NARUTO BELONG M.K SENSEI

STORY BY

YUAN SENDOH

BE GENTELMENT 4

-Wedding Dress (Namikaze Naruto)

Hyuuga Hinata

HYUUGA BRIDAL

Rasenggan Road, Blok II No.90 Distrik A Konoha

01045XXXXXX

Aku mengerutkan kening ku saat membaca pesan singkat Shikamaru. Bukan karena aku merasa heran. Bukan juga aku tidak mengerti. Tapi nama yang ada di layar ponselku saat ini membangkit kan ingatan lama yang entah kenapa masih aku miliki. Kata orang, dalam hidup ini ada saat nya orang-orang datang dan pergi. Setiap detik yang dilewati dan terlewatkan begitu saja adalah bagian memori yang kadang hilang ditelan waktu. Ada hal-hal yang mungkin masih terekam. Salah satu dari hal yang paling menyakitkan yang terjadi pada diri sendiri atau di sebabkan diri kita sendiri. Bohong jika ada manusia yang senang menyakiti. Rasa sakit adalah beban yang berat. Baik itu tertanam pada diri kita , atau tertuai oleh diri kita. Beban itu lah yang akan membangkitkan memori yang mungkin sudah lama tidak kita sadari masih ada di bagian partikel isi kepala kita.

Khusus bagi kasus ku. Nama Hyuuga Hinata bukan lah nama baru. ada bagian kenangan ku tentang nya. Dan apa dan bagaimana nama itu masih selalu menyentuh sensitivitas ku adalah salah satu beban hidup yang pernah aku tuai dimasa remaja ku yang kata orang tanpa cela.

Ingatanku merambat ke tahun-tahun lampau dimana batas ego mampu mendobrak logika sekalipun. Ingatan ku melemparkan bayangan gadis berpipi bulat merah muda berambut pendek yang selalu bersembunyi di balik punggung kakak laki-laki nya.

Aku menghela nafas ku. Tiba-tiba merasa siap di serang insomnia malam ini. Kilasan yang datang dan pergi dalam benakku, tiba-tiba membuat ku takut. Sasuke pasti akan menikmati kondisi ku saat ini. Dan aku benci melihat seringgai yang akan tercetak di wajahnya yang angkuh. Andai saja aku dapat mengunci mulutku dan tidak membeberkan apapun padanya. Aku pasti akan sangat bersyukur. Tapi sayang nya satu dari sekian banyak kelemahan ku adalah dia. Tidak ada yang dapat aku tutup rapat di hadapan nya. Barangkali itu adalah perjanjian tak terucap antara kami. Tanpa terasa aku menghabiskan malam ini dengan memandang langit-langit kamar dalam remang-remang lampu tidur yang sudah kunyalakan.

Kepala ku terasa nyeri saat pagi telah datang, entah karena alkohol yang ku tenggak kemarin malam atau efek dari tidak bisa tidur dengan tenang. Otak ku masih bekerja meski mata ku tertutup rapat. Sudah tidak ada gunanya berbaring di atas tempat tidur. Jadi dengan langkah gontai aku beranjak ke kamar mandi dan mengganti pakaian ku dengan training biasa berwarna oranye hitam. Saat sampai di lantai bawah Collin sudah duduk di ruang makan dengan pakaian seragam lengkap nya. Aku mengernyit heran menatap nya ini bahkan masih terlalu pagi.

"Kau sudah bangun?"

Pertanyaan ku sepertinya sedikit mengagetkannya. Tapi dia hanya tersenyum tipis seperti biasa.

"Aku akan segera pulang Sensei. Aku menunggumu bangun untuk pamit."

"Begitu? Baiklah kau yakin tidak sarapan dulu?"

"Aku sarapan di rumah saja." Dia menggelengkan kepalanya.

"Aku akan mengantarmu pulang."

"Sensei akan meninggalkan mereka berdua disini."

"Mereka sudah besar. Jangan khawatirkan mereka. Ayo."

"Kau tidak takut mereka mencuri sesuatu di dalam rumah mu?"

"Omong kosong, aku bahkan tidak tahu apa yang dapat di curi dari sini. Ayo ! aku juga ada urusan diluar. Jadi sekalian saja."

Collin menyeringgai sambil mengangguk. Shooter tim basket itu punya seringgai tampan yang sulit di tolak para gadis. Saat pertama kali menginjakan kaki nya di sekolahku aku lebih dari yakin jika dia anak baik-baik. Hebat cita-cita nya bahkan menjadi polisi. Meski terkadang tidak ada satu dari air muka nya yang dapat aku tebak. Kebanyakan siswaku mudah di baca. Saat-saat mereka mendapatkan masalah. Saat mereka menciptakan masalah. Saat mereka enggan merasa bersalah. Tapi Collin. Aku pernah berbikir bahwa dia anak pendiam yang suka menyendiri dan mudah terintimindasi. Tapi ternyata dia petarung yang tangguh. Dan hebatnya tanpa melakukan apapun. Dia sudah menjadi siswa paling di segani oleh siswa yang lainnya. Bahkan hingga tingkat senior. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya ada apa di balik sikap sopannya pada para pengajar. Yang membuat senioritas terpatahkan di konoha gakuen?

