpat Sasori dengan kesal. Baru beberapa kali bertemu dia sudah dua kali kena depak dari wanita itu (anehnya kenapa pada 'malam itu' Sakura tidak mendepaknya ya?).

Krieeet...

Pintu tersebut mendadak terbuka lagi dan memamerkan Sakura yang kini sedang meremas-remas jari-jari tangannya sambil melotot horror ke arah Sasori.

Kretek!

Sakura membunyikan semua jari-jari tangannya. Sasori langsung menelan ludah.

"BERANINYA KAU MENGATAIKU BOCAH! RASAKAN INI!" Sakura melancarkan tendangan penaltinya ke Sasori membuat pemuda itu benar-benar terlempar jauh ke atas sana.

Siinnnnnnnggg...

Dia benar-benar mental jauh... Mungkin dia sudah menjadi bintang di langit sana?

Apa yang akan dilakukan Sasori? Bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk membelikan cincin pernikahan yang diminta Sakura? Lalu, apakah dia menjadi bintang di langit? (oke, yang ini ngaco). Sementara itu Sakura yang sudah duduk kembali dengan tenang tiba-tiba saja ditelpon Ino yang mengatakan kalau Sasuke Uchiha sudah kembali dari Amerika! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kehadiran Sasuke akan merubah segalanya?

TBC


A/N : Oke, chapter ini udah gw panjangin sesuai permintaan. Moga-moga pada puas sama chapter ini. Mungkin chapter depan bakalan ada Sasuke.

Thanks buat yang baca. Kritik dan saran silahkan atau masukan (pake cara yang sopan, ye, bukan cara barbar).

.

.

Happy Read and Enjoy It.