Seperti saat ini. Air muka Collin sangat tenang saat duduk di bangku penumpang mobil ku. "Sensei." Panggilannya membuatku sedikit bingung. Nada yang dia pakai tidak seperti biasanya, sedikit mengandung kecemasan.

"Ya."

"Jika,,wanita itu tidak memaafkan kami apa aku masih bisa menjadi polisi?" dia bertanya dengan nada melamun. Aku agak tidak yakin harus menjawab apa. Keraguan juga sedang aku tanggung semenjak semalam. Jika bukan Hyuuga Hinata yang di tulis di layar ponselku. Aku pasti berkoar omong kosong tentang semua dapat aku selesaikan. Lagi pula keantusiasan nya benar-benar muncul saat topik polisi di bawa. Dan aku yang sudah banyak menelan kegagalan dalam mencapai impian merasa sedikit bertanggung jawab. Aku tidak mau dia mengalami apa yang aku alami.

"Aku akan berusaha. Kau cukup percaya padaku."

"Apa yang akan kau lakukan pada wanita gila itu?"

"Siapa yang kau sebut wanita gila itu anak muda?"

"Wanita yang ku selamat kan nyawanya kemarin malam."

"Nama nya Hyuuga Hinata. " aku menghela nafas sejenak. Hening, Collin bahkan tidak berkomentar apa-apa lagi.

"Aku turun di depan." Kata nya cukup membuat ku terbangun dari lamuanan ku sendiri.

"Apa?"

"kondominium depan statiun kereta. Aku tinggal disana."

"Baiklah. Disini?"

"Ya..Sensei… Terima kasih."

"Ya,,sampaikan salam ku pada kakak mu." Aku tersenyum padanya. Dia sempat membalas senyum ku sebelum berbalik dan berjalan kearah gedung.

.

Jalanan diawal liburan cukup lenggang. Mobilku melaju dengan lancar. Aku berencana mengunjungi Sasuke pagi ini. Aku perlu mendiskusikan sesuatu sebelum aku menemui Hinata. Sasuke tinggal di pemukiman agak mewah di konoha. Rumah Cluster yang berdered tanpa pagar. Minimalis tapi berkelas. Dia selalu berkoar. Agak sulit menemukan letak rumah nya jika kau adalah orang baru di kawasan ini. Sekilas semuanya terlihat sama. Rumah Sasuke berada di ujung belokan ke dua. Perumahan ini selalu terlihat sepi. Yang tinggal dikawasan ini adalah para pencari uang yang rajin. Berkelas. Dan tidak suka bersosialisasi. Itu lah kenapa Sasuke betah tinggal disini. Hidup individual adalah gayanya. Aku menekan kunci kombinasi. Selalu menganggap ini rumah ku sendiri. Saat aku masuk aku di sambut pemandangan tidak biasa. Sasuke tertidur di sofa dengan posisi yang tidak nyaman. Ini agak bukan dia sekali. Mungkin dia mabuk,asumsi sementara ku. aku berjalan kedapur dan membuat sarapan, jujur aku sangat lapar. Aku sedang menyeduh kopi saat Sasuke bergerak bangun. Rambut nya berantakan. Dia berjalan sambil menguap menjijikan. Dia Uchiha yang itu,merobek topengnya di hadapan ku.

"Terima kasih kopinya Naruto."

"Kau tidak terkejut melihat ku?"

"Untuk apa?"

Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaan nya. Ada dua pertanyaan yang dilisan kan dalam dua kata. Khas si sialan Sasuke. Entah dia terlalu pintar atau terlalu malas bersuara.

"Aku kesini ada perlu dengan mu, dan ya kau memang sudah tidak harus terkejut. Tapi,kenapa kau bisa tertidur di sofa? Kau mabuk semalam?"

"Ya,, aku mabuk merah muda."

Mabuk merah muda katanya. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Ada perlu apa? Kau kehabisan stok sarapan?"

"Aku tidak semiskin itu Tuan kaya raya. Aku kesini ingin menanyakan beberapa hal."

Sasuke memandangku curiga. Tapi dia tidak bertanya lagi, jadi aku pikir dia ingin aku terus bicara karena dia terlalu malas bertanya. Jadi dengan wajah canggung aku menatapnya ragu.

"Ekhmmm…..Apa kau masih berhubungan dengan Hyuuga Hinata?"

Kali ini Sasuke mengerutkan keningnya. Menatapku tajam.

"Apa yang membuat mu mau menyebut nama nya lagi, Dobe?"

Bagus dia hanya akan memanggilku begitu jika dia sangat gusar padaku. Setidaknya aku yakin dia tidak akan tertawa terbahak-bahak di atas derita ku.

"Kenapa kau sangat gusar?"

"Kau paling tahu kenapa aku harus merasa gusar."

"Tolonglah Sasuke kali ini saja. Anak-anakku butuh bantuanmu."

"Apa maksudmu?"

"Hinata dirampok kemarin malam, anak-anak ku menyelamatkan nya. Tapi mereka merusak gaun pengantin milik nya. Dan dia dengan tega menyered anak-anakku ke kantor polisi. Aku harus menemuinya agar dia mau mencabut gugatan. Anak-anak itu masih muda untuk kehilangan masa depan."

"Sayang sekali, kabar terakhir yang kudengar dia pulang dari eropa beberapa tahun lalu. Aku mendengarnya dari Neji."

"Neji? Kau masih berhubungan dengan Neji."

"Ya dia yang membeli kapal-kapal ku saat aku bangkrut dulu."

"Dari sekian banyak orang kenapa kau minta bantuan padanya!"

"Kenapa kau harus marah? Tentu saja karena jika kau kaya Dobe . aku pasti tidak perlu minta bantuan Hyuuga Neji." Dia berdesis marah. "Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku harus kehilangan harga diri."

"Maaf." Aku berucap lirih. Ego ku yang tinggi menentang warisan itu membuat teman ku kehilangan harga diri. Dan aku baru saja tahu. "Aku menyesal,sungguh."

"Jangan di pikirkan. Itu sudah berlalu."

"Jadi menurutmu. Apa yang harus aku lakukan."

"Berharap saja dia Hyuuga Hinata yang dulu."

"Berapa besar kemungkinan itu terjadi."

" Lima persen saja sudah terlalu besar jika untuk dirimu."

"Kau benar. Aku sangat menyadarinya."

Kami lalu terdiam sambil menikmati kopi pagi. Ada hal yang di pikirkan Sasuke. Meski aku tidak tahu itu apa itu cukup membuatnya terganggu.

"Apa rencana mu selanjutnya?" dia bertanya tanpa melihat ku.

"Aku rasa aku akan langsung menemuinya. Aku tidak yakin dia tidak menentang bertemu dengan ku,jika aku memintanya terlebih dahulu."

"Kau benar." Sasuke mengangguk. "Dengar Naruto, kau tahu. Kurasa kali ini aku membantu doa saja. Tidak apa-apa kan?"

"Tentu saja itu apa-apa. Apa-apaan dengan doa saja mu itu. "

"Aku tidak mau telibat dengan wanita itu. Jadi ya….."

"Dasar pengecut."

"Untuk kali ini aku sangat rela disebut pengecut. Aku sungguh-sungguh." Sasuke berwajah serius. Dan aku menghela nafas mengakhiri bujukan ku. aku tidak bisa memaksanya. Aku tidak yakin aku sanggup. Jadi aku hanya diam meratapi nasib sialku.

.

Seperti rencana awalku, siang ini aku benar-benar akan menemui Hinata, asumsi ku butik nya tetap buka di hari libur. Dan tentu saja asumsi ku benar. Aku masuk dengan canggung. Seorang wanita anggun berambut hitam sebahu menyambutku.

"Selamat siang Tuan, bisa saya bantu."

"Ya,,,,hmmmm apa Nona Hyuuga Hinata ada?"

"Anda mencari miss Hyuuga. Tentu saja. Anda sudah buat janji dengannya?"

"Tidak,tapi bisa kah aku bertemu dengan nya sekarang?"

"Tunggu sebentar Tuan. Maaf ,saya Shizune." Dia sangat sopan, harusnya aku yang bersikap seperti itu. Aku terlalu gugup hingga lupa tata karma.

"Namikaze Naruto." Jawabku menyambut tangannya, wanita itu tersenyum sebentar sebelum menganggkat telepon. Dia bicara di telepon dengan bahasa prancis,yang sama sekali tidak aku mengerti. Dia mendongkak padaku dan tersenyum.

"Tuan Namikaze, silahkan menuju lantai dua. Anda bisa menemui Miss Hinata disana."

"Baik, terima kasih." Aku bergumam dibalas senyuman.

Lantai dua tidak serapi lantai satu. Disini lebih banyak pakaian setengah jadi terpasang di manekin. Semua orang yang terlihat tengah bekerja ini semuanya wanita. Mereka semua menatapku heran.

"Maaf, saya mencari ruangan miss Hyuuga."

Akhirnya mereka tersenyum dan menunjuk sebuah ruangan. Aku mengetuk pintu dengan ragu. Meski sangat tidak kentara, tapi aku sangat gentar sekarang.

"Masuk." Ada yang menyahut dari dalam. Aku membuka pintu dan masuk memeriksa keadaan. Ruangan ini terlihat sederhana tapi ada unsur glamour didalam nya. Warna platinum dan putih di padu padankan dengan sempurna di bagian dinding. Sofa berwarna-warni dan tidak serupa mengelilingi sebuah meja bundar di tengah ruangan. Design yang sangat feminime. Sangat khas sekali dengan gadis yang kukenal dulu.

"Saya dengar Anda ingin bertemu dengan saya." Kata-kata itu di alunkan dengan lembut, tapi entah kenapa terdengar semulus pisau yang baru diasah untuk mengiris dendeng. Penekanan kata 'saya' dan 'anda' yang dia pakai menegaskan bahwa kami adalah dua orang asing sekarang. Aku tidak bisa menyangkal ,ada sedikit rasa sakit jauh di dalam dadaku. Menelan ludah sebentar aku mengalihkan atensi ku pada wanita itu. Dia sedang berdiri menatap ku dengan matanya yang bulan sabit, rambut nya yang panjang di kepang dengan sangat rapi, gaunnya menempel ketat di badannya, yang kuakui ,'waw '. aku bahkan tak menyangka Hinata akan tumbuh banyak dari terahir aku mengenalinya sebagai Hyuuga Hinata yang itu.

"Miss Hyuuga, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda,apa anda ada waktu sekarang?"

"Ya tentu saja, waktu saya akan banyak setelah pekerjaan saya selesai." Ada nada ringan dalam suaranya. Tapi entah kenapa ini tidak meringankan bebanku sama sekali.

"Anda keberatan saya menyelesaikan pekerjaan saya dahulu?"

"Tidak tentu saja, silahkan."

"Anda boleh menunggu disini. Silahkan duduk dimana pun anda inginkan."

Dia berbalik dan duduk di balik mejanya. "Terima kasih." Aku bergumam pelan. Dan memilih duduk juga di salah satu kursi berwarna biru. Mungkin pekerjaannya memang hampir selesai. Jadi dia meminta ku untuk menunggu. Lagi-lagi ruangan ini mengingatkan pada masa lalu. Aku ingat Hinata pernah bilang ingin membuat gaun pengantin. Dan ya dia sudah sampai pada impiannya. Berbanding terbalik dengan keadaan ku sekarang. Seandainya aku lebih realistis dulu. Mungkin aku tidak di tempatku yang sekarang ini.

Entah berapa menit yang terlewatkan untukku menunggu. Tapi buku kepribadian karya Florence Littauer yang ku baca untuk membunuh waktu sudah habis sepertiga. Kesabaran ku mulai hilang, bokongku pun sudah mulai pegal ,aku mendongkak untuk melihat nya. Dan dia masih serius menunduk dalam ke bawah mejanya. Aku merasa tidak nyaman jika harus menyela pekerjaannya. Jadi aku menghelakan nafas sebentar dan mulai menunggu lagi. Mulai tenggelam lagi dalam bacaan ku. hingga suara derit kursi yang di geser menarik perhatianku. Hinata berdiri dari mejanya. Dan itu otomatis membuat ku berdiri juga. Dia memandangku dengan tatapan yang entahlah. Jijik, terganggu, atau apa lagi kata-kata yang serupa dengan itu.

"Saya lupa anda ada disini. Saya harus pergi sekarang, kita bisa bicara lain kali." Dan kalimat itu sukses membuatku ternganga. Dan apa artinya aku harus menunggu berjam-jam disini. Hanya untuk mendengarnya berlagak seperti bos, dia bahkan tidak bersikap sopan dengan mengakatakan maaf. Apa kata itu sudah sangat mahal sekarang. Sumpah demi apapun. Aku ingin sekali mengejarnya ,menguncang bahunya dan berteriak padanya. Tapi tiba-tiba bayangan wajah Collin yang menyeringgai, senyuman tipis Sabaku, dan air mata Yahiko menamparku keras. Jika aku membuat Hinata kesal itu sama dengan bunuh diri. Jadi dengan helaan nafas berat. Aku kembali duduk untuk sebentar menenang kan diri. Dalam pandanganku Hyuuga Hinata sedang mengibarkan bendera perangnya yang kedua setelah saat itu. Dan aku Namikaze Naruto tidak akan gentar menghadapinya.

.

.

-Konoha x zone (Uchiha Itachi)

Jalanan lengang saat mobil ku melaju pagi ini. Aku pergi memenuhi janjiku pada wanita misterius yang 'menyelamatkan' ku kemarin. Mobilku melaju kencang menuju rumah sakit konoha. ada banyak hal yang berseliweran di dalam kepalaku. Benarkah yang aku lakukan saat ini. Harusnya kemarin aku langsung memberikan uangnya. Alasan kenapa aku ingin mengetahui dan memastikan wanita ini sehat, sangat tidak layak. Aku merasa jadi bajingan sekarang. Semenjak aku keluar berjalan dari distrik itu. Aku sudah banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak mampir ke kepalaku. Aku bisa memeriksakan diriku sendiri. Dan jika tidak ada apa-apa, aku bisa menganggap bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Lalu kenapa aku harus merasa perlu tahu wanita ini sehat juga. Pikiranku melempar jawaban padaku. Dan jika aku menerima jawaban itu. Berarti aku benar-benar seorang bajingan. Aku ingin mendiskusikan ini dulu dengan orang lain. Tapi aku tidak punya banyak waktu. Aku memarkir mobil ku, dengan perasaan tidak tenang. Ini gila dan jika aku pikirkan kembali. Aku rasa aku hanya akan menemui nya sebentar lalu memberikannya uang dan pergi dari sini. Tapi saat pandangan mata ku bertemu dengan seringgainya. Ada dorongan tak kasat mata yang memintaku melakukan niat awalku. Dia berdiri disana. Dengan mantel coklat dan syal yang menutupi lehernya. Memandang ku di balik bulu mata panjang lentiknya. Dan entah kenapa daya imajinasiku menjadi lebih tinggi. Karena saat ini aku merasa melihat rambutnya yang bergelombang berterbangan oleh angin yang berhembus kencang kearahnya. Sayang nya itu tidak berlangsung lama. Karena saat aku melihat seringgai licik di wajahnya. Aku seperti tertarik dari imajinasi yang aku ciptakan sendiri. Aku menghampirinya ,hampir tidak dapat menyembunyikan ketegangan yang membanjiri tubuhku. Ada getaran tak kasat mata yang mengguncangku. Ketegangan macam apa ini?

"Aku terkejut kau akhirnya datang."

"maaf aku agak terlambat."

"Tidak apa-apa. Aku rasa akan aneh jika kau tidak terlambat. Perlu berapa lama untuk berpikir ber putar-putar?"

Entah kenapa aku tidak merasa kaget saat dia bisa menebak isi kepala ku.

"Apa kau seorang cenayang?"

"Aku tidak keberatan jika kau menganggapku begitu."

"Menyebalkan seperti biasanya." Aku memutar mataku. Dia menyeringgai dan berbalik pergi. Aku mengikuti dua langkah di belakangnya. Dan entah kenapa aku yakin dia sedang meneringgai meremehkan. Dan membayangkan seringgainya membuat ketegangan ku meningkat.

"Aku sudah mendaftar jadi kita tinggal menunggu." Dia berkata dengan datar. Sejenak aku memandang wajahnya. Entah kenapa raut wajahnya membuat ku tidak nyaman. Saat dia baru melihat kesekitarku. Banyak wanita hamil disini. Kebanyakan datang dengan pasangannya masing-masing. Beberapa wanita single pun terlihat menyibukan diri di balik majalah yang terbuka. Dan banyak dari wanita-wanita itu memandangku dengan terang-terangan.

Seoarang perawat keluar untuk memanggil pasien berikut nya. Aku dan wanita itu duduk bersisian di dekat pintu ruang pemeriksaan. Tiga nama sudah di sebut kan. Dan aku tidak yakin berapa lama lagi wanita ini akan di panggil.

" ." perawat kembali memanggil pasien. Dan aku sedikit terkejut saat wanita ini berdiri. Ada yang terlewatkan yang tidak aku sadari. Aku lupa menanyakan namanya. Ya Tuhan aku merasa sangat bodoh sekarang. Dia berdiri memandangku. menyeringgai sekali. Sebelum, " Jangan tegang sayang, semua akan baik-baik saja." Dia mengatakan hal-hal yang anehnya aku bahkan tidak mengerti maksudnya. Dan dia membantuku berdiri. Perawat wanita itu, tersenyum maklum padaku. Dan aku tidak tahu apa alasannya. Jadi aku hanya mengikuti wanita yang di panggil Hana ini ke dalam ruangan. Dominasi warna putih dan hijau membuat ku sedikit nyaman. Tanganku terus di gandeng hingga kami terduduk. Seorang dokter berambut merah muda tersenyum pada kami. Entah karena bias cahaya atau rambutnya memang berwarna merah muda. Dia mendongkak memamerkan senyumannya.

"Selamat pagi tuan dan nyonya, jadi apa yang bisa saya bantu?"

"Kami merencanakan program kehamilan." Aku terkejut berbalik dari dokter cantik ini. Urat leherku tertarik dan itu menyakitkan. Aku mengirimkan pandangan bertanya pada wanita cenayanng di hadapanku. Dibalas seringgai meremehkannya.

"Maaf dokter, sebenarnya bukan seperti itu. Jadi pria ini tidur denganku sekali dan dia memaksaku untuk memerikasakan kelamin ku. dia takut aku tidak bersih."

Ini gila kata-kata nya menusuk tepat di bagian ego dan harga diriku berdiri. Bahkan aku lebih rela dia tetap mempertahankan alasan program kehamilannya, dibanding kata-kata itu. Dokter merah muda di depanku mengerutkan keningnya dalam. Lalu memandangku dengan pandangan jijik dan mencela. Sialan . wanita cenayang ini benar-benar mencoba menjatuhkan image ku. 40 tahun hidupku,yang selalu di elu elukan orang lain. Seakan menghilang dan menciut. Dan untuk pertama kalinya aku merasa perlu membenci seseorang.

"Kita akan memulai pemeriksaannya sekarang. Silahkan ikut saya nona." Dokter itu benar-benar berkata ramah pada si cenayang,kontras dengan tatapan yang dia layangankan padaku sebelu berbalik menuju tempat periksa. Aku tidak tahu apa nama nya tempat tidur itu, tapi yang jelas aku tahu kalau wanita cenayang itu akan mengangkang disana. Tidak semua dokter kandungan adalah wanita. Ada juga pria, dan aku merutuki betapa beruntungnya jadi mereka. Aku heran kenapa Kakashi tidak menjadi spesialis kandungan saja. Dokter merah muda itu memandang ku lagi sekali sebelum menutup tirai.

Aku menyandarkan tubuhku membuatnya sedikit rileks.

"Kapan anda terakhir kali melakukan sex?" aku mendengar dokter itu bertanya ramah.

"Kemarin malam."

"Sebelum kemarin malam?"

"Setengah tahun yang lalu. Aku rasa." Nah yang ini membuatku sedikit terkejut. Dan kejutannya aku memperlakukan wanita ini seperti pelacur, tapi sebenarnya dia bukan. Ouhh Tuhan…

"Itu cukup lama." Dokter itu menyahut lagi.

"Ya ,aku tipe setia sebenarnya, aku menjalin hubungan dengan seorang pria. Dan memutuskan untuk meninggalkannya. Jadi cukup lama aku tidak melakukan itu."

"Baiklah jadi apa yang terjadi kemarin malam?"

"Hanya sebuah kecelakaan kecil." Dan aku mendengar wanita itu terkekeh.

"Sepertinya anda tidak beruntung bertemu laki-laki yang tidak sopan, maksudku dia cukup tebal muka saat menyuruh anda melakukan semua ini. Dan percayalah jika aku jadi anda aku pasti sudah menamparnya." Mendengar mereka membicarakan ku seakan aku tidak ada. Benar-benar menguji kesabaran ku. aku menelan ludah untuk menahan geraman atas semua perhinaan para wanita yang bahkan tidak mengenalku sama sekali.

"Sayang sekali dia terlalu hebat untuk di tampar. Jadi apa ada yang salah."

"Tidak, semuanya baik-baik saja. Jika ada keluhan silahkan datang lagi. Saya rasa anda benar-benar sehat."

"Benarkah? Terima kasih."

"Ya sama-sama"

Suara tirai yang dibuka tidak membuatku mengalihkan wajahku. Rahang ku terasa kaku menahan amarah dan rasa malu. Double sialan karena semua nya ternyata memang berakhir buruk.

"Pemeriksaannya sudah selesai. Saya sarankan anda memakai kontrasepsi , tidak semua pria sehat." Dokter itu berkata diakhiri oleh pandangan tajam yang menusukku. Aku tidak tahan untuk tidak marah. Tapi aku menahan gerutuku dalam hati.

"Terima kasih." Wanita cenayang itu tersenyum sebelum melangkah keluar. Aku mengikutinya setelah memberi tatapan balasan pada dokter merah muda itu.

.

Aku ingin ini segera berakhir. Aku ingin segera memberikan uangnya dan pergi dari hadapannya. Tapi ternyata wanita ini punya rencana lain. Dia terus berjalan sampai di samping mobilku. Dia berbalik memandangiku dan menyeringgai.

"aku rasa aku pantas di tratir secangkir kopi dulu. Bagaimana?"

Aku memandangnya tidak paham. Tapi akhirnya aku berjalan kesisi mobil tempatnya berdiri dan membuka pintunya. Secara tidak langsung mempersilahkan nya untuk masuk. Udara dalam mobil terasa menipis seiring mobilku melaju ke jalanan yang cukup ramai. Entah hanya aku saja yang merasa kecanggungan ini. Atau kami berdua merasakannya bersamaan.

Aku memarkirkan mobil ku di pelantara coffe shop di depan sebuah butik khusus busana pengantin. Ku rasa aku cukup berbuat sopan padanya saat membuka pintu mobil. Seringgaian masih terpajang di wajahnya. Coffe shop ini sederhana tapi nyaman. Aku memilih meja di samping jendela besar tepat mengadap ke jalanan. Tapi bukan jalanan yang jadi perhatianku saat ini. Wanita cenayang itu sudah membuka sebuah catatan dan mulai menulis dengan dahi mengkerut. Tangan kanannya menari di atas kertas. Dan tangan kirinya beristirahat di atas meja. Pesanan datang dan kami belum membuka satupun percakapan. Aku mulai merasa bosan. Jadi aku mencari apa saja yang sekiranya menarik untuk memulai sebuah percakapan di tengah suasana aneh yang tengah menerjang kami berdua. Dan perasaanku saja atau aku benar-benar melihat Naruto keluar dari butik bridal itu. Aku memerhatikan ekspresinya yang terlihat marah. Dia meluapkan emosinya pada mobil nya sendiri.

"Laki-laki itu pasti di tinggalkan kekasihnya sesaat setelah dia memilihkan baju pengantin." Aku menoleh melihat wanita di depan ku yang akhirnya membuka percakapan. Dia mengangkat sedikit bahunya sambil menatapku dengan senyuman kecil.

"Ini ,janjiku." Aku menyodorkan sebuah amplop coklat padanya. Dia menerimanya dengan senyuman yang sedikit lebih lebar.

"Terima kasih." Jawabnya singkat. Dia memasukan kembali catatan nya dan mulai menikmati kopi yang aku duga sudah semakin dingin. Tangan kirinya masih berada di atas meja. Dan aku melihat tangan itu mulai gemetaran seperti malam kemarin.

"Apa kau kedinginan?" dia menatapku dengan mata yang sedikit melebar. Dia menyadari arah tatapan ku dan segera menurunkan tangannya, menyembunyikannya di bawah meja. Dan melemparkan senyum nya ke arah jendela.

"Kau mau pergi?" dia bertanya ambigu. Apa aku terlihat sangat buru-buru. Aku memandangnya dengan menaikan satu halisku. Gesture tidak mengerti. Dia tersenyum sekali lagi padaku.

"Kau mau pergi untuk bercinta dengan ku sekarang?" dia bertanya dengan nada datar. Aku terperanggah mendengar apa yang dia utarakan.

"Maaf?"

"Aku menginginkanmu. Kukira kau juga menginginkan ku. aku sehat dan aku yakin kau juga sehat. Kita bisa berbagi keuntungan dan kau tak usah membayarku. Aku janji."

Lagi, aku terperanggah dengan apa yang ku dengar. Benarkah? Aku melihatnya tak percaya. Ada apa dengan wanita ini? Dia membuatku harus memutar otak mengerti setiap kata dan tidakan yang dia lakukan.

"Begini, kita bisa menjadi teman yang saling menguntungkan dan aku tidak akan menuntut apapun. Jika kau bosan. Kau boleh pergi. Aku tidak akan mencegahnya."

"Hanya perempuan gila yang mengatakan itu. Apa ada kelainan dengan syaraf mu?" aku mendengus di akhir kaliamt ku. tapi dia hanya tertawa. Tawa datar dan aneh.

"Ya kurasa aku memang punya." Dia tersenyum sekali sebelum menghirup kopinya lagi.

"Jika kau setuju. Aku berjanji tidak akan tidur dengan siapa pun selain dengan mu. Bagaimana?"

Aku mengedip sekali, aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku bahkan tidak menemukan suaraku sendiri. Aku sempat berpikir aku adalah bajingan karena berani memikirkan hal seperti itu tadi, tapi saat wanita itu yang mengutarakan. Siapa sangka dia akan menyelamatkan harga diriku. Lalu kenapa tidak aku iyakan. Lagipula ini sebuah keuntungan bagiku. Jadi aku mengeluarkan kartu namaku dan menyodorkannya kedepan. Dia mengambilnya dengan biasa saja. Tidak ada binar antusias ataupun tanda seorang wanita jatuh cinta. Yang terlihat hanya sebuah seringgai diplomatis saat dia menghubungi ponselku dengan ponselnya. Memastikan nya tersambung. Aku menatap layar ponsel pintar ku.

"Kau bisa mengubungiku kapan saja." Dia berucap."Boleh aku juga menghubungimu kapan saja?"

"Kurasa itu cukup adil." Aku tidak yakin dengan kata-kata itu. Tapi toh kami sudah berada dalam sebuah kesepakatan.

"Baiklah. Aku harus segera pulang."

"Aku akan mengantarmu." Tawarku.

"Tidak perlu, disini area taksi. Jadi aku akan memakai taksi saja. Terima kasih kopinya." Dia menueringgai sekali sebelum berbalik pergi. Aku masih menatap punggungnya bahkan hingga dia menghilang ke dalam taksi. Aku punya firasat ,memikirkannya saja membuat ku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi aku menyimpannya samapi nanti. Siapa sangka permainannya bisa menjadi semenarik ini.

.

.

-Toilet and The Boy (Hatake Kakashi)

Air dingin bisa membuat ku tenang,merasakan tetesannya serasa menyentuh surga. Itu hanya kiasan, bagaimana pun aku tidak pernah menyentuh surga itu. Tapi setidaknya ini adalah hal yang lumrah tapi menyenangkan. Terutama jika kau adalah penderita insomnia parah, dan hal pertama yang kau bayangkan saat matamu terpejam adalah hal yang paling tidak ingin kau ingat. Mimpi ku selalu sama. Aku harap ini bukan bagian dari penyakit kejiwaan. Ya aku tidak akan menyangkal soal defresi ini. Tapi bagaimana pun aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja. Itachi bilang luka hati hanya bisa di obati oleh orang lain. Jika dalam kasus ku itu berarti dia menyuruhku untuk mencari cinta yang baru. Tapi anehnya jatuh cinta adalah hal yang sulit aku rasakan lagi. Bukan aku tidak berniat. Tapi aku sudah benar-benar mati rasa. Apa yang aku inginkan. Apa yang menjadi angan-anganku. Tidak pernah menjadi kenyataan. Walau begitu aku tetap terseret di dalan roda hidup pemikiran itu membuat ku frustasi. Umurku empat puluh tahun, dan dulu aku tidak pernah membayangkan akan menjadi sekesepian begini. Aku mengusap wajahku kasar. Berharap bisa terbangun lagi dan bangkit sekali lagi. Aku tidak mau selamanya menjadi pria tua galau yang menyedihkan.

Hari ini hari liburku. Jadi selama tidak ada keadaan darurat aku tidak akan bekerja. Sebenarnya aku belum tahu apa yang akan aku lakukan untuk membunuh waktu. Tapi mungkin aku bisa mendapatkan ide nanti. Aku melihat kedepan kearah bayangan ku yang ada di dalam cermin.

"Baiklah Kakashi, para wanita itu bilang kau tampan. Jadi nikmati sajalah." Aku mendengus menyadari kebodohanku menasehati bayangan ku sendiri. Aku keluar hanya dengan handuk terlilit dipinggulku. Dan saat aku membuka pintu kamar mandi. Ada yang aneh, ada yang berbeda dari biasanya. Hal yang selalu jadi bayang-bayang ku setiap hari. Bahkan aku terlalu takut untuk membayangkan nya pagi ini.

Suara dengung mesin cuci. Suara penggorengan yang berdesis. Suara spatula yang beradu dengan wajan. Dan suara irisan pisau. Bahkan aroma wangi masakan memenuhi seluruh inderaku. Rin kah? Aku menggeleng menyangkal pikiran gila yang mampir ke kepalaku saat ini. Tidak mungkin, Rin ada di Canada bersama suaminya. Jadi dengan sedikit ragu aku melangkah menuju dapur. Dan aku melihat seorang dengan perawakan mungil memakai kemeja ku yang jelas sangat kebesaran sedang memasak menghadap penggorengan. Siapa? Seingatku aku tidak pernah membawa wanita masuk rumah ku. dan bodohnya aku karena aku baru menyadari jika dia adalah sai. Anak yang ku temukan tadi malam. Aku berdehem meminta perhatiannya. Dan berhasil . dia berbalik dengan cepat.

"Maaf Kakashi-san aku….."

Dia membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja. Dengan mulut menganga dia melihatku dengan mata yang tiba-tiba membesar. Aku melihat arah tatapannya. Dia terus melihatku ke bawah-ke atas. Seperti mesin sensor. Dan ekspresinya sangat lucu.

"Apa yang sedang kau llihat?" aku bertanya dengan nada geli.

Dia gelagapan dan menutup wajahnya yang sudah memerah. Melihat itu sukses membuatku tertawa. Ekspresinya benar-benar sangat lucu.

"Hahaha….maaf" aku masih tertawa. aku ingin menghentikan tawaku tapi aku aku tidak bisa. Sai masih menutup wajahnya. Dan semua terjadi dengan cepat. Bau gosong yang memenuhi ruangan. Asap yang sudah diatas membuat ku tersedak , dan nyala api yang mengkilat di atas pengorengan.

"Sai..API !" . Aku berteriak sudah sembuh dari kegelianku.

"Astaga." . Sai juga berteriak sadar dari rasa malu nya. Aku secepat kilat menyambar apart dan menyemprotkannya ke titik api. Seluruh dapur menjadi berwarna putih. Sai terlihat masih sangat terkejut. Dia menganga. Melihat masakannya kini bercampur dengan bahan pemadam kebakaran.

"Kurasa itu tidak bisa dimakan lagi." Ucapku tenang. Dia melihat ku lama. Memandang wajah ku dengan wajah bodoh yang menggemaskan. Aku menaikan alisku saat tatapannya berpindah semakin kebawah. Tanpa sadar aku juga ikut melihat kebawah. Heran dan penasaran apa yang mebuat mukanya jadi semakin bodoh. Dan ya ternyata handukku sudah hilang. Apa?! Tunggu dulu itu berarti.

"iiisshhhh….kau melihat kemana anak muda." Aku memperingatkannya. Dia akhirnya memandangku lagi dengan tampang bodoh. Dan aku tidak bisa menahan tawaku.

"bwahhahahahahaha…."

"arghhh,,, kenapa kau tidak berpakaian.?!"

"hahahahahaha…"

"berhenti tertawa paman mesum."

Mesum, mesum katanya….. apanya yang mesum dasar anak bau kencur ini.

"Kenapa kau memanggilku mesum?"

"Kenapa kau tidak berpakaian?"

"Aku tadi memakai handuk tapi mungkin terjatuh saat kau membuat seluruh kekacauan ini. Lagi punya kenapa kau baru berteriak setelah melihat ku telanjang lama?" aku balik mengomelinya. Yang benar saja aku kan tidak mesum.

"Aku tidak akan membuat kekacauan ini jika kau tidak tiba-tiba datang dengan telanjang seperti itu."

"Ku bilang aku tidak telanjang. Apa-apaan reaksimu yang seperti perawan itu."

"Apa?"

"Ah… kau pasti kaget karena ini sangat besar kan? Tenang lah jika kau tumbuh dewasa kau pasti punya yang sebesar ini."

"Benarkah?" sai bertanya polos padaku sambil mengedipkan mata. Dan entah kenapa aku ingin menjaili nya.

"Kau ingin yang sebesar ini."

Lagi-lagi dia mengangguk polos.

"Aku akan memberitahumu rahasianya. Kemarilah." Aku mengajaknya mendekat. Aku pernah menjaili Naruto dengan cara yang sama. Ini seperti dejavu. Jadi aku rasa ini tidak apa-apa. Jadi saat dia mendekat dengan wajah polos nya yang serius. Dan saat dia semakin dekat. Aku mengulurkan tangan ku untuk menggelitiknya. Dia menjerit dan menghindar. Tapi aku mendapatnya. Dan membantingnya ke sofa.

"Kakashi-san ,hentikan." Aku terus tertawa. Sesekali sai juga tertawa. Baiklah ini lebih baik dari pada harus diselimuti kecanggungan. Aku terus menggelitik perutnya. Dan dia terus mengeliat sambil cekikikan.

"Kakashi-san ini mulai menyakitkan …haha..a-ku mo-hon berhenti~~." Ucap nya sambil menahan tawa. Aku semakin tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa bayangan Naruto dulu juga terlintas di depanku. Aku ingat dia pernah aku gelitiki sampai kecing di celana. Ya nostalgia itu memang hiburan yang paling ampuh.

"Kakashi." Suara dalam baritone menghentikan tawaku. Aku menoleh melihat Sasuke berdiri di genkan memandangiku galak.

"what. Are. You. Doing." Entah kenapa pertanyaan itu lebih seperti pernyataan yang diucapkan dengan nada mengerikan. Ku pikir dia terlalu berlebihan jika harus sekaget itu.

"Sasuke.. akh sialan." Sialan aku lupa aku sedang telanjang.

.

.

Tbc…

Terima kasih sudah mampir...

(bungkuk